Friday, March 2, 2012

Membangun Madrasah. Perkembangan Pendidikan Pada Zamannya. Serta Penerapannya di Indonesia


Membangun Madrasah
Jika berbicara pendidikan islam maka gambaran yang didapatkan pun seputar madrasah dan pesantren. Jika pesantren adalah lembaga pendidikan formal tertua di Indonesia, maka madrasah adalah lembaga formal yang lahir untuk menangkal sekularisme pada pendidikan formal pasca kemerdekaan. Bagaimana perkembangan madrasah ini? Masihkah relevan pada era kini dan bagaimana prospeknya di masa depan? Paparan dibawah ini menjelaskan perkembangan pendidikan Islam termasuk madrasah, sehingga kita akan lebih mengenal tentang madrasah itu sendiri. Lebih lanjut akan menjelaskan bagaimana gambaran madrasah di masa depan.
Perekembangan Pendidikan Zaman Rosululloh
Rosululloh saw mengajarkan Islam di rumah Arqam bin Arqom, tercatat 40 orang terdiri dari laki-laki dan wanita, dan dari beragam usia mulai dari 8 tahun sampai 50 tahun. Mereka yang dididik Rosululloh di rumah Arqom bin arqom adalah anak-anak yang usianya 8 tahun seperti Ali bin abi Thalib dan Zubair bin Al Awwam, Remaja awal seperti Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun) dan Arqam bin Arqam (12 tahun), remaja akhir seperti Saad bin Abi Waqosh (17 tahun) dan Jafar Bin Abi Thalib (18 tahun), dewasa awal seperti Utsman bin Affan (20 tahun), dan Thulaib bin Umair (20 tahun), dewasa akhir seperti Hamzah bin Abi Thalib (42 tahun) dan Ubaidah bin al Harits (50 tahun). Sementara itu dikalangan bangsa arab sendiri pada saat itu telah berkembang model pendidikan kuttab. Di kuttab ini diajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi arab, pengajarannya sendiri berlangsung di rumah para guru. Pasca Islam hijrah ke Madinah, pendidikan model kuttab ini diberlakukan oleh Rasululloh dengan mengambil tempat di masjid dan rumah guru. Dan fungsi kuttab pun dibagi menjadi dua macam, pertama mengajarkan baca tulis dan kedua mengajar al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam. Pada awal pemerintahan Islam di Madinah, pengajar baca tulis di kuttab kebanyakan non muslim, karena sedikit sekali kaum muslim yang bisa menulis. Rosulullah pernah membebaskan para tawanan perang syaratnya mengajari tiap 10 orang muslim membaca dan menulis. Sehingga pada awalnya pengajaran baca-tulis tidak dinukil langsung dari Al Qur’an tetapi dari puisi dan syair bijaksana orang-orang arab. Setelah banyak kaum muslimin yang pandai menulis dan membaca, maka pengajaran baca tulis di kuttab sumber nukil pun tidak lagi puisi dan syair tetapi Al qur’an. Adapun pengajaran al Qur’an dan dasar-dasar Islam di Madinah untuk para shahabat dipegang langsung oleh Rosulloh saw, tetapi untuk penduduk madinah diajarkan oleh Mushab bin Umair. Setelah islam meluas, Rasulullah senantiasa mengutus orang-orang yang kompeten untuk menjadi wali sekaligus mengajarkan al Qur’an pada penduduknya. Maka Rasulloh mengangkat Athab bin Usaid menjadi wali di kota Mekah, Muadz bin Jabal menjadi wali di Yaman, Amru bin Ash menjadi amil di Oman, dan lain-lain.
Kurikulum pendidikan Islam pada Zaman Rosulloh adalah al Qur’an yang allah turunkan sesuai kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat saat itu. Selain itu Rosululloh menyuruh para sahabat memperlajari bahasa Asing. Rosul pernah menyuruh kepada Zaid bin Tsabit, “saya hendak berkirim surat kepada raja Suryani, saya khawatir kalau mereka menambah-nambah atau mengurangi sebab itu engkau memperlajari bahasa Suryani (bahasa Yahudi). Lalu Zaid memperlajari bahasa itu, hingga ia mahir dalam bahasa itu.
Metode pengajaran yang dilakukan oleh Rosululloh sangat bervariatif misalnya ceramah, dialog (ketika Muadz akan dikirim menjadi Gubernur Yaman), tanya jawab (sering para sahabat bertanya tentang suatu hukum dan rosul menjawabnya), diskusi (misalnya diskusi yang terjadi antara Rosululloh dan para sahabat tentang hukuman yang akan diberikan pada tawanan perang Badar), demostrasi, misalnya hadits, “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sembahyang” dan metode kisah (misalnya kisah kaum nabi-nabi terdahulu), metafora (umat muslim laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan turut sakit), pembiasaan (pembiasaan shalat berjamaah), hafalan, inferensi/prediksi (misalnya kelak umat islam akan seperti sepotong kue yang diperebutkan oleh banyak orang) .
Rasululloh pun melakukan evalusi pengajaran, dengan cara mengevaluasi hapalan para shahabat, menyuruh para shahabat membacakan al qur’an dihadapannya dan membetulkan hapalan dan bacaan yang keliru, dan setiap utusan yang akan dikirim oleh Rosulullah dicek dulu kemampuannya.Misalnya ketika akan mengutus Muadz bi Jabal ke Yaman sebagai qadi, Rosululloh menanyakan bagaimana ia memutuskan suatu perkara yang muncul ditengah-tengah umat. Muadz menjawab, bahwa ia akan memutuskan dengal al qur’an, as sunnah, dan jika tidak didapati di keduanya ia akan berijtihad. Maka Rasululloh pun tersenyum tanya menyetujui dan percaya akan kompetensi Muadz sebagai qadi Yaman.
Perkembangan Pendidikan Pada Zaman Khulafa Rasyidin
Seperti halnya pada zaman Rosulullah yang memusatkan pendidikan di kuttab, maka begitu pula yang terjadi pada zaman Abu Bakar Sidiq. Kuttab tetap dipertahankan sebagai lembaga tempat belajar membaca dan menulis.Keberadaan kuttab seiring dengan pembangunan mesjid, dan guru di kuttab adalah para shahabat Rosululloh. Sehingga dapat dikatakan lembaga pendidikan islam pada saat itu adalah masjid.
Umar Bin Khotob menjadikan Madinah sebagai pusat pendidikan. Para shahabat yang faqihfiddin dan ahli hadits dilarang meninggalkan Madinah, kecuali atas izin Umar sebagai Khalifah pada saat itu dan dengan waktu yang terbatas. Maka jika ingin memperdalam Islam, semua orang harus datang ke Madinah. Selain menerapkan pendidikan di mesjid, Umar pun menerapkan pendidikan di pasar-pasar. Setiap daerah yang dibebaskan Islam, Umar memerintahkan Panglima perangnya mendirikan mesjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan, dan Umar pun menyediakan guru yang digaji oleh Baitulmaal untuk tiap daerah yang dibebaskan untuk mengajarkan isi Al qur’an dan ajaran Islam lainnya, dan juga bahasa Arab.
Pada zaman Umar ini pula dikenalkan metode halaqoh dalam pengajaran tingkat lanjut. Adalah Abdurahman bin Ma’qal dan Imran bin al Hashim yang diutus ke Basyrah dan Hasan bin Abi Jabalah yang diutus ke Mesir, dan Abdurrahman bin Ghanam ke Syiria, menggunakan metode guru duduk dihalaman mesjid sedangkan muridnya melingkarinya (halaqoh). Menurut Nakoesteen sistem pendidikan islam dalam bentuk halaqoh ini sangat unik, guru biasanya duduk di dekat dinding atau pilar mesjid, sementara siswanya duduk membentuk lingkaran dengan lutut antar siswa saling menempel.Murid yang level pengetahuannya lebih tinggi duduk dekat guru, sedangkan yang level pengetahuannya lebih rendah akan duduk lebih jauh dari gurunya.Sehingga perlu belajar keras agar dapat mengubah konfigurasi halaqohnya, sebab posisi dalam halaqoh menjadi sangat signifikan. Tidak ada batas resmi jumlah siswa dalam halaqoh, tetapi biasanya terdiri sekitar 20 orang. Metode yang dipakai di halaqoh tersebut adalah imla, dan penjelasan. Menjelang akhir halaqoh dilakukan dengan cara tanya jawab, atau guru memeriksa catatan muridnya, mengoreksinya, dan menambahkan seperlunya.
Pendidikan di masa Utsman dan Ali adalah melanjutkan pendidikan di masa sebelumnya. Dengan sistem kuttab di sekitar mesjid dan fokus yang sama yaitu mengajarkan al qur’an dan hadits, dan bahasa Arab untuk wilayah di luar jazirah Arab. Hanya saja pada zaman Utsman pada faqihfiddin tidak dilarang lagi meninggalkan Madinah, sehingga mereka dapat menyebarkan ilmunya di daerah-daerah yang disukai, akibatnya pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah makin berkembang.
Perkembangan Pendidikan di Zaman Umayyah
Sistem kuttab yang mengajarkan membaca, menulis Al qur’an dan agama islam lainnya tetap dilanjutkan pada zaman Umayyah. Hanya saja tempatnya selain di mesjid dan rumah guru juga diselenggarakan di istana. Kuttab di istana bertujuan mengajarkan anak-anak dari keluarga yang berada di istana Khalifah. Guru istana dinamakan muaddib. Tugas muaddib diungkapkan oleh Abdul Malik bin Marwan, “ajarkan kepada anak-anak itu berkata benar, sebagaimana kau ajarkan al qur’an. Jauhkan anak-anak itu dari pergaulan orang-orang buruk budi, karena mereka amat jahat dan kurang beradab.Jauhkan anak-anak itu dari pemalu, karena pemalu itu merusak mereka.Gunting rambut mereka supaya tebal kuduknya. Beri makan mereka dengan daging supaya kuat tubuhnya. Ajarkan syair kepada mereka, supaya mereka menjadi orang besar dan berani. Suruh mereka menyikat gigi dan minum air dengan menghirup pelan-pelan bukan dengan bersuara, seperti hewan. Kalau engkau hendak mengajarkan adab kepada mereka hendaklah dengan tertutup tiada diketahui oleh siapa pun”. Jadi pendidikan istana mengajarkan al qur’an, hadits, syair, riwayat hukama, menulis, membaca, dan adab sopan santun.
Ilmu tingkat lanjut seperti kedokteran, filsafat, astronomi, sains, sastra, seni bangaunan, seni rupa, dan seni suara berkembang pada masa ini.Beberapa kota seperti Damaskus, Kuffah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova, Basrah, Damsyik, dan Palestina menjadi pusat kajian ilmu lanjutan. Bahkan pada zaman Khalifah Al Walid didirikan sekolah kedokteran, dan melarang penderita kusta meminta-minta di jalan, dan mereka diberi jaminan sosial. Perpustakaan besar Qurtubah (Cordova) pun berdiri di Spanyol. Pada zaman Muawiyah Khalid bin Yazid, sarjana Yunani yang berada di Mesir diperintahkan untuk menterjemahkan buku kimia dan kedokteran ke dalam bahasa Arab. Ilmu tingkat lanjut yang berkembang begitu pesat pada zaman ini tidak lepas dari pendidikan lanjut yang ada di madrasah dan mesjid. Pada zaman Umayyah ini berdirilah madrasah-madrasah yang didirikan di Qurthubah (Cordova), Isybillah (Seville), Thulaithilah (Toledo), dan Gharnathah (Granada), dan lain-lain. Bahkan pada zaman Khalifah Abdul Rahman III dengan mengambil tempat di sebuah mesjid didirikan universitas cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Perkembangan Pendidikan di Zaman Abbasiyah
Pada zaman ini madrasah merupakan lembaga pendidikan per exelence,yaitu sistem pendidikan yang bercorak fiqih dan hadits. Perkembangan madrasah sangat pesat pada zaman ini, walaupun terjadi kemunduran di Bagdad, masalah pendidikan tetap menjadi perhatian. Khilafah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan sampai kedaerah-daerah terpencil sekali pun. Gedung madrasah dibangunkan dengan bagus dan besar sekaligus dengan perpustakaannya, biaya pendidikan bagi siswa disediakan agar dapat belajar dengan gratis, dan disediakan pula guru-guru yang berpengetahuan luas dan medalam. Pada masa ini dibangun Madrasah Nizhamiyah, yang akan menjadi perguruan tinggi terbesar pada zamannya. Salah seorang pengajar di Madrasah Nizhamiyah adalah Al Ghazali. Al Ghazali terkenal dengan asas mengajarnya, yaitu:
1. Memperhatikan tingkat daya berpikir anak
2. Menerangkan pelajaran dengan jelas
3. Mengajarkan dari konkrit ke abstrak
4. Mengajarkan ilmu pengetahuan secara berangsur-angsur
Kehadiran Madrasah Nizhamiyah telah memberi pengaruh yang besar pada masyarakat baik bidang politik, ekonomi, maupun sosial keagamaan .Dalam bidang ekomomi, madrasah ini telah menghasilkan lulusan yang siap menjadi pegawai pemerintah dibidang hukum dan administrasi. Pada sosial keagamaan, madrasah yang memfokuskan pada ajaran fiqih, dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat umumnya.
Madrasah pada zaman abasiyah tampak ditangani langsung dan serius oleh pemerintah. Melalui lembaga madrasah muncullah kecintaan dan gairah pada intelektual islam terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai ilmu agama dan sains yang mereka hasilkan.
Konsep Pendidikan Islam jika diterapkan Di Indonesia
        i.            Profesi guru merupakan profesi yang sangat mulia, dan hal tersebut didasarkan pada acuan tekstual maupun rasional, diantara dasar atau dalil tekstualnya adalah sabda nabi saw. Yang artinya:…..”saya ini sebenarnya diutus sebagai seorang guru”….
      ii.            Jadi profesi guru merupakan warisan dari misi kerosulan.Pendidikan merupakan sebuah wasilah untuk mencapai kemulian dan menserahkan jiwa, pendidikan yang benar merupakan jalan mendekat kepada tuhan, al-ghazali menyatakan: selama ilmu itu dimiliki seorang itu lebih banyak dan lebih sempurna, maka seharusnya ia menjadi lebih dekat kepada Allah.
    iii.            Guru harus memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didiknya, memandang mereka seperti anaknya sendiri, karena nabi bersabda:…”sebetulnya saya ini bagimu semua adalah seperti kedudukan orang tua terhadap anaknya.


Daftar Pustaka
  1. An Nabhani, T. (2007). Daulah Islamiyah [terjemaahan]. Jakarta: HTI Press.  Hassibuan, Z.E. (2007). Profil Rosulloh sebagai Pendidik Ideal [dalam Sejarah Pendidikan Islam, ed. Nizar, S]. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. h.8.
  2. An Nabhani, T.
  3. Salphen, (2007). Pola Pendidikan Islam pada Zaman Khlafaur Rasyidin. Candra, S. (2007). Pola Pendidikan Islam Pada Periode Dinasti UmayyahOp.cit. h.61.
  4. Pramujaya, S. (2007). Kurikulum dan Pola Pengembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Klasik Zaman Keemasan. Op.Cit. h. 131.
  5. Ediwarman. (2007). Madrasah Nizhamiyah: Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pendidikan Islam dan Aktivits Ortodoksi Sunni. Op.Cit. 167-168.

No comments:

Post a Comment