Friday, June 13, 2014

UIN DAN RENAISANS BARU PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


UIN DAN RENAISANS BARU PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Oleh: Kutsiyah
PascaSarjana UIN Maliki Malang
Juni, 2014
Pendahuluan
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, bahkan paling penting dalam mengembangkan dan memajukan peradaban. Semakin banyak pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, maka semakin besar peluang untuk maju. Dalam sejarah Islam hal ini telah dibuktikan pada masa Abbasiyah. Banyak kajian-kajian keilmuan yang dilakukan di majlis-majlis, hingga Islam sampai pada masa keemasannya.
Pendidikan merupakan pintu masuk suatu peradaban. Dari sini, seseorang akan mendapat pencerahan dan mulai mencari jati diri yang lebih baik. Dalam hal ini tentu pendidikan juga harus memiliki sistem yang baik agar cita-cita atau esensi dari pendidikan tersebut bisa tercapai.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, Islam mulai menampakkan semangatnya di dunia pendidikan. Hal ini tampak dengan adanya beberapa perubahan status kelembagaan sekolah tinggi Islam menjadi Institute Agama Islam Negeri (IAIN) atau Universitas Islam Negeri (UIN). Perubahan ini mencerminkan adanya cita-cita yang lebih besar untuk pendidikan Islam.
Perubahan status kelembagaan, dalam hal ini adalah UIN, memberi harapan baru bagi umat muslim akan pendidikan Islam. Pembenahan dalam berbagai bidang juga dilakukan untuk menggapai cita-cita besar tersebut. Lalu pertanyaannya, dengan adanya perubahan status mnjadi UIN, apa cita-cita besar pendidikan Islam itu? Tentunya, cita-cita besar UIN ini diharapkan bisa memberi wajah baru terhadap pendidikan Islam yang dijalankan sebelumnya.
Seiring dengan berubahan status menjadi UIN, pembenahan-pembenahan dalam berbagai bidang juga dilakukan baik dalam hal kuantitas maupun kualitasnya. Dengan demikian, UIN diharapkan bisa menjadi pelopor dalam kebangkitan pendidikan Islam khususnya d Indonesia.
            Di Indonesia, sebagai contoh UIN yang cukup banyak mendapat kepercayaan masyarakat dan pemerintah di antaranya yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Khusus UIN yang terdapat di Malang ini, merupakan satu-satunya yang memiliki lompatan besar dalam perubahan satutusnya. Maka, di tangan kampus-kampus Islam inilah, kejayaan Islam diharapkan kembali berkibar dan menjemput renaisans.

Transformasi IAIN Menjadi UIN
Beralihnya status perguruan tinggi Islam menjadi UIN, merupakan gebrakan baru dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Fenomena ini juga cerminan dari reorientaasi pendidikan Islam. Predikat ‘universitas’ yang identik dengan kampus-kampus umum, memberi wajah baru bagi lembaga pendidikan Islam. Ada gambaran bahwa lembaga Islam ini mulai membuka diri terhadap dunia luar dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Sebagaimana yang ditulis Marwan Saridjo, di antara alasan beberapa pimpinan UIN sekarang untuk memperjuangkan IAIN menjadi UIN adalah: pertama, dengan berubahnya status Institut menjadi Universitas, mereka dapat mengembangkan program studi dan fakultas non-agama atau fakultas umum yang memungkinkan IAIN/UIN memperoleh akses yang lebih luas dalam mencari lowongan kerja. Kedua, ini yang sangat penting, yakni untuk mengintegrasikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang selama ini bersifat dikotomik dengan implikasinya yang tidak diinginkan. [1]
Dari alasan tersebut, maka yang menjadi alasan mendasar dari transformasi IAIN menjadi UIN adalah integrasi ilmu. Dikotomi ilmu yang selama ini melekat kuat pada umat Islam menjadikan Islam kurang berkembang dan jauh tertinggal dari ilmu-ilmu umum yang telah berkembang pesat. Keyakinan bahwa AL Qur’an dan Hadits adalah sumber ilmu tidak dapat diaplikasan secara nyata. Hal ini bukan karena tidak terdapat dalam Al Quran dan Hadits, melainkan pola pikir umat Islam yang hanya memandang bahwa agama adalah persoalan-persoalan yang mengkaji halal haram, akhlak dan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat rutinitas dan praktis tanpa kajian lebih dalam.
Mengenai transformasi IAIN ke UIN, secara historis kepastian rencana perubahan tersebut terungkap dalam acara sarasehan UIN di IAIN Jakarta pada tanggal 22 Oktober 1994 yang upaya ini dilakukan terlebih dahulu studi kelayakan. Proses ini berlanjut pada tahun 2000 dan 2001. kemudian secara resmi IAIN Jakarta beralih status secara resmi sejak dikeluarkan keputusan Presiden Republik Indonesia no. 31 tahun 2002 tentang Perubahan Institut Agama Islam NEgeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Selanjutnya, langkah ini disusul oleh IAIN Yogyakarta dalam 3 tahun kemudian menjadi UIN pada tahun 2004 bersamaan dengan STAIN Malang.[2]
Dalam tulisannya, Amin Abdullah menjelaskan bahwa keputusan menuju Universitas Islam Negeri ini diambil, yakni untuk memberi kesempatan kepada IAIN Jakarta dalam menyiapkan transformasi kelembagaannya. Ada kesan bahwa perhatian IAIN lebih banyak terfokus pada pembinaan masyarakat melalui fungi dakwaknya daripada pengembangan ilmu pengetahuan. Alasan lain adalah bahwa kurikulum IAIN belum mampu merespon perkembangan iptek dan perubahan di masyarakat yang semakin cepat dan mengglobal. Kurikulum IAIN kurang bersentuhan dan belum dilakukan pendekatan ulang secara intens dengan ilmu-ilmu umum. Dengan kata lain kurikulum IAIN masih bernuansa dikototomis antara ilmu umum dan agama.[3]  Maka cukup jelas, perubahan status menjadi UIN adalah guna membangun kembali orientasi pendidikan Islam yang lebih holistic, integratif dan responsif.
Terlepas dari akar masalah pola pikir dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam, adalah bahwa ilmu adalah sesuatu yang niscaya dan urgen. Semua kalangan bisa mempelajarinya, jenis apapun ilmu tersebut. Hanya kemudian, ilmu yang didapat itulah yang akan mentukan baik tidaknya dalam pengaplikasiannya. Dengan kata lain, suatu ilmu menjadi baik atau sebaliknya ketika dalam tataran aplikasi.

Integrasi Keilmuan; Merajut Masa Depan Pendidikan Islam
Dikotomi keilmuan yang selama ini melekat pada masyarakat khususnya masyarakat akademik yang semestinya bisa mengembangkan keilmuan lebih maju, dalam kondisi riilnya belum bisa mengembalikan kejayaan Islam dahulu. Pendidikan Islam malah semakin terlihat kolot dari kemajuan dunia luar yang semakin canggih.
Dikotomi ilmu ini memberikan dampak kurang baik bagi pengembangan keilmuan Islam. Yang ada hanyalah kemandegan dalam memaknai wahyu dan hanya pada wilayah teosentris. Berikut beberapa permasalahan yang penulis kutip yang menyelimuti pendidikan Islam sebagai akibat dari munculnya dikotomi sistem pendidikan: [4]
a.       Munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam.
Sebagai contoh, sistem madrasah, apalagi sekolah dan perguruan tinggin Islam telah membagi porsi materi pendidikan Islam dan pendidikan umum dalam porsi tententu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi berorientasi sepenuhnya pada tujuan pendidikan Islam. Naum, ironisnya juga tidak dapat mencapai pendidikan Barat.[5] Dengan kata lain, pendidikan Islam belum menemukan arah yang pasti dan ragu-ragu dalam mengeksperikan diri.
b.      Kesenjangan antar sistem dalam pendidikan Islam dan ajaran Islam.
Sistem pendidikan Islam yang masih bersifat ambivalen mencerminkan pandangan yang dikotomis yang memisahkan imu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Pandangan ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Islam memiliki ajaran integralistik yang mengajarkan bahwa urusan dunia tidak terpisahkan dengan urusan nakhirat, tapi merupakan satu kesatuan. Oleh karena itu, iilmu-ilmu umum seharusnya dipahami sebagai bagian yang integral dari ilmu-ilmu agama. Sebagai akibat dari pemahaman dikotomik, maka output dari sebuah institusi pendidikan akan jauh dari cita-cita pendidikan Islam yang universal.
c.       Disintegrasi sistem pendidikan Islam.
Hingga saat ini boleh dikatakan bahwa dalam sistem pendidikan Islam kurang terjadi perpaduan. Kenyataan ini diperburuk oleh ketidakpastian hubungan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, bahkan ini ditunjang oleh kesenjangan antara wawasan guru agama dan kebutuhan anak didik.
Singkatnya, pendidikan Islam yang dikotomi hanya semakin memperburuk sistem pendidikan kita yang pada kenyataannya sudah jauh dari peradaban Barat.
d.      Inferioritas para pengasuh lembaga pendidikan Islam.
Usaha untuk menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan Islam, sebagaimana pendidikan umum, masih sangat erat kaitannya dengan sistem pendidika Barat sebagai tolak ukur kemajuan. Realitasnya, cara pandang ini senantiasa memunculkan pendekataan bahwa sistem pendidikan Islam selalu dipandang sebagai sosok terbelakang. Konsekuensinya, perubahan-perubahan yang dilakukan, seperti yang diterapkan di pesantren dan madrasah telah menghasilkan bentuk-bentuk yang tidak fungsional. Lebih jelas lagi Zainuddin melanjutkan bahwa tidak cukup disitu, para pengauh pun merasa rendah (inferior) dan berimbas pada aktivitas pendidikan yang ditanganinya.

Demikian beberapa dampak dari dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam. Selain yang disebutkan di atas tentu masih banyak lagi yang bisa ditimbulkan, yang pada intinya berujung pada kemandegan pendidikan Islam. Inilah kenapa paradigma umat, khususnya masyarakat akademik, perlu dibangun kembali untuk lebih terbuka pada modernitas tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang agung.
Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa peralihan status IAIN menjadi UIN bukanlah perubahan yang bersifat fisik saja (kelembagaan) melainkan juga mengemban amanah besar pendidikan Islam untuk bisa menyentuh segala aspek kehidupan mayarakat dan mampu bersaing di kancah internasional. Itulah harapan besarnya. Maka dari itu, transformasi kelembagaan ini juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas para civitas akademika.
Berbicara integrasi keilmuan dalam pendidikan Islam, tidak lepas dari sumber pokok ajaran Islam sendiri, yakni Al Qur’an dan Hadits. Dengan berpegang teguh pada dua pedoman ini dengan jelas diterangkan bahwa kebahagiaan dunia akhirat akan tercapai. Maka dengan demikian, mengapa kita tidak terpikir bahwa apa yang dibutuhkan dalam kehidupan ini juga tersimpan dalam AL Quran dan Hadits. Inilah mungkin salah satu cara berpikir kita yang sempit. Singkatnya, umat Islam hanya butuh untuk mengkajinya dengan upaya yang maksimal dan sungguh-sungguh.
Al Qur’an dan Hadits yang bersifat universal selalu menghindari hal-hal yang bersifat teknis. Hal ini karena apa saja yang berada pada kawasan teknis selalu bersifat temporal dan kondisional, kecuali hal-hal tertentu yang memang bisa berlaku secara konstan di mana pun dan padda masa kapan pun.[6]Maka dengan demikian, umat Islam seharusnya mulai membuka mata dengan segala daya yang telah dianugerahkan guna mengkaji dan menggali ilmu-ilmu yang tersimpan dalam dua petunjuk suci ini. Inilah yang disebut dengan ayat-ayat qauliyah.
Adapun ayat-ayat kauniyah yang dikenal  juga dengan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pengamatan, observasi atau penelitian, maka ia menjadi bahan yang dapat membantu menjelaskakan dan mengembangkan keilmuan.
Beberapa UIN yang terdapat di Indonesia telah memiliki ciri khas masing-masing dalam integrasi dan mengembangkan pendidikan Islam. Untuk mengatasi hal tersebut di atas tampak bahwa UIN Jakarta, Yogyakarta, dan Malang telah berupaya melakukan integrasi keilmuan dengan cara dan pola yang menggambarkan kekhasan paradigma yang mewakili pergulatan pemikiran di dalamnya. Hal ini tentunya bagian dari upaya mengakhiri dikotomi keilmuan yang tidak selaras dengan misi Islam sebagai agama yang menebarkan kehidupan Rahmatan lilalamin.
Dengan adanya otonomi yang diberikan pemerintah, kesemua UIN di Indonesia mendapat mandat agar proses pendidikannya menerapkan integrasi keilmuan dengan pola dan modelnya masing-masing. Dalam hal ini UIN Sunan Kalijaga menawarkan bangun keilmuan model jaring-jaring keilmuan. Symbol ini menunjukkan integrasi keilmuan teoantroposentrik-integralistik.
Apa yang dicanangkan oleh M. Amin Abdullah dalam bukunya Islamic Studies merupakan program dari penyatuan kembali antara ilmu pengetahuan dengan ajaran agama. Seperti yang dikutip dalam bukunya, bahwa “agama mengklaim sebagai sumber kebenaran, etika, hukum, kebijaksanaan, dan sedikit pengetahuan. Agama tidak pernah menjadikan wahyu tuhan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Menurut pandangan ini, sumber pengetahuan ada dua macam, yaitu pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan pengetahuan yang berasal dari manusia. Perpaduan antara keduanya disebut teoantroposentris”.[7]
Dari gambar di atas dapat dilihat bagaimana model integrasi yang dibangun di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Masyarakat akdemik dibangun kesadaran epistemologinya untuk bisa mensejajarkann ilmu Islam dengan ilmu pengetahuan tanpa ada sekat. Keduaya harus berjalan bersama tanpa ada pertentangan satu sama lain. Sebagaimana juga ditulis oleh Amin Abdullah bahwa ini merupakan keilmuan yang integratif-interkoneksif yakni ilmuu agama maupun umum adalah saling berkaitan.
Lain di UIN Sunan Kalijaga yang melambangkan jaring  laba-laba dalam visualisasi integrasi keilmuan, maka lain pula yang digunakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di kampus yang mengganti satusnya dari STAIN menjadi UIN ini menjadikan pohon sebagai lambang integrasi keilmuan yang dikembangkan di sana.
http://saintek.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Pohon-UIN-Malang.jpg
Sebagaimana terlihat gambar di atas, pohon ilmu tersebut merupakan buah dari pemikiran rektor yang menjabat saat itu, Imam Suprayogo. Pohon merupakan tamsil yang cocok menurutnya untuk menggambarkan lebih jelas hubungan agama dan ilmu.
Lebih jauh lagi beliau menjelaskan bahwa ibarat sebuah pohon, maka tentu ia memiliki akar, batang, daun, dahan, ranting dan buah. Pohon yang memiliki akar yang kuat menghujam ke bumi tidak akan mudah terombang-ambing bahkan tidak roboh diterjang angin sekencang apapun. Pohon yang kuat akan melahirkan buah yang segar.
Dalam perspektif kurikulum, akar yang menghujam ke bumi digunakan sebagai tamsil sejumlah ilmu atau keterampilan yang harus dikuasai oleh mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi Islam. Beberapa ilmu dan keterampilan yang dimaksud adalah (1) bahasa Asing (Arab dan Inggris), (2) Filsafat, (3) Ilmu alam, dan (4) ilmu sosial. Bahasa Arab dianggap penting agar mahasiswa mampu memahami Al Qur’an, hadits Nabi, maupun kitab-kitab yang berisi ajaran Islam dalam bahasa Arab lainnya. Ilmu alam dan ilmu sosial juga dipandang penting dikuasai dan digunakan sebagai alat bantu untuk memahami ajaran Islam. Sebab, Al Qur’an maupun Hadits banyak  memberikan gambaran atau sinyal tentang dunia, alam semesta, maupun sosial.[8]
Selanjutnya, apabila empat bidang ilmu tersebut dapat dikuasai secara baik oleh mahasiswa, maka yang bersagkutan sangat dimungkinkan bisa memahami ajaran Islam, yakni (1) AL Qur’an, (2) As-Sunnah, (3) Sirah Nabawiyah, (4) pemikiran Islam dan (5) masyarakat Islam. Beberapa ilmu ini dapat digambarkan sebagai sebuah batang dari poho yang kokoh dan rindang. Batang dan akar tersebut menggambarkan ilmu agama, yang menurut AL Ghazali fardu ‘ain menuntutnya. Demikian juga, hal itu harus dikuasai dan dipelajari oleh seluruh mahasiswa universitas Islam, apapun jurusannya. Sedangkan dahan, ranting dan daun menggambarkan jenis fakkultas/jurusan yang dipilih.  Oleh karena itu, mahasiswa akan mengambil secara berbeda. Hal ini jika memimjam istilah Al Ghazali adalah yang dikategorikan dengan fardu kifayah.[9]
Adapun buah yang segar menggambarkan iman dan amal shalih. Buah segar tersebut hanya akan muncul dari pohon yang memiliki akar yang kuat yang menghujam ke bumi, batang, dahan, dan daun yang lebat secara utuh. Buah yang segar tidak akan muncul dari akar dan pohon yang tidak memiliki dahan, ranting dan daun yang lebat. Demikian pula buah yang segar tidak akan muncul dari pohon yang hanya memiliki dahan, ranting da daun tanpa batang dan akar yang kokoh. Sebagai pohon yang diharapkan melahirkan buah yang segar, harus secara sempurna terdiri dari akar, batang, dahan, ranting dan daun yang sehat dan segar pula. Tanpa itu semua mustahil pohon tersebut melahirkan buah. Demikian pula ilmu yang tidak utuh, yang hanya sepotong-sepotong akan bagaikan sebuah pohon yang tidak sempurna. Ia tidak akan melahirkan buah yang diharapkan yakni iman dan amal shalih.[10] Inilah penjelasan rinci tentang pohon ilmu yang menjadi cirri khas integrasi keilmuan yang ada di UIN Maulana Malij Ibrahim Malang.
Adapun UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, meskipun tidak mengekspresikan pola integrasinya dalam bentuk visualisasi/simbolisasi tertentu, menawarkan bentuk integralisme yang lebih praktis pragmatis.[11]UIN yang pertama kali ada ini di Indonesia, sudah menerapkan integrasi keilmuannya meski tanpa adanya symbol sebagaimana yang lainnya.
Cita-cita yang ditargetkan kampus-kampus UIN di Indonesia memang sangat besar. Maka dengan adanya integrasi ini, setiap kampus bisa membuka fakultas umum yang nantinya bernafaskan Islam. Dengan demikian diharapkan UIN bisa membawa pendidikan Islam pada peradaban yang maju.
Seiiring perkembangan zaman, perubahan-perubahan dalam masyarakat muslim Indonesia yang terjadi tidak hanya pada tingkat intelektual atau pemikiran, tetapi juga pada tingkat kelembagaan ssebagaiman dijelaskan. Perubahan pada kedua aspek ini berkaitan erat satu sama lain, dan karena itu, perubahan pada tingkat kelembagaan Islam di kawasan ini pada dasarnya sekaligus merupakan pengejewantahan atau aktualisasi dari perubahan dan perkembangan yang terjadi pada tingkat pemikiran.[12]
Dengan kata lain, yang terjadi dalam proses pengembangan IAIN ke UIN menunjukkan adanya proses dinamika pemikiran Islam di Indonesia yang juga tidak pernah terkelupas dari perkembangan sosial politik yang mendasarinya.[13]Apa yang dicapai dan berkembang saat ini dalam pendidikan Islam merupakan hasil dari perjalanan panjang berbagai aspek yang mewarnai sejarah Islam khususnya yang ada di Indonesia.
Oleh sebab itu, integrasi keilmuan ini diharapkan bisa membawa pada pemahaman yang lebih universal. Ilmu-ilmu dikaji dan digali dengan penuh semangat bahwa ia juga merupakan perintah Tuhan yang tertulis dalam kitab-Nya. Sebab sebagaimana diketahui, banyak sekali ayat yang mengajak umat Islam untuk berpikir tentang ciptaan-Nya dan mencermati apa yang terjadi di langit dan di bumi.
Pandangan ini juga dapat diwakili oleh pendapat Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind : science without religion is lame“. Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh.

Pesantren dan Kampus Harus Saling Melengkapi
            Sebagaiman diketahui bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang paling tua. Namun demikian, justru keberadaannya merupakan salah satu lembaga yang berperan besar dalam membentuk karakter  bangsa ini. Ada ungkapan bahwa pesantren adalah miniatur masyarakat. Artinya, di lembaga Islam ini santri tidak hanya belajar ilmu-ilmu Islam, namun juga bagaimana menerapkannya dalam keseharian yang mendapat bimbingan langsung dari pengasuh sekaligus juga sebagai figure yang patut diteladani. Inilah kelebihan pesantren yang dapat dicontoh dalam menanamkan nilai-nilai Islam, khususnya keagungan akhlak yang biasa memnjadi cirri khasnya.
            Pendidikan Islam meski sudah menunjukkan geliatnya untuk bangkit dan maju, tentu masih butuh keberanian berpikir yang matang dan proses yang munkin tidak semudah yang dituliskan dalam berbagai wacana pembaharuan. Untuk itu,  perlu mengenal apa kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh pendidikan Islam saat ini, sehingga bisa membantu lebih tepat sasaran dan efesian dalam pengaplikasiannya.
            Menurut Malik Fadjar, masalah mendasar yang muncul dalam pendidikan Islam adalah bagaimana orientasi kembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada sekarang ini, baik yang berbentuk pondok pesantren, madrasah, maupun sekolah dan perguruan tinggi. Menurutnya, harus diakui bahwa apa yang selama ini menjadi cita-cita ideal lembaga pendidikan Islam maih angat abstrak umum. Akibatnya yang muncul (operasionalnya) juga kurang mencerminkan kejelasan atau mungkin Nampak ‘semu’.[14] Menurut hemat penulis, hal ini yakni cita-cita yang melangit dan tidak jelas dalam tataran operasionalnya merupakan ceriminan dari masih minimnya konsep pendidikan Islam yang lebih bersifat responsif.
             Selanjutnya ada beberapa tawaran alternative dalam memecahkan masalah yang dihadapi pendidikan Islam sebagaimana digambarkan di atas. Untuk itu perlu diadakan konsep pendekatan:[15]
1.      Macrocosmis (tinjauan makro), yakni pendidikan dianalisis dalam hubungannya karangka sosial yang lebih luas.
2.      Microcosmis (tinjauan mikro), yakni pendidikan dianalisis sebagai satu kesatuan unit yang hidup dimana terdapat nteraksi di dalam dirinya sendiri.
Dua pendekatan ini saling melengkapi terutama di tengah-tengah masyarakat yang semakin terbuka dan kompleks yang melahirkan interaksi dengan berbagai aspek kehidupan seperti sekarang ini. Apa yang ditawarkan oleh Prof. H.A. Mukti Ali sewaktu menjabat sebagai menteri Agama dengan madrasah SKB Tiga Menteri, perbaikan metodologi di IAIN dan memasukkan jenis-jenis ilmu pengetahuan umum serta keterampilan di lingkungan pondok pesantren, pada dasrnya adalah merupakan pemecahan dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pendidikan Islam dengan konsep pendekatan di atas. Sayangnya, ide ini kurang berjalan lancar dan kurang ipahami secara utuh, sehingga penerapannya menjadi setengah-setengah. Sedangkan persoalan semakin kompleks seiring dengan laju proses pembangunan dan modernisasi.[16]
Jika diteliti lbih jauh lagi, persoalan pendidikan memang akan terus ada seiring perkembangan zaman. Apalagi modernisasi menunjukkan kemajuan yang sangat cepat. Maka seharusnya pendidikan Islam juga bertindak cepat dan penuh perhitungan.
Kembali pada persoalan pesantren yang memiliki beberapa kelebihan dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai agama, maka ini bisa diadopsi oleh kampus khususnya yang notabene kampus Islam seperti UIN. Sebaliknya, kampus sebagai pusat studi yang lebih bersifat ilmiah harus meningkatkan perannya sebagai agent of change dan sejenisnya.
Dalam hal ini sebagaimana yang dilakukan UIN Maulana  Malik Ibrahim yang memadukan sistem pesantren dan universitas dengan adanya asrama. sistem ini memberi banyak manfaat  bagi mahasiswa dan bahkan kampus itu sendiri dalam menjalankan program pendidikannya.
Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Barizi bahwa sistem pendidikan asrama ini merupakan sesuatu yang urgen diterapkan mengingat mahasiswa adalah sub-sistem dari kehidupan kampus serta aset yang sangat berharga bagi kelangsungan nilai dan sistem pendidikan perguruan tinggi di masa depan. Mahasiswa adalah pilar penyanggah perjuangan generasi ke generasi dimana peran sosialnya dalam sejarah dituntut untuk bisa mencerminkan yang baik dalam sisi intelektual, spiritual dan bahkan emosionalnya.[17]Dengan sistem asrama ini bisa menanamkan dan menjaga nilai-nilai agama. Dengan demikian mahasiswa tidak akan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas dan terkikis oleh arus modernitas yang banyak menawarkan sekularisme.
Maka pesan Ali bin Abi Thalib r.a bisa menjadi tolak ukur dalam hal ini; “Didiklah anak-anak kalian dengan hal-hal yang tidak seperti yang telah kalian pelajari/ajarkan. Sesungguhnya mereka itu diciptakan dalam zaman yang berlainan dengan zaman kalian diciptakan”.
Pesan di atas juga menyampaikan bahwa seharusnya pendidikan berpikir dan melihat jauh ke depan dengan menyiapakan generasi yang siap dan mampu menjalani kehidupannya dengan baik. Selain manfaat di atas, dengan adanya sistem asrama juga bisa membantu mengembangkan keilmuan secara bersama dengan mahasiswa lainnya. Secara tidak langsung diskusi, kegiatan dan kajian-kajian keilmuan akan bisa terbentuk dengan sendirinya karena tempat yang dihuni bersama memungkinkan untuk melakukan hal-hal tersebut.
Dalam sebuah kesempatan kuliah umum Filsafat Islam yang penulis ikuti, Amin Abdullah yang saat itu sebagai dosen tamu menyampaikan bahwa pendidikan pesantren memiliki kajian kitab-kitab Islam yang bagus. Hanya saja mereka lebih menekankan pada aspek bayani dan irfani dan kurang dalam mengembangkan sisi burhani. Inilah yang menjadi kekurangan pesantren sehingga yang terjadi adalah ketakutan ketika dihadapkan pada pemikiran yang sedikit keluar dari ‘garis Islam’ dalam pandangan mereka.
Dalam filsafat Islam terdapat tiga cabang epistimologi yang dapat dijadikan kerangka anlisis dalam pemikiran Islam, yakni apa yang disebut oleh Mohammad Abid al Jabiri dengan epistemology bayani, irfani dan burhani. Menurut Al JAbiri, corak epistemology bayani didukung oleh pola pikir fikih dan kalam. Dalam tradisi keilmuan agama islam di IAIN dan STAIN, begitu juga pengajaran agama Islam di  perguruan tinggi umum dan lebih-lebih di pesantren-pesantren, corak pemikiran bayani sangatlah mendominasi dan bersifat hegemonic dan sulit berdialog dengan dengan tradisi epistemologi irfani dan bayani.[18]
Kelemahan yang mencolok dari tradisi nalar pistemologi bayani atau tradisi berpikir tekstual keagamaan dalam berhadapan dengan komunitas lain agama, corak argument model ini biasanya mengambil sikap mental yang bersifat dogmatic, defensive, apologis dan polemis dengan semboyan kurang lebih “right or wrong my country”. Sedangkan pola epitemologi irfaani lebih bersumber pada intuisi dan bukannya teks. Karena itu, kajian-kajian abru dan serius tentang kerangka berpikir irfani perlu terus menerus dikaji dan digali ulang agar dapat dipahami secra praktis fungsional. Selanjutnya yang terakhir yakni epistemology burhany. Ibnu Rusyd sebagai tokoh filosof muslim klasik telah menyebut-nyebut jenis epistemology ini. Namun corak hegemoni bayani menjadikan burhani dan irfani  tersingkir dari panggung sejarah pemikiran keislaman.[19]Bayani, irfani dan burhani merupakan warisan khazanah keilmuan Islam yang harus dijaga dan dikembangkan.
Jika sumber keilmuan dari corak epistemology bayani adalah teks, sedang irfani adalah direct experience, maka epistemologi burhani adalah bersumber pada realitas atau al waqi’ baik realitas alam, sosial, humanitas maupun keagamaan. Ilmu-ilmu yang muncul dari tradisi burhani ini disebut sebagai al ‘ilmu al husuli, yakni ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematikan lewat premis-premis logika atau al mantiq, dan bukannya lewat otoritas teks atau salaf dan bukan pula lewat otoritas intuisi.[20]
Tiga dimensi epistemology Islam inilah yang harus diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam, di perguruan tinggi khususnya. Terutama dalam aspek burhani, maka perlu lebih lagi dioptimalkan dan harus ada di kampus agar paradigm berpikir mahasiswa lebih aktif dalam merespon fenomena kehidupan. Adapun burhani dalam lingkungan pesantren sangat jarang dilakukan.
Perpaduan sistem pesantren atau ma’had dengan tradisi kampus akan membentuk pendidikan Islam yang lebih baik untuk menyongsong peradaban Islam yang lebih maju. Sebagaimana sering juga disampaikan baik dalam tulisan maupun seminar oleh Prof. Imam Suprayogo bahwa “jadilah ulama yang intelek atau intelek yang ulama”.

Menjadikan Pendidikan Islam yang Unggul
            Akankah UIN bisa menjadi pelopor kebangkitan pendidikan Islam di Indonesia? Dari penjelasan di atas, dari berubahnya status STAIN, IAIN menjadi UIN dari segi kelembagaan dan adanya semangat integrasi ilmu yang diprogramkan setiap kampus, maka tidak menutup kekmungkinan jika semangat dan motivasi ini tetap ada akan bisa membuka kembali kejayaan pendidikan Islam. Dengan adanya transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi UIN, kesan dikotomi yang dianggap sebagai salah satu kemandegan Islam akan dapat dihapus dengan adanya paradigm berpikir masyarakkat akademik yang lebih terbuka dan integratif.
Dinamika pemikiran Islam tentu menjadi warna tersendiri bagi bangkitnya pendidikan Islam di Indonesia.  Namun ada sebagian kalangan yang merasa khawatir dengan perubahan status IAIN menjadi UIN. Mereka takut apabila nantinya nilai-nilai Islam semakin pudar dengan adanya semangat yang berkobar untuk mengkaji ilmu-ilmu umum dengan integrasinya dengan agama. Hal ini tentu jangan membuat civitas akademika berhenti melangkah. Namun dengan adanya pendidikan terpadu antara pesantren dan kampus, semestinya kekhawatiran ini dapat dihilangkan. maka ilmu yang diperolehya pun akan ia gunakan untuk kemanfaatan umat, rahmatan lil alamin.
Sebelum melihat lebih jauh pendidikan kita, ada sebuah penelitian terbaru yakni pada tahun 2006 yang dilakukan UNESCO yang sangat menarik bahwa pertumbuhan ekonomi dengan rata-rata pendidikan penduduk ada korelasi yang sangat tinggi. Artinya, secara stabil jika tinkat pendidikan penduduknya tinggi, maka income perkapitanya naik lagi, maka grafik akan naik tajam. Tetapi fenomena di Indonesia cukup menarik. Grafiknya naik, namun naiknya di bawa dan hampir rata. Berbeda dengan yang terjadi di Malaysia dan Singapura. Keadaan ini diasumsikan karena mutu pendidikan kita masih lemah sehingga kurang mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.[21]
Oleh karena itu, maka mutu pendidikan Islam haruslah diprebaiki sehingga ia punya dampak yang  bagus pula bagi kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian pendidikan Islam yang telah dibangun bisa menjalankan perannya dengan baik sebagai rahmatan lil alamin.
UIN setelah mendapatkan statusnya yang baru sebagai cermin adanya perubahan konsep pendidikan Islam integratif, maka adalah menjadi masyarakat kampus tersebut untuk membanun kualitasnya. Di antara cirri pendidikan yang berkualitas adalah pada penggunaan advance infrastructrure, yaitu dengan tenaga pengajar dan proses belajar yang berkualitas. Sehingga pendidikan mampu memfasilitasi peserta didik/mahasiswa untuk mencapai high level thingking . high level thingking yakni kemampuan berpikir tingkat tinggi yang kompleks dan rumit, yaitu kemampuan penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.[22]
Dalam konteks menejemen kualitas, quality adalah goodness of product. Produk yang bagus biasanya akan berimplikasi pada harga. Dengan demikian pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dapat memenuhi harapan atau keinginan customer (pemakai atau pelangan). Customer ini meliputi internal yakni dosen dan karyawan dan eksternal meliputi mahasiswa, orang tua, penyandang dana, pemerintah dan stakeholder lainnya.[23]Pendidikan Islam ini maka seharusnya bisa memenuhi permintaan stakeholder-nya untuk mendapat kepercayaan yang lebih baik.
Imam Suprayogo dalam memandang masa depan UIN, khususnya UIN MAulana Malik Ibrahim Malang, ia dengan tegas dan yakin menjawab bahwa kampus ini bisa menjadi sebagai pengubah. Mengapa? (1) keyakinannya sebagai seorang Islam, (2) posisinya sebagai seorang praktisi (3) dan predikat sebagai seorang ilmuan.[24] Jawaban ini menunjukkan adanya sikap optimis. Sebab jika semua alat/kebutuhan untuk maju sudah tersedia, maka hahnya tinggal individunya untuk menjalankannya. Akan berbeda lagi jika sikap pesimis dan kurang percaya diri tetap ada pada pendidikan Islam. Maka yang terjadi adalah ketakutan dalam mengambil langkah yang besar untuk tujuan yang besar pula.
Bidang apa yang harus digarap? Tentu saja fakultas-fakultas yang sudah ada di UIN dan konsep yang sudah matang yang perlu diolah dan dilaksanakan. Ini adalah kekuatan besar yang dimiliki untuk  maju. Lalu kenapa terkadang merasa tidak mampu melakukan apa-apa untuk kehidupan ini? Dalam hal ini Imam Suprayogo menjelaskan bahwa hal penting yang harus diyakini bahwa persoalan yang ada di sekitar kita terlalu besar, adalah betul. Tetapi, perasaan bahwa kita terlalu kecil adalah awal dari kegagalan kita.[25]
Cara pandang akan menentukan langkah kita. Karena itu, jika ingin pendidikan Islam ini maju maka mulailah dari diri sendiri dan optimis dalam melangkah. Selain itu semangat Qur’ani juga harus menjadi motivasi untuk terus mengembangkan keilmuan. Sebagaimana ayat QS. Ali Imran: 191
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."  (3: 191)
Membangun sains dengan paradigm agama sebagaiman dijelaskan sebelumnya akan menghapus dikotomi keilmuan yang melekat selama ini. Agama dan sains tidak ada pertentangan. Masalahnya adalah ketika sains itu akan diaplikasikan, maka kita akan berfikir tetang norma dan nilai yang akan dikembangkan. Missal, teknologi nuklir itu tidak ada pertentangan Islam. Namun, ketika akan diaplikasikan, maka akan timbul perrtanyaan untuk apa teknologi nuklir itu? Jika untuk berperang, membunuh dan menghancurkan orang lain, tentu saja dalam Islam hal ini dilarang karena bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, apabila tegnologi nuklir itu untuk kemaslahatan seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, maka akan menjadi amal shaleh.[26] Inilah yang kemudian meenunjukkan Islam sebagai rahmatan lilalamin.
Sebagaimana pula keterikatan anatara iman, Islam dan ihsan, agama akan menuntun pada kebenaran dengan bekal ilmu yang dimiliknya.
الَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
            Artinya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25).
            Telah banyak perubahan pemikiran dan kelembagan dalam pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia sebagaimana dijelaskan di muka. Didukung juga kebijakan pemerintah yang semakin membuka peran kampus dalam mencetak generasi yang unggul, maka seharusnya hal ini merupakan modal yang sangat kuat untuk kebangkitan pendidikan Islam di Indonesia ini.

Penutup
Ulasan-ulasan singkat dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dalam mencapai kemajuannya. Namun, dengan perubahan status STAIN/IAIN menjadi UIN memberikan angin segar bagi tumbuhnya pendidikan Islam yang utuh, holistik, integratif dan responsive dengan era modern ini.
Dikotomi ilmu yang ada sejak dulu yang menyebabkan mandegnya keilmuan Islam akan teratasi dengan konsep integrasi keilmuan yang ditawarkan oleh masing-masing UIN. Seperti pohon ilmu yang ada di UIN Maulana Msllik Ibrahim Malang dan Jaring laba-laba yang ada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Selain itu, perpaduan sistem pendidikan pesantren (asrama) dengan kampus akan memberi banyak manfaat dalam transformasi dan internalisasi nilai-nilai serta keilmuan Islam kepada mahasiswa. Maka perlu penulis kutip kembali pendapat Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind : science without religion is lame“. Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh.
Sebagaimana ditulis  Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam makalah untuk Public Lecture di ICAS (Jakarta 15 Maret 2013) bahwa capaian-capaian yang telah diraih umat Islam Indonesia dalam seratus tahun belakangan ini memiliki makna penting bagi masa depan bangsa dan negara, dan karena itu harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Beliau memperkirakan bahwa sebagian besar perkembangan ini akan terus berlanjut di dalam abad-abad mendatang. Setidaknya, pertumbuhan dan perkembangan itu menjadi modal berharga untuk menatap masa depan yang lebih baik ketimbang di masa-masa silam.[27]
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa umat Islam Indonesia mestilah banyak bersyukur atas semua pencapaian itu. Memang masih banyak ‘PR’ yang harus dikerjakan, tetapi itu seharusnya tidak membuat umat Islam tetap memiliki ‘mentalitas terkepung’ (under siege mentality) atau ‘mentalitas pecundang’ (losers’ mentality), yang dapat membuat orang mudah mengamuk. Harus ada sikap optimism untuk kebangkitan Islam. Semua sarana sudah tersedia, dan kitalah yang memilih untuk memanfaatkannya atau tidak.
Adalah hal yang patut disyukuri dengan perubahan-perubahan ke arah yang baik dalam sistem dan konsep pendidikan Islam kita. Dengan rasa syukur, umat dapat terus meningkatkan pencapaiannya menuju renaisans pendidikan Islam Indonesia yang jaya untuk masa-masa selanjutnya.
Maka dengan demikian, melihat perkembangan pemikiran Islam dan kelembagaan yang mulai terbuka dengan kemajuan dunia modern saat ini, apabila terus dipertahankan dan ditingkatkan apa yang telah direncanakan dan dikonsepkan dalam UIN, maka di masa yang akan  datang besar kemungkinan akan banyak bermunculan ulama yang intelek atau intelek yang ulama sebagaimana diinginkan Prof. Imam Suprayogo.































Daftar Pustaka
Abdullah, M. Amin.  2010. Islamic Studies di Pergruruan Tinggi; pendekatan Integratif-interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Abdullah, M. Amin. 2008. Pendidikan dan Upaya Mencerdaskan Bangsa; KEbijakan Pendidikan Islam di Indonesia Dari Dakwah ke Akademik. Jakarta: IIEP.
Ali, Bahrul Hayat & Mohammad. 2012. Khazanah dan Praksis PEndidikan Islam di Indonesia. Pustaka Cendekia Utama.
Barizi, Ahmad. 2011. Pendidikan Intgratif; Akar Tradisi dan Integrasi Pendidikan Islam. Malang: UIN Maliki Press.
Fadjar, A. Malik. 2009. Pergumulan Pemikiran Pendidikan Tinggi Islam. Malang: UMMPress.
Maunah, Binti. 2009. Tradisi Intelektual Santri; Dalam Tantangan dan Hambatan Pendidikan Pesantren di Masa Depan. Yogyakarta: Teras.
Praja.  Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam
Saridjo, Marwan. 2011. Pendidikan Islam Dari Masa Ke Masa; TInjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia. Bogor: Yayasan Ngali dan al Manar Press.
Suprayogo, Imam. 2004. Pendidikan Berparadigma Al Qur’an; Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islalm. Malang: UIN Malliki Press.
Zainuddin, M. 2008. Paradigma PEndidikan Terpadu, MEnyiapkan Generasi Ulul ALbab. Malang: UIN-Maliki Press.


Sumber internet:
http://academia.edu/, diakses 8 Mei 2014.




[1] Marwan Saridjo, Pendidikan Islam Dari Masa Ke Masa; TInjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia (Bogor: Yayasan Ngali dan al Manar Press, 2011) hlm. 199
[2] Amin Abdullah, PEndidikan dan Upaya MEncerdaskan Bangsa; KEbijakan Pendidikan Islam di Indonesia Dari Dakwah ke Akademik (Jakarta: IIEP, 2008) hlm. 52-54
[3] Ibid. hlm. 53
[4] M. Zainuddin, Paradigma PEndidikan Terpadu, MEnyiapkan Generasi Ulul ALbab (Malang: UIN-Malang Press, 2008) hlm. 30
[5] Ibid. hlm. 31
[6] Ibid.  hlm. 162
[7] M. Amin Abdullah,  Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif  (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2012)
[8] Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al Qur’an; Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islalm (Malang: UIN Malang Press, 2004), hlm. 50
[9] Ibid. 51
[10] Ibid.
[11] http://academia.edu/, diakses 8 Juni 2014.
[13] Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam, 135.
[14] A. Malik Fadjar, Pergumulan Pemikiran Pendidikan Tinggi Islam (Malang: UMMPress, 2009) hlm. 58
[15] Ibid. 59
[16] Ibid.
[17] Ahmad Barizi, Pendidikan Intgratif; Akar Tradisi dan Integrasi Pendidikan Islam (Malang: UIN Maliki Press, 2011) hlm. 92
[18]M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Pergruruan Tinggi; pendekatan Integratif-interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) hlm. 202
[19] Ibid. 212
[20] Ibid. 213
[21] Bahrul Hayat & Mohammad Ali, Khazanah dan Praksis PEndidikan Islam di Indonesia. Pustaka Cendekia Utama, 2012) hlm. 81
[22] Ibid. 85
[23] Ibid.
[24] Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma AL QUr’an; PErgulatan membangun Tradisi dan Aksi PEndidikan Islam (Malang: UIN Maliki press, 2004) hlm. 109
[25] Ibid.
[26] Bahrul Hayat & Mohammad Ali, Khazanah dan Praksis PEndidikan Islam di Indonesia (Pustaka Cendekia Utama, 2012)Hlm. 30

No comments:

Post a Comment