Sunday, September 28, 2014

Waria dan Setatusnya Dalam Islam

Waria dan Setatusnya Dalam Islam

Mahasiswa PascaSarjana UIN Maliki Malang
Pandu Setiawan, S.Pd.I

MatKul Fiqh Kontemporer
Dr. Hj. Tutik Hamidah, M.Ag
September, 2014






=============================================
BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu laki-laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٤٥)
“dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm: 45)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuuraat: 13)
Kedua ayat di atas, dan ayat-ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia di dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, laki-laki dan perempuan, dan tidak ada jenis lainnya.
Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki-laki dan bukan perempuan. Bagaimana Islam memandang orang tersebut? Bagaimana cara memperlakukannya? Apakah dia mendapatkan jatah warisan? Dan bagaimana pernikahannya? dan seabrek pertanyaan-pertanyaan lain yang timbul akibat status yang tidak jelas tersebut.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hukum islam memandang waria dan statusnya?

BAB II
PEMBAHASAN

A.       Deskripsi Masalah
Al Khuntsa, dari kata khanitsa yang secara bahasa berarti: lemah dan lembut. Maka dikatakan: Khannatsa Ar Rajulu Kalamahu, yaitu: laki-laki yang cara bicaranya seperti perempuan, yaitu lembut dan halus.[1]
Al-Khuntsa secara istilah adalah: seseorang yang mempunyai dua kelamin; kelamin laki-laki dan kelamin perempuan, atau orang yang tidak mempunyai salah satu dari dua alat vital tersebut, tetapi ada lubang untuk keluar air kencing.[2]
Khuntsa adalah istilah yang digunakan oleh para fuqaha' untuk menyebut orang yang mempunyai alat kelamin ganda, yang dalam bahasa Inggris disebut hermaphrodite, bisexual, androgyne, gynandromorph dan inter-ex (al-Ba'albakki, al-Maurid, bab Khuntsa). Dalam Mu'jam Lughat al-Fuqaha', karya Prof. Dr. Rawwas Qal'ah Jie, disebutkan bahwa Khuntsa adalah al-ladzi lahu alat ad-dzakari wa alat al-untsa (orang yang mempunyai kelamin pria dan wanita).[3]
Karena itu, khuntsa ini merupakan qadha' (ketetapan) yang diberikan oleh Allah yang tidak bisa dipilih oleh manusia. Kondisi ini berbeda dengan waria. Umumnya waria adalah kaum pria yang menyerupai wanita, baik dalam hal tutur kata, pakaian, gaya berjalan hingga penampilan fisik. Di antara mereka, bahkan ada yang telah melakukan operasi plastik untuk mendapatkan wajah yang mirip dengan perempuan; buah dada yang besar sebagaimana lazimnya perempuan; pinggul yang aduhai hingga operasi ganti kelamin. Kelamin mereka yang asalnya laki-laki dipotong, kemudian diganti menjadi perempuan.
Waria merupakan akronim dari wanita-pria, yaitu orangyang secara fisik adalah laki-laki normal. Namun secara psikis ia merasa dirinya adalah perempuan. Akibatnya, perilaku yang mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari cenderung mengarah kepada perempuan, baik dari cara berjalan, berbicara maupun berdandan (make up).[4]
Heuken berpendapat bahwa waria dalam konteks psikologis termasuk penderita transeksualisme, yaini seseorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas dan sempurna. Namun, secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis.[5]
Waria, menurut pakar kesehatan masyarakat dan pemerhati waria dr. Mamoto Gultom, adalah subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologi, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki.[6] Hal ini mengindikasikan bahwa dalam diri seorang waria telah terjadi krisis identitas.
Adapun waria atau dalam bahasa Arabnya disebut al Mukhannats adalah laki-laki yang menyerupai perempuan dalam kelembutan, cara bicara, melihat, dan gerakannya. Dalam kamus Wikipedia disebutkan bahwa waria (portmanteau dari wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari.
Islam memandang waria dengan pandangan yang proposional. Dalam syari’at Islam dikenal dua hal bekaitan dengan fenomena waria. Pertama, adalah istilah Khuntsa dan kedua adalah Takhannuts. Keduanya meski mirip, tetapi berbeda secara mendasar.
1.  Khuntsa adalah orang yang secara biologis berkelamin ganda, yakni laki-laki dan perempuan. Namun, diantara sekian banyak fenomena didunia ini, kasus ini tergolong sangat sedikit yang memiliki kelamin laki-laki dan kelamin wanita sekaligus. Muhammad Makhlif, dalam ensiklopedia hokum Islam, jika ditinjau dari segi dominasinya khuntsa ini dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu: (1) khuntsa musykil, seseorang yang memiliki kelamin ganda dan diantara dua kelaminnya tersebut berfungsi sama baiknya dan dominannya, sehingga sangat sulit sekali ditentukan jenis kelaminnya. (2) khuntsa ghoiru musykil, orang yang memiliki kelamin ganda, namun hanya salah saru kelaminnya saja yang dapat berfungsi dengan baik dan dominan.
2.  Takhannuts adalah orang yang berlagak atau berpura-pura menjadi khuntsa, padalah dari segi fisik dia punya organ kelamin yang jelas. Dalam syarah shohih Bukhori diungkapkan bahwa mukhannats dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, mukhannats yang memang diciptakan seperti itu (berperilaku sebagaimana perempuan namun memang merupakan sebuah kelainan yang diderita dari kecil). Kedua, mukhannats yang berperilaku sebagaimana perempuan namun hal itu karena terpaksa (dengan sengaja). Kategori yang kedua inilah yang kemudian dilaknat oleh Rosululloh saw., sebagaimana tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori.
Dari keterangan di atas, bisa dinyatakan bahwa waria bukanlah khuntsa. Karena waria statusnya sudah jelas, yaitu laki-laki, sedang khuntsa statusnya masih belum jelas.

B.       Dalil dan Metode memahami Dalil
Pada dasarnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu laki-laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٤٥)
“dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm: 45)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuuraat: 13)
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma , beliau berkata:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْالنِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dia berkata:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَالرَّجُلِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Daud No. 4098)

C.       Pendapat Ulama’ dan Hujjah Mereka
Menurut definisi yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullahu bahwa waria merupakan laki-laki yang menyerupai wanita dalam gerakan, gaya bicara dan sebagainya. Apabila hal tersebut merupakan asli dari penciptaan dia (dari lahir. Pent) maka dia tidak bisa disalahkan dan dia diharuskan menghilangkan hal tersebut. Dan apabila hal tersebut merupakan sesuatu yang datang dari keinginannya dan dia berusaha untuk bisa seperti itu maka hal tersebut merupakan sesuatu yang tercela dan dengan itu ditetapkanlah nama Al-Mukhannats (Waria) untuknya baik dia melakukan perbuatan kotor (Homoseksual) ataupun tidak.[7]
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma , beliau berkata:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْالنِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885)
Ath-Thabari rahimahullah memaknai sabda Nabi SAW., diatas dengan ucapan: “Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita. Dan tidak boleh pula sebaliknya (wanita menyerupai laki-laki).” Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: “Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun dalam penampilan/ bentuk pakaian maka ini berbeda-beda dengan adanya perbedaan adat kebiasaan pada setiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tidak membedakan model pakaian laki-laki dengan model pakaian wanita (sama saja), akan tetapi untuk wanita ditambah dengan hijab.
Pencelaan terhadap laki-laki atau wanita yang menyerupai lawan jenisnya dalam berbicara dan berjalan ini, khusus bagi yang sengaja. Sementara bila hal itu merupakan asal penciptaannya maka ia diperintahkan untuk memaksa dirinya agar meninggalkan hal tersebut secara berangsur-angsur. Bila hal ini tidak ia lakukan bahkan ia terus tasyabbuh dengan lawan jenis, maka ia masuk dalam celaan, terlebih lagi bila tampak pada dirinya perkara yang menunjukkan ia ridla dengan keadaannya yang demikian.”
Al-Hafidz rahimahullah mengomentari pendapat Al-Imam An-Nawawi rahimahullah yang menyatakan mukhannats yang memang tabiat/ asal penciptaannya demikian, maka celaan tidak ditujukan terhadapnya, maka kata Al-Hafidz rahimahullah, hal ini ditujukan kepada mukhannats yang tidak mampu lagi meninggalkan sikap kewanita-wanitaannya dalam berjalan dan berbicara setelah ia berusaha menyembuhkan kelainannya tersebut dan berupaya meninggalkannya. Namun bila memungkinkan baginya untuk meninggalkan sifat tersebut walaupun secara berangsur-angsur, tapi ia memang enggan untuk meninggalkannya tanpa ada udzur, maka ia terkena celaan.” (Fathul Bari, 10/345)
Dalam masalah laki-laki menyerupai wanita ini, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan laki-laki dan perempuan di mana masing-masingnya Dia berikan keistimewaan. Laki-laki berbeda dengan wanita dalam penciptaan, watak, kekuatan, agama dan selainnya. Wanita demikian pula berbeda dengan laki-laki. Siapa yang berusaha menjadikan laki-laki seperti wanita atau wanita seperti laki-laki, berarti ia telah menentang Allah dalam qudrah dan syariat-Nya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hikmah dalam apa yang diciptakan dan disyariatkan-Nya. Karena inilah terdapat nash-nash yang berisi ancaman keras berupa laknat, yang berarti diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, bagi laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) dengan wanita atau wanita yang tasyabbuh dengan laki-laki. Maka siapa di antara laki-laki yang tasyabbuh dengan wanita, berarti ia terlaknat melalui lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula sebaliknya….” (Syarah Riyadhish Shalihin, 4/288)
Dan hikmah dilaknatnya laki-laki yang tasyabbuh dengan wanita dan sebaliknya, wanita tasyabbuh dengan laki-laki, adalah karena mereka keluar/menyimpang dari sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk mereka. (Fathul Bari, 10/345-346)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila seorang laki-laki tasyabbuh dengan wanita dalam berpakaian, terlebih lagi bila pakaian itu diharamkan seperti sutera dan emas, atau ia tasyabbuh dengan wanita dalam berbicara sehingga ia berbicara bukan dengan gaya/ cara seorang lelaki (bahkan) seakan-akan yang berbicara adalah seorang wanita, atau ia tasyabbuh dengan wanita dalam cara berjalannya atau perkara lainnya yang merupakan kekhususan wanita, maka laki-laki seperti ini terlaknat melalui lisan makhluk termulia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Dan kita pun melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah Riyadhish Shalihin, 4/288)
Perbuatan menyerupai lawan jenis secara sengaja haram hukumnya dengan kesepakatan yang ada (Fathul Bari, 9/406) dan termasuk dosa besar, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dan selainnya mengatakan: “Dosa besar adalah semua perbuatan maksiat yang ditetapkan hukum had-nya di dunia atau diberikan ancaman di akhirat.” Syaikhul Islam menambahkan: “Atau disebutkan ancaman berupa ditiadakannya keimanan (bagi pelakunya), laknat9, atau semisalnya.” (Mukhtashar Kitab Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 7)
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu memasukkan perbuatan ini sebagai salah satu perbuatan dosa besar dalam kitab beliau yang masyhur Al-Kabair, hal. 145.
Dalam hal hukum mukhannats memandang wanita ajnabiyyah (non mahram), fuqaha terbagi dua pendapat:
Pertama: mukhannats dihukumi sama dengan laki-laki jantan yang berselera terhadap wanita. Demikian pendapat madzhab Al-Hanafiyyah terhadap mukhannats yang bersengaja tasyabbuh dengan wanita padahal memungkinkan bagi dirinya untuk merubah sifat kewanita-wanitaannya tersebut. Sebagian Al-Hanafiyyah juga memasukkan mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita karena asal penciptaannya walaupun ia tidak berselera dengan wanita, demikian pula pendapat Asy-Syafi’iyyah. Adapun madzhab Al-Hanabilah berpandangan bahwa mukhannats yang memiliki syahwat terhadap wanita dan mengetahui perkara wanita maka hukumnya sama dengan laki-laki jantan (tidak kewanita-wanitaan) bila memandang wanita.
Dalil yang dipegangi oleh pendapat pertama ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصاَرِهِمْ
Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka….” (QS. An-Nur: 30)
Adapun dalil yang mereka pegangi dari As Sunnah adalah hadits Ummu Salamah dan hadits Aisyah ra., tentang mukhannats yang menggambarkan tubuh seorang wanita di hadapan laki-laki sehingga Rasulullah saw., melarang mukhannats ini masuk menemui istri-istri beliau.
Kedua: mereka berpandangan bahwa mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita karena memang asal penciptaannya demikian (tidak bersengaja tasyabbuh dengan wanita) dan ia tidak berselera/ bersyahwat dengan wanita, bila ia memandang wanita ajnabiyyah maka hukumnya sama dengan hukum seorang lelaki bila memandang mahram-mahramnya. Sebagian Al-Hanafiyyah berpendapat boleh membiarkan mukhannats yang demikian bersama para wanita. Namun si wanita hanya boleh menampakkan tubuhnya sebatas yang dibolehkan baginya untuk menampakkannya di hadapan mahram-mahramnya dan si mukhannats sendiri boleh memandang wanita sebatas yang diperkenankan bagi seorang lelaki untuk memandang wanita yang merupakan mahramnya. Demikian yang terkandung dari pendapat Al-Imam Malik rahimahullahu dan pendapat Al-Hanabilah.
Dalil mereka adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجاَلِ
“atau laki-laki yang mengikuti kalian yang tidak punya syahwat terhadap wanita.”
Di antara ulama salaf ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan:
غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ

(yang tidak punya syahwat terhadap wanita) adalah mukhannats yang tidak berdiri kemaluannya.
Dari As Sunnah, mereka berdalil dengan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha (yang juga menjadi dalil pendapat pertama). Dalam hadits Aisyah ini diketahui bahwa Nabi saw., pada awalnya membolehkan mukhannats masuk menemui istri-istri beliau karena menyangka ia termasuk laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita. Namun ketika beliau mendengar mukhannats ini tahu keadaan wanita dan sifat mereka, beliau pun melarangnya masuk menemui istri-istri beliau karena ternyata ia termasuk laki-laki yang berselera dengan wanita. Inilah pendapat yang rajih, insya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun bila si mukhannats punya syahwat terhadap wanita, maka hukumnya sama dengan laki-laki jantan yang memandang wanita ajnabiyyah. (Fiqhun Nazhar, hal. 172-176)

Komisi Fatwa MUI dalam sidangnya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1418 H, bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1997 tentang masalah waria, memfatwakan tentang “Kedudukan Waria”.

Memperhatikan:
1. Surat dari Ditjen Bina Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI, nomor: 1942/BRS-3/IX/97, tanggal 15 September 1997, yang berisi, antara lain:
a. Penjelasan bahwa secara fisik waria, yang populasinya cukup banyak (9,693 orang), adalah laki-laki, namun secara kejiwaan mereka adalah wanita.
b. Penjelasan bahwa masalah waria semakin berkembang, di antaranya berkenaan dengan keberadaan mereka, baik secara kejiwaan maupun sosial ekonomi dan perilaku yang cenderung bertindak tuna susila. Mereka tergabung dalam sebuah organisasi waria yang muncul dari 14 propinsi, bemama Himpunan Waria Musyawarah Keluarga Gotong Royong (HIWARIA MKGR).
c.  Mereka meminta kepada Ditjen Bina Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI diakui identitas dan keberadaannya sebagai kodrat yang diberika oleh Allah SWT.
2.  Pendapat para peserta sidang, yang antara lain menyatakan :
a. Waria adalah orang adalah laki-laki, namun bertingkah laku (dengan sengaja) seperti wanita. Oleh karena itu, waria bukanlah Khunsa sebagaimana dimaksud dalam hukum Islam.
b.  Khunsa adalah orang yang memiliki dua alat kelamin laki-laki dan perempuan atau tidak mempunyai alat kelamin sama sekali (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-lslami wa Adillatuh, VIH:426).

Mengingat:
Hadist Nabi SAW. yang menyatakan bahwa laki-laki berperilaku dan berpenampilan seperti wanita (dengan sengaja), demikian juga sebaliknya, hukumnya adalah haram dan dilarang agama.
Hadist menegaskan: "Dari Ibnu Abbas, is berkata: “Nabi SAW melaknat laki-laki yang berpenampilan perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki” (HR. Bukhari).
Atas dasar hal-hal tersebut diatas, maka dengan memohon taufiq dan hidayah kepada Allah S WT ,

MEMUTUSKAN
1. Memfatwakan:
a. Waria adalah laki-laki dan tidak dapat dipandang sebagai kelompok (jenis kelamin) tersendu
b.  Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diupayakan untuk dikembalikan pada kodrat semula.
2.  Menghimbau kepada :
a. Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial RI untuk membimbing para waria agar menjadi orang yang normal, dengan menyertakan para psikolog.
b. Departemen Dalam Negeri RI dan instansi terkait lainnya untuk membubarkan organisasi waria.
3.  Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan bila kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.

Negara asal : Indonesia
Negeri : Jakarta
Badan yang mengisu fatwa : Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Penulis/Ulama : 1. Prof. KH. Ibrahim Hosen 2. KH. Hasan Basri 3. Drs. HA. Nazri Adlani
Tarikh Diisu : 1 Nopember 1997

Nota: Ketua Fatwa MUI : Prof. KH. Ibrahim Hosen
Ketua Umum : KH. Hasan Basri
Sekretaris umum Drs. HA. Nazri Adlani
Jakarta, Indonesia
1 Nopember 1997
DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA

Sesuai fatwa MUI diatas, maka wajib bagi waria untuk “mengembalikan” dirinya ke kodrat awalnya, yakni laki-laki dan yang dikatakan menyimpang menurut fatwa diatas adalah seperti hadits Nabi diatas : “Nabi SAW. melaknat laki-laki yang berpenampilan perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki”.

D.       Analisis Pendapat Ulama’
Pada hakikatnya, masalah kebingungan jenis kelamin atau yang lazim disebut juga sebagai gejala transseksualisme ataupun transgender merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidakpuasan dengan alat kelamin yang dimilikinya. Ekspresinya bisa dalam bentuk dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi penggantian kelamin (Sex Reassignment Surgery). Dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) – III, penyimpangan ini disebut sebagai juga gender dysporia syndrome. Penyimpangan ini terbagi lagi menjadi beberapa subtipe meliputi transseksual, a-seksual, homoseksual, dan heteroseksual.
Tanda-tanda transseksual yang bisa dilacak melalui DSM, antara lain: perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan salah satu anatomi seksnya; berharap dapat berganti kelamin dan hidup dengan jenis kelamin lain; mengalami guncangan yang terus menerus untuk sekurangnya selama dua tahun dan bukan hanya ketika dating stress; adanya penampilan fisik interseks atau genetik yang tidak normal; dan dapat ditemukannya kelainan mental semisal schizophrenia yaitu menurut J.P. Chaplin dalam Dictionary of Psychology (1981) semacam reaksi psikotis dicirikan di antaranya dengan gejala pengurungan diri, gangguan pada kehidupan emosional dan afektif serta tingkah laku negativisme.
Transeksual dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen) dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada masa pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma, trauma pergaulan seks dengan pacar, suami atau istri. Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada kasus transseksual karena keseimbangan hormon yang menyimpang (bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan lawan jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu yang menyimpang dan tidak dibenarkan menurut syariat Islam.
Serangkaian konflik yang dialami kaum waria di berbagai tempat di Indonesia, tidak lepas dari sebuah tatanan politik dan demokratisasi yang semakin terbuka. Keberanian waria dalam berekspresi dan pada saat yang sama terjadi tekanan massif yang dilakukan terhadap kaum waria, merupakan sebuah konstruksi sosial politik terkini dari wajah keterbukaan di Indonesia.
Selanjutnya dikatakan bahwa perbedaan etnis, perbedaan politis dan kehadiran waria bukan hal yang penting pada masa lalu. Tetapi kemudian dihadirkan kembali pada masa kini dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang semakin tinggi. Untuk mengatasi setiap permasalahan waria yang telah dianggap sebagai problem sosial, menurut Koeswinarno, tidak dapat diselesaikan hanya dengan peraturan normatif, seperti fatwa, undang-undang atau pelarangan pelarangan yang lainnya.
Karena dalam Islampun posisi waria masih ambigu dan mengalami perdebatan, yang memerlukan pemikiran komprehensif. Koeswinarno menyatakan, sebagai makhluk sosial, kedudukan waria sejajar dengan manusia lain. Kecuali ketakwaannya kepada Allah. Ia kemudian mengutip hadis riwayat Abu Dawud yang menyebutkan, pada jaman Nabi Muhammad SAW, pernah muncul kaum waria, kemudian mereka diasingkan ke Kota Naqi. Dan pada Hari Jum’at mereka diperbolehkan masuk ke kota untuk mencari nafkah. Ketika seorang sahabat nabi bertanya; apakah boleh kaum waria dibunuh? Nabi melarangnya jika mereka melakukan salat. Maka untuk memahami waria, ujar Koeswinarno, diperlukan dua pemahaman penting, yakni; pemahaman persoalan sosial dan syari’ah. Sehingga diperoleh penyelesaian secara komprehensif.
Sebagai makhluk Tuhan, waria juga memiliki hak untuk melakukan interpretasi agama. Tidak ada seorangpun yang ingin hidup sebagai waria. Kalaupun kemudian terperangkap sebagai waria, tidak berarti hak hak dan kewajiban keagamaan mereka terhapus.
Disamping menjadi indikasi kesadaran religius, munculnya aktivitas keberagamaan kaum waria di Jogja ternyata menjadi salah satu alat penting untuk memperjuangkan eksistensi mereka yang masih termarginalkan. Pada tahun tahun 1970-1990-an, kaum waria memperjuangan eksistensinya dengan berbagai strategi sosial, diantaranya; melalui kegiatan berkesenian, olahraga dan organisasi.
Di beberapa kota seperti Surabaya, Malang dan Jakarta, kaum waria telah memiliki kegiatan keagamaan yang relatif mapan. Bahkan kegiatan-kegiatan tersebut telah diwadahi dalam sebuah yayasan, ujar Koeswinarno seraya menyebutkan, masyarakat memang telah terlanjur menstereotipkan waria dengan jalanan, sehingga ketika ditemui ada aktifitas religius pada diri mereka, masyarakat masih cenderung bersikap sinis, meski sebagian masyarakat lainnya merespon positis, kata Koeswinarno.
Menteri Agama RI, Surya Dharma Ali menjelaskan, Pemerintah tak akan melegitimasi perkawinan sejenis, baik oleh waria, lesbian atau gay. “Kita tidak akan toleransi dan benarkan,” kata Surya Dharma Ali. Sikap tegas itu diambil, kata Menag, karena perkawinan sejenis bertentangan dengan ajaran agama manapun. Agama tidak hanya menentang penyimpangan perilaku seksual, tetapi juga mencegah agar penyimpangan tersebut tidak terjadi lagi dan semakin  berkembang. Larangan berperilaku layaknya laki-laki atau perempuan merupakan bentuk pencegahan terjadinya penyimpangan itu.
Menurut Menag, keberadaan waria mengindikasikan kegagalan keluarga sebagai institusi pendidikan anak. Dalam hal ini, pola asuh anak yang baik gagal diterapkan dalam keluarga. Sisi inilah yang menjadi tantangan semua pihak, termasuk kementerian agama. “Dalam gerakan pengembangan keluarga sakinah, fungsi keluarga harus terwujud,”kata Surya Dharma Ali.

E.       Pendapat yang dipilih dan Hujjah yang digunakan
Dalam mencermati fenomena waria yang marak di kota-kota besar saat ini, muncullah pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat terhadap fenomena tersebut. Bagaimana pandangan hokum Islam terhadap fenomena waria? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penyusun memilih satu diantara beberapa pendapat yang telah di kemukakan pada bab-bab sebelumnya, yaitu penyusun cenderung kepada pendapat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1418 H, bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1997 tentang masalah waria dan kedudukannya, memutuskan:
1. Memfatwakan:
a. Waria adalah laki-laki dan tidak dapat dipandang sebagai kelompok (jenis kelamin) tersendiri.
b.  Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diupayakan untuk dikembalikan pada kodrat semula.
2. Menghimbau kepada :
a. Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial RI untuk membimbing para waria agar menjadi orang yang normal, dengan menyertakan para psikolog.
b. Departemen Dalam Negeri RI dan instansi terkait lainnya untuk membubarkan organisasi waria.
Pemberian fatwa mengenai waria (al-mukhannats) dan status atau kedudukannya sudah ada pada masa Rosululloh saw. Jadi, sudah sangat jelas sekali dalam al qur’an dan al hadits bahwa waria itu sama sekali berbeda dengan khuntsa baik perlakuan maupun hukumnya.
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian mengenai waria dan statusnya dalam hokum Islam diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Waria adalah orang adalah laki-laki, namun bertingkah laku (dengan sengaja) seperti wanita. Oleh karena itu, waria bukanlah Khunsa sebagaimana dimaksud dalam hukum Islam.
2.      Khunsa adalah orang yang memiliki dua alat kelamin laki-laki dan perempuan atau tidak mempunyai alat kelamin sama sekali (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-lslami wa Adillatuh, VIH:426).
3.      Hadist Nabi SAW. yang menyatakan bahwa laki-laki berperilaku dan berpenampilan seperti wanita (dengan sengaja), demikian juga sebaliknya, hukumnya adalah haram dan dilarang agama. Hadist tersebut menegaskan: "Dari Ibnu Abbas, is berkata: “Nabi SAW melaknat laki-laki yang berpenampilan perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki” (HR. Bukhari).




DAFTAR RUJUKAN


al Fayumi, al-Misbah al Munir. 2003. Kairo: Daar al Hadist

az-Zuhaili, Wahbah. 1997. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Damaskus: Dar al-Fikr

Hesti Puspitorini dan Sugeng Pujilaksono. 2005. Waria dan Tekanan Sosial. Malang: UMM Press

Heuken, A. 1979. Ensiklopedeia Etika Medis. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka

http://elgehady.blogspot.com/2011/12/pandangan-islam-untuk-gay-waria-dan.html - 27 Desember 2011 di akses pada tanggal 23 September 2014

Ibnu Dzulkifli As-Samarindy, Waria dalam Syari’at Islam,  (http://assamarindy.wordpress.com/2011/09/19/waria-dalam-syariat-islam/,2011) di akses pada tanggal 24 September 2014

Koeswinarno.2004. Hidup sebagai Waria. Yogyakarta: LKiS



[1] al Fayumi, al-Misbah al Munir - Kairo, Daar al Hadist, 2003,- hlm : 112
[2] al Mawardi, al Hawi al Kabir : 8/ 168 , Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al Islami wa Adilatuhu: 8 / 426
[3] http://elgehady.blogspot.com/2011/12/pandangan-islam-untuk-gay-waria-dan.html - 27 Desember 2011 di akses pada tanggal 23 September 2014
[4] Koeswinarno, Hidup sebagai Waria,(Yogyakarta: LKiS, 2004), hlm. 1
[5] Heuken, A., Ensiklopedeia Etika Medis, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1979), dalam Koeswinarno, Hidup sebagai Waria, hlm. 12
[6] Hesti Puspitorini dan Sugeng Pujilaksono, Waria dan Ttekanan Sosial, (Malang: UMM Press, 2005), hlm. 1
[7]Ibnu Dzulkifli As-Samarindy, Waria dalam Syari’at Islam,  (http://assamarindy.wordpress.com/2011/09/19/waria-dalam-syariat-islam/,2011) di akses pada tanggal 24 September 2014

No comments:

Post a Comment