Sunday, February 26, 2012

Shuroh, Siroh, Sariroh Muhammad SAW Nabi akhir zaman. Nabi dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad SAW.

Apabila kita benar-benar ingin mencontoh keagungan Nabi kita itu (Muhammad SAW) maka bisa kita mulai dengan memperhatikan tiga hal berikut:
1. Shurah
2. Siroh
3. Sariroh

Kita mulai dari yang pertama, yaitu kita menilik Nabi Ummi itu dari segi Shurah:
menjadi jelas apabila kita memperhatikan sosoknya yang begitu mengagumkan. Sebelumnya, shurah di sini berartikan bentuk jeleger (Bentuk kongkrit dari fisik beliau). Fisik manusia sempurna.
disebutkan dalam perlbagai riwayat, ia merupakan manusia yang dilahirkan telah dalam keadaan khitan. Tidak pernah mimpi basa, tidak pernah menguap, lalat enggan menghinggapi kulit suci nan mulia. Dan masih banyak lagi. Bagai samudra tak bertepi, bagai langit tak bertiang, bagai udara yang ikhlas. Begitulah gambaran seorang Muhammad SAW.

Kita melangkah ke nomer dua, yaitu kita menilik Nabi akhir zaman itu dari segi Siroh:
Siroh berartikan sejarah, atau bahasa kerennya perjuangannya. Wah, kelu lidah ini dan terpatah-patah urat tanganku kalau berani mencoba menuliskan betapa luas dan megahnya perjuangan beliau semasa hidup. Mungkin pembaca sedikit terdengung dalam liang telinga betapa mulia, bijaksana bukan bijak sini !, dan ah..... perjuangan anak yatim yang sukses membangun jati diri, pribadi yang good leader, good meneger.... Agar anda penasaran dan rajin membaca, maka penulis sarankan, jangan merasa puas mendengar dari mereka, tapi bacalah. Begitu kata ayat pertama yang Nabi tampan itu terima. Membaca, tak harus dengan tulisan, tapi perasaan dan rasio dapat melakukannya juga. Gali informasi, pengetahuan, ilmu tentang manusia agung di mata Tuhan, alam segalanya.

Kita stop sejenak, merenungi arti dari saroroh. Sariroh dalam bahasa Indonesia berartikan hati. Ya, perbuatan kanjeng Nabi secara bathin. Wieh.... Luengkap dah kesempurnaannya. Fisik Ok, latar belakang Ok punya, ditambah hati yang mempesona.... Allah Akbar.

Tahu tidak, satu kata yang perlu pembaca ingat. Semakin kepribadian Anak yatim yang buta hurup itu dikorek-korek, lidahmu akan dengan sadarnya berucap tiada henti memuji keagungannya semakin maka akan semakin pula. Sungguh berbeda dengan pribadi penulis, yang apabila dikorek sedikit saja, maka jelek akan muncrat keluar. Bagaimana kalau dikorek-korek,... Penulis dan pembaca tak dapat menjamin, akan dapat hidup tenang mendapatinya.

No comments:

Post a Comment