Wednesday, May 29, 2013

Ziarah Tanah Jawa (Lekuk-Likuk Perlambang)

/Sebuah Pengantar Diskusi]
--Oleh Aguk Irawan MN--


Lekuk-Likuk Perlambang

Karena wongjawa nggone semu
sinamun ingsamudana, sesadone ing adu manis
maka, aku takakan memainkan gelap terang
dalam puisidan membuatmu tercengang

aku hanyaakan mendendangkan tembang
ketika lebahkumbang datang dan pergi
menghisap madu dan terang

2006

Puisi di atas adalah pembuka buku kumpulan puisi Ziarah Tanah Jawa,karya penyair Iman Budhi Santosa (IBS), dan saya benar dibuat kaget dengan puisi pembuka tersebut. Betapa si penyair begitu telah menggaungkan kembali semangat hidup dengan kearifan jawa melalui puisi-puisinya, dan gaungnya masih terus melekat di benak saya sampai sekitar 10 menit lamanya ketika puisi itu saya lepaskan.

Kekagetan saya, setidaknya terpaku pada dua hal penting; Pertama di tengah hiruk pikuk dan kebisingan dunia modern—di tengah kehidupan manusiayang sedang mengalami krisis identitas dan krisis eksistensialnya, dan cenderung materialis-- IBS dengan kearifan lokalnya, tentu melalui puisi-puisinya hendak mencari jawaban, bahwa tidak ada jalan lain kecuali kembali ziarah ke tanah Jawa, yaitu kehendak untuk terus mencari jati diri (sangkan paraning dumadi), dari mana ia berasal, dengan apa ia mengada dan kemana akan berakhir? Karenawong jawa nggone semu sinamun ing samudana, sesadone ing adu manis.

Artinya, orang Jawa cenderung semu atau terselubung, menututupkata-katanya apik dan tersamar, masalah apa pun dihadapi dengan muka manis.Makna yang lebih luas yang dimaksud mungkin seperti isbat yang seringdidengungkan oleh ki dalang, yaitu pergulatan mencari jati diri di balik simbolatau pertamsilan. Karena dunia pasemon orang Jawa adalah dunia lelakonuntuk menemukan kayu gung susuhing angin, hakikat kedirian, dengan berpikirbijak dan olah batin (spiritual) yang cenderung bersifat simbolik, penuhsanepa, kiasan, dan perlambangan, yang semua itu berkecipung dengan olah batin(sabawa rasa)—yang dalam terminologi Abdul Karim al-Jilli disebut potensiruhani (ruhiyah-rabbaniyah). Sehingga terminal terakhir yang didatangi manusiaberupa perjumpaan dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti). Derajat ini hanyabisa diraih oleh manusia sempurna (Insan al-Kamil).

Ajakan ziarah kembali ke tanah(kearifan) Jawa oleh IBS ini tentu menjadi antidot bagi kesadaran manusiamodern (terutama orang Jawa sendiri) tentang bahasa dan kata-kata yang kianhari berhamburan di media massa, corong, toak, hiruk-pikuk intrik politik dankekuasaan, yang kerap dipandang menentukan besar-kecil perbuatan yangdilakukannya. Sehingga siapa pun yang gagal melewati nalar simbolis(pasemonnya), maka ia akan terkapar dalam pemahaman wong jowo ra jawani(Jawa yang bukan Jawa beneran).

Kedua; puisi pembuka ZiarahTanah Jawa ini, seperti sebuah manifesto, benar-benar manifesto yangmengejutkan di tengah-tengah nasib getir perpuisian kita  yang paling mutakhir—yang cenderung mengalienasi dirikita, menjadi manusia Indonesia seutuhnya, dlahir dan batin. Betapa berjibunnyapuisi kini yang hanya seperti puisi, mirip puisi atau seolah-olah puisi, puisiyang terjebak hanya dalam permainan bunyi dan diksi semata, sekadar menonjolkansensualiasme bahasa yang akrobatik, yang suwung makna, bahkan nyaris tak bisa dipahami oleh akal sehat sekalipun.

Puisi-puisi yang berjibun ituseakan terjebak dalam romantisisme atau labirin lirisisme klasik yang terpakupada keindahan dan tema-tema ”abadi” namun kehilangan konteks kekiniannya danalpa dari ruang-batin si penyair sendiri. Akibatnya, mereka terasing dariperistiwa-peristiwa penting yang terjadi tak jauh kakinya berpijak. Peristiwamemilukan, suara terbungkam dan kesengsaraan yang membutuhkan puisi sebagaimikrofon dari suara hati mereka (baca kegelisahan saya secara lengkao di HarianKompas, edisi cetak, 5 September 2009, Ketika Puisi Mengaliniasi Kita),karenanya puisi-puisi IBS melalui Ziarah Tanah Jawaini benar-benar sebuah sikap melawan itu!

maka, aku takakan memainkan gelap terang
dalam puisidan membuatmu tercengang
aku hanyaakan mendendangkan tembang
ketika lebahkumbang datang dan pergi
menghisapmadu dan terang

Lebih dari itu, maka IBS juga menolak diagungkannya kembali posisi puisi sebagai l’art pour l’art,seni hanya untuk seni sendiri? Puisi yang hanya berlaku pada mereka yang hidupdi dalamnya, yang entah untuk apa dan siapa ia tulis puisi itu, karena heningmakna batin, baik dalam konteks spiritual individualnya maupun sosialnya, iamungkin lebih semacam pemeo ”yang bukan penyair tidak ambil bagian”.Sebuah ironi, yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang TakDikenal (Kis. 17:23). Kita tahu bahwa Ia ada, tetapi karena terasa jauh dansukar dipahami, maka ”pengetahuan” atas-Nya pun menjadi kuasa yang sok saja.

Padahal, puisi-puisi yangtercatat dalam tinta emas sejarah, menurut Adonis—kritikus sastra ArabModern—tidaklah lahir dari kekosongan budaya, dan canggihnya akrobatik bahasa.Namun, puisi-puisi itu langsung berhubungan dengan proses membangun makna hidupdalam konteks pribadi maupun sosial, baik dalam ruang temporal maupun perenial.Selamat berdiskusi! Wallahu ’Alam bishawab.

30 Mei 2013
(Akan disampaikan nanti malam, insyaallah, pada acara tahlilan Puisi, di Masjid Soedirman Yogyakarta, 30 Mei 2013)

http://www.facebook.com/notes/aguk-irawan-mn/ziarah-tanah-jawa-dan-kayu-gung-susuhing-angin/10151621403569658

No comments:

Post a Comment