Tuesday, March 13, 2012

Epistemologi Menurut 5 Fulusuf Muslim


Rahmat Ma'had Aly Al-Hikam
To: DR. Mutamakin S. Fil, MA
 
I. Pendahuluan
            Begitu banyak ulama Islam yang menjadi rujukan sebut saja Al-Ghazali di kalangan kamu Muslimin besar sekali, sehingga menurut pandangan orang-orang ahli Ketimuran (Orientalis), agama Islam yang digambarkan oleh kebanyakan kaum Muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali. Bukan hanya jago kandang, ulama sekaligus ilmuan kita juga mendapat acungan dua jempol dan menjadi sorotan ilmuan dunia seperti yang sudah penulis kemukakan Imam al-Ghazali, Ibnu Sina yang mereka sebut Avicenna, Ibnu Gaberol (Avicebron), Ibnu Thufail (Abubacer), dan Ibnu Rusyd (Averroes).
            Dalam makalah super mini ini penulis akan mempersembahkan beberapa buah pikiran ulama atau ilmuan Muslim dalam kajian filsafat. Titik pembahasan ini hanya terkait pemikiran dalam ranah Epistemologi saja.
            Adapun sub-sub di dalamnya.
I. Pendahuluan
II. Pembahasan
A.    Pengertian Epistemologi
B.     Mengenal Ilmuan Epistemologi Muslim
C.     Bagan Kontribusi/Pengembangan Epistemologi
III. Kesimpulan
IV. Daftar Pustaka
.






II. Pembahasan
A.    Pengertian Epistemologi
            Menurut bahasa, Epistemologi termabil dari bahasa Yunani Epistem (Pengetahuan) logos (Penjelasan dan Ilmu). Dalam bukunya, Drs. M. Zainuddin, MA[1], menngemukakan, Ontologi menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk apa. Lebih lanjut, Drs. M. Zainuddin menerangkan Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal muasal, metode-metode dan sahnya ilmu pengetahuan[2].
            Amin Abdullah (1992:7) dalam mencermati epistemologi Islam lebih melihat pada adanya kecenderungan para pemikir Muslim yang idealis dan rasionalis, sebagaimana yang ia kaji dalam pemikiran As-Shadar dan Ghulsyani. Penulis sangat setuju pada pendapat Amin tentang berpadunya kajian metafisika dan epistemologi dalam Islam yang ideal-holistik kelemahannya menurutnya kurang tajam dalam melakukan kajian dalam segi-segi khusus, karena dominasi kalam dan sufisme terlalu kuat, sehingga epistemologi tidak bisa berkembang secara alami.
            Amin (1992: 16) menambahkan, selama ini ruang lingkup filsafat Islam lebih cenderung menitikberatkan pada aspek ontologis dan aksiologis daripada epistemologis. Dan eistemologi yang dibangunnya memenangkan epistemologi Plato/Platonisme yang  rasionalistik-normatif seperti yang nampak dalam dominasi kalam dan sufisme, daripada empirisme-historis Aristoteles. Menurut Amin (1992: 12) lagi, persoalan ini dianggap mereduksi (dalam kamus ilmiyah populer Hlm 658 baris pertama dari terakhir: Menganalisis sesuatu secara keseluruhan.) keutuhan ajaran Al-Qur’an.[3] Maka menurut penulis, Amin ingin menginformasikan bahwa memandang sesuatu itu berawal dari Al-Qur’an kemudian objek kajian, bukan berakhir dengan Al-Qur’an yakni, setelah sesuatu itu terungkap baru menilik ke Al-Qur’an, atau dicocok-cocokkan terhadap kitab Allah itu.


B.     Mengenal Ilmuan Epistemologi Muslim
            Dalam makalah sempit ini, penulis mencoba mengulas Epistemologi yang luas. Namun demikian, penulis tidak memperbanyak lembaran makalah dari segi tulisan melainkan langsung kepada inti dari ulasan tersebut. Dalam artian, penulis ingin menyajikan kontribusi lima filusuf (tentang epistemologi) sekaligus tanpa basa-basi mengutip seluruh pemaparan para penulis yang tertuang dalam banyak buku.
No
Nama[4]
TTL
Pemikiran
Pembahasan kami
1
Abu Hamid ibn Muhammad (Al-Ghazali)
Thus bagian dari kota Khurasan, Iran thn 450 H/1058 M. Wafat Thus 505 H/111 M
Epistemologi-Metafisika-Moral-Jiwa
Epistemologi
2
Abu Bakar Muhammad ibn Yahya (Ibn Bajjah)
Saragossa, Andalus thn 475 H/1082 M. Wafat diduga kena racun oleh seorang dokter Abu al-‘Ala ibn Zuhri karena iri hati terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenaran. Kota Fez dimakamkan samping makam Ibn ‘Arabi thn 533 H/1138 M
Epistemologi-Metafisika-Moral-Politik
Epistemologi
3
Abu Bakar Muhammad ibn Abd al-Malik (Ibn Thufail)
Guadix, 40 mil di Timur Laut Granada thn 506 H/1110 M. Wafat kota Marraqesh, Marokko thn 581 H/1185 M. Wafat Marraqesh, Marokko thn 581 H/1185 M
Filsafat dan Agama-Metafisika-Epistemologi-Jiwa
Epistemologi
4
Syaikh Syihab al-Din (Suhrawardi Al-Maqtul)
Suhrawardi Iran Barat Laut dekat Zanjan thn 548 H/1153 M. Wafat diseret ke penjara dan menghantarkan kematiannya di usia 38 thn.
-Metafisika dan cahaya-Epistemologi-Kosmologi-Psikologi
Epistemologi
5
Muhammad ibn Ibrahim yahya Qawami Syirazi (Mulla Shadra)
Syiraz thn 979/980 H/1571/1572 M. Wafat karena sakit, Basrah thn 1050 H/1641 M.
Epistemologi-Metafisika-Moral
Epistemologi

            C. Bagan Kontribusi/Pengembangan Epistemologi[5]
 

















III. Kesimpulan
            Demikianlah Islam tidak berkubang hanya pada rasionalisme dan empirisme, tetapi juga mengakui intuisi dan wahyu. Intuisi sebagai fakultas kebenaran langsung dari Tuhan dalam bentuk ilham, kasyaf yang deduksi, sikulasi dan observasi. Pengetahuan seperti ini dalam mistisisme Islam disebut dengan ‘ilm al-Dharury atau ‘ilm al-laduny yang kedudukannya sedikit di bawah wahyu.
IV. Daftar Pustaka
Drs. M. Zainuddin, MA, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam, Jakarta: Perpustakaan   Nasional, 2006.
Hanafi, M.A ,Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. 1990.
Nasution, M.A ,Dr. Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999.
Pius A artanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola.


                [1] Drs. M. Zainuddin, MA, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam, Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2006. Hlm. 24.
                [2] Ibid Hlm. 28. Pengertian ini dikutip oleh Drs. M. Zainullah, Ma, dari Kattsoff, 1987: 76.
                [3] Ibid Hlm. 52-53.
                [4] Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999. Hlm 77-83, 93-98, 102-103 & 111-112, 143-145 & 153-159, 167-176.
                [5] Ibid. Hlm.77-176. Bandingkan dengan karangan Ahmad Hanafi, M.A, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. 1990. Hlm. 138-141, 157-159, 161-163.

No comments:

Post a Comment