Friday, March 2, 2012

Ekspansi Eropa, Priodisasi Kebangkitan Islam

I.                  Pendahuluan
Keunggulan-keunggulan Barat dalam bidang industri, teknologi, tatanan politik, dan militer tidak hanya menghancurkan pemerintahan negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara-negara muslim yang ditaklukkannya, sehingga pada penghujung abad XIX hampir tidak satu negeri muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi kolonial Barat. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1798 M, Napoleon Bonaparte menduduki Mesir. Walaupun pendudukan Perancis itu berakhir dalam tiga tahun, mereka dikalahkan oleh kekuatan Angkatan Laut Inggris, bukan oleh perlawanan masyarakat muslim. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan Mesir –salah satu pusat Islam- untuk menghadapi kekuatan Barat.
Sejak Napoleon menduduki Mesir, umat Islam mulai merasakan dan sadar akan kelemahan dan kemundurannya, sementara mereka juga merasa kaget dengan kemajuan yang telah dicapai Barat. Gelombang ekspansi Barat ke negara-negara muslim yang tidak dapat dibendung itu memaksa para pemuka Islam untuk mulai berpikir guna merebut kembali kemerdekaan yang dirampas. Salah seorang tokoh yang pikirannya banyak mengilhami gerakan-gerakan kemerdekaan adalah Sayyed Jamaluddin Al Afghani. Ia dilahirkan pada tahun 1839 di Afghanistan dan meninggal di Istambul 1897. Pemikiran dan pergerakan yang dipelopori Afghani ini disebut Pan-Islamisme, yang dalam pengertian luas berarti solidaritas antara seluruh umat muslim di dunia internasional. Tema perjuangan yang terus menerus dikobarkan oleh Afghani dalam kesempatan apa saja adalah semangat melawan kolonialisme dengan berpegang kepada tema-tema ajaran Islam sebagai stimulasinya. Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa diskursus tema-tema itu antara lain diseputar:
            Perjuangan melawan absolutisme para penguasa; Melengkapi sains dan teknologi modern; Kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya; Iman dan keyakinan aqidah; Perjuangan melawan kolonial asing; Persatuan Islam; Menginfuskan semangat perjuangan dan perlawanan kedalam tubuh masyarakat Islam yang sudah separo mati; dan Perjuangan melawan ketakutan terhadap Barat[1].
Disamping Afghani, terdapat dua orang ahli pikir Arab lainnya yang telah mempengaruhi hampir semua pemikiran politik Islam pada masa berikutnya. Dua pemikir itu adalah Muhammad Abduh (1849-1905) dan Rasyid Ridha(1865-1935). Mereka sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan guru mereka yakni Afghani, dan berkat mereka berdualah pengaruh Afghani diteruskan untuk mempengaruhi perkembangan nasionalisme Mesir. Seperti halnya Afghani dan Abduh, Ridha percaya bahwa Islam bersifat politis, sosial dan spiritual. Untuk membangkitkan sifat-sifat tersebut, umat Islam mesti kembali kepada Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya atau para salafiah. Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya ini Ridha menuangkannya dalam bingkai tulisan-tulisan yang terakumulasi dalam majalah Al Manar yang dipimpinnya.
            Di daratan Eropa, Syakib Arsalan selalu memotori gerakan-gerakan guna kemerdekaan Arab. Misi Arsalan adalah menginternasionalkan berbagai masalah pokok yang dihadapi negara-negara muslim Arab yang berasal dari kekuasaan negara-negara Barat; dan menggalang pendapat seluruh orang Islam Arab sehingga membentuk berdasarkan ikatan keIslaman, mereka dapat memperoleh kemerdekaan dan memperbaiki tata kehidupan sosial yang lebih baik[2].
            Sementara pimpinan masyarakat Druze dan pembesar Usmaniyah yang mengasingkan diri ke Eropa setelah Istambul diduduki Inggris ini menyebarluaskan propagandanya melalui berbagai penerbitan berkala, diantarannya melalui jurnal La Nation Arabe yang dicetak di Annemasse Prancis.
            Meskipun pada awalnya Arsalan mengambil alih konsep-konsep Pan-Islamismenya Afghani karena merasakan perlunaya pembaharuan dalam masyarakat, namun dalam praktiknya, ia lebih menitikberatkan perjuanggannya pada Pan-Arabisme. Gerakan perjuangan yang dilakukan oleh para tokoh tersebut, walaupun belum mencapai hasil yang diinginkan yakni kemerdekaan, namun gema pemikiran Islam mereka sangat mewarnai era generasi selanjutnya, untuk membebaskan negerinya dari penetrasi kolonial Barat.

II.               Pembahasan   
  1. Eropa
  1. Sekilas Profil Negara Eropa
            Eropa, benua yang membentang di semenanjung Eurasia bagian barat. Luasnya sekitar 10.0000.000 kilometer persegi atau seper lima belas luas daratan bumi. Secara geografis, benua ini dibatasi lautan Arktik di utara, Laut Tengah, Laut Hitam, dan Pegunungan Kaukasus di selatan mengarah ke timur, Pegunungan Ural dan Laut kasipia di timur dan lautan Atlantik di barat. Adapun negara-negara yang termasuk Eropa barat adalah Perancis, Belanda, Belgia, Luxemburg, Monaco, Jerman, Ingris, dan lain-lain.[3]
            Eropa menjadi pemimpin dunia dalam pembangunan ekonomi, misalnya pusat perindustrian terletak dekat pertambangan bijih besi dan batu bara. Tanahnya subur dan banyak menghasilkan produk pertanian penting. Akibatnya, standar hidup Eropa termasuk tinggi dibanding dengan dunia lain.[4]
            Dua per lima belas penduduk dunia atau 696.360.000 dari 5, 026 miliar penduduk dunia pada tahun 1988 berdiam di sini. Tingkat kepadatannya , dibandingkan dengan rata-rata penduduk dunia yang hanya 33 jiwa per kilometer persegi.[5]
            Pada tahun 1900-an, pusat kekuatan dunia bergeser dari Eropa ke Uni Soviet dan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Eropa mulai kehilangan daerah kejajahannya. Selanjutnya, timbul Perang dunia I dan II yang mulai benua ini. Bena ini lalu terbagi menjadi bagian komunis atau Eropa Timur dan non-komunis atau Eropa Barat[6].




  1. Ekspansi Eropa

            Usaha-usaha awal untuk menemukan kembali kekuatan pemerintahan kerajaan ditandai dengan revolusi Perancis dan kemudian oleh Napoleo, serta kekuatan Eropa lain, yang menggoncang Eropa dari tahun 1792 sampai 1815 dan diteruskan oleh tentara-tentara Eropa kemana saja mereka bergerak atau berlayar.Tentara Perancis, Rusia dan Austria dalam waktu yang berbeda menguasai bagian-bagian provinsi Usmani di Eropa. Untuk pertama kali, kekuatan laut Inggris dan Perancis muncul di Mediterranian Timur. Pada tahun 1798 sebuah ekspedisi Perancis dikomandoi Napoleon menduduki Mesir sebagai akibat perang dengan Inggris; Perancis menguasai Mesir selama 3 tahun, dan mencoba maju ke Syria. Namun, dipaksa mundur oleh aliansi Inggris dan Kerajaan Usmani[7].
            Hal di atas merupakan episode pendek, dan keurgensiannya oleh sebagian ahli sejarah diragukan; sementara ahli sejarah yang lain tetap memandangnya sebagai pembukaan era baru di Timur Tengah. Episode ini merupakan incursi besar pertama dari kekuatan Eropa ke dalam sentral kota di dunia Islam. Ahli sejarah Islam Al Jabarti yang hidup di Kairo ketika itu merekam impact yang ditimbulkan oleh para invader tersebut secara panjang lebar dan detail, dan dengan gambaran discrepancy yang ada pada kedua belah pihak serta ketidakpastian para penguasa Mesir untuk menghadapi tantangan tersebut. Ketika berita tentang kedatangan Perancis ke Alexandria sampai ke tangan para pimpinan Mamluk di Kairo, Jabarti menjelaskan bahwa mereka tidak memperdulikannya: ”Terlalu mengandalkan kekuatan mereka dan sesumbar bahwa jika seluruh the Franks datang, mereka pasti akan dapat dikalahkan, dan Mamluk akan menghancurkannya di bawah telapak kaki kuda mereka.” Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya Mamluk kalah, panik, dan kucar-kacir.
            Dengan berakhirnya perang Napoleon, kekuatan dan pengaruh Eropa meluas lebih jauh. Pengadopsian teknik-teknik baru dalam manufacture dan pengorganisasian industri memberikan dorongan akibat dari kebutuhan dan energy yang dilepaskan oleh peperangan-peperangan tersebut. Karena perang telah berakhir dan perdagangan dapat bergerak dengan bebas, dunia menjadi terbuka terhadap kapas yang murah, baju-baju wool dan barang-barang metal yang diproduksi oleh Inggris, Perancis, Belgia, Swiss, dan Jerman Barat. Pada tahun 1830-an dan 1840-an terjadi revolusi dalam bidang transportasi dengan ditemukannya kapal uap dan kereta api. Sebelumnya, transportasi, terutama lewat darat sangat mahal, lambat, dan penuh resiko. Sekarang menjadi cepat dan handal serta proporsi yang timbul dalam total harga barang menjadi kecil; sehingga memungkinkan untuk memindahkan barang-barang lux dalam jumlah besar ke pangsa pasar yang besar dan dalam jarak yang jauh. Arus komunikasi dapat bergerak dengan cepat sehingga memungkinkan pertumbuhan pasar uang internasional: Bank-bank, pertukaran barang, dan mata uang dihubungkan dengan poundsterling. Keuntungan perdagangan dapat diinvestasikan untuk menggerakkan aktivitas produksi yang baru. Di belakang para pedagang dan pelayar berdiri kekuatan angkatan bersenjata dari negara-negara Eropa[8].
            Berkaitan dengan perubahan-perubahan tersebut adalah pertumbuhan populasi yang terus meningkat antara tahun 1800 dan 1850. Populasi Great Britain meningkat dari 16 menjadi 27 juta, dan keseluruhan Eropa meningkat 50%. Dengan demikian, London menjadi kota terbesar di dunia dengan populasi 2,5 juta pada tahun 1850 M. Pertengahan abad ini lebih dari separuh penduduk Inggris adalah urban. Konsentrasi di perkotaan ini menyediakan tenaga untuk industri dan angkatan bersenjata, serta pertumbuhan pasar domestik untuk produksi pabrik[9].
            Gaung ekspansi energi dan power Eropa ini terasa diseluruh penjuru dunia. Antara tahun 1830-an dan 1860-an kapal uap secara reguler menghubungkan pelabuhan Selatan dan Timur Mediterranian dengan London dan Liverpool, Marseille dan Triete. Tekstil dan barang-barang logam mendapatkan pasar yang besar dan berkembang. Ekspor Inggris ke negeri-negeri Mediterranian Timur meningkat 800% dalam harga antara tahun 1815 dan 1850; pada saat itu Badui Syria telah memakai baju yang dibuat dari katun Lancashire. Pada saat yang sama, kebutuhan Eropa terhadap bahan baku meningkatkan produksi tanaman untuk dijual dan diekspor; ekspor gandum terus meningkat walau tidak sehebat gandum Rusia; Minyak olive Tunisia sangat dibutuhkan untuk pembuatan sabun, sutera libanon untuk pabrik di Lyon dan kapas Mesir untuk pabrik di Lancashire[10]
            Menghadapi ledakan energi Eropa, negara Arab, sama halnya dengan Asia dan Afrika, tidak dapat menggerakkan kekuatan yang seimbang. Populasi tidak banyak berubah semenjak pertengahan abad ke sembilan belas. Wabah penyakit sedikit telah dikontrol, paling tidak di daerah pinggir kota, sejak diperkenalkannya sistem karantina ala Eropa. Namun, penyakit kolera datang dari India. Negerinegeri Arab belum memasuki era perkeretaapian kecuali sebagian kecil mulai di Mesir dan Aljazair; komunikasi lokal buruk dan sering terjadi kelaparan.
            Dengan kekuatan baru, bukan hanya Perancis dan Rusia bahkan negaranegara Eropa secara umum mulai mencampuri hubungan antara sultan dan rakyatnya yang Kristen. Tahun 1808 Serbia berontak melawan pemerintah lokal kerajaan Usmani, hasilnya dengan pertolongan Eropa, negara otonomi Serbia berdiri tahun 1830. Di Jazirah Arab, pelabuhan Aden diduduki oleh Inggris dan India pada tahun 1839, dan menjadi pelabuhan untuk rute ke India. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di pantai Aljazair dan menjajahnya.

  1. Pengaruh Penetrasi Barat terhadap Dunia Islam

            Pengaruh Eropa terhadap dunia Islam menyadarkan para pimpinan Kerajaan Usmani untuk mengadakan perubahan. Begitu pun pada masa Sultan Mahmud II pada tahun 1820-an, sejumlah kecil para pejabat yang menyadari perlu adanya perubahan mengambil keputusan–keputusan yang cukup penting. Kebijaksanaan baru mereka adalah membubarkan tentara lama dan menciptakan yang baru dengan para pelatih yang didatangkan dari Eropa. Dengan tentara ini sangat dimungkinkan secara perlahan untuk mendirikan kontrol yang langsung terhadap beberapa provinsi di Eropa dan Anatolia, Irak dan Syria, serta Tripoli di Afrika. Keinginan tersebut bukan hanya untuk mengembalikan kekuatan pemerintah namun juga untuk melakukan pengorganisasian dengan cara yang baru. Keinginan ini diwujudkan dengan mengumumkan piagam Gulhane yang dikeluarkan pada tahun 1839[11].
            Di Kairo, sepeninggalnya tentara Perancis, kekuasaan diambil alih oleh Muhamad Ali [1805-1848], seorang bangsa Turki dari Macedonia yang dikirim oleh Kerajaan Usmani melawan Perancis; dia mengumpulkan kekuatan penduduk kota, menghancurkan rivalnya, dan memproklamirkan dirinya sebagai gubernur. Dalam usaha melakukan pembaharuan dia melatih sejumlah perwira, dokter dan pejabat di sekolah-sekolah baru dan di kirim ke Eropa. Di dalam negeri, Muhammad Ali melakukan kontrol terhadap seluruh hasil pertanian, mengambil pajak dan hartaharta wakaf. Dia juga memaksa petani untuk menanam kapas, membelinya dengan harga ditentukan dan menjualnya kepada eksportir di Alexandria[12].
            Di Tunisia juga ada perubahan di bawah rezim Ahmad Bey [1837-55], yang mempunyai kekuasaan sejak awal abad ke 18. Pemimpinnya adalah kelompok Turki dan Mamluk yang dilatih dengan cara modern. Cikal bakal tentara yang baru dibentuk, administrasi dan perpajakan diperluas, hukum-hukum baru dikeluarkan, dan pemerintah berusaha melakukan monopoli terhadap barang-barang tertentu. Penerusnya kemudian di tahun 1857 memproklamirkan reformasi dalam bidang keamanan, kebebasan sipil, aturan perpajakan hak-hak Yahudi dan bangsa asing untuk memiliki tanah dan kontrol terhadap semua kegiatan ekonomi[13].
            Di bawah pemerintahan Abd Al Azis, Turki Usmani secara pasti kehilangan wilayah wilayahnya yang amat penting antara lain dengan berdirinya kerajaan Rumania pada tahun 1866[14]. Pada tahun 1877, Rusia mengumumkan perang terhadap Turki Usmani, dan pada bulan Juli tahun itu juga jenderal Gurko dari Rusia menyeberangi Danube dan maju ke Balkan, dan terus menduduki Andrianopel pada bulan Januari 1878. Sementara Italia berhasil merebut Tripoli pada tahun 1912, dan pada tahun yang sama Balkan mengumumkan perang melawan Turki Usmani.
            Pada waktu perang dunia I Pecah, Turki yang bergabung dengan Jerman, turut mengalami kekalahan. Dengan kekalahan ini, negara-negara Eropa yang selama ini berada dalam kekuasaannya otomatis terlepas menjadi negara merdeka. Berdasarkan perjanjian Sevres diumumkan bahwa Hijaz diakui sebagai negara merdeka. Syria dan Lebanon dinyatakan sebagai mandat Perancis. Irak, Palestina dan Trans Jordan sebagai mandat Inggris.
       Di timur, Persia menjadi rebutan antara Inggris dan Rusia untuk beberapa waktu lamanya tanpa ada satupun yang berhasil menjajahinya, sehingga ayah reza Pahlevi memaklumkan kemaharajaan Iran pada tanggal 15 Desember 1925. Kendatipun secara teritorial Iran merupakan negara merdeka, di bidang perekonomian dan industri sangat menggantungkan diri pada bantuan Inggris dan Perancis. Pemerintah Persia tahun 1872 memberikan konsesi kepada Perancis untuk mengontrol mendapatkan bea cukai selama dua puluh empat tahun, sebuah monopoli terhadap konstruksi rel kereta api dan tram, hak-hak eksklusif penambangan mineral dan metal, membangun kanal dan irigasi, dan hak-hak refusal yang pertama dalam bank-bank nasional, jalan-jalan, telegraph dan pabrikpabrik sebagai pembayaran kembali terhadap hak loyalti dan bagi hasil dengan keluarga Shah. Tahun 1889 Bank Imperial Iran didirikan dengan bantuan Inggris, sebagai imbalannya 1890 perusahaan Inggris memonopoli industri tembakau Iran termasuk penjualan domestik dan impor. Sedangkan Rusia mencari keuntungan ekonominya melalui industri penangkapan ikan di Kaspia (1888) dan bank diskon Iran dibentuk di bawah sponsor Rusia tahun 1890-an. Rusia menjadi investor peminjaman utama terhadap Shah.
            Berbeda dengan daerah-daerah lain, Persia dapat bertahan sehingga tidak ada yang dapat menaklukkannya; meskipun demikian, Inggris, Perancis, dan Rusia saling berebut pengaruh. Bagi Inggris, daerah ini penting untuk mempertahankan kekuasaannya di India. Demikian pula bagi Rusia sangat berarti untuk melangsungkan hubungannya dengan Asia Tengah[15].
            Berbeda dengan Persia, Afganistan sejak semula memang merupakan negara merdeka yang gigih mempertahankan dunia Islam dari ancaman Inggris  maupun Rusia. Upaya Inggris untuk menjajah negeri ini berakhir dengan kegelapan dan kekalahan besar yang menyebabkan mereka menghentikannya pada tahun 1919 M. Kegagalan yang serupa ini dialami oleh Rusia yang mencoba menarik Afganistan masuk ke dalam Republik Soviet Sosialis. Paham komunis yang dianut oleh Soviet membuat Afganistan enggan untuk bergabung[16].
            Dari uraian diatas, dapat ditarik gambaran bahwa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dunia Islam hampir seluruhnya berada dalam koloni Barat, kecuali Hijaz, Persia, dan Afganistan. Dunia Islam lainnya yang membentang dari Maroko hingga Indonesia merupakan negeri-negeri kolonial yang dijadikan ”sapi perahan” untuk kemakmuran bangsa Barat.

  1. Masa Pembebasan dari Kolonial Barat

            Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi mereka. Eropa bisa menjajah karena keberhasilannya dalam menerapkan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan.Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan.
            Terjadinya penetrasi kolonial Barat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Disatu sisi kekuatan militer dan politik negara-negara muslim menurun, perekonomian mereka merosot sebagai akibat monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi ditangan mereka. Disamping itu pengetahuan di dunia muslim dalam kondisi stagnasi. Tarekat-tarekat diliputi oleh suasana khurafat dan supertisi. Umat Islam dipengaruhi oleh sikap fatalistik.
            Pada sisi yang lain, Eropa dalam waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang melepaskan diri dari ikatan-ikatan Gereja; Barat memasuki abad renaisanse. Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka telah mengalami kemajuan pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan sebagai jalur perdagangan maritim langsung ke Timur, demikian pula penemuan benua Amerika. Dengan dua temuan ini Eropa memperoleh kemajuan dalam dunia perdagangan karena tidak bergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai Islam[17].
            Pada permulaan abad ini tumbuh kesadaran nasionalisme hampir disemua negeri muslim yang menghasilkan pembentukan negara-negara nasional. Tetapi persoalan mendasar yang dihadapi adalah keterbelakangan umat Islam, terutama menyangkut kemampuan menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat paling penting dalam mempertahankan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tanpa mengenyampingkan agama, politik dan ekonomi. Upaya kearah itu tidak lepas dari pembaharuan pemikiran yang dapat mengantarkan Islam terlepas dari cengkraman kolonialisme Barat.

  1. Pembebasan Diri dari Kolonial Barat

            Gerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh umat Islam selalu kandas ketika berhadapan dengan kolonialis Barat, tentu saja, karena teknologi dan militer mereka jauh lebih maju dari yang dimiliki umat Islam. Menurut Afghani, untuk menanggapi tantangan Barat, umat Islam harus mempelajari contoh-contoh darinya. Tentu saja tidak semua komunitas Islam sependapat dengan yang dimaksud belajar atau berguru kepada Barat. Para ulama tradisional tetap mempertahankan corak non-koperatifnya, sementara putra-putra negeri jajahan gelombang demi gelombang belajar kepada penjajah atau di sekolah-sekolah yang sengaja diadakan di negeri jajahannya. Dengan demikian, terdapat dua kelompok pejuang kemerdekaan dengan basisnya masing-masing, ada yang sifatnya nonkoperatif yang basisnya lembaga-lembaga pendidikan agama-di Indonesia pesantren, sedang di Asia Tengah dan Barat serta Afrika basisnya pada kelompokkelompok tarekat-dan yang bercorak kooperatif yaitu pakar terpelajar dengan pendidikan Barat[18].

       Pada pertengahan pertama abad XX terjadi perang dunia kedua yang melibatkan seluruh negara kolonialis. Seluruh daratan Eropa dilanda peperangan, disamping Amerika, Rusia dan Jepang. Kecamuk perang ini disatu sisi melibatkan Jepang, Hitler dengan Nazi Jermannya, dan Mussolini dengan Fasis Italianya, dan disisi lain terdapat Inggris, Perancis, dan Amerika yang bersekutu, serta Rusia[19].
       Konsekuensi atas terjadinya peperangan ini adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di kubu masing-masing negara, baik untuk keperluan ofensif maupun defensif. Pengkonsentrasian kekuatan militer tersebut mengakibatkan ditarik dan berkurangnya kekuatan militer kolonialis dinegeri-negeri jajahan mereka. Dalam pada itu, negara muslim tidak terlibat langsung dalam perang dunia kedua sehingga pemikiran mereka waktu itu terkonsentrasi pada perjuangan untuk kemerdekaan negerinya masing-masing, dan kondisi dunia yang berkembang pada saat itu memungkinkan tercapainya cita-cita luhur tersebut. Mulai saat itu negaranegara muslim yang terjajah memproklamirkan kemerdekaannya[20].
       Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam pada umumnya yang dikenal dengan gerakan pembaharuan didorong oleh dua faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam, dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Gerakan pembaharuan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memandang tidak bisa dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaluddin Al Afghani [1839-1897 M].
       Jika di Mesir bangkit dengan nasionalismenya, dibagian negeri Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera menyebar dan mendapat sambutan hangat, sehingga nasionalisme itu terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Demikianlah yang terjadi di Mesir, Syria, Libanon, Palestina, Irak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein, dan Kuweit. Di India, sebagaimana di Turki dan Mesir gagasan Pan-Islamisme yang dikenal dengan gerakan Khilafat juga mendapat pengikut, pelopornya adalah Syed Amir Ali(1848-1928 M). Gagasan itu tidak mampu bertahan lama, karena terbukti dengan ditinggalkannya gagasan-gagasan tersebut oleh sebagian besar tokoh-tokoh Islam. Maka, umat Islam di anak benua India ini tidak menganut nasionalisme, tetapi Islamisme yang dalam masyarakat India dikenal dengan nama komunalisme.
       Sementara di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan adalah Sarekat Islam [SI], didirikan pada tahun 1912 dibawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelajutan dari Sarekat Dagang Islam [SDI] yang didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1911. Tidak lama kemudian, partaipartai politik lainnya berdiri seperti Partai Nasional Indonesia [PNI] didirikan oleh Soekarno, Pendidikan Nasional Indonesia [PNI-Baru], didirikan oleh Muhammad Hatta [1931], Persatuan Muslimin Indonesia [PERMI] yang baru menjadi partai politik pada tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtamar Luthfi[21]
       Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka yang bebas dari pengaruh politik Barat, dalam kenyataannya, memang partai-partai itulah yang berjuang melepaskan diri dari kekuasaan penjajah. Perjuangan mereka biasanya teraplikasi dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun dalam bentuk pendidikan dan propaganda yang tujuannya adalah mempersiapkan masyarakat untuk menyambut dan mengisi kemerdekaan.
       Adapun negara berpenduduk mayoritas muslim yang pertama kali berhasil memproklamasikan kemerdekaannya adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka dari pendudukan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu. Akan tetapi, rakyat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya itu dengan perjuangan bersenjata selama lima tahun berturut-turut karena Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berusaha menguasai kembali kepulauan ini.
Negara muslim kedua yang merdeka dari penjajahan adalah Pakistan, yaitu tanggal 15 Agustus 1947 ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk India dan lainnya untuk Pakistan-waktu itu terdiri dari Pakistan dan Bangladesh sekarang-. Di Timur Tengah, Mesir misalnya, secara resmi memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1922. akan tetapi, pada saat kendali pemerintahan dipegang oleh Raja Farouk pengaruh Inggris sangat besar. Baru pada waktu pemerintahan Jamal Abd al Nasser yang menggulingkan raja Farouk 23 Juli 1952, Mesir menganggap dirinya benar-benar merdeka. Mirip dengan Mesir, Irak merdeka secara formal pada tahun 1932, tetapi rakyatnya baru merasakan benar-benar merdeka pada tahun 1958. sebelum itu, negara-negara sekitar Irak telah mengumumkan kemerdekaannya seperti Syria, Yordania, dan Libanon pada tahun 1946. Di Afrika, Libya merdeka pada tahun 1951 M, Sudan dan Maroko tahun 1956 M, serta Aljazair merdeka pada tahun 1962 M yang kesemuanya itu membebaskan diri dari Perancis. Dalam waktu
yang hampir bersamaan, Yaman Utara dan Yaman Selatan, serta Emirat Arab memperoleh kemerdekaannya pula. Di Asia Tenggara, Malaysia yang waktu itu merupakan bagian dari Singapura mendapat kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957, dan Brunei Darussalam baru pada tahun 1984 M.
       Demikianlah satu persatu negara-negara muslim memerdekakan dirinya dari penjajahan. Bahkan beberapa diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun terakhir, seperti negara-negara muslim yang dahulunya bersatu dalam Uni Soviet, yaitu Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Azerbaijan baru merdeka pada tahun 1992, serta Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 199210.
       Namun, sampai saat ini masih ada umat muslim yang berharap mendapatkan otonomi sendiri, atau paling tidak menjadi penguasa atas masyarakat mereka sendiri. Mereka itu adalah penduduk minoritas muslim dalam negara-negara nasional, misalnya Kasymir di India dan Moro di Filipina. Alasan mereka menuntut kebebasan dan kemerdekaan itu adalah karena status minoritas seringkali mendapatkan kesulitan dalam memperoleh kesejahteraan hidup dan kebebasan dalam menjalankan ajaran agama mereka[22].


  1. Peradaban Barat Modern
Pandangan hidup Barat era pertengahan, pada umumnya terpusat pada pencapaian kesejahteraan akhirat semata-mata, serta menunjukkan sikap permusuhannya pada dunia. Kutukannya terhadap dunia terutama sekali berkat suntikan Monastisisme dan ajaran Nasrani ortodoks, yang memang sarat dengan cinta kasih dan pengorbanan. Bangunan mitos kemanusiaan yang disusun oleh imam Gereja, St. Agustinus, berdasarkan Injil yang mereka susun; awalnya sejarah manusia di surga sebagai simponi kesejahteraan; manusia jatuh kebumi ke dalam lembah penuh dosa, yang pada dasarnya baru dapat ditolong karena “Tuhan mengorbankan anak satu-satunya, Kristus (Isa Al-Masih), sebagai penebus dosa dan juru selamat, “ adalah sebuah ajaran “penantian” yang juga termasuk ke dalam semua ajaran agama dan doktrin hidup. Karena itu masyarakat Barat abad pertengahan dengan sabar menanti kedatangan kembali Yesus Kristus, untuk mengusir iblis, makhluk terkutuk dari dunia.
Peradaban Barat telah mantap dengan materialisme dan menyingkirkan keyakinan Gereja. Di samping itu mereka juga berhasil membangun sistem penjelas ilmiah yang sangat meyakinkan dengan mengembangkan aspek-aspek peradaban yang penting, seperti ekonomi, politik dan sains itu sendiri secara sistematis.
Satu langkah besar yang dibuat Barat saat itu adalah teknologi dan pengembangkan perangkat dalam berbagai aspek kehidupan. Industri pun berkembang dengan pesat, yang semula didesikasikan untuk keperluan kemanusiaan, kemudian terdiversifikasi menjadi industry militer untuk memenuhi ambisi Eropa. Ketika bangsa-bangsa lain hanya memiliki pedang dan anak panah dalam pertahanan, Eropa telah berkembang menjadi bangsa dengan senjata tempur yang paling canggih di zamannya. Karena itu dalam waktu yang relative singkat, Barat melakukan ekspansi besar-besaran ke arah Selatan dan Timur, yang hampir seluruhnya berpenduduk Muslim, menjadi jajahannya.

  1. Masa kepemimpinan Mustafa Kemal di Turki

Setelah Perang Dunia I, Mustafa Kemal diangkat menjadi panglima militer di Turki selatan. Tugasnya adalah merebut Izmir dari tangan tentara sekutu. Mustafa Kemal berhasil memukul mundur tentara sekutu dan berhasil menyelamatkan Turki dari penjajahan barat. Bersama teman-temanya, Mustafa Kemal mulai menentang sultan di Istanbul karena perintahnya dianggap banyak tidak sejalan dengan kepentingan nasional Turki; karena sultan di Istanbul berada di bawah kekuaan sekutu dan harus menyesuaikan diri dengan kehendak mereka.

Mustafa Kemal memimpin Turki dengan Jargon: westernisme, sekularisme, dan nasionalisme. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukannya adalah:

1.      Pemisahan antara pemerintahan dengan agama (sekularisasi). Ide ini diterima oleh Majlis Nasional Agung (MNA) 1920.
2.      Kedaulatan Turki bukan di tangan sultan, tapi di tangan rakyat.
3.      Jabatan Khalifah dipertahankan, tapi hanya memiliki kewenangan spiritual; sedangkan kewenangan duniawinya (sebagai sultan) ditiadakan (1922).
4.      Khalifah Walid Al-Din melarikan diri di bawah perlindungan Inggris, karena tidak setuju dengan keputusan MNA yang dipimpin Mustafa Kemal. Khalifah Wahid Al-Din dipecat dari jabatannya karena dianggap sebagai penghianat, dan Abdul Madjid diangkat sebagai penggantinya.
5.      Merubah bentuk negara dari bentuk khilafah menjadi Republik, Islam menjadi Republik, dan Islam menjadi agama negara (1923).
6.      Karena Khilafah dianggap membangkang karena melakukan kegiatan-kegiatan politik, seperti menerima tamu dari negara lain, mengirim duta ke luar negeri, dan mengadakan upacara kebesaran pada hari jum’at, dan tetap tinggal di istana di Istanbul, MNA memutuskan bahwa jabatan khalifah dihapus karena dianggap melahirkan dualism kepemimpinan (3 maret 1924) Khalifah Abdul Madjid beserta keluarganya minta suaka di Swiss.
7.      Turki mendeklarasikan sebagai negara sekuler dengan menhapus Islam sebagai agama negara (1937). Sebelum menjadi negara sekuler, Mustafa Kemal telah meniadakan institusi-institusi keagamaan dalam pemerintahan :
a.       Penghapusan Biro Syaykh Al-Islam (1924).
b.      Pengahapusan Kementerian Syariat;
c.       Penghapusan Mahkamah Syariat.
Sebagai bagian dari proses sekularisasi, Mustafa Kemal kemudian memutuskan untuk :
  1. meniadakan pelajaran bahasa Arab dan Persia di sekolah-sekolah (1928).
  2. meniadakan pendidikan agama di sekolah-sekolah (1933);
  3. penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Turki agar dipahami oleh masyarakat;
  4. khotbah Jumat harus dilakukan dengan menggunakan bahasa Turki;
  5. azan haram menggunakan bahasa Turki (1933). Mustafa Kemal meninggal tahun 1938. Usaha pembaharuan yang telah dilakukannya, diteruskan oleh para pengikutnya[23]

  1. Kebangkitan Kembali Dunia Islam

       Benturan-benturan antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka memang jauh tertinggal dari Eropa. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya, Turki Usmani, karena kerajaan ini yang pertama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki banyak Belajar dari Eropa.

       Pada pertenganahan abad ke-20 M Dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan.

      Dengan demikian yang dimaksud dengan kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai dengan prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

       Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan sebutan gerakan pembaharuan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran pembaharuan dalam Islam. Gerakan pembaharuan itu muncul karena dua hal antara lain:

  1. Timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran-ajaran “asing” yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran-ajaran tersebut bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, sepert bid’ah, khurafat dan takhyul. Ajaran inilah yang menyebabkan Islam menjadi mundur. Oleh karena itu, mereka bangkit membersihkan Islam dari ajaran atau paham tersebut. Gerakan ini dikenal sebagai gerakan reformasi.
Adapun gerakan-gerakan pembaharuan tersebut sebagai berikut :

  1.  Gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul al-Wahhab (1703-1787 M) di Arabia.

  1. Grakan Syah Waliyullah (1703-1762 M) di India.

  1. Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi dari Aljazair.

  1. Pada periode ini Barat mendominasi Dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu, mereka bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power.

       Adapun langkah yang diambil berupa pengiriman para pelajar Muslim oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan menerjemahkan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam.

       Gerakan pembaharuan itu kemudian memasuki Dunia politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme (persatuan Islam sedunia) yang mulamula didengungkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah (Syalabi, 1988:107). Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M).

       Al-Afghani adalah orang pertama yang menyadari akan dominasi Barat dan bahayanya. Oleh karena itu, dia memperingatkan Dunia Islam akan hal itu dan melakukan usaha usaha untuk pertahanan (Syalabi, 1988:61). Menurutnya, umat Islam harus meninggalkan perselisihan-perselisihan dan berjuang di bawah panji bersama. Disamping itu, ia juga membangkitkan semangat lokal dan nasional negeri-negeri Islam. Karena itu, al-Afghani dikenal sebagai bapak Nasionalisme dalam Islam.
Akhirnya gagasan Pan-Islamisme menjadi redup ketika al-Afghani tidak didizinkan berbuat banyak di Istambul oleh Sultan Kerajaan Usmani, Abdul al-Hamid II (1876-1909 M) karena dianggapnya menjadi duri bagi kekuasaan sultan dan kalahnya Turki Usmani bersama sekutunya, Jerman dalam Perang Dunia I dan kekhalifahan dihapuskan oleh Mustafa Kemal, tokoh yang justru mendukung gagasan nasionalisme, rasa kesetiaan kepada negara kebangsaan.
Di Mesir, benih-benih gagasan nasionalisme tumbuh sejak masa al-Tahtawi (1801-1873 M) dan Jamaluddin al-Afghani. Tokoh pergerakan terkenal yang memperjuangkan gagasan ini di Mesir adalah Ahmad Urabi Pasha.
            Di bagian Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera menyebar dan mendapat sambutan baik, sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Demikian ini yang terjadi di Mesir, Syiria, Libanon, Palestina, Iak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein dan Kuwait. Semangat persatuan Arab ini diperkuat pula oleh usaha Barat untuk mendirikan negara Yahudi di tengah-tengah bangsa Arab dan di negeri yang mayoritas dihuni Arab.
            Di India, gagasan Pan-Islamisme dikenal dengan gerakan khilafat. Syed Amir Ali (1848-1928 M) adalah salah seorang pelopornya. Namun gerakan ini akhirnya pudar, yang populer adalah gerakan nasionalisme yang diwakili oleh Partai Kongres Nasional India. Gagasan nasionalisme ini pun akhirnya ditinggalkan berubah menjadi Islamisme. Benih-benih gagasan Islamisme dilontarkan oleh Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), kemudian mengkristal pada masa Iqbal (1876-1938 M) dan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948 M) (Nasution, 1988:165-205).
            Sedangkan di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan adalah Sarekat Islam (SI), didirikan tahun 1921 di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi tahun 1911. Kemudian berdirilah partai-partai politik lainnya, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), didirikan oleh Sukarno (1927), Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru), didirikan oleh Mohammad Hatta (1931), Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) yang menjadi partai politik tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtar Luthfi.
            Demikianlah gagasan-gagasan nasionalisme dan gerakan-gerakan untuk membebaskan diri dari kekuasaan penjajah Barat yang kafir juga bangkit di negeri-negeri Islam lainnya.
            Mencermati akselarasi kebangkitan Dunia Islam pada masa yang akan datang, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, tantangan yang dihadapi oleh Dunia Islam, diantaranya adalah gerakan kristenisasi yang digarap secara besar-besaran dalam Dunia Islam, khususnya yang terkatagori melarat. Gerakan zionisme yang mendapat dukungan politik dan dana dari Dunia Barat kapitalisme dan komonisme yang seringkali berkolaborasi dengan elite militer yang sedang berkuasa dan sekularisme yang mengarap Dunia Islam melalui gerakan pemikiran dan intelektual. Gejala ini dapat dilihat dalam kebijakan negara yang memarginalkan kelompok elite agama dalam pemerintahan. Dan dapat pula dilihat semakin banyaknya sarjana Muslim (IAIN) ke Dunia Barat dengan harapan mende-islamisasikan masyarakat secara pemikirannya.
            Kedua, kelemahan Dunia Islam, diantaranya, lemahnya pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta lemahnya pengusaan terhadap Islam itu sendiri, misalnya banyaknya umat Islam yang belum bisa menguasai pemahaman al-Qur’an, bahkan banyak pula yang buta huruf membaca al-Qur’an. Pertanyaannya, bagaimana Islam bisa bangkit kalau memahami ajaranya saja kurang sempurna. Inilah masalah yang dihadapi umat Islam pada zaman sekrang ini.
            Ketiga, Salahnya Dunia Barat dalam memahami Islam, sebab mereka memahami Islam bukan dari sumbernya tetapi dari prilaku-prilaku pemeluk Islam yang salah pula.Tetapi sekarang ini ada kecenderungan Dunia Barat lebih obyektif melihat Dunia Islam, sebab orang Barat sendiri sudah bosan dan muak melihat budayanya yang serba materialistis, tidak mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan. Dari sinilah mereka mulai tertarik mempelajari Islam tanpa apriori. Kenyataan ini banyak dibuktikan banyaknya orang Barat yang masuk Islam, baik dari kalangan budayawan maupun lainnya.
            Pendek kata kebangkitan Dunia Islam akan lahir apabila pemahaman dan komitmen terhadap ajaran Islam merata di kalangan masyarakat Islam, sehingga dalam diri mereka tersimpul keinginan untuk mengaktualkan Islam dalam pentas kehidupan bernegara. Hal lain yang tak kalah penting adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa dua kriteria itu tidak mungkin lahir kebangkitan Islam kembali.

III.              Kesimpulan

            Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa periode modern dalam sejarah Islam bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung sampai sekarang. Di awal periode ini kondisi Dunia Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M Dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat.

       Periode ini memang merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran pembaharuan dalam Islam. Gerakan pemabaharuan ini muncul karena dua hal:

1.      Timbulnya kesadaran dikalangan ulama bahwa banyak ajaran-ajaran “asing” yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran-ajaran ini bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, seperti bid’ah, khurafat dan tahayul. Oleh karena itu mereka bangkit untuk membersihkan Islam dari ajaran atau paham seperti
       itu. Gerakan ini dikenal sebagai gerakan reformasi.

2.      Pada periode ini Barat mendominasi Dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu, mereka berusaha bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power (Yatim, 2003:173-174).
      Sebagaimana telah disebutkan, ketika tiga kerajaan besar Islam sedang mengalami kemunduran di abad ke-18, Eropa Barat mengalami kemajuan dengan pesat. Kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran, karena tidak hanya mendapat serangan dari kerajaan Turki, tetapi juga mendapat serangan dari kalangan Dinasti yang tunduk pada Safawiyah yang ingin merdeka, yaitu berturut-turut Raja Afganistan, sehingga pada tahun 1722 M berhasil menduduki Asfahan, kemudian disusul oleh serangan Dinasti Zand yang pada tahun 1750 M berhasil menguasai seluruh Persia. Maka berakhirlah kekuasaan kerajaan Safawi di pertengahan abad ke-18.
       Dengan demikian dapat diambil point bahwa kelemahan Islam menyebabkan Eropa dapat menguasai, menduduki dan menjajah negeri-negeri Islam dengan mudah.


Daftar Pustaka


Albert Hourani, A Historis of the Arab Peoples, Harvard University USA, 1991.

Aunur Rahim Faqih dan Munthohah, Pemikiran & Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta, 1998.

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, RajaGrafindo Persadam Jakarta, 1999.
C. Ernest Dawn. “from Ottomanism to Arabism: The Origin of an Ideology”, dalam The Modern Middle East, Editor: Hourani et.
Carl Brockelman, History of Islamic Peoples, Routledge & Kegan Paul, London, 1980.

Aunur Rahim Faqih dan Munthohah, 1998, Pemikiran & Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta.
.
Cleveland William, 1991, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz,1991, Pustaka Firdaus, Jakarta.

Ira Lapidus, A History of Islamic Socienties, Cambridge University Press, Cambridge. 1988.
Jorgen S. Nelsen. Muslims in Weatern Europe, Second Edition. Edinburgh University Press, 1995.
Murtadha Muthahhari, Gerakan Islam Abad XX, terj. Rineka Cipta, Jakarta, 1986.
P.M.Holt,dkk. [Ed.], The Cambridge History of Islam, Vol. I B.,Cambridge University Press, London, 1970.

S. Nelsen. Jorgen. Muslims in Weatern Europe, Second Edition. Edinburgh University Press, 1995.
William I. Cleveland, 1991, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz,1991, Pustaka Firdaus, Jakarta.




[1]   Murtadha Muthahhari, Gerakan Islam Abad XX, terj. Rineka Cipta, Jakarta, 1986,
[2]   William I. Cleveland, 1991, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz,1991, Pustaka Firdaus, Jakarta, hlm.92.
[3]   Jorgen S. Nelsen. Muslims in Weatern Europe, Second Edition. Edinburgh University Press, 1995, hlm. 45-8.
[4]   Bandingkan dengan negara-negara maju lainnya, misalnya Inggris dan Perancis memiliki standar hidup yang relatif tinggi.
[5]   Jorgen S. Nelsen, op. cit., hlm. 67.
[6]   Ibid.
[7]   Albert Hourani, A Historis of the Arab Peoples, Harvard University USA, 1991 hlm.263., dalam Aunur Rahim Faqih dan Munthohah, Pemikiran & Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta, 1998, hlm.265
[8]   Op.cit , Albert Hourani,hlm 266.
[9]   Ibid, hlm 267
[10]   Ibid, hlm 267.
[11]   Ira Lapidus, A History of Islamic Socienties, Cambridge University Press, Cambridge. 1988. Hlm. 561., dalam Aunur Rahim Faqih dan Munthohah, 1998, Pemikiran & Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta, hlm. 89.
[12]   Ibid, hlm 559.
[13]   op.cit., Albert Hourani, hlm 274.
[14]   Carl Brockelman, History of Islamic Peoples, Routledge & Kegan Paul, London, 1980, hlm. 369.,dalam Aunur Rahim Faqih dan Munthohah, 1998, Pemikiran & Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta, hlm. 90.

[15]   Baca : P.M.Holt,dkk. [Ed.], The Cambridge History of Islam, Vol. I B.,Cambridge University Press, London, 1970, hlm. 687.
[16]   op.cit.,Carl Brockelman, 1980  hlm. 507.
[17]   Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, RajaGrafindo Persadam Jakarta, 1999,hlm. 169-170.
[18]   Munthoha, Pemikiran dan peradaban Islam, (Yogyakarta: UII Press. 1998.) hlm. 06
[19]   Ibid. hlm. 97.
[20]   Ibid
[21]   Ibid, hlm 98
[22]   Ibid, hlm. 99-100.
[23]   C. Ernest Dawn. “from Ottomanism to Arabism: The Origin of an Ideology”, dalam The Modern Middle East, Editor: Hourani et. Al-hlm. 375-93.

No comments:

Post a Comment