Saturday, July 6, 2013

Contoh Proposal TQM


A.      PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang Masalah
Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi (iptek) yang semakin canggih terus menggelobal dan berdampak pada hampir semua sistem kehidupan umat manusia di muka bumi dewasa ini[1]. Lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Menurut survey Human Development Index sebagaimana diungkapkan oleh Yutata Hadi Andoyo Direktur Direktorat Perguruan Tinggi Swasta Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, kualitas SDM Indonesia saat ini menduduki peringkat ke 105. Sebagai ilustrasi, perangkat SDM di kawasan Asia Tenggara yaitu Singapura menduduki peringkat 25, Brunei 26, Malaysia 56, Thailand 57 dan Pilipina 77.[2]
Era  Reformasi  telah  membawa  perubahan-perubahan  mendasar  dalam berbagai  kehidupan  termasuk  kehidupan  pendidikan.  Salah  satu  perubahan mendasar yang sedang digulirkan saat ini adalah manajemen negara, yaitu dari manajemen berbasis  pusat menjadi manajemen berbasis daerah. Secara resmi, perubahan  manajemen ini  telah diwujudkan  dalam  bentuk "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22  Tahun  1999 tentang Pemerintah Daerah" yang kemudian  diikuti  pedoman   pelaksanaannya  berupa  "Peraturan  Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun  2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah  Otonomi. Konsekwensi logis dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut  adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi.[3]
Memasuki  era  otonomi  yang  baru,  setiap sekolah baik swasta  maupun negeri diharapkan untuk bisa madiri dan mampu untuk menggali potensi yang ada di dalam  sekolahnya. Suatu tantangan yang patut mendapat respon dari pihak penyelenggara  sekolah negeri, agar di era otonomi mereka harus dapat mengoptimalkan kinerja mereka tanpa ketergantungan pada pemerintah. Pihak sekolah  harus  benar-benar  menata  kembali  lembaga  persekolahan  dengan manajemen modern dan profesional. Sekolah negeri harus benar-benar inovatif memberdayakan potensi sekolah di tengah masyarakat menampilkan produktivitas yang tinggi, sehingga ketergantungan tersebut bisa dikurangi.[4]
Perbaikan mutu yang diupayakan pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil, ini disebabkan oleh tiga factor: Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production functi tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat, Ketiga, peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim.[5] Joseph M. Juran yang pernah mendapat anugerah Order of the Sacred Treasure oleh Kaisar Jepang tahun 1981 mengatakan bahwa 85% dari masalah-masalah mutu terletak pada manajemen (pengelolaan), oleh sebab itu sejak dini manajemen haruslah dilaksanakan seefektif dan seefisien mungkin.[6] 
Dalam era globalisasi, masyarakat banyak yang berbicara tentang “mutu” terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan produk atau jasa. Suatu produk dibuat karena ada yang membutuhkan. Total Quality Management (TQM) atau disebut Manajemen Mutu Terpadu (MMT) hadir sebagai jawaban atas kebutuhan akan mutu tersebut. Suatu produk atau jasa dibuat agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Titik temunya antara harapan dan kebutuhan pelanggaran dengan hasil produk dan/atau jasa itulah yang disebut “bermutu.” Jadi ukuran bermutu tidaknya suatu produk atau jasa adalah pada terpenuhi tidaknya harapan dan kebutuhan pelanggan.[7]
Konsep Total Quality Manajement (TQM) lahir beberapa dasawarsa yang lalu terutama untuk mengatasi beberapa masalah di bidang bisnis dan industri. Konsep itu telah diimplementasikan dengan sangat berhasil oleh dunia bisnis dan industri di Jepang, dan negara - negara lain di dunia. Hal ini akan menarik jika konsep TQM ditelaah penerapannya di dunia pendidikan terutama di lingkungan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.[8]
Total Quality Manajement (TQM) adalah sistem pengendalian mutu yang didasarkan pada filosofi bahwa memenuhi kebutuhan pelanggan dengan sebaik-baiknya merupakan hal yang utama dalam setiap usaha yang dilakukan. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan tersebut, budaya kerja dalam lembaga harus dibina dan dikembangkan dengan baik.[9]
Dalam konsep Total Quality Manajement (TQM) bahwa dalam pengelolaan lembaga pendidikan untuk meningkatan mutu harus dilakukan oleh semua unsur lembaga yang dimulai sejak dini. Hal ini dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan, sehingga pendidikan sebagai pelayanan jasa dapat memenuhi kebutuhan para pelanggan baik masa kini maupun masa yang akan datang. Dengan pendekatan TQM diharapkan pendidikan akan dapat menghasilkan lulusan yang bermutu dan dapat meningkatkan mutu secara berkesinambungan.[10]
Total Quality Manajement (TQM) menganggap bahwa produk pendidikan sebagai industri jasa yang berbentuk pelayanan, diberikan kepada para pelanggan sesuai dengan standar mutu tertentu. Jasa pelayanan ini dapat dikatakan memuaskan jika sesuai dengan keiginan atau melebihi kebutuhan pelanggan bersangkutan.[11]
Sekolah - sekolah terutama yang ingin menuju sekolah yang berstandar internasional, penggunaan TQM menjadi pilihan terbaik yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan TQM, maka sekolah akan mempunyai pedoman yang jelas dalam menuju kualitas yang diharapkan.[12]
Untuk mendapatkan kualitas sekolah yang baik (bermutu) , maka yang perlu diperhatikan tidak hanya dari segi sarana prasarana saja, tetapi juga sumber daya manusia yang ada di sekolah, yaitu kepala sekolah, para guru dan karyawan. Selain itu siswa juga merupakan sumber daya manusia yang dikenai kebijakan pendidikan. Siswa berperan sebagai konsumen jasa pendidikan. Sebagai konsumen, kepuasan siswa merupakan indikator penting dari keberhasilan TQM yang dilaksanakan sekolah.[13]
Selain siswa ada juga konsumen tidak langsung dari jasa pendidikan, yaitu orang tua siswa. Kepuasan orang tua siswa juga merupakan indikator yang sangat penting dalam menilai keberhasilan penerapan TQM di sekolah. Dalam hal ini kepuasan siswa dan orang tua siswa akan tepenuhi jika hasil dari penerapan TQM benar-benar mampu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.[14]
Mutu sudah menjadi keharusan yang tidak terbantahkan dan merupakan konsep yang paling manjur menjawab berbagai tantangan-tantangan yang semakin kompleks. Mutu menjadi indikator penting efektivitas sekolah. Mutu sekolah harus memperhatikan dan konfirmasi dengan kebutuhan pelanggan quality is conformance to customer requirement.[15]
Melihat fenomena diatas kiranya upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan pendidikan adalah mutlak membutuhkan budaya manajemen kualitas. Dengan manajemen tersebut efektivitas sekolah akan dapat terwujud secara sempurna.
Sekolah adalah salah satu tempat untuk menciptakan manusia yang intelek tanpa melihat latar belakang budaya, ekonomi, status social pada siswa yang ada di dalamnya. Sehingga sekolah mudah diterima oleh semua kalangan masyarakat. Akan tetapi pada kenyataan di Indonesia sendiri, telah banyak terjadi pengelompokan sekolah, dengan criteria sekolah favorit dan sekolah unggulan. Jika dibiarkan terus pengelompokkan sekolah, hal tersebut akan menciptakan diskriminasi siswa. Memang keunggulan menjadi indikator kemampuan kecerdasan siswa. Tetapi pada akhirnya tolak ukur kecerdasan siswa terlihat dari hasil akhir kelulusan  mereka. Sampai kapan pengelompokkan sekolah terjadi dan bagaimana dengan sekolah yang tidak masuk dalam kategori tersebut.
Munculnya sekolah favorit, unggulan, elit pada dasarnya secara substansial sekolah-sekolah tersebut identik dengan biaya yang mahal. Sehingga orang tua segan membiayai anaknya untuk sekolah. Namun sekolah-sekolah tersebut memang dapat diandalkan untuk memenuhi harapan masyarakat. Ada suatu contoh kasus yang terjadi dengan banyaknya pungutan liar dari sekolah meskipun secara kebijakan telah diatur melalui komite sekolah, kepala sekolah, dan pihak sekolah mengenai jumlah rincian biaya perbulan ataupun persemesternya.
SMA NEGERI 3 Malang merupakan lembaga pendidikan atau sekolah negeri yang masih tetap eksis sampai saat ini. Di Indonesia banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan khususnya di daerah Kota Malang. Akibatnya terjadi persaingan yang sangat ketat antar lembaga-lembaga pendidikan. Apabila lembaga pendidikan tersebut tidak mampu bersaing untuk meraih prestasi atau tidak mempunyai keunggulan, maka sekolah akan ditinggalkan oleh masyarakat. Jika terjadi demikian, berakibatnya lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan SMA NEGERI 3 Malang sampai saat ini masih eksis dalam dunia pendidikan.
 Akan tetapi dalam hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi SMA Negeri 3 Malang dalam usahanya menjamin mutu pendidikan yaitu dengan melalui berbagai cara dan proses yang dilalui selama ini, diantaranya melalui sistem penjaminan mutu standar nasional pendidikan yaitu: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar pendidik dan kependidikan, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan (biaya investasi, biaya, personal, biaya operasional), standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, fungsi dan tujuan standar.
            Lalu sekarang dalam konteks ini bagaimana PAI Pendidikan Agama Islam dapat meiliki peran pendukung dalam mewujudkan sekolah yang sesuai dengan visi dan misinya ? potret sumber daya manusia SDM terbagi menjadi 2 : pendidik dan peserta didik, dalam hal ini SDM di sekolah tersebut mayoritas muslim. Adanya  LAB PAI disuatu lembaga pendidikan terlebih itu lembaga pendidikan umum merupakan  wujud dari nilai perhatian pihak sekolah dalam mengembangkan dan membumikan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai sarana dan wacana mewujudkan sekolah yang diakui ditingkat internasional.
            Potret kurikulum PAI di SMA Negeri 3 termasuk memiliki inovasi sendiri dalam menciptakan iklim Agamis dan dinamis di lingkungan sekolah, sehingga lembaga tersebut mendapat kepercayaan dari masyarakat dan sekolah-sekolah lain yang ada di luar kota bahkan luar negeri untuk menjadi rujukan dalam keilmuan dan study banding antar sekolah.
            Peran kepala sekolah terhadap kemajuan lembaga pendidikan sangatlah urgen karena yang dapatmenggerakkan seluruh komponen yang ada itu tidak akan bias lepas dari peran kepala sekolah, termasuk dalam mengembangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Faktor pendukung lain adalah secara background pendidikan Islam bahwa kepala sekolah SMA Negeri 3 saat ini memiliki kapabilitas penuh dalam hal mewujudkan iklim lingkungan yang agamis di sekolah tersebut dapat di implementasikan secara komprehensif.
   Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di lembga tersebut, terutama mengenai manajemen yang ada di lembaga pendidikan SMA NEGERI 3 Malang.
Realitas diatas memberikan inspirasi bagi penulis untuk meneliti bagaimana Implementasi TQM (Total Quality Manajemen) SMA Negeri 3 MALANG.
Sehingga topik yang di formulasikan adalah IMPLEMENTASI TQM (TOTAL QUALITY MANAJEMEN) DALAM MEWUJUDKAN  SEKOLAH GO INTERNASIONAL  STUDI KASUS DI SMA NEGERI 3 MALANG.




2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.    Bagaimana konsep dan proses implementasi TQM (Total Quality Manajemen) yang dikembangkan di SMA Negeri 3 Malang?
b.    Bagaimana  dampak   dari   penerapan   ISO  9001 2000   terhadap pengembangan sekolah di SMA Negeri 3 Malang?
c.    Apa faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam mengimplementasikan komponen-komponen TQM di SMA Negeri 3 Malang?
3.    Tujuan
a.    Mendeskripsikan konsep dan mengkritisi proses implementasi TQM (Total Quality Manajemen) yang dikembangkan di SMA Negeri 3 Malang
b.    Mendeskripsikan dampak dari implementasi ISO  9001 2000   terhadap pengembangan  di SMA Negeri 3 Malang?
c.    Mendeskripsikan, faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam mengimplementasikan komponen TQM di SMA Negeri 3 Malang ?
4.  Kegunaan Hasil Penelitian
A.  Secara Teoritis
a)    Sebagai sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu manajemen.
b)   Sebagai bahan informasi, masukan dan evaluasi bagi para praktisi pendidikan dalam memperbaiki kinerja manajemen di lembaga pendidikan.
B.   Secara praktis
a)    Sebagai masukan pada lembaga pendidikan sekolah dalam menerapkan TQM sehingga memberikan efek yang positif terhadap kemajuan lembaga.
b)   Sebagai masukan dan pemahaman bagi kepala sekolah untuk membangun efektifitas dan efisiensi dalam pendayagunaan sumber-sumber pendidikan.
c)    Pihak sekolah lain, sebagai bahan rujukan dalam menambah pengetahuan yang sekaligus juga sebagai titik tolak dalam melakukan pengembangan sekolah yang dimiliki.
d)   Masyarakat umum, sebagai ilmu pengetahuan yang berguna untuk mengetahui dan memahami sistem pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
e)    Pribadi peneliti, sebagai pengalaman belajar, pengolahan kemampuan, dan keterampilan dalam penelitian.





5.      Ruang Lingkup Penelitian
Sebagai langkah dalam mencegah terjadinya perluasan terhadap bidang-bidang penelitian, maka peneliti membatasi cakupan (scope) penelitian ini dengan harapan penelitian ini dapat terarah dengan baik dan fokus pada tujuan. Beberapa hal yang menjadi batasan dalam penelitian ini antara lain:
a.    komponen-komponen TQM di SMAN 3 Malang  yang meliputi: 8 Standar Pendidikan Nasional: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar pendidik dan kependidikan, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan (biaya investasi, biaya, personal, biaya operasional), standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, fungsi dan tujuan standar selain itu ada juga komponen visi,misi, costumer dan proses.
b.    Dampak dari implementasi ISO  9001 2000   terhadap pengembangan  di SMA Negeri 3 Malang.
c.    faktor-faktor penunjang dan penghambat yang dialami oleh pihak-pihak terlibat dalam pelaksanaan pengembangaan TQM di SMAN 3 Malang.
6.      Penegasan Istilah
Beberapa istilah yang terdapat dalam judul yang peneliti tulis dan masih memerlukan penegasan adalah:
a.    Implementasi Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.”
b.    Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.[16]
c.    Total Quality Management adalah merupakan  Integrasi segenap fungsi-fungsi dan proses-proses dalam sebuah organisasi untuk mencapai peningkatan kualitas barang dan pelayanan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah kepuasan pelanggan atau klien. 
d.   Sekolah sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran di atas.[17]
Saat ini, kata sekolah berubah arti menjadi: merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.Sekolah dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah. Kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah.Jumlah wakil kepala sekolah di setiap sekolah berbeda, tergantung dengan kebutuhannya. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memanfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengan fasilitas yang lain.[18]

e.    ISO 9001:2000 adalah suatu standar international untuk sistem manajemen kualitas.   ISO     9001:2000      menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi  untuk  desain  dan  penilaian  dari  suatu  sistem  manajemen kualitas, yang bertujuan untuk menjamin bahwa      organisasi akan memberikan produk  (barang dan/atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang   ditetapkan.   Persyaratan-persyaratan   yang   ditetapkan   ini   dapat merupakan kebutuhan spesifik dari pelanggan, di mana organisasi yang di kontrak itu bertanggung jawab untuk menjamin kualitas dari produk-produk tertentu  atau   merupakan  kebutuhan  dari  pasar  tertentu,  sebagaimana ditentukan oleh organisasi.
7.      Penelitian terdahulu
a.    Pelaksanaan Total  Quality  Management  (TQM) di  sekolah (studi  kasus  di SMK PGRI 3 Tlogomas Kota Malang) . Oleh Bambang Irawan dari UIN Maulana Malik Malang tahun 2009.
Data temuan penelitian dalam  skripsi ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, kesesuaian antara implementasi dengan dokumen Mutu tidak bisa sesuai secara keseluruhan, hal ini dikarena permasalahan setiap semester berbeda walaupun sudah ada pencegahan tetapi ada saja permasalahan yang tidak diduga. Kedua,  proses audit internal di SMK PGRI 3 Tlogomas Kota Malang dilakukan setiap 6 bulan atau 1 semester dengan cara perencanaan dengan pembuatan jadwal, mengerjakan sesuai jadwal, pelaksanaan    audit    dengan mengunakan             dokumen-dokumen,    dilakukan, pengecekan  dan  pencegahan.  Dengan   banyak   animo  masyarakat menyekolahkan putra putrinya di SMK PGRI 3 Tlogomas Kota malang, selain kinerja  seluruh karyawan menjadi baik karena pelayanan sekolah menjadi baik serta peraturan sekolah semakin ketat.





B.       Landasan Teori
1.      Implementasi
Implementasi Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.”
Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.[19]
2.      Total Quality Management (TQM)
Dalam mendefinisikan kualitas produk, ada beberapa pakar utama dalam manajemen mutu terpadu (Total quality Manajement) yang saling berbeda pendapat, tetapi maksudnya sama. Diantara beberapa definisi tersebut adalah :
1.        Menurut Crosby, kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses produksi dan produksi jadi.
2.        Menurut Feigenbaum, kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full costumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kapuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk.
3.        Menurut Garvin, kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen[20].      
Berangkat dari beberapa definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa hal mendasar dalam mendefinisikan kualitas adalah quality assurance, contract conformance and costumer driven[21].  
Meskipun tidak ada definisi mengenai kaulitas yang diterima secara universal, namun ketiga definisi kualitas tersebut di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut :
a.      Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
b.     Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan
Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang). 
Beberapa ahli managemen memberi definisi TQM (Total Quality Management} sebagai berikut:
a)    Menurut Edward Sallis bahwa "Total Quality Management is a philosophy and a methodologhy which assits institutions to manage change and to set their oum agendas for dealing whit the pletbora of new external pressures[22]."  Pengertian ini menekankan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filsafatdan metodologi yang membantu berbgai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.
b)   Menurut Cafee dan Sherr menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan mengurangi pembiayaan[23].
c)    Hradesky; TQM is a philosophy, a set of tools, and a process whose output yield customer satisfaction and continuous improvement[24]
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan dengan didasarkan pada kepuasan pelanggan, maka diperlukan manajemen yang tepat guna, yaitu Total Quality Manajement (TQM). Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Manajement (TQM) adalah continous improvement (perbaikan terus menerus) dan quality improvement (perbaikan mutu).
Pada dasarnya Managemen Kualitas (Quality Management) Manajemen Kulaitas Terpadu (Total Quality Management = TQM) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (continuous formanceimprovement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia[25].
Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Total Quality Manajement (TQM) memfokuskan pada suatu proses atau system pencapaian tujuan organisasi. Dengan dimulai dari proses perbaikan mutu, maka TQM diharapkan dapat mengurangi peluang membuat kesalahan dalam menghasilkan produk, karena produk yang baik adalah harapan para pelanggan. Jadi rancangan produk diproses sesuai dengan prosedur dan tekhnik untuk mencapai harapan pelanggan. Penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis data diperlukan sekali untuk menyelesaikan masalah dalam peningkatan mutu. Partisipasi semua pegawai digerakkan agar mereka memiliki motivasi dan kinerja yang tinggi dalam mencapai tujuan kepusan pelanggan.
3.      Implementasi ISO 9001:2000 di Sekolah
Sejak diterbitkannya pada tahun 1987 sampai sekarang, standar ini sudah dua kali  mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1994 dan 2000. Perubahan utama antara tahun 1987 sampai dengan tahun 1994 adalah berkaitan dengan manajement   representive  (MR).  pada  ISO  versi  tahun  1987  MR  boleh dipegang dari luar organisasi, tetapi untuk tahun 1994 MR harus orang dalam organisasi. Penambahan yang lain adalah berkaitan dengan perbaikan kata- kata  yang  membuat rancu standar, penambahan klausul yang dipersyaratkan pada  ISO  9002  dan  ISO  9003,  penyeragaman  penomoran  ISO  9001,  ISO 9002, ISO 9003 dan penambahan beberapa definisi serta perluasan persyaratan beberapa klausial ISO 9001:2000 merupakan ISO versi baru yang diluncurkan pada bulan Oktober 2000. Bagi semua organisasi yang telah memperoleh sertifikasi ISO maka,   memiliki   kewajiban   untuk   melakukan   modifikasi   sesuai   dengan persyaratan-persyaratan  yang  diterapkan  dalam  ISO  9001:2000,  walaupun tidak terdapat perbedaan yang  sangat bertolak belakang. ISO tentang sistem mutu merupakan sistem ISO dengan  seri  ISO 9000 yang mulai dikeluarkan pada tahun 1987,  ISO 9000  terdapat  berbagai  varian yaitu ISO 9000,  ISO 9001, ISO 9002, ISO 9003 dan ISO 9004 ISO menguraikan filosofi umum dari standar sistem mutu, karakteristik jenis-jenis,  dan  dimana  serta  kapan  standar  ini  tepat  digunakan,  serta mendeskripsikan       unsur-unsur      yang     harus dimasukkan dalam         model penjaminan       mutu    ini.      
ISO          9001:2000       memuat           sistem mutu     untuk desain/ pengembangan, produksi, instalasi dan pelayanan15 ISO 9001:2000   adalah   suatu   standar   internasional   untuk   sistem manajemen  Mutu  atau  kualitas.  ISO  9001:2000  menetapkan  persyaratan- persyaratan dan rekomendasi untuk  desain dan penilaian  dari  suatu sistem manajemen mutu. ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan- persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah produk (barang atau jasa). ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen kualitas. Namun, bagaimanapun juga diharapkan bahwa produk yang  dihasilkan  dari  suatu  sistem  manajemen  kualitas  internasional,  akan berkualitas baik (standar).[26]
Dalam lingkungan sekolah, yang dimaksud dengan penjaminan mutu atau  kualitas  adalah  pelayanan  jasa  yang  diberikan  oleh  perguruan  tinggi terhadap   stakeholder,   yang   terdiri   dari   mahasiswa,   alumni,   pengguna lulusan/dunia industri dan orangtua siswa.
Stakeholder akan menyebutkan aspek apa saja yang dinilai dalam menentukan mutu    perguruan             tinggi   tersebut,          misalnya          aspek yang berhubungan dengan; a). Materi pelajaran  dan kurikulum yang link and match dengan  dunia industri; b). Proses perkuliahan yang sesuai dengan ketentuan berlaku, kompetensi guru yang sesuai kompetensi yang guru miliki; c). Sarana dan prasarana yang menunjang jalannya proses pembelajaran.
Meskipun  tidak  ada  definisi  mutu  yang  dapat  diterima  secara  umum, semuanya memiliki kesamaan, yaitu; a). Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi  harapan  pelanggan;  b).  Mutu  mencakup  produk,  jasa,  manusia, proses dan  lingkungan; c).   Mutu  merupakan kondisi  yang selalu berubah (sesuatu yang dianggap bermutu saat ini belum tentu dianggap bermutu di masa mendatang
C.    METODOLOGI PENELITIAN
  1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka jenis penelitian ini adalah termasuk penelitian kualitatif deskripstif. Karena seperti yang diungkapkan oleh Bogdan dan Tylor yang dikutip oleh Lexy J. Moleong mengatakan bahwa metodologi kualitatif adalah sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[27] Maka dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan cara yang alami, apa adanya, yang tidak dimanipulasi oleh keadaan dan kondisi, dan menekankan pada deskripsi secara alami, yang disebut dengan istilah kualitatif naturalistik. Penelitian kualitatif naturalistik ini, menuntut pada keterlibatan peneliti secara langsung di lapangan, tidak seperti penelitian kuantitatif yang dapat mewakilkan orang lain dalam mengumpulkan data.[28]
Sedangkan apabila dilihat dari timbulnya variabel, maka jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan non-eksperimen yang bersifat deskriptif, dengan langkah penelitian kasus (case-studies).[29] Penelitian kasus (case study), yaitu menghimpun dan menganalisa data yang berkaitan dengan suatu kasus karena ada masalah, kesulitan, hambatan, atau penyimpangan, serta dapat juga karena keunggulan atau keberhasilannya.[30] Maka penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan status fenomena di lokasi penelitian, baik fenomena tentang keunggulan dan keberhasilannya, maupun fenomena hambatan atau kesulitannya. Fenomena di lokasi penelitian yang dimaksud yaitu fenomena Strategi mengimplmentasikan TQM (Total Quality Management) dalam mewujudkan sekolah go International.
  1. Lokasi penelitian
Mengacu pada judul di atas, penelitian ini memilih tempat di SMAN 3 Malang Jl. Sultan Agung Utara No.7 Telp (0341)324768, Fax (0341)341530. Tempat ini berada tepat di pusat kota dan berjarak kurang lebih 4 km  dari Pesantren Mahasiswa Al-Hikam. Peneliti memilih tempat tersebut karena disana merupakan salah satu lembaga sekolah di Malang yang menerapkan system penjaminan mutu pendidikan.
  1. Data dan Sumber Data
Sumber data yang merupakan subjek penghasil data-data yang diperlukan peneliti adalah:
a.    Sumber primer, a) Kepala Sekolah, b) Para Tenaga Pendidik c) Peserta didik di SMA NEGERI 3 MALANG, d) Dokumen-dokumen, dan, e) Buku Pegangan tentang kepala sekolah dan TQM.
b.   Sumber sekunder, a) Masyarakat yang ada di sekitar SMA NEGERI 3 Malang, b) Foto-foto, dan c) Semua bahan pustaka yang terkait, baik berupa buku-buku, karya ilmiyah, majalah, surat kabar, jurnal, internet, dan lain-lain.
  1. Teknik pengumpulan  data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang sistematis dalam mengamati variabel yang diteliti untuk memperoleh data yang diperlukan secara tepat.[31] Maka untuk keperluan kelancaran dalam pengumpulan data-data yang diperlukan, peneliti menggunakan beberapa teknik yang meliputi; observasi, wawancara, dan dokumentasi.
a.     Observasi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata observasi/obsérvasi/ adalah peninjauan secara cermat.[32] Sedangkan observasi secara istilah berarti kegiatan pengambilan informasi melalui media pengamatan, dengan sarana utama indera penglihatan.[33] Ada tiga sasaran utama yang harus diperhatikan dalam proses pengamatan, yaitu informasi (mengacu pada apa yang diamati), konteks (mengacu pada hal-hal yang ada di sekitar), dan waktu (mengacu pada saat peristiwa terjadi.[34]
Ada beberapa tingkat observasi yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi nihil (observasi penuh tanpa partisipasi), observasi partisipasi sedang (partisipasi merupakan aktifitas sampingan dan peranan sebagai peneliti diketahui oleh sasaran penelitian), observasi partisipasi aktif (peneliti turut serta dalam kegiatan kelompok sasaran penelitian secara aktif), dan observasi partisipasi penuh (peneliti secara mendalam telah menjadi bagian integral dari kelompok sasaran penelitian).[35] Maka dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan observasi partisipasi sedang dengan mengambil peran yang seimbang antara peneliti sebagai pengamat dan peneliti sebagai anggota kelompok sasaran penelitian. Observasi akan dilakukan terhadap proses penelitian dengan bantua jajaran staf sekolah.
b.      Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan antara peneliti dengan narasumber (subjek penelitian). Metode wawancara dilakukan dengan tujuan agar peneliti dapat mengkonsruksi dan memproyeksikan mengenai orang (informan), kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain.[36]
Ada beberapa jenis wawancara yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif, diantaranya:[37]
1)      Wawancara ditinjau dari taraf pertanyaannya, ada tak terstruktur dan terstruktur. Wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara umum dan mendalam tanpa mengarah pada sasaran tertentu yang sudah dirancang peneliti sebelumnya. Sedangkan wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan berdasarkan arah tuntutan yang dibuat berdasarkan sumber informasi yang diberikan oleh sasaran penelitian.
2)      Wawancara ditinjau dari sifatnya, ada tertutup dan terbuka. Wawancara tertutup adalah wawancara yang dilakukan apabila sasaran penelitian tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diwawancarai. Sedangkan wawancara terbuka adalah wawancara yang dilakukan apabila sasaran penelitian menyadari bahwa dirinya sedang diwawancarai.
3)      Wawancara ditinjau dari pendekatannya, ada informal dan formal. Wawancara informal adalah wawancara yang dilakukan dalam suasana yang biasa, wajar, akrab, dan rileks. Sedangkan wawancara formal adalah wawancara yang dilakukan dalam suasana resmi dan nampak ada jarak.
Berdasarkan beberapa jenis wawancara di atas, untuk mendapatkan informasi yang mendalam, maka peneliti melakukan wawancara kepada kepala sekolah, tenaga pendidik, peserta didik, dan pihak terkait yang dapat membantu proses penelitian dengan menggunakan rancangan atau garis-garis pokok masalah yang akan dijadikan pedoman dalam pembicaraan yang bersifat terbuka. Sedangkan agar lebih dapat diterima oleh responden, maka peneliti menggunakan pendekatan informal yang mengandung unsur spontanitas, keakraban, dan kesantaian. 
c.       Dokumentasi
Kata do·ku·men·ta·si /dokuméntasi/ secara bahasa adalah 1) pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan; 2) pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (seperti; gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain).[38] Sedangkan metode dokumentasi yang dimaksud adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.[39] Dokumen dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1)   Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang buku harian, surat pribadi, dan autobiografi.
2)   Dokumen resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal berupa memo, pengumuman, dan instruksi. Sedangkan dokumen eksternal berupa bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga sosial misalnya majalah, buletin, pernyataan, dan berita yang disiarkan kepada media massa.[40]
Metode dokumentasi yang peneliti maksudkan adalah cara untuk memperoleh data-data yang terkait dengan judul penelitian yang berbentuk dokumen, baik dokumen pribadi maupun dokumen resmi. Data-data dokumentasi yang akan peneliti kumpulkan adalah tentang SMA Negeri 3 Malang, seperti sejarah berdirinya, keadaan guru dan anak didik, sarana prasarana, kurikulum, dan lain-lain.
  1. Teknik Keabsahan data
Sebelum data-data yang terkumpul diproses, maka diperlukan pengecekan ulang terhadap kevalidan data, dimaksudkan agar data yang telah diperoleh dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dalam pelaksanaan teknik pemeriksaan keabsahan data, ada empat kriteria yang digunakan, yaitu; kredibilitas, keterangan, ketergantungan, dan kepastian. Masing-masing dari kriteria tersebut memiliki teknik pemeriksaan tersendiri, yaitu; 1) kredibilitas (perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, trianggulasi/ pemanfaatan sesuatu lain di luar data, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan anggota), 2) keterangan (uraian rinci), 3) kebergantungan (audit kebergantungan), dan 4) kepastian (audit kepastian).[41]
Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan pada salah satu kriteria, yaitu kredibilitas (derajat kepercayaan). Kredibilitas data dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa data yang telah dikumpulkan adalah sesuai dengan kenyataan yang ada pada latar penelitian. Kredibilitas data ini  akan peneliti lakukan dengan menggunakan beberapa teknik pemeriksaan, diantaranya;

a.       Perpanjangan keikutsertaan
Peran peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrumen, maka keikutsertaannya sangat menentukan dalam pengumpulan data. Perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian adalah sangat penting agar derajat kepercayaan pada data yang terkumpul itu meningkat. Beberapa kelebihan dari perpanjangan keikutsertaan peneliti diantaranya adalah peneliti akan banyak mempelajari konteks yang ada, peneliti dapat menguji ketidakbenaran informasi yang berasal dari diri sendiri atau responden, dan membangun kepercayaan subyek.[42]
b.      Ketekunan pengamatan
Teknik ketekunan pengamatan dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang dicari. Teknik ini dapat dilakukan dengan memusatkan diri pada hal-hal yang sedang dicari secara rinci dan teliti.[43]
  1. Teknik analisis data
Analisis data menurut Lexy J. Moleong adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian  dasar sehingga dapat ditemukan tema serta dapat dirumuskan hipotesis kerja dari data yang ada.[44] Menurut Milles dan Hubberman analsys of contain itu ada 3: reduksi, display, dan conclution. Jadi setelah data-data yang diperlukan terkumpul dan telah dipastikan keabsahannya, maka selanjutnya peneliti melakukan analisis data yang telah diperoleh dengan teknik mengorganisasikan dan mengurutkan data-data tersebut, dengan mempelajari titik temu dan kontradiksi data-data. Kemudian peneliti menyampaikan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian.
D.    SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mempermudah penyusunan dan pemahaman dalam penelitian ini, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I    : Pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, ruang lingkup penenlitian, penegasan istilah, penelitian terdahulu  dan sistematika penelitian.
BAB II  :                Landasan Teori yang berisi penjelasan tentang seputar Total Quality Management (TQM) mulai dari, sejarah, pengertian, syarat-syarat pelaksanaan manajemen mutu, tujuan, prinsip, karakteristik, syarat- syarat  pelaksanaan  manajemen  mutu  terpadu,  manajemen  berbasis sekolah dalam  pengembangan mutu pendidikan, Impelementasi ISO
9001:2000
BAB III : Metodologi penelitian yang berisi tentang jenis dan pendekatan penelitian, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik keabsahan data, dan teknik analisis data.
BAB IV : Paparan data dan temuan penelitian yang berisi tentang paparan data penelitian dari hasil observasi,wawancara, dan dokumenasi.
BAB V   : Pembahasan temuan penelitian dan diskusi hasil penelitian yang memuat tentang analisis data.
BAB VI : Penutup yang berisi simpulan dari semua pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran yang berkaitan dengan hasil penelitian.
E.     JADWAL PENELITIAN
Dari awal sampai pada akhir penelitian, kira-kira peneliti akan memerlukan waktu selama kurang lebih 3 bulan, dengan jadwal penelitian sebagai berikut:
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1
Penyusunan dan Pengajuan Proposal
Minggu pertama bulan januari sampai minggu 3 bulan Januari 2013
2
Seminar Proposal
Minggu keempat bulan Januari 2013
3
Penyempurnaan Proposal
Minggu pertama bulan Februari sampai minggu kedua bulan Februari  2013
4
Pengumpulan data
Minggu ketiga bulan Februari 2013
5
Pengolahan dan analisis data
Minggu keempat sampai minggu kedua bulan Maret 2013
6
Penyusunan dan revisi laporan
Minggu ketiga bulan Maret sampai minggu pertama bulan April 2013

F.     ANGGARAN PENELITIAN
Anggaran dana yang diperlukan dalam penelitian ini selama kurang lebih 3 bulan adalah Rp. 3.000.000,-, dengan rincian anggaran sebagai berikut:
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1
Penyusunan dan Pengajuan Proposal
Minggu pertama bulan Februari sampai minggu kedua bulan Februari 2013
2
Seminar Proposal
Minggu ketiga bulan Februari 2013
3
Penyempurnaan Proposal
Minggu keempat bulan Februari sampai minggu pertama bulan Maret 2013
4
Pengumpulan data
Minggu kedua bulan Maret 2012
5
Pengolahan dan analisis data
Minggu ketiga sampai minggu pertama bulan Mei 2013
6
Penyusunan dan revisi laporan
Minggu kedua bulan Mei sampai minggu kedua bulan Juni 2013











F.     DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bafadhol, Ibrahim, 2000, TQM: Panduan untuk menghadapi persaingan global, Jakarta, Djambatan.
Hanafiah, Jusuf dkk., Pengelolaan Mutu Total Pendidikan Tinggi, Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri, 1994
Husaini, Usman, Peran Baru Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik Menuju Sistem Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Februari 2001, Jilid 8, Nomor 1.
Sekilas tentang Total Quality Manajement Dalam Pendidikan. Diakses pada tanggal 14 Desember 2012 dari http:/ www.uns.ac.id/data/0022.pdf
               
Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nata, Abudin. 2003. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sisdiknas. 2010. Bandung: Citra Umbara.
Slamet,    2008    Manajemen    Berbasis Sekolah, (http://www.depdiknas.go.id/jurnal/27/manajemen  berbasis sekolah. Htm.www.Depdiknas.Com), Senin, 11 Februari 2013.

Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Yogyakarta: Usaha Keluarga.
Sukardi R. (2009). Penerapan ManajemenMutuTerpadu. Diakses pada tanggal 14 14 Februari 2013 dari http:/ www. ravik.staff.uns.ac.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Wiyono, Bambang Budi. 2008. Metodologi Penelitian (Pendekatan kuantitatif, Kualitatif, dan Action Research). Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah, di akses pada tanggal 11 Februari 2013 pukul 23.06.



[1] Ibrahim, B, 2000, TQM: Panduan untuk menghadapi persaingan global, Jakarta, Djambatan:hlm 32
[2] Jawa Post, 11 Desember 2012
[3]Slamet,    2008    Manajemen    Berbasis   Sekolah,(http://www.depdiknas.go.id/jurnal/27/
manajemen  berbasis sekolah. Htm.www.Depdiknas.Com), Senin, 11 Februari 2013.

[4]Ibid,
[5] Husaini, Usman, Peran Baru Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik Menuju Sistem Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Februari 2001, Jilid 8, Nomor 1. Menurut Dr. Umedi, M.Ed., Manajemen MUtu Berbasis Sekolah, Jakarta: Pusat Kajian Mutu Pendidikan, 2004, hal.2,menyatakan sebab-seba kurang berhasilnya sekolaha; 1. Pembangunan pendidikan lebih bersifat input oriented, 2. Pengelolannya lebih bersifat macro-oriented.
[6] Hanafiah, Jusuf dkk., Pengelolaan Mutu Total Pendidikan Tinggi, Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri, 1994, hal. 101. 
[7]Sukardi R. (2009). Penerapan ManajemenMutuTerpadu. Diakses pada tanggal 14 Februari 2013 dari http:/ www. ravik.staff.uns.ac.
[8]Ibid,
[9]Salis, E.. (1993). Total Quality Management in Education. Kogan Page.London, hlm 45
[10]Ibid,
[11]Ibid,
[12] Sekilas tentang Total Quality Manajement Dalam Pendidikan. Diakses pada tanggal 14 Desember 2012 dari http:/ www.uns.ac.id/data/0022.pdf

[13] Ibid,
[14]Ibid,
[15]Ibid,
[17] http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah, di akses pada tanggal 11 Februari 2013 pukul 23.06.          
[18] Ibid,
               
[20] M. N. Nasution, 2001, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Manajement, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal : 16.   
[21] Stephen Murgatroyd and Colin Morgan, 1994, Total Quality Manajement and The School, Open University Press, Buckingham – Philadelphia, hal : 45.
[22] Edward Sallis, 1993, Total Quality Management in Education, London, Kogan Page Educational Management Series: 13
[23] Ibid, hal : 29.
[24] J. Hradesky, 1995, Total Quality Management, New York, McGraw-Hill, Inc:24 cxq
[25] Vincent Gaspersz, 2005, Total Quality Management,Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama: 5-6
[26]http://www.goarticles.com/cgi-bin/showa.cgi?C=1505978 Senin 10 Februari 2013

[27] Lexy J. Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cet. XVIII. Hlm. 3.                                                                                                                                 
[28] Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Cet. XII. Edisi Revisi V. Hlm. 10-12.
[29] Suharsimi Arikunto. 2002. Hm. 75.       
[30] Nana Syaodih Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cet. II. Hlm. 77-78.
[31] Suharsimi Arikunto. 2002. Hlm. 207.    
[32] Ebta Setiawan. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia offline versi 1.1.                 
[33] Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Yogyakarta: Usaha Keluarga. Hlm. 49.          
[34] Bambang Budi Wiyono. 2008. Metodologi Penelitian (Pendekatan kuantitatif, Kualitatif, dan Action Research). Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Hlm. 78.
[35] Ibid. Hlm. 78.                         
[36] Ibid. Hlm. 79.                         
[37] Ibid. Hlm. 79-80.                   
[38] Ebta Setiawan. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia offline versi 1.1. 
[39] Suharsimi Arikunto. 2002. Hlm. 206.    
[40] Lexy J. Moleong. 2004. Hlm. 161-163.  
[41] Lexy J. Moleong. 2004. Hlm. 175.         
[42] Lexy J. Moleong. 2004. Hlm. 175-176.                  
[43] Ibid. 2004. Hlm. 177.             
[44] Lexy J. Moleong. 2004. Hlm. 103                

No comments:

Post a Comment