Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Thursday, January 3, 2013

PENGARUH PENGEMBANGAN OBJEK WISATA SITUS MAJAPAHIT TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA TROWULAN MOJOKERTO


PENGARUH PENGEMBANGAN OBJEK WISATA SITUS MAJAPAHIT TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA TROWULAN MOJOKERTO

Oleh :
Anida Shofiatul Widad
109821417276/A

Abstrak:
Objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Suatu objek wisata akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan apabila potensi yang dimiliki oleh objek wisata tersebut dikelola dan dikembangkan secara profesional. Salah satu objek wisata budaya yang sampai saat ini masih dilakukan  penelitian dan penggalian adalah situs purbakala Majapahit yang berada di Trowulan, khususnya desa Trowulan. Untuk menganalisis hubungan antara pengembangan objek wisata situs Majapahit terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di desa Trowulan, dibutuhkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal tersebut. Kajian pengembangan objek wisata ini difokuskan pada dampak sosial ekonomi masyarakat di sekitar objek wisata yakni desa Trowulan. Berdasarkan latar belakang  masalah tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji potensi objek wisata situs Majapahit  yang dapat dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, dan (2) Mengkaji  pengaruh pengembangan situs Majapahit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa Trowulan. 
Metode penelitian ini dilakukan menggunakan penelitian deskriptif . Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah individu atau unit, baik secara sensus, maupun dengan sampel. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data jumlah pengunjung yang datang ke Situs Majapahit,,jumlah tenaga kerja yang bekerja di situs Majapahit, data pendapatan masyarakat, dan  data pengangguran. Sumber data berasal dari monografi desa Trowulan dan BP3 Trowulan serta hasil wawancara dengan beberapa pihak yang terkait.
            Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya objek wisata situs Majapahit ini memiliki dampak pada kehidupan masyarakat setempat yakni menjadi sumber mata pencaharian. Secara ekonomi, dengan adanya pariwisata ini membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar baik dari sektor perdagangan maupun jasa yang  dapat mempengaruhi taraf hidup masyarakat sekitar menjadi lebih baik. Secara sosial, pihak pengelola objek wisata membutuhkan tenaga kerja untuk kelangsungan hidup situs Majapahit dengan merekrut masyarakat sekitar, sehingga dengan adanya pariwisata ini yang dapat mengurangi jumlah pengangguran di desa Trowulan.

Kata Kunci: Objek Wisata, Situs Majapahit Trowulan, Pengembangan Situs Majapahit, Sosial Ekonomi masyarakat.

            Objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Suatu objek wisata akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan apabila potensi yang dimiliki oleh objek wisata tersebut dikelola dan dikembangkan secara profesional. Demikian pula pada objek wisata budaya yang memiliki daya tarik yang unik, dimana objek wisata ini memiliki nilai luhur, adat istiadat, dan kesenian yang terkandung dalam  hasil karya manusia pada masa lampau. Salah satu objek wisata budaya yang sampai saat ini masih dilakukan  penelitian dan penggalian adalah situs purbakala Majapahit yang berada di Trowulan, khususnya desa Trowulan.
Desa Trowulan merupakan salah  satu desa yang berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Desa Trowulan terdiri dari 5 dusun, yaitu dusun Trowulan, dusun Nglinguk, dusun Tegalan, dusun Unggahan, dan dusun Tlogogede. Secara geografis desa Trowulan berbatasan dengan:
Sebelah Utara     : Desa Bejijong, Kec. Trowulan
Sebelah Timur    : Desa Temon, Kec. Trowulan
Sebelah Selatan  : Desa Kedaton, Kec. Trowulan
Sebelah Barat     : Desa Jonggrong, Kec. Mojoagung
Berdasarkan sistem pewilayahan  Kabupaten Mojokerto yang telah diatur dalam RTRW wilayah Mojokerto,  Kecamatan Trowulan termasuk dalam SSWP II berpusat di Kec. Sooko dengan kegiatan utama yang dikembangkan adalah pertanian, perikanan, perkebunan, perindustrian, peternakan, lingkungan hidup dan pariwisata. Untuk Kecamatan Trowulan, khususnya desa Trowulan, kegiatan utama yang dikembangkan yakni dalam sektor pariwisata karena di desa ini banyak ditemukan situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit yang berpotensi dijadikan objek wisata budaya.
Potensi situs Majapahit yang dimiliki desa Trowulan didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardennar pada tahun 1815 yang kemudian dilanjutkan oleh W.R. Van Hovell (1849), J.F.G. Brumund (1854), Jonathan Rigg, dan R.D.M . Verbeek (1887). Pada tahun 1924 penelitian terhadap situs Majapahit lebih intensif, seiring dengan didirikannya museum Purbakala Trowulan. Dari proses penggalian yang terus dilakukan yang kemudian dicocokkan dengan kitab peninggalan Kerajaan Majapahit Negarakertagama menghasilkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit yang berada di Trowulan. Mulai tahun 1970 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penggalian secara intensif sampai sekarang yang dilanjutkan oleh mahasiswa universitas jurusan Arkeologi dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM).
 Situs Majapahit ini menjadi daya tarik tersendiri karena ditinjau dari sejarah, kerajaan Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Indonesia dan pernah menyatukan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit karena sumpah palapa yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada. Dengan rentang waktu yang cukup lama melakukan proses penggalian peninggalan kerajaan Majapahit tersebut telah ditemukan banyak situs purbakala yang berupa candi, tempat pemandian, arca-arca, relief, pintu gerbang, saluran air, hingga pondasi pemukiman penduduk Majapahit pada masa lampau. Dengan adanya penemuan tersebut, wilayah Trowulan khususnya desa Trowulan menjadi salah satu objek penelitian dan objek wisata bagi para wisatawan baik wisatawan lokal maupun asing. 
Peninggalan benda purbakala dari kerajaan Majapahit yang berada dalam lingkup situs Trowulan mencakup kecamatan Trowulan dan Sooko, namun yang akan dibahas dalam jurnal ini adalah situs Trowulan yang berada di desa Trowulan. Di desa Trowulan  terdapat empat situs peninggalan kerajaan Majapahit, yaitu Balai Penyelamatan Arca (Museum), Kolam Segaran, Candi Minak Jinggo, dan Makam Putri Cempo. 
a.    Balai Penyelamatan Arca (Museum)
Terletak di dusun Trowulan, desa Trowulan, kecamatan Trowulan. Bangunan berlantai 2 ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak dari kerajaan Majapahit yang diperoleh dari hasil penggalian dan penelitian arkeologi di sekitar Trowulan maupun penemuan penduduk secara kebetulan. Benda purbakala yang berada di Museum ini meliputi arca, perhiasan, peralatan rumah tangga, senjata,  karya seni, dll.
b.   Kolam Segaran
Terletak di dusun Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Situs ini adalah karya monumental masa Majapahit yang berupa kolam kuno terbesar dengan luas mencapai 6,5 Ha. Dindingnya terbuat dari batu bata yang direkat dengan cara saling digosokkan. Diduga kolam Segaran merupakan waduk atau telaga penampung air. Keberadaan kolam ini menunjukkan bahwa pada masa Mojopahit telah mengenal teknologi hidrologi yang konon menyebabkan Mojopahit tidak pernah dilanda banjir. Menurut cerita rakyat, kolam segaran digunakan sebagai tempat mencuci piring, sendok, dan cangkir tamu yang datang ke kerajaan.
c.    Candi Minak Jinggo
Terletak di dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Merupakan satu-satunya situs di Trowulan yang terbuat dari batu andesit. Di tempat ini hanya berisi bongkahan pondasi candi sedangkan sisa bangunan lain disimpan di museum. Nama candi ini berasal dari arca raksasa bersayap yang oleh masyarakat disebut Minakjinggo. Sampai sekarang masih dilakukan rekonstruksi dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2011.
d.   Makam Putri Cempo
Terletak di dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Merupakan benda purbakala yang berupa nisan yang berangka tahun 1730 saka (1440 M) berhuruf jawa kuno. Kemungkinan besar ini makam bangsawan atau keluarga majapahit yang telah memeluk islam. 
                     
(a)                                                                                                     (b)
(a)Kolam Segaran; (b) Makam Putri Cempo; (c) Candi Minak Jinggo
 
                                                           (c)


Objek wisata situs Majapahit dikelola oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Wilayah Kerja Propinsi Jawa Timur. Di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), pembangunan dan pengembangan situs Majapahit terus dilakukan. Bentuk pembangunan/ konservasi yang telah dilakukan yaitu dengan melakukan penggalian dan pemugaran situs Majapahit. Sampai saat ini situs ini berada dalam tahap pengembangan. Salah satu bukti pengembangan yang telah dilakukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) yaitu dengan mendirikan Pusat Informasi Majapahit (PIM) dan melakukan penggalian untuk mencari sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Majapahit. 
        PIM didirikan pada awal tahun 2009 dengan tujuan untuk menyelamatkan dan melindungi situs purbakala Majapahit yang baru-baru ini ditemukan dari  hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan arkeologi UI dan UGM yang diduga berupa pondasi pemukiman penduduk pada masa kerajaan Majapahit. Pembangunan PIM  ini berupa pembangunan atap pelindung darurat diatas pondasi yang diduga pemukiman penduduk pada masa Majapahit.

       
(a)                                                                                  (b)
 (a) Atap pelindung darurat yang dibangun untuk Pusat Informasi Majapahit (PIM)
            (b) Pondasi yang diduga pemukiman penduduk Majapahit yang masih dalam proses penggalian.
 
 



           
           
            Selain pondasi pemukiman penduduk, masih banyak situs peninggalan Majapahit yang ditemukan di tegalan-tegalan, lahan pertanian milik masyarakat sekitar maupun di area Museum. Situs-situs yang telah ditemukan antara lain saluran air, sumur-sumur, arca, keris, dan mata uang pada zaman Majapahit. Namun, belum semua mendapat penanganan langsung dari BP3 untuk dikembangkan menjadi objek wisata.


Situs saluran air yang baru ditemukan di kebun tebu milik penduduk di Dsn. Nglinguk
 
 

            Dari pengembangan yang telah dilakukan oleh BP3, tujuan utama pengembangan tersebut adalah untuk  melindungi nilai karya seni manusia di masa lampau dan dijadikan objek wisata dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pengembangan wisata memiliki dampak terhadap masyarakat, kondisi lingkungan, dan sosial ekonomi masyarakat (Lerner:1977). Sektor pariwisata merupan sektor yang pertumbuhannya paling cepat dan banyak menyediakan peluang lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar objek wisata. Dengan adanya peluang kerja, masyarakat bisa memperoleh keuntungan dan dapat meningkatkan taraf hidup mereka serta secara sosial dapat mengurangi jumlah pengangguran di wilayah tersebut. Untuk kondisi lingkungan, dengan adanya objek wisata ini bisa memberi dampak pada kondisi lingkungan seperti yang dulunya sepi, dengan adanya objek wisata menjadi lebih ramai yang kadang-kadang menimbulkan kemacetan pada hari-hari tertentu.
            Pengembangan suatu obyek wisata yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan pendapatan ekonomi yang baik juga untuk komunitas setempat (Joseph D. Fritgen, 1996). Dengan dilakukan pemugaran terhadap situs Majapahit, melengkapi sarana prasarana di area wisata serta promosi yang dilakukan oleh pihak pengelola, hal ini dapat menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung, maka pendapatan objek wisata tersebut juga akan semakin meningkat, para pedagang bisa mendapat keuntungan banyak dari hasil penjualan serta kontribusi yang diberikan pariwisata kepada pemerintah juga semakin besar.
            Untuk menganalisis hubungan antara pengembangan objek wisata situs Majapahit terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di desa Trowulan, dibutuhkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal tersebut. Kajian pengembangan objek wisata ini difokuskan pada dampak sosial ekonomi masyarakat di sekitar objek wisata yakni desa Trowulan. Berdasarkan latar belakang  masalah tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji potensi objek wisata situs Majapahit  yang dapat dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, dan (2) Mengkaji  pengaruh pengembangan situs Majapahit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa Trowulan. 

METODE
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif (descriptive research). Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atas suatu fenomena sosial/alam secara sistematis, faktual dan akurat. Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah individu atau unit, baik secara sensus, maupun dengan sampel. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data jumlah pengunjung yang datang ke Situs Majapahit,,jumlah tenaga kerja yang bekerja di situs Majapahit, dan  kondisi sosial ekonomi masyarakat. Sumber data berasal dari monografi desa Trowulan dan hasil wawancara dengan beberapa pihak yang terkait.
Data diperoleh melalui beberapa tahapan dengan tujuan agar berjalan secara terstruktur dan dapat memperoleh kesimpulan yang argumentative. Oleh karena itu, penulis menyusun diagram alir penelitian yang dapat dilihat dalam skema di bawah ini.

Latar Belakang
 
Pendahuluan


 



Survey Sekunder
1.    Tinjauan pustaka mengenai pariwisata  sesuai dengan penelitian
2.    Instansi terkait
·   BP3 Trowulan

 
Survey Primer
1.    Observasi/ pengamatan  meliputi : Kondisi / karakteristik dan potensi
Kawasan Wisata di wilayah trowulan.
2.       Wawancara
 
Pengumpulan Data
Pengumpulan data
 









 





Analisis data menggunakan perhitungan statistik deskriptif untuk menetukan seberapa besar pengaruh objek wisata terhadap sosial ekonomi masyarakat. Dalam statistik deskriptif menggunakan menggunakan rata-rata (mean) dengan menggunakan rumus(Bambang Tahan Sungkowo,1989:9 )
M:            Dimana  x: Jumlah data keseluruhan
                                                                     n: Banyak data

            Selanjutnya dari hasil perhitungan rata-rata tersebut dapat diketahui jumlah rata-rata pengunjung, pendapatan masyarakat dalam hal ini pedagang yang berjualan di sekitar objek wisata, jumlah tenaga kerja di situs Majapahit, serta jumlah pengangguran yang ada di desa Trowulan.  Berikut data-data yang mendukung untuk melakukan pengkajian terhadap pengembangan situs Majapahit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa Trowulan. 



Data tenaga kerja di Situs Majapahit
Objek wisata
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2010
Balai Purbakala/ Museum
25 orang
29orang
43 orang
Candi Minak Jinggo
4 orang
4 orang
7 orang
KolamSegaran
2 orang
3 orang
3 orang
Makam Putri Cempo
4 orang
5 orang
5 orang
Rata-rata
8.75
10.25
14.5
Sumber: (BP3) Trowulan Wilayah Kerja Propinsi Jawa Timur

Data penduduk yang tidak memiliki pekerjaan/ pengangguran
Tahun
Jumlah penduduk usia kerja (15-55)
jumlah pengangguran 
Tahun 2008
4672
458
Tahun 2009
4873
389
Tahun 2010
4931
341
Rata-rata
396
Sumber: Buku Monografi Desa Trowulan

Data pengunjung Situs Majapahit di desa Trowulan
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2010
Balai Purbakala/ Museum
48.792
57.262
61.424
Candi Minak Jinggo
1418
1194
956
KolamSegaran
569
668
583
Makam Putri Cempo
6972
9578
8459
Rata-rata
14.438
17.176
17.856
Sumber:  (BP3) Trowulan Wilayah Kerja Propinsi Jawa Timur



Data pedagang di sekitar objek wisata situs Majapahit dari hasil wawancara, sebagai berikut:
Nama
Usia
Alamat
Pekerjaan
Penghasilan/ bulan
Syafii
53 tahun
Trowulan
Penjual makanan (warung)
5.000.000
Alamah
42 tahun
Tegalan
Penjual makanan (warung)
3.000.000
Siami
56 tahun
Nglinguk
Penjual rujak
400.000
Romlah
28 tahun
Trowulan
Penjual aksesoris
500.000
Rofik
31 tahun
Tegalan
Penjual pentol
300.000
Arondi
26 tahun
Pakis
Penjual pentol
350.000
Joko
53 tahun
Pakis
Penjual sosis tempura
450.000
Sutaryo
58 tahun
Botok palung
Penjual kacang
200.000
Supri
47 tahun
Bicak
Penjual es krim
600.000
Karen
42 tahun
Bejijong
Penjual es krim
600.000
Sapari
36 tahun
Trowulan
Penjual bakso
3.000.000
Titin
29 tahun
Nglinguk
Penjual aksesoris
500.000
Rini
32 tahun
Trowulan
Penjual souvenir
2.500.000
Ida
47 tahun
Trowulan
Pemilik took
3.500.000
Wawan
31 tahun
Unggahan
Penjual pulsa
2.000.000
Rata-Rata
1.530.000


HASIL DAN PEMBAHASAN
Potensi objek wisata situs Majapahit
Untuk mengetahui potensi suatu daerah dapat dilakukan dengan pendekatan wilayah dan sektoral. Pendekatan wilayah menitikberatkan pada daerah mana yang perlu mendapat priorias untuk dikembangkan, selanjutnya sektor apa yang sesuai dengan untuk dikembangkan di daerah tersebut. Sedangkan pendekatan sektoral menitikberatkan pada sektor mana yang bisa menjadi unggulan. Suatu daerah dapat berkembang dengan baik apabila keunggulan serta potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan menggunakan kedua pendekatan tersebut.  Seperti halnya desa Trowulan. berdasarkan potensi yang dimiliki, daerah ini berpotensi untuk sektor pariwisata karena di daerah ini banyak ditemukan situs Majapahit dan diduga dahulunya desa Trowulan ini merupakan pusat kota Majapahit. Dengan adanya potensi tersebut hal ini menjadi peluang yang bagus untuk masyarakat desa Trowulan dalam meningkatkan kesejahteraan.  Adapun potensi objek wisata situs Majapahit yang dapat dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar daerah trowulan antara lain :
1.      Museum Trowulan
Museum  trowulan berpotensi sebagai tempat arkeologi yang dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan sejarah/arkeologi  dengan berbagai  macam benda-benda purbakala  yang menarik untuk dikaji baik untuk anak-anak sekolah, mahasiswa, maupun masyarakat sekitar agar lebih menghargai hasil budaya zaman dahulu.
2.      Kolam segaran
Kolam segaran berpotensi sebagai tempat penampung air atau waduk , sistem irigasi serta tempat wisata pemancingan. Masyarakat di desa Trowulan sebagian besar adalah petani. untuk mengairi sawah mereka terutama yang sawah yang berdekatan dengan kolam segaran pengairannya bersumber dari kolam ini. Selain itu, desa Trowulan terkenal akan makanan khasnya yakni lalapan ikan wader. Ikan wader ini diambil dari kolam segaran yang kaya akan ikan wadernya dan warung makan lalapan ikan wader ini dapat dijumpai sepanjang jalan kolam segaran. Di samping itu juga kolam Segaran dapat berfungsi sebagai tempat wisata pemancingan karena persediaan ikan di kolam ini tidak pernah habis.
3.      Candi Minak Jinggo
Memiliki potensi sebagai tempat wisata budaya atau cagar budaya dari masa lampau. Saat ini candi minak jinggo masih dalam proses pemugaran dan penggalian lebih lanjut karena diduga masih banyak lagi pondasi candi yang masih belum digali.
4.      Makam putri cempo
Memiliki potensi sebagai tempat ziarah bagi pengunjung baik  wisatawan  local maupun asing.

Berikut site dari Objek Wisata Situs Majapahit di Trowulan.
Situs Majapahit yang berada di desa Trowulan, meliputi:
1.       Balai Purbakala
2.       Kolam segaran
3.       Makam Putri cempo
4.       Candi Minak Jinggo
 

Pengaruh Pengembangan Situs Majapahit Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Trowulan.
            Untuk mengetahui pengaruh pengembangan situs Majapahit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat desa Trowulan dapat diketahui dengan menggunakan indikator-indikator yang dijadikan tolak ukur, yaitu untuk mengukur pengaruh pengembangan situs Majapahit terhadap kondisi sosial dengan mengukur  jumlah penduduk yang pengangguran dan tenaga kerja yang bekerja di bidang pariwisata. Sedangkan untuk pengaruh kondisi ekonomi dapat diukur dengan hasil wawancara dengan beberapa sampel pedagang di sekitar objek wisata dan jumlah pengunjung.



Kondisi sosial masyarakat
a.      Tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja yang bekerja di situs Majapahit, berdasarkan pada tabel diatas, diketahui bahwa rata-rata jumlah tenaga kerja dibidang Pariwisata hanya sedikit, namun tiap tahun selalu mengalami kenaikan. Terlihat pada tahun 2008 rata-rata tenaga kerja yang direkrut adalah sebesar 8-9 orang, pada tahun 2009 sebanyak 10-11 orang dan pada tahun 2010 sebanyak 14-15 orang. Dari keempat situs tersebut, balai purbakala yang paling banyak merekrut tenaga kerja. Hal ini dikarenakan balai purbakala merupakan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dan bernilai ekonomis tinggi sehingga dibutuhkan pengawasan ketat dan keamanan yang kuat  dengan menambah petugas di pos-pos penjagaan yang berjaga 24 jam dengan sistem shift. Disamping itu juga dengan adanya pembangunan PIM di area balai purbakala tersebut juga membutuhkan petugas keamanan tambahan. Di kolam Segaran, Makam Putri Cempo, dan Candi Minak Jinggo tenaga kerja yang direkrut sedikit karena tenaga kerja tersebut berfungsi sebagai juru kunci, petugas keamanan, dan petugas kebersihan.
b.      Jumlah Pengangguran
Jumlah pengangguran di desa Trowulan selama tiga tahun terakhir (2008-2010) mengalami penurunan. Dapat dilihat pada tabel diatas, bahwa pada tahun 2008 jumlah pengangguran sebanyak 458 orang, tahun 2009 sebanyak 389 orang, dan tahun 2010 sebanyak 341 orang. Jadi, rata-rata pengangguran di desa Trowulan selama tiga tahun terakhir sebanyak 396 orang. Dengan adanya pengembangan objek wisata Situs Majapahit yang memberikan peluang terbukanya lapangan kerja menyebabkan jumlah pengangguran di desa Trowulan semakin menurun. Masyarakat berlomba-lomba mencari rejeki dengan cara yang berbeda yang menyebabkan adanya jenis pekerjaan yang bervariasi, seperti penjual pentol, penjual bakso, aksesoris, dll. Selain itu juga sebagai akibat tingkat pendidikan masyarakat yang semakin berkembang yang menghasilkan SDM yang lebih baik, berpikir ke depan dan tidak terus berpangku tangan.   
Selain itu, secara kualitatif dapat diuraikan pengaruh pengembangan situs Majapahit ini terhadap kondisi sosial masyarakat desa Trowulan yaitu:
·      Tingkat kepedulian dan peran serta masyarakat terhadap lingkungan terutama dalam menjaga kawasan objek wisata cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan tindakan masyarakat yang segera melaporkan hasil penemuan benda-benda peninggalan/ situs Majapahit kepada BP3 Trowulan agar segera ditangani.
·      Tingkat pendidikan masyarakat Trowulan mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan semakin banyak jumlah penduduk yang melanjutkan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi walaupun harus keluar dari kampung halamannya. Perkembangan pendidikan ini tak luput dari peranan orang tua. Dengan adanya faktor pariwisata ini sebagian masyarakat mempunyai tambahan penghasilan sehingga mereka mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kondisi Ekonomi Masyarakat
a.   Pengunjung situs Majapahit
Pengunjung merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup suatu objek wisata. Objek wisata akan memiliki pengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitarnya apabila banyak pengunjung yang datang. Berdasarkan tabel diatas, kita dapat melihat rata-rata pengunjung yang datang ke situs-situs Majapahit mulai dari tahun 2008-2010. Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung yang datang selalu mengalami kenaikan. Seperti yang telah ditunjukkan, rata-rata pengunjung yang datang pada tahun 2008 adalah 14.438 orang, pada tahun 2009 mengalami kenaikan pengunjung, yakni menjadi 17.176 orang dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 17.856.
Terjadh peningkatan jumlah pengunjung yang datang ke Balai Purbakala dikarenakan semakin bertambah banyak koleksi museum majapahit, adanya penemuan pondasi yang diduga pemukiman penduduk majapahit yang berada dalam satu area yang dikembangkan oleh  PIM dan ditemukannya situs-situs Majapahit lainnya menyebabkan banyak wisatawan yang tertarik untuk datang mengunjungi. Pada hari libur/minggu wisatawan banyak yang berkunjung, untuk hari-hari biasa hanya terbatas pada siswa sekolah yang melakukan study tour. Di kolam segaran, pada tahun 2009 pengunjungnya mengalami kenaikan setelah adanya peristiwa ikan-ikan di kolam segaran mengalami keracunan yang menarik perhatian pengunjung untuk datang kesana. Untuk tahun berikutnya jumlah pengunjung kembali normal dengan jumlah pengunjung ±500 orang/tahun. Makam Putri Cempo banyak dikunjungi oleh pengunjung pada saat-saat tertentu seperti bulan Syuro, bulan ramadhan, dll dan biasanya pada malam hari. Khusus untuk candi Minakjinggo, pengunjung yang datang tiga tahun terakhir ini selalu mengalami penurunan, hal ini dikarenakan kondisi candi yang sedang dalam tahap penggalian dan pemugaran.

b.      Pendapatan Masyarakat
Dari tabel diatas berdasarkan hasil wawancara dengan mengambil sampel beberapa pedagang di sekitar objek wisata, dapat diuraikan bahwa pedagang yang berjualan di area tersebut&nbrp; mengalami peningkatan pendapatan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pengunjung yang datang. Para pedagang mengalami peningkatan pendapatan yang cukup besar pada saat hari minggu/liburan dimana objek wisata dipadati oleh pengunjung. Rata-rata pendapatan yang dicapai oleh para pedagang dalam satu bulan mencapai Rp1.530.000. Hal ini mengindikasikan adanya keterkaitan antara pengembangan sektor pariwisata, jumlah pengunjung dan pendapatan masyarakat sekitar yakni dengan adanya pengembangan sektor pariwisata, hal ini menarik perhatian pengunjung untuk mendatangi objek wisata. Dengan adanya pengunjung,  peluang  terbukanya lapangan kerja baru untuk masyarakat semakin lebar dan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk dapat meningkatkan taraf hidup mereka.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan wisata memiliki dampak terhadap masyarakat, kondisi lingkungan, dan sosial ekonomi masyarakat. Salah satunya pengembangan objek wisata budaya Situs Majapahit yang berada di desa Trowulan yang meliputi Balai Purbakala, Kolam Segaran, Makam Putri Cempo, dan Candi Minak Jinggo telah mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya. Secara sosial,  dengan adanya pengembangan objek wisata ini meningkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan terutama dalam menjaga kelestarian Situs Majapahit, angka pengangguran yang semakin berkurang karena semakin banyak lapangan kerja yang terbuka dan adanya perekrutan tenaga kerja oleh pihak pengelola objek wisata walaupun dalam jumlah yang tidak banyak, serta tingkat pendidikan masyarakat yang semakin berkembang. Secara ekonomi, dengan adanya pengembangan objek wisata ini menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat di desa Trowulan sebagai dampak dari adanya objek wisata ini yang mampu menyediakan lapangan kerja baru, sehingga masyarakat di desa Trowulan mempunyai kesempatan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Saran
 Untuk pengembangan objek situs wisata Situs Majapahit kedepannya agar lebih baik, penulis memberikan saran untuk semua pihak, yaitu:
§  Untuk Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, agar lebih tanggap dalam menangani penemuan-penemuan situs Majapahit , karena sampai saat ini masih banyak penemuan situs yang masih belum mendapat penanganan.
§  Masyarakat agar ikut serta dalam melindungi dan memelihara benda peninggalan Majapahit karena benda-benda peninggalan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
§  Pihak pengelola objek wisata seharusnya mengadakan promosi dan mengembangkan potensi objek wisata agar banyak masyarakat luas yang berkunjung dan bangga akan sejarah dan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Selain itu pihak pengelola membuka peluang kerja  untuk masyarakat sekitar sebagai upaya untuk mengurangi pengangguran di desa Trowulan.
§  Melengkapi sarana prasarana agar pengunjung bisa merasa nyaman dan menikmati objek wisata, serta melengkapi informasi tentang  benda-benda purbakala agar memudahkan pengunjung untuk mengetahui tempat dan sejarahnya.

DAFTAR RUJUKAN
Anonim, 2009. Dampak Pengembangan Obyek Wisata : Dampak Positif dan Negatif. (online), (http://bahankuliah.wordpress.com/2009/09/03/dampak-pengembangan-onyek-wisata-dampak-positif-dan-negatif/), diakses pada tanggal 16 April 2011.
Sumarmi.1999.Geografi Pengembangan Wilayah. Malang :Universitas Negeri Malang.
Setyawana, Rudi Firman, dkk.2008. Analisis Situs Kerajaan Majapahit. (online), (http://www.wacananusantara.org/2/366/analisis-situs-kerajaan-majapahit), diakses pada tanggal 16 April 2011.
Mantra, Ida Bagus. 2000. Demografi Umum. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Soelistyowati.2008. Partisipasi Masyarakat Lokal Dalam Upaya Menjaga Keberlangsungan Pengembangan Museum Trowulan di Kabupaten Mojokerto. (online), (www.digilib.petra.ac.id), diakses pada tanggal 24 April 2011.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 2008. Profil Pariwisata dan Budaya Kabupaten Mojokerto.Mojokerto: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.




2 comments:

  1. maaf, tulisan ini sudah ada pengesahannya sebagai bahan penelitian atau lainnya belum ya? berkaitan dengan 'calon' tema tugas akhir/skripsi saya ternyata 'nyerempet' dengan tulisan anda. mohon responnya, jika berkenan tolong kirim via email (message). terimakasih sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kembali kasih,,,
      benar,, sudah ada pengesahannya,,
      usul saya,, kalau hanya nyerempet, dimodivikasi saja... walaupun sama persispun tidak masalah,, seting lokasi dan masalahnya kan berbeda, ya, ATM saja,, (Amati, Tiru, Modivikasi) ... ^_^

      Delete