Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Wednesday, January 25, 2012

Kurikulum PAI di sekolah umum: telaah Religio-Filosofis, Sosial-politik, Psikologis Ilmu pengetahuan-IPTEK.


I. Pendahuluan
            Telah dijelaskan oleh pemakalah sebelumnya, sejarah masuknya PAI di sekolah-sekolah umum yang saat itu termasuk tokoh pelopornya adalah beliau Ahmad Dahlan.
            Secara formal, kemunculan kurikulum sebagai bidang kajian ilmiah baru pada awal abad ke-20. Kurikulum pendidikan Islam klasik hanya berkisar pada bidang studi tertentu. Ilmu-ilmu agama mendominasi kurikulum di lembaga formal dengan mata pelaaran hadis dan tafsir, fiqih, retorika dakwah (dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan klasik), ilmu kalam, ilmu filsafat dan ilmu-ilmu hellenis.
            Namun dengan perkembangan sosial dan kultural, isi kurikulum semakin meluas. Dengan perkembangan ini diperlukan prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam. Dalam meletakkan cetakan biru (blue print) pendidikan Islam adalah dengan mengintegrasikan ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) pada kurikulum di sekolah. Dalam penyusunan kurikulum tersebut, dapat dilihat dari prinsip-prinsipnya.
            Makalah sederhana ini akan mengajak anda melihat bagaimana kurikulum PAI dirumuskan dan dikembangkan di sekolah umum.
Sub-sub pembahasan:
I. Pendahuluan
II.Pembahasan
            1. Prinsip-prinsip umum pendidikan Islam
            2. Kurikulum PAI di sekolah umum
III. Kesimpulan
IV. Daftar Pustaka











II. Pembahasan
1. Prinsip-prinsip umum pendidikan Islam ada 6 yaitu:
1.      Tujuan pendidikan Islam
2.      Kurikulum pendidikan Islam
3.      Metode pendidikan Islam
4.      Murid dan guru dalam pendidikan Islam
5.      Lingkungan pendidikan Islam
6.      Evaluasi pendidikan Islam
            Dalam kesempatan kali ini, pemakalah hanya akan menjelaskan poin kedua dari prinsip-prinsip umum pendidikan Islam (menurut pemakalah pendidikan agama Islam) di atas. Secara formal, kemunculan kurikulum sebagai bidang kajian ilmiah baru pada awal abad ke-20. Kurikulum pendidikan Islam klasik hanya berkisar pada bidang studi tertentu. Ilmu-ilmu agama mendominasi kurikulum di lembaga formal dengan mata pelaaran hadis dan tafsir, fiqih, retorika dakwah (dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan klasik), ilmu kalam, ilmu filsafat dan ilmu-ilmu hellenis.
            Kurikulum yang telah kita ketahui tadi, dalam konteks klasik. Sekarang, kalau dalam konteks moderen, contoh saja kita ibaratkan kurikulum pada suatu sekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) kandungan kurikulum (isi/materi) pendidikan agama Islamnya (1999) meliputi 7 unsur yaitu: Al-Qur’an, Hadits, Keimanan, Akhlaq, Bimbingan ibadah, Syari’ah/Fiqih, Sejarah Islam.
            Pada tahapan berikutnya, dengan perkembangan sosial dan kultural, isi kurikulum semakin meluas. Dengan perkembangan ini diperlukan prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam. Dalam meletakkan cetakan biru (blue print) pendidikan Islam adalah dengan mengintegrasikan ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) pada kurikulum di sekolah. Dalam penyusunan kurikulum tersebut, dapat dilihat dari prinsip-prinsip sebagai berikut:
      Ruh Islamiyah
            Setiap yang berkaitan dengan kurikulum-termasuk faslsafah, tujuan, metode dan lainnya-harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam. Terisi dengan jiwa agama Islam dan bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan spiritual dan akhlak dalam membina pribadi mukmin.
      Universal
            Antara tujuan dan kandungan kurikulum harus meliputi segala aspek. Apabila tujuan meliputi segala aspek pribadi pelajar, kandungannya juga meliputi segala aspek yang berguna untuk membina pribadi pelajar yang berpadu dan bermanfaat bagi perkembangan masyarakat.
      Balancing
            Antara tujuan dan kandungna kurikulum harus memiliki keseimbangan (balance) dalam penyusunannya. Agama Islam yang merupakan sumber ilham kurikulum dalam menciptakan falsafah dan tujuan-tujuannya menekankan kepentingan duniawi dan ukhrawi dengan memperhatikan perkembangan jasmani, akal, jiwa dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
      Sesuai dengan perkembangan psikologis
            Prinsip ini berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan pelajar, kebutuhan pelajar dan kkondisi realitas lingkungan alam sekitar di mana pelajar itu hidup dan berinteraksi.
      Memperhatikan lingkungan sosial
            Dalam lingkungan sosial ini, kurikulum harus akomidatif dalam proses pemasyarakatan (socialization) bagi pelajar, penyesuaian mereka dengan lingkungannya. Bagi masyarakat, kurikulum harus akomidatif untuk ikut mengembangkan dan mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik.[1]
2. Kurikulum PAI di sekolah umum
A. Telaah Religio dan Filosofi
            Menurut Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. dalam bukunya “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam” halaman 56, penciptaan suasana religius di sekolah/madrasah/perguruan tinggi (kajian pemakalah hanya terbatas yang di sekolah) memiliki landasan yang kuat. Setidak-tidaknya dapat dipahami dari landasan filosofis bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Pak Profesor setuju dengan pendapat Tafsir (2004) yang menyatakan bahwa Pancasila bukan yang mengandung lima ide dasar melainkan empat, yaitu: (1) kemanusiaan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) persatuan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; (3) kerakyatan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; dan (4) keadilan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian ini tersurat dalam simbol (gambar) yang ada di dada garuda yang dijadikan lambang Pancasila. Di situ bintang atau simbol keimanan mengambil daerah empat sila lainnya. Hali ini mengandung makna bahwa inti Pancasila adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Seperti halnya dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang mulai deterapkan sejak tahun ajaran 2004/2005 di sekolah-sekolah, masalah keimanan telah dijadikan salah satu prinsip pertama dan utama dalam pengembangan kurikulum.
B. Sosial dan Politik
            Sosial: Sosial, memiliki arti luas. Karena manusia adalah mahluk sosial, maka tidak dapat dipungkiri mahluk itu senantiasa saling membutuhkan satu sama lainnya. Dalam perumusan kurikulum PAI, perlu adanya pengamatan akan sosial tersebut. Baik lingkungan mahluk sosial, dan masyarakatnya.
            Politik: Dilihat dari legalitas hukum penyelenggaraan PAI di sekolah umum, maka hal ini mengalami proses yang panjang, sejak masa pasca kemerdekaan hinga ditetapkannya UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Saridjo (1996:55) mencatat bahwa semenjak awal kemerdekaan sampai masa Orde Baru, pelaksanaan PAI di sekolah selalu masuk dalam agenda pembahasan atau atas dasar kemauan politik tokoh-tokoh nasional. Karena itu setiap keputusan tentang pelaksanaan PAI pada dasarnya merupakan keputusan politik.
            Dengan keputusan politik itulah, akhirnya PAI dapat masuk dan eksis dalam kurikulum sekolah umum. Hal ini ditandai oleh besarnya perhatian pemerintah dari segi legalitas hukum, sehingga kebijakan politik yang berupa pemberian dasar hukum bagi pelaksanaan pendidikan agama berimplikasi terhadap penyediaan tenaga pengajar, sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaannya. Struktur organisasi pada Departemen Agama dari pusat hingga pada level paling rendah juga menunjukkan adanya perhatian yang memadai terhadap PAI.[2]
C. Psikologi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
            Psikologi: Minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar.             Keduanya sangat diperlu- kan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.[3]
            Ilmu Pengetahuan: sejak abad pertengahan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Masa setelah abad pertengahan sering disebut zaman modern. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini banyak didasari oleh penemuan dan hasil pemikiran para filsuf purba, seperti Thales, Phythagoras, Leucipos, Demokritos, Socrates, Plato, Aristoteles, Euclid, Archimides, Aristarhus yang hidup sebelum Masehi, sampai kepada Al-Khawarizmi yang hidup pada abad ke-9. Perkembangan ilmu pengetahuan modern tidak dapat dilepaskan dari peranan ilmuawan Muslim. Selama beberapa abad, sampai abad ke-13 pengembangan ilmu pengetahuan didominasi oleh ilmuwan muslim.
            Teknologi: Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan software) sehingga seakan-seakan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak manusia.
III. Kesimpulan
            Masuknya PAI ke dalam kurikulum sekolah walaupun sulit, namun dapat terealisasi. Mengingat filosofis pendidikan Indonesia yang terambil dalam pengamalan Pancasila. Sebagaimana yang telah kita ketahui, Pancasila berbicara dalam tiap baitnya atas nama Tuhan Yang Maha Esa.
            Perumusan bahkan pengembangan kurikulum PAI di sekolah, hendaknya tidak mengabaikan dan atau melakukan telaah terhadap prinsip-prinsip yang mendasari terbentuknya sebuah kurikulum.
IV. Daftar Pustaka
Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Malang: UMM Press 2006.
Muhaimin, M.A. dalam bukunya, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama   Islam.
Nata, M.A. (Ed.), Abuddin Sejarah Pendidikan Islam Pada Priode Klasik dan       Pertengahan,   Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
Syaodih Sukmadinata, Nana, Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakek,            Bandung: PT   Remaja Rosdakarya. 2006.


                [1] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. (Ed.), Sejarah Pendidikan Islam Pada Priode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004. Hlm 16-17.
                [2] Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Malang: UMM Press 2006. Hlm 224.
                [3] Prof. DR. Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006. Hlm. 46.

No comments:

Post a Comment