Thursday, June 19, 2014

PAIKEM

PascaSarjana UIN Maliki Malang
Juni, 2014

A.  Latar Belakang
Kegiatan pembelajaran merupkan proses kegiatan belajar dan mengajar, yang terdiri dari guru dan siswa dengan tujuan pematangan intelektual, kedewasaan, emosional, moral dan sebagainya. Relasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran ini sangat menentukan keberhasilan pembelajaran yang diselenggarakan lembaga pendidikan.
Sampai saat ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat membantu guru daam menyampaikan ilmu-imunya kepada siswanya. Pengebangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap bagus dan layak untuk  diterapkan dalam proses pembelajaran adalah PAIKEM, singkatan dari  Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Di era kontemporer ini, PAIKEM sangat dianjurkan mengingat semakin kompleksnya permasalahan di dunia pendidikan dan juga besarnya tuntutan yang dibebankan kepada guru dalam menyukseskan pembelajaran di sekolah ataupun para dosen di universitas.
Selain itu, yang paling mendasar tujuan penerapan PAIKEM adalah agar siswa-siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, lebih enjoy dalam belajar dan tentu saja menjadi lebih bisa menyerap materi pembelajaran yang diberikan. Masing-masing siswa mempunyai minat, bakat kemampuan daya berpikir, dan latar belakang serta mempunyai motivasi yang berbeda-beda. Dapat dikatakan, intinya penerapan PAIKEM merupakan hal yang sangat penting dan harus dipahami dengan baik oleh semua guru serta harus dapat diterapkan secara benar.  Bagaimana hakikat konsep paikem? Apa prinsip-prinsip metode pembelajaran paikem?  Bagaimana gambaran kegiatan PAIKEM? Apa yang dilakukan guru untuk menghasilkan proses PAIKEM yang efektif dan efisien?
B.  Pembahasan
1.   Konsep PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.
Sebuah proses pembelajaran mutlak diperlukan adanya diperlukan sebuah strategi pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tidak berlangsung ‘seadanya’. Pembelajaran haruslah berlangsung dengan terencana. Salah satu strategi pembelajaran yang belakangan ini mencuat, dan diakui sebagai strategi pembelajaran yang inovatif serta dapat menjadi solusi atas ‘monoton’ pembelajaran dikelas adalah strategi PAIKEM.
 Pembelajaran PAIKEM adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan keterampilan dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar (termasuk pemanfaatan lingkungan), supaya pembelajaran lebih menyenangkan dan efektif.
Penerapan PAIKEM di latar belakangi oleh kenyataan bahwa model pembelajaran yang selama ini berlangsung cenderung membuat siswa merasa malas dan bosan dalam belajar, di mana siswa hanya duduk pasif mendengarkan guru berceramah tanpa memberikan reaksi apapun kecuali mencatat dibuku tulis atas apa yang di ucapkan oleh guru mereka. Hal ini berakibat pada kurang optimalnya penguasaan materi pada diri peserta didik.
Pembelajaran PAIKEM hadir sebagai solusi, karena pembelajaran model ini lebih memungkinkan guru maupun siswa untuk sama-sama aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, selain itu, strategi ini juga lebih memungkinkan guru maupun siswa untuk sama-sama memunculkan jiwa kreatif nya dalam kegiatan pembelajaran.[1]
PAIKEM merupakan pengembangan dari istilah PAKEM yang dikembangkan dari AJEL (Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia, pada tahun 1999 disebut PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan). Seiring dengan perkembangan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pada tahun 2002 istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Namun demikian, jika dicermati dalam modul-modul PAIKEM, landasan teori yang digunakan di dalamnya pada hakikatnya adalah mengambil teori-teori tentang active learning atau pembelajaran aktif.
PAIKEM belum layak disebut pendekatan pembelajaran, karena belum ada teori atau literatur yang mendasarinya, tetapi sebuah istilah yang mengintegrasikan dan mengkompilasikan sejumlah pendekatan pembelajaran yang bertujuan menstimulasi guru untuk dapat merancang pembelajaran yang kreatif inovatif. Ketiadaan dasar teori inilah, membuat istilah PAKEM  kemudian dapat diubah-ubah dan dimodifikasi menjadi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan). Khusus untuk Nanggore Aceh Darusslam dimodifikasi lagi dengan nama PAIKEMIS (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Islami).dan PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Gembira dan Berbobot).
Suasana belajar mengajar yang menyenangkan dapat memusatkan perhatian siswa secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar, seperti disimpulkan oleh Dimas (dalam Qomaruddin, 2005) bahwa memetik senar kegembiraan pada anak akan memunculkan keriangan dan vitalitas dalam jiwanya. Hal itu juga akan menjadikan si anak selalu siap untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apapun. Menabur kegembiraan dan keceriaan pada anak akan membuatnya mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam bentuk yang sempurna.[2]
Untuk itu, pembelajaran bernuansa PAIKEM diarahkan pada pembelajaran yang berpola permainan (game) yang kemudian dikenal dengan model-model pembelajaran. Para ahli pembelajaran telah merancang sejumlah model pembelajaran sepeti model Jigsaw, dan sebagainya.Untuk memperjelas pemahaman arti PAIKEM dapat dilihat dari uraian berikut :
a.    Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif adalah sebuah suatu pembelajaran  yang mengajak peserta didik untuk  belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas dalam pembelajaran, mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan ataupun mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan yata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran baik secara mental maupun fisik. Karena itu proses pembelajaran guru dituntut mampu menciptakan suasana yang memungkinkan peserta didik secara aktif menemukan , memeroses dan mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan baru. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar nya lebih maksimal.[3]
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan faktor penting, kegiatan aktif ini seharus nya tidaklah hanya berupa ketertiban secara fisik belaka, tetapi hal yang lebih utama adalah ketertiban mental/intelektual, khususnya intelektual- emosional. Ketertiban intelektual memberi member peluang terjadinya asimilasi atau akomodasi kognitif terhadap pengetahuan baru, serta terbentuknya meta- kognisi (kesadaran dan kemampuan untuk mengendalikan proses kognitif nya itu ). Contoh dari ketertiban mental adalah mendengarkan ceramah, berdiskusi, melakukan pengamatan, memecahkan masalah dan sebagainya.
Selain ketertiban intelektual, terdapat juga ketertiban emosional. Ketertiban emosional ini dapat berbentuk penghayatan terhadap perasaan, nilai, sikap menguatnya motivasi, dan sebagainya dalam pengembangan ranah kognitif. Demikian pula halnya keterlibatan fisik dalam berbagai perbuatan langsung dengan balikannya yang spesifik dan segera dalam upaya pembentukan/pengembangan ranah psikomotorik. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam upaya mengoptimalkan keaktifan murid dalam belajar, menurut Sulo Lipu La Sulo (1990: 9-10) ada Sembilan prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :
1)   Pertumbuhan motivasi, baik motivasi intrinsic maupun ekstrinsik.
2)   Pemantapan latar dari materi yang akan dipelajari khususnya pemberian apersepsi/kaitatan
3)   Mengupayakan keterarahan kepada suatu fokus, seperti suatu konsep inti atau permasalahan sehingga siswa dapat memusat perhatian serta mengaitkan/menghubungkan keseluruhan bahan yang sedang dipelajari.
4)   Belajar sambil bekerja, sambil bermain, ataupun kegiatan lainnya.
5)   Penyesuaian dengan perbedaan individual .
6)   Peluang untuk bekerja sama dengan berbagai pola interaksi.
7)   Peluang untuk menemukan sendiri informasi/konsep.
8)   Penumbuhan kepekaan mencari mencari masalah dan memecahkannya
9)   Mengupayakan keterpaduan, baik asimilasi maupun akomodasi kognitif.

Untuk mewujudkan prinsip belajar diatas, menurut Sulo Lipu La Sulo (1990:10), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajran aktif sebagai berikut :
a.    Mengupayakan variasi kegiatan dan suasana belajar dengan penggunaan berbagai  strategi  pembelajaran.
b.   Menumbuhkan prakarsa siswa untuk aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran.
c.    Mengembangkan berbagai pola interaksi dalam pembelajaran, baik antara guru dan siswa maupun antar siswa.
d.   Menggunakan berbagai sumber belajar, baik dari dirancang/by desaign (buku pelajaran, media pembelajaran, model kerangka manusia dan lain-lain).
e.    Pemantauan yang intensif yang diikuti dengan pemberian balikan yang spesifik juga segera.[4]

b.   Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang mengembangkan kemampuan peserta didik untuk melahirkan pemikiran atau ide-ide sendiri yang biasanya dapat muncul dari situasi pembelajaran kondusif yang bebas dari perasaan tertekan takut atau cemas. Adapun cirri-ciri pembelajaran inovatif adalah :
1.   Adanya keberanian peserta didik dalam mengajukan pendapat nya.
2.   Adanya kebebasan mengemukakan pendapat atau memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
3.   Kesediaan peserta didik untuk menerima pandangan orang lain dan memberikan pendapat atu komentar terhadap gagasan orang lain.[5]
Pembelajaran Inovatif dapat dilakukan dengan cara mengadaptasi model-model pembelajaran menyenangkan yang bisa membuat siswa terbebas dari kejenuhan-kejenuhan pembelajaran. Salah satu contoh pembelajaran inovatif adalah mengadopsi model-model pembelajaran yang dapat merangsang daya kreatif siswa. Banyak sekali inovasi-inovasi dalam pembelajaran yang telah banyak diterapkan. Misalnya disaat ini tengah ramai pembelajaran dengan computer atau lebih dikenal dengan Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK). Melalui model pembelajaran ini  siswa menggunakan computer sebagai alat bantu pembelajarannya.
Inovatif berarti memiliki kecenderungan untuk melakukan pembaharuan dalam arti perbaikan dan pengembangan dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengemukakan ide/gagasan-gagasan baru untuk untuk perbaikan atau pengembangan kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.[6]


c.    Pembelajaran Kreatif
Kreatif memiliki daya cipta atau kemampuan untuk mencipta. Istilah kreatif memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses mengembangkan kreativitas peserta didik, karena pada dasar nya setiap individu memiliki imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti menurut para ahli kreativitas itu merupakan kemampuan seseorang melahirkan sesuatu yang baru atau kombinasi hal yang sudah ada sehingga terkesan baru. Jadi pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang mampu menciptakan peserta didik lebih aktif. Berani menyampaikan pendapat dan beragumen menyampaikan masalah atau solusi nya.[7]Tujuan dari pembelajaran kreatif yaitu :
1.   Menciptakan suasana yang harmonis dan hangat diantara siswa dan guru.
2.   Mendorong siswa untuk berani bertanya, menyampaikan pendapat dan mempertahankan argumentasinya
3.   Mendorong siswa untuk mampu memberdayakan  segala sumber daya yang tersedia,baik didalam maupun diluar kelas.
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreativitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekan kesenian dan lain-lain) maupun pengembangan berpikir kreatif. Pengembangan berpikir kreeatif haruslah seimbang dengan kemampuan berpikir rasional logis. Pembelajaran di SD-MI pada umumnya telah banyak mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasinal logis, contoh nya melalui pembelajaran matematika(latihan mengerjakan soal matematika dengan jawaban tunggal.
Pembelajaran kreatif, tidak hanya menitik beratkan pada pengembangan kemampuan berpikir kreatif pada diri siswa. Guru sebagai fasilitator pun, dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, agar pembelajjaran tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa dikelas.
d.   Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan pembelajaran yang memungkinkan anak didik dapat belajar dengan mudah dan menyenangkan. Aspek efektivitas pembelajaran merupakan kriteria penting dalam setiap pembelajaran. Suatu pembelajaran disebut efektif manakala manakala pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan penididikan. Suatu pembelajaran bisa dinilai efektif, bila pembelajaran itu telah mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan dalam kurikulum, kemudian tujuan khusus tersebut harus mengacu kepada Tujuan Umum Pendidikan Nasional.[8]
Istilah pembelajaran efektif berarti model pembelajaran apapun yang dipilih harus menjamin bahwa tujuan pembelajaran akan tercapai secara maksimal. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pencapaian kompetensi yang telah digariskan dan terjabar dalam indicator pencapaian. Kemudian diakhir kegiatan pembelajaran harus jelas perubahan dalam asfek pengetahuan sikap atau keterampilan pada diri peserta didik.
Menurut Wotruba dan Wright (1985) ada 7 tujuh indikator yang dapat menunjukkan pembelajaran yang efektif yaitu: 1. Pengorganisasian materi yang baik, 2. Komunikasi yang efektif, 3. penguasaan dan antusiasme terhadap materi pelajaran, 4. Sikap positif terhadap siswa, 5. Pemberian nilai yang adil, 6. Keluwesan dan pendekatan pembelajaran. 7. Hasil belajar siswa yang baik.[9]
e.    Pembelajaran Menyenangkan
Adapun istilah menyenangkan memiliki arti bahwa proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan. Suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menarik minat peserta didik untuk terlibat secara aktif. Sehingga tujuan atau kompetensi yang digariskan tercapai secara maksimal. Disamping itu pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menjadi hadiah(reward) bagi peserta didik. Yang pada gilirannya akan mendorong motivasinya semakin aktif dan berprestasi  pada kegiatan berikut nya.[10]
Pembelajaran menyenangkan merupakan pembelajaran yang didesain sedemikian rupa sehinnga  memberikan suasana penuh keceriaan, menyenangkan, dan yang paling utama, tidak membosankan, kepada peserta didik. Suasana seperti itu akan membuat peserta didik bisa lebih terfokus pada kegiatan belajar-mengajar di kelas nya, sehingga curah perhatiannya lebih tinggi. Tingginya tingkat curah perhatian tersebut, akan meningkatkan hasil belajar.
Kesenangan belajar bukan hanya karena lingkungan belajar yang menggairahkan, tetapi juga karena terpenuhinya hasrat ingin tahu (need achievement) peserta didik. Pembelajaran yang menyenangkan memerlukan dukungan pengelolaan kelas serta penggunaan media pembelajaran, alat bantu dan/sumber belajar yang tepat. Pembelajaran yang menyenangkan juga dapat tercipta karena proses pembelajaran disesuaikan dengan karkteristik murid.
2.   Landasan Hukum PAIKEM
1. UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003
a) Pasal 4
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
b) Pasal 40
Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
2. PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 19
            Proses pembelajarn pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

3.   Landasan Teoritis Strategi Pembelajaran PAIKEM
Empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yakni learning to know(belajar untuk mengetahui) learning to be (belajar untuk menjadi dirinya), learning to do(belajar untuk mengerjakan sesuatu), learning to life together(belajar untuk bekerja sama) dapat diwujudkan melalui proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang dikemas efektif untuk pencapaian kompetensi yang diharapkan. Untuk itu menjadi tugas guru untuk merancang pembelajaran sedemekian rupa sehingga dapat menghasilkan kompetensi siswa secara optimal.
4.   Peran Guru  Dan Siswa Dalam PAIKEM
Dalam PAIKEM, aktor utamanya adalah guru dan siswa. Keduanya ada dalam interaksi  yang dinamis dan konstekstual. Kalau keduanya  pasif dan dan tidak kreatif, maka PAIKEM tidak bisa berjalan sesuai koridornya.Gambaran tentang peran guru dan siswa:
a.    pembelajaran Aktif
1.  Guru aktif:
a)   memantau kegiatan belajar siswa,
b)  memberi umpan balik,
c)   mengajukan pertanyaan yang menantang,
d)  mempertanyakan gagasan siswa.
2.   Siswa aktif:
a)   Membangun konsep bertanya
b)  bertanya
c)   bekerja, terlibat, dan berpartisipasi,
d)  menemukan dan memecahkan masalah
e)   mengemukakan gagasan,
f)   mempertanyakan gagasan
b.   pembelajaran Kreatif
1.  guru kreatif
a)   membangun kegiatan yang menarik dan beragam,
b)  membuat alat bantu belajar,
c)   memanfaatkan lingkungan,
d)  mengelola kelas dan sumber belajar,
e)   merencanakan proses dan hasil belajar.
2.  Siswa kreatif:
a)     membuat /merancang sesuatu
b)     menulis/mengarang.
c.    Pembelajaran Efektif
1.   guru mencapai tujuan pembelajaran.
2.   Siswa mencapai kompetensi yang diharapkan
d.   Pembelajaran Menyenangkan
1.   siswa senang karena:
a)   kegiatannya menarik, menantang, dan meningkatkan motivasi,
b)  mendapat pengalaman secara langsung
c)   kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah semakin meningkat
d)  tidak membuat siswa takut
2.   guru senang karena mampu mengondisikan anak agar mampu:
a)   berani mencoba/ berbuat
b)  berani bertanya
c)   berani memberikan gagasan/ pendapat
d)  berani mempertanyakan gagasan orang lain.
5.   Hal-hal  yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan strategi PAIKEM:
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru agar strategi PAIKEM dapat dilaksanakan dengan baik. Hal tersebut antara lan:
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
            Ada dua sifat mendasar yang pasti dimiliki oleh setiap anak di manapun, yaitu kesukaan berimajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Guru sebagai pembimbing siswa, harus tahu betul karakteristik kedua sifat dasar itu sebagai modal untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Guru bisa melakukan berbagai cara yang dapat membuat siswa senang/merasa dihargai, seperti memuji hasil karyanya, mengajukan pertanyaann yang menantang, atau mendorong siswa untuk melakukan percobaan.
2. Mengenal anak secara perorangan
            Setiap siswa tentunya memiliki karakteristik yang berbeda. Tak terkecuali dalam hal pembelajaran. Ada siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap materi pelajaran, ada juga siswa yang agak lambat dalam menyerap materi pelajaran. Dengan mengenal kekurangan dan kelebihan diri setiap siswanya, guru bisa merumuskan perlakuan khusus yang harus diberikan kepada setiap siswa. Siswa yang mempunya kemampuan lebih, misalnya bisa dimanfaatkan untuk membantu temannya yang memiliki kemampuan kurang dalam belajar.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
            Sebagai makhluk sosial, anak sejak kesil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan bak bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
            Untuk menghadapi hidup, setiap orang harus memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan memikirkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Hal ini harus dipucuk sedini mungkin sebagai bekal bagi setiap peserta didik.
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
            Ruangan kelas sebagai lingkungan utama tempat berlangsungnya pembelajaran merupakan salah satu aspek yang harus mendapat perhatian lebih dalam strategi PAIKEM. Kelas harus ditata sedemikian rupa agar nyaman dan membuat betah peserta didik. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memajang karya-karya siswa, poster, diagram, peta, alat peraga, dll.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
            Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering kali membuat anak merasa senang, sehingga materi pelajaran dan lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial maupun budaya dapat disampaikan secara efektif. Contohnya, mengamati pertumbuhan tanaman di perkebunan, atau melihat cara-cara pengolahan tanaman di pertanian. Tapi demi efektifitas waktu dan biaya, tak selamanya siswa diajak ke lingkungan tertentu untuk belajar. Guru bisa mengambil salah satu bagian dari lingkungan belajar ke dalam kelas, contohnya membawa contoh tanaman ke dalam ruang kelas, atau membawa foto/gambar dari lingkungan belajar di dalam kelas.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
            Pemberian umpan balik dari guru kepada guru merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dengan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
            Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Contoh aktif fisik ialah saat siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak.[11]
6.   Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1.   Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2.   Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3.   Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4.   Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
5.   Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.[12]
PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian.
7.   Prinsip-Prinsip PAIKEM dalam Pembelajaran
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran berbasis PAIKEM antara lain :
1. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional. Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih member makna kepada siswa dari pada hanya mendengarkan. Misalnya pada mata pelajaran olahraga. Siswa dapat mengetahui bagaimana cara nya melakukan serve pada permainan bola voli, maka guru memberikan kesempatan kepada siswa nya untuk melakukan serve bola.
2. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik.
3. Interaksi: kegiatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi multi arah, dimana proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan guru,siswa dengan siswa.
4. Refleksi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memkirkan kembali apa yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi ini dilakukan bersama antara guru dengan siswa.
1)     Mengalami
Mengalami berarti siswa belajar banyak hal yang digerakkan oleh naluri berbuat dan pengalaman langsung dengan mengaktifkan banyak indra. Beberapa contoh dari prinsip mengalami ini adalah melakukan pengamatan, perubahan, penyelidikan, wawancara dan penggunaan alat peraga. Prinsip “mengalami” ini membuat siswa dapat merasakan teori dan ide-ide progresif ketika merasa wawancara dalam rangka membuat bulletin/majalah, misalnya mereka akan berkembang dengan sendirinya dari satu tahap ke tahap berikutnya. Dari prinsip ini, mereka menjadi lebih matang, dinamis, dan professional. Mengamati wawnacara, menyelidiki, ekperimental dan menggunakan alat peraga membuat mental menjadi kritis, kreatif, inovatif dan kompetitif.
2)     Interaksi
Interaksi antar siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru perlu untuk selalu dijaga agar mempermudah dalam membangun makna. Dengan interaksi pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik, kesalahan makna berpeluang terkoreksi, makna yang terbangun semakin mantap, dan kualitas hasil belajar meningkat. Prinsip interaksi memberikan peluang pada siswa untuk berekspresi dan berartikulasi sesuai kemampuan masing-masing. Potensi mereka akan berkembang karena aktulisasi dinamis yang terus dikembangkan
3)     Komunikasi
Komunikasi dapat diartikan sebagai cara menyampaikan apa yang kita ketahui. Interaksi saja belum cukup jika tidak dilengkapi dengan komunikasi yang baik karena interaksi akan lebih bermakna jika interaksi itu komunikatif. Makna yang terkomunikasikan kepada orang lain secara terbuka memungkinkan untuk mendapat tanggapan. Beberapa cara komunikasi yang dapat dilakukan misalnya dengan pajangan, presentasi maupun laporan..Prinsip komunikasi ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk mengetahui sejauh mana pendalaman dan pengayaan materi seorang siswa. Adu gagasan, silang pemikiran dan bedah ide membuat pemikiran menjadi segar, kaya, mendalam dan penuh variasi.
4)     Refleksi
Refleksi berarti memikirkan kembali apa yang diperbuat/dipikirkan. Melalui refleksi kita dapat mengetahui efektifitas pembelajaran yang sudah berlangsung. Refleksi dapat memberikan peluang untuk memunculkan gagasan baru yang bermanfaat dalam perbaikan makna hasil pembelajaran. Dengan refleksi kesalahan dapat dihindari sehingga tidak terulang lagi. Prinsip refleksi ini juga dapat dijadikan sebagai wahana evaluasi dari strategi yang telah diterapkan dan hasil yang didapatkan. Dan refleksi ini akan diketahui kelemahan dan kelebihan/efektif dan tidaknya suatu jenis pembelajaran. Akan ada ide-ide baru, pemikiran baru dan gagasan baru yang lebih segar, kaya dan penuh makna dari proses refleksi ini.
8.   Metode PAIKEM
Untuk menerapkan PAIKEM secara efektif efisien, ada beberapa cara yang harus dilakukan oleh guru. Diantaranya:
1.   Mendorong siswa untuk menghafalkan
Hafalan mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas keilmuan seseorang. Orang yang hafal mempunyai kekuatan untuk memperdalam pemahaman dan menembangkan pemikiran secara lebih luas. Dengan menghafal pelajaran, seseorang bisa menarik kembali ilmu setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Siswa yang hafal dapat menangkap dengan cepat pelajaran yang diajarkan.
2.   Mengarahkan siswa untuk bertanya
Setelah aspek hafalan sudah kuat, pekerjaan selanjutnya adalah melatih siswa untuk berfikir kritis, yaitu dengan banyak bertanya kepada guru.
3.   Memulai diskusi interaktif
Diskusi menjadi tahapan lanjut setelah siswa mampu bertanya. Pada tahapan ini anak berlatih untuk berpikir analisis dan solutif. Ia akan mengamati faktor yang tidak kelihatan dari suatu masalah dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya kemudian mencarikan solusi persoalan dengan ide-ide cerdas, visioner dan aplikatif.
4.   Mengajak siswa belajar di luar ruang kelas
Untuk penyegaran (refresing), siswa diajak jalan-jalan ke luar kelas, misalnya ke halaman dengan mengamati fenomena sosial dan mendiskusikannya bersama. Lebih efektif lagi, siswa diajak ke perpustakaan yang lebih lengkap koleksi buku, majalah, koran, misalnya perpustakaan pemerintah daerah, perpustakaan kampus, dan lain-lain.
5.   Mengembangkan kreativitas siswa
Hidup di era kompetisi ketat sekarang ini membutuhkan ide-ide kreatif untuk tampil sebagai pemenang. Salah satu ciri PAKEM adalah kreativitas. Oleh karena itu guru harus mendorong kreativitas anak didik agar dapat berkembang dengan cepat.
6.   Melatih penelitian
Penelitian melatih anak didik agar termotivasi untuk mengetahui hal-hal yang belum terpikirkan. Pada pelajaran IPA, guru bisa mendorong anak-anak untuk meneliti objek yang menjadi mata pelajarannya. Terjun langsung sebagai peneliti dengan bekal metodologi yang sistematis, membuat anak didik masuk dalam ruang laboratorium dengan kepercayaan diri dan keyakinan yang tinggi bahwa mereka mampu memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.
7.   Mengadakan studi banding
Studi banding ke lembaga-lembaga bergengsi akan meningkatkan kepercayaan yang tinggi dalam diri siswa. Selain berekreasi dan wisata ke tempat-tempat yang menarik, studi banding membuat pemahaman terhadap sesuatu menjadi kompeherensif dan kaya makna. Dengan mengajak siswa studi banding ke sebuah lembaga yang berkualitas, akan membuat semangat belajar mereka menjadi meningkat.
8.   Melatih jurnalistik
Jurnalistik/segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia tulis menulis bisa menjadi ajang efektif bagi guru untuk menggali dan mengembangkan potensi anak didik dan PAKEM dapat dikembangkan dengan metodologi ini.






C.  Kesimpulan
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAIKEM pada hakikatnya merupakan Strategi pembelajaran yang mengambil teori-teori aktif learning. PAIKEM merupakan pengembangan dari istilah PAKEM yang dikembangkan dari AJEL (Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia, pada tahun 1999 disebut PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan). Strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan landasan UUD Indonesia dan UNESCO. Strategi pembelajaran tersebut merupakan salah satu solusi untuk permasalahan pembelajaran saat ini.










DAFTAR RUJUKAN

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010.Guru dan Anak Didik. Jakarta : Rineka Cipta.
Asmani, Jamal ma’mur.2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan): Menciptakan Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jogjakarta: DIVA press.
Zain, Aswan. 2010. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Uno, Hamzah B.  dan Nurdin Mohammad. 2013.Belajar dengan Pendekatan PAILKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara.
http://maron11materikuliah.blogspot.com/2014/01/pakem.
Admin02, Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran http://sdnegerikamalkulonprogo.blogspot.com/2010/10/penerapan-paikem-dalam-proses_23.html, 18 April 2011






Contoh RPP berbasis PAIKEM/CTL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN    : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SATUAN PENDIDIKAN          : SEKOLAH MENENGAH ATAS
KELAS / SEMESTER : XI / II
WAKTU                                   :  45 Menit    

I.                 Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku  terpuji
II.               Kompetensi Dasar
-        Menjelaskan pengerian tobat
-        Menyebutkan contoh perilaku tobat
Indikator
Peserta didik
-        Siswa dapat mendifinisikan pengerian tobat
-        Siswa dapat menunjukkan contoh-contoh perilaku tobat
-        Siswa dapat menyebutkan syarat-syarat tobat

III.              Materi
Membiasakan perilaku terpuji
IV.             Metode
-        Ceramah
-        Tanya jawab
V.               Strategi Pembelajaran
Writing in Here and Now
VI.             Langkah-langkah pembelajaran
1.      Kegiatan awal
-        Menanyakan hal – hal yang pernah kita lakukan
-        Menanyakan dosa-dosa yang kita perbuat
2.      Kegiatan Inti
-        Guru mengantarkan siswa supaya on pada materi
-        Guru menerapkan strategi writing in here and now, dengan menginstuksikan untuk menuliskan pengalaman tentang perbuatan dosa dan apa yang dilakukan terhadap dosa yang dilakukan tersebut pada kertas yang talah dibagikan
-        Guru mengambil sample beberapa pengalaman siswa dan mengekspor di depan kelas
-        Guru melakukan komparasi antara hal-hal yang dilakukan siswa setelah melakukan perbuatan dosa dengan syarat-syarat tobat
-        Guru menerangkan tentang tobat
3.      Kegiatan Akhir
-        Tanya jawab tentang tobat
-        Siswa menyimpulkan tentang tobat
VII.       Sumber Media Pembelajaran
a.     Sumber
1.     Buku Pendidikan Agama Islam SMA kelas XI
2.     LKS
b.     Media Pembelajaran
1.     Kertas
2.     Slide / LCD
VIII.     Evaluasi
1.     Apa yang dimaksud tobat ?
2.     Apa hukuman bagi orang yang enggan mengakui kesalahannya dan bertobat?
3.     Tulislah dalil Al-Qur’an tentang tobat !




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN    : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SATUAN PENDIDIKAN          : SEKOLAH DASAR
KELAS / SEMESTER : V / II
WAKTU                                   :  45 Menit    

IX.             Standar Kompetensi
Ø  Mengenal Rasul- Rasul Allah SWT
X.               Kompetensi Dasar
Ø  Menyebutkan nama-nama Rasul Allah SWT
Ø  Menyebutkan nama-nama Rasul Ulul Azmi  dari para Rasul
Ø  Membedakan Nabi dan Rasul
Indikator
Peserta didik
Ø  Siswa dapat Menyebutkan nama-nama Rasul Allah SWT
Ø  Siswa dapat Menyebutkan nama-nama Rasul Ulul Azmi  dari para Rasul
Ø  Siswa dapat MembedakanNabi dan Rasul

XI.             Materi
Mengenal Rasul- Rasul Allah SWT
XII.           Metode
-        Inquiri
-        Tanya jawab
-        ceramah
XIII.          Strategi Pembelajaran
Mencatat dan Bernyanyi berkelompok
XIV.         Langkah-langkah pembelajaran
4.      Kegiatan awal
-        Menanyakan kabar dan semangat siswa
-        Menanyakan apakah siswa pernah mendengar atau mengenal beberapa nama-nama nabi
5.      Kegiatan Inti
-        Guru memberikan motifasi kepada siswa
-        Guru menerapkan metode inquiri, dengan menginstruksikan untuk mencari jumlah dan nama-nama nabi di buku LKS/buku paket, kemudian nama-nama nabi dituliskan di selembar kertas masing-masing siswa, guru membimbing siswa untuk merangkai nama-nama nabi menjadi beberapa lirik lagu
-        Guru memberikan contoh melagukan nama-nama nabi beserta gerakannya dan siswa menirukannya
-        Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk maju dengan membawa kertas masing masing dan menyanyikan lagu bersama guru di depan kelas. Guru meminta kelompok lainnya bergantian bernyanyi di depan kelas.
-        Siswa kembali duduk dan guru memberikan konfirmasi jumlah nabi dan nama-nama nabi dengan bantuan syair lagu tersebut.
-        Guru menjelaskan ulul azmi dan konsep perbedaan nabi dan rasul. Tiap-tiap kelompok menuliskan konsep nabi dan rasul serta rasul ulul azmi pada kertas berwarna
-        Hasil kerja kemudian ditempelkan di dinding kelas
6.      Kegiatan Akhir
-        Tanya jawab tentang nabi dan rasul
-        Siswa menyimpulkan perbedaan nabi dan rasul serta rasul ulul azmi
XV.      Sumber Media Pembelajaran
a.     Sumber
1.     Buku Pendidikan Agama Islam SD kelas V
2.     LKS
b.     Media Pembelajaran
1.     Kertas
2.     Slide / LCD
XVI.    Evaluasi
4.     Berapa jumlah nabi dan rasul yang wajib diketahui dan siapa nama-namanya ?
5.     Apa pengertian nabi, rasul, dan rasul ulul azmi?
6.     Siapa rasul-rasul ulul azmi?




[1]Syaiful BahriDjamarah, Guru dan Anak Didik. Jakarta : Rineka Cipta, 2010, hal 368-369
[2] Jamal ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi PAKEM (pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan): Menciptakan Pembelajaran yang efektif dan berkualitas, (Jogjakarta: DIVA press, 2011), hlm. 89.
[3]Aswan Zain, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2010,  hal 24
[4]Syaiful BahriDjamarah,  hlm. 370-371.
[5] Aswan op.cit., hlm. 26.
[6]Syaiful BahriDjamarah, op.cit., hlm. 372-373.
[7] Aswan, loc.cit., hlm. 26.
[8]Syaiful BahriDjamarah, op.cit., hlm. 375-376.
[9] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohammad, belajar dengan pendekatan PAILKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik,(Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 174.
[10] Aswan, op.cit., hlm. 27.
[11]http://maron11materikuliah.blogspot.com/2014/01/pakem.
[12]Admin02, Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran , http://sdnegerikamalkulonprogo.blogspot.com/2010/10/penerapan-paikem-dalam-proses_23.html, 18 April 2011

No comments:

Post a Comment