Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Tuesday, December 20, 2011

Kelompok Sosial. (Psikologi Sosial)


KELOMPOK DAN PERILAKU KELOMPOK
Oleh: M. Zefri Syaebani, Rahmat, Subur Wijaya

A.    PENDAHULUAN
Dalam ilmu sosial, kita mengenal istilah makhluk sosial dan ini yang akan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak dapat hidup secara individualis dan cenderungan akan mencari atau memerlukan bantuan dari pihak lain. Kemudian selanjutnya setiap makhluk itu akan berkumpul, bermasyarakat, dan bersosial dengan kelompoknya masing-masing yang sesuai dengan karakter masing-masing yang mereka miliki.
Sejarah telah mengukir beberapa studi pembentukan dan perubahan sikap yang mengalami pasang surut. Ketika dunia dilanda perang pada tahun 1940-an, kelompok menjadi pusat perhatian dan setelah perang selesai, maka perhatia beralih pada individu dan bertahan samapai pertengahan 1970-an. Akhir 1970-an minat yang tinggi tumbuh lagi pada sudi kelompok dan menjadi dominan pada pertengahan 1980-an, dan para pendidik juga melihat komunikasi kelompok sebagai metode pendidikan yang efektif.[1]
Oleh karena itu, pembahasan kelompok dan juga perilaku kelompok akan menjadi suatu modal atau bekal yang sangat penting bagi kita untuk dapat hidup dalam komunitas sosial yang dapat dipersempit dengan komunitas-komunitas kecil yang ada di lingkungan sekitar. Maka penulis dalam makalah ini akan menjelaskan sedikit tentang mengenai pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri, serta pengaruh dan perilaku kelompok.

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Kelompok
Kelompok secara etimologi dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah n 1 kumpulan (tt orang, binatang, dsb); 2 golongan (tt profesi, aliran, lapisan masyarakat, dsb); 3 gugusan (tt bintang, pulau, dsb); 4 Antr kumpulan manusia yg merupakan kesatuan beridentitas dng adat-istiadat dan sistem norma yg mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu; 5 Pol kumpulan orang yg memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dng pihak yg sama; 6 Kim kuantitas zat yg akan dimasak atau diolah dl satu waktu;[2] Sedangkan kelompok secara terminologi adalah dua individu atau lebih, yg berinteraksi & saling bergantung, yg saling bergabung untuk mencapai tujuan tertentu (collection of individuals in which behavior and/or performance of one member is influenced by behavior and/or performance of other members).[3]
Dengan demikian kelompok adalah suatu himpunan individu-individu yang memiliki iteraksi antar satu dengan yang lain, untuk mencapai sebuah tujuan, dengan ciri khas serta norma tertentu.

2.      Jenis-jenis Kelompok
Rumusan umum mengenai kelompok sosial menurut sherif, seperti yang dikutip dalam buku psikologi sosial, sebagai berikut:
“suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu yang khas bagi kesatuan sosial tersebut”

Dari uraian rumusan ini, maka kelompok sosial berbeda dengan “keadaan kebersamaan” dikarenakan tidak ditemukannya hubungan yang intensif, serta tidak ditemukan  ciri khasnya.
Dalam psikologi sosial dikenal empat jenis kelompok sosial, yaitu :
a.       Kelompok primer
Kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang terjalin antar anggota yang biasa ditandai dan  bersifat intensif, lebih erat, lebih akrab, lebih personal. Kelompok ini biasanya bercorak kekeluargaan dan berdasarkan simpati. Bisanya juga disebut kelompok “face to face” sebagimana yang didefinisikan oleh Charles Horton Cooley (1990) : “By primary group I mean those characterized by intmate face-to-face association and cooperation”.[4]  Peranan kelompok primer dalam kehidupan individu sehari-hari  besar sekali karena di dalam kelompok primer manusia pertama kali berkembang dan didik  sebagai makhluk sosial. Di sini direpresentasikan dengan beberapa hal diantaranya, mengindahkan norma-norma, mengutamakan kepentingan kelompok sosialnya dari pada dirinya sendiri, belajar bekerja sama dengan individu-individu lainnya, dan mengembangkan skill dan kecakapannya guna kepentingan kelompok.[5] 
Di antara contoh-conth kelompok primer adalah:  keluarga, rikun tetangga, kelompok bermain di sekolah atau kampus, kelompok belajar, kelompok agama dan sebagainya. Sebagaimana definisi di atas kelompok ini mempunyai ciri yang lebih akrab dan bersifat kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati.[6]
b.      Kelompok sekunder
Kelompok sekunder secara kasar merupakan kebalikan dari kelompok primer yaitu kelompok yang diantara anggota klompoknya terdapat hubungan tak langsung, tidak akrab, jauh dari formal, dan kurang bersifat kekeluargaan. Kelompok ini cenderung objektif dan rasional.[7] Peran kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama secara objktif dan rasional. Beberapa contoh dari kelompok sekunder antara lain: partai politik, perhimpunan serikat kerja, organisasi profesi, organisasi massa, dan lain sebaginya yang bersifat interksi rasional atas dasar pertimbangan untung-rugi tertentu.
Dalam poin 1 dan 2 ada beberapa perbedaan yang sangat jelas, yaitu:
Kelompok primer
Kelompok sekunder
1.      Kualitas komunikasi pada kelompok bersifat dalam dan meluas.
Komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2.      Komunikasi cenderung bersifat personal.
Komunkasi cenderung bersifat impersonal.
3.      Komunikasi lebih menekankan aspek hubungan dari pada aspek isi.
Komunikasi lebih mengarah kepada isi atau tujuan.[8]

c.       Kelompok formal
Kelompok formal adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan di antara anggota-anggaotanya. Pada kelompok ini biasanya didukung dengan adanya anggaran dasar (AD), dan anggaran rumah tangga (ART). Di samping itu kelompok ini juga memiliki pembagian kerja, peran-peran, dan hierarki tertentu. Hal ini biasanya dirumuskan secara tegas dan tertulis. Contohnya: OSIS, parpol, OSPAM, BEM, dan lain sebagainya.
d.      Kelompok informal
Selain kelompok formal, tentu ada juga kelompok informal yaitu kelompok yang tidak memiliki struktur tertentu atau pasti dan kelompok ini terbetnuk karena adanya pertemuan yang berulangkali, sehingga menjadi dasar timbulnya kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama. Seperti contoh, pertemuan berulang, yang kerap terjadi pada anggota sebuah organisasi.

3.      Ciri-ciri Kelompok
Secara garis besar, iteraksi sosial akan disebut sebagai sebuah kelompok sosial jika didalamnya terdapat ciri-ciri sbagai berikut:
a.       Terdapat dorongan (motif) yang sama pada individu-individu yang menyebabkan terjadinya inraks ke arah dan tujuan yang sama.
b.      Terdapat akibat-akibat yang berbeda terhadap individu yang satu dengn yang lain, berdasrkan reaksi-reaksi dan kecakapn-kecakapan yang berbeda antara individu yang terdapat didalamnya. Ini yang menjadi landasan terbentuknya struktur sebuah kelompok.
c.       Pembenukn dan penegasa struktur kelomok yang jelas da terdiri atas peranan-peranan dan dan edudukn hierarkis yang lamat-laun berkebang dengan sendirinya dalam usaha pencapaian tujuan.
d.      Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-normapedoman tingka laku angoa kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.
Dari ciri-ciri utama ini, dapat disimpulkan, bahwa kelompok sosial dapat dibedakan dari interaksi sosial lainnya dengan beberapa point berikut:
a.       Motif yang sama antar anggota
b.      Reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda antar anggota
c.       Penegasan sruktur  kelompok
d.      Penegasan norma-norma kelompok.[9]

C.    PENUTUP
1.      Simpulan
Dari beberapa uraian diatas, penulis dapat meyimpulkan bahwa interaksi sosial kelompok berbeda dengan keadaan kebersamaan yang di dalamnya tidak ditemukan adanya suatu interaksi antara individu satu dengan yang lainnya. Dalam hubungannya dengan ilmu psikologi, kelompok sosial memiliki beberapa jenis; primer, sekunder, formal, dan informal. Selain itu juga ada beberapa ciri-cirinya. Semoga Allah mengizinkan ilmu yang sudah kita dapat ini, senantiasa bermanfaat dan barokah di dalam agama, dunia dan akhirat kita. Amin.

2.      Referensi
Dasar-dasar-perilaku-kelompok. Pdf
Gerungan, W. A. 2009. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Kelompok Sosial. Pdf
Rahmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
ShoftwareKBBI versi offline
Theodore M. Newcomb, Ralph H. Turner, Philip E. Converse,(diterjemahkan oleh tim Universitas Indonesia) Psikologi Sosial, 1978. Penerbit: Diponegoro.


[1] Jalaludin Rahmat. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset. Cet ke 23. hlm 141.
[2] ShoftwareKBBI versi offline
[3] Dasar-dasar-perilaku-kelompok.pdf
[4] Jalaluddin Rahmat. Op. Cit. hlm. 142
[5] W.A. Gerungan. 2009. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama. hlm. 92
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Jalauddin Rahmat. Op. Cit. hlm. 142-143
                [9] Bandingkan dengan : Theodore M. Newcomb, Ralph H. Turner, Philip E. Converse,(diterjemahkan oleh tim Universitas Indonesia) Psikologi Sosial, 1978. Penerbit: Diponegoro. Hlm. 471-472 & 506-508.

No comments:

Post a Comment