Thursday, November 7, 2013

Komponen-komponen kurikulum yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam


Oleh: Rahmat
13770019

 Jurusan Pendidikan Agama Islam
Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang November, 2013



A. Pendahuluan
            Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkatan pendidikan.
            Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa atau negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi. Setiap pendidik harus memahami perkembangan kurikulum, karena merupakan suatu formulasi pedagogis yang paling penting dalam konteks pendidikan, dalam kurikulum akan tergambar bagaimana usaha yang dilakukan membantu siswa dalam mengembangkan potensinya, berupa fisik, intelektual, emosional, dan sosial, keagamaan dsb .
            Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, teknik, media pengajaran dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan Islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya.
            Namun perlu diperhatikan, mengembangkan kurikulum pendidikan Islam hendaknya terlebih dahulu mengerti yang namanya dasar pendidikan Islam, lalu tujuan pendidikan Islam, baru kemudian kurikulum pendidikan Islam yang meliputi pengertian kurikulum itu sendiri, komponen kurikulum, kerangka dasar kurikulum, dasar kurikulum, prinsip-prinsip penyusunan kurikulum dsb.[1] Adapun pokok bahasan pemakalah hanya bagian kurikulum pendidikan Islam tepatnya pada komponen kurikulum.


























B. Pembahasan
1. Komponen-komponen yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam
a. Analisis Komponen-komponen kurikulum
            Cara termudah untuk menganalisis komponen-komponen kurikulum adalah dari definisi yang dikemukanan oleh para ahli kurikulum. Dan rumusan definisi yang diajukan, kita dapat menganalisis komponen-komponen definisi tersebut. Jika kita pelajari dan amati secara mendalam, ada beberapa pakar kurikulum yang mendefinisikan kurikulum dengan rumusan yang sangat ringkas atau pendek. Sebaliknya, ada pakar yang merumuskan dengan kalimat yang sangat panjang. Untuk menganalisis komponen kurikulum, sebaiknya kita dapat memilih definisi yang cukup panjang, karena dalam definisi yang cukup panjang tersebut biasanya akan mengandung komponen-komponen kurikulum.
            Sebagai contoh, McDonald dan Popham mendefinisikan kurikulum sebagai “statement of objectives” atau pernyataan tentang tujuan pendidikan, baik tujuan pendidikan maupun tujuan pembelajaran. Dengan demikian, komponen kurikulum yang paling penting adalah perlunya tujuan pendidikan yang akan dicapai melalui proses pembelajaran.[2]
            Sailor, Alexander, dan Lewis (1981) mendefinisikan kurikulum sebagai rencana guru untuk mengembangkan proses pembelajaran atau instruction. Demikian juga definsisi dari Zais yang menyatakan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisikan berbagai komponen sebagai dasar bagi guru untuk mengembangkan kurikulum. Dari definisi-definisi tersebut kita akan dapat menganalisis komponen-komponen kurikulum. Berdasarkan definisi Sailor, dkk. Tersebut, komponen kurikulum yang terpenting adalah rencana guru berupa materi pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik. Materi pelajaran itu biasanya tertulis dalam rencana mengajar atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru. Zais melihat komponen kurikulum lebih bersifat konseptual dibandingkan menurut Sailor, dkk. Jika Sailor, dkk. Melihat kurikulum lebih operasional, Zais melihat kurikulum lebih secara konseptual, yakni dokumen yang masih harus dijabarkan menjadi materi-materi pelajaran yang bersifat operasional yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.[3]
b. Komponen Kurikulum (UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional)
            Definisi kurikulum dari Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (Pasal 1 butir 19). Dari definisi ini kita dapat menyatakan bahwa komponen kurikulum adalah: Tujuan, Isi dan Materi Pelajaran serta Cara yang Digunakan.
            Tujuan yang dimaksud sebagai komponen kurikulum tersebut tentu saja adalah tujuan pembelajaran, yang sudah tentu terkait erat dengan rumusan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
            Sedangkan isi dan bahan pelajaran adalah berupa mata pelajaran atau bidang studi dan cakupan isi dalam setiap mata pelajaran tersebut.[4]
c. Pendapat Pakar Kurikulum Tentang Komponen Kurikulum
            Aristoteles, pakar filsafat pendidikan telah mengembangkan model kurikulum dengan komponen berikut. (1) Hasil atau product, yakni berupa dokumen kurikulum yang disusun untuk digunakan di sekolah atau satuan pendidikan tertentu; (2) Proses atau process, dalam pengertian pelaksanaan pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas berdasarkan kurikulum yang digunakan; (3) Wacana atau praxis, yaitu konsep-konsep yang tertuang dalam dokumen tersebut dan siap untuk diterapkan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.[5]
d. Pendapat Beberapa Tokoh Kurikulum yang Lain Tentang Komponen Kurikulum
            Sejalan dengan komponen kurikulum sebagaimana yang telah dijelaskan dalam definisi kurikulum dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Subandiyah menyebutkan bahwa komponen utama kurikulum adalah:[6]
a.       Tujuan pendidikan;
b.      Isi/materi;
c.       Organisasi/strategi;
d.      Media;
e.       Proses belajar mengajar.
Sedang komponen penunjangnya adalah:
a.       Sistem administrasi dan suvervisi;
b.      Bimbingan dan penyuluhan;
c.       Sistem evaluasi.
Menurut Hasan Langgulung[7] ada 4 komponen utama kurikulum yaitu:
a.       Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.      Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.       Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum.
d.      Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
Menurut Ramayulis[8] komponen kurikulum meliputi:
a.       Tujuan, yang ingin dicapai meliputi: (1) Tujuan Akhir, Tujuan Umum, (2) Tujuan Khusus, (3) Tujuan Sementara.
Setiap tujuan tersebut minimal ada tiga domain, yaitu setiap domain kognitif, afektif, dan psikomotor, setiap tujuan tidak tercapai dengan baik jika salah satu kemampuan di atas terabaikan. Bahkan dalam pendidikan Islam domain afektif (sikap beragama) lebih utama dari yang lainnya. Di sisi lain tujuan pendidikan Islam sebenarnya bersifat universal bukan hanya nasional, karena konsep pendidikan Islam adalah theosentris, dimana masalah kemanusiaan ada didalamnya sedangkan pendidikan non Islam (sekuler) bersifat antroposentris.
b.      Isi Kurikulum
Berupa materi pembelajaran yang diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Materi tersebut disusun ke dalam silabus, dan dalam mengaplikasikannya dicantumkan pula dalam Satuan Pembelajaran dan Rencana Pembelajaran.
Setiap materi tersebut harus jelas scope dan    squencenya.
c.       Media (sarana dan prasarana)
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Media tersebut berupa benda (materil) dan bukan benda (non meteril)
d.      Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainnya seperti: (1) sistem administrasi, (2) pelayanan BK, (3) remedial, (4) pengayaan, dsb.
e.       Proses Pembelajaran
Komponen ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran akan terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran dituntut sarana pembelajaran yang kondusif, sehingga memungkinkan dan mendorong kreativitas peserta didik dengan bantukan pendidik.
f.       Evaluasi
Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui cara pencapaian tujuan.

C. Penutup
           
            Pada point ini, pemakalah menghimbau diri sendiri dan teman-teman sekalian untuk melatih diri membudidayakan nalar kritis yang tinggi agar mampu membuat solusi setiap permasalahan dalam dunia pendidikan. Salah satu sikap itu bisa kita mulai dengan menganalisis atau menafsirkan sebuah definisi yang saat ini yang sudah kita bahas definisi tentang kurikulum. Sehingga manfaatnya kita dapat menemukan komponen-komponen kurikulum yang baru dan tepat guna menjawab permasalahan terkait pendidikan. Akhirnya, berkaca dengan beberapa definisi pakar kurikulum, komponen-komponen yang perlu dipertimbangkan eksistensinya atau dipertimbangkan (dipertanyakan kelayakannya) untuk digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam sebagaimana pendapat atau kesimpulan yang dikemukakan Ramayulis. Sebagai salah satu sosok ilmuan, pakar di bidangnya, beliau memiliki otoritas dalam berpendapat walau hal itu tidak mutlak benar alias masih memungkinkan untuk diganti apabila sudah menlenceng dari kelayakan pada zamannya. Namun, pakar kurikulum pada zaman ini menurut pemakalah masih belum menemukan komponen-komponen yang lebih bagus untuk sekedar menyetarai atau menyempurnakan komponen-komponen tersebut.






           
Daftar Rujukan

Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011)
Drs. Suprarlan, M.Ed, Tanya Jawab Pengembangan Kurikulum & Materi Pembelajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011)
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988)
Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Kurikulum Dan Pengajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010)
Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia. 2010)




[1] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia. 2010), hlm. X-Xi
[2] Drs. Suprarlan, M.Ed, Tanya Jawab Pengembangan Kurikulum & Materi Pembelajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 46
[3]Ibid., hlm. 47
[4] Ibid., hlm. 48
[5] Ibid., hlm. 49
[6] Ibid., hlm. 50 lihat juga yang serupa dalam karya Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 23-24
[7] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988), hlm. 303
[8] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia. 2010), hlm. 154 bisa juga dibandingkan dengan buku Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Kurikulum Dan Pengajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hlm. 59-76

No comments:

Post a Comment