Sunday, May 13, 2012

Definisi Metode, Metodologi, dan Tafsir


DEFINISI METODE, METODOLOGI,
DAN
TAFSIR


Pendahuluan

            Kajian tentang metodologi tafsir bisa dikatakan baru lahir dalam pemikiran para intelektual Islam. Buktinya, setelah tafsir mengalami perkembangan pesat sementara metodologi baru bisa dipakai sebagai objek kajian. Itu menunjukkan bahwa kajian tafsir ini lebih awal dari pada metodologinya.[1]
            Dalam perspektif historisnya semua penafsiran itu pasti menggunakan metode-metode yang ada dalam menafsirkan al-Qur’an. Akan tetapi metode-metode tersebut disesuaikan dengan sudut pandang para mufasir, tentu tidak akan keluar dari ruang lingkup keilmuannya. Para mufasir menggunakan metode tersebut hanya secara aplikatif saja, belum dijelaskan secara eksplisit. Lambat laun setelah ilmu pengetahuan Islam  mengalami perkembangan kemudian mulai mengkaji metode ini dan akan melahirkan yang namanya metodologi tafsir.
            Metodologi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan mengenai cara-cara untuk menelaah lebih jauh dari kandungan al-Qur’an. Disamping itu ia juga merupakan alat untuk menggali pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, para mufasir akan menghasilkan kitab tafsir yang sesuai metodologi yang mereka gunakan.     

Metode dan metodologi tafsir
            Metode adalah cara yang teratur yang sistimatis untuk pelaksanaan sesuatu; cara kerja.[2]
            Metode dalam bahasa Arab biasanya disebut dengan “al-manhaj” atau “al-thariqat al-tanawih.” Menurut Dr. Ibrahim Syarif definisi metode adalah suatu cara atau alat untuk menganalisasikan tujuan aliran-aliran tafsir.[3]
            Metodologi adalah ilmu metode; ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat (untuk menganalisa sesuatu); penjelasan serta menerapkan cara.[4] Metode adalah cara yang telah diatur dan terpikir baik-baik.[5] Metodologi berasal dari dua kata; method dan logos. Dalam bahasa Indonesia method dikenal dengan metode yang artinya cara yang teratur dan terpikirkan baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanan sesuatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan logos diartikan ilmu pengetahuan.[6] Dalam bahasa Arab istilah metode dikenal dengan manhaj.[7]   




Metode tafsir secara klasik dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
·         Bi al-Ma’tsur
·         Bi al-Ra’yi.[8]
            Prof. Dr. Quraish Shihab memaparkan tentang cakupan metode-metode tafsir yang dikemukakan oleh ulama’ mutaqaddim dengan ketiga coraknya:
·         al-Ra’yu
·         al-ma’tsur  
·         al-Isyari
Ketiga corak tersebut disertai penjelasan tentang syarat-syarat diterimanya suatu penafsiran serta metode pengembangannya; dan mencakup juga metode-metode mutaakhir yang ada empat macam:
·         Tahliliy
·         Ijmaliy
·         Muqarin
·         Mawdlu’iy.[9]
Berbeda dengan Prof. Dr. H. Abd. Djalal, HA yang membagi metode tafsir menjadi empat antara lain:
·         Tinjauan dari segi sumber penafsiran
·         Cara penjelasan
·         Keluasan penjelasan
·         Sasaran dan tertib ayat yang sitafsirkan.[10]
Sedangkan Abdurrahman membagi metode menjadi tiga:
·         Metode naqli (bi al ma’tsur)
·         Metode lughawi
·         Metode aqli (ijtihadi).[11]
            Untuk lebih praktisnya mempelajari al-Qur’an dengan keanekaragaman penafsiran, maka berikut ini dipaparkan tentang pengelompokan macam-macam metode sesuai dengan titik tekan dan sisi sudut pandangnya masing-masing.
I         Metode tafsir al Qur’an bila ditinjau dari segi sumber penafsirannya, ada tiga macam:
1.Metode tafsir al Ma’tsur / bi al Riwayah / bi al Manqul
            Yaitu tata cara menafsirkan ayat-ayat al Qur’an yang didasarkan atas sumber penafsiran al  Qur’an, al Hadits, Dari riwayat sahabat dan tabi’in.
Nama-nama kitab tafsir yang tergolong bi al Ma’tsur:
S        Jami’ Al Bayan Fi Tafsiri Al Qur’an: Ibnu Jarir Ath Thabari (W. 310 H).
S        Al Kasyfu Wa Al Bayan Fi Tafsiri Al Qur’an: Ahmad Ibnu Ibrahim (W. 427 H).
S        Ma’alimu Al Tanzil: Imam Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi (W. 516 H).
S        Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an: Al Qurthubi (W. 671 H).
S        Tafsir Al Qur’an Al Adhim: Imam Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir (W. 774 H).
S        Ad Durru Al Mantsur Fi Tafsir Bi Al Ma’tsur: Jalaluddin As Suyuthi (W. 911 H)
2.Metode tafsir bi al Ra’yi / bi al Dirayah / bi al Ma’qul
            Ialah cara menafsirkan ayat-ayat al Qur’an yang didasarkan atas sumber ijtihad dan pemikiran mufasir terhadap tuntunan kaidah bahasa Arab dan kesusastraannya, teori ilmu pengetahuan setelah dia menguasai sumber-sumber tadi.
Nama-nama kitab tafsir yang tergolong bi al Ra’yi:
·         Mafatihu Al Ghaib: Fahruddin Ar Razi (W. 606 H).
·         Anwarul Al Tanzil Wa Haqaiqu Al Ta’wil: Imam Al Baidhawi (W. 692 H).
·         Madariku Al Tanzil Wa Haqaiqut Ta’wil: Abdul Barakat An Nasafi (W. 710).
·         Lubabual Ta’wil Fi Ma’anit Tanzil: Imam Al Khazin (W. 741 H).
3.Metode tafsir bi al Iqtirani (perpaduan antara bi al Manqul dan bi al Ma’qul)
Adalah cara menafdirkan al Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayah yang kuat dan dan shahih dengan sumber hasil ijtihad pikiran yang sehat.
Nama-nama kitab tafsir yang tergolong bi al Iqtirani:
·         Tafdir Al Manar: Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridlo (W. 1354 H / 1935 M).
·         Al Jawahirul Fi Tafsir Al Qur’an: Tanhawi Al Jauhari (W. 1358 H).
·         Tafsir Al Maraghi: Ahmad Musthafa Al Maraghi (W. 1371 H / 1952 M).
II      Metode tafsir al Qur’an bila ditinjau dari segi cara penjelasannya terhadap tafsiran ayat-ayat al Qur’an, maka metode tafsir ada dua macam:
a.       Metode Bayani / Metode Deskripsi
Ialah penafsiran dengan cara menafsirkan ayat-ayat al Qur’an hanya dengan memberikan keterangan secara deskripsi tanpa membandingkan riwayat / pendapat dan tanpa menilai (tarjih) antar sumber.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
R        Ma’alim Al Tanzil: Imam Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi (W. 516 H).
b.      Metode tafsir Muqarin / komperasi
Yaitu membandingkan ayat dengan ayat yang berbicara dalam masalah yang sama, ayat dengan hadits (isi dan matan), antara pendapat mufasir dengan mufasir lain dengan menonjolkan segi-segi perbedaan.[12]
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
R        Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an: Imam Al Qurthubi (W. 671 H).
III   Metode tafsir bila ditinjau dari segi keluasan penjelasan tafsirannya, maka ada dua macam:
1)      Metode tafsir Ijmaly
Adalah penafsiran dengan cara menafsirkan ayat al Qur’an hanya secara global saja yakni tidak mendalam dan tidak pula panjang lebar, sehinnga bagi orang awam akan lebih mudah untuk memahami.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
R        Tafsir Al Qur’an Al Karim: M. Farid Wajdi.
R        Tafsir Wasith: Majma’ul Bukhtusil Islamiyah.
2)      Metode tafsir Ithnabi
Ialah penafsiran dengan cara menafsirkan ayat al Qur’an hanya secara mendetail / rinci, dengan uraian-uraian yang panjang lebar, sehingga cukup jelas dan terang yang banyak disenangi oleh para cerdik pandai.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
R        Tafsir Al Manar: Syaikh Muhammad Abduh Dan Syaikh Rasyid Ridlo
(W.134 H).
R        Tafsir Al Maraghi: Ahmad Musthafa Al Maraghi (W. 1371 H / 1952 M).
R        Tafsir Fi Dhilalil Qur’an: Sayid Quthub (W. 1996 M).
IV   Metode tafsir bila ditinjau dari segi sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan, maka metode penafsiran al Qur’an ada tiga macam:
a.       Metode tafsir Tahlily
                        Adalah menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib dengan uraian ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf, dari awal surat al Fatihah hingga akhir surat an Nas.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
R        Mafatihul Ghaib: Fahruddin Ar Razi (W. 606 H).
R        Tafsir Al Maraghi: Ahmad Musthafa Al Maraghi (W. 1371 H / 1952 M).
b.      Metode tafsir Maudlu’iy
                        Ialah suatu penafsiran dengan cara mengumpulkan ayat mengenai satu judul / topic tertentu, dengan memperhatikan masa turunnya dan asbabul nuzul ayat, serta dengan mempelajari ayat-ayat tersebut secara cermat dan mendalam, dengan memperhatikan hubungan ayat yang satu dengan ayat yang lain di dalam menunjuk pada suatu permasalahan, kemudian menyimpulkan masalah yang dibahas dari dilalah ayat-ayat yang ditafsirkan secara terpadu.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
·     Al Mar’atu Fi Al Qur’an Al Karim: Abbas Al Aqqad.
·         Ar Riba Fi Al Qur’an Al Karim: Abul Ala Maududi.
·         Al Mahdatu Al Mankhiyah: Dr. M. Hijazi.
·         Ayati Al Kauniyah: Dr. Abdullah Syahhatah.
c.       Metode tafsir Nuzuly
                        Yaitu menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib sesuai dengan urutan turunnya ayat al Qur’an.
Nama kitab tafsir yang tergolong metode ini:
·  Al Tafsir Al Bayani Li Al Qur’an Al Karim: Bintu Asy Syathi.
·  Suratu Ar Rahman Wa Suwaru Qishar: Syauqiy Dhaif.
·  Tafsir Al Qur’an Al Karim: Prof. Dr. Quraish Shihab, MA
Aliran penafsiran
                  Para mufasir yang mempunyai kecenderungan tersendiri dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an itu akan menimbulkan aliran-aliran tafsir al Qur’an. Diantaranya ialah      tafsir lughawi / adabi, al fiqhi, shufi, I’tiqadi, falsafi, asri / ilmi, ijma’i.
                  Menurut Prof. Dr. H. Abdul Djalal HA bahwa aliran tafsir al Qur’an ada tujuh yakni: tafsir lughawi / adabi, al fiqhi / ahkam, shufi / isyari, I’tizali, syi’i / bathini, aqli / falsafi, ilmi / ashri.
                  Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, aliran (corak) tafsir ada: corak fiqhiy, shufiy, ilmiy, bayan, falsafiy, adabiy, ijtima’iy.
Perinciannya sebagai berikut:
1.      Tafsir lughawi / adabi
            Ialah tafsir yang menitik beratkan pada unsure bahasa, yaitu meliputi segi I’rab dan harakat bacaannya, pembentukan kata, susunan kalimat, kesusateraan.
·         Al Kasyaf: Az Zamakhsyari.
·         Al Bahr Al Muhith: Al Andalusi.
2.      Tafsir al fiqhi
            Adalah tafsir al Qur’an yang beraliran hukum / fiqh yang titik sentralnya pada bidang hukum.
·         Tafsir Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an: Al Qurthubi.
·         Tafsir Ahkam Al Qur’an: Ibnu Arabi
·         Tafsir Ayati Al Ahkam: Muhammad Ali As Sayis.
3.      Tafsir shufi
            Yaitu tafsir al Qur’an yang beraliran tasawuf, kajiannya menitik beratkan pada unsur-unsur kejiwaan.
4.      Tafsir  i’tiqadi
            Adalah tafsir al Qur’an yang beraliran aqidah, baik Dari golongan mu’tazilah maupun syi’ah, dengan dititik sentralkan pada bidang aqidah.
5.      Tafsir falsafi
            Ialah tafsir al Qur’an yang beraliran filsafat yang menitik beratkan pada bidang filsafat dengan menggunakan jalan dan pemikiran filsafat.
6.      Tafsir ilmi / ashri
            Yakni tafsir al Qur’an yang beraliran modern / ilmiah, titik sentralnya pada bidang ilmu pengetahuan umum, untuk menjelaskan makna ayat-ayat al Qur’an, terutama berkisar pada masalah alam (fisika) atau ayat-ayat kauniyah.
·         Al Jawahir: Thanthawi Jauhari
·         Al Tafsir Al Ilmi Li Al Ayat Al Kauniyah Fi Al Qur’an: Dr. Hanafi Ahmad.
·         Tafsir Al Ayat Al Kauniyah: Abdullah Syahhathah.
·         Min Al Ayat Al Kauniyah Fi Al Qur’an Al Karim: Dr. Muhammad Jalaluddin Al Fandi.
7.      Tafsir ijma’i
            Adalah penafsiran yang melibatkan kenyataan sosial yang berkembang di masyarakat.
·         Tafsir Fi Dhilalil Qur’an: Sayyid Quthb.
·         Tafsir Al Manar: Syaikh Muhammad Abduh Dan Syaikh Rasyid Ridla.[13]
           
            Sebagai bahan perbandingan, dalam buku yang lain tertulis metode tafsir terbagi menjadi empat yaitu:
1st.       Metode Tahlili
            Ditinjau dari segi kecenderungan para mufasir metode ini berupa:
·         Al tafsir bi al ma’tsur
·         Al tafsir bi al ra’yi
·         Al tafsir al shufi
·         Al tafsir al fiqhi
·         Al tafsir al falsafi
·         Al tafsir al ilmi
·         Al tafsir al adabi
·         Al tafsir al ijtima’i.[14]
2nd.    Metode Ijmali
         Kitab-kitab tafsir yang mengikuti metode ini antara lain:
·         Tafsir Jalalain: Jalal Ad Din Al Suyuthi Dan Jalal Ad Din Al Mahali.
·         Tafsir Al Qur’an Al Adzim: Muhammad Farid Wajdi.
·         Tafsir Al Wasith: Sebuah Komite Ulama’ Al Azhar Mesir.[15]


3rd.     Metode Muqaran
         Salah satu karya tafsir yang lahir di zaman modern ini yang memakai metode ini ialah:
-  Qur’an and its Interpreters: Prof. Mahmud Ayyub.[16]
4th.      Metode Mawdhu’i
         Ada dua cara dalam tata kerja metode ini:
a.       Menghimpun seluruh ayat-ayat al Qur’an yang berbicara tentang satu masalah (tema) tertentu serta mengarah pada suatu tujuan yang sama, sekalipun turunnya ayat berbeda dan tersebar dalam pelbagai surat al Qur’an.
b.      Penafsiran yang dilakukan berdasarkan surat al Qur’an.[17]
            Enam langkah seseorang untuk mengikuti metode ini:
1.       Memilih atau menetapkan masalah al Qur’an yang akan dikaji secara mawdhu’i.
2.       Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berhubungan (kaitan) dengan masalah yang telah ditetapkan, ayat Makiyah dan Madaniyah.
3.       Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang (asbabul al nuzul).
4.       Mengetahui hubungan (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam masing-masing suratnya.
5.       Menyusun tema bahasan dalam kerangka yang pas, utuh, sempurna dan sistematis.
6.       Melengkapi uraian dan pembahasan dengan hadits bila dipandang perlu, sehingga pembahasan semakin sempurna dan jelas.[18]

Penutup
            Di dalam al Qur’an banyak ayat-ayat yang belum jelas maknanya. Oleh karena itu dengan adanya ilmu tafsir ini bisa digunakan sebagai instrumen untuk menggali lebih jauh lagi makna al Qur’an. Untuk kebutuhan penafsiran dimaksud diperlukan adanya kerangka yang relevan. Kerangka tersebut tidak lain adalah metodologi. Dan keberadaannya dikalangan penafsir sangat muthlak diperlukan.
                 




cdc ---@--- dcd










[1] Said Aqil Husain al-Munawwar (kata pengantar-Ali Hasan al-aridl), Sejarah dan Metodologi tafsir, tarj. Ahmad Akrom (Jakarta: Rajawali Press, 1992), hlm v
[2] Pius A Partanto,  M. Dahlan al Barry, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, hlm 461
[3] Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA, Memahami Al-Qur’an, (Surabaya: Indra Media, 2003), hlm 14
[4] ibid hlm 461
[5] Drs. M. Kasir Ibrahim, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, hlm 251
[6] Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka 1989 hlm 580-581
[7] Elias Modern Dictionary Arabic-English Beirut ; Dar al Jail 1979 hlm 736
[8] Kutipan (Subhi as-Shallih, 1977: 290-291)
[9] Kutipan (Quraish Shihab, 1992: 155), (Al Farmawi 1977: 64)
[10] Kutipan (Abd. Djalal, HA, 1990: 64)
[11] Kutipan (Abdurrahman, t.t: 107)
[12] Kutipan (al Farmawi: t.t.: 20)
[13] Prof Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA, Memahami Al-Qur’an, (Surabaya: Indra Media, 2003), hlm 14-17
[14] Abd al Hay al Farmawi, muqaddiamah fi al tafsir al maudhu’I (Kairo: al hadharah, 1977), hlm 24
[15] Prof Dr. Abd Muin Salim, metodologi ilmu tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2005), hlm 46
[16] Ibid.
[17] Cara pertama lebih popular sehingga setiap ada penggunaan istilah tafsir mawdhu’i yang terlintas dalam pikiran seseorang seperti yang dikemukakan pada cara pertama di atas. Misalnya M. Quraish Shihab.
[18] Untuk kebutuhan ini dianjurkan membuka panduan lain.

No comments:

Post a Comment