Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, March 2, 2012

Al-Kindi dan Filsafat/Pemikiran dalam Filsafat


MAKALAH
 AL-KINDI DAN FILSAFAT
(Sebuah Telaah Biografi Filosof Muslim Pertama dan Pemikiran serta Karyanya)
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pembimbing :
Ustadz Mutamakin, M.Fil



 






Disusun oleh :
Ghulam Syahril Mubarok (2009. 01. 0138)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MA’HAD ALY AL-HIKAM MALANG
2011
I.                   Pendahuluan
Masyarakat dunia menyebut atau memanggilnya Al-Kindi. Ya, Al-Kindi ialah salah satu tokoh muslim yang memiliki banyak konstribusi dalam berbagai bidang keilmuan. Lebih khususnya dalam khazanah keilmuan filsafat Islam. Banyak tokoh filsafat di dunia ini yang mengakuinya, bahwa Al-Kindi lah seorang perintis filsafat murni dalam dunia Islam. Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat.[1]
Dia merupakan tokoh yang paling dominan dalam cakrawala ilmu pengetahuan Zaman Pertengahan, dan salah seorang ilmuwan Muslim terbesar di bidang fisika. Selain itu, dia juga seorang astrolog, filosof, matematikawan, alkimiawan, ahli optik, dan teoritikus musik. Dari ratusan karyanya, 15 membahas meteorologi, beberapa tentang gaya berat, masalah pasang surut, ilmu optik, dan ilmu tentang refleksi cahaya.[2]
Al-Kindi merupakan orang pertama yang memproses minyak wangi secara kimiawi. Minyak wangi telah mengalami perkembangan pesat hingga sekarang, dan menjadi industri yang menjanjikan. Banyak merk minyak wangi yang sekarang lebih populer dengan sebutan parfum, dijual ke pasaran dengan harapan dibeli oleh para konsumen. Selain menemukan minyak wangi, Al-Kindi juga memiliki banyak penemuan. Dalam bidang teknologi, Al-Kindi menghasilkan perhiasan, kaca, dan alat perang. Dalam bidang arsitektur, ia merancang jembatan, mesin perang, terowongan, dan bangunan lainnya di daerah yang ditinggalinya.[3]
Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-2 H/7 M, pengetahuan filsafat masih didominasi oleh orang-orang Kristen Suriah. Selain dikenal sebagai seorang penerjemah, Al-Kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Bahkan dikenal sebagai pemikir muslimArab pertama yang menghubungkan dan menyelaraskan filsafat dan agama.[4]


II.                Pembahasan

A.    Keluarga
Al-Kindi (Kuffah, 185 H/801 M Baghdad, 256 H/869 M). Seorang filsuf besar pertama Arab dan Islam. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Nama Al-Kindi berasal dari nama salah satu suku Arab yang besar sebelum Islam, yaitu suku Kindah. Ayahnya bernama Ibnu as-Sabah, pernah menjabat sebagai gubernur Kufah pada masa al-Mahdi (775-785) dan Harun ar-Rasyid (785-809). Kakeknya, al-Asy’ats bin Qais, dikenal sebagai sahabat Nabi Nabi SAW. Kalau ditelusuri Al-Kindi juga keturunan Ya’rib bin Qathan yang berasal dari daerah Arab bagian selatan dan dikenal sebagai raja di daerah Kindah.[5]
B.     Pendidikan
Pendidikan Al-Kindi pada waktu kecil tidak banyak diketahui. Ada riwayat yang menerangkan bahwa Al-Kindi pernah belajar di Basrah dan Baghdad. Ia termasuk cerdas, menguasai bahasa Yunani dan bahasa Suryani di samping bahasa Arab, suatu kelebihan yang jarang dimiliki orang pada masa itu. Ia hidup pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yaitu masa pemerintahan al-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim (833-842), al-Wasiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861). Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Al-Kindi menyebabkan dirinya diangkat sebagai guru dan tabib kerajaan.[6]
C.    Karya Tulis
Ada yang mengatakan bahwa “Al-Kindi, tercatat menghasilkan 265 karya judul kitab, yang terbagi ke dalam 17 disiplin keilmuan; 22 kitab mengenai filsafat, 19 kitab tentang astronomi,16 kitab tentang astrologi, 7 kitab tentang musik, 11 kitab tentang matematika, 22 kitab tentang nomor, 22 kitab mengenai ilmu obat-obatan, 21 kitab tentang ilmu politik, 33 kitab tentang fisika, 9 kitab logika, dan sisanya mengenai berbagi cabang ilmu lainnya.”[7]
Di sisi lain ada yang mengungkapkan bahwa, Dia (Al-Kindi) menulis empat buku mengenai penggunaan nomor-nomor Hindu. Dia membuat dan merevisi sejumlah terjemahan karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Dia menulis sejumlah risalat tentang permata dan batu mulia.[8]
Abu Yusuf Al-Kindi di kalangan Islam pada umumnya dikenal sebagai ahli filsafat (filosof) muslim pertama. Tetapi Al-Kindi sebenarnya bukan hanya seorang pemikir atau filosof, tetapi juga ilmuwan muslim yang menghasilkan karya dan penemuan-penemuan ilmiah awal dalam perkembangan ilmu di seluruh dunia. Karya-karya otentik Al-Kindi berjumlah 200 naskah, terdiri dari berbagai bidang; sejak dari masalah obat, hingga soal fisik atau jasmani manusia. Beberapa karyanya itu diterjemahkan dalam bahasa Latin dan Yahudi.[9]
Tanpa harus mempertentangkan ketepatan berapa banyak karya tulis Al-Kindi 265 judul karya atau 200 naskah menurut Azyumardi Azra, Al-Kindi tetap menjadi tokoh yang produktifitas menulisnya terbilang luar biasa. Mungkin kita hampir sulit membayangkan apakah bisa dilakukan di zaman kini.
Terkait 200 naskah menurut Azyumardi Azra juga disebutkan Syed Ameer Ali lewat bukunya The Spirit of Islam. Syed Ameer Ali (1849-1928) yang lahir di Persia menuliskan, “Al-Kindi menulis dua ratus karya mengenai berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari aritmatika, geometri, filsafat, meteorologi, optik, dan kedokteran. Ia sangat menguasai bahasa Yunani dan Suryani.
 Menurut versi Ibnu Al-Nadhim dalam al-Fihrits, ada sekitar 231 tulisan Al-Kindi yang membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Sekali lagi, kita tidaak perlu mempertentangkan ketepatan jumlah karya Al-Kindi. Yang jelas Al- Kindi telah menulis karya sampai 200-an. Fakta lain yang perlu juga diketahui dari Al-Kindi adalah perihal penemuan-penemuannya.
Azyumardi Azra di atas telah menyebut bahwa Al-Kindi juga merupakan ilmuwan muslim yang menghasilkan karya dan penemuan-penemuan ilmiah awal dalam perkembangan ilmu di seluruh dunia.[10] Dari berbagai penemuan, Al-Kindi bisa dikatakan sebagai penemu minyak wangi. 105 Tokoh Penemu&Perintis Dunia berikut ini bisa menjadi acuan, “Salah satu hasil temuannya di bidang kimia yang cukup populer adalah minyak wangi.[11]
D.    Pemikiran
Sebagai filosof muslim pertamakali yang mengenalkan filsafat ke dalam dunia Islam, sebagaimana yang telah dikutip oleh Subur Wijaya dalam makalahnya yang berjudul Konstribusi Filusuf Muslim Terhadap Pemikiran Barat Modern, Al-Kindi berpendapat bahwa jiwa merupakan sesuatu yang tidak tersusun, ia memiliki arti penting, dan bersifat sempurna, serta mulia.[12] Al-Kindi juga mengatakan jika subtansi ruh berasal dari subtansi Tuhan. Di sisi lain, ia menuturkan bahwa hubungan ruh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari yang keduanya tak bisa dipisahkan.
Tidak hanya itu, filosof muslim yang masih memiliki keturunan dari gubernur itu pun mengemukakan bahwa jiwa mempunyai sifat spiritual, ilahiyah, dan terpisah serta berbeda dengan jasad.[13] Jadi dari pendapat itu, penulis mengatakan jiwa mampu menghasilkan sifat spiritual dan ilahiyah, yang memang hal itu sama-sama absurd tidak terlihat oleh kasat mata. Sesuatu yang tak terlihat terkadang bersumber dari sesuatu yang tak terlihat pula. Sebagaimana jiwa yang menghasilkan sifat spiritual dan ilahiyah.



III.             Penutupan
Dari penjelasan di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Al-Kindi merupakan salah satu tokoh Islam yang paling berpengaruh dalam dunia. Baik masa hidupnya maupun saat ini, lantaran dengan banyak disiplin ilmu yang bisa diampu. Tidak hanya itu, Al-Kindi juga memberikan banyak konstribusi melalui karya ciptanya baik melalui buku-buku yang ditulisnya ataupun alat-alat yang diciptakannya.


Daftar Pustaka
Jamil. Ahmad. 2003, Seratus Muslim Terkemuka. Jakarta: Pustaka Firdaus. Cetakan VIII
Azra. Azyumardi, 2002, Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan I
Margono&Kamilah, 2008, The Spirit of Islam. Yogya: Penerbit Navila. Cetakan I
Asti&Junaidi Abdul Muis, 2009, 105 Penemu&Perintis Dunia. Yogyakarta: Narasi. Cetakan I
Nasution. Harun, 1992, Ensiklopedi Islam. Jakarta: CV Djambatan


[1]Harun Nasution, “Ensiklopedi Islam” 1992 (Jakarta: CV Djambatan). Hal. 70
[2]Jamil Ahmad, “Seratus Muslim Terkemuka” 2003. (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus). Hal. 162-165
[3] Asti dan Junaidi Abdul Munif, “105 Tokoh Penemu&Perintis Dunia” 2009 (Yogyakarta: Penerbit Narasi). Hal. 37
[4] Harun Nasution, “Ensiklopedi Islam” 1992 (Jakarta: CV Djambatan). Hal. 70
[5] Harun Nasution, “Ensiklopedi Islam” 1992 (Jakarta: CV Djambatan).
[6] Harun Nasution, “Ensiklopedi Islam” 1992 (Jakarta: CV Djambatan).
[7]Jamil Ahmad, “Seratus Muslim Terkemuka” 2003. (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus). Hal. 121-122
[8] Jamil Ahmad, “Seratus Muslim Terkemuka” 2003. (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus). Hal. 123
[9] Prof. DR. Azyumardi Azra. Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, 2002 (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama). Hal. 355
[10] Margono&Kamilah, S.Pd. “The Spirit of Islam” 2008 (Yogyakarta: Navila Publisher). Hal. 421-422
[11] Asti dan Junaidi Abdul Muis, “105 Penemu&Perintis Dunia”, 2009 (Yogyakarta: Narasi). Hal. 37-39
[12] Subur Wijaya, Kontribusi FIlosof Muslim terhadap Pemikiran Barat Modern. 2011. Hal. 04
[13] Subur Wijaya, Kontribusi FIlosof Muslim terhadap Pemikiran Barat Modern. 2011. Hal. 04

No comments:

Post a Comment