Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, January 4, 2013

Islam Agama "Dakwah"

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduran umat islam berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya. Semakin gencar dan tepat dakwah itu disampaikan, maka akan semakin baik pula hasilnya.
Dakwah sendiri yang kita ketahui  artinya mengajak, menyeru umat untuk ke jalan kebenaran beramal nelaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi masyarakat yang madani.
Kegiatan dakwah merupakan kewajiban untuk semua umat muslim di dunia. Kegiatan berdakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah saja. Tapi banyak cara untuk melakukan dakwah, bahkan media elektronik on-line seperti internet sekalipun bisa dijadikan untuk media dakwah bagi kaum muslim sekarang ini. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia dari hari ke hari semakin tidak menentu keadaanya baik itu segi moralitas keagamaan maupun kehidupan sosial, ekonomi atau politik. Jadi sudah sepantasnya masyarakat muslim ini untuk banyak melakukan dakwah baik secara lisan, tulisan, melalui media, dan alat yang menunjang untuk berdakwah lainnya. Sehingga dengan dilakukannya dakwah setidaknya dapat memperbaiki keimanan individu, kelompok ataupun masyarakat pada umumnya
Akan tetapi pada pembahasan kali ini kami hanya akan menjelaskan mengenai Hakikat konsep dakwah, tabligh, dan propaganda.







1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Apa pengertian dari dakwah, tabligh, dan propaganda?
2.    Apa perbedaan dakwah, tabligh, dan propaganda?
3.    Apa tujuan dari dakwah, tabligh, dan propaganda?

1.3  TUJUAN MASALAH
1.    Untuk mengetahui pengertian dakwah, tabligh, dan propaganda
2.    Untuk mengetahui perbedaan dakwah, tabligh, dan propaganda
3.    Untuk mengetahui tujuan dakwah, tabligh, dan propaganda























BAB II
PEMBAHASAN

2.1   DAKWAH
  1. Definisi Dakwah
Secara etimologis (harfiyah) dakwah (دعوة) merupakan isim mashdar yang berasal dari kata kerja/fi’il, yaitu (  يدعودعا ) da’a, yad’u, da’wah, , yang diartikan sebagai mengajak/menyeru, mengundang, memanggil, seruan, permohonan dan mendorong dan meminta[1]. Istilah dakwah ini sering diberi arti yang sama dengan istilah-istilah tabligh, amr ma’ruf dan nahi mungkar, mau’idzhoh hasanah, tabsyir, indzar, washiyah, tarbiyah, ta’lim dan khotbah. Setelah mendata seluruh kata dakwah dapat didefinisikan bahwa dakwah Islam adalah sebagai kegiatan mengajak, mendorong, dan memotivasi orang lain berdasarkan bashirah untuk meniti jalan Allah dan istiqoamah dijalaNya serta berjuang bersama meninggikan agama Allah. Oleh karena itu, secara terminologis pengertian dakwah dimaknai dari aspek positif ajakan tersebut, yaitu ajakan kepada kebaikan dan keselamatan dunia akhirat.
Sementara itu, para ulama memberikan definisi yang bervariasi mengenai kata dakwah, antara lain :
1.    Menurut Abdul Aziz, secara etimologi kata dakwah berarti: a. memanggil, b. menyeru; c. menegaskan atau membela sesuatu; d. Perbuatan atau Perkataan untuk menarik manusia kepada sesuatu; dan e. Memohon dan meminta, atau do’a.[2] Artinya, proses penyampaian pesan-pesan tertentu berupa ajakan, seruan, undangan, untuk mengikuti pesan tersebut atau menyeru dengan tujuan untuk mendorong seseorang supaya melakukan ciri-ciri tertentu.[3]
2.    Menurut Ali Mahfudz, menjelaskan bahwa dakwah sebagai proses mendorong manusia agar melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mend apat kebahagiaan di dunia dan di akhrat.[4]
Sedangkan pengertian dakwah menurut istilah (terminologi) diantaranya dapat mengambil isyarat dari surat al-Nahl (16);125, al-Baqarah(2); 208, al-Maidah (5);67, al-Ahzab(33); 21.yaitu:Firman Allah SWT.
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya TuhanMu Dialah yang lebih mengetahui tenang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-Nahl:125).

Berdasarkan ayat-ayat di atas, dipahami bahwa dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah (sistem islam) secara menyeluruh; baik dengan lisan, tulisan, maupun dengan perbuatan sebagai ikhtiar (upaya) muslim mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan pribadi (syahsiyah), keluarga (usrah) dan masyarakat (jamaah) dalam semua segi kehidupan secara menyeluruh sehingga terwujud khairul ummah(masyarakat madani).

  1. Tujuan dan Keutamaan Dakwah
1.    Tujuan dakwah
a.    Meningkatkan Kalimat Allah
Tujuan utama dari diciptakannya hidup dan kehidupan ini tiada lain dan tiada bukan melainkan agar semua manusia tunduk dan patuh menghambakan diri kepada sang penciptanya yaitu Allah  yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya. Firman Allah SWT.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(QS. Adz Dzariyat{51}:56).
Oleh karena itu, sudah seharusnya jika setiap muslim sebagai manusia pilihan berkewajiban untuk menegakkan kalimat Allah diseluruh penjuru alam raya. Yaitu menyeru seluruh umat manusia agar kembali kepada Allah, berpegang teguh pada tali-Nya (dienul Islam), menyembah dan menesakan-Nya tampa mensekutukan-Nya dengan sesuatupun dari ciptaan-Nya[5]. Maka, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa sesungguhnya “TUJUAN INTI DAKWAH” pada akikatnya dirumuskan pada ungkapan:
نقل العباد من عبودية العباد إلى عبودية رب العباد  
Artinya: “Mengubah manusia dari menyembah hamba menjadi menyembah Tuhannya hamba”
b.    Melanjutkan Risalah Nabawiyah
Ketika Allah memerintahkan ibadah kepada manusia dan hal itu tidak bisa ditetapkan oleh akal mereka, maka dalam rangka memberikan petunjuk dan penjelasan Allah memilih para nabi dan rasul sebagai pembawa risalah dimuka bumi. Mereka dibekali kitab dan diutus dengan membawa misi yang sama yaitu menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Mereka adalah para imam penyebar hidayah (Aimmatul Huda) yang akan membimbing manusia kepada jalan yang lurus (ash Shirath al-Mustaqim). Kehadiran mereka merupakan bukti betapa besarnya perhatian dan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sejarah tampak jelas bagaimana mereka didatangkan satu persatu, sebagian menyusul sebagian yang lain, hadir silih berganti. Allah akan membangkitkan seorang nabi manakala manusia telah durhaka dan jah dari-Nya. Saat tanaman dan sendi-sendi kehidupan rusak, sikap dan tingkah laku telah melenceng dari kebenaran, dosa dan kemaksiatan bertebaran, ketika itulah proses perbaikan dan pembenahan dibutuhkan. Lewat para nabi dan rasul inilah Allah melakukan pendidikan, pembenahan dan penyelamatan. Firman Allah SWT.
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4 $tBur y#n=tG÷z$# ÏmŠÏù žwÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $JŠøót/ óOßgoY÷t/ ( yygsù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ª!$#ur Ïôgtƒ `tB âä!$t±o 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ ?LìÉ)tGó¡B ÇËÊÌÈ   
Artinya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.(QS. Al-Baqarah{2}:213)
c.    Mengeluarkan Manusia dari Kegelapan Menuju Cahaya
Firman Allah SWT.
!9# 4 ë=»tGÅ2 çm»oYø9tRr& y7øs9Î) yl̍÷çGÏ9 }¨$¨Z9$# z`ÏB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ÈbøŒÎ*Î/ óOÎgÎn/u 4n<Î) ÅÞºuŽÅÀ ̓Íyèø9$# ÏÏJptø:$# ÇÊÈ
Artinya:  Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S. Ibrahim{14}:1).[6]
Ibnu Katsir berkata[7]: “Sesungguhnya kami mengutusmu wahai Muhammad dengan membawa kitab ini supaya kamu mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju hidayahdan kebenaran”
Ayat ini berisi penjelasan tentang misi utama Rasulullah SAW diutus sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Tugas utama beliau dengan risalah yang dibawanya dapat dibaca dari keberadaan huruf Lam yang berbunyi(supaya) dalam penggalan kalimat “   l̍÷çGÏ9   ” (supaya kamu mengeluarkan). Asy Syaukani[8] menyebutnya sebagai “Lam Lil Ghardh wal Ghayah” yang berarti huruf yang berfungsi untuk menunjukkan sebuah tujuan dan sasaran yang diharapkan dari suatu perbuatan. Jika demikian, maka mengeluarkan segenap umat manusia dari kegelapan menuju cahaya adalah tujuan dan sasaran yang bersifat fundamental dan prinsipil (pokok dan mendasar) dalam proses dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Tujuan dakwah secara umum sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-qur’an adalah mengajak umat manusia (mukmin, kafir, musyrik) kepada jalan yang benar yang diridlai Allah SWT. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat al-’Araf ayat 158.
Sedangkan tujuan dakwah secara khusus dapat dikalsifikasikan sebagai berikut;
1)   Mengajak orang yang belum masuk Islam untuk menerima Islam
2)   Amr ma’ruf, perbaikan dan pembangunan masyarakat
3)   Nahi munkar adalah muatan dakwah yang berusaha mendorong dan menggerakkan umat manusia untuk menolak dan meninggalkan hal-hal yang mungkar.
Mukti Ali berpendapat bahwa tujuan dari pada dakwah adalah menjadikan masyarakat Islam beriman kepada Allah SWT, jiwanya bersih diikuti perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ucapan batinya, mengagungkan Allah, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk
kepentingan umat manusia dan demi berbakti kepada Allah SWT.
2.    Keutamaan Dakwah
Ada beberapa keutamaan yang secara khusus diperuntukkan bagi mereka yang mau menunaikan tugas amar ma’ruf nahi mukar. Antara lain:
a.    Sebagai Shadaqah
Sabda Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya (sekelompok) manusia dari kalangan sahabat Rasulullah berkata:” Ya Rasulullah, telah pergi oaring-orang kaya dengan membawa pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka bersedaqah dengan kelebihan harta mereka.’ Beliau bersabda.” Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian agar kalian bisa bersedaqah? Sesungguhnya tiap tasbih itu shadaqah, tiap takbir itu shadaqah, tiap tahmid itu shdaqah, tiap takbir itu shadaqah,amar ma’ruf itu shadaqah, nahi munkar itu shadaqah.[9]
Hadist ini menceritakan tentang semangat dan gairah para shahabat dalam berislam serta kehidupan mereka yang senantiasa berfastabiqul khairat. Kaum lemah dan papa diantara mereka berfikir bahwa keuntungan dari kemuliaan telah berpihak sepenuhnya kepada saudara-saudara mereka yang mampu dan berharta. Sebab, dengan kelebihan harta mereka bisa dengan leluasa bershdaqah dan itu merupakan kebaikan yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak berharta. 
b.    Mendapat Pahala Yang Barlipat
Sabda Rasulullah Saw “Barang siapa yang mengajak kepada hidayah maka dia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kesesatan maka dia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka”[10].
Hadits ini menjelaskan bahwa bagi siapapun yang terhalang untuk melakukan kebaikan karena sebab atau udzur yang syar’i, hendaklah hal ini tidak menjadi penghalang baginya untuk menganjurkan kebaikan itu pada oran lain. Sebab, pada saat kita tak mampu (tidak sempat, tidak kuasa, tidak bisa, tidak mugkin dan sebagainya) untuk melaksanakan sebuah kebaikan, bukan berarti orang lainpun demikian. Bahkan, bisa jadi peluang, kesempatan dan kemungkinan untuk itu sangat terbuka luas bagi orang lain.
c.    Memperoleh Derajad Yang Tinggi
Seoran Da’i yang datang dengan membawa dakwah amar ma’ruf nahi munkar laksana tabib yang datang membawa obat kesembuhan. Ia hadir sebaga obor yang akan memberikan penerangan agar perjalanan hidup manusia selamat sampai tujuan. Keberadaan da’i ataupun ulama’ di tengah umat ibarat” pagar moral” yang akan  senantiasa menjadi stabilitas norma-norma islam dengan kemanusiaan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika fungsi dan kedudukan ulama’ bagi umat ini disetarakan dengan fungsi dan kedudukan nabi bagi bangsa bani Israil.
Sabda Rasulullah Saw “Adalah bani Israil mereka dipimpin oleh para Nabi, tiap kali seorang Nabi itu wafat akan diikuti dibelakangnya Nabi lagi. Dan sesungguhnya tiada Nabi lagi sesudahku, yang akan muncul adalah para khalifah yang banyak jumlahnya.” [11]
Abdul Aziz Abdul Sattar[12] menerangkan bahwa beramar ma’ruf dan bernahi mungkar merupakan derajad keutamaan manusia yang tinggi. Hal itu dikarenakan manusia dalam hidup terbagi menjadi beberapa kategori. Yaitu:
1)   Golongan jahat yang tidak memiliki kebajikan dan berbahaya bagi yang lain.
2)   Golongan yang tidak memiliki kebajikan dan keburukan.
3)   Golongan yang baik bagi diri sendiri namun tidak baik untuk orang lain.
4)   Golongan yang baik bagi diri sendiri dan orang lain.
Tidak dipungkiri bahwa glongan terakhir adalah manusia yang terbaik dan termulia dan mereka itulah yang berdakwa amar maruf nahi mungkar.
d.   Penduduk Langit Dan bumi Berdo’a Untuknya.
Sabda Rasulullah saw “Sesungguhya para malaikat akan mengepakkan sayapnya untuk pencari ilmu karena ridha’ terhadap apa yang dikerjakannya. Dan sesungguhnya oaring alim akan dimintakan ampun baginyaboleh penduduk langit dan bumi hingga ikan dilautan.(HR. Abu Daud, Tirmidzi).
Dalam riwayat lain yang bersumber dari Abu Umamah r.a ditemukan redaksi yang agak sedikit berbeda, berbunyi: “hingga semut di dalam lubangnya dan semuanya akan mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”.(Misykat al- Mashabih, no:213).
e.    Dihindarkan Dari Adzab
Firman Allah SWT “Telah dilaknati oaring-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya sangat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(QS. Al- Maidah{5}:78-79).
Ayat ini pada umumya difahami oleh para mufassir sebagai kecaman terhadap pelanggaran bani Israil yang sedemikian melampui batas (ya’taduun). Hal itu dikarenakan oleh sikap mereka yang acuh tak acuh, cuek dan tak ambil pusing terhadap dosa dan kemaksiatan yang muncul ditengah-tengah kehidupan mereka.
f.     Dihapuskan Dosa dan Kesalahannya
Sabda Rasulullah saw “Fitnah seseorang dalam keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh sholat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi munkar”. (‘HR. Bukhari.3321).
Badruddin al ‘Ainy Hanafy: menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “fitnah” disini adalah segala sesuatu yang bersifat jahat dan buruk (syarr) yang menimpa diri seseorang. Hal itu terjadi sebagai akibat dari kesalahan dan dosa-dosanya apakah yang berupa sesuatu yang tidak halal baginya atau meniggalkan sesuatu yang wajib atasnya. (‘Umdatul Qary Syarh Shahih al-Bukhari).


  1. Unsur-unsur Dakwah
1.   Subjek Dakwah(Da’i)
Da’i dalam perspektif ilmu komunikasi dapat dikategorikan sebagai komunikator yang bertugas menyebarkan dan menyampaikan informasi-informasi dari sumber (source) melalui saluran yang sesuai (chanel) pada komunikan (receiver). Untuk menjadi komunikator dituntut adanya kredibilitas yang tinggi yaitu suatu tingkat kepercayaan yang tinggi padanya dari komunikasinya.[13]
Kredibilitas seorang da’i tidak tumbuh dengan sendirinya, ia harus dibina atau dipupuk. Seorang da’i yang berkredibilitas tinggi adalah seorang yang mempunyai kompetensi dibidang yang ingin ia sebarkan, mempunyai jiwa yang tulus dalam beraktivitas, senang terhadap pesan-pesan yang ia miliki, berbudi luhur serta mempunyai status yang cukup walau tidak harus tinggi. Dari sana berarti seorang da’i yang ingin memiliki kredibilitas tinggi harus berupaya membentu dirinya dengan sungguh-sungguh.[14] Dari penjelasan ini menunjukkan bahwa diantara aspek yang mampu membangun kredibilitas adalah aspek yang berhubungan dengan kepribadian, sebuah sifat hakiki pada seorang da’i.
Kepribadian seorang da’i ada yang bersifat ruhaniah dan jasmaniah. Kepribadian yang bersifat ruhaniah diantaranya meliputi[15]:
a.    Iman dan taqwa kepada Allah
Taqwa dengan sebenar-benarnya dan mengimani, mengikuti aturan-aturannya.
b.    Ihsan yaitu berbuat baik
Berbuat baik kepada sesame, berbakti pada kedua orang tua, tolong menolong.
c.    Amanah
Memiliki rasa tanggung jawab atas kepercayaan atau tugas yang diembannya.
d.   Istiqamah
Konsisten atau teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran
e.    Al-haya adalah perasaan malu
Malu kepada Allah maupun malu kepada sesama makhluk Allah. Malu untuk melakukan perbuatan tidak terpuji.
f.     Ridha
Ridha menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Allah.
g.    Tulus dan ikhlas dan tidak mementingkan kepentingan diri pribadi
h.    Ramah dan penuh pengertian
Menunjukkan sikap hormat dan menghargai kepada siapapun
i.      Jujur dan amanah
Sikap ini terjadi kesesuaian antara apa yang dikatakan atau disampaikan dengan apa yang dilakukan atau diperbuat.
j.      Tidak egois
Tidak merasa dirinya lebih unggul dari yang lainnya.
k.    Antusias
Semangat dan positif dengan apa yang dilakukannya.
l.      Sabar dan tawakal
Pasrah dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha secara maksimal
m.  Berakhlak mulia atau memiliki budi pekerti mulia
n.    Disiplin dan bijaksana
Menepati seluruh norma agama dan masyarakat
o.    Wara’i dan berwibawa
Menjaga nama baik dan kehormatan diri
p.    Tanggung jawab
q.    Berpandangan dan berpengetahuan yang luas

Sedangkan kepribadian yang bersifat jasmaniah meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan penampilan lahir diantarannya:
a.    Sehat jasmani
Segala aktivitas yang dilakukan manusia sudah barang tentu akan optimal bila dikerjakan dalam keadaan sehat, termasuk aktivitas dakwah.
b.    Berpakaian necis dan pantas
Berpakaian yang dipandang baik menurut agama dan masyarakat

2.   Pesan Dakwah (Maudu’)
Maudu’ atau pesan dakwah adalah pesan-pesan, materi atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh da’i (subjek dakwah) kepada mad’u (objek dakwah), yaitu keseluruhan ajaran islam, yang ada di dalam Kitabullah maupun Sunah Rasul-Nya.[16] Atau disebut juga al-haq(kebenaran hakiki) yaitu al-Islam yang bersumber al-Qur’an.
Pendapat di atas senada dengan pendapat ending Saepudin Anshari; materi dakwah adalah al-Islam (al-Qur’an dan al-Sunnah) tentang berbagai soal prikehidupan dan penghidupan manusia.[17]
3.    Uslub (Metode Dakwah)
Metode secara bahasa Arab disebut Thariq atau Thariqah yang berarti jalan atau cara. Sedangkan Ushlub secara istilah, menurut Syaikh al-Jurjani adalah: “Sesuatu yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan dengan paradigma yang benar.
4.   Media Dakwah (Wasilah al-Da’wah)
Secara bahasa wasilah merupakan bahasa arab, yang bisa berarti al-wushlah, al-Ittishal, yaitu segala hal yang dapat menghantarkan tercapainya kepada sesuatu  yang dimaksud.
Dengan demikian, media dakwah adalah alat objektif yang menjadi saluran yang dapat menghubungkan ide dengan umat, suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaannya sangat urgent dalam menentukan perjalanan dakwah.
Menurut Muhammad Said Mubarak,[18] al-washilah juga bisa berarti al-wushlah yakni alat yang menjadi perantara untuk menyampaikan sesuatu kepada yang dituju. Selanjutnya, menurut beliau terdapat dua bentuk washilah dalam dakwah, yakni :
a.    Maknawi, yaitu suatu perantara yang mesti dilakukan oleh seorang da’i dalam berdakwah, berusaha keras mencari materi yang baik, serta waktu dan tempat yang tepat guna kegiatan dakwah.
b.    Madiyah, yaitu berupa : 1. (Thatbiqiyah), seperti masjid aula dan pusat dakwah islam 2. (Thaqniyah), sseperti pengeras suara dan berbagai peralatan modern lainnya, 3. (Asasiyah), berupa ucapan seperti nasihat dan wejangan serta gerakan menempuh perjalanan.  
5.   Objek Dakwah (Mad’u)
Menurut Abdul Munir membedakan objek dakwah menjadi dua kategori. Pertama, umat dakwah yaitu masyarakat luas yang belum memeluk agama islam (Non muslim), Kedua, umat ijabah yaitu mereka yang telah memeluk agama islam.
Dalam proses dan pelaksanaan dakwah, mad’u dapat bersifat individu atau kolektif. Individu karena memang tujuan dakwah adalah mengajak dan mendorong manusia untuk mengamalkan ajaran agama islam dalam kehidupan sehari-hari agar memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bersifat kolektif karena dakwah juga bertujuan untuk membentuk tatanan kehidupan masyarakat yang bersendikan islam. Masyarakat islam tidak hanya terbentuk manakala tidak didukung oleh anggota yang tidak islami. Demikian pula sebaliknya, individu yang islami tidak akan terbentuk di dalam masyarakat yang tidak menghargai Islam (Aris Saefulloh, 2003:48)
6.   Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah hal tertentu yang ingin dicapai pada dasarnya dakwah merupakan rangkaian kegiatan atau proses dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan ini dimaksudkan sebagai pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab, tanpa tujuan yang jelas seluruh kegiatan dakwah akan sia-sia. Apalagi bila ditinjau dari pendekatan sistem, tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah.
Nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh oleh keseluruhan tindakan dakwah. Untuk tercapainya tujuan utama inilah, semua penyusunan, semua rencana, dan tindakan dakwah harus ditujukan dan diarahkan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang da’i untuk membangun insan-insan yang berkualitas ini. Diantaranya :
a.         Tau karakter yang mau dibangun
b.         Tau kebutuhannya
c.         Tau masalahnya
d.        Tau pemecahannya
7.   Sasaran Dakwah
Sehubungan dengan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat, bila dilihat dari aspek kehidupan psikologis, maka dalam pelaksanaan program kegiatan berbagai permasalahan yang menyangkut sasaran dakwah perlu mendapat pertimbangan yang tepat yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.    Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis:
1)   Masyarakat terasing
2)   Masyarakat pedesaan
3)   Masyarakat kota besar dan kecil
4)   Masyarakat di daerah marginal dari kota besar
b.    Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi struktur kelembagaan:
1)   Masyarakat
2)   Pemerintahan
3)   Keluarga
c.    Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi sosial kultural:
1)   Golongan priyayi
2)   Abangan (aliran islam yang mempunyai sifat lunak terhadap adat istiadat lama masyarakat. Aliran islam ini diajarkan oleh sunan kalijaga)
3)   Santri
d.   Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia:
1)   Anak-anak
2)   Remaja
3)   Orang tua
e.    Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi profesi atau pekerjaan:
1)   Golongan petani
2)   Golongan pedagang
3)   Golongan seniman
4)   Golongan buruh
5)   Golongan pegawai negeri
f.     Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup sosial ekonomis:
1)   Golongan orang kaya
2)   Golongan orang menengah
3)   Golongan orang miskin
g.    Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin;
1)   Golongan wanita
2)   Golongan pria
3)   Golongan lain sebagainya
h.    Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi khusus:
1)   Golongan masyarakat tuna susila
2)   Golongan masyarakat tuna wisma
3)   Golongan masyarakat tuna karya
4)   Narapidana

Bila dilihat dari kehidupan psikologis masing-masing golongan masyarakat tersebut di atas memiliki ciri-ciri khusus yang menuntut kepada sistem dan metode pendekatan dakwah antara yang satu dengan yang lainnya. Sistem pendekatan dan metode dakwah yang didasari dengan prinsip-prinsip psikologis yang berbeda merupakan suatu keharusan bilamana kita menghendaki efektivitas dan efisiensi dalam program kegiatan dakwah dan penerangan agama di kalangan mereka.

2.2    TABLIGH
Secara bahasa kata tabligh berasal dari akar kata b-l-gh: (ballagha, yuballighu, tablighan), yang berarti menyampaikan.[19] Tabligh adalah kata kerja transitif, yang berarti membuat seseorang sampai, menyampaikan, atau melaporkan, dalam arti menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Dalam bahasa Arab orang yang menyampaikan disebut mubaligh.
Dalam pandangan Muhammad A’la Thanvi, seorang leksikograf abad kedelapan belas di India, membahas tabligh sebagai sebuah istilah dalam ilmu retorika, yang didefinisikan sebagai sebuah pernyataan kesastraan (literary claim) yang secara fisik maupun logis mungkin, karena dalam retorika salah satu aspeknya keindahan kata yang dirangkai, bagaimana orang yang diajak bicara bisa terpengaruh, terbuai atu terbius, serta yakin dengan untaian kata-kata atau pesan yang disampaikan. Jadi menurut pendapat ini dalam tabligh ada aspek yang berhubungan dengan kepiawian penyampai pesan dalam merangkai kata-kata yang indah yang mampu membuat lawan bicara terpesona.
Sedangkan menurut Dr. Ibrahim Imam dalam al-Ushul al-‘Ilan al-Islamy, tabligh adalah memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau dari berbagai kesulitan.[20]
Sedangkan dalam konteks ajaran Islam, tabligh adalah penyampaian dan pemberitaan tentang ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia, yang dengan penyampaian dan pemberitaan tersebut, pemberita menjadi terlepas dari beban kewajiban memberitakan dan pihak penerima berita menjadi terikat dengannya. Dan ilmu yang mempelajari tentang tabligh tersebut disebut ilmu tabligh, yaitu ilmu yang membahas tentang tata cara melakukan tabligh al-Islamiyah dengan menggunakan metode ilmiah dengan pendekatan istinbath, iqtibas dan istiqra demi tegaknya kebenaran dan keadilan.
Dalam konsep Islam, tabligh merupakan salah satu perintah yang dibebankan kepada para utusan-Nya. Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah beliau menerima risalah (ajaran kerasulan yang diwahyukan) dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, yang selanjutnya tugas ini diteruskan oleh pengikut atau umatnya. Bahkan di antara kesempurnaan Muhammad SAW adalah beliau memiliki empat sifat, yaitu: shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh.
Sifat tabligh yang dimiliki Muhammad SAW dalam pandangan ulama as-‘Ariyah merupakan sifat wajib yang harus ada pada Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT yang harus disampaikan kembali kepada umatnya. Dengan demikian, dalam pandangan as-‘Ariyah, perintah tabligh itu merupakan perintah yang langsung dari Allah, dan merupakan perintah kedua setelah Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT.
Dari segi sifatnya, perintah tabligh tidak bersifat insidental melainkan bersifat kontinu yakni sejak Muhammad SAW diangkat sebagai utusan Allah sampai menjelang kematian beliau, serta dilanjutkan oleh para pengikutnya.
Sedangkan dari segi materi (mawdhu) tabligh, materi yang harus disampaikan adalah ar-Risalah, yaitu pesan-pesan yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Pesan-pesan itu menjadi ajaran yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta menjadi pedoman hidup bagi umat Islam.
Dalam perkembangan ilmu dakwah, selanjutnya tabligh diartikan lebih spesifik dan menjadi salah satu bentuk dakwah diantara bentuk-bentuk dakwah yang lain yang secara keilmuan dapat dibedakan walaupun dalam tataran praktis merupakan satu kesatuan. Tabligh merupakan bentuk dakwah dengan cara menyampaikan atau menyebarluaskan (transmisi) ajaran Islam melalui media mimbar atau media massa (baik elektronik atau cetak), dengan sasaran orang banyak atau khalayak. Tabligh pada prinsipnya bersifat kontinu, artinya sebagai kegiatan dakwah yang senantiasa terus menerus harus dilakukan. Kaum muslimin punya kewajiban untuk terus mmenerus menyampaikan (tabligh) ajaran Islam sampai akhir hayatnya. Akan tetapi tabligh dilihat dari sifat kegiatan praktisnya dalam beberapa kondisi bersifat insidental, oral, masal, seremonial, bahkan kolosal, terutama tabligh dalam kategori ceramah massal.
Karakteristik lain dari dakwah tabligh adalah dari aspek orientasi materi yang biasanya atas dasar pola kecenderungan masalah yang berkembang dalam masyarakat secara umum dalam semua segi kehidupan yang berdampak pada arah perkembangan sistem dan sejarah kehidupan jamaah atau masyarakat.
Sedangkan dari segi metode (ushlub) tabligh, apabila mengacu kepada definisi dan contoh tabligh yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dapat dibagi menjadi dua, yaitu tabligh melalui lisan (khithabah) dan tabligh melalui lisan (kitabah).
Di antara metode tabligh adalah khithabah, dilihat dari segi bahasa kata khithabah berasal dari akar kata (khathaba, yakhthubu, khuthbatan, atau khithaabatan),  berarti: berkhutbah, berpidato, meminang, melamarkan, bercakap-cakap, mengirim surat. Poerwadarminta mengartikan khithabah dalam bahasa Indonesia sinonim dengan kata pidato, terutama tentang menguraikan sesuatu ajaran Islam. Dan secara bahasa khithabah juga terkadang diartikan sebagai pengajaran, pembicaraan dan nasihat.
Khithabah jika ditinjau dari segi istilah sebagaimana diungkapkan oleh Harun Nasution, rasionalis Islam Indonesia adalah ceramah atau pidato yang mengandung penjelasan-penjelasan tentang sesuatu atau beberapa masalah yang disampaikan seseorang di hadapan kelompok orang atau khalayak. Sedangkan menurut Syeikh al-Jurnaji khithabah adalah sebagai suatu upaya menimbulkan rasa ingin tahu terhadap orang lain tentang suatu perkara yang berguna baginya baik mengenai urusan dunia maupun akhirat.[21] Dan dari segi prakteknya, khithabah itu merupakan pidato yang disampaikan oleh seorang khatib yang biasanya disampaikan di masjid ketika ibadah jum’at, peringatan hari-hari raya atau pada kesempatan lain.[22] Khitabah ini erat kaitannya dengan media mimbar yaitu proses penyampaian ajaran Islam melalui bahasa lisan kepada kelompok besar secara langsung dalam suasana tatap muka atau tidak langsung yaitu bermedia dan satu arah (ta’lim jumhur).

Proses Khitabah
 






Dengan demikian, khitabah dapat diartikan sebagai upaya sosialisasi nilai-nilai Islam melalui media lisan baik yang terkait langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah maupun yang tidak terkait langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah.
Berdasarkan rumusan tersebut dapat disimpulkan, bahwa dari segi pelaksanaannya khitabah ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a.    Khitabah ad-Diniyah
Yaitu khitabah yang terikat langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah. Contohnya yaitu: khutbah Idul Fitri, Idul Adha, Jum’at, Istisqa, Gerhana Bulan, Gerhana Matahari, Wuquf di Arafah, dll.
b.    Khitabah Ta’tsiriyyah
Yaitu khithabah yang tidak terikat secara langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah. Contohnya yaitu: berbgai macam kegiatan tabligh akbar seperti khitabah pada peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, peringatan tahun baru 1 Muharram, Nuzulul Qur’an, dll.
Terlebih kegiatan khitabah ini akan lebih luas jangkauannya ketika didukung oleh media-media komunikasi elektronik modern, umpamanya disiarkan langsung oleh stasiun televise, radio, atau dibuat dan diperbanyak dalam bentuk kaset, VCD, DVD, dll.
Tabligh melalui media cetak (tulisan) disebut dengan kitabah, yaitu proses penyampaian ajaran Islam melalui bahasa tulisan bisa berupa buku, majalah, jurnal, surat kabar, pamlet, brosur, dan lain-lain yang berisikan pesan-pesan keislaman. Termasuk dalam kategori ini bentuk-bentuk media cetak lain berupa lukisan, kaligrafi, photo yang mengandung pesanpesan keisalaman atau menggugah rasa simpatik terhadap nilai-nilai keislaman.

2.3    PROPAGANDA
A.    Definisi Propaganda
Propaganda berasal dari bahasa Latin modern yaitu “propagare” yang berarti mengembangkan atau memekarkan. Propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak lain.
Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta yang pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif yang membacanya.
Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda (Garth S. Jowett and Victoria O'Donnell, Propaganda And Persuasion).
Dalam Everyman's Encyclopedia propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik.
Leonard W. Dobb, sebagai pakar opini publik, menyatakan bahwa propaganda merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh individu-individu yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok termasuk dengan cara menggunakan sugesti, sehingga berakibat menjadi kontrol terhadap kegiatan kelompok tersebut.
Dari beberapa definisi tersebut di atas, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, sebagai berikut:
1.    Adanya suatu upaya dari individu, individu yang dilembagakan serta lembaga itu sendiri atau sering disebut propagandis yang dengan sengaja melakukan penyebaran pesan untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat, perilaku dari sasaran propaganda.
2.    Kegiatan propaganda dilakukan secara terus-menerus (kontinu) sampai dengan tujuan atau keinginannya tercapai atau paling minimal mendekati kea rah tujuan.
3.    Proses penyampaian ide, gagasan, kepercayaan, atau doktrin dilakukan dengan cara memanipulasi faktor internal psikologis sasaran melalui cara-cara sugesti, rumor atau agitasi (bahkan dengan provokatif), untuk menanamkan pemahaman tentang hal yang salah ataupun benar di benak khalayak sasaran.
4.    Memiliki tujuan untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku individu atau kelompok lain. Untuk mencapai tujuan tersebut maka berbagai cara dilakukan sedemikian  rupa tanpa mengindahkan etika dan estetika dalam berkomunikasi.
5.    Propaganda dilakukan dengan usaha sadar. Artinya propaganda dilakukan melalui proses managerial, yakni dari kegiatan perencanaan sampai dengan pelaksanaan sampai dengan dievaluasi.[23]

B.     Media Propaganda
1.    Media Massa
Media massa merupakan jenis media yang ditunjukkan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonym, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
2.    Buku
Sifat dari penggunaan buku sebagai praktek propaganda adalah pendokumentasian inormasi, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami isi informasi dari buku tersebut.
3.    Selebaran (Flier)
Penggunaan selebaran sebagai saluran opini publik.
4.    Kehumasan[24]

C.    Komponen-komponen Propaganda
1.    Pihak yang menyebarkan pesan.
2.    Dilakukan secara terus menerus.
3.    Terdapat proses penyampaian gagasan, ide/ kepercayaan, atau doktrin.
4.    Mempunyai tujuan untuk mengubah opini, sikap, dan perilaku individu/ kelompok.
5.    Menggunakan cara sistematis prosedural dan perencanaan.
6.    Dirancang sebagai sebuah program dengan tujuan yang kongkrit.

D.    Hubungan Antara Iklan, Humas dan Propaganda
Dalam bidang periklanan atau kehumasan untuk tujuan komersial, bisa jadi sesuatu itu bukan murni propaganda, namun dapat mengandung elemen propaganda saat pesan bertujuan untuk menyesatkan penerima pesan dengan menyembunyikan:
1.    Sumber informasi
2.    Tujuan informan
3.    Sisi lain cerita (hanya satu pihak)
4.    Konsekuensi saat pesan ini diadopsi.

E.     Teknik-Teknik Propaganda
Sebagaimana komunikasi, kegiatan propaganda pasti memiliki tujuan. Maka untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan teknik-teknik tertentu. Untuk melakukan proses itu, sejumlah teknik propaganda dikerahkan agar tepat sasaran. Teknik-teknik tersebut ada 7 macam, yaitu:
1.    Name Calling
Pemberian label buruk pada suatu gagasan, dipakai untuk membuat kita menolak dan mengutuk ide tanpa mengamati bukti. Name Calling tidak banyak muncul di dunia periklanan, karena mungkin ada keenggaan untuk menyebutkan produk yang sedang bersaing, bahkan dengan menjelekkannya.
2.    Gittering Generalities
Gittering Generalities menghubungkan sesuatu dengan suatu kata “bijak” yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui tanpa memeriksa bukti-bukti. Gittering Generalities kebanyakan dipakai dilingkup pemasaran dan atau periklanan. Kelemahan Gittering Generalities adalah menggunakan kata-kata bijak dengan sebutan yang agung dan luhur terkesan menganggap dirinya yang paling benar, hebat dan dipercaya. Sedang kompetitornya dianggap salah atau tidak benar. 
3.    Transfer
Transfer adalah membawa otoritas, dukungan dan gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima. Transfer bekerja melalui sebuah proses asosiasi. Adapun tujuan propagandis adalah menghubungkan gagasan atau produk dengan sesuatu yang dikagumi. Transfer digunakan dengan memakai pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berwibawa dalam lingkungan tertentu dan atau memanfaatkan symbol-simbol tertentu. 
4.    Testimonials
Testimonials (kesaksian) adalah member kesempatan kepada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengetakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu tidak baik atau buruk. Dalam teknik ini digunakan nama seseorang terkemuka yang mempunyai otoritas dan prestise social tinggi di dalam meyakinkan sesuatu hal dengan jalan menyatakan bahwa hal tersebut didukung oleh orang-orang terkemuka.
5.    Plain Folk
Teknik ini adalah teknik propaganda dengan menggunakan cara member identifikasi terhadap suatu ide. Plain Folk (orang biasa) adalah metode yang dipakai oleh pembicara dalam upayanya meyakinkan khalayak bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari rakyat dan rakyat yang lugu.
6.    Card Stacking
Card Stacking meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan, pernyataan-pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada sebuah gagasan, program, orang atau produk.
7.    Bandwagon
Bandwagon memiliki tema. Para pelaku propaganda berusaha meyakinkan kita bahwa semua anggota suatu kelompok dimana kita menjadi anggotanya menerima programnya dan oleh karena itu kita harus mengikuti kelompok kita dan menggabungkan diri dalam kelompok itu.[25]










BAB III
PENUTUP

3.1    KESIMPULAN

Dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah (sistem islam) secara menyeluruh; baik dengan lisan, tulisan, maupun dengan perbuatan sebagai ikhtiar (upaya) muslim mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan pribadi (syahsiyah), keluarga (usrah) dan masyarakat (jamaah) dalam semua segi kehidupan secara menyeluruh sehingga terwujud khairul ummah(masyarakat madani).
Tabligh adalah penyampaian dan pemberitaan tentang ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia, yang dengan penyampaian dan pemberitaan tersebut, pemberita menjadi terlepas dari beban kewajiban memberitakan dan pihak penerima berita menjadi terikat dengannya.
Propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak lain.















DAFTAR RUJUKAN

Al-Jurjani, Syeikh. Al-Ta’rif. Mesir: Musthafa al-Bab al-Halaby.
Enjang dan Aliyudin. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.
Huda, Syamsul. 2011. Komando Dakwah, Kajian Ilmiah Tentang Esensi, Metodologi dan Kompetensi. Bojonegoro: Pustaka Hakami.
Ilahi, Wahyu. 2010. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Imam, Ibrahim. 1985. Ushul al-‘Ilam al-Islamy. Mesir: Kairo, Dar al-Fikr al-‘Arabiy.
Khasanah, Siti Uswatun. 2007. Berdakwah Dengan Jalan Debat Antara Muslim Dan Non Muslim. Yogyakarta: STAIN Purwokwrto press.
L. Pisto, John. 2001. Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam  Modern, Jilid III. Bandung: Mizan.
Samsul Munir, Amin. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.
Suprapto, Tommy. 2011. Komunikasi Propaganda. Yogyakarta: CAPS.
Tajiri, Hajir. 2009. Etika Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.
Warson Munawir, Ahmad. 1984. Al-Munawwir Kamus Besar Arab-Indonesia. Yogyakarta: Ponpes Al-Munawwir.
Wulan Dahlia. Blogspot.com. Diakses pada tanggal 30 September 2011.
Yani, Ahmad. 2006. Materi Dakwah Pilihan. Jakarta: Al-Qalam.


[1] Syamsul Huda, Komando Dakwah, kajian ilmiah tentang Esensi, Metodologi dan Kompetensi,(Bojonegoro: Pustaka Hakami,2011),hlm.11
[2] Abdul Aziz, Islam al-Wakhudu al-Diniy, (Mesir: Attiqarah al-Kubra, 1997), hlm.26
[3] Ahmad Subandi, Ilmu Dakwah pengantar Kearah Metodologi, (Bandung: Yayasan Syahida, 1994), cet. Ke I, hlm.10.
[4] Hamzah Ya’qub, Publisistik Islam, Teknik Dakwah dan Leadership, (Jakarta: Diponegoro, 1992), hlm.12-20.
[5] Syamsul Huda, Komando Dakwah, ……………………,hlm.120
[6] Ayat yang serupa (QS. Al-Maidah,5:16),(QS.Ath Thalaq,65:11) dan (QS. Al-Hadid,57:9).
[7] Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim
[8] Tafsir Fath al-Qadir

[9] HR. Muslim (720,1006), Ahmad (5/167),  Abu Daud (5243-4) dari Abu Dzar
[10] HR. Muslim (2674) dari Abu Hurairah ra…………
[11] HR, Bukhari (3455) dan Muslim (1842) dari Abu Hurairah ra….
[12] Al Amr bil Ma’ruf wa an  Nahy an al-Munkar, 13-15
[13] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: cv Gaya Media Pertama,1997),hlm.9
[14][14] Slamet Muhaemin Abda, Prinsip-Prinsip Metodologi Dakwah (Surabaya: Al-Ikhas,1994) hlm.68
[15][15]  Enjang, Dasar-Dasar Ilmu Dakwah , Pendekatan Filosof dan Praktis (Bandung: Widya Padjadjaran.2009).
[16] Hafi Anshari, Pemahaman dan Pengamalan Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), hlm.146
[17] Endang Saepuddin Anshari, Wawasan Islam, (Jakarta: Rajawali Press,1991),hlm.192
[18] Muhammad Said Mubarak, Al-Dakwah wa al-Idarah, (Madinah al-Munawarah: Dar  al-dirasah al-Iqtisadiyah, 426 H),hlm.46.
[19] Ahmad Warson Munawir, Al-Munawwir Kamus Besar Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Ponpes Al-Munawwir, 1984), hlm. 115
[20] Dr. Ibrahim Imam, Ushul al-‘Ilam al-Islamy, (Mesir: Kairo, Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1985), hlm. 14
[21] Syeikh al-Jurjani, al-Ta’rif, (Mesir: Musthafa al-Bab al-Halaby, tt), hlm. 89
[22] John L. Pisto, Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam  Modern, Jilid III, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 223
[23] Drs. Tommy Suprapto, Komunikasi Propaganda, (Yogyakarta: CAPS, 2011), hlm. 21-22
[24] Ibid., hlm. 94-104
[25] Ibid., hlm. 78-87

No comments:

Post a Comment