Friday, June 13, 2014

SEKOLAH ISLAM DAN INTEGRASI KEILMUAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


SEKOLAH ISLAM DAN INTEGRASI KEILMUAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
Oleh : Nurul Fardiana (13770012)
PascaSarjan UIN Maliki Malang
Juni, 2014

Abstrak
Ide tentang integrasi keilmuan Islam di kalangan para pemikir pendidikan Islam di Indonesia selama ini di pandang masih berserakan dan belum di rumuskan dalam suatu tipologi pemikiran yang khas, terstruktur, dan sistematis. Bahkan transformasi beberapa IAIN/STAIN menjadi UIN pun dipandang belum menggambarkan peta pemikiran keilmuan Islam, baik di Indonesia maupun di dunia Islam pada umumnya; baik masa klasik maupun kontemporer. Itulah sebabnya berbagai gagasan integrasi keilmuan, termasuk juga kristalisasinya dalam bentuk transformasi IAIN/STAIN menuju UIN menjadi penting untuk membangun suatu  tiplogi atau pemikiran tentang  integrasi keilmuan Islam.
Awal munculnya ide tentang integrasi keilmuan dilatarbelakangi oleh adanya dualisme atau dikhotomi keilmuan antara ilmu-ilmu umum di satu sisi dengan ilmu-ilmu agama di sisi lain. Dikhotomi ilmu yang salah satunya terlihat dalam dikhotomi institusi pendidikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama telah berlangsung semenjak bangsa ini mengenal sistem pendidikan modern.[1]
Dikhotomi keilmuan Islam tersebut berimplikasi luas terhadap aspek-aspek kependidikan di lingkungan umat Islam, baik yang menyangkut cara pandang umat terhadap ilmu dan pendidikan, kelembagaan pendidikan, kurikulum pendidikan, maupun psikologi umat pada umumnya.
Berbicara tentang sejarah pendidikan kita sekarang, maka tidak bisa lepas dari sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan yang berasal dari warisan kolonial Belanda yang turut menentukan dinamika pendidikan di negara kita. Terlihat adanya sistem kelas yang dibentuk oleh Belanda yang mana hanya golongan bangsawan (priyayi) saja yang diberikan akses untuk menempuh pendidikan Barat (umum). Sedangkan bagi rakyat pribumi pilihan tidak lain adalah pendidikan pesantren yang berarti lebih bernuansa Islam. Dan tentunya inilah awal babak baru yang menggiring kita akan pemahaman adanya dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Dan  ternyata setelah negara kita merdekapun, dikotomi tersebut msih tetap terasa. Dan bahkan ada anggapan bahwa pendidikan islam terkesan di nomorduakan, kualitas lulusannya tidak sebagus yang dari umum, yang semuanya mengesankan  pendidikan Islam ada dalam “kelas nomor dua”.
Dualisme sistem pendidikan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga melanda hampir seluruh negara muslim. Sehingga hal ini berdampak luas dalam kehidupan,  baik gaya hidup, pola pikir dan aktivitas sosial yang membahayakan dan merugikan umat islam sendiri. Disinilah perlu adanya pengembangan pendidikan Islam yang mampu mewujudkan integrasi antara ilmu umum dam ilmu agama.[2]

Keyword : Sekolah Islam, Integrasi Keilmuan
A.  PEMBAHSAN
1.    Pendidikan Islam dan Membangun Integrasi Keilmuan di Indonesia
a.    Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan realitas yang kompleks. Pendidikan Islam adalah lembaga pendiidkan yang dikelola, dilaksanakan, dan diperuntukkan bagi umat islam. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan Islam menurut bentuknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lembaga pendidikan Islam di luar sekolah dan lembaga pendidikan Islam di dalam sekolah.[3]
Pendidikan Islam memandang keluarga, masyarakat, dan tempat-tempat peribadahan ataupun lembaga pendidikan di luar sekolah, seperti TPA sebagai bentuk pendidikan dalam sistem nasioanal adalah pendidikan di luar sekolah. Sedangkan lembaga pendidikan Islam di dalam sekolah meliputi, sekolah islam, madrasah, Lembaga Pendidikan Kejuruan (LPK) Islam, Balai Latihan Kerja (BLK), Perguruan Tinggi Islam, dan seterusnya.[4]

Lembaga pendidikan Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa kategori dalam tabel dibawah ini.[5]
No
Kelompok Lembaga
Lama Belajar
Kurikulum
Status
I.
Madrasah
1.    Madrasah Ibtidaiyah
2.    Madrasah Tsanawiyah
3.    Madrasah Aliyah
a.    Madrasah Aliyah  Keagamaan
b.    Madrasah Aliyah  Keterampilan

6 tahun
3 tahun
3 tahun
3 tahun

3 tahun

Islam-umum
Islam-umum
Islam-umum
Islam-umum

Islam-umum


negeri/swasta
negeri/swasta
negeri/swasta
negeri/swasta

negeri/swasta
II.
Madrasah Diniyah
1.     Madrasah Diniyah Awaliyah
2.     Madrasah Diniyah Wustha
3.     Madrasah Diniyah ‘Ulya

4 tahun

2 tahun

2 tahun

Islam

Islam

Islam

swasta

swasta

swasta

III.
Pesantren Salafiyah
-
Islam
swasta
IV.
Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah
6 tahun
Islam-umum
swasta
V.
Sekolah Islam
1.    Sekolah Dasar Islam
2.    Sekolah Menengah Pertama Islam
3.    Sekolah Menengah Atas Islam

6 tahun
3 tahun

3 tahun

umum-Islam
umum-Islam

umum-Islam

swasta
swasta

swasta


Tampak bahwa keragaman merupakan karakter utama pendidikan Islam di Indonesia. Indonesia tidak hanya mengenal pesantren, madrasah dan sekolah Islam, lebih dari itu didalamnya juga terdapat beberapa varian. Masing-masing dibedakan oleh materi pembelajaran, waktu pembelajaran dan relasinya dengan negara.
Kelompokpertama, yaitu kelompok madrasah, merupakan varian lembaga pendidikan Islam yang mengombinasikan mata pelajaran umum dan agama. Untuk tingkat pendiidkan dasar, disebut madrasah ibtidaiyah (MI) dengan masa belajar 6 tahun; untuk tingkat pendidikan menengah pertama, disebut Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan amsa belajar 3 tahun; dan untuk tingkat pendidikan menengah disebut madrasah aliyah (MA) dengan masa belajar 3 tahun. madrasah kelompok ini merupakan model madrasah paling banyak dijumpai Indonesia dengan jumlah yang banyak dan tingkat penyerabaran yang merata.[6]
Kedua, kelompok madrasah yang hanya mengajarkan pengetahuan keIslaman, termasuk bahasa Arab, yaitu madrasah diniyah. Untuk tingkat pendidikan dasar disebut Madrasah Diniyah Awaliyah dengan masa belajar 4 tahun; untuk tingkat pendidikan menengah pertama disebut Madrasah Diniyah Wustha dengan masa 2 tahun dan untuk tingkat pendidikan menengah atas disebut Madrasah Diniyah Ulya dengan masa belajar 2 tahun.[7]
Madrasah Diniyah, pada hakikatnya merupakan bentuk pelembagaan lembaga pendidikan Islam tradisional dengan tingkatan di bawah pesantren. dalam konteks, terdapat kesan yang sulit dihindari bahwa lembaga pemdidikan merupakan perkembangan lebih lanjut dari pelajaran membaca al-Quran yang diberikan ustadz dimushalla. Jika menghendaki, setelah dipandang mampu membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah pembacaan yang benar (sesuai aturan ilmu tajwid), seorang anak akan melanjutkan pendidikan ke pesantren untuk memperdalam pelajaran agama. Tradisi belajar al-Qur’an inilah kemudian dilembagakan dalam bentuk madrasah diniyah dengan kurikulum yang lebih terstruktur dan metode yang lebih sistematis.
Ketiga, kelompok lembaga pendidikan Islam yang mengombinasikan pengetahuan agama dan umum, tetapi menamakan dirinya dengan Kuliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) atau Mu’allimin. KMI merupakan lembaga pendidikan menengah dengan masa belajar 6 tahun. dalam konteks pesantren, pondok modern sering dimasukkan ke dalam “pesantren independen” termasuk “independen salafi”.[8]
Keempat, kelompok lembaga pendidikan Islam yang menyebut dirinya dengan istilah sekolah Islam. Sekolah Islam merupakan fenomena muslim perkotaan. Meskipun sekolah Islam dimasukkan ke dalam kategori lembaga pendidikan Islam. Dua hal yang perlu diperhatikan : pertama, secara administratif dan struktural, sekolah Islam berada dibawah Departemen Pendidikan. Kedua, dalam konteks kurikulum sekolah Islam memberikan penekanan terhadap sains modern seperti matematika, fisika, biologi, kimia dll.
1)   Madrasah atau Sekolah Islam
Madrasah adalah lembaga penyelenggara kegiatan belajar mengajar secara terpadu dan sistematis. prosedur pendidikannya diatur sedemian rupa, ada guru, siswa, jadwal pelajaran, yang berpedoman pada kurikulum, silabus, GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran), jam tertentu dan dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendiidkan, perangkat keras maupun lunak.[9]
2)   Pesantren
Pesantren merupakan model lembaga pendidikan Islam pertama yang mendukung kelangsungan sistem pendidikan nasional. Secara historis, pesantren tidak saja mengandung keislaman, tetapi juga keaslian Indonesia. Seperti ungkapan A. Malik Fadjar, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki watak indigenous (pribumi) yang ada sejak kekuasaan Hindu-Budha dan menemukan formulasinya yang jelas ketika Islam berusaha mengadaptasikan (mengislamkan)-nya.[10]
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki keunikan tersendiri. di antaranya terdapat pondok, masjid, santri, kyai, pengajian kitab kuning. Kitab kuning sampai dewasa ini masih dianggap sesuatu yang penting bagi sistem pembelajaran di pesantren. Azyumardi Azra mengatakan, “hampir tidak diragukan lagi kitab kuning mempunyai peran besar tidak hanya dalam transmisi ilmu pengetahuan Islam, bukan hanya di kalangan komunitas santri, tetapi juga di tengah masyarakat Muslim Indonesia secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, kitab kuning khususnya ditulis oleh para ulama dan pemikir Islam di kawasan ini merupakan refleksi perkembangan intelektualisme dan keilmuan Islam Indonesia. Bahkan, dalam batas tertentu, kitab kuning juga merefleksikan perkembangan sejarah sosial Islam di kawasan ini.[11]
3)   Keluarga
Keluarga secara normatif termasuk ke dalam kelompok lembaga pendiidkan di luar sekolah. Islam memandang keluarga sebagai bentuk lembaga pendiidkan karena berlangsung proses kependidikan.
4)   Taman Pengajian Al-Qur’an (TPQ)
5)   Majelis Ta’lim
Majelis ta’lim adalah salah satu sarana pendidikan Islam. Majelis ta’lim dikenal dengan istilah pengajian-pengajian.
Terakhir, hasil pemetaan lembaga pendidikan Islam memperlihatkan pertumbuhan sedemikian rupa di Indonesia. Jumlah yang besar, lokasinya yang hampir merata, variasi mata pelajaran yang ditawarkan kepada siswa-siswanya, dan jangkauannya terhadap seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat kurang mampu di pedesaan, menjadikan lembaga pendidikan Islam menjadi faktor penting dalam pembentukan muslim di Indonesia.
b.   Kurikulum
Pada umumnya, kurikulum madrasah di Indonesia baik negeri maupun swasta merupakan kombinasi antra mata pelajaran agama dan umum. Terdapat beberapa madrasah yang secara khusus hanya mengajarkan pengetahuan agama, yaitu madrasah diniyah, tetapi siswa madrasah diniyah biasanya juga belajar di sekolah umum. Dengan dmeikian, masalah kedudukan pengetahuan umum (sekuler) dan pengetahuan agama sudah tidak menjadi persoalan di kalangan muslim Indonesia. Meskipun demikian, identitas utama madrasah adalah lembaga pendidikan Islam. Karena alasan identitas inilah madrasah dikelola oleh Departemen Agama bukan Departemen Pendidikan.[12]
Rumusan kurikulum dalam islamisasi ilmu pengetahuan dengan memasukkan segala keilmuawan dalam kurikulum. Dengan demikian, lembaga pendidikan memiliki kurikulum yang aktual, responsif terhadap tuntutan permasalahan kontemporer. Artinya lembaga melahirkan lulusan yang visioner, berpandangan integratif, proaktif dan tidak dikotomik dalam keilmuwan.[13]
2.    Hakikat Integrasi Keilmuan Pendidikan
Menyusun dan merumuskan konsep integrasi keilmuan tentulah tidak mudah. Apalagi berbagai upaya yang selama ini dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi Islam, terutama di Indonesia, dengan cara memasukkan beberapa program studi ke-Islam-an di klaim sebagai bagian dari proses integrasi keilmuan. Dalam praktek kependidikan di beberapa negara, termasuk di Indonesia, integrasi   keilmuan juga memiliki corak dan jenis yang beragam. Lagi pula merumuskan integrasi keilmuan secara konsepsional dan filosofis, perlu melakukan kajian filsafat dan sejarah perkembangan ilmu, khususnya di kalangan pemikir dan tradisi keilmuan Islam.
Untuk memberikan pemahaman yang memadai tentang konsep integrasi keilmuan, yang pertama-tama perlu dilakukan adalah memahami konteks munculnya ide integrasi keilmuan tersebut. Bahwa selama ini di kalangan umat Islam terjadi suatu pandangan dan sikap yang membedakan antara ilmu-ilmu ke-Islam-an di satu sisi, dengan ilmu-ilmu umum di sisi lain. Ada perlakukan diskriminatif terhadap dua jenis ilmu tersebut. Umat Islam seolah terbelah antara mereka yang berpandangan positif terhadap ilmu-ilmu keislaman sambil memandang negatif yang lainnya, dan mereka yang berpandangan positif terhadap disiplin ilmu-ilmu umum sembari memandang negatif terhadap ilmu-ilmu ke-Islaman. Kenyataan itu telah melahirkan pandangan dan perlakuan yang berbeda terhadap ilmuwan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh para pemikir Islam adalah pengintegrasian kembali ilmu umum dan ilmu keislaman. Istilah yang populer dalam konteks integrasi adalah islamisasi.[14]
Dari konteks yang melatari munculnya ide integrasi keilmuan tersebut, maka integrasi keilmuan pertama dapat dipahami sebagai upaya membangun suatu pandangan dan sikap yang positif terhadap kedua jenis ilmu yang sekarang berkembang di dunia Islam. M. Ami Ali memberikan pengertian integrasi keilmuan : integration of sciences means the recognition that all true knowledge is from Allah and all sciences should be treated with equal respect whether it is scientific or revealed.[15]
Akan tetapiintegrasi yang dilakukaninibiasanyahanyadengansekedarmemberikanilmu agama danumumsecarabersama-samatanpadikaitkansatusama lain apalagidilakukan di atasdasarfilosofis yang mapan. Sehinggapemberianbekalilmudan agama tersebuttidakmemberikanpemahaman yang utuhdankomprehensifpadapesertadidik.Apalagikenyataannya, ilmu-ilmutersebutseringdisampaikanoleh guru ataudosen yang kurangmempunyaiwawasankeislamandankemoderenan yang memadai.[16]
Menurut Imaduddin Khalil islamisasi ilmu pengetahuan nearti melakukan suatu aktivitas keilmuan seperti mengungkap, mengumpulkan, menghubungkan, dan menyebarluaskannya menurut sudut pandang Islam terhadap alam, kehidupan, dan manusia.[17] Sedangkan menurut al-Faruqi islamisasi ilmu pengetahuan adalah mengislamkan disiplin ilmu atau lebih tepat menghasilkan buku pegangan padalevel universitas dengan menuang kembali disiplin ilmu modern dengan wawasan Islam.[18] Dengan demikian, disiplin ilmu yang diislamisasi tersebut benar-benar berlandaskan prinsip Islam dan tidak pengadopsian ilmu dari Barat yang bersifat sekuler materialistis, rasional empirik yang banyak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dr. Nurhayati Djamas dalam konteks pembaharuan pendidikan mengartikan pengintegrasian ilmu umum dan agama sebagai usaha memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulum pendiidkan madrasah dan pesantren seperti dilakukan oleh KH. Moh. Ilyas di pondok pesantren Tebu Ireng. Langkah itu merupakan langkah ke arah integrasi ilmu (lembaga pendiidkan Islam tingkat akademik). Usaha tersebut merupakan mekanisme posisional pendidikan madrasah dan pesantren ke dalam sistem pendidikan nasional. Disamping itu demikian juga menunjukkan semangat ke arah integrasi sistem pendidikan Indonesia, tanpa harus menyebabkan pendiidkan Islam kehilangan jati dirinya.[19]
Kata kuncikonsepsiintegrasikeilmuanberangkatdaripremisbahwasemuapengetahuan yang benarberasaldari Allah (all true knowledge is from Allah). Dalampengertian yang lain, M. Amir Ali jugamenggunakanistilahall correct theories are from Allah and false theories are from men themselves or inspired by Satan.Denganpengertian yang hampirsama Usman Hassan menggunakanistilah "knowledge is the light that comes from Allah ".[20]
Beberapa ayat al-Qur’an yang digunakan oleh para Muslim untuk mendukung konsep integrasi keilmuan ini adalah:
¨bÎ)ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#urÉ#»n=ÏG÷z$#urÈ@øŠ©9$#Í$yg¨Y9$#urÅ7ù=àÿø9$#urÓÉL©9$#̍øgrBÎû̍óst7ø9$#$yJÎ/ßìxÿZtƒ}¨$¨Z9$#!$tBurtAtRr&ª!$#z`ÏBÏä!$yJ¡¡9$#`ÏB&ä!$¨B$uŠômr'sùÏmÎ/uÚöF{$#y÷èt/$pkÌEöqtB£]t/ur$pkŽÏù`ÏBÈe@à27p­/!#yŠÉ#ƒÎŽóÇs?urËx»tƒÌh9$#É>$ys¡¡9$#ur̍¤|¡ßJø9$#tû÷üt/Ïä!$yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#ur;M»tƒUy5Qöqs)Ïj9tbqè=É)÷ètƒÇÊÏÍÈ
Sesungguhnyadalampenciptaanlangitdanbumi, silihbergantinyamalamdansiang, bahtera yang berlayar di lautmembawaapa yang bergunabagimanusia, danapa yang Allah turunkandarilangitberupa air, laludengan air ituDiahidupkanbumisesudahmati (kering)-nyadanDiasebarkan di bumiitusegalajenishewan, danpengisaranangindanawan yang dikendalikanantaralangitdanbumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaandankebesaran Allah) bagikaum yang memikirkan. (Q.S Al-Baqarah 164).[21]
ßkÏ9qè?Ÿ@øŠ©9$#ÎûÍ$yg¨Y9$#ßkÏ9qè?uru$yg¨Y9$#ÎûÈ@øŠ©9$#(ßl̍÷è?ur¢yÛø9$#šÆÏBÏMÍhyJø9$#ßl̍÷è?ur|MÍhyJø9$#z`ÏBÇcyÛø9$#(ä-ãös?ur`tBâä!$t±n@ÎŽötóÎ/5>$|¡ÏmÇËÐÈ
EngkaumasukkanmalamkedalamsiangdanEngkaumasukkansiangkedalammalam.Engkaukeluarkan yang hidupdari yang mati, danEngkaukeluarkan yang matidari yang hidup.Dan Engkauberirezekisiapa yang Engkaukehendakitanpahisab (batas). (Q.S Al-Imran 27)[22]
Dalam agama Islam, ilmupengetahuan, teknologiterdapathubungan yang harmonisdandinamis yang terintegrasikedalamsuatu sistem yang disebutDinul Islam.DidalamnyaadatigaunsurpokokyaituIman, Islam danamalsholeh.Salah satutujuan Islam ialahuntukmemberituntunansehinggamanusiadapatmeningkatkantarafhidup yang modern danlebihmaju.Islam tidakmelaranguntukmemikirkanmasalahtekhnologi modern atauilmupengetahuan yang sifatnyamenujumodernisasipemikiranmanusia genius, professional dankonstruktifsertaaspiratifterhadappermasalahan yang timbuldalamkehidupansehari-hari.[23]
Dalam kontek islamisasi ilmu pengetahuan, yang harus mengaitkan dirinya pada prinsip tauhid adalah pencari ilmu (thalib al almi)-nya, bukan ilmu itu sendiri. Wacana tentang integrasi antara ilmu dan agama sesungguhnya sudah muncul cukup lama, mesti tidak menggunakan kata integrasi secara ekplisit, di kalangan muslim modern gagasan perlunya pemaduan ilmu dan agama, atau akal dengan wahyu (iman) sudah cukup lama beredar. Cukup populer juga di kalangan muslim pandangan bahwa pada masa kejayaan sains dalam peradaban Islam, ilmu dan agama telah integrated.
Upaya pembendungan dikotomi ilmu ini dapat dilakukan dengan upaya integrasi ilmu dalam Pendidikan Islam yang dimuat dalam tiga model islamisasi pengetahuan, yaitu: model purifikasi, modernisasi Islam dan Neo-Modernisme.[24]
a.    Islamisasi Model Purifikasi
          Purifikasi bermakna pembersihan atau penyucian. Dengan kata lain, proses Islamisasi berusaha menyelenggarakan pengendusan ilmu pengetahuan agar sesuai dengan nilai dan norma Islam secara kaffah, lawan dari berislam yang parsial. Ajaran ini bermakna bahwa setiap ilmuwan Muslim dituntut menjadi actor beragam yang loyal, concern dan commitment dalam menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai Islam dalam aspek kehidupannya, serta bersedia dan mampu berdedikasi sesuai minat, bakat, kemampuan, dan bidang keahliannya masing-masing dalam perspektif Islam untuk kepentingan kemanusiaan.[25]
          Model Islamisasi ini sebagaimana dikembangkan oleh Al-Faruqi dan Al-Attas. Adapun empat rencana kerja Islamisasi Pengetahuan Al-Faruqi, meliputi: (a) penguasaan khazanah ilmu pengetahuan muslim, (b) penguasaan khazanah ilmu pengetahuan masa kini, (c) indentifikasi kekurangan-kekurangan ilmu pengetahuan itu dalam kaitannya dengan ideal Islam, dan (d) rekonstruksi ilmu-ilmu itu sehingga menjadi suatu paduan yang selaras dengan wawasan dan ideal Islam.[26]
b.    Islamisasi Model Modernisasi Islam
          Modernisasi berarti proses perubahan menurut fitrah atau sunnatullah. Model ini berangkat dari kepedulian terhadap keterbelakangan umat Islam yang disebabkan oleh sempitnya pola pikir dalam memahami agamanya, sehingga sistem pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan agama Islam tertinggal jauh dari bangsa non-muslim. Islamisasi disini cenderung mengembangkan pesan Islam dalam proses perubahan sosial, perkembangan IPTEK, adaktif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dan proses modernisasi.[27]
          Modernisasi berarti berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah yang hak. Untuk melangkah modern, umat Islam dituntut memahami hukum alam (perintah Allah swt) sebelumnya yang pada giliran berikutnya akan melahirkan ilmu pengetahuan. Modern berarti bersikap ilmiah, rasional,  menyadari keterbatasan yang dimiliki dan kebenaran yang didapat bersifat relatif, progresif-dinamis, dan senantiasa memiliki semangat untuk maju dan bangun dari keterpurukan dan ketertinggalan.[28]
c.    Islamisasi Model Neo-Modernisme
          Model ini berusaha memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Hadits dengan mempertimbangkan khazanah intelektual Muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan IPTEK.[29]
          Islamisasi model ini bertolak dari landasan metodologis; (a) persoalan-persoalan kotemporer umat harus dicari penjelasannya dari tradisi, dari hasil ijtihad para ulama terdahulu hingga sunnah yang merupakan hasil penafsiran terhadap al-Quran, (b) bila dalam tradisi tidak ditemukan jawaban yang sesuai dengan kehidupan kotemporer, maka selanjutnya menelaah konteks sosio-historis dari ayat-ayat al-Quran yang dijadikan sasaran ijtihad ulama tersebut, (c) melalui telaah historis akan terungkap pesan moral al-Quran sebenarnya yang merupakan etika sosial al-Quran, (d) dari etika sosial al-Quran itu selanjutnya diamati relevansi dengan umat sekarang berdasarkan bantuan hasil studi yang cermat dari ilmu pengetahuan atas persoalan yang dihadapi umat tersebut.[30]
          Dari ketiga model Islamisasi di atas, kesemuanya bertujuan untuk memutuskan mata rantai dikotomi ilmu pengetahuan guna membangun kembali kebebasan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional empirik dan filosofis dengan tetap merujuk pada kandungan al-Quran dan al-Hadits. Oleh karenanya, hendaknya selaku seorang pendidik, kita memahami krisis dan kemelut umat ini dengan baik agar dapat menghindari keberlanjutan praktik dikhotomi ilmu ini dalam dunia pendidikan yang digeluti.
3.    Integrasi Keilmuan “UIN” Pendidikan di Indonesia
Setidaknya ada dua kecenderungan yang bisa diidentifikasi dengan zaman globalisasi. Pertama, semakin kuatnya dominasi iptek dalam kehidupan manusia. Iptek menjadi ‘malaikat imajinatif” kreativitas dan produktivitas, mampu merekayasa semaksimal mungkin bagi kepentingan hidup manusia. Kedua, kuatnya dominasi iptek pelan-pelan menggeser nilai-nilai luhur yang secara universal dijunjung tinggi oleh manusia.
Dalam konteks itulah maka peran pendiidkan sebagai pemasok utama manusia skilled, manusia yang memiliki kemahiran dan keterampilan dan keterampilan penguasa iptek, bertanggung jawab mengembalikan visi, konsep, dan orientasi penguasaan dan penggunaan iptek pada sesuatu yang bernilai. Perguruan tinggi Islam seperti IAIN/STAIN/UIN sebagai bagian integral pendidikan nasional diharapkan mampu mempertimbangkan perubahan dan transisi sosial, ekonomi, politik nasioanl dan global.  Sebagaimana dikatakan Azyumardi Azra, PTI diharapkan tidak saja survive, tetapi juga memberikan competitive advantage, memiliki daya saing yang handal dan tangguh dalam zaman globalisasi, sains, dan teknologi. 
Secara filosofis, legitimasi keilmuan UIN dengan istilah “islamisasi” bukanlah suatu kelemahan dan kekurangan melainkan satu bentuk koherensi (perpaduan) antara ilmu-ilmu Islam dan sains. Baik agama dan sains masing-masing memiliki kerangka normatif dan sosial-historis. secara normatif, agama maupun sains mengajarkan kepada manusia apa dan bagaimana mengelola dunia dengan baik. Sedangkan sosial-historis, agama maupun sains menginstruksikan terjadinya transformasi dan eksploitasi dunia dengan penuh semangat dan radikal.
Persoalannya bukan terletak pada konstruksi keilmuan (islamisasi), tetapi sejatinya adalah pada “bagaimana menjelaskan perubahan konseptual IAIN menjadi UIN di dalam pemahaman semua sivitas keilmuan manusia, alam. Atas dasar inilah maka orientasi dan sistem pendidikan Islam tidak perlu terjadi dikotomis antara ilmu agama dan sains, tetapi bagaimana mengintegrasikannya secara terpadu.
Rektor UIN Malang dalam mengintegrasikan keilmuannya, diilustrasikan dengan pohon keilmuan UIN. Perubahan IAIN/STAIN menjadi UIN, sebagai model “reintegrasi keilmuan”, merupakan satu bentuk pengembangan peningkatan dan pemantapan status. UIN diharapkan dapat menjadi model sistem pendidikan Islam yang memiliki “kualitas tinggi” dibandingkan dengan PTN yang lain yang memiliki status, peran dan fungsi yang sama, disamping memiliki otonomi lebih luas baik dalam pengembangan akademik, manajemen maupun administrasinya.
Di antara alasan enam pimpinan UIN untuk memperjuangkan IAIN menjadi UIN adalah : Pertama, dengan berubahnya status Institut menjadi Universitas, dapat mengembangkan program studi dan fakultas non agama atau fakultas umum yang memungkinkan para lulusan UIN memperoleh akses yang lebih luas dalam mencari lowongan kerja. kedua, untuk mengintegrasikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum, yang selama ini bersifat dikotomik dengan implikasinya yang tidak diinginkan. Upaya pengintegrasian ilmu umum dan agama, sebagai suatu hal yang sulit dilakukan. Kedua jenis ilmu dapat dipadukan, tetapi bukan dalam makna “dicampurkan”.[31]
UIN Malang mempunyai dua keunikan. Pertama, UIN Malang adalah salah satunya dari status STAIN langsung menjadi Universitas. Kedua, 21 buah Ma’had ‘Ali se-Indonesia, satu-satunya yang diselenggarakan di kampus AIN/UIN adalah Ma’had ‘Ali di kampus UIN Malang.

B.  PENUTUP
Setelah dideskripsikan makalah tentang integrasi sains dan Islam diatas, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa betapapun besarnya peran, sumbangsih sains dan teknologi bagi kehidupan manusia di dunia. Dikotomi pendidikan adalah pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual, dikotomi dalam dunia pendidikan Islam dan bahkan dikotomi dalam diri muslim itu sendiri. Oleh sebab itu perlu adanya pengembangan pendidikan Islam yang mampu mewujudkan integrasi keilmuan antara ilmu umum dam ilmu agama di lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Namun perkembangan pembelajaran berbasis integrasi tetap menjadi bahasan yang menarik dalam ruang lingkup pendidikan.



DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 2000. Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Yunus, Mahmud. 1960. Sejarah  Pendidikan  Islam  di  Indonesia. Jakarta : Pustaka  Muhammadiyah
Zainuddin. 2008. Paradigma Pendidikan Terpadu, menyiapkan generasi ulul albab. Malang: UIN-Malang Press
Muliawan, Jasa Ungguh. 2005. Pendidikan Islam Integratif : Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Subhan, Arief. 2012. Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia Abad ke-20 : Pergumulan Antara Modernisasi dan Identitas. Jakarta: Kencana
Peraturan Menteri Agama RI No.3, 1983 tentang Madrasah Diniyah
Daulay, Haidar Putra. 2001. Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya
Fadjar, Malik. 1998. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung : Yasmin dan Mizan
Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana
Sholeh, Khudori. 2007. Pokok Pikiran tentang Paradigma Integrasi Ilmu dan Agama dalam Intelektualisme Islam : Melacak Akar-akar Integrasi Ilmu dan Agama. Malang: LKQS UIN Malang
Saridjo,Marwan. 2011. Pendidikan Islam dari Masa ke Masa : Tinjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia. Bogor: Al-Manar Press
Hassan, Usman. 2003. The Concept of Ilm and Knowledge in Islam. The Association of Muslim Scientists and Engineers
Rohadi dan Suharsono. 2005. Ilmu dan Teknologi dalam Islam Cetakan ke-3. Jakarta : Departemen Agama RI
Nata, Abuddin dkk. 2005. Integrasi Ilmu Agama dalam Ilmu Umum. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Muhaimin. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam; Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: PT. Rajawali Pers
Gofur, Abdul. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Insan Media Group


[1] Mahmud  Yunus,  Sejarah  Pendidikan  Islam  di  Indonesia, (Jakarta : Pustaka  Muhammadiyah,  1960), hlm. 237
[2] M. Zainuddin. Paradigma Pendidikan Terpadu, menyiapkan generasi ulul albab, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm. 5
[3] Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif : Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), hlm. 154
[4]Ibid.,
[5]Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia Abad ke-20 : Pergumulan Antara Modernisasi dan Identitas, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 318
[6]Ibid.,
[7] Peraturan Menteri Agama RI No.3, 1983 tentang Madrasah Diniyah
[8] Arief Subhan, Lembaga., Op.Cit, hlm. 320
[9] Haidar Putra Daulay, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001), hlm. 35
[10] A.Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung : Yasmin dan Mizan, 1998), hlm. 21
[11] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), hlm. 116, lihat Ahmad Barizi dan Imam Tolhah, Membuka Jendela Pendidikan Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 77
[12]Ibid., hlm. 330
[13] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 273
[14] Samsul Nizar, Sejarah, Op.Cit, hlm. 235
[15]Ibid.,
[16]Khudori Sholeh, Pokok Pikiran tentang Paradigma Integrasi Ilmu dan Agama dalam Intelektualisme Islam: Melacak Akar-akar Integrasi Ilmu dan Agama, (Malang: LKQS UIN Malang, 2007), hlm. 231
[17] Jamaluddin Khalil, Pengantar Islamisasi Ilmu Pengetahuann dan Sejarah, (Jakarta: Media Dakwah, 1994), hlm. 35, dilihat Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan, Op.Cit, hlm. 235
[18] Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. Anas Wahyuddin, (Bandung: Pustaka, 1984), hlm. 35, dilihat Samsul Nizar., Op.Cit, hlm. 235
[19] Nurhayati Djamas, Dinamika Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Grafindo, 2007) dilihat  Marwan Saridjo, Pendidikan Islam dari Masa ke Masa : Tinjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor: Al-Manar Press, 2011), hlm. 203
[20] Usman Hassan, The Concept of Ilm and Knowledge in Islam, The Association of Muslim Scientists and Engineers, 2003, hlm. 3
[21] Q.S. Al-Baqarah164
[22] Q.S. Al-Imran 27
[23] Rohadi dan Suharsono, Ilmu dan Teknologi dalam Islam Cetakan ke-3, (Jakarta : Departemen Agama RI, 2005), hlm. 56
[24] Abuddin Nata, dkk. Integrasi Ilmu Agama dalam Ilmu Umum, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 143-145
[25] Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam; Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, (Jakarta: PT. Rajawali Pers, 2006),  hlm. 61
[26]Ibid., hlm. 61-62
[27]Muhaimin, Redefenisi Islamisasi Pengetahuan : Upaya Menjelajahi Model-model Pengembangannya, dalam buku Quo Vadis Pendidikan Islam (Ed) Mudjia Rahardjo (Malang : Cendikia Paramulya, 2002), hlm. 234-235
[28]Muhaimin., Nuansa Baru, Op.Cit…,  hlm. 62 - 63
[29]AbdulGofur, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Insan Media Group, 2010), hlm. 48
[30]AhmadBaihaki, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Presada Media Group, 2010), hlm. 28
[31]Marwan Saridjo, Pendidikan Islam dari Masa ke Masa : Tinjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor: Al-Manar Press, 2011), hlm. 199

No comments:

Post a Comment