Thursday, July 10, 2014

POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE RASULULLAH DI MEKKAH DAN MADINAH

Mahasiswa PascaSarjana UIN Maliki Batu
Juli, 2014
Oleh: Subur Wijaya
A.    PENDAHULUAN
Rasulullah SAW, sebagai suri teladan dan rahmatan lil’alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah (al-ahzab:21) adalah pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan Islam. Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spiritualisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan sebagai mukjizat yang luar biasa, yang manusia apa dan dimana pun tidak dapat melakukan hal yang sama.
Hasil pendidikan Islam pada periode Rasulullah terlihat daari kemampuan murid-muridnya (para sahabat) yang luar biasa, misalnya: Umar Ibn Khotob ahli hokum dan pemerintahan, Abu Hurairah ahli hadits, Salman al-Farisi ahli perbandingan Agama: Majusi, Yahudi, Nasrani dan Islam; dan Ali ibn Abi Thalib ahli hokum dan tafsir al-Qur’an, kemudian murid dari para sahabat dikemudian hari, tabi-tabiiin, banyak yang ahli dalam berbagai bidang ilmu sains, teknologi, astronomi, filsafat yang mengantar Islam ke pintu gerbang zaman keemasan. Hanya periode Rasulullah, fase Makkah dan Madinah, para aktivis pendidikan dapat menyerap berbagai teori dan prinsip dasar yang berkaitan dengan pola-pola pendidikan dan interaksi social yang lazim dilaksanakan dalam setiap manajemen pendidikan Islam.
Gambaran dan pola pendidikan Islam di periode Rasulullah SAW, di Mekkah dan Madinah adalah sejarah masa lalu yang perlu kita ungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber gagasan, gambaran strategi menyukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam. Pola pendidikan Islam di masa Rasulullah SAW, tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidikan, peserta didik, lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoritis maupun praktis.





B.     SOSIOKULTURAL MASYARAKAT MEKKAH DAN MADINAH
Kondisi sosiokultural masyarakat Islam pra-Islam.[1] Terutama pada masyarakat Mekkah dan Madinah sangat memengaruhi pola pendidikan periode Rasulullah di Mekkah dan Madinah. Secara kualitas orang-prang yang masuk Islam pada fase Mekkah lebih sedikit daripada orang-orang yang masuk Islam pada fase Madinah. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat Madinah lebih mudah dimasuki ajaran Islam karena saat kondisi masyarakat, Aus dan Khazraj khususnya,sangat membutuhkan seorang pemimpin, untuk melenturkan pertikaian sesama mereka dan sebagai “pelindung” dari ancaman kaum Yahudi, disamping sifat penduduknya yang lebih ramah yang dilatarbelakangi factor geografis yang lebih aman, nyaman dan subur. Pemakalah mencoba mengungkapkan pola pendidikan Islam periode Rasulullah yang dapat dibedakan menjadi dua fase, yaitu (1) fase Mekkah; dan (2) fase Madinah.
1.        Fase Mekkah
Allah Maha Bijaksana, sebagai calon panutan  umat manusia, Muhammad ibn Abdullah sejak “awal sekali” telah disiapkan Allah, dengan menjaganyadari sikap-sikap jahiliah.[2] Dengan akhlaknya yang terpuji, syarat dengan nilai-nilai humanism dan spiritualisme ditengah-tengah umat yang hamper saja tidak berperikemanusiaan. Muhammad ibn Abdullah masih sempat mendapat gelar penghargaan tertinggi, yaitu al-Amiin.[3] Ibn Abullah, seorang yang teguh mempertahankan tradisi Nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki, menjauhkan diri dari keramaian dan hedonisme dengan berkontemplasi (ber-tahannus) di Gua Hira. Pada tanggal 17 Ramadhan turunlah wahyu yang pertama, surat al-Alaq ayat 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Mekkah.
a.     Tahapan Pendidikan Islam Pada Fase Mekkah
Pola pendidikan yang dilakukan ole Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahappan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini pemakalah akan membaginya menjadi tiga tahap.
1)     Tahap Pendidikan Islam Secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation) al-Qur’an surat 96 ayat 5, pola pendidikan yang dilakukan adalah dengan cara sembunyi-sembunyi. Mengingat keadaan social politik yang belum stabil, dimulai dari istrinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya untuk beriman dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali bin Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya dan kemudian dijadikan anak angkatnya). Kemudian  sahabat karibnya Abu Bakar Shidiq. Secara berangsur-angsur ajaran tersebut disampaikan secara meluas tetapi masih dalam batas di kalangan keluarga dekatdari suku Quraisy saja, seperti Usman ibn Affan, Zubair ibn Awwan, Sa’ad ibn Abi Waqas, Abdurrahman ibn Auf, Thalhah ibn Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jahrah, Arqam ibn Arqam, Fatimah binti Khatab, Said ibn Zaid, dan beberapa orang lainnya, mereka semua tahap awal ini disebut Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah ruma Arqam bin Arqam.[4] 
2)     Tahap Pendidikan Islam Secara Terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan.[5] Ketika wahyu tersebut turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul di bukit shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap adzab yang akan datang dikemudian hari
(hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab oleh Abu Lahab, Celakalah kau Muhammad! Untuk inikah kami dikumpulkan? Saat itu turun wahyu yang menjelaskan Abu Lahab dan Istrinya.[6]
3)     Tahap Pendidikan Islam untuk Umum
Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal sesuai apa yang diharapkan. Maka, Rasulullah mengubah strategi dakwahnyadari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “Internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah, surat al-Hijr ayat 94-95. Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut pada musim haji Rasulullah mendatangi kemah-kemah para jama’ah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali sekelompok jama’ah haji dari Yastrib, kabilah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar ke luar Makkah.
Penerimaan masyarakat Yastrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenakan beberapa faaktor: (1) adanya kabar dari orang Yahudi akan lahirnya seorang Rosul; (2) suku Aus dan Khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi; (3) konflik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pemimpin yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Berikutnya, di musim haji pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad SAW, Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan, yang dikenal dengan “Bai’ah al-Aqabah I”  mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah SWT, tidak akan mencuri dan berzina; tidak akan membunuh anak-anak, dan menjauhkan perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dalam yang benar, dan tidak mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.
Berkat semangat yang tinggi yang dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, sehingga seluruh penduduk Yastrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi. Musim haji berikutnya 73 orang jamaah haji dari Yastrib mendatangi Rasulullah SAW, dan menetapkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya ditempat yang sama dengan pelaksanaan “Bai’ah al-Aqabah I”  tahun lalu, yang dikenal dengan “Bai’ah al-Aqabah Ii”  dan mereka bersepakat akan memboyong Rasulullah ke Yastrib.
b.     Materi Pendidikan Islam
Materi pendidikan pada fase Mekkah dapat dibagi kepada dua bagian yaitu:
Pertama, materi pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyah. Secara teori intisari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat al-Fatihah ayat 1-7 dan surat al-Ikhlas ayat 1-5. Secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui cara-cara yang bijaksana, menuntun akan pikiran dengan mengajak umatnya untuk pembaca, memerhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. Kemudian beliau mengajarkan cara bagaimana mengaplikasikan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah langsung menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasaan masyarakat arab yang memulai perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan bismillahirrahmanirrohim. Kebiasaan menyembah berhala, diganti dengan mengagungkan  dan menyembah Allah SWT.[7]
Kedua, materi pengajaran al-Qur’an. Materi ini dapat dirinci kepada: (1) Materi baca tulis al-Qur’an, untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’. Dengan materi ini diharapkan agar kebiasaan orang arab yang biasa membaca syair-syair indah, diganti dengan membaca al-Qur’an sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai sastranya, (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur’an, (3) materi fahmi al-Qur’an dan tafsir Qur’an: tujuan materi ini adalah meluruskan pola pikir umat Islam yang dipengaruhi pola piker jahiliah. Disinilah letaknya fungsi hadis sebagai bacaan al-Qur’an.
c.      Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam membidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanyadan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya; (2) dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’adz ibn Jabal ketika Mu’adz akan diutus sebagai kadi di negeri Yaman, dialog antara sahabat dengan Rasulullah untuk mengatur strategi perang. (3) Diskusi atau Tanya jawab; sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hokum, kemudian rasul menjawab; (4) metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnyaakan turut merasakannya; (5) metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ mi’raj dan kisah pertemuan antara nabi Musa dengan nabi Khidir AS, (6) metode pembiasaan: membiasakan kaum muslimin shalat berjamaa’ah; (7) metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.
Dalam buku”Tarbiyah Islamiyah”  yang ditulis oleh Najd Khalid al-Amar mengatakan bahwa, metode pendidikan Islam yang dilakukan nabi Muhammad SAW, pada periode Mekkah dan Madinah adalah (1) melalui teguran langsung misalnya. Hadis Rasulullah SAW; Umar ibn Salma r.a berkata “dahulu aku pernah menjadi pembantu dirumah Rasulullah SAW, ketika makan misalnya aku menjulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu beliau berkata, hai ghulam bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada didekatmu; (2) melalui sindiran Rasulullah bersabda: “apa keinginan kaum yang begini begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan aku berbuka dan aku menikahi wanita, maka barang siapa yang tidak senang dengan sunahku berarti dia bukan golonganku.(lihat shahirul Jami’ ash-Shaghir, juz.5 hadis no 5448.) (3) pemutusan dari jama’ah. Perang Ka’ab ibn Malik tidak ikut beserta Rasulullah dalam perang tabuk. Dia berkata, Nabi melarang sahabat yang lainnya berbicara dengan aku, dikatakan Rasulullah SAW bersabda :”perintahkanlah anak-anakmu shalat dari umur tujuh tahun dan pukul mereka bila enggan mengerjakannya pada usia Sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya (HR. Abu Daud dan Hakim), [8] (6) melalui perbandingan kisah orang terdahulu; menggunakan kata isyarat misalnya merapatkan kedua jarinya sebagai isyarat perlunya menggalang persatuan; keteladanan setiap apa yang disampaikan oleh Rasulullah, maka yang menjadi uswahnya adalah Rasulullah sendiri.
d.     Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam pada periode Rasulullah baik di Mekkah maupun Madinah adalah al-Qur’an yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam pada saat itu, karena itu dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional, tetapi juga fitrah dan pragmatis. Hasil cara yang demikian dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya.
e.   Lembaga Pendidikan Islam
Menurut hemat penulis, lembaga pendidikan Islam pada fase Mekkah ada dua macam tempat yaitu:
(1)  Rumah Arwam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hokum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
(2)  Kuttab, pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang dilaksanakan dirumah Arqam ibn Arqam, pendidikan dirumah Arqam kandungan materi tentang hokum Islam dan dasar-dasar agama Islam, sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus kepada materi baca tulis sastra, syair arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah dating Islam materinya ditambah materi baca tulis Qur’an dan memahami hokum-hukum Islam. Adapun guru yang mengajar di kuttab pada era awal  Islam adalah orang-orang non-Islam. Dalam sejarah pendidikan Islam istilah kuttab berasal dari bahasa arab yakni kataba, yaktubu, kitaaban,  yang artinya telah menulis, sedang menulis dan tulisan, sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis.
2.     Fase Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad Saw bersama kaum muslimin Mekkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh dengan rasa persaudaraan. Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Mekkah, lingkungan yang dakwahnya, menyampaikan pelajaran Islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wahyu secara beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad Saw dalam mengajarkan al-Qur’an adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menulisnya sebagaimana yang diajarkan, beliau sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan al-Qur’an dalam shalat, dalam pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lain kesempatan.
a.     Lembaga Pendidikan Islam
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah mesjid. Setelah selesai pembangunan mesjid, maka rasul pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula diantara kaum muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat kegiatan Rasulullah beserta para pengikutnya kaum muslimin, untuk secara bersama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, yang mencerminkan rasa persatuan dan kesatuan umat. Dimasjid itulah beliau bermusyawarah berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaa’ah, membaca Qur’an, maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, mesjid itu merupakan tempat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyariatkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat jum’at yang dilaksanakan secara berjama’ah dan adzan. Dengan sholat jum’at tersebut hamper seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengarkan khotbah dari Rasulillah dan shalat jum’at berjama’ah.[9]
b.   Materi Pendidikan Islam di Madinah 
Pada fase Madinah materi yang diberikan lebih kompleks dari pada fase Mekkah. Diantara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah:
1)  Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, Nabi Saw bertolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu nabi berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka dipersaudarakan karena Allah bukan karena yang lainnya. Sesuai dengan isi konstitusi Madinah juga, bahwa antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya menanggung beban hidup dan utang yang berat diantara sesame mereka.[10]
2)  Pendidikan Kesejahteraan Sosial. Terjaminnya kesejahteraan social tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidaupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi permasalahan pekerjaan tersebut, Nabi memerintahkan kaum muhajirin yang telah dipersaudarakan dengan anshor agar mereka bekerjasama dengan saudara-saudaranya tersebut.
3)  Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat, yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri dan anak-anaknya. Nabi berusaha untuk memperbaiki keadaan itu  dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan, yang berasaskan taqwa kepada Allah Swt. Diperkenalkannya system kekeluargaan yang berdasarkan pada pengakuan hak-hak individu, keluarga dan keturunannyadalam kehidupan kemasyarakatan yang seadil dan seimbang, seperti yang terlihat dalam surat al-Hujrat ayat 13:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
4)  Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin merupakan satu state (Negara) dibawah bimbingan Rasulyang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar dakwahnya sebagai sarana menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu, setelah masyarkat kaum muslimin di Medinah berdiri dan berdaulat, usaha rasul berikuitnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar Madinah untuk mengakui konstitusi Madinah, ajakan tersebut disampaikan dengan baik dan bijaksana.
Untuk mereka yang tidak mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan nabi yaitu: (1) kalau mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin atau kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, maka mereka dibiarkan saja; (2) tetapi kalu mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau menyerang kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, maka harus diperangi, sehingga mereka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslimin.[11]

  1. PENUTUP
Pola pendidikan Islam periode Rasulullah fase Mekkah-Madinah belum kiranya penulis dapat tuangkan ke dalam makalah. Paling tidak pembahasan tersebut akan ditemukan benang merah bahwa pola pendidikan Islam fase Mekkah dan Madinah memiliki persamaan dan perbedaan, fase Mekkah ada dua lembaga pendidikan yaitu Arqam ibn Arqam dan Kuttab , sedangkan fase Madinah lembaga pendidikan terdapat dirumah sahabat dan masjid yang multifungsi.
1.     Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin
2.     Pendidikan Kesejahteraan Sosial
3.     Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
4.     Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam
Kurikulum yang dipakai di Mekkah dan Madinah adalah sama, yakni al-Qur’an yang dijelaskan oleh hadis Nabiyang diturunkan secara berangsur-angsur, hanya kurikulum di Madinah lebih komplit seiring dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.










DAFTAR PUSTAKA
Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penj. Ali Audah (Jakarta: Balai Pustaka, 1972)
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Penj. H. A. Baharudin (Jakarta: Kalam Mulia, 2002) Jilid I, cet. 1
Najbb Khalid al-Amar, Tarbuyah Rasulullah, penj. Ibn Muhammad Fakhruddin Nursyam, (Jakarta: Gema Insani Pres 1996), cet ke-3
Syafiyurrahman al-mubarakfury, Shirah Nabawiyah, Penj. Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2000), cetakan ke-9,
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara bekerjasama dengan  Direktorat Jenderal Kelembagaaan Agama Islam, 1997), cet, ke-5,
Software Qur’an Digital versi 2.04



[1]Kondisi social kemasyarakatan di kalangan bangsa Arab, terdapat beberapa kelas masyarakat, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bangsa Arab sangat mendewakan tuan dan menghina budak. Bahkan tuan berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, dan hamba diwajibkan membayar denda dan pajak, budak laksana lading bercocok tanah menghasilkan banyak kekayaan. Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah dictator. Banyak hak yang hilang dan terabaikan. Para budak tidak dapat melakukan perlawanan sedikitpun, banyak diantara mereka yang kelaparan, penderitaan, dan kesulitan yang tidak jarang merenggut nyawanya, dengan sia-sia. Kondisi ekonomi mengikuti kondisi social, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk menyambung kebutuhan hidup, kondisi kehidupan beragama sangat ironis sekali. Orang-orang Yahudi dan kafir tumbuh subur berimbas pada kehidupan social politik dan agama. Orang Yahudi berubah menjadi orang yang angkuh dan sombong. Pimpinan-pimpinan mereka menjadi sesembahan selain Allah. Sedangkan agama Nasrani berubah menjadi agama peganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampur adukkan antara Allah dan manusia. Dari segi akhlak, mereka adalah orang yang berlomba-lomba dan membanggakan diri dari masalah kedermawanan dan kemurahan hati, orang yang menepati janji, kemuliaan jiwadan keengganan menerima kehinaan dan kezhaliman, pantang mundur, kelemah lembutan atau menolong orang lain, kesederhanaanpola kehidupan badui. Lihat, Syafiyurrahman al-mubarakfury, Shirah Nabawiyah, Penj. Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2000), cetakan ke-9, h. 46-64.                  
[2] Jika ada kecendrungan jiwa yang tiba-tiba menggelitik untuk mencoba sebagian kesenangan dunia atau ingin mengikuti tradisi yang tidak terpuji, maka pertolongan Allah yang masuk sebagai pembatas antara diri beliau dengan kesenangan dan kecendrungan itu. Ibnu Katsir meriwayatkan, bahwa rasulullah SAW. Pernah bersabda, tidak pernah terlintas dalam benakku suatu keinginan untuk mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang-orang jahiliah kecuali dua kali. Namun kemudian Allahmenjadi penghalang diantara diriku dan keinginan itu. Setelah itu tidak lagi berkeinginan sedikitpun hingga Allah memuliakan kau dan risalahnya, suatu malam aku pernah berkata pada seseorang yang mengembala kambing bersamaku disuatu bukit di Mekkah.”tolong awasilah kambing-kambing gembalaanku,karena aku hendak masuk Mekkah dan hendak mengobrol disana seperti pemuda yang lain. “Aku akan melaksanakannya, kata pemuda rekanku, maka aku beranjak pergi. Disamping rumah pertama ku lewati di mekkahaku mendengar suara tabuhan rebana, “apa ini? Aku bertanya. Orang-orang menjawab “perhelatan pernikahan antara fulan dan fulanah, “aku ikut duduk dan mendengarkan. Namun Allah menutup telingaku dan aku langsung tertidur, hingga aku terbangun karena terkena sengatan matahari pada esok harinya. Aku kembali ke rekanku lau dia menanyakan keadaanku. Maka aku mengabaran apa yang terjadi. Pada malam lainnya aku berkata seperti itu pula dan berbuat hal yang sama seperti malam sebelumnya. Maka setelahitu aku tidak lagi ingin  berbuat hal yang buruk, (keshahihan hadis ini diperselisihkan. Al-hakim menshahihkannya dan ibn Katsir mendhaifkannya di dalam al-Bidayah Wa an-Nihayah, 2/287). Ibid. h. 86-87.
[3]  Rasulullah SAW. Adalah seorang hamba Allah yang berhiaskan budi pekerti yang baik luhur dan terpuji. Beliau sangat terkenal dikalangan Quraisy sebagai kesatria, selalu teguh dan repat memegang janji, orang yang baik dengan tetangga dan sangat santun dan orang yang selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik, rendah hati (tawadhu’), dermawan, dan jujur terpercaya sehingga mereka menjuluki dengan “al-Amin”. Lihat Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Penj. H. A. Baharudin (Jakarta: Kalam Mulia, 2002) Jilid I, cet. 1, h. 141-142.
[4] Lihat Q.S. 26. 213-216
[5] Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penj. Ali Audah (Jakarta: Balai Pustaka, 1972), h. 30-32. 
[6] Lihat Q.S. 111:1-5.
[7] Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara bekerjasama dengan  Direktorat Jenderal Kelembagaaan Agama Islam, 1997), cet, ke-5, h. 23-27
[8] Lihat Najbb Khalid al-Amar, Tarbuyah Rasulullah, penj. Ibn Muhammad Fakhruddin Nursyam, (Jakarta: Gema Insani Pres 1996), cet ke-3, h. 33-41.
[9] Zuhairini dkk, Op.Cit. h.23-7
[10] Ibid, h. 44
[11] Ibid, h. 62

No comments:

Post a Comment