Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Thursday, September 1, 2011

Gambaran Ideal Pendidikan Islam

Gambaran Ideal Pendidikan Islam

Para ulama tatkala merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam, bukan sebatas asal berbeda dengan sekolah lain pada umumnya.  Melalui pendidikan Islam,  para ulama., atau tokoh Islam, ingin menanamkan nilai-nilai kehidupan mulia yang bersumber pada al Qurán dan Hadits Nabi agar menjadi  pegangan para generasi berikutnya. Melalui pendidikan Islam, mereka bermaksud memperkenalkan konsep hidup yang menyelamatkan dan sekaligus membahagiakan bagi kehidupan,  baik kehidupan di dunia maupun  di akherat.

Melalui pendidikan itu para ulama dan atau tokoh Islam  menginginkan agar generasi mendatang  mencintai Allah dan rasul-Nya, berakhlak mulia dan beramal shaleh. Hidup bagi para ulama dan tokoh Islam  menjadi  bermakna,  manakala berhasil mempedomani al Qurán dan Hadits Nabi atau menjadi pengikut Nabi dengan setia. Ukuran keberhasilan pendidikan, bukan saja meraih kepintaran, terampil, dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan uang,  sehingga menjadi seorang  kaya sehingga berhasil mencukupi kebutuhan hidupnya. Semua itu  penting, akan tetapi orientasi seperti itu  bukan sebagai pilihan utama dan dianggap pokok.     

Atas dasar pandangan seperti itu, maka sekalipun sudah tersedia lembaga pendidikan yang dibangun oleh pemerintah dan juga lembaga swasta lainnya, maka para ulama’dan tokoh Islam dengan keterbatasannya, mereka  bersemangat dan rela membangun lembaga pendidikan sesuai dengan gambaran ideal yang dimiliki. Bisa jadi lembaga pendidikan yang dibangun oleh para ulama’atau tokoh Islam, lebih sederhana, tetapi di balik kesederhanaan itu dipandang memiliki kelebihan tersendiri. Atas dasar keyakinan dan semangatnya itu, mereka mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan cara apapun.

Lahirnya berbagai pondok pesantren di berbagai pelosok negeri ini, demikian pula madrasah dengan berbagai tingkatannya, diniyah dan lain-lain adalah sebagai bukti atas besarnya semangat dan panggilan yang dirasakan oleh para ulama atau tokoh Islam untuk mengembangkan lembaga pendidikan. Banyak orang mengatakan,  bahwa pendidikan madrasah dan atau pondok pesantren berkualitas rendah,  namun begitu  masih saja lembaga itu diurus dan didatangi oleh para peminatnya.

Gambaran ideal pendidikan yang dikehendaki oleh para ulama’dan tokoh Islam tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sementara orang. Pendidikan Islam harus berhasil mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, yaitu aspek spiritual, akhlak,  intelektual,  dan ketrampilan atau profesionalitasnya. Pendidikan tidak cukup  hanya dilakukan  sebatas memenuhi target-target kurikulum atau menghabiskan bahan pelajaran, lulus ujian, melainkan harus juga berhasil  membangun watak, karakter atau kepribadian para siswa.

Melalui  diskripsi tersebut, maka sebenarnya ukuran keberhasilan pendidikan pesantren madrasah, atau bentuk lembaga pendidikan Islam lainnya, yang dikehendaki para ulama’ dan kyai  adalah jauh lebih luas dan mendalam dari pendidikan umum lainnya. Kawasan yang ingin dikembangkan lebih  sempurna atau komprehensif, yaitu menyangkut berbagai unsur kehidupan manusia, mulai dari  pengembangan aspek akal, qolb, nafsu, maupun jasmani secara kseluruhan, baik untuk  kehidupan  dunia  maupun  akherat,  

Namun gambaran ideal itu,  oleh karena  tidak selalu didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, maka hasilnya tidak selalu sempurna .  Pendidikan Islam, berupa madrasah, pesantren atau diniyah keadaannya sederhana dan bahkan jika dilihat  dari  ukuran modern kurang memenuhi  persyaratan.  Apalagi banyak madrasah, -----lebih dari 90 %, berstatus swasta, sehingga pengelolaannya ditangani oleh masyarakat sendiri.  Akibatnya,  bisa dibayangkan, sekalipun lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki konsep  ideal, namun tidak sepenuhnya  mendapatkan dukungan pemerintah, maka konsep itu tidak bisa dijalankan secara maksimal. Fasilitas pendidikan, baik berupa gedung, buku pelajaran dan bahkan honorarium para guru, hanya  mencukupkan apa adanya, maka hasilnya tidak menggembirakan.

Keadaan yang serba berkekurangan seperti itu,  semestinya mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah. Rendahnya kualitas pendidikan, bukan karena konsepnya yang lemah, melainkan hanya semata-mata dukungan financial yang tidak mencukupi. Oleh karena itu, setelah  lahirnya UU Sisdiknas tahun 2003,  maka  madrasah, baik negeri maupun swasta, seharusnya  mendapatkan perhatian yang cukup.  Sementara ini, madrasah yang berstatus negeri, pada kenyataannya tidak kalah bersaing dengan sekolah umum. Bahkan sementara berhasil  memiliki kelebihan, baik dari aspek akademik,  maupun  dengan sendirinya,  dalam membangun jiwa keagamaannya.

Menyelesaikan Sisa-Sisa Diskriminatif

Selama ini  rupanya peningkatan kualitas madrasah yang agak mendesak, tetapi  agaknya rumit adalah terkait  dengan statusnya yang kebanyakan swasta. Sebagai lembaga pendidikan swasta, maka pemerintah tidak secara leluasa memasuki wilayah itu secara mendalam. Hal yang terkait dengan kepemimpinan, manajemen, alokasi pendanaan, ketenagaan  dan lain-lain, pemerintah tidak mungkin secara leluasa memasukinya.  Sesuatu yang  bisa dilakukan  adalah pemberian subsidi, yang jumlahnya terbatas. Berbeda jika madrasah itu berstatus negeri, maka seluruhnya akan menjadi wewenang pemerintah.

Sehubungan dengan status madrasah, yang kebanyakan swasta,  maka keadaannya sangat variatif, tergantung kekuatan masyarakat setempat pendukungnya. Madrasah yang berada di perkotaan, atau di masyarakat yang   sosial ekonominya cukup, maka  berjalan dengan baik. Namun sebaliknya, madrasah-madrasah di pedesaan atau di tengah-tengah masyarakat miskin, maka keadaannya sangat memprihatinkan. Pendidikan dan pengajaran hanya berjalan seadanya, guru tidak mendapatkan imbalan yang sewajarnya, fasilitas pendidikan tidak tersedia dan  seterusnya.  Tetapi dengan semangat itu, madrasah tetap berjalan dan tidak pernah berhenti. Oleh karena itulah, saya seringkali menyebut, bahwa ciri khas madrasah adalah tahan hidup, tetapi sukar maju,  dan kaya masalah.  

Persoalan inilah yang kiranya ke depan perlu diselesaikan dengan mengambil  langkah-langkah strategis, misalnya membuka peluang bagi  madrasah untuk diubah statusnya menjadi negeri. Atau, jika pendekatan itu tidak memungkinkan, pemerintah memberikan  subsidi   kepada madrasah sepenuhnya, atau setidak-tidaknya ada jaminan lembaga pendidikan dimaksud berjalan normal. Jika  kebijakan itu  harus dilakukan secara selektif, maka sifatnya adalah pembinaan, misalnya agar mereka bersedia  melakukan marger di antara madrasah yang berdekatan. Kebijakan tersebut sangat mendesak dilakukan untuk mengurangi, dan syukur menghilangkan pemandangan buruk adanya diskriminasi terhadap pelayanan  pendidikan dasar, yang hal itu sebenarnya adalah tugas dan wewenang pemerintah.

Persoalan lainnya yang selalu muncul selama ini adalah terkait dengan pondok pesantren salaf. Selama ini keberadaannya belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah.  Pondok pesantren salaf, yang jumlahnya juga cukup besar, belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah, kecuali beberapa di antaranya yang telah  diberikan status sebagai pesantren muádallah. Dalam berbagai kesempatan, mereka mengeluhkan atas posisinya itu.  Belum  adanya pengakuan dari pemerintah, maka lulusan pesantren salaf, sebatas mendaftar untuk menjadi pamong desa dan apalagi anggota DPRD, atau DPR tidak akan diterima, sekalipun pada kenyataannya mereka telah melakukan peran-peran kepemimpinan non formal di tengah-tengah masyarakat.

Menghadapi persoalan itu, saya pernah mengusulkan kepada pemerintah, dalam hal ini kementerian agama, agar melihat pesantren salaf sebagai lembaga pendidikan alternative. Cara pandang itu penting, agar tatkala melihat pesantren salaf tidak menggunakan ukuran normative yang sulit dipenuhi, hingga pengakuan itu tidak pernah diberikan. Maka dengan melihat bahwa pesantren salaf sebagai lembaga pendidikan alternative, maka pesantren dimaksud  harus dilihat dengan ukuran-ukuran khas, disesuaikan dengan orientasi pendidikan pesantren itu sendiri. Menurut hemat saya, hanya dengan cara itu, maka pesantren salaf bisa mendapatkan pengakuan dari pemerintah atas ijazah yang dikeluarkannya.

Hal lain,  khususnya terkait dengan perguruan tinggi Islam, selama ini banyak STAIN atau IAIN bermasud mengubah kelembagaan menjadi bentuk universitas. Selama ini baru ada 6 UIN, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN Syarif Qasim Riau, dan UIN Alauddin Makassar. Melihat perkembangan UIN tersebut, banyak IAIN dan bahkan STAIN berkehendak mengikutinya.

Kiranya semangat melakukan perubahan itu perlu mendapat respon positif dari  pemerintah. Sebab ajaran Islam yang bersifat universal, maka harus diberikan wadah yang mampu menampung universalitas ajaran Islam itu.  Namun untuk menjaga kualitas, lembaga itu harus diformat sedemikian rupa, agar  berhasil melahirkan lulusan yang dicita-citakan, yaitu melahirkan ulama yang intelek professional dan atau intelek professional yang ulama’. Sementara ini yang dilakukan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mensintesakan antara tradisi universitas dan ma’had al Aly, atau pesantren tinggi. Dengan cara itu, maka  program-program ma’had yang dikembangkan dan dikombinasikan dengan program universitas, ternyata selama ini,  berhasil  melahirkan lulusan yang sedikit banyak memenuhi harapan masyarakat.     

Sebagai bukti misalnya, tidak kurang dari 10 % dari seluruh mahasiswanya mengikuti kegiatan hafalan al Qurán, sehingga setiap wisuda, lulusan terbaik selalu diraih oleh sarjana yang hafal al Qurán.  Agak terasa aneh, lulusan fisika, matematika, ekonomi, psikologi, bahasa, hafal al Qurán 30 juz. Atas prestasi itu, mulai tahun ini tidak kurang dari 57 mahasiswanya berasal dari negara asing, seperyti Malaysia, Singapura, Thailand, Madagaskar, Rusia, Papua Nugini, Yaman, Siria, dan lain-lain.  

Diperlukan Reformulasi  Pendidikan Islam

Hal lainnya yang seringkali disoroti dari pendidikan Islam adalah masih terjadinya dikotomi dalam melihat ilmu pengetahuan. Yaitu masih adanya apa yang disebut dengan ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Ilmu agama hanya sebatas ilmu tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab. Disebut sebagai guru agama jika seseorang mengajar mata pelajaran tersebut itu. Mata pelajaran lainnya, seperti IPA, matematika, IPS, Bahasa, Geografi, Sosiologi, sejarah, ekonomi,  dan lain-lain disebut sebagai ilmu umum.

Kategorisasi itu juga terjadi di perguruan tinggi. Perguruan tinggi Islam negeri, ------selain UIN,  umumnya hanya mengembangkan rumpun ilmu  syariáh, ushuluddin, tarbiyah, adab dan dakwah yang selanjutnya disebut sebagai rumpun ilmu agama. Sedangkan fakultas kedokteran, fakultas teknik, fakultas ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, MIPA dan lain-lain yang disebut sebagai rumpun ilmu umum tidak dikembangkan, khususnya di IAIN dan STAIN. Itulah gambaran tentang dikotomik itu.

Sementara akhir-akhir ini, banyak kalangan mengatakan bahwa Islam tidak mengenal adanya pandangan yang bersifat dikotomik  terhadap ilmu pengetahuan itu. Semua ilmu adalah satu,  bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Al Qurán dan Hadits Nabi juga memerintahkan umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mendorong mempelajari alam semesta, baik yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, seperti matahari, bulan, bintang, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Semua boleh dipelajari. Oleh karena itu rasanya tidak tepat jika umat Islam hanya memilih untuk mempelajari ilmu agama  sebagaimana disebutkan di muka.

Berangkat dari pandangan itu, maka muncul apa yang disebut dengan istilah islamisasi ilmu pengetahuan, integrasi antara ilmu pengetahuan dan Islam, intekoneksi antara agama dan ilmu dan berbagai istilah lainnya yang serupa. Semua itu pada hakekatnya ingin menunjukkan bahwa Islam tidak semestinya dikategorisasikan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Islam  bersumber al Qurán dan hadits menganjurkan umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.

Bahkan  bermula dari cara pandang dikotomik terhadap ilmu pengetahuan, maka  umat Islam hanya mengkaji ilmu agama dalam pengertian terbatas, sehingga akibatnya  umat Islam tertinggal dari umat lainnya. Para tokoh dan ulama Islam hanya berkhidmat mengembangkan ilmu syariáh, ushuluddin,  tarbiyah, adab dan dakwah. Pelajaran agama Islam hanya meliputi ilmu tauhid, ilmu fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab. Cara pandang seperti ini, seolah-olah Islam menjadi sempit, hanya berada pada wilayah agama. Padahal Islam sebenarnya,  bukan sebatas agama, melainkan agama dan sekaligus peradaban yang luas.

Òleh karena itu, diberlakukannya  UU Sisdiknas 2003 seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan reformulasi wilayah atau ruang lingkup kajian Islam sebagaimana yang ditunjukkan dalam al Qurán dan Hadits Nabi. Rumusan itulah yang selama ini selalu dicari, agar dikotomik dalam melihat ilmu pengetahuan berhasil diakhiri. Saya sendiri melalui perenungan yang panjang, dan secara praktis  juga untuk memenuhi tuntutan pengembangan keilmuan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang saya pimpin, akhirnya menemukan rumusan, bahwa Islam setidaknya harus dipahami,  memiliki lima misi besar untuk menjadikan umatnya mendapatkan keselamatan, kemuliaan,  dan sekaligus kebahagiaan.  

Adapun kelima misi besar itu adalah sebagai berikut. Pertama, Islam membawa umat manusia agar  kaya ilmu pengetahuan. Hal itu bisa dilihat, bahwa ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah adalah perintah membaca. Asmaul husna yang pertama kali disebutkan adalah al khaliq, yang artinya adalah Yang Maha Pencipta. Misi Rasulullah yang disebutkan pertama kali adalah tilawah, artinya adalah membaca, Semua itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya ilmu pengetahuan, seharusnya dipelajari oleh seluruh kaum muslimin. Sedangkan ilmu pengetahuan tidak terbatas, terdiri atas ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah. Semua boleh dipelajari, kecuali Dzat Allah itu sendiri, oleh karena tidak akan mungkin berhasil dipahami.    

Misi besar kedua, adalah menjadikan umat Islam  unggul dari umat lainnya. Keunggulan itu setidaknya ditunjukkan dari tiga hal, yaitu manusia yang bertauhid, dapat dipercaya,  dan selalu menjaga kesuciannya. Ke-esaan Allah diperkenalkan terlebih dahulu oleh Muhammad. Selain itu, betapa pentingnya menjadi manusia yang bisa dipercaya, Muhammad disebut sebagai al amien, artinya adalah seorang yang dapat dipercaya. Selanjutnya  adalah  seseorang yang selalu menjaga kesuciannya secara menyeluruh, baik suci jiwanya, pikirannya, ucapannya dan juga  semua anggota badannya. Itulah manusia unggul. Pendidikan Islam, yang ditauladani dari Rasulullah, semestinya adalah mengantarkan para peserta didik  menjadi manusia unggul.  

Misi besar Islam ketiga,  adalah membangun tatanan sosial yang setara dan berkeadilan. Sedemikian penting kesetaraan dan keadilan ini bagi Islam sehingga  harus diperjuangkan. Bahwa sebelum Rasulullah datang di Jazirah Arab, masyarakatnya terdiri atas kabilah-kabilah, suku dan atau etnis yang bermacam-macam. Mereka saling bersaing, berebuit dan bahkan konflik secara terus menerus memperebutkan gensi, proistise, kekuasaan dan juga sumber-sumber ekonomi. Mereka yang lemah bukannya ditolong atau dibantu, tetapi justru dijadikan budak. Perbudakan meraja lela ketika itu. Rasulullah datang, menghapuskan system yang tidak adil dan tidak setara itu.

Misi keempat, Islam memberikan tuntunan dalam menjalankan ritual, mulai dari keharusan banyak berdzikir, shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan seterusnya. Perintah-perintah itu datang kemudian setelah lama Muhammad diangkat sebagai Rasul.  Ummat Islam, ternyata melihat agama lebih banyak terhadap aspek ajaran ritual ini.  Akibatnya sesuatu disebut sebagai ada kaitannya dengan Islam, manakala menyangkut tentang kegiatan ritual. Bahkan symbol-simbol Islam yang lebih ditonjolkan adalah apa saja yang terkait dengan ritual ini. Penyebutan ilmu Islam seperti ilmu tauhid, fiqh, akhlak dan tasawwuf, ushuluddein, syariáh, tarbiyah dan lain-lain, tampaknya bersumber dari pandangan ini.

Sedangkan misi kelima adalah konsep amal shaleh. Amal artinya adalah bekerja, sedangkan shaleh adalah benar, lurus, tepat, maka amal shaleh bisa dimaknai sebagai bekerja secara professional. Saya membayangkan, umpama saja  misi ajaran Islam ini dikembangkan secara utuh, hingga menjadikan umat Islam kaya ilmu, menjadi manusia unggul, berada pada tatanan sosial yang setara dan adil, menjalankan ritual yang secara sempurna dan selalu bekerja secara professional, maka ummat Islam di mana pun akan menjadi unggul dalam segala halnya. Sayangnya, pendidikan Islam selama ini baru lebih banyak mengembangkan aspek ritual. Lebih dari itu, ajaran ritual bukan segera dijalankan, melainkan diperdebatkan hingga terjadi perpecahan ummat di mana-mana secara terus menerus.

Akhirnya saya optimis dan berdoa, semoga organisasi Persatuan Umat Islam atau PUI menjadi pelopor dalam upaya  mempersatukan umat, di antaranya melalui pengembangan pendidikan Islam yang lebih utuh dan komprehenesif. Yaitu  pendidikan Islam,  yang tidak lagi menampakkan dikotomik, melainkan melihat ilmu secara utuh dan  mengembangkan manusia secara menyeluruh, baik dari aspek spiritualitasnya, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan ketangguhan profesionalitasnya, sehat jasmani dan rokhaninya.  Hanya dengan cara itu, menurut hemat saya,  Islam akan bangkit dan menjadi tauladan bagi umat lainnya.  Itulah kiranya yang kemudian disebut,  sebagai Islam rakhmatan lil alamien. Wallahu a’lam.

*)Makaah dipersiapkan sebagai bahan  Seminar Nasional :    Refleksi 56 Tahun Pendidikan Islam di Indonesia,   diselenggarakan oleh DPP PUI, pada Hari Senin, 27 Desember 2010 di Jakarta.

No comments:

Post a Comment