Friday, May 16, 2014

KAEDAH-KAEDAH PENGGUNAAN MEDIA

Mahasiswa PascaSarjana UIN Maliki Malang
Mei 2014


Media -seperti halnya tampak dari namanya dan dari pengertiannya tadi- difungsikan untuk memahami pelajaran, membantu dalam realisasi tujuan (pembelajaran), bukan tujuan atau batas semata-mata media berdiri pada dirinya sendiri, dengan kata lain media tidak bisa terpisah dengan tujuan dan metode pembelajaran. Bahkan dengan kita menggunakan media maka akan menyempurnakan (sebuah) tujuan dan metode pembelajaran. Agar berfungsi secara maksimal maka perlu memerhatikan hal-hal berikut ini:
1.   Persiapan penggunaan media; wajib bagi guru pada saat hadir (di kelas) untuk memilih media yang dipandang cocok. Sehingga mampu untuk meminimalisir permasalahan atau juga mengatasi problematika dengan tampilan media tersebut. Tentunya setelah menentukan batasan tujuan pembelajaran.
2.   Media sepatutnya menjangkau pada tingkat kemampuan siswa. Media harus disesuaikan dengan tingkat intelektual, tradisi budaya dan tingkat pendidikan siswa. Layar/sajian yang sesuai dengan kelas-kelas tinggi di tingkatan SD, tentu tidak layak diperuntukkan kelas-kelas rendah. Begitupun media film yang efektif dipakai untuk tingkatan SLTA pastinya akan susah dipahami jika dipergunakan untuk tingkatan SD, begitu juga berlaku sebaliknya.
3.   Media hendaknya disesuaikan dengan topik pelajaran, dan menghubungkan dengan poin-poin yang diharapkan untuk dipahami, agar bisa memudahkan pemahaman poin-poin dan pelajaran tersebut, bukan malah mengecoh siswa, sehingga mengalihkan perhatian terhadap media tersebut dan melupakan maksud yang terkandung dalam materi itu.
4.   Hendaknya tidak menyiapkan lebih dari dua tujuan yang berdekatan, untuk berdesakan dan pengisi, akan tetapi bisa dibuat lebih praktis dan mudah digunakan
5.   Ukuran media harus disesuaikan dengan jumlah siswa, agar tampak jelas dan mudah dimanfaatkan. Maka media yang tampilannya disetting untuk 20 orang tentu tidak patut bila digunakan dengan jumlah siswa yang lebih dari itu. Karena ukurannya yang kecil sehingga tidak akan mungkin setiap siswa mendapat kesempatan melihat media secara detail
6.   Media harus menarik dan disiapkan secara sempurna baik di sisi inti materi maupun inovasinya. Media harus dibuat secara detail dan bebas dari kesalahan-kesalahan ilmiah sehingga tidak menimbulkan keraguan-raguan atau membuat kesalahpahaman siswa dalam menangkap materi. Isi materi harus mengikuti pengembangan-pengembangan terbaru.
7.   Sebaiknya guru menggunakan lebih dari satu media dalam menjelaskan suatu topik jika memungkinkan, dengan tetap memperhatikan keanekaragaman dalam pelibatan pancaindera. Untuk berhati-hati dari memperbanyak media dalam sekali pertemuan, hendaknya menyelaraskan tentang pelajaran dan tujuan dasar dari media yang ditampikan kepada siswa. Sebaiknya juga jangan sampai berlebihan dalam menggunakan media-media mekanik, seperti komputer karena mengurangi/menyedikitkan peran unsur manusia, melemahkan hubungan langsung antara guru dan siswa. Dengan begitu pula akan mengurangi sikap kepedulian, bimbingan dan tauladan yang baik.
8.   Menampilkan media di waktu yang tepat saat guru mampu, sehingga tidak kehilangan unsur pengadukan/itsaroh, maka guru tidak menampakkan penggunaan sedikit kecuali sebentar. Karena tampilan media di awal pelajaran menyibukkan siswa untuk mengikuti dan  partisipasi guru. Adapun ketika tampilan media di waktu yang sesuai maka memberikan hasil. Maka menampilkan media di awal pelajaran mendahului, atau di tengah pelajaran, dan terkadang setelah selesai. Media menjadi pengulang dan ringkasan materi jika melihat hal tersebut dan muncul sisi-sisi positif dari guru dan siswa saat media ditampilkan.
9.   Tidak merapikan media yang ditampilkan di depan siswa sepanjang jam pelajaran, sehingga tidak mengganggu pelajaran
10.     Guru tidak menghentikan proses pembelajaran dengan tuntasnya tampilan media, tetapi mendorong dan mengarahkan siswa pada aktivitas dan tujuan-tujuan tertentu, seperti menggali kembali sebagian sumber-sumber dan referensi-referensi di perpustakaan dan rumah, atau melaksanakan seminar, atau paling tidak mengevaluasi materi-materi tadi.


MEDIA YANG DIGUNAKAN PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Media pembelajaran dalam pelajaran Al-Qur’an Al-Karim:
Untuk mempelajari Al-Qur’an Al-Karim baik cara membaca, tafsir maupun menghafalkannya butuh pada media-media yang membantu proses belajar tersebut agar berjalan maksimal. Diantara media-media tersebut:
1.   Mushaf Al-Qur’an
Sepatutnya guru mengingatkan akan keharusan menghormati mushaf
2.   Perangkat LCD
Tampilan di dalamnya berupa nash yang akan akan para siswa tafsiri atau yang akan siswa hafal.
Mungkin untuk membantu dengan lukisan, papan tulis, menulis diatasnya kaedah-kaedah dasar atau rumusan masalah praktek dan evaluasi
3.   Buku-buku yang berisi tentang kisah-kisah Al-Qur’an: berfungsi untuk memperbarui aktivitas/merefresh, lalu pak guru menunjuk pada sebagian kisah-kisah tersebut. Guru menyuruh siswa untuk mempelajari kisah-kisah tersebut dan mengeluarkan titik-titik poin kisah, atau menceritakan sebagian kisah lalu menyuruh para siswa untuk menyempurnakan.
4.   Alat perekam: untuk menyeragamkan bacaan, dari suara guru dan siswa menjadi bacaan yang layak dengar dan tartil dalam perangkat. Mungkin merekam suara-suara sebagian siswa yang saleh dan berani.
5.   Gambar-gambar dan film-film yang mengekspresikan pikiran/ide dan pelajaran yang menjadi tujuan dari ayat-ayat tertentu, seperti tampilan singkat dari hewan yang penya tafsir firman Allah SWT : “Dan Allah telah menciptakan setiap yang merangkak dari air”. Tampilan gambar-gambar dan pemandangan natural untuk menunjukkan pada urutan alam semesta dan keakuratan untuk menunjukkan keesaan Allah dan kuasa-Nya pada ayat-ayat yang dikemukakan.
6.   Peta-peta dan model-model, hal itu tatkala berhubungan nash dengan cerita peristiwa dari cerita peristiwa, seperti gamabar-gambar gunung uhud, tempat khandaq/parit, dan beberapa tempat yang berlangsungnya perang. Sebaiknya, guru agama bertukar pendapat dengan guru geografi dalam masalah ini.

Media pembelajaran dalam belajar Hadits:
1.   Perangkat LCD: untuk menampilkan nash hadits pada siswa dengan menyingkat waktu. Mungkin bisa dibantu dengan lukisan jika tidak tersedia peralatan.
2.   Koleksi kitab-kitab hadits: wajib bagi guru untuk menghadirkan ke dalam kelas kitab-kitab hadits pada beberapa waktu, seperti sohihain, kitab-kitab sunan dan lain sebagainya, untuk latihan keilmuan untuk menggunakannya juga melihat sanad-sanadnya, khususnya untuk tingkatan SLTA.
3.   Film-film dan drama ketika topik hadits dipanggil seperti tata krama umum dan perilaku baik di tipa jalan dan rumah. Disana film-film memproduksi secara khusus untuk mengatasi problem-problem akhlak atau sosial, maka tatkala buaian guru untuk hal itu sebelum tampilan pendahuluan bagus dapat dampak besar  di jiwa siswa.
Guru dapat menampilkan film sebelum pelajaran, lalu mendiskusikan awal pelajaran dan menjadikan pendahuluan pelajaran, atau guru memberikan pertama kali lalu menampilkan kepada mereka film dan mendiskusikannya untuk memberi dampak pada jiwa siswa.
4.   Ulasan insiden tertentu yang berlaku di sekolahan atau lingkungan yang punya keterkaitan dengan topik hadits, maka guru harus menggalinya dan menjadikannya sebgai pendahuluan belajar atau bukti bagi hadits sebagai isyarat pada dampak-dampak peristiwa.

Media-media pembelajaran pada pelajaran Fiqih:
1.   Papan tulis: wajib bagi siswa untuk menjaga kebersihan dan tat urutnya, guru menulis di papan tulis unsur-unsur topik yang saling bersambung dan berhubungan, meringkas dengan ringkasan yang baik untuk dikonsumsi siswa. Begitu juga menulis dengan cara yang khusus masalah-masalah fiqih terapan

2.   Peta-peta dan gambar-gambar yang berkaitan dengan topik: seperti gambar-gamabar tempat dilaksanakannya manasik haji dan umroh, dan gambar-gambar yang menjelaskan kedudukan/posisi dan keadaan bulan dalam kaitannya dengan puasa, atau dengan sholat gerhana bulan dan matahari atau pembahasan terkait lainnya.

No comments:

Post a Comment