Tuesday, January 15, 2013

Mustafa Kemal, Ghazi dan Revivalisme pembaharuan pasca Mustafa Kemal Attaturk di turki



Rafa dan Ainul Yaqin
Januari, 2013
 
BAB I
PENDAHULUAN

Turki adalah negara dimana kekhalifahan terbesar Islam pernah ada disana, yakni Turki Ustmani. Oleh karena itu, keterikatan bangsa Turki terhadap Islam sangat kuat. Islam sudah menyatu dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Namun, kejayaan Turki Ustmani ada masanya, dan setelah runtuhnya kejayaan Turki Ustmani, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam, muncullah gerakan-gerakan pembaharuan di Turki. Pembaharuan-pembaharuan tersebut bertujuan membawa umat Islam Turki kepada kemajuan. Kontak dengan dunia barat melalui perkembangan IPTEK menginspirasi seorang Mustafa Kemal untuk melakukan pembaharuan secara besar-besaran di Turki dengan memproklamirkan Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Dengan demikian seorang Mustafa Kemal telah merubah sistem kekhalifahan yang telah ada ratusan tahun.

Dari penjelasan di atas penulis mencoba memaparkan salah satu tokoh yakni Mustafa Kemal Attaturk yang melakukan eksperimen sejarah dengan gerakan pembaharuan di Turki. Selain itu penulis juga menjelaskan bagaimanakah prinsip sekulerisme yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk di turki dan bagaimanakah gerakan (revivalisme) pembaharuan pasca Mustafa Kemal Attaturk di turki.











BAB II
PEMBAHASAN


A. BIOGRAFI MUSTAFA KEMAL ATTATURK

Turki memang nyaris tidak pernah dipisahkan dengan nama Mustafa Kemal Attaturk. Mustafa Kemal lahir pada 1881 di suatu daerah di Salonika. Sering dikenal dengan nama Mustafa Kemal Pasya[1]. Dan dikenal juga dengan Mustafa Kemal Attaturk (Bapak Bangsa Turki)[2]. Beliau juga mendapat julukan Ghazi, artinya sang pembela keyakinan. Julukan ini diberikan ketika beliau dengan gemilang membawa Turki kepada kemenangan dalam perang kemerdekaan melawan Yunani, Mustafa Kemal dielu-elukan dan dipanggil dengan gelar kehormatan Ghazi.

Ayahnya bernama Ali Riza Efendi, seorang pegawai rendahan di salah satu kantor pemerintahan di kota itu[3]. Beliau sempat mencoba lari dari kemalangan hidupnya dengan cara menegak racun. Sedangkan Ibunya bernama Zubayde, seorang wanita sholihah[4]. Ali Riza meninggal saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun sehingga ia kemudian diasuh oleh ibunya.

Sejak kecil, Mustafa Kemal memiliki bakat untuk selalu memberontak terhadap segala keadaan yang tidak berkenan di hatinya. Ia secara brutal menentang peraturan apapun. Bahkan, tanpa malu-malu ia sering memaki-maki gurunya saat bersekolah. Sehingga suatu hari pernah ditampar salah satu gurunya karena sang guru sudah kehilangan kesabaran menghadapi perilaku Mustafa Kemal. Dan akibatnya, Mustafa Kemal kecil lari dan tidak mau masuk sekolah lagi. Mustafa kecil juga terkenal arogan dalam bergaul. Ia tidak mau sembarangan dalam memilih kawan. Akhirnya, ibunya mengirim dia ke sekolah militer, sehingga riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (Sekolah Menengah Militer Turki). Tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di Kota Monastir dan pada tanggal 13 maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul. Tahun 1902 ia ditunjuk sebagai salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat Kapten. Perjuangan Mustafa Kemal mewujudkan pembaharuan untuk kemajuan Turki penuh liku, dan mencapai klimaksnya ketika ia menjadi Presiden Republik Turki. Bangsa Eropa mengakui Republik Turki yang ditandai oleh Perjanjian Lausanne pada tahun 1923. Mustafa Kemal meninggal dunia tahun 1938.

B. SEKULERISME MUSTAFA KEMAL ATTATURK DI TURKI

Dalam “sejarah dan kebudayaan Islam imperium Turki Usmani”, sekuler diartikan sebagai berikut, bahwa tidak ada campur tangan agama atau mazhab agama seseorang dalam bentuk apapun atau agama (Mazhab agama) seseorang itu tidak boleh menjadi perintang untuk memperoleh hak kemanusiaannya[5].
Sedangkan sekularisasi menurut Muhammad Arkoun adalah sikap spirit dan merupakan kompetisi untuk menguasai kebenaran atau mencapai kebenaran. Menurut beliau adalah sikap terhadap pengetahuan yaitu sikap yang berupaya menjadi terbuka dan bebas sampai sejauh mungkin, atau sampai batas yang memungkinkannya tidak hanya syarat-syarat politis dan social, tetapi juga kemajuan metodelogi, pengetahuan dan teknik yang mendominasi dalam suatu masa dan tempat[6].
Akan tetapi menurut Ahmad Syalaby pengertian sekuler yang lebih populer berbeda dengan pengertian sekuler diatas, karena pengertian sekuler yang lebih populer itu hampir sama dengan pengertian atheis. Pengertian sekuler yang populerlah yang digalakkan di Turki pada masa Mustafa Kemal. Berikut ini akan kami kemukakan beberapa peristiwa perubahan pada beberapa bidang dan kemasyarakatan yang ditempuh oleh Mustafa Kemal Ataturk (Bapak Turki) dalam sejarah Turki sesuai dengan program kelompok persekutuan dan kemajuan (Al-Ijtihad wa at Faraqqi) yang telah mewarnai lembaran baru sejarah Turki. Perubahan-perubahan tersebut antara lain :

  1. Menghapus jabatan khalifah dan jabatanMenteri Syari’at dan Waqaf.
  2. Menghapus seluruh institusi keagamaan yang ada dalam pemerintahan.
  3. Menghapus artikel dalam UUD yang berbunyi bahwa “agama Islam adalah agama Negara”.
  4. Menghapus Syariat Islam dan sebagai gantinya Syariat Aiqat (Hukum Adat) diberlakukan akan tetapi Syariat Aiqat juga kemudian diganti lagi dengan hukum positif model Swiss dan hukum pidana ala Itali.
  5. Hari libur resmi mingguan dirubah dari hari Jum’at menjadi hari minggu, di samping mengganti kalender Hijaiyyah dengan kalender Miladi.
  6. Dalam Hukum waris, beliau menyamakan bagian bagian laki-laki dan perempuan dan yang menjadi ahli waris adalah hanya keluarga mayat saja (anak istri) lain tidak.
  7. Jumlah Masjid dibatasi dan tidak dibenarkan luas halaman masjid lebih dari lima ratus meter. Kemudian para khatibnya pun yang diangkat oleh pemerintahan dikurangi hingga diseluruh wilayah Turki hanya tinggal tiga ratus saja. Yang sangat melukai perasaan umat Islam adalah tindakan menutup dua masjid raya yang ada di Istambul, yang pertama Mustafa Kemal hendak merubah masjid Abyah Sophia yang hendak dijadikan museum dan kedua menutup masjid raya Al faith yang hendak dijadikan gudang.
  8. Mustafa Kemal melarang poligami, sesuai dengan hukum model scoiss walaupun dalam prakteknya ada sedikit perubahan yaitu bagi mereka yang dianggap kaya dan mampu masih tetap diperbolehkan.
  9. Tidak memperkenankan masyarakat umum memakai jilbab dan cadar kecuali para agamawan dan sebagai gantinya masyarakat memakai baju dan topi ala Barat. Kemudian pemerintah mengeluarkan Undang-Undang yang mewajibkan warga negara Turki memakai marga dibelakang namanya yang tidak dikenal dikalangan masyarakat Turki sebelumnya. Kemudian pemerintah melarang mengadakan kegiatan spiritual yang bisa dilakukan pengikut tarekat dan menutup tempat-tempat tersebut. Pemerintah dengan kejam menindak siapa saja yang coba-coba mengkritik kebijaksanaannya, dalam masalah-masalah agama. Para wanita Turki seperti prianya diperbolehkan bekerja.
  10. Mengganti huruf Arab dengan huruf latin. Disetiap kota dan desa didirikan sekolah-sekolah untuk mengajarkan huruf latin ( yang telah diresmikan, menjadi huruf nasional). Percetakan-percetakan dilarang menerbitkan buku-buku yang berbahasa Turki yang menggunakan huruf Arab.

Sekulerisasi yang dijalankan oleh Mustafa Kemal tidak serta merta menghilangkan agama dari rakyat Turki, namun hanya melakukan pembatasan kekuasaan golongan ulama dalam soal negara dan politik[7]. Oleh karena itu, pembentukan partai yang berdasarkan agama dilarang, institusi-institusi negara, sosial, ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan harus dibebaskan dari kekuasaan syari’ah. Menurut Mustafa Kemal, sekulerisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai suatu bangsa, karena menurut beliau bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat dapat mengalahkan peradaban-peradaban lain bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsurnya. Dan sekulerisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Sehingga, Mustafa Kemal berpendapat jika rakyat Turki ingin mempunyai peradaban tinggi harus melakukan sekulerisasi.





C. REVIVALISME PASCA MUSTAFA KEMAL ATTARTUK

Situasi pembaharuan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal, memang tidak berubah sepenuhnya kearah yang amat modern sebagaimana yang dikehendakinya. Terutama dalam hal sekularisasi yang diproyeksikannya. Dalam banyak hal semasa ia berkuasa, nampak dipermukaan bahwa pembaharuan berjalan amat lancar, walaupun ada tantangan dari golongan Islam Tradisional, namun tantangan itu tidak mempunyai arti yang besar. Tetapi setelah mustafa kemal wafat, program sekularisasi yang memang belum sepenuhnya kuat itu lambat laun kian menurun pamornya[8].
Agama Islam yang sudah melekat dihati orang-orang Turki sulit dipengaruhi oleh ide-ide Barat. Bahkan mereka marah kalau dikatakan mereka bukan dari golongan Islam/ orang Islam.
Selanjutnya, pada tahun 1940 semua aktifitas keislaman dihidupkan kembali oleh mereka. Imam-imam Tentara pun sudah diaktifkan lagi di dalam Angkatan Bersenjata Turki. Tahun 1949 pendidikan agama yang tadinya dihapus dihidupkan kembali , bahkan dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah[9].
Beberapa hal lain yang tadinya sudah dianggap tabu bangkit kembali. Lembaga penerbitan Islam juga sudah kembali menyiarkan ide-ide tentang Islam. Sejumlah tokoh yang tadinya bergerak di belakang layar mencoba membangun kembali citra Islam yang berbeda dari sebelumnya. Sebut saja dalam hal ini adalah pengikut Badi’uz Zaman Said Nursi yang ada di wilayah ini[10].
Itulah sedikit gambaran keadaan masyarakat dan negara Turki yang dahulu pernah menjadi simbol Kerajaan umat Islam, mengalami pergolakan yang sangat serius namun kemudian kembali kepada Islam, dan sampai sekarang Islam mempunyai peran yang penting dalam mewarnai masyarakat Turki.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya :
  1. Turki telah melakukan eksperimen sejarah, dengan secara terang-terangan menyatakan sebagai negara sekuler serta mengambil barat sebagai model. Dan tokohnya adalah Mustafa Kemal Attaturk;
  2. Sekulerisme Mustafa Kemal tidak menghilangkan agama Islam dari masyarakat Turki tetapi menghilangkan kekuasaan agama dari bidang politik dan pemerintahan;
  3. Konsep sekulerisme Mustafa Kemal tidak bertahan lama ada di tengah-tengah masyarakat Turki karena Islam telah mengakar kuat di hati masyarakat Turki;















DAFTAR PUSTAKA




Abbas, Siradjudin, 1983, 140 Masalah Agama, Jakarta : Pustaka Tarbiya

Arkoun, Mohamed, 2003, Islam Agama Sekuler, Yogyakarta : Belukar

 Nasution, Harun.1992. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : PT Bulan Bintang.

Sani, Abdul, 1998. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Syaukani, Ahmad. 1997. Perkembangan Pemikiran Modern Di Dunia Islam. Bandung : Pustaka  Setia.
Thohir, Ajid.2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam : Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Tim Narasi,2006. Heroes of freedom and Humanity,  Yogyakarta: Perum Nogotirto Elok II
www.bacabuku.blogspot.com


[1]   Gelar Pasya diberikan kepada Mustafa Kemal karena kecakapannya di medan pertempuran terutama di daerah Gallipoli dan daerah Kaukasus. Pangkatnya dinaikkan dari kolonel menjadi Jenderal ditambah dengan gelar Pasya.
[2]   Gelar Attaturk diilhami oleh lahirnya UU yang disetujui pada tanggal 28 Juni 1934 yang mengharuskan orang Turki punya nama keluarga. Sejak itu ia lebih di kenal dengan Mustafa Kemal Attaturk
[3]  Tim Narasi, Heroes of freedom and Humanity,  (Yogyakarta: Perum Nogotirto Elok II, 2006), hal: 108

[4]   Harun Nasution, pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta : Bulan Bintanng, 2011),hal 134

[5]   Siradjudin Abbas, 140 Masalah Agama, (Jakarta : Pustaka Tarbiya, 1983), hal: 34

[6]   Mohamed Arkoun, Islam Agama Sekuler, (Yogyakarta : Belukar,2003), hal 89
[7]   Prof. Dr. Harun Nasution. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan. Jakarta : Bulan Bintang, 2011. Cet XIV, hal 145.
[8]  Drs. Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998. Cet I, h 131.

[9]   Drs. H. Ahmad Syaukani, MA. Perkembangan Pemikiran Modern Di Dunia Islam. Bandung : Pustaka Setia, 1997. Cet I, hal 60.

[10] Drs. Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998. Cet I, h 132.


No comments:

Post a Comment