Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Thursday, September 8, 2011

Contoh Khutbah 'Idul Adha Lengkap, Terbaru..

الخطبة الأولى
    اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ / وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ / وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
    اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْداً كَثِيْراً، وَالله أَكْبَرُ كَبِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَلله أَكْبَرُ خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَحْصَاهُمْ عَدَداً، اَلله أَكْبُرُ وُكُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْداً.
    اَلْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَاللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَهُ الْحَمْدُ كَمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى عَلَى آلاَئِهِ وَنِعَمِهِ الَّتِيْ لاَ تُعَدُّ وَلاَ تُحْصَى.
    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسَوُلُهُ، نَبِيُّهُ الْمُصْطَفَى، وَرَسُوْلُهُ الْمُجْتَبَى، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلِىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِيْنَ.
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ.
    أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ الْفَرِحُوْنَ بِعِيْدِ الأَضْحَى! أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوْا اللهَ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. 


اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
    Marilah kita awali khutbah ini dengan do'a kepada saudara-saudari kita yang tertimpa musibah, baik masyarakat sekitar Gunung Merapi maupun Mentawai; semoga dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah SWT dan amal-amal shalih mereka diterima oleh Allah SWT. Lebih dari pada itu, semoga mereka wafat dalam keadaan membawa iman dan Islam di hati mereka. Amin. Untuk itu marilah kita hadiahkan Fatihah kepada mereka.
    Meskipun kita melihat kondisi yang memprihatinkan sedemikian itu, di sisi lain kita tetap wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan untuk beribadah kepada-Nya pada hari ini. Lebih dari pada itu, kita berharap agar bencana-bencana yang sedang menimpa negeri ini menjadikan kita semua sadar bahwa peringatan Allah memang datangnya mendadak dan tidak pernah kita sangka-sangka.
    Oleh karena itu, marilah kita terus berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
    Dalam Khutbah Idul Adha ini, kami tertarik untuk membahas syari'at qurban dari sudut pandang Fiqhul Hayat atau Fiqih kehidupan, yakni apa hikmah di balik pensyari'atan qurban yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjawab pertanyaan ini, kami persilahkan kepada para jama'ah – jika ada waktu luang – agar berkenan menilik kisah tentang qurban yang terdapat dalam Surat Ash-Shaffat: 100-113.
    Kisah qurban ini dimulai dengan do'a Nabi Ibrahim yang saat itu masih belum memiliki putra: (رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100))/ Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.. Mengapa Nabi Ibrahim memohon anak yang shalih? Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya menyatakan bahwa kenikmatan memiliki anak akan sempurna jika anak tersebut adalah anak shalih, yaitu anak yang menjadi qurrata a'yun (penentram jiwa) bagi orang tuanya yang salah satu wujudnya adalah berbakti kepada kedua orang tua. Masya Allah, di tengah arus modernisasi yang sedemikian rupa ini, yang paling penting adalah memiliki atau menjadi anak shalih.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
    Ayat berikutnya berbunyi (فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ)/ Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Walaupun seorang Nabi dan Rasul, tidak lantas do'a Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah. Baru setelah beberapa waktu, Nabi Ibrahim dianugerahi seorang putera. Putra seperti apa yang telah dianugerahkan kepada beliau? Putra yang disebut dengan (حَلِيمٍ) yang ditafsiri dengan (أَصَالَةَ الرَّأْيِ وَمَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ وَالرَّحْمَةَ بِالْمَخْلُوْقِ)/pikirannya cerdas, berakhlaq terpuji dan penyayang sesame makhluk. Potret anak yang seperti ini pasti idam-idamkan oleh setiap anak maupun orang tua.
    Di sinilah tugas dari pendidik – baik orang tua maupun guru – untuk mendidik putera-puteri ataupun siswa-siswinya agar menjadi anak yang cerdas, berakhlaq mulya dan memantulkan sikap kasih sayang kepada sesama makhluk Allah; di sisi lain, jika kita berposisi sebagai anak, maka kita pun harus berusaha untuk menjadi anak yang halim di atas.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
    Ketika sudah beranjak dewasa, menurut satu riwayat ketika berusia 13 tahun. Nabi Ibrahim bermimpi menerima perintah untuk mengorbankan puteranya pada tanggal 8 Dzulhijjah (sehingga hari tersebut dinamakan Hari Tarwiyah/mimpi); beliau masih ragu-ragu, apakah perintah itu berasal dari Allah, ataukah dari syaitan? Maka pada tanggal 9 Dzulhijjah beliau bermimpi kembali, saat itulah Nabi Ibrahim tahu (عَرَفَ) bahwa mimpi tadi dari Allah (sehingga hari ke-9 ini dinamakan Hari 'Arofah); pada tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah berqurban, sehingga tanggal ini dikenal dengan Hari Nahr (hari berqurban). 
    Sebelum mendiskusikan perihal mimpi di atas, Nabi Ibrahim terlebih dahulu mengajak jalan-jalan Nabi Isma'il. Pada saat itu, Nabi Ibrahim berkata: "Wahai Isma'il, ambilkan tali dan pisau!" Nabi Isma'il bertanya: "Apa yang hendak ayahanda lakukan?" Nabi Ibrahim menjawab: "Saya akan memotong kambing sebagai qurban kepada Allah". Inilah alasan mengapa binatang yang dijadikan qurban bukan sapi atau unta, melainkan kambing; yaitu Allah ingin membenarkan perkataan Nabi Ibrahim. Setelah sampai di tempat sembelihan, barulah Nabi Ibrahim berterus-terang dan meminta pendapat Nabi Isma'il sebagaimana keterangan dalam ayat: 
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
    Apa hikmah yang dapat kita dari ayat di atas? Baik ayah maupun anak, sama-sama menggunakan panggilan yang penuh sopan santun dan kasih sayang. Jika Nabi Ibrahim menyebut putranya dengan istilah (بُنَيَّ) yang berarti buah hatiku; maka Nabi Isma'il menjawab dengan panggilan (أَبَتِ) yang berarti ayahku tercinta. Sungguh hubungan orang tua dan anak yang sangat harmonis dan penuh kasih sayang.
    Selanjutnya kita perhatikan jawaban Nabi Isma'il: (قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ)/ Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;; kata (قَالَ) menunjukkan situasi bahwa jawaban Nabi Isma'il sifatnya spontan, tanpa banyak pertimbangan; hal ini sekaligus menunjukkan kualitas kepasrahan tingkat tinggi beliau. Lalu mengapa Nabi Isma'il tidak menjawab: (اذْبَحني)/sembelihlah saya!? Alasannya adalah sebagai manusia, siapa yang mau disembelih begitu saja. Jadi satu-satunya alasan yang menyebabkan beliau rela disembelih adalah karena ingin menjalankan perintah Allah SWT. Kalaupun toh Nabi Isma'il menjawab seperti itu, berarti yang mendapatkan pahala adalah Nabi Isma'il saja; dengan jawaban (افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ) menunjukkan bahwa keduanya sama-sama ingin melaksanakan perintah Allah.
    Pernyataan berikutnya menarik kita simak (سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ)/ insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. pernyataan ini bermakna bahwa kesabaran yang dimiliki oleh kedua Nabi tersebut, tidak lepas dari kekuasaan dan kehendak Allah; tidak lepas dari taufiq dan hidayah-Nya. Oleh karena itu, bagi kita yang hadir di masjid ini, jangan terlalu sombong itu semua semata-mata kehebatan diri kita sendiri. Inilah yang melandasi kita untuk giat berdo'a (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ)/ mohon tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
    Hikmah yang dapat kita teladani dari ayat ini adalah sikap pasrah. Syaikh Mutawali Asy-Sya'rawi dalam kitabnya Qashashul Anbiya' menyatakan bahwa ketika manusia pasrah terhadap qada'-qadar Allah yang sedang menimpa dia, maka Allah akan mengangkat bencana darinnya. Lebih lanjut beliau menyatakan, hal yang menyebabkan bencana semakin bertambah adalah ketika manusia tidak ridho atau tidak rela terhadap qadha' Allah. Dari sini dapat kita pahami, profesi apapun yang sedang kita jalani saat ini, entah sebagai pedagang, petani, pegawai, guru, dsb. Marilah kita berusaha untuk menerima apa ada; ridho dan rela terhadap qadha'-qadar Allah sesuai dengan maqalah yang sering kita ucapkan: (رَضِيْتُ بِاللهِ رَبَّا)/saya ridho Allah sebagai Tuhanku. Kalau kita ridho kepada Allah, berarti kita ridho terhadap apapun keputusan-Nya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
    Apa landasan kalau kita bersikap ridho atau pasrah, musibah akan diangkat oleh Allah? Mari kita perhatikan runtutan ayat berikutnya di mana Allah telah memberikan berbagai anugerah kepada Nabi Ibrahim setelah dinilai berhasil menghadapi cobaan berat yang menimpanya.
    Paling tidak ada 5 anugerah yang diberikan oleh Allah kepada beliau: a) Qurban Nabi Isma'il diganti dengan kambing, sehingga tidak jadi kehilangan putera tercintanya; b) Nama beliau harum dikenang oleh manusia sepanjang masa; c) Allah menggolongkan Nabi Ibrahim ke dalam golongan orang-orang muhsinin dan mukminin, bahkan memilih beliau sebagai Khalilullah, kekasih Allah; d) Dianugerahi putera yang shalih, yakni Nabi Ishaq, padahal saat itu, istri Nabi Ibrahim sudah tidak wajar lagi memiliki anak; itu semua adalah karunia dan karomah dari Allah; e) Kelak dari nasab Nabi Ishaq inilah lahir anak-cucu yang diangkat menjadi Nabi dan Rasul, antara lain: Nabi Ya'qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Isa.
Para Jama’ah Idul Adha rahimakumullah!
    Kesimpulan yang dapat kami kemukakan di sini adalah perintah qurban merupakan salah satu bukti nyata keimanan kita kepada Allah s.w.t.; di samping manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Sehingga ibadah qurban memiliki dimensi spiritual dan social sekaligus. Di samping itu, banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari kisah tentang qurban; paling tidak mengajarkan kita untuk mendidik putera-puteri menjadi anak yang shalih-shalihah; menjadi orang tua yang bersifat kasih saying dan penuh kepedulian terhadap pendidikan anak-anak; serta berupaya untuk bersikap pasrah dan ridho dalam menghadapi segala problematika dan cobaan hidup, demi mendapatkan ridho dari Allah sekaligus limpahan karunia-Nya sebagaimana yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim dan Isma'il.
    إنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهَِ اَلْمَلِكِ الْعَلاَّمِ. وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ. وَإِذَاقُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3). بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ.

الخطبة الثابية
    اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ / وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ / وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
    اَلْحَمْدُ ِللهِ ثُمَّ الْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَالله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. اَلله أَكْبَرُ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اَلله أَكْبَرُ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. اَلله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً، لَهُ الْحَمْدُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - كَمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى، حَمْدًا نَلْقَى بِهِ أَجْرَى وَيَمْحُوْا بِهِ اللهُ عَنَّا وِزْراً.
    وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ التَّامَانِ اْلأَكْمَلاَنِ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، إِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَقَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ إِلَى جَنَّاتٍ نَعِيْمٍ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ اَلصَّادِقِ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِيْنَ. 
    اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا، وَاُمِرْنَا بِذَلِكَ اِرْشَادًا لَنَا وَتَعْلِيْمًا، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. فَي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَتَرَضَّوْا عَلَى الصَّحَابَةِ الْكِرَامِ، مَنْ خَصَّ مِنْهُمْ بِالذِّكْرِ ذَوِي الْقَدْرِ الْعَلِي وَالْمَقَامِ الْجَلِيْلِ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَلَى سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَمِيْن:
    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ، اِنَكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالاِيْمَانِ وِلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا، اِنَّكَ رَؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. اَللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ اَمْرِنَا، وَاصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَاصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا. وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكُ عِيْشَةً هَنِيْئَةً، وَمِيْتَةً سَوِيَّةً، وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍ وَلاَ فَاضِحٍ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (3) رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . 
    عِبَادَالله .اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغِي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فاَذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمَ، وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُالله أَجَلُّ وَ اَكْبَرُ. وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.


No comments:

Post a Comment