Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Thursday, November 3, 2011

Kerangka/Metode Berfikir 'Irfani عرفاني : Dasar-dasar (Pengretian) Falsafi Maqam dan Ahwal


 Kerangka Berfikir Irfani  : Dasar - Dasar Falsafi Maqam dan Ahwal 
A.   Pendahuluan
Suatu pengamatan terhadap tasawuf mengindikasikan bagaimana para sufi memiliki konsepsi tentang jalan menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan - latihan bertahap pada fase tertentu yang dikenal dengan maqam ( tingkatan ) dan hal ( keadaan ) yang berakhir pada tingkat ma’rifat pada Allah.
            Kerangka “irfani” dapat disebut dengan lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh predikat marifat. Tanpa kerangka ini, manusia tak akan sampai menuju Allah, walaupun ia beriman secara aqliyah. Selain itu, lingkup irfani tidak dapat dicapai dengan mudah atau spontinitas.
            Seperti tujuan yang diharapkan dalam silabus ilmu tasawuf, yakni agar mahasiswa dapat memahami kerangka berfikir irfani, maka akan semakin menarik apabila pemakalah mengklafikasikan bab ini menjadi beberapa bagian :
1.      Apa Pengertian dan Perbedaan Maqam dan Hal ?
2.      Bagian apa yang termasuk maqam dan hal ?
3.      Bagaimana metode berfikir irfani ?

B.   Pembahasan
1.    Pengertian dan perbedaan maqamat dan ahwal
a. Maqam
Banyak jalan dan cara yang ditempuhi seorang sufi dalam meraih cita-cita dan tujuannya mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t seperti memper-banyak zikir, beramal soleh dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam perjalanan spritualnya, seorang sufi pasti menempuh beberapa tahapan. Tahapan-tahapan itu disebutkan Maqamat/stasiun (jama’ dari maqam).( Syamsun Ni'am, 2001: 51)
b. Ahwal
Keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Menurut Al-Thusi, keadaaan ( hal ) tidak termasuk usaha latihan - latihan rohaniyah. Dan para sufi menegaskan perbedaan maqam dan hal. Maqam ditandai dengan kemapanan sedangkan hal justru mudah hilang. Maqam dapat dicapai seseorang dengan kehendak dan upayanya, sementara hal dapat diperoleh sese-orang tanpa sengaja.  Istilah kompleksnya, bahwa hal sama dengan bakat, sementara maqam diperoleh dengan daya dan upaya ( Rosihan Anwar, 2008  : 77 ).
2.      Macam – macam maqam
1.      Tobat
Secara bahasa, taubat adalah kembali. Sedangkan termologinya yaitu kembali dari hal tercela menuju sesuatu yang terpuji[1]. Menurut Imam Ghazali, taubat adalah sebagai pijakan awal para salik dan permulaan murid dalam mencapai ma’rifat.[2] Permulaan ini semakin jelas dengan indikasi bahwa Ghazali meletakkan bab taubat sebagai bab pertama dalam munjiyat.
Tobat tentu tidak asal tobat, terdapat kriteria – kriteria yang harus dipenuhi agar tobat itu dapat diterima, diantaranya :
a.       Menyesali apa yang telah diperbuat.
b.      Bertekad untuk tidak mengulangi hal tercela itu.
c.       Terbebas dari tuntutan manusia lain. ( Syatha : 15 ).
2.      Zuhud
Makna dan hakikat zuhud banyak diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadid ayat 20-23. Dari ayat itu, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat du-nia yang bersifat sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia mencintainya– dan hakikat akhirat –yang bersifat kekal, baik kenikmata-nnya maupun penderitaannya.
            Secara umum, zuhud diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidu-pan akhirat. Batas pelepasan diri dari ketergantungan itu menurut Ghazali mengu-rangi keterikatan pada dunia untuk kemudian menjauhinya dengan penuh kesadaran. Lain halnya dengan Hasan Al-Bashri yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan kehidupan dunia karena dunia bagai ular, licin apabila dipe-gang namun racunnya dapat membunuh. [3]
            Kendati banyak berbagai pendapat makna zuhud, inti dan tujuan zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dengan menggangap bahwa dunia sebaga suatu sarana atau perantara menuju akhirat yang dimanfaatkan secara baik.
3.      Faqr
Ialah menuntut lebih banyak dari apa yang telah dimiliki dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.[4] Sikap ini mencegah keserakahan yang menjadi rentetan sikap zuhud. Hanya saja jika zuhud lebih keras menghadapi kehidupan duniawi sedangkan fakir hanya pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
4.      Sabar
Al-Ghazali mengklasifikasikan sabar yaitu kesabaran jiwa ( menahan nafsu makan dan seks ) dan kesabaran badani ( menahan penyakit fisik )[5].
Ibnu Abbas berkata bahwa sabar dalam Al-Quran dibagi menjadi tiga. Pertama, sabar dalam menjalankan perintah Allah. Kedua, sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Ketiga, sabar saat ditimpa musibah.[6].
5.       Syukur
Abdul Fattah Sayyid Ahmad (2000: 124) dalam bukunya Tasawuf: antara Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah, tidak memisahkan antara sabar dan syukur. Bahkan menurut beliau, sabar dan syukur adalah dua buah kata yang digunakan untuk menyebut satu makna. Menguatnya motivasi agama dalam melawan motivasi syahwat, jika dilihat dari sudut pandang dorongan syahwat, disebut ’sabar’. Menguatnya dorongan agama dalam melawan motivasi syahwat, jika dilihat dari sudut pandang motivasi agama, disebut ’syukur’.
Syukur kepada Allah merupakan bukti atas nikmat dan karunia yang diberikan kepada hamba-Nya (Syamsun Ni’am, 2001: 59). Secara global syukur adalah “Sharfun ni’mah fi ma khuliqat lahu”(menggunakan nikmat yang dikaruni-akan Allah kepadanya secara proporsional) . Al-Junaid mengatakan “Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat . Dalam dataran aplikatif, syukur tidak hanya diwujudkan dalam lisan semata. Namun juga dinyatakan dalam gerak dan perasaan hati. Dengan demikian syukur itu merupa-kan perpaduan antara perilaku hati, lisan dan raga.
6.      Rela    
Ridha’ berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugera-hkan Allah Swt. [7]. Abdul Halim Mahmud menyatakan bahwa ridha mendorong manusia untuk sekuat tenaga mencapai apa yang dicintai allah dan rasul-Nya. Namun sebelum mencapainya, ia harus menerima dan merelakan resikonya dengan cara apa yang disukai Allah.
7.      Tawakal
Tawakal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah ( Ghazali : 322 ). Dalam hal ini, Ghazali menguungkan tawa-kal denga tauhid, dengan penekanan bahwa tauhid sangat berfungsi sebagai landasan tawakal.
Tawakal terbagi pada tiga derajat : tawakal, taslim dan tafwih. Orang yang bertwakal merasa tentra dengan janji Rabbnya. Orang yang taslim merasa cukup dengan IlmuNya. Adapun pemilik tafwidh ridha dengan hukumNya. 
a.       Hal
1.      Muhasabah dan Muraqabah
Kedua hal ini menjadi dua dari 6 tingkatan yang menjadi pengikat nafsu.[8] Muraqabah (control save ) sebagai pengawas dari nafsu yang ambisius pada hal tercela agar tidak merugi nantinya.
Muhasabah ( evalution save ) dapat diartikan intropeksi diri apakah segala perbuatan sehari – hari telah sesuai atau menyimpang dari kehendak-Nya.  
2.      CInta
Dalam pandangan tasawuf, mahabbah merupakan pijakan bagai segenap kemuliaan hal, seperti tobat yang merupakan dasar maqam. Mahabbah adalah kecenderengan hati untuk memerhatikan keindahan dan kecantikan. ( Rosihan Anwar : 84 )
3.      Raja dan Khauf
Raja dapat berarti berharap atau optimisme dengan 3 tuntutan diantaranya : a. cinta kepada apa yang diharapkannya. B. takut harapannya hilang. C. berusaha mencapainya. Tanpa 3 hal ini bukan dinamakan raja melainkan ilusi atau khayalan.
Sedangkan khauf adalah kesakitan hati karena membayangkan hal yangditauti yang akan menimpa nantinya. Khauf dapat mencegah hamba dari maksiat dan mendorong agar manusia tetap dalam ketaatan.
4.      Rindu
Jika cinta sudah dirasa maka rindu pun akan mengikuti.[9]
Al-Ghazali berargumen bahwa kerinduan kepada Allah dapat dijelaskan melalui penjelasan tentang keberadaan cinta kepadaNya. Pada saat tidak ada, setiap yang dicintai pasti dirindukan orang yang mencintainya. Begitu juga dihadapannya, ia tidak dirindukan lagi. Kerinduan berarti menanti  sesuatu yang tidak ada. Bila sudah ada, tentunya tidak dinanti lagi.[10]
5.      Intim ( uns )
Uns adalah sifat merasa selalu berteman, tidak pernah merasa kesepian (Anwar dan Solihin, 2000: 86 )[11].
b.      Metode Irfani
1.      Riyadhah
Riyadhah ( latihan – latiha mistik ) yakni latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwanya. Riyadhan dapat pula berarti proses internalisasi kejiwaan dengan sifat – sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan sifa sifat tercela[12]
Riyadhah harus disertai dengan mujahadah. Mujahadah yang dimaksud adalah kesungguhan dalam perjuangan meningalkan sifat tercela/ meninggalkan sifat tercela tentu tidak mudah sehingga membutuhkan kesungguhan dalam riyadahnya. Perbedaannya, jika riyadhah sebagai tahapan-tahapan real, sedangkan mujahadah berjuang menekan atau mengendalikan dengan sungguh sungguh. Meskipun demikian, keduanya tak dapat dipisahkan karena keduanya bagai dua sisi pada satu mata uang. [13]
2.      Tafakur ( refleksi )
Tafakur penting dilakukan oleh setiap manusia yang menginginkan marifat. Sebab, tatkala jiwa telah belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan dan menganalisanya maka pintu kegaiban akan dibukakan untuknya. Menurut ghazali, orang yang berfikir dengan benar kan menjadi dzawil albab yang terbuka kalbunya sehingga akan mendapat ilham[14]
3.      Tazkiyat annafs
Proses penyucian jiwa manusia. Proses ini dapat dilakukan melalui tahapan takhalli dan tahalli. Proses tazkiyat al-nafs adalah inti kegiatan bertasawuf.
4.      Dzikrullah
Secara etimologi, dzikir adalah mengingat sedankan secara istilah membasahi lidah dengan ucapan pujian kepada Allah. Dzikir merupakan metode lain dalam memperoleh ilmu ladunni ( Rosihan Anwar, 2000 : 92 ).
Dalam Munqidz, Al-Ghazali menjelaskan bahwa dzikir kepada Allah merupakan hiasan bagi kau sufi. Syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah adalah membesihkan hati secara menyeluruh dariseian Allah sedangkan kuncinya menenggelamkan hati secara keseluruhan dengan dzikirullah[15].
C.   Kesimpulan
Dari penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kerangka berpikir irfani merupakan salah satu jalan sufistik yang ditempuh para sufi dalam mencapai pengenalan kepada Allah swt secara total (ma’rifatullah) sebagai hamba-Nya. Di dalam pengembaraan para salik (penempuh tasawuf) tersebut, mereka mesti melalui tahapan-tahapan maqam (maqamat) seperti taubat, zuhud, faqr, sabar, syukur, tawakal, dan ridha.
Setelah para salik berhasil menempuh tingkatan maqam, mereka berada pada kondisi al hal (ahwal). Pada kondisi ini mereka akan dengan mudah mengalami hal-hal secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan mujahadah mereka masing-masing. Adapun hal-hal tersebut adalah muhasabah, muraqabah, hubb, raja’, khauf, syauq, dan uns.
Segala penempuhan di dalam maqamat dan ahwal untuk mencapai derajat hamba yang hakiki di sisi Allah swt. tersebut tidak akan diperoleh secara sempurna jika dilakukan tanpa pedoman dan bimbingan tertentu. Pedoman tersebut digunakan sebagai metode penempuhan para sufi yakni metode irfani. Metode irfani merupakan salah satu metode sufistik yang telah digali oleh para ‘arifin (ulama tasawuf) dari sumber ajaran Islam, yakni Al-Quran dan Sunnah Rasul saw.
Dengan begitu, jelaslah sudah bahwa kerangka berpikir irfani melalui falsafi maqamat dan ahwalnya menjadi dasar amalan para salik di dalam memahami esensi (hakikat) nilai-nilai penghambaan diri kepada sang Maha dahsyat. Selain itu, kerangka berpikir irfani ini, tidak semata dikhususkan bagi para salik atau sufi, melainkan pula kepada kaum muslimin yang menginginkan ketenangan secara lahir dan batin, dan tentunya disertai dengan pedoman dan bimbingan guru mursyid.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Rssalah Al-Ladunniyah, dalam Al-Qushur Al-Awali, Jilid I, Maktabah Al-Jundi : Mesir, 1970.
Al-Kalabadzi, Taaruf fi madzhab Al-Tasawuf, Isa Al-babi Al-Halabi, Mesir 1960, dalam Rosihan Anwar & M. Solihin.
Barmawie Umarie, Sistematika Tasawuf, Siti Syamsiyah, Sala, 1966,
C.A. Qadir, Philosophy and Science in The Islamic World, hlm 11
Ghazali, Abu Hamid,, Ihya Ulum Al-Din, Dar-Al-Ma’rifah : Beirut, Juz IV.
Ghazali, Mendekati Allah dengan kecintaan…….terj.Rosihan Anwar danAsep Suhendat dalam Rosihan Anwar dan M. SOlihin.
………….., Mursyid Al-Amin, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah : Jakarta, 2004.
Solihin & Anwar, Rosihan, Ilmu tasawuf,  CV pustaka setia : Bandung, 2008,
Syatha, Dimyati, Kifayat-Al-Atqiya’, Nur-Al-Huda : Surabaya,
Usman Said, et.al, Pengantar Ilmu tasawuf, proyek pembinaan PTAI IAIN SUMUT Medan, 1981.



[1] Syatha, Dimyati, Kifayat-Al-Atqiya’, Nur-Al-Huda : Surabaya, hlm. 14
[2] Ghazali, Abu Hamid,, Ihya Ulum Al-Din, Beirut : Dar-Al-ma’rifah, Juz IV, Hlm. 2
[3] Usman Said, et.al, Pengantar Ilmu tasawuf, proyek pembinaan PTA IAIN SUMUT medan, 1981 hlm. 104
[4] Al-Kalabadzi, Taaruf fi madzhab Al-Tasawuf, Isa Al-babi Al-Halabi, Mesir 1960, hlm105 dalam ROsihan Anwar & M. Solihin.
[5] Ghazali, Ihya….hlm. 58-59. Jilid IV
[6] …………., Mursyid Al-Amin, Dar-Alkutub Al-Islamiyah : Jakarta, hlm. 185.
[7] Barmawie Umarie, Sistematika Tasawuf, Siti Syamsiyah, Sala, 1966, hlm. 81 Dalam Rosihan Anwar..
[8] …………Mursyid Al-Amin…..hlm. 226.
[9] Ibid, hlm. 214.
[10] Ghazali, Mendekati Allah dengan kecintaan…….terj.Rosihan Anwar danAsep Suhendat dalam Rosihan Anwar dan M. SOlihin.
[11] Lebih jelas menghayati ungkapan sifa uns di Rosihan Anwar & Solihin, Ilmu Tasawuf, hlm. 86
[12] Al-Ghazali, RIsalah Al-Ladunniyah, dalam Al-Qushur Al-Awali, Jilid I, Maktabah Al-Jundi : Mesir, 1970, hlm 122.
[13] Solihin & Anwar, Rosihan, Ilmu tasawuf, CV pustaka setia : Bandung, 2008, hlm. 90.
[14] Rosihan Anwar…hlm. 90 dalam C.A. Qadir, Philosophy and Science in The Islamic World, hlm 11
[15] Rosihan Anwar…hlm. 93 dalam Al-Ghazali, Al-Munqidz

2 comments:

  1. apax yang good neng.... :D
    iya, semoga kita selalu berbagi dalam kemashlahatan....

    ReplyDelete