Thursday, September 25, 2014

BANK ASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM


“BANK ASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM”

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Kontemporer

Dosen Pengampu :
Dr. Tutik Hamidah M.Ag

Disusun Oleh :
Nurul Fardiana, S.Pd.I
 (13770012)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
SEPTEMBER, 2014



===========================================



KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr.wb.
Alhamdulillah, Puji syukur patut kita ungkapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izinnya dan rahmat hidayah-Nya yang dilimpahkannya kepada kita semua. sehingga saya Nurul Fardiana (13770012) dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Bank ASI dalam Perspektif Islam” Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Pendekatan Islam dengan dosen pengampu Dr. Tutik Hamidah M.Ag. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) semester III tahun akademik 2013/2014.
Selanjutnya ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing ibu Tutik Hamidah yang telah memberikan motivasi dalam penyelesaian tugas ini, dan juga kepada rekan mahasiswa yang turut mendukung dalam penyelesaian tugas kami.
Dalam menyingkapi permasalahan yang terdapat didalam makalah ini, terutama kami sebagai pemakalah belum begitu sempurna menguraikan isi yang ada didalam makalah ini, untuk itu penting adanya harapan kami memohon kepada dosen pembimbing untuk menambah serta meluruskannya agar tidak terjadi kekeliruan bagi para rekan pembaca.
           



Malang, 23 Semptember 2014


Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Menyusui anak bagi setiap ibu dengan cara memberikan ASI merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan dan kelangsungan hidup manusia di dunia ini. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan dan minuman pokok yang terbaik bagi bayi yang baru lahir, karena pengolahannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Menurut hasil penelitian yang dilakukan pakar kesehatan menunjukkan bahwa anak-anak yang masa bayinya mengkonsumsi ASI jauh lebih cerdas, lebih sehat, dan lebih kuat daripada anak-anak yang tidak menerima ASI.[1] Mengenai keharusan seorang ibu untuk menyusui anaknya, Allah berfirman :
 ßNºt$Î!ºuqø9$#ur z`÷èÅÊöãƒ £`èdy»s9÷rr& Èû÷,s!öqym Èû÷ün=ÏB%x. ( ô`yJÏ9 yŠ#ur& br& ¨LÉêムsptã$|ʧ9$# ....4 ÇËÌÌÈ  
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan... (Q.S Al-Baqarah : 233)
Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan ayat di atas. Berdasarkan zahir menunjukkan bahwa seorang ibu wajib menyusui anaknya. Pendapat ini diungkapkan oleh mazhab Maliki. Sementara itu, menurut jumhur ulama fuqaha perintah untuk menyusui bagi seorang ibu yang terkandung dalam ayat tersebut adalah sunnah (anjuran).[2]
Berpijak pada pendapat jumhur ulama di atas bahwa menyusui adalah anjuran bagi seorang ibu. Artinya ketika sang ibu tidak mau menyusui anaknya karena berbagai alasan seperti ASI-nya tidak keluar, kesehatan serta karena waktunya tersita untuk bekerja, maka boleh menyerahkan anak tersebut kepada orang lain untuk disusui atau mengambil ASI dari bank ASI disuatu lembaga yang menyediakan. Hal ini dalam hukum Islam disebut dengan istilah rada’ (penyusuan). Seperti halnya Nabi Muhammad saw memiliki ibu susuan, diantaranya Halimah as-Sa’diyah selama dua tahun lalu Muhammad disapih dan kemudian diserahkan kembali kepada ibu kandungnya Aminah.[3]
Gagasan mendirikan Bank ASI untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi yang ibunya tidak bisa menyusui anaknya secara langsung. Kesulitan para ibu memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI.
Di negara-negara maju, donor ASI sudah lama dikenal, terbukti sudah 30 tahun lamanya bank ASI dipraktikkan oleh sebuah bank ASI di Amerika, Human Milk Banking Association of North America (HMBANA). Bank ASI juga dipraktikkan di Inggris oleh sebuah bank ASI (Mothers Milk Bank of New England). Bayi-bayi prematur d Inggris, Amerika, Australia (Mothers Milk Bank Austin), dan India (Indiana Mothers Milk Bank) mampu bertahan hidup berkat ASI donor dari bank ASI. Ibu yang tidak mampu menyusui bayinya sendiri karena alasan kesehatan pun bisa mengandalkan bank ASI.[4]  
Pada tahun terakhir ini masyarakat Indonesia mulai gencar membicarakan persoalan donor ASI. Namun di Indonesia sampai sekarang belum ada bank ASI sebagaimana di negara maju. Proses donor yang terjadi di Indonesia hanya dilakukan oleh suatu lembaga independen dan klinik Rumah Sakit. Diantaranya adalah lembaga Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan klinik Laktasi dsb.[5]
Bank ASI dalam Islam sering terjadi kontroversi dan juga tidak ada hukum yang pasti menjelaskan tentang Bank ASI, apakah diperbolehkan atau tidak. Untuk itu, makalah ini akan membahas tentang bank ASI menurut perspektif hukum Islam.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, bank ASI memiliki tujuan yang sangat mulia, membantu para bayi yang sangat membutuhkan ASI. Maka penulis memberikan rumusan, bagaimana bank ASI dalam perspektif hukum Islam ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Masalah
ASI adalah cairan yang luar biasa, mengandung nutrisi terbaik untuk kesejahteraan bayi. Selain memberikan nutrisi inti yang dibutuhkan bayi, ASI juga mengandung komponen-komponen yang memberikan perlindungan kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit dan infeksi. ASI meningkatkan pertumbuhan bakteri sehat di dalam saluran pencernaan bayi, dan mengurangi resiko terhadap alergi dan asma saat dia tumbuh. Walaupun enzim pencernaan di dalam perut bayi menguraikan beberapa zat di dalam ASI, enzim lain memberikan tingkat perlindungan yang tidak dapat digantikan oleh susu formula. Oleh sebab itu, ASI jauh lebih bermutu dibandingkan dengan cairan apa pun yang digunakan untuk memberinya makan.[6]
Seorang ibu hendaknya lebih memperhatikan ASI bagi anaknya, berikut manfaat air susu ibu (ASI), diantaranya adalah :[7]
1.    ASI cocok untuk bayi karena mengandung zat-zat penting yang bermanfaat bagi pertumbuhan anak, sekaligus sebagai proteksi bagi diri anak. ASI memuat kandungan unsur-unsur seimbang yang tidak bisa diwujudkan pada susu buatan
2.    ASI steril dari bakteri dan kuman
3.    ASI mengandung antibodi bagi anak untuk melemahkan bibit penyakit seperti : campak/cacar air, difteri dan polio.
4.    Memperkuat hubugan rohani dan emosi di antara ibu dan anaknya sehingga menimbulkan rasa kasih sayang kekeluargaan
5.    Ekonomis dibanding dengan susu buatan yag memerlukan biaya besar
6.    Memperkuat otot wajah dan mulut pada saat menyusui dengan adanya gerakan-gerakan bayi ketika menghisap ASI
Bank ASI merupakan tempat penyimpanan dan penyalur ASI dari donor ASI yang kemudian akan diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI sendiri ke bayinya. Ibu yang sehat dan memiliki kelebihan produksi ASI bisa menjadi pendonor ASI. ASI biasanya disimpan di dalam plastik atau wadah, yang didinginkan dalam lemari es agar tidak tercemar oleh bakteri.[8]
Bank ASI, yaitu suatu sarana yang dibuat untuk menolong bayi-bayi yang tidak terpenuhi kebutuhannya akan ASI. Pendapat lain mengatakan bahwa Bank ASI adalah Bank khusus untuk menampung air susu ibu atau suatu lembaga untuk menyimpan atau menghimpun air susu ibu. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Bank ASI adalah suatu lembaga yang tujuannya khusus untuk menyimpan atau mengumpulkan ASI guna memenuhi kebutuhan bayi yang tidak terpenuhi.
Semua ibu donor diskrining dengan hati-hati. Ibu donor harus memenuhi syarat, yaitu non-perokok, tidak minum obat dan alkohol, dalam kesehatan yang baik dan memiliki kelebihan ASI. Selain itu, ibu donor harus memiliki tes darah negatif untuk Hepatitis B dan C, HIV 1 dan 2, serta HTLV 1 dan 2, memiliki kekebalan terhadap rubella dan sifilis negatif. Juga tidak memiliki riwayat penyakit TBC aktif, herpes atau kondisi kesehatan kronis lain seperti multiple sclerosis atau riwayat kanker. Berapa lama ASI dapat bertahan sesuai dengan suhu ruangannya :[9]
1.    Suhu 19-25 derajat celsius ASI dapat tahan 4-8 jam
2.    Suhu 0-4 derajat celsius ASI tahan 1-2 hari
3.    Suhu dalam freezer khusus bisa tahan 3-4 bulan
B.  Dalil dan Metode Memahami Dalil Hukum Bank ASI
Seorang bayi boleh saja menyusu kepada wanita lain, bila air susu ibunya tidak memadai, atau karena suatu hal, ibu kandung bayi tidak dapat menyusuinya. Status ibu yang menyusukan seorang bayi, sama dengan ibu kandung sendiri, tidak boleh kawin dengan wanita itu, dan anak-anaknya. Dalam hukum Islam disebut sebagai saudara sepersusuan. Gambaran yang dikemukakan jelas bahwa siapa wanita yang menyusukan dan siapa pula bayi yang disusukan itu hukumnya jelas yaitu sama dengan mahram.
3 ÷bÎ)ur öN?Šur& br& (#þqãèÅÊ÷ŽtIó¡n@ ö/ä.y»s9÷rr& Ÿxsù yy$uZã_ ö/ä3øn=tæ #sŒÎ) NçFôJ¯=y !$¨B Läêøs?#uä Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 3. ÇËÌÌÈ . .  
Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut....(Q.S Al-Baqarah : 233)
Sekarang yang menjadi persoalan ialah, air susu yang disimpan pada Bank ASI, maka air susu itu sama saja seperti darah yang disumbangkan untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana darah boleh diterima dari siapa saja dan boleh diberikan kepada yang memerlukannya, maka air susupun demikian juga hukumnya. Bedanya ialah darah najis, sedangkan air susu bukan najis. Oleh sebab itu, darah baru dapat dipergunakan dalam keadaan darurat atau terpaksa, begitu juga halnya dengan ASI itu dihalalkan karena dharurah bagi bayi, sebagaimana qawaid fiqih :
اَلضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ
Darurat itu bisa membolehkan yang dilarang.
Menurut Ali Hasan, agak sukar menentukan atau mengetahui donor asli itu, sebagaimana donor darah. Dengan demikian, baik ibu “susuan”, maupun “anak susuan”, tidak saling mengenal. Hal ini berarti, masalah pemanfaatan air susu dari Bank ASI, tidak dapat disamakan dengan ar-Radhaah. Pemanfaatan air susu dari Bank ASI adalah dalam keadaan terpaksa (bukan karena haram). Sebab, selagi ibu si bayi itu masih mungkin menyusukan anak itu, maka itulah sebenarnya yang terbaik. Hubungan psikologis antara si bayi dan ibunya terjalin juga dengan mesra pada saat menyusukan bayi itu. Si bayi merasa disayangi dan si ibu pun merasakan bahwa air susunya akan menjadi darah daging anak itu. Berbeda, kalau air susu yang diminum anaknya itu berasal dari orang lain. Pertumbuhan dan perkembangan anak itu, dibantu oleh pihak lain, sebagaimana air susu sapi yang kita kenal selama ini, dan makanan yang khusus dibuat (diproduksi) untuk bayi.
Dalam memberikan putusan hukum, Yusuf Qardhawi memakai metode Ijtihad Tarjih Intiqa’i (selektif), yaitu memilih satu pendapat dari beberapa pendapat terkuat yang terdapat pada warisan fiqih Islam yang penuhdengan fatwa dan keputusan hukum dengan tidak membatasi satu mazhab,melainkan beberapa mazhab, sehingga dapat dipilih pendapat yang terkuat, dalil, dan alasannya serta kesesuaiannya dengan kaidah tarjih, diantaranya :
a.    Hendaknya pendapat relevan dengan kehidupan zaman sekarang
b.    Hendaknya mempunyai sifat lemah lembut dan kasih sayang kepada umatmanusia
c.    Hendaknya lebih mendekati kemudahan oleh hukum Islam
d.   Hendaknya lebih memprioritaskan untuk merealisasikan maksud-maksud syara’, kemaslahatan manusia dan menolak bahaya bagi mereka.[10]
Adapun faktor lain yang memengaruhi Ijtihad Tarjih Intiqa’i (selektif) menurut Yusuf Qardhawi adalah desakan zaman dan kebutuhannya, sehinggawajib untuk memerhatikan realita, kemudahan, dan keringanan dalam hukum Islam yang bersifat cabang (furu’) dan praktis. Dituntut juga agar selalu memerhatikan darurat halangan dan kondisi-kondisi pengecualian hukum,[11] sebagai pengamalan dari al-Qur’an : 
.......3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# ...... ÇÊÑÎÈ  
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Perdebatan Dari Segi Dalil
Perbedaan pendapat dari dua kelompok ulama terjadi di seputar syarat dari penyusuan yang mengakibatkan kemahraman. Setidaknya ada dua syarat penyusuan yang diperdebatkan. Pertama, apakah disyaratkan terjadinya penghisapan atas puting susu ibu, kedua harus ada saksi penyusuan.
1.    Menghisap Lewat Punting Susu
Kalangan yang membolehkan bank susu mengatakan bahwa bayi yang diberi minum air susu dari bank susu, tidak akan menjadi mahram bagi para wanita yang air susunya ada di bank itu. Sebab kalau sekedar hanya minum air susu, tidak terjadi penyusuan. Sebab yang namanya penyusuan harus lewat penghisapan puting susu ibu.
Mereka berdalil dengan fatwa Ibnu Hazm, di mana beliau mengatakan bahwa sifat penyusuan haruslah dengan cara menghisap puting susu wanita yang menyusui dengan mulutnya.
Dalam fatwanya, Ibnu Hazm mengatakan bahwa bayi yang diberi minum susu seorang wanita dengan menggunakan botol atau dituangkan ke dalam mulutnya lantas ditelannya, atau dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituangkan ke dalam mulut, hidung, atau telinganya, atau dengan suntikan, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengakibatkan kemahraman. Dalil menyebutkan dalam firman Allah SWT :
ãNà6çF»yg¨Bé&ur ûÓÉL»©9$# öNä3oY÷è|Êör& Nà6è?ºuqyzr&ur šÆÏiB Ïpyè»|ʧ9$# ......... ÇËÌÈ  
“Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan...' (QS An-Nisa':23)
Menurut Ibnu Hazm, proses memasukkan puting susu wanita di dalam mulut bayi harus terjadi sebagai syarat dari penyusuan.
Sedangkan bagi mereka yang mengharamkan bank susu, tidak ada kriteria menyusu harus dengan proses bayi menghisap puting susu. Justru yang menjadi kriteria adalah meminumnya, bukan cara meminumnya.
Dalil yang mereka kemukakan juga tidak kalah kuatnya, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa kemahraman itu terjadi ketika bayi merasa kenyang.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ اُنْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ, فَإِنَّمَا اَلرَّضَاعَةُ مِنْ اَلْمَجَاعَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) 
Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perhatikan saudara laki-laki kalian, karena saudara persusuan itu akibat kenyangnya menyusu”. (HR Bukhari dan Muslim)
كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآن) رواه مسلم(
Dari Aisyah ra dia menceritakan :Diantara ayat-ayat yang diturunkan dalam Al-quran adalah sepuluh kali penyusuan yang dimaklumi mengharamkan (orang yang menyusui dan disusui menikah), kemudian dinasakh (dihapuskan) dengan lima kali penyusuan yang dimaklumi, lalu Rasulullah saw wafat, sedang ayat tersebut masih tetap dibacakan sebagai ketetapan Al-Quran“.(HR. Muslim dan Ibnu Majah)
2.    Pentingnya Saksi
Hal lain yang menyebabkan perbedaan pendapat adalah masalah saksi. Sebagian ulama mengatakan bahwa untuk terjadinya persusuan yang mengakibatkan kemahraman, maka harus ada saksi. Seperti pendapat Ash-Sharabshi, ulama Azhar. Namun ulama lainnya mengatakan tidak perlu ada saksi. Cukup keterangan dari wanita yang menyusui saja.
Bagi kalangan yang mewajibkan ada saksi, hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.
Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut. Sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari bank susu ibu. Karena susu yang diminum oleh para bayi menjadi tidak jelas susu siapa dari ibu yang mana. Dan ketidakjelasan itu membuat tidak akan terjadi hubungan kemahraman.
Dalilnya adalah bahwa sesuatu yang bersifat syak (tidak jelas, ragu-ragu, tidak ada saksi), maka tidak mungkin ditetapkan di atasnya suatu hukum. Pendeknya, bila tidak ada saksinya, maka tidak akan mengakibatkan kemahraman.
Sedangkan menurut ulama lainnnya, tidak perlu ada saksi dalam masalah penyusuan. Yang penting cukuplah wanita yang menyusui bayi mengatakannya. Maka siapa pun bayi yang minum susu dari bank susu, maka bayi itu menjadi mahram buat semua wanita yang menyumbangkan air susunya. Dan ini akan mengacaukan hubungan kemahraman dalam tingkat yang sangat luas. Dari pada kacau balau, maka mereka memfatwakan bahwa bank air susu menjadi haram.
C.  Pendapat ulama dan hujjah mereka

Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya boleh. Di antara alasan mereka sebagai berikut: Bayi yang mengambil air susu dari bank ASI tidak bisa menjadi mahram bagi perempuan yang mempunyai ASI tersebut, karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu langsung dengan cara menghisap puting payudara perempuan yang mempunyai ASI, sebagaimana seorang bayi yang menyusu ibunya. Sedangkan dalam bank ASI, sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas.
Ulama besar Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa beliau tidak menjumpai alasan untuk melarang diadakannya “Bank ASI.” Asalkan bertujuan untuk mewujudkan mashlahat syar’iyah yang kuat dan untuk memenuhi keperluan yang wajib dipenuhi. Oleh karena itu, salah satu tujuan syariat Islam adalah memelihara kehormatan/keturunan (حفظ العرض و النسل).
Beliau cenderung mengatakan bahwa bank ASI bertujuan baik dan mulia, didukung oleh Islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, apa pun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.
Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan sebenarnya wanita itu boleh menjual air susunya, bukan sekadar menyumbangkannya. Sebab di masa Nabi (Muhammad) para wanita yang menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian. Sehingga hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual air susu.
Bahkan Al-Qardhawi memandang bahwa institusi yang bergerak dalam bidang pengumpulan “air susu” itu yang mensterilkan serta memeliharanya agar dapat dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.
Selain Al-Qaradhawi, yang menghalalkan bank ASI adalah Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau menyatakan bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki. Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.
Pendapat Kedua menyatakan bahwa mendirikan Bank ASI hukumnya haram. Alasan mereka bahwa Bank ASI ini akan menyebabkan tercampurnya nasab, karena susuan yang mengharamkan bisa terjadi dengan sampainya susu ke perut bayi tersebut, walaupun tanpa harus dilakukan penyusuan langsung, sebagaimana seorang ibu yang menyusui anaknya.
Di antara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya Bank ASI adalah Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhayli. Dalam kitab Fatawa Mu’ashirah, beliau menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi syariah.
Demikian juga dengan Majma’ al-Fiqih al-Islamiy melalui Badan Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22–28 Desember 1985 M./10–16 Rabiul Akhir 1406 H.. Lembaga ini dalam keputusannya (qarar) menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat, di antaranya : setiap ASI yang dikumpulkan di Bank ASI, harus disimpan di tempat khusus dengan menulis nama pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengambil ASI tersebut harus ditulis juga dan harus diberitahukan kepada pemilik ASI tersebut, supaya jelas nasabnya. Dengan demikian, percampuran nasab yang dikhawatirkan oleh para ulama yang melarang bisa dihindari.
Prof.DR. Ali Mustafa Ya’qub, MA., salah seorang Ketua MUI Pusat menjelaskan bahwa tidak ada salahnya mendirikan Bank ASI dan Donor ASI sepanjang itu dibutuhkan untuk kelangsungan hidup anak manusia. “Hanya saja Islam mengatur, jika si ibu bayi tidak dapat mengeluarkan air susu atau dalam situasi lain ibu si bayi meninggal maka si bayi harus dicarikan ibu susu. Tidak ada aturan main dalam Islam dalam situasi tersebut mencarikan susu sapi sebagai pengganti, kendatipun zaman nabi memang tidak ada susu formula tapi susu kambing dan sapi sudah ada,” . ini berarti bahwa mendirikan Bank ASI dan donor ASI boleh-boleh saja karena memang Islam tidak mentoleransi susu yang lain selain susu Ibu sebagai susu pengganti dari susu ibu kandungnya.
“Hanya saja pencatatannya harus benar dan kedua keluarga harus dipertemukan serta diberikan sertifikat. Karena 5 kali meminum susu dari ibu menyebabkan menjadi mahramnya si anak dengan keluarga si ibu susu. Artinya anak mereka tidak boleh menikah,”.
Menurut Prof. Ali, masalah menyusu langsung atau tidak langsung, itu hanya masalah teknik mengeluarkan susu saja, hukumnya sama. “Jika sudah 5 kali meminum susu maka jatuh hukum mahram kepada keduanya.
Menurut Ibn Rusyd, sebab timbulnya perselisihan pendapat ulama di dalam hal tersebut adalah pada boleh tidaknya menjual ASI manusia yang telah diperah. Karena proses pengambilan ASI tersebut melalui perahan. Imam Malik dan Imam Syafi'i membolehkannya, sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya. Alasan mereka yang membolehkannya adalah karena ASI itu halal untuk diminum maka boleh menjualnya seperti susu sapi dan sejenisnya. Sedangkan Abu Hanifah memandang bahwa hukum asal dari ASI itu sendiri adalah haram karena dia disamakan seperti daging manusia.[12] Maka karena daging manusia tidak boleh memakannya maka tidak boleh menjualnya, adapun ASI itu dihalalkan karena dharurah bagi bayi, sebagaimana qawaid fiqih :
اَلضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ
Darurat itu bisa membolehkan yang dilarang.
D.  Analisis pendapat ulama
Perbedaan pandangan ulama terhadap beberapa masalah penyusuan mengakibatkan mereka berbeda pendapat di dalam menyikapi munculnya Bank ASI, sebagaimana berikut :
Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya boleh. Salah satu alasannya: Bayi tidak bisa menjadi mahram bagi ibu yang disimpan ASI-nya di bank ASI. Karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu langsung. Sedangkan dalam kasus ini, sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas. Menjual ASI tersebut akan membawa manfaat bagi manusia yaitu tercukupinya gizi.
Pendapat Kedua menyatakan hukumnya haram. Menimbang dampak buruknya menyebabkan tercampurnya nasab. Dan mengikuti pendapat jumhur yang tidak membedakan antara menyusu langsung atau lewat alat. Majma' al Fiqh al Islami (OKI) dalam Muktamar yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal1-6 Rabi'u at Tsani 1406 H memutuskan bahwa pendirian Bank ASI di negara-negara Islam tidak dibolehkan, dan seorang bayi muslim tidak boleh mengambil ASI darinya. Menjual ASI itu mendatangkan kemungkaran karena bisa menimbulkan rusaknya pernikahan diantara orang Islam, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan yang disebabkan kawinnya orang sesusuan dan hal tersebut tidak dapat diketahui jika antara lelaki dan wanita meminum ASI yang dijual bank ASI tersebut.[13] Selain itu, Hukum Syara’ menyatakan bahwa menolak kerusakan lebih didahului daripada mencari kemaslahatan. Seperti dalam firman-Nya : إن الله لا يحب الفساد                             
Bagi bayi karena kita melihat bahwa banyak bayi yang tidak memperoleh ASI yang cukup baik karena kesibukan sang ibu ataupun karena penyakit yang diderita ibu tersebut. Tetapi pendapat tersebut dapat ditolak karena kemudaratan yang ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya yaitu terjadinya percampuran nasab. Padahal Islam menganjurkan kepada manusia untuk selalu menjaga nasabnya. Kaidah ushul juga menyebutkan bahwa :[14]
دَفْعُ الضَّرَارِ اَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Menolak kemadharatan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan.
Ibnu Sayuti di dalam kitab Asybah Wa Nadhaair menyebutkan bahwa di dalam kaidah disebutkan bahwa diantara prinsip dasar Islam adalah :
اَلضَّرَارُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَارِ
Kemudaratan itu tidak dapat dihilangkan dengan kemudaratan lagi.
Hal ini jelas, karena akan menambah masalah. Kaitannya dengan pembahasan kita yaitu, ketiadaan ASI bagi seorang bayi adalah suatu kemudaratan, maka memberi bayi dengan ASI yang dijual di bank ASI adalah kemudaratan pula. Maka apa yang tersisa dari bertemunya kemudaratan kecuali kemudaratan.[15] Karena Fiqih bukanlah pelajaran fisika dimana bila bertemu dua kutub yang sama akan menghasilkan hasil yang berbeda. Maka penulis sependapat bahwa hendaknya kita melihat mana yang lebih besar manfaatnya daripada kerusakannya.
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat, diantaranya: setiap ASI yang dikumpulkan di Bank ASI, harus disimpan di tempat khusus dengan meregistrasi nama pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengkonsumsi ASI tersebut harus didata secara detail dan diberitahukan kepada pemilik ASI sehingga yang membeli ASI mengetahui ASI-nya berasal dari siapa, maka hukumnya boleh, supaya jelas nasabnya. Dengan demikian, percampuran nasab yang dikhawatirkan oleh para ulama yang melarang bisa dihindari.
Dengan demikian, ada beberaa aspek secara logika hukum bank ASI, yaitu :
a.    Aspek sosial
Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa logika hukum masing-masing pendapat sama-sama kuat dan logis. Namun, uraian di atas hanya berbicara tentang hukum jual-beli ASI secara langsung, dari seorang pendonor kepada keluarga si bayi. Bukan transaksi jual-beli ASI melalui perantara pihak lain. Mengenai jual-beli ASI melalui Bank ASI, jika ditinjau dari aspek sosial, maka akan berakibat timbulnya kekaburan hubungan mahram atau persaudaraan sepersusuan. Telah dimaklumi, Bank ASI mengumpulkan ASI dari banyak wanita ke dalam satu wadah (dicampur) tanpa proses identifikasi diri maupun keluarganya. Kemudian, ASI campuran itu dijual kepada konsumen (bayi) yang juga tidak diketahui identitasnya (asalkan punya uang bisa membeli). Bank ASI tidak bisa mengidentifikasi atau mengontrol sejauh mana pembelian dan penjualan ASI tersebut. Pihak pendonor bisa berasal dari mana saja, pihak konsumen bisa mendapatkan ASI tanpa harus mengetahui siapa pendonornya dan siapa saja yang ikut mengonsumsi ASI darinya. Kenyataan ini dapat menyebabkan perkawinan saudara sesusuan. Seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang ternyata pernah mengkonsumsi ASI dari pendonor yang sama.
Sebagian kalangan menyatakan bahwa Bank ASI membawa manfaat, yaitu bagi bayi yang ibunya tidak bisa menyusui secara langsung (baik karena kesibukan ataupun karena penyakit tertentu). Alasan ini memang bisa diterima, akan tetapi tidak berlaku tanpa batas. Artinya, dalam keadaan darurat, seorang ibu boleh saja membeli ASI dari bank ASI, asalkan ada upaya untuk mengetahui identitas pendonor, agar hubungan keluarga bisa terjalin dan tali silaturahim bisa tersambung di antara mereka. Jika tidak demikian, maka alasan darurat tidak bisa diterima, karena di antara prinsip dasar Islam adalah: kemudaratan tidak boleh ditolak dengan kemudaratan yang lain. Kemudaratan berupa ketiadaan ASI, tidak boleh dicegah dengan menimbulkan kemudharatan lain berupa kekaburan hubungan keluarga (nasab).
b.    Aspek Kesehatan
Telah disinggung di atas, bahwa Bank ASI mengumpulkan ASI dari banyak wanita dengan latarbelakang kesehatan dan karakter yang berbeda. Pendonor bisa saja beragama atau justru atheis, akhlaknya baik atau justru buruk, kesehatannya bagus atau justru penyakitan. Padahal pertumbuhan bayi sangat ditentukan oleh kualitas ASI yang dikonsumsinya. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW menganjurkan agar bayi tidak menyusu pada ibu (susuan) yang lemah pikirannya (idiot), karena akan berpengaruh pada perkembangannya.
Kemudian, sangat pula pendonor merupakan wanita yang tidak sehat dan mengidap penyakit kronis. Otomatis bayi yang meminum ASInya akan tertular. Banyak pakar kedokteran yang mengingatkan bahwa penyakit HIV/AIDS bisa menular melalui konsumsi ASI. Selain itu, para dokter mengingatkan, mengambil ASI melalui alat-alat tertentu sangat membahayakan bagi si wanita. Karena dapat menghilangkan hormon ASI sehingga bisa berakibat ASI-nya tidak bisa dimanfaatkan lagi.
c.    Aspek hubungan emosional
Ini merupakan sisi yang paling penting dalam hubungan horizontal antar manusia. Mengonsumsi ASI yang tidak jelas statusnya, akan menjauhkan hubungan emosional antara ibu dan anak. Berbeda bila donor ASI didapatkan dari ibu susuan secara langsung, tidak melalui perantara Bank ASI (seperti Halimatus Sa’diyah yang menyusui Nabi SAW). Di sana terdapat kedekatan emosional, juga kualitas pribadi ibu pendonor yang dapat diketahui secara langsung.
Juga, kualitas ASI seorang ibu tidak hanya diukur dari jenis makanan apa saja yang dikonsumsi, tapi juga dari mana sang ibu mendapatkan sumber makanan itu. Sayur-mayur yang diperoleh dari uang halal, tidak sama dengan sayur-mayur yang didapat dari uang haram. Jangan sampai bayi yang masih suci itu terkontaminasi oleh ASI seorang ibu yang ternyata membeli bahan makanan dari hasil korupsi. Ibu yang bijak adalah ibu yang akan sangat berhati-hati terhadap apa pun yang masuk ke dalam perut anaknya.
E.  Pendapat yang dipilih dan hujjah yang digunakan
Berdasarkan pemahaman penulis maka hukum Bank Asi itu boleh tatkala seorang ibu tidak mampu untuk menyusui karena kondisi yang tidak mungkin untuk menyusui, dan haram bila hanya untuk keindahan tubuh seorang ibu sehingga tidak menyusui anaknya.
Berdasarkan hukum Islam, ASI itu suci dan bisa diambil manfaatnya (intifa’) sehingga boleh dijual seperti halnya air susu hewan. Mengenai tidak adanya budaya jual-beli ASI, hal itu tidak bisa menjadi landasan bahwa ASI tidak boleh dijual. Sebab, ada juga barang yang tidak dijualbelikan di pasaran, padahal ia boleh diperjualbelikan. Kemudian, mengenai kemuliaan organ tubuh manusia, hal itu memang benar. Akan tetapi, kenyataannya kita mengenal kebolehan menjual budak yang notabene adalah manusia juga. Budak boleh dijual karena bermanfaat.
Sedangkan yang tidak boleh dijual adalah organ tubuh orang merdeka (bukan budak) dan organ tubuh yang terpotong, karena tidak bermanfaat. Jika bermanfaat, berarti boleh dijual seperti ASI (bermanfaat bagi bayi). Mengenai penyamaan ASI dengan keringat, itu adalah analogi yang salah kaprah. Karena keringat, ingus, atau air mata itu tidak dapat dimanfaatkan. Sedangkan ASI sangat bermanfaat. ASI adalah gizi bagi manusia (bayi) sehingga boleh dijual. Sama seperti beras dan lauk-pauk yang merupakan pemasok gizi bagi kehidupan manusia.
Selain itu, terdapat prinsip fiqh bahwa benda yang tidak haram dikonsumsi, berarti tidak haram mengonsumsi hasil penjualannya. Karena ASI boleh dikonsumsi, otomatis boleh pula dijual dan hasil penjualannya tidak haram.
Bank ASI diperbolehkan harus memenuhi beberapa syarat di bawah ini, jika tidak terpenuhi maka mengakibatkan bank ASI tersebut menjadi haram. Syarat yang diperbolehkan untuk bank air susu ibu (ASI) adalah :
a.    Terdapat musyawarah antara orang tua bayi dan pendonor dan pembiayaannya
b.    Anak yang menyusui dari ibu yang sama di haramkan untuk menikah karena akan menjadi saudara sesusunan dan donor tersebut kondisi juga harus dalam kondisi sehat dan tidak hamil selama memberikan ASI-nya
c.    Bank ASI mampu menegakkan dan menjaga syariat Islam.
d.   Pemberian ASI benar-benar dalam keadaan darurat
e.    Anak yang menerima donor ASI harus berusia kurang dari 2 tahun
Sedangkan penulis tidak setuju dengan mengharamkan Bank ASI, karena bank ASI akan mendatangkan madharat-madharat yang akan muncul dengan berdirinya Bank ASI di negara-negara Islam. Diantara madharat-madharat tersebut antara lain :
a.    Terjadinya percampuran nasab, jika distribusi ASI tersebut tidak diatur secara ketat dan sesuai syariat Islam
b.    Pendirian Bank ASI memerlukan biaya yang sangat besar, terlalu berat ditanggung oleh negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
c.    ASI yang disimpan dalam Bank, berpotensi untuk terkena virus dan bakteri yang berbahaya, bahkan kwalitas ASI bisa menurun drastis, sehingga kelebihan-kelebihan yang dimiliki ASI yang disimpan ini semakin berkurang, jika dibandingkan dengan ASI yang langsung dihisap bayi dari ibunya.
d.   Dikhawatirkan ibu-ibu yang berada dalam taraf kemiskinan, ketika melihat peluang penjualan ASI kepada Bank dengan harga tinggi, mereka akan berlomba-lomba untuk menjual ASI-nya dan sebagi gantinya mereka memberikan susu formula untuk anak mereka.
e.    Ibu-ibu yang sibuk beraktivitas dan mempunyai kelebihan harta, akan semakin malas menyusui anak-anak mereka, karena bisa membeli ASI dari Bank dengan harga berapapun.
Bab III
PENUTUP

Kesimpulan
Perbedaan pandangan ulama terhadap beberapa masalah penyusuan mengakibatkan mereka berbeda pendapat di dalam menyikapi munculnya Bank ASI, sebagaimana berikut :
Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya boleh. Salah satu alasannya: Bayi tidak bisa menjadi mahram bagi ibu yang disimpan ASI-nya di bank ASI. Karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu langsung. Sedangkan dalam kasus ini, sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas.
Pendapat Kedua menyatakan hukumnya haram. Menimbang dampak buruknya menyebabkan tercampurnya nasab.
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat dan jelas manfaatnya, tentu tidak ada halangan. Misalnya, setiap ASI yang dikumpulkan di Bank ASI harus disimpan di tempat khusus dengan meregistrasi nama pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengkonsumsi ASI tersebut harus dicatat detail dan diberitahukan kepada pemilik ASI, supaya jelas nasabnya.
Pemanfaatan air susu dari Bank ASI, adalah dalam keaadan terpaksa. Sebab, selagi ibu si bayi itu masih mungkin menyusukan anaknya, maka itulah yang terbaik. Hubungan psikologis antara si bayi dan ibunya akan terjalin dengan begitu mesra pada saat menyusukan si bayi tersebut. Si bayi merasa disayangi dan si ibu pun merasakan bahwa air susunya akan menjadi darah daging anaknya itu.  







DAFTAR PUSTAKA

Hakim Abdullah, Abdul. 1993. Keutamaan Air Susu Ibu, Alih Bahasa Abdul Rahman. Jakarta : Fikahati Aneska
Al-Sabuni, Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam. Beirut : Dar al-Kutub al-Islamiyah,tt
Deepak Chopra, David Simon, dan Vicki Abrams. 2006. Magical Beginnings : Panduan Holistik Kehamilan dan Kelahiran. Bandung : Kaifa
Yusuf al-Izazy, Adil . 1434 H. Fiqh Kehamilan : Panduan Hukum Islam Seputar Kehamilan, Janin, Aborsi dan Perawatan Bayi. Pasuruan : Hilal Pustaka
Mahjuddin. 2003. Masailul Fiqhiyah : Berbagai Kasus yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, Cet. V. Jakarta: Kalam Mulia
Zuhdi,  Masjfuk. 2000. Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, Cet. XI. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Qadim, Zallum, Abdul. 2003. Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam : Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Qardhawi, Yusuf. 2004. Ijtihad Kontemporer Kode Etik dan Berbagai Penyimpangan. Jakarta:Restu Ilahi
Husain Haekal, Muhammad. 2001. Hayat Muhammad. Jakarta : Pustaka Lintera Antarmusa
Bank ASI, htttp://9monthsmagazine.blogspot/bankasi.html.



[1] Abdul Hakim Abdullah, Keutamaan Air Susu Ibu, Alih Bahasa Abdul Rahman, (Jakarta : Fikahati Aneska, 1993), hlm. 30
[2] Al-Sabuni, Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam, (Beirut : Dar al-Kutub al-Islamiyah, t.t), hlm. 276
[3] Muhammad Husain Haekal, Hayat Muhammad, Alih Bahasa, Ali Audah, (Jakarta : Pustaka Lintera Antarmusa, 2001), hlm. 50-51
[4] Bank ASI, htttp://9monthsmagazine.blogspot/bankasi.html.
[5] Bank ASI, http://www.ictwomencom/article/3/2009. Diakses tanggal 21 September 2014
[6] Deepak Chopra, David Simon, dan Vicki Abrams, Magical Beginnings : Panduan Holistik Kehamilan dan Kelahiran (Bandung : Kaifa, 2006), hlm. 266 
[7] Adil Yusuf al-Izazy, Fiqh Kehamilan : Panduan Hukum Islam Seputar Kehamilan, Janin, Aborsi dan Perawatan Bayi, (Pasuruan : Hilal Pustaka, 1434 H), hlm. 190
[8] Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah : Berbagai Kasus yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, Cet. V, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm. 120 
[9] Ibid., hlm. 120
[10] Yusuf Qardhawi, Ijtihad Kontemporer Kode Etik dan Berbagai Penyimpangan, (Jakarta:Restu Ilahi, 2004), hlm. 23-24
[11] Ibid., hlm. 42
[12] Abdul Qadim, Zallum, Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam : Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 245
[13] Masjfuk, Zuhdi,  Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, Cet. XI, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000),  hlm. 312
[14] Ibid., hlm. 320
[15] Ibid.,

No comments:

Post a Comment