Sunday, June 15, 2014

Pendidikan Berbasi Masyarakat


PascaSarajan UIN Maliki Malang
Juni, 2014




A.  Pendahuluan
1.    Latar Belakang
Keterlibatan masyarakat dalam dunia pendidikan tidak dapat dinafikan, bahkan keterlibatan mereka menjadi sangat penting demi kemajuan dan keberhasilan pendidikan, khususnya pendidikan Islam.
Di dalam UU No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 sudah dijelaskan bahwa pendidikan harus berbasis masyarakat, karena pendidikan berbasis masyarakat merupakan penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.[1]
Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek atau pelaku pendidikan bukan objek pendidikan. Pada konteks ini masyarakat dituntut peran dan partisipasi dalam setiap program pendidikan. Hal tersebut termaktub dalam UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 pasal 8 yang berbunyi bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.[2] Jadi, peran masyarakat dalam pendidikan nasional sangat penting, tanpa peran aktif masyarakat pendidikan tidak akan mengalami perkembangan yang signifikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang drancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Artinya, dalam perencanaan program pendidikan keterlibatan masyarakat harus diikutkan, guna mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Sebagai contoh, di daerah A teknologi internet sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, akan tetapi di daerah A tersebut SDM yang dapat mengoperasikan internet masih sedikit, maka sebagai penyusun program pendidikan, harus memasukkan program pendidikan/ kurikulum berbasis teknologi internet, agar nanti muncul lulusan sekolah yang mampu mengoperasikan internet.
Secara singkat dapat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam untuk dan masyarakat sendiri.[3]
Pengembangan akuntabilitas terhadap masyarakat akan menumbuhkan inovasi dan otonomi dan menjadikan pendidikan berbasis pada masyarakat. Untuk mewujudkan output pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat dibutuhkan pendidikan yang bermutu.
Apabila kita lihat mutu pendidikan di negara kita saat ini masih menghadapi beberapa problematika. Salah satu problematika pendidikan di Indonesia saat ini adalah kemerosotan moral oleh penyelenggara pendidikan, baik itu pendidik, anak didik maupun masyarakat. Kita lihat masalah yang masih hangat, kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan internasinal (JIS) di Jakarta, di Sumedang, di Tuban dan di daerah lainnya.[4] Itu membuktikan bahwa, selama ini pendidikan belum bisa menjawab permasalahan yang ada di dalam masyakarakat.
Pendidikan Islam merupakan salah satu contoh solusi dari berbagai permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia. Karena pendidikan Islam merupakan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai moral pendidikan, akhlak dan kebaikan dalam setiap berperilaku. Menurut Zakiah Daradjad tujuan pendidikan Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akherat. Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.[5]

B.  Pembahasan
1.      Pendidikan Berbasis Masyarakat
Dunia pendidikan akan terus memegang peranan penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Hakekat pendidikan itu sendiri adalah proses pembelajaran bagi manusia agar dapat mengenal realitas kehidupan dunia ini, peka terhadap segala sesuatu yang ada dan terjadi, serta agar manusia mampu melakukan dan menyelesaikan segala permasalahan yang dan disekitarnya.[6] Dengan kata lain pendidikan adalah natural process yang dialami oleh setiap individu (manusia) dalam rangka menempa potensi atau talenta (fitrah) yang dimiliki sejak lahir menuju ke arah kematangan. Manusia sangat memerlukan pendidikan dalam rangka untuk berkembang dan melanjutkan kehidupannya.

a.    Pengertian Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuan sebagaimana mestinya.[7]
Sedangkan Masyarakat adalah sekelompok organisme dan sebagainya (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam suatu daerah tertentu.[8] Masyarakat juga dapat disebut dengan society yang artinya pergaulan, masyarakat dan perkumpulan. Dengan demikian, dalam masyarakat terkandung makna komunitas, sistem organisasi, peradaban, dan interaksi sebagai inti dari keberadaan masyarakat itu sendiri.
Menurut Quraish Shihab masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil maupun besar yang terikat oleh satuan, adat, ritual, atau hukum khas dan hidup bersama.[9]
Dari beberapa pengertian pendidikan dan masyarakat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang diwujudkan oleh, dari, dan untuk masyarakat dalam rangka membentuk sumber daya manusia yang berakhlak mulia dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dari zaman ke zaman yang selalu berkembang dan berubah-ubah.

b.   Landasan Pendidikan Berbasis Masyarakat
Landasan pendidikan berbasis masyarakat adalah UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 55 ayat 1 yang menegaskan bahwa masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat sesuai dengan kekhasan beragama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.[10]
Jadi, berdasar UU tersebut, ada perbedaan pola dalam hal kebijakan dan pengelolaan antara sekolah di daerah satu dengan daerah lain, ketika kondisi orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah berbeda. Karena sekolah pada dasarnya untuk mendidik dan mempersiapkan murid mengarungi masa depannya agar sukses dan bermanfat bagi diri dan bangsanya.

c.    Prinsip-prinsip Pendidikan Berbasis Masyarakat
Menurut Ahmad Bahruddin prinsip-prinsip dasar pendidikan berbasis Masyarakat dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Membebaskan, selalu dilandasi semangat membebaskan dan semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis, dan tidak kreatif. Sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan proses pembelajaran.
2.      Keberpihakan, ideologi pendidikan itu sendiri di mana pendidikan dan pengetahuan hak bagi seluruh warga.
3.      Partisipatif, mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola, murid, keluarga, serta masyarakat dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.
4.      Kurukulum Berbasis Kebutuhan, belajar adalah bagaimana menjawab kebutuhan akan pengelolaan sekaligus penguatan daya dukung sumber daya yang tersedia untuk menjaga kelestarian serta memperbaiki kehidupan.
5.      Kerjasama, metodologi pembelajaran yang dibangun selalu didasarkan kerjasama dalam proses pembelajaran, tidak ada sekat dalam proses pembelajaran, juga tidak ada dikotomi guru dan murid, semuanya adalah tim yang berproses secara partisipasif.
6.      Sistem evaluasi berpusat pada subyek didik, keberhasilan pembelajaran adalah ketika subyek didik menemukan dirinya, berkemampuan mengevaluasi diri sehingga tahu persis potensi yang dimilikinya dan berikut mengembangkannya sehingga bermanfaat bagi orang lain.
7.      Percaya diri, pengakuan atas keberhasilan bergantung pada subyek pembelajaran itu sendiri. Pengakuan akan datang dengan sendirinya manakala kapasitas pribadi dari si subyek didik meningkat, dan bermanfaat bagi orang lain.[11]

2.      Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam bagi kalangan peserta didik sangat berarti dalam upaya membentuk kepribadian dan kematangan jiwa dengan bersumber pada norma ajaran agama. Dapat juga dikatakan bahwa arah pendidikan agama adalah untuk membina manusia beragama yang mampu melaksanakan ajaran agama Islam dengan baik dan sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupan, dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

a.    Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebagaimana diatas telah diuraikan beberapa definisi pendidikan, maka selanjutnya penulis akan memaparkan beberapa definisi pendidikan agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan Pendidikan Agama Islam, para ahli pendidikan memberikan beberapa suatu pengertian.
Menurut Zakiyah Darajat, Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati,dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.[12]
Sedangkan menurut Muhaimin, Pendidikan Agama Islam adalah transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.[13]
Dengan demikian pendidikan agama Islam secara lebih khusus ditekankan dalam rangka untuk mengembangkan fitrah keberagaman dan sumber daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan benar untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.


b.   Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Kurikulum adalah program belajar untuk siswa, sebagai dasar dalam merencanakan pengajaran. Sebagai program belajar kurikulum mengandung tujuan, isi program, dan strategi atau cara melaksanakan program.[14]
Kurikulum atau materi pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
1.      Hubungan manusia dengan Allah SWT.
2.      Hubungan manusia dengan sesama manusia
3.      Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
4.      Hubungan manusia dengan makhluk lainnya dan lingkungan.
Materi Pendidikan Agama Islam meliputi beberapa aspek diantaranya aspek kehidupan rohaniah dan jasmaniah, duniawiah dan ukhrowiah. Sedangkan menurut Hasbi Ash-Shidiqi yang dikutip Abdul Majid, meliputi:
1.      Tarbiyah Jismiyah, pendidikan untuk menyehatkan tubuh
2.      Tarbiyah Aqliyah, pendidikan untuk mencerdaskan akal
3.      Tarbiyah Adabiyah, yaitu segala praktek dan teori yang bertujuan untuk meningkatkan budi dan perangai.[15]
Pada hakekatnya ajaran Agama Islam dalam aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah. Al-Qur’an-Hadits merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti merupakan sumber aqidah (keimanan), syari’ah, ibadah, mu’amalah dan akhlak sehingga kajiannya berada disetiap unsur tersebut. Aqidah atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Ibadah, mu’amalah dan akhlak bertitik tolak dari aqidah, dalam arti sebagai manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup), syari’ah merupakan system norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam ibadah (thaharah, shalat, zakat, puasa dan haji), hubungannya dengan sesama dan lainnya dalam mu’amalah. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, social, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/ seni, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga/ kesehatan) yang dilandasi dengan aqidah yang kokoh.
Sedangkan tarikh (sejarah kebudayaan) Islam merupakan perkembangan perjalanan hidup sesama muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyari’ah dan berakhlak serta dalam mengembangkan system kehidupannya yang dilandasi oleh akidah.[16]

3.      Penerapan Pendidikan Agama Islam Berbasis Masyarakat
a.    Pengertian Pendidikan Agama Islam Berbasis Masyarakat
Berdasarkan salah satu prinsip pendidikan berbasis Masyarakat yaitu prinsip pendidikan yang membebaskan, yang berarti membebaskan dari kebodohan, ketertindasan dan keterbelakangan yang memposisikan peserta didik sebagai orang yang mandiri dan subyek pembelajaran yang aktif, sesuai dengan tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia yang bermuara pada munculnya kesadaran untuk menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Dalam perspektif pendidikan agama Islam, hal tersebut sesuai dengan fitrah manusia yang dibekali dengan akal pikiran.
Pendidikan agama Islam harus didasarkan pada kebutuhan masyarakat dari pelbagai aspeknya, termasuk orientasi masa depan calon alumninya. Penanaman nilai-nilai Islam tidak dibenarkan dengan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman pendidikan agama Islam ini juga dalam rangka keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak. Dengan adanya pendidikan agama Islam berbasis Masyarakat, peserta didik dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial.

b.   Lembaga Penyelenggara Pendidikan Agama Islam Berbasis Masyarakat.
Di lingkungan masyarakat terdapat pula beberapa lembaga dan organisasi yang dapat menunjang keberhasilan Pendidikan Agama Islam. Mengenai bentuk lembaga pendidikan agama Islam di lingkungan masyarakat sangat beraneka ragam, tidak hanya sekedar teori namun dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun lembaga penyelenggara pendidikan agama Islam tersebut, antara lain melalui:
1.      Masjid/ Mushala
Kehadiran masjid atau musholla sebagai lembaga pendidikan Islam jelas erat hubungannya dengan pembinaan dan internalisasi pendidikan agama Islam. Masjid atau musholla difungsikan untuk kepentingan ibadah, seperti sholat lima waktu berjamaah, shalat jum’at, atau sholat idul fitri atau idul adha. Namun dalam perkembangannya fungsi masjid dan surau semakin semakin luas, selain menjadi asrama anak-anak muda, juga sebagai tempat belajar mengaji, belajar agama, tempat upacara-upacara yang berkaitan dengan agama, bahkan tempat suluk yaitu ibadah yang dilakukan oleh para penganut thoriqoh.[17]
2.      Asrama
Suasana kehidupan di asrama banyak diwarnai oleh pemimpin dan pendidik yang mengelolanya. Semua aktivitas asrama harus dibina dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kaidah-kaidah agama dan pendidikan Islam agar perkembangan kepribadian peserta didik dapat berjalan ke arah yang diinginkan.

3.      Perkumpulan Remaja
Pada masa remaja, anak membutuhkan perkumpulan remaja untuk membenahi dirinya dan menyalurkan kehendak hati, keinginan dan angan-angan sebagai pembuktian bahwa mereka juga wajar mendapat pengakuan masyarakat sekitarnya. Dalam melaksanakan semua aktivitas dalam perkumpulan, mereka memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang tua, guru serta pengarahan para ulama
Disamping itu, dalam pendidikan Islam ada dua bentuk institusi pendidikan yaitu pesantren dan madrasah. Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya,[18] yang telah hidup dan berada dalam budaya bangsa Indonesia sejak zaman pra sejarah yang kemudian dilanjutkan pada masa Hindu Budha dan diteruskan pada masa kebudayaan Islam. Sedangkan madrasah adalah bentuk pendidikan klasikal yang masuk ke Indonesia sejalan dengan arus modernisasi. Pesantren dan madrasah telah tumbuh dan dimiliki oleh masyarakat sekitar terutama di daerah pedesaan karena pengaruh historis.
Oleh karena itu pendidikan pesantren dan madrasah cenderung bersifat tradisional dan ortodoks, sungguhpun tidak selalu benar sebagaimana yang kita lihat di dalam perkembangan pesantren modern yang berkembang di Indonesia. Pada masa sekarang ini masalah demokrasi sudah merupakan tuntutan termasuk dalam bidang pendidikan. Pesantren adalah suatu sistem kehidupan yang lahir dan dibesarkan dalam suatu masyarakat demokratis. Dalam rangka inovasi pendidikan nasional yang dikelola oleh masyarakat maka pesantren. Menerapkan pola pendidikan yang berdasarkan manajemen masyarakat,[19] Pesantren tidak lagi bersifat ortodoks, namun pesantren yang bersifat modern sekarang kerap dijumpai diberbagai daerah.

c.    Pentingnya Pendidikan Agama Islam Berbasis Masyarakat
Dalam Islam, anak lahir dalam keadaan fitrah di mana fitrah anak itu telah membawa keimanan pada Allah, maka tugas pendidikan Islam adalah memelihara keimanan dilanjutkan dengan pembinaan ke-Islaman, pengembangan aspek intelektual, aspek sosial, aspek emosional, aspek moral (akhlakul karimah), serta aspek-aspek perkembangan pada diri anak lainnya.
Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat yang dibebankan oleh Allah SWT kepada orang tuanya, karena itu orang tua harus menjaga dan memelihara serta menyampaikan amanah itu kepada yang berhak menerima. Karena manusia adalah milik Allah SWT, mereka harus mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT sebagai realisasi tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak, ada empat aspek yang penting untuk diperhatikan orang tua yakni: pendidikan ibadah, pokok-pokok ajaran Islam dan membaca al-Qur’an, pendidikan aqidah Islamiyah, dan pendidikan akhlakul karimah. Pendidikan akhlak tidak hanya di temukan secara teoritik, melainkan disertai contoh-contoh konkret untuk dihayati maknanya, dicontohkan; kesusahan ibu yang mengandung. Praktik pendidikan Islam inilah yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi umat Islam.[20]
Setiap orang tua berkeinginan mempunyai anak yang berkepribadian baik. Untuk mencapai hal yang diinginkan itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah maupun pendidikan di masyarakat.
Jadi Pendidikan agama Islam adalah usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya, sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak[21]. Oleh karena itulah, pendidikan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidikan agama Islam di sekolah memegang peranan penting. Dalam hal ini pendidikan agama Islam mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam UU RI tentang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yaitu: pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam, maka harus diberikan dan dilaksanakan di sekolah dengan sebaik-baiknya. Namun perlu dukungan dari masyarakat untuk mewujudkannya.

d.   Penerapan Pendidikan Agama Islam Berbasis Masyarakat
Penerapan pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama Islam dapat dilaksanakan dengan suasana kehidupan religius seperti shalat berjamaah, membaca dan mempelajari al-Qur’an, belajar kitab kuning dan lain-lain. Penanaman nilai-nilai agama dapat juga dilakukan melalui interaksi peserta didik dengan orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat.
Proses penanaman ajaran agama Islam dapat dilaksanakan melalui metode sebagai berikut:

1.      Penanaman dengan keteladanan.
Peneladanan adalah mencontoh sikap, sifat-sifat dan perilaku dari orang-orang yang dikagumi kemudian mengambil alih sebagai sikap, sifat dan perilaku pribadi. Ada dua bentuk peneladanan yaitu peniruan (imitation) dan identifikasi diri. Peniruan adalah usaha untuk menampilkan diri dan berlaku seperti penampilan dan perilaku orang yang dikagumi (idola), sedangkan identifikasi diri adalah mengambil alih nilai-nilai (values) dari tokoh yang dikagumi yang kemudian dijadikan nilai-nilai pribadi (personal values) sebagai arah dan pedoman hidup.[22]
Pada dasarnya keinginan untuk mencontoh merupakan pembawaan atau sifat asli manusia ketika seseorang masih berusia anak-anak sebab secara psikologis anak-anak adalah masa yang membutuhkan figur atau teladan. Bimbingan keagamaan yang diberikan dengan memberi contoh atau keteladanan adalah salah satu bimbingan yang membekas pada diri anak. Dengan keteladanan ini timbullah gejala identifikasi positif, yaitu penyamaan diri dengan orang yang ditiru.[23]
2.      Penanaman dengan pembiasan
Penanaman nilai-nilai agama melalui pembiasaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Metode penanaman nilai pada anak dengan memberi contoh, latihan dan pembiasaan merupakan alat pendidikan dalam rangka menanamkan nilai-nilai dan membina kepribadian anak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Dengan demikian pembiasaan pada akhirnya melahirkan kebiasaan dalam rangka memantapkan pelaksanaan materi-materi ajaran al-Qur’an. Pembiasaan sebagai salah satu metode penanaman pendidikan agama dapat mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan yang baik pula.[24]
3.      Penanaman dengan pembentukan kepercayaan yang utuh
Pembentukan kepercayaan yang utuh adalah pembentukan dan pemahaman nilai-nilai agama yang utuh dengan cara memberikan pendidikan kepada anak tentang doktrin agama Islam secara matang mulai sejak dini. Adapun doktrin yang pertama ditanamkan kepada anak adalah tentang keimanan yang rinciannya adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada Rasul-Nya, iman kepada hari kiamat, iman kepada Qadha dan Qadar.
4.      Penanaman dengan nasihat
Dalam al-Qur’an metode nasihat terhadap pendidikan menuju perbaikan kehidupan tersaji dengan rapi, terkadang dalam bentuk peringatan kata-kata, nasehat yang halus, petunjuk, pemberian dan masih banyak lagi.
Pendidikan agama Islam tidak diseyogyakan hanya sebatas pengetahuan dan pengalaman keagamaan hasil internalisasi ulama-ulama tempo dulu. Sebaiknya peserta didik dibari kebebasan untuk melakukan internalisasi nilai agama sesuai dengan perubahan sosial yang dihadapi, misalnya:
1.      Nilai Ikhlas. Ikhlas dalam menjalankan ibadah Mahdhoh bukan karena kepentingan duniawi. Substansi nilai ikhlas di sini adalah kesungguhan bekerja dengan penuh tanggung jawab atas pekerjaannya itu.
2.      Pemahaman tentang pahala dan dosa tidak dianalogkan dengan hitungan sistematis, tetapi dengan hati nurani. Pemahaman dan pengalaman agama secara matematis dengan menghitung-hitung pahala dan dosa berdampak tumbuhnya sikap sekuler.
3.      Pemahaman Hadits-hadits keutaman sebuah amalan ibadah termasuk dzikir dan doa perlu dipahami dalam perspektif pendidikan. Dalam hal ini bukan sekedar amalan wiridannya yang diajarkan, tetapi penghayatan dan pengalaman kandungan doa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[25]
Selain itu, ada banyak cara yang ditempuh dalam rangka pemupukkan atau penanaman nilai-nilai agama, antara lain:
1.      Untuk mengajarkan tentang materi surat Al-Ma’un, anak didik diajak mengunjungi panti asuhan, panti anak yatim sekaligus diberi penjelasan yang cukup dengan praktek beramal.
2.      Sejarah dan cerita (kisah-kisah) dalam Al-Qur’an, sejarah para Rasul, Sahabat, Ulama Islam dan sebagainya, merupakan cara yang cukup efektif dalam pembentukan kepribadian.
3.      Perwujudan dalam praktek. Materi tentang sholat, zakat, infaq, puasa, dan lain-lain harus dipraktekkan, disamping itu perlu uraian makna dibalik praktek tersebut.
4.      Ada penekanan pada kehidupan sosial. Oleh karena itu ajaran Islam tentang etika sosial tidak dapat diabaikan.
5.      Pemanfaatan sumber belajar dari lingkungan sosial maupun alam, selama ini belum dimanfaatkan untuk kepentingan agama.
Dengan demikian, pendidikan agama Islam seharusnya lebih menekankan pada pembentukan ajaran nilai-nilai agama ketimbang menghitung seberapa besar nilai ujian anak didik. Sebab boleh jadi akan terjadi kesenjangan antara pengetahuan (knowledge) yang diperoleh dengan sikap atau kepribadian (perilaku). Hal ini menjadikan peserta didik benar-benar merasakan realitas kehidupan beragama dalam masyarakat.
Pendidikan agama Islam memang seharusnya memiliki tujuan akhir untuk mendidik siswa berperilaku religius dan sekaligus membiasakan berfikir bagi anak-anak untuk sampai pada pencarian (penemuan) dan inovasi. Ajaran Islam harus mencerminkan perilaku keseharian dan kepribadian sekaligus spiritualisme dalam hubungan antara manusia dan khaliq-Nya.

e.    Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran PAI Berbasis Masyarakat
Kajian tentang penerapan pendidikan agama Islam berbasis masyarakat masih banyak kekurangan. Hal itu seakan-akan meremehkan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Dengan anggapan pemerintah telah mengeluarkan berbagai macam kebijakan yang tidak ada realitasnya bahwa pendidikan itu menjadi berkembang. Namun pada kenyataannya pendidikan di Indonesia masih terpuruk dibandingkan dengan pendidikan diluar negeri. Pendidikan tanpa dibarengi dengan dana yang memadai tidak akan berkembang seperti yang diharapkan.
Adapun kelebihan pendidikan agama Islam berbasis masyarakat dapat menjadikan siswa berpikir kreatif, mandiri dan mampu memecahkan persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat tanpa menggantungkan ide atau pendapat dari orang lain. Dengan adanya pendidikan berbasis komunitas berarti mengajak peserta didik untuk berbaur dengan lingkungannya dan mengenal realita yang sebenarnya terjadi.


C.  Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran PAI berbasis masyarakat haruslah mempunyai kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai kebutuhan dan relevansinya dengan masyarakat.
Penerapan pendidikan agama Islam sebagai pendidikan alternatif yang dimaksudkan oleh penulis dalam makalah ini adalah pendidikan yang mengintegrasikan antara pendidikan agama Islam dan pendidikan umum. Artinya proses perkembangan manusia itu didasari nilai Islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan, tuntutan dinamika sosial dan tuntutan pengembangan fitrah, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan dunia dan ukhrawi serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi kekhalifahan dan penghambaan. Dengan anggapan penerapan pendidikan agama Islam berbasis masyarakat diwujudkan dengan penciptaan suasana yang religius di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Di sekolah siswa menggagas berdirinya organisasi Kerohanian Islam (Rohis) sebagai forum untuk memecahkan masalah tentang keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sedangkan penerapan pendidikan agama Islam di lingkungan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk organisasi masjid dan perkumpulan remaja lainnya sebagai bentuk partisipasi remaja dalam mengembangkan potensi sumber daya manusianya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ø Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisne Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ø Arifin, M. 2000. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ø Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Ø Ahmad D. Marimba. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: al-Ma’arif
Ø Bahrudin, Ahmad. 2007. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Ø Darajat, Zakia. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ø Darajat, Zakiyah. Dkk. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ø Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2005)
Ø Hanna Djumhana Bastaman. 1995. Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Yayasan Insan Kamil.
Ø Heri Jauhari Muchtar. 2005. Fikih Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Ø M. Quraish Shihab. 2003. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Penerbit Mizan.
Ø Muhaimin dan Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.
Ø Muhaimin, dkk. 2002. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ø Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Ø Patoni, Ahmad Patoni. 2007. Peran Kyai Pesantren dalam Partai Politik. Yogyakarta: Pusaka Pelajar.
Ø Sudjana, Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ø Said Agil Husin Al-Munawar. 2005. Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam. Ciputat: PT. Ciputat Press.
Ø Surakhmad, Winarno. 2002. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah dam Rangka Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat. Semarang: Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah
Ø Thoha, Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ø UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003)
Ø UU RI No. 20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Yogyakarta: Wacana Intelektual Press, 2006).


[1] UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003).
[2] Ibid
[3] Winarno Surakhmad, Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah dam Rangka Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Semarang: Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah, 2002) hlm. 16
[4] Metro TV diakses pada Selasa, 6 Mei 2014, jam 13.04 WIB
[5] Zakiah Daradjad, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 172
[6] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 33
[7] Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 14
[8] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 586
[9] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), hlm. 319
[10] UU RI No. 20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Wacana Intelektual Press, 2006), hlm. 79
[11] Ahmad Bahrudin, Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2007), hlm. xiv-xv
[12] Zakiyah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86
[13] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 136
[14] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), hlm. 11
[15] Abdul Majid dan Dian Andayani, Op.Cit. hlm. 138
[16] Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 80
[17] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 5
[18] Ahmad Patoni, Peran Kyai Pesantren dalam Partai Politik, (Yogyakarta: Pusaka Pelajar, 2007), hlm. 87
[19] Said Agil Husin Al-Munawar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam, (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2005), hlm. 206
[20] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm.105
[21] Zakiyah Darajat, Op.Cit., hlm. 88
[22] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Yayasan Insan Kamil, 1995) hlm. 127
[23] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1989), hlm. 89
[24] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 103
[25] Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisne Teosentris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 196-198

No comments:

Post a Comment