Wednesday, March 26, 2014

Pengembangan Standar SARPRAS Pembelajaran/Pendidikan PAI


Makalah Pengembangan Metodologi Pembelajaran PAI
Pengampu: Dr. H. Fatah Yasin
Fardianah
PascaSarjana PAI UIN Maliki Malang
Maret 2014





A.  PENDAHULUAN
Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional.
Agar pendidikan agama Islam (PAI) berhasil mewujudkan tujuan dan fungsinya diperlukan proses belajar yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan akan berimplikasi pada prestasi siswa dan juga mempermudah guru dalam mengajar.
Undang-undang sistem pendidikan nasional no. 20 tahun 2003 bab XII pasal 45 ayat 1 menjelaskan bahwa :
Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.[1]

Salah faktor yang mendukung keberhasilan program pendidikan dalam proses pembelajaran yaitu sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih.
Sarana prasarana adalah salah satu bagian input, sedangkan input merupakan salah satu subsistem. Sarana prasarana sangat perlu dilaksanakan untuk menunjang keterampilan siswa agar siap bersaing terhadap pesatnya teknologi. Sarana prasarana merupakan bagian penting yang perlu disiapkan secara cermat dan berkesinambungan, sehingga dapat dijamin terjadi KBM yang lancar. Dalam penyelengaraan pendidikan, sarana dan prasarana sangat di butuhkan untuk menghasilkan KBM yang efektif dan efisien.



B.  PEMBAHASAN
1.    Pengertian Pengembangan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa  ini sarana pendidikan sebagai alat memperlancar pelaksanaan proses pendidikan berkembang dengan pesat. Yang dimaksud dengan alat pendidikan di sini ialah segala sesuatu atau hal-hal yang bisa menunjang kelancaran dari proses pelaksanaan pendidikan seperti sarana prasarana.[2]
Namun sebelum penulis memaparkan apa pengertian sarana prasarana alangkah baiknya apabila penulis sedikit akan menyinggung pengertian manajemen karena eksistensinya sarana dan prasarana akan di atur oleh adanya manajemen, agar bisa didayagunakan secara maksimal.
Oleh karena itu pengertian menejemen sebagaimana dicatat dalam encyclopedia americana yaitu the art of coordinating the elements of factors of production towads theachiement of the purposes of an organization, yaitu suatu seni untuk mengkoordinasi sumber daya organisasi untuk mencapai tujuannya, maksudnya agar sumber daya organisasi bisa di raih dengan efektif dan optimal, sehingga organisasi tersebut bisa diterima oleh berbagai pihak yang mempunyai kepentingan. Sedangkan dalam kamus besar bahasa indonesia, manajeman diartikan sebagai proses penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.[3]
Dari beberapa pengertian di atas kita dapat merumuskan bahwasannya manajemen adalah sebuah wadah atau cara untuk mendayagunakan adanya sarana prasarana untuk difungsikan pada kegunaannya masing-masing.
Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan yang mengatur untuk mempersiapkan segala peralatan/material bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Manajemen sarana dan prasarana dibutuhkan untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar. Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua benda bergerak dan tidak bergerak yang dibutuhkan untuk menunjang penyelenggaran kegiatan belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.[4]
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan keseluruhan proses kegiatan yang direncanakanan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu terhadap benda-benda pendidikan, agar senantiasa siap pakai dalam PMB. Manajemen ini dilaksanakan demi tujuan pendidikan di sekolah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.[5]
Manajemen ini tergolong dalam tiga aspek. Pertama, ditinjau dari fungsinya, ada barang berfungsi tidak langsung (seperti pagar, tanaman, dan lain-lain) dan barang berfungsi langsung (seperti media pembelajaran, dll). Kedua, ditinjau dari jenisnya, ada fasilitas fisik (misal kendaraan, komputer, dll) dan fasilitas material (seperti manusia, jasa dll). Ketiga, ditinjau dari sifat barangnya, ada barang bergerak dan tidak bergerak (seperti gedung, sumur dan lain-lain).[6]
Secara kronologis, kegiatan (prosedur) manajemen sapras meliputi :
a.    Perencanaan pengadaan barang
b.    Prakualisasi rekanan
c.    Pengadaan barang
d.   Penyimpanan, penginventarisan, penyaluran
e.    Pemeliharaan dan rehabilitasi
f.     Penghapusan dan penyingkiran
g.    Pengendalian[7]
Pada hakikatnya peran manjemen sarana dan prasarana pendidikan sangat terkait dengan kondisi dan ukuran sekolah yang bersangkutan. Bagi sekolah yang tergolong kecil, maka sapras dapat langsung ditangani oleh kepala sekolah atau guru yang diberi tugas dalam hal tersebut. Sedangkan untuk sekolah yang tergolong maju dan besar, maka manajemen sapras harus ditangani oleh beberapa pegawai yang ahli dalam bidangnya agar dapat mengelola sapras yang menjadi tanggung jawabnya secara optimal sekaligus dapat menunjang kegiatan pendidikan secara efektif dan efisien. Sapras pendidikan yang membutuhkan keahlian khusus adalah seperti pengelolaan sarana transportasi, komputer, internet, telepon, listrik, air, perpustakaan, uks, laboratorium, koperasi, bagisar dan maju an konsumsi/gizi. Semakin besar dan maju lembaga pendidikan tentunya semakin banyak sapras yang dibutuhkan sehingga membutuhkan manajemen yag memiliki tanggungjawab yang luas dan besar.[8]
Jadi  manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah usaha untuk mendayagunakan seluruh sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan optimal dengan melalui proses perencanaan, pengkondisian, pengawasan, atau pengevaluasian dalam upaya menggapai suatu pendidikan dan pembelajaran yang ideal.
Dalam pengertian yang luas peralatan pendidikan adalah semua yang digunakan guru dan murid dalam proses pendidikan. Ini mencakup perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat kelas misalnya gedung sekolah dan alat laboratorium, sedangkan perangkat lunak misalnya kurikulum, metode, dan administrasi pendidikan.[9]
Bila semua alat pendidikan di kalangan umat Islam amat sederhana maka pada zaman pertengahan Islam sudah ada ruangan yang luas untuk tempat perkuliahan, sudah ada asrama untuk mahasiswa, juga ada rumah pengajar, dilengkapi pula dengan tempat-tempat rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan.[10]
Sekalipun sederhana tokoh-tokoh pendidikan Islam dahulu sudah mengetahui pentingnya alat-alat bagi peningkatan mutu pendidikan ini berangkat dari hadits rasulullah saw yaitu :
يسرا ولاتعسرا وبشرا ولا تنفرا وتطاوعا ولا تختلفا
Artinya: “mudahkanlah, janganlah engkau persulit, berilah kabar-kabar yang menggembirakan dan jangan sekali-kali engkau memberikan kabar yang menyusahkan sehingga mereka lari menjauhkan diri darimu, saling taatlah kamu dan jangan berselisih yang dapat merenggangkankamu.”

Dari hadits di atas ditarik kesimpulan bahwa dalam menyelenggarakan kegiatan untuk kesejahteraan hidup manusia termasuk di dalamnya penyelenggaraan (sarana prasarana) pendidikan Islam harus mendasarkan pada :
a.    Memudahkan dan tidak mempersulit.
b.    Menggembirakan dan  tidak menyusahkan.
c.    Dalam memutuskan sesuatu heendaknya memiliki kesatuanpandangan dan tidak berselisih paham yang dapat  membawa pertentangan bahkan pertengkaran.[11]
Menurut bahasa, sarana berarti segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan menurut istilah sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta media dan alat pengajaran.[12]
Dalam kesempatan lain menurut muhaimin sarana adalah semua peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalm proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah meliputi : alat pelajaran (bahan-bahan perangkat pembelajaran, kamus-kamus, kitab suci al-Quran, alat-alat peraga, alat-alat praktik, dan alat-alat tulis) dan media pendidikan (media cetak, media audio, audio visual, dan media terpadu atau multimedia). Sarana pembelajaran pendidikan agama, dapat didefinisikan sebagai segala macam hal (hardware dan software) yang secara langsung dapat digunakan untuk memotivasi belajar agama, memperjelas dan mempermudah proses pembelajaran PAI serta pengamalan beragama siswa sesuai dengan tujuan pendidikan agama.[13]
Sedangkan pengertian prasarana menurut bahasa berarti segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses.[14] Menurut istilah prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses atau pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olah raga.[15]
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 42 menyebutkan :
a.    Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
b.    Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.[16]
Sedangkan dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 211 Tahun 2011 tentang pedoman pengembangan standar nasional pendidikan agama Islam pada sekolah menegaskan bahwa sarana PAI adalah perlengkapan pendukung pembelajaran PAI yang dapat dipindah-pindah. Sedangkan prasarana PAI adalah fasilitas dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran PAI di sekolah.
Adapun sarana pendidikan agama Islam misalnya : buku kurikulum untuk guru, buku pedoman untuk guru, buku teks untuk peserta didik, alat peraga membaca al-Qur’an, gambar dan market tempat ibadah, gambar orang yang sedang melakukan wudhu, gambar orang yang sedang melakukan sholat, dan perlengkapan shalat. Disamping itu masih banyak sarana yang diharapkan pengadaannya melalui swadaya misalnya : mushaf al-Qur’an, media pendidikan agama Islam, buku-buku perpustakaan, buku penunjang baik untuk guru maupun siswa, dan buletin sekolah.[17]
Perbedaan sarana dan prasarana pendidikan adalah pada fungsi masing-masing, yaitu sarana pendidikan untuk “memudahkan penyampaian/mempelajari materi pelajaran, ” sedangkan prasarana pendidikan untuk “memudahkan penyelenggaraan pendidikan.” Dalam makna inilah sebutan “digunakan langsung” dan “digunakan tidak langsung” dalam proses pendidikan seperti telah disinggung di awal dimaksudkan. Jelasnya, disebut “langsung” itu terkait dengan penyampaian materi (mengajarkan materi pelajaran), atau mempelajari pelajaran. Papan tulis, misalnya, digunakan langsung ketika guru mengajar (di papan tulis guru menuliskan pelajaran). Meja murid tentu tidak digunakan murid untuk menulis, melainkan untuk “alas” murid menuliskan pelajaran (yang dituliskan di buku tulis, buku tulis itulah yang digunakan langsung).
Oleh karena itu, pengembangan sarana dan prasarana pendidikan adalah terwujudnya sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang sesuai SNP sehingga program-program panduan sekolah potensial menjadi SSN dikembangkan adalah memanfaatkan dana yang ada dan atau mencari terobosan lain dalam penambahan dana, yaitu[18] :
a.    Perbaikan/pengadaan/pembangunan gedung, laboratorium dan ruang-ruang sesuai kebutuhan sekolah
b.    Pengadaan/perbaikan/penambahan peralatan praktik laboratorium ipa
c.    Pengadaan/perbaikan/penambahan peralatan praktik laboratorium komputer
d.   Pengadaan/perbaikan/penambahan peralatan praktik laboratorium bahasa
e.    Pengadaan/perbaikan/penambahan peralatan OR, kesenian, keterampilan, dll
f.     Pengadaan bahan-bahan pratikum ipa, komputer, dan bahasa
g.    Pengadaan/perbaikan/penambahan ATK sesuai sasaran
h.    Pengadaan/perbaikan/penambahan modul, buku, referensi, manual, diktat, majalah, jurnal, dll
i.      Perbaikan/penambahan/pemasangan jaringan internet
j.      Pengadaan/perbaikan/penambahan media pendidikan pada semua mata pelajaran
k.    Peningkatan perawatan sapras sekolah
l.      Pengadaan/perbaikan/penambahan sarana TU
m.  Pelaksanaan pengadaan/perbaikan/penambahan sapras
n.    Pelaksanaan evaluasi pengembangan sapras.[19]
Strategi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sarana tersebut, antara lain :
a.    Membentuk tim khusus
b.    Melaksanakan workshop atau pelatihan secara internal di sekolah
c.    Melakukan kerjasama dengan komite sekolah
d.   Melakukan kerjasama dengan lembaga/instansi lain, khususnya dalam pengadaan sapras
e.    Mengadakan kunjungan ke sekolah lain
f.     Melakukan kerjasama dengan LPTI/perguruan tinggi
g.    Melakukan kerjasama dengan dunia usaha/industri, dll[20]
2.    Jenis Saran dan Prasarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu[21] :
a.    Habis tidaknya dipakai
1)   Sarana pendidikan yang habis dipakai adalah segala bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Contoh, kapur tulis. beberapa bahan kimia untuk praktik guru dan siswa, dsb. Sedangkan sarana pendidikan yang berubah bentuk misalnya, kayu, besi, dan kertas karton yang digunakan guru dalam mengajar pelajaran keterampilan. Contoh : pita mesin ketik/komputer, bola lampu, dan kertas.
2)   Sarana pendidikan yang tahan lama adalah keseluruhan bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama. Contoh : bangku sekolah, mesin tulis, atlas, globe, dan peralatan olah raga.



b.    Pendidikan bergerak tidaknya
1)   Sarana pendidikan yang bergerak adalah sarana pendidikan yan bisa digerakan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Contohnya, almari arsip sekolah dan bangku sekolah, dsb.
2)   Sarana pendidikan yang tidak bergerak adalah semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan misalnya, saluran dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
c.    Hubungannya dengan proses belajar mengajar.
Ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar, sarana pendidikan dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1)   Alat pelajaran, adalah alat yang digunakan secara langsung dalam proses belajar mengajar, misalnya buku,  alat tulis, dan alat praktik.
2)   Alat peraga, adelah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa perbuatan-perbuatan, atau benda-benda yang mudah memberi pengertian kepada anak didik berturut-turut dari yang abstrak sampai yang konkret.
3)   Media pengajaran, adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar, untuk lebih mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Ada tiga jenis media, yaitu audio, visual, dan audio visual.
Adapun prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu :
a.    Prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik ketrampilan, dan ruang laboratorium.
b.    Prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mengajar. Misalnya, ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.[22]


3.    Tujuan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan
Secara umum tujuan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah adalah untuk memberikan layanan secara profesional di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terealisasikannya proses pendidikan secara efektif dan optimal. Secara rinci tujuannya adalah sebagai berikut :
a.    Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana sekolah melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama, sehingga sekolah memiliki sarana prasarana yang baik sesuai dengan kebutuhan sekolah dan dengan dana yang efisien.
b.    Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat.
c.    Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai untuk setiap keperluan personel sekolah.[23]
Adapun tujuan pemberdayaan sarana pembelajaran pendidikan agama Islam adalah untuk :
a.    Dapat memeperjelas, mempermudah, meningkatkan hasil belajar PAI peserta didik secara utuh dan optimal.
b.    Dapat meingkatkan kemampuan belajar dan motivasi belajar peserta didik
c.    Dapat menumbuhkan kesempatan belajar yang lebih banyak dan lebih baru
d.   Dapat mengurangi ketergantungan kepada guru PAI
e.    Dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam beragama di era globalisasi  dan mengkokohkan pengalaman dan pengamalan beragama dalam kehidupan sehari-hari.[24]
Jadi menurut kami uraian di atas sesuai dengan kondisi pada era modern saat ini, mau tidak mau kita harus bisa mengimbangi persaingan pendidikan non Islam. Dengan catatan kita tetap tidak menyimpang dari norma-norma yang telah ditetapkan oleh syara’.
4.    Prinsip-prinsip Sarana Pembelajaran PAI
Dalam mengelola sarana dan prasarana sekolah, terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan agar tujuan bisa tercapai dengan maksimal. Prinsip-prinsip tersebut menurut Bafadal adalah[25] :
a.    Prinsip Pencapaian Tujuan
Pada dasarnya manajemen perlengkapan sekolah dilakukan dengan maksud agar semua fasilitas sekolah dalam keadaan kondisi siap pakai. Oleh sebab itu, manajemen perlengkapan sekolah dapat dikatakan berhasil bilamana fasilitas sekolah itu selalu siap pakai setiap saat, pada setiap ada seorang personel sekolah akan menggunakannya.
b.    Prinsip Efisiensi
Dengan prinsip efisiensi berarti semua kegiatan pengadaan sarana dan prasarana sekolah dilakukan dengan perencanaan yang hati-hati, sehingga bisa memperoleh fasilitas yang berkualitas baik dengan harga yang relatif murah, sehingga dapat mengurangi pemborosan. Maka perlengkapan sekolah hendaknya dilengkapi dengan petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaannya. Petunjuk teknis tersebut dikomunikasikan kepada semua personel sekolah yang diperkirakan akan menggunakannya. Selanjutnya, bilamana dipandang perlu, dilakukan pembinaan terhadap semua personel.
c.    Prinsip Administratif 
Di Indonesia terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan sarana dan prasarana pendidikan. Sebagai contohnya adalah peraturan tentang inventarisasi dan penghapusan perlengkapan milik negara. Dengan prinsip administratif berarti semua perilaku pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah itu hendaknya selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi dan pedoman yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Sebagai upaya penerapannya, setiap penanggung jawab pengelolaan perlengkapan pendidikan hendaknya memahami semua peraturan perundang-undangan tersebut dan menginformasikan kepada semua personel sekolah yang diperkirakan akan berpartisipasi dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan.
d.   Prinsip Kejelasan Tanggung Jawab
Di Indonesia tidak sedikit adanya lembaga pendidikan yang sangat besar dan maju. Oleh karena besar, sarana dan prasarananya sangat banyak sehingga manajemennya melibatkan banyak orang. Bilamana hal itu terjadi maka perlu adanya pengorganisasian kerja pengelolaan perlengkapan pendidikan. Dalam pengorganisasiannya, semua tugas dan tanggung jawab semua orang yang terlibat itu perlu dideskripsikan dengan jelas.
e.    Prinsip kekohesifan
Dengan prinsip kekohesifan berarti manajemen perlengkapan pendidikan di sekolah hendaknya terealisasikan dalam bentuk proses kerjasekolah yang sangat kompak. Oleh karena itu, walaupun semua orang yang terlibat dalam pengelolaan perlengkapan itu telah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, namun antara yang satu dengan yang lainnya harus selalu bekerja sama dengan baik.
Menurut Muhaimin penggunaan sarana pembelajaran PAI di sekolah perlu bertolak dari prinsip-prinsip, agar tidak salah arah dan tujuan, serta tetap efektif, efisien dan memiliki daya tarik. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
a.    Berorientasi kepada kompetensi PAI, semua penggunaan sarana pembelajaran PAI di sekolah terarah untuk menunjang pencapaian kompetensi PAI yang telah dirumuskan.
b.    Relevansi, dalam arti relevan dengan kompetensi PAI yang hendak dicapai.
c.    Efisiensi, mempertimbangkan waktu, tenaga, biaya, dan sumber-sumber lain secara cermat dan tepat, sehingga hasil pembelajaran PAI dapat memadai dan memenuhi harapan.
d.   Efektifitas, membuahkan hasil, yakni tercapainya kompetensi PAI tertentu, dan terhindar dari kemubadziran.
e.    Fleksibilitas, bersifat luwes, mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan sewaktu yang selalu berkembang tanpa merombak kompetensi PAI yang harus dicapai.
f.     Integritas, mempertimbangkan komponen-komponen pembelajaran lainnya secara terpadu, seperti kompetensi kompetensi PAI yang hendak dicapai, karakteristik materi PAI dan peserta didik, strategi penyampaian hasil.[26]
5.    Proses Pengelolaan Sarana dan Prasarana
Harus dilakukan secara kontinyu agar dapat berdaya guna dalam waktu yang lama dalam pengelolaan sarana prasarana pendidikan sehingga dalam kondisi siap pakai, diperlukan petugas khusus yang menanganinya. Hal ini dimaksudkan untuk membantu guru dalam mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, utamanya yang berkaitan erat dengan sarana dan prasarana yangmenunjang secara langsung dalam proses pembelajaran.[27]
Proses manajemen sarana prasarana pendidikan Islam yang akan dibahas di sini berkaitan erat dengan :[28]
a.    Perencanaan sarana prasarana pendidikan Islam
Perencanaan merupakan fungsi pertama yang harus dilakukan dalam proses manajemen. Perencanaan sarana dan prasarana pendidikan merupakan suatu proses analisis dan penetapan kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembelajaran dan kebutuhan yang dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Dalam proses perencanaan ini harus dilakukan dengan cermat dan teliti baik berkaitan dengan karakteristik sarana dan prasarana yang dibutuhkan, jumlahnya, jenis dan kendalanya (manfaat yang didapatkan), beserta harganya. Berkaitan dengan perencanaan ini, Johnson (1969) menjelaskan bahwa perencanaan pengadaan perlengkapan pendidikan di sekolah harus diawali dengan analisis jenis pengalaman pendidikan yang diprogramkan sekolah. Proses perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah merupakan kegiatan yang tidak mudah, membutuhkan analisis yang teliti dan memperhatikan kualitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Ketersediaan dana juga memperhatikan skala prioritas dalam pengadaannya.
 Oleh karena itu, dalam proses perencanaan ini harus melibatkan semua personel sekolah agar dapat diketahui secara pasti tentang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh sekolah, utamanya yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran di sekolah. Personel yang terlibat dalam proses perencanaan ini harus mengetahui secara pasti anggaran yang dikeluarkan oleh sekolah. Selain itu, juga harus memberikan analisis tentang skala prioritas yang dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
b.    Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan Islam
Pengadaan sarana prasarana pendidikan disekolah pada hakikatnya adalah upaya merealisasikan rencana pengadaan perlengkapan yang telah disusun oleh sekolah sebelumnya. Dalam pengadaan ini harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dengan memperhatikan skala prioritas yang dibutuhkan oleh sekolah dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Memilih sarana prasarana bukanlah berupa resep yang lengkap dengan petunjuk-petunjuknya lalu pendidik menerima resep begitu saja. Sarana pembelajaran hendaknya direncanakan, dipilih dan diadakan dengan teliti sesuai dengan kebutuhan sehingga penggunanya berjalan dengan efektif dan efisien. Untuk itu pendidik hendaknya menyesuaikan sarana pembelajaran dengan faktor-faktor yang dihadapi, yaitu tujuan yang hendak dicapai, media yang tersedia, pendidik yang akan mempergunakanya, dan peserta didik yang dihadapi. Faktor lain yang hendak dipertimbangkan dalam pemilihan sarana pembelajaran adalah kesesuaian dengan ruang dan waktu.
c.    Inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan Islam
Inventarisasi dapat diartikan sebagai pencatatan dan penyusunan daftar  barang-barang milik negara secara sistematis, tertib dan teratur  berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Hal ini sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan RI nomor Kep. 225/MK/V/4/1971 bahwa barang milik negara berupa semua barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang bersumber, baik secara keseluruhan atau sebagiannya, dari APBN ataupun dana lainya yang barang-barangnya di bawah penguasaan kantor departemen dan kebudayaan, baik yang berada didalam maupun luar negeri.[29]
d.   Pengawasan dan Pemeliharaan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang harus dilaksanakan oleh pimpinan organisasi. Berkaitan dengan sarana prasarana pendidikan di sekolah, perlu adanya kontrol baik dalam pemeliharaan atau pemberdayaan. Pengawasan terhadap sarana prasarana pendidikan disekolah merupakan usaha yang ditempuh oleh pimpinan dalam membantu personel sekolah untuk menjaga atau memelihara dan memanfaatkan sarana prasarana sekolah dengan sebaik mungkin demi keberhasilan proses pembelajaran disekolah. Pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana disekolah merupakan aktifitas yang harus dijalankan untuk menjaga agar perlengkapan yang dibutuhkan oleh personel sekolah dalam kondisi siap pakai. Kondisi siap pakai ini akan sangat membantu terhadap kelancaran proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah.[30] Oleh karena itu, semua perlengkapan yang ada di sekolah membutuhkan perawatan, pemeliharaan dan pengawasan agar dapat diberdayakan dengan sebaik mungkin.
e.    Penghapusan sarana dan prasarana sekolah
Penghapusan sarana prasarana pendidikan adalah kegiatan meniadakan barang-barang milik lembaga (bisa juga milik negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan penghapusan terhadap perlengkapan di sekolahnya. Namun, perlengkapan yang akan dihapus harus memenuhi persyaratan penghapusan. Dalam penghapusan barang ini, kepala sekolah beserta stafnya hendaknya mengelompokan dan mendata barang-barang yang akan dihapus, kemudian mengajukan usulan penghapusan beserta lampiran jenis barang yang akan dihapus ke diknas/departemen agama. Setelah SK dari kantor pusat tentang penghapusan barang terbit, maka dapat dilakukan penghapusan sesuai berita acara yang ada. Penghapusan barang ini dapat dilakukan dengan cara pemusnahan atau pelelangan.[31]
Di dalam standar pengelolaan pendidikan digambarkan tentang eksisnya fungsi-fungsi pengelolaan pendidikan dan kepemimpinannya/leadership pada satuan pendidikan. Bidang sarana dan prasarana meliputi, antara lain :
a.    Merencanakan, memenuhi dan mendayagunakan sarana dan prasarana.
b.    Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi mendukung proses pendidikan.
c.    Melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkat kelas di sekolah.
d.   Menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing-masing tingkat.
e.    Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan lingkungan.[32]
6.    Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran PAI
Standar sarana dan prasarana merupakan kriteria minimum bagi upaya penyelenggaraan pendidikan bagi satu kelompok peserta didik sesuai dengan jangkauan/kemampuan mereka. Artinya jika kriteria minimum tidak sanggup dipenuhi oleh kelompok peserta didik tertentu, baik dalam jumlah dan kemampuan lainnya secara minimum, maka mereka bergabung dengan lingkungan yang lebih luas untuk menyelenggarakan pendidikan.[33]
Sedangkan dalam PP. No. 32 tahun 2013 standar sarana dan prasarana adalah kriteria mengenai ruang belajar, tempat berolahraga, tempat ibadah, perpustakaan, laboratorium, tempat bermain, tempat rekreasi dan berekreasi serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Peraturan Menteri pendidikan nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan standar sarana dan prasarana, meliputi:
a.    Peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs), dan sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA).
b.    Peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia No. 40 tahun 2008 tentang standar sarana prasarana untuk sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah aliyah kejuruan (MAK).
c.    Peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia No. 33 tahun 2008 tentang standar sarana prasarana untuk sekolah  luar biasa.
Dalam peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan dinyatakan bahwa tujuan pendidikan agama yaitu:  berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Fungsinya adalah membentuk manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.
Agar PAI berhasil mewujudkan tujuan dan fungsinya diperlukan proses belajar yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai, yaitu memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana. Sebagai penanggung jawab pengelolaan PAI kementerian agama mengembangkan standar yang ada sesuai dengan kekhususan mata pelajaran.
Penyusunan pengembangan standar sarana dan prasarana PAI ini dijadikan sebagai panduan dan tolok ukur bagi penyelenggara PAI dalam merancang rencana dan pelaksanaan pengelolaan pai mulai dari paud/tk, tingkat dasar dan menengah, kejuruan, sekolah luar biasa (SLB) dan pendidikan kesetaraan.[34]
Pengembangan standar sarana dan prasarana pendidikan agama Islam berfungsi sebagai :
1)   Kriteria minimum sarana yang harus dimiliki oleh paud/tk dalam penyelenggaraan pendidikan agama Islam, terdiri atas: perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi.
2)   Kriteria minimum prasarana yang harus dimiliki oleh sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan agama Islam, terdiri atas : lahan, bangunan, ruangan, dan instalasi daya dan jasa.
Ruang lingkup
Setiap sekolah minimal memiliki sarana dan prasarana PAI sebagai berikut :
a.    Sarana dan prasarana ibadah
b.    Sarana dan prasarana laboratorium PAI; dan
c.    Sarana dan prasarana perpustakaan PAI.
Gambaran secara global tentang standar sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut[35] :


a.    Satuan Pendidikan
Satu satuan pendidikan memiliki minimum 1 rombongan belajar dan maksimum paralel 5 kelas atau paralel maksimal 5 rombongan belajar penjurusan (SLA).
b.    Lahan
1)   Memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik
2)   Luas lahan yang dimaksud adalah luas lahan yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga.
3)   Lahan terhindar potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.
4)   Lahan terhindar dari gangguan-gangguan pencemaran air, pencemaran udara, dan kebisingan.
5)   Lahan memiliki status hak atas tanah, dan atau memiliki izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.
c.    Bangunan Gedung
1)   Memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik.
2)   Memenuhi ketentuan tata bangunan.
3)   Memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan keamanan.
4)   Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksebilitas yng mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
5)   Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan.
6)   Dilengkapi intalasi listrik dengan daya minimum 1.300 watt.
7)   Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.
8)   Bangunan gedung baru dapat bertahan minimum 20 tahun.
d.   Kelengkapan Sarana dan Prasarana
Sebuah satuan pendidikan (misal SMA/MA) sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut :
1)   Ruang kelas
a)    Fungsinya adalah tempat kegiatan pembelajaran teori, praktek yang tidak memerlukan peralatan khusus, atau dengan alat yang mudah dihadirkan.
b)   Kapasitas maksimum ruang kelas 30 peserta didik.
c)    Memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan yang memadai untuk membaca buku dan memberikan pandangan ke luar ruangan.
d)   Memiliki pintu yang memadai agar peserta didik dan guru dapat segera keluar ruangan jika terjadi bahaya, dan dapat dikunci dengan baik saat tidak digunakan.
2)   Ruang perpustakaan
a)    Berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka dengan membaca, mengamati, mendengar, dan tempat petugas mengelola perpustakaan.
b)   luas minimum sama dengan ruang kelas. lebar minimum 5 m.
c)    Terletak di bagian sekolah yang mudah dicapai.
d)   Dilengkapi jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku. 
3)   Laboratorium biologi, fisika, dan kimia
a)    Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran masing-masing mapel secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
b)   Dapat menampung minimum satu rombel.
c)    Dilengkapi sarana minimal yang dipersyaratkan sesuai mata pelajaran.
4)   Ruang laboratorium komputer
a)    Sebagai tempat mengembangakan keterampilan dalam bidang TIK.
b)   Dapat menampung minimum satu rombongan belajar yang bekerja dalam kelompok @ 2 orang.
5)   Ruang laboratorium bahasa
a)    Berfungsi sebagai tempat mengembangkan keterampilan bahasa, khusus untuk sekolah yang mempunyai jurusan bahasa.
b)   Dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
c)    Dilengkapi sarana yang distandarkan.

6)   Ruang pimpinan  
a)    Berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pengelolaan sekolah, pertemuan dengan sejumlah kecil guru, orang tua murid, unsur komite sekolah, petugas dinas pendidikan atau tamu lainnya.
b)   Mudah diakses oleh guru dan tamu sekolah, dapat dikunci dengan baik.
7)   Ruang guru
a)    Berfungsi sebagai tempat guru bekerja dan istirahat serta menrima tamu, baik peserta didik maupun tamu lainnya.
b)   Mudah dicapai dari halaman sekolah ataupun dari luar lingkungan sekolah, serta dekat dengan ruang pimpinan.
8)   Ruang tata usaha
a)    Berfungsi sebagai tempat kerja petugas untuk mengerjakan administrasi sekolah.
b)   Mudah dicapai dari halaman sekolah ataupun dari luar lingkungan sekolah, serta dekat dengan ruang pimpinan.
9)   Tempat ibadah
a)    Berfungsi sebagai tempat warga sekolah melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama pada waktu sekolah.
10)    Ruang konseling
a)    Berfungsi sebagai tempat peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
b)   Dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi siswa.
11)    Ruang UKS
a)    Berfungsi sebagai tempat untuk penanganan dini siswa yang mengalami gangguan kesehatan di sekolah.
12)    Ruang organisasi kesiswaan
a)    Berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi kesiswaan.
13)    Jamban
a)    Berfungsi sebagai tempat buang air besar dan/atau kecil.
b)   Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan.
c)    Tersedia air bersih di setiap unit jamban.
14)    Gudang
a)    Berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, tempat menyimpan sementara peralatan sekolah yang tidak/belum berfungsi di satuan pendidikan, dan tempat menyimpan arsip sekolah yang telah berusia lebih dari 5 tahun.
15)    Ruang sirkulasi
a)    Ruang sirkulasi horizontal berfungsi sebagai tempat penghubung antar ruang dalam bangunan sekolah dan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan bermain dan interaksi sosial peserta didik di luar jam pelajaran, terutama pada saat hujan ketika tidak memungkinkan kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung di halaman sekolah.
b)   Dilengkapi dengan tangga dengan panjang lebih dari 30 m/2 buah tangga.
c)    Ruang sirkulasi vertikal dilengkapi pencahayaan dan penghawaan cukup.
16)    Tempat bermain/berolahraga
a)    Berfungsi sebagai area bermain, berolahraga, pendidikan jasmani, apel, dan kegiatan ekstrakurikuler.
b)   Tempat bermain/berolahraga yang berupa ruang terbuka sebagian ditanami pohon penghijauan.
c)    Diletakkan di tempat yang tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas.
d)   Tidak digunakan untuk tempat parkir.
e)    Memiliki permukaan datar, drainase baik, dan tidak terdapat pohon, saluran air, serta benda-benda lain yang mengganggu kegiatan olahraga.
C.  ANALISIS
Dalam bab ini sarana prasarana merupakan satu kesatuan perangkat yang digunakan dalam sistem pembelajaran. Pada dasarnya prasarana itu ada sebelum sarana itu ada. Prasarana merupakan fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, tanah dan gedung yang ada sebelum sekolah dibangun itu disebut dengan prasarana, sedangkan lcd yang ada di ruangan kelas itu disebut dengan sarana. Manajemen sarana prasarana merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta membina secara kontinu terhadap benda-benda pendidikan agar senantiasa siap pakai dalam proses belajar mengajar, sehingga lebih efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Secara umum tujuan manajemen sarana dan prasarana itu memberikan layanan secara profesional di bidang sarpras sekolah dalam rangka terselenggaranya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Jika sarana prasarana tidak terpenuhi secara profesional, maka hal itu akan berdampak pada proses pembelajaran yang kurang maksimal. Pada akhirnya, kualitas sekolah diragukan oleh masyarakat dan orang tua pun enggan menyekolahkan anaknya disekolah tersebut. Tapi, sarana prasarana yang lengkap pun juga tidak menjamin berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Karena dalam hal ini, sarana prasarana tidak bisa memfungsikan diri tanpa ada orang yang memfungsikannya. Jadi, peran pendidik juga tidak bisa dinafikan. Pendidik juga harus menguasai sarana apa yang akan dipakai, sehingga sarana yang ada itu digunakan secara maksimal.
Saran pembelajaran pendidikan agama tidak terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan barang atau peralatan tetapi juga ide, gagasan, prosedur, teknik, dan strategi. Dengan demikian, kajian mengenai sarana pembelajaran pendidikan agama menyangkut berbagai persoalan material dan nonmaterial yang dapat mempermudah pembelajaran pendidikan agama.[36]
C.    KESIMPULAN
Dari uraian di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwasannya sarana dan prasarana yang berupa fisik dalam proses pendidikan perlu didayagunakan secara bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tujuan utama mempergunakan sarana prasaran tersebut ialah tidak lain hanyalah untuk mencapai hasil yang optimal dalm proses pendidikan. Oleh karena itu, alat atau media  tersebut perlu di seleksi terlebih dahulu sebelum di pergunakan dalam proses, mana yang layak digunakan dan mana yang tepat guna diukur dari tujuan yang kita rencanakan.



DAFTAR PUSTAKA

Abdussalam, Suroso. 2011. Arah & Asas Pendidikan Islam (Bekasi : Sukses Publishing
Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya. Jakarta : PT Bumi Aksara
Burhanuddin. 2003. Manajemen Pendidikan. Malang: PT Universitas Negeri Malang
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:  PT Balai Pustaka
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 211 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah
Muhaimin. 2003. Arah baru pengembangan pendidikan Islam. Malang : Nuansa
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Noer Aly, Hery. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Logos
Rohiat. 2009. Manajemen Sekolah Teori Dasar Dan Praktik. Bandung : PT Refika Aditama
Sulistyorini. 2009. Manajemen Pendidikan Islam. Yogyakarta : Teras
Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ubiyati, Nur. 2005. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustak Setia
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XII pasal 45 ayat 1
UU Sistem Pendidikan Nasional No.23 Th. 2003
Zuhairini dkk. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.


[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XII pasal 45 ayat 1
[2] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), hlm. 181
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002)
[4] Dr. Rohiat, M.Pd, Manajemen Sekolah Teori Dasar Dan Praktik, (Bandung : PT Refika Aditama, 2009) hlm. 26
[5] Mulyono, M.A, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 184
[6] Ibid.,
[7] Ibid., hlm. 185
[8] Ibid.,
[9] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 90
[10]  Ibid., hlm. 91-92
[11] Nur Ubiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2005), hlm. 126
[12] Mulyasa, Manajemen berbasis sekolah, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 49
[13] Muhaimin, Arah baru pengembangan pendidikan Islam, (Malang : Nuansa, 2003), hlm. 132
[14] Departemen pendidikan nasional. Op.Cit.                  
[15] Mulyasa. Loc.cit.
[16] Badan Standar Nasional Pendidikan, “Standar Sarana Prasarana”, Diakses tanggal 21 Maret 2014 pukul 15.19 WIB pada situs http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=109/
[17] UU Sistem pendidikan Nasional No.23 Th. 2003
[18] Rohiat,. Op. Cit, hlm. 90
[19] Rohiat., Op. Cit, hlm. 90
[20] Ibid., hlm. 90-91
[21] Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2003), hlm. 2-3
[22] Ibid., hlm. 3
[23] Burhanuddin, Manajemen Pendidikan, (Malang : PT Universitas Negeri Malang, 2003), hlm. 86
[24] Muhaimin, Op.Cit, hlm 137-138
[25] Ibrahim Bafadal, Op.Cit., hlm. 5-6
[26] Muhaimin., Op.Cit, hlm. 138
[27] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Teras, 2009), hlm. 119
[28] Ibid.,
[29] Bafadal., Op.Cit, hlm. 55
[30] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 1999) hlm.154
[31] Bafadal., Op.Cit, hlm. 62
[32] Suroso Abdussalam, Arah & Asas Pendidikan Islam (Bekasi : Sukses Publishing, 2011), hlm. 188-189
[33] Ibid., hlm. 160
[34] Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 211 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam  Pada Sekolah Bab Viii
[35] Abdussalam, Op.Cit, hlm. 161-181
[36] Muhaimin., Op. Cit, hlm. 132

No comments:

Post a Comment