Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, October 7, 2011

TAHAPAN DAKWAH NABI MUHAMMAD

TAHAPAN DAKWAH NABI MUHAMMAD

Dosen pembimbing : Nur Choliq, M.Pd
Oleh : Nur Afif (STAIMA Al Hikam Malang)


I.    Pendahuluan
Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana, di kota Mekah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban dunia yang bernama Muhammad SAW, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut penanggalan para ahli sejarah. Perkembangan Islam begitu pesat, hingga risalah yang dibawa Muhammad berkembang begitu pesat dan cepat.
Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad secara terpisah-pisah selama 23 tahun. Terkadang ayat-ayat Al Quran turun dalam selang waktu yang berturutan (setiap hari). Terkadang pula turun dalam tempo yang berjauhan. Hal itu mempunyai tujuan khusus, yaitu untuk menetapkan dan memantapkan hati Rasulullah SAW dalam mengemban misi dakwah, membacakannya kepada manusia dengan tenang dan pelan-pelan sehingga mudah dihafalkan, dan agar Al Quran turun sesuai dengan peristiwa yang terjadi atau sebagai jawaban dari pertanyaan masyarakat pada waktu itu.
Sejak masa Nabi SAW hingga hari ini Al Quran masih tetap dijadikan obyek pehatian, pemeliharaan dan sumber inspirasi kaum muslimin karena keberadaan Al Quran sebagai kalam Allah yang merupakan sumber hukum pertama bagi kehidupan kaum muslimin sepanjang masa. Kaum muslimin telah mengarahkan perhatian pula kepada As Sunnah termasuk Sirah Nabawwiyah sebagai sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Kitabullah.
Setelah mengkaji sirah secara terperinci, kita akan mendapati bahawa asal mulanya Islam tersebar ke seluruh dunia adalah melalui kekuatan sebuah negara. Rasulullah saw yang berjaya membuka kota Mekah dan berjaya mewujudkan rasa was-was di kalangan penguasa-penguasa besar dunia ketika itu, yaitu Romawi dan Persia. Melalui sirah Rasulullah SAW juga, kita akan dapati bahawa perjuangan yang dilalui oleh Rasulullah SAW bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi perjuangannya telah dirancang dengan teliti melalui petunjuk daripada Allah SWT. Perjuangan Rasulullah SAW menubuhkan negara Islam dapat dibagi menjadi tiga tahap di mana tahap sebelumnya menjadi prasyarat kepada tahap selanjutnnya. Ia yang pertama memulai dengan tahap Sirriyah (diam-diam), tahap Jahriyah (terang-terangan) dan kemudian tahap Jahriyah Thalabun Nusrah bagi meraih sokongan dan kekuasaan politik untuk menerapkan Islam.
II.    Pembahasan
Dakwah secara terminologi adalah menyeru untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya, baik kebenaran ataupun kebatilan, Secara etimologi, para ulama mendefinisikannya dengan berbagai pengertian. Diantaranya adalah :
•    Dakwah adalah menyampaikan Islam kepada manusia, mengajarkannya kepada mereka, dan mengaplikasikannya dalam realita kehidupan.
•    Dakwah adalah penyampaian dakwah Islam kepada manusia di semua tempat dan waktu dengan menggunakan berbagai metode dan sarana yang sesuai dengan kondisi objek dakwah.
Tahapan-tahapan dakwah Nabi Muhammad SAW itu dapat dibagi menjadi :
    Dakwah secara diam-diam selama tiga tahun
Nabi saw mulai menerima perintah dari Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Tetapi dakwah Nabi ini dilakukan secara rahasia untuk menghindari tindakkan buruk orang-orang Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan. Nabi saw tidak menampakkan dakwah di majelis-majelis umum orang-orang Quraisy, dan tidak melakukan dakwah kecuali kepada orang yang memiliki hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya.
Adapun orang-orang yang pertama kali masuk Islam ialah istrinya sendiri yakni Khadijah binti Khuwailid r.a., Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritza mantan budak Rasulullah saw dan anak angkatnya, Abu Bakar bin Abi Qufahah, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lainnya.
Mereka ini bertemu dengan Nabi secara rahasia. Apabila salah seorang di antara mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Mekkah seraya bersembunyi dari pandangan orang-orang Quraisy.
Ketika orang-orang yang menganut Islam lebih dari tiga puluh lelaki dan wanita, Rasulullah saw memilih rumah salah seorang dari mereka, yaitu rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, sebagai tempat pertemuan untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Dakwah pada tahapan ini menghasilkan sekitar empat puluh lelaki dan wanita telah menganut Islam. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.
Tidak diragukan lagi, bahwa kerahasiaan dakwah Nabi saw selama tahun-tahun pertama ini bukan karena kekhawatiran Nabi saw terhadap dirinya. Sebab, ketika beliau dibebani dakwah dan diturunkan kepadanya firman Allah: “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berikanlah peringatan,“ beliau sadar, bahwa dirinya adalah utusan Allah kepada manusia. Karena itu beliau yakin bahwa Allah yang mengutus dan membebaninya dengan tugas dakwah ini mampu melindungi dan menjaganya dari gangguan manusia. Kalau Allah memerintahkan agar melakukan dakwah secara terang-terangan sejak hari pertama, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengulurkan sedetikpun, sekalipun harus menghadapi resiko kematian.
Berdasarkan hal itu, maka para pimpinan dakwah Islamiyah pada setiap masa boleh menggunakan keluwesan dalam cara berdakwah, dari segi Sirriyah dan Jahriyah atau kelemah-lembutan dan kekuatan, sesuai dengan tuntutan keadaan dan situasi masa di mana mereka hidup. Yakni keluwesan yang ditentukan oleh syari’at Islam berdasarkan kepada realitas Nabi SAW, sesuai dengan empat tahapan yang telah disebutkan, selama tetap mempertimbangkan kemashlahatan kaum Muslimin dan dakwah Islamiyah pada setiap kebijaksanaan yang diambilnya.
    Dakwah secara terang-terangan dengan hanya menggunakan lisan tanpa perang, berlangsung sampai hijrah.
Allah berfirman SWT : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada ( kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan, yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan lain selain Allah; maka mereka kelak akan mengetahui ( akibatnya)” QS Al Hijr 15 : 94-96.
Ayat ini menandakan proses perubahan dakwah Rasulullah saw dari tahap pertama ke tahap kedua. Rasulullah SAW memasuki tahap kedua melalui wahyu Allah SWT. Ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahawa penentuan setiap tahapan dakwah itu bukanlah berbentuk uslub (cara) yang bersifat mubah tetapi ianya adalah hukum perintah yang mesti diikuti. Pada tahap kedua ini, Nabi SAW mulai dakwah secara terbuka/terang-terangan mengajak orang-orang Mekah untuk menerima dan menyembah Allah SWT semata-mata, agar mereka meninggalkan kehidupan jahiliyah dan memeluk Islam. Beliau memilih sejumlah uslub untuk membawa Islam ke arena yang lebih terbuka. Misalnya, beliau pernah mengundang sejumlah kerabat, diantaranya terdapat pemimpin-pemimpin Quraisy untuk menghadiri jamuan makan di rumah beliau. Di dalam majlis itu, Rasulullah SAW menyampaikan Islam kepada mereka yakni secara terang-terangan.
Nabi SAW juga telah menampilkan kaum muslim sebagai kelompok yang tersusun dan bersistem (jama’ah mutakattilah) yang beri’tikad untuk menentang dan mengubah masyarakat dari segi nilai-nilai, adat-tradisinya yang bertentangan dengan ajaran Islam, pemikiran dan perasaannnya, serta sistem pemerintahan dan sistem pengaturan urusan kehidupannya. Perjuangan kolektif itu mampu menciptakan pandangan awam tentang dakwah Islam dan hal ini membantu penyebaran Islam ke seluruh Mekah. Orang-orang yang masuk Islam adalah mereka yang mempunyai pemikiran dan hati yang memahami kemurnian, kebijaksanaan dan kebenaran Islam.
Ketika Nabi SAW menyadari bahawa orang-orang Quraisy tidak akan mendukung penerapan hukum Islam di Mekkah, beliau mulai mencari dukungan dan kekuasaan dari suku selain Quraisy, misalnya Bani Tsaqif, Kindah, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Bani Kalb dan Bani Hanifah. Bukti bahawa Rasulullah SAW mencari dukungan dan kekuasaan politik daripada bani-bani tersebut dapat dilihat di dalam catatan sirah merujuk kepada kata-kata suku Amir Sha’sha’ah kepada Rasulullah SAW, “ Kami harus menyerahkan leher kami pada pedang orang-orang Arab demi melindungimu, akan tetapi ketika kemenangan diraih, kekuasaan diberikan kepada kamu?.
Ketika menjalankan tugasnya, Nabi SAW terus menyerang sistem jahiliyyah tanpa melalui jalan kompromi atau penyimpangan. Ketika Quraisy tidak mampu menghentikan dakwah Rasulullah SAW dengan pemikiran dan perdebatan, mereka kemudian mencobaba untuk melakukan dengan cara kompromi dan tawar menawar. Para pemimpin Quraisy mengirim sejumlah delegasi kepada Nabi saw untuk menawarkan harta, tahta dan wanita. Namun, Nabi SAW menolaknya dan terus menyeruhkan dakwah Islam secara terbuka. Karena kegagalan tersebutlah yang menyebabkan pemimpin-pemimpin Quraisy mulai melakukan kekerasan untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Mereka menyiksa dan membunuh kaum muslimin. Mereka juga mengarahkan serangan secara langsung terhadap Nabi SAW dengan cara memfitnah, menyebarkan kebohongan dan propaganda untuk menghina beliau, serta usaha untuk membunuh beliau. Namun usaha-usaha itu juga langsung tidak dapat menghentikan dakwahnya bahkan kaum muslimin semakin termotivasi.
    Dakwah secara terang-terangan menerapkan dan mengembangkan syari’ah Islam.
Akhirnya usaha Rasulullah SAW berjaya mendapat dukungan dan kekuasaan untuk menegakkan Islam. Rasulullah SAW berhasil menarik perhatian para jama’ah haji dari Madinah sehingga terjadi peristiwa Bai’ah Aqabah ke 2 . Bai’ah Aqabah ke 2 merupakan janji setia diantara wakil-wakil penduduk Madinah dengan Rasulullah SAW. Semasa bai’ah ini, mereka berjanji akan melindungi dan memberikan dukungan serta kekuasaan kepada Rasulullah SAW.
Setelah meneliti perkembangan dakwah di Madinah, Rasulullah SAW akhirnya memerintahkan kaum muslimin yang berada Mekkah untuk berhijrah ke Madinah. Hijrah ke Madinah merupakan momentum perpindahan tahap dakwah dari aktiviti yang bersifat lisan dan penuh kesabaran ke tahap penerapan syariat Islam melalui sebuah institusi negara, yakni Daulah Islamiyah. Tahap ini menjadikan dakwah Rasulullah SAW dilakukan dengan cara yang sangat berbeda yaitu melalui institusi negara. Negara inilah yang memerintah dengan Islam serta menerapkannya secara menyeluruh dan mendakwahkannya dengan hujjah dan bukti yang nyata, sekaligus mengembangkannnya dengan kekuatan yang mampu melindungi dakwah dari kekuatan kufur.
Menjadikan Rasulullah SAW sebagai figur bukanlah hanya sekedar mengambil nilai-nilai murni akhlaknya bahkan lebih daripada itu. Tujuan sebenarnya Rasulullah SAW diutus dapat difahami melalui hasil perjuangan dakwahnya, tertegaknya sebuah negara dan Islam diterapkan secara sempurna dan menyeluruh ( kaffah). Sebagaimana firman Allah swt:
“Hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah aku cukupkan untuk kamu nikmatku, serta aku redha Islam sebagai agama kamu” QS Al Maidah 5.
Kejayaan yang dicapai oleh Rasulullah SAW sebelum wafatnya adalah menerapkan Islam secara kaffah (rahmatan lil ‘alamin). Pernyataan bahawa kita menjadikan Rasulullah SAW sebagai figur/panutan sejati. Islam tidak boleh diterapkan sebagian demi sebagian kerana apabila kita menerapkan Islam secara sebagian, bermakna kita akan menerapkan hukum kufur pada sebagian yang lain.
III.    Penutup
Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam yang dirintis Nabi Muhammad SAW melalui dua pereodesasi yakni Mekkah dan Madinah. Selama pereode ini (selama kurang lebih 23 tahun) Nabi SAW berhasil menyebarkan Islam hampir keseluruh Jazirah Arab. Nabi Muhammad SAW sukses melakukan perubahan-perubahan terhadap bangsa Arab meliputi segala segi dan bidang kehidupan kemanusiaan. Apa yang dicapai oleh beliau untuk kejayaan Islam menuai sukses besar yang sangat menakjubkan dalam pentas sejarah dunia.
Keberhasilan Nabi SAW dalam menjadikan Islam sebagai agama serta keyakinan umat manusia bukan hanya sebatas identitas dan agama semata, namun Islam tumbuh dalam sanubari umat islam sebagai aqidah (keyakinan), syari’ah dan etika maupun moral (ahlaq al-karimah).
Akhir kata penulis sangat minta ma’af kepada teman-teman semua dan juga kepada dosen kami dikarenakan makalah yang sangat kecil ini sangatlah banyak kesalahan dan kekurangannya.


Wallahu a’lam bis Shawaaab



Daftar pustaka
1.    Abu Zahrah, Muhammad. Al-Maraji’ fi sirah al-Nabawiah-khatim Nabi SAW, 1993, Dar al-Fikr, Beirut
2.    al-Imam Hawwa, Said. Al-Rasulullah SAW, 1977, Beirut
3.    www.google.com
4.    Aula majala NU edisi ke-15 tahun 2006

No comments:

Post a Comment