Thursday, October 2, 2014

BISNIS MLM (MULTI LEVEL MARKETING) DALAM PERSPEKTIF ISLAM


BISNIS MLM (MULTI LEVEL MARKETING)
DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Kontemporer

Dosen Pengampu:
 Dr. Tutik Hamidah, M. Ag
                                                                                  
                                                                            Oleh:
                      Khoirun Nisa’S.Pd.I
                        13770020


JURUSAN MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
September, 2014
   



==============================================



KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: BISNIS MLM (MULTI LEVEL MARKETING) DALAM PERSPEKTIF ISLAM.
Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Allah SWT dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Bisnis Multi Level Marketing dalam sudut pandang Islam. Makalah ini di susun oleh penulis dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan tepat waktu dan oleh karenanya, penulis dengan kerendahan hati menerima dan meminta keterlibatan serta kesediaan pembaca memberikan masukan, saran dan usul dalam proses makalah ini dan bagi penulis khususnya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.



Malang, 28 September 2014


                                                                                                             Penulis


DAFTAR ISI
Cover ........................................................................................................................
Kata Pengantar .......................................................................................................
Daftar Isi ..................................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN......................................................................................
A.    Latar Belakang Masalah ..................................................................................
B.     Rumusan Masalah ............................................................................................
BAB II: PEMBAHASAN........................................................................................
A.    Deskripsi Masalah ............................................................................................
B.     Dalil dan Metode Memahami Dalil Hukum Bisnis MLM ...............................
C.     Pendapat Ulama dan Hujjah Mereka ...............................................................
D.    Analisis Pendapat Ulama .................................................................................
E.     Pendapat yang dipilih dan Hujjah yang digunakan .........................................
BAB III: PENUTUP................................................................................................
A.    Kesimpulan ......................................................................................................
DAFAR PUSTAKA            




BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya (hablum minallah), melainkan hubungan antara manusia dan sesamanya (hablum minannas).[1] Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Terlebih dalam hal menjalankan tugasnya sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, suatu tugas yang tidak dapat diemban oleh semua makhluk meskipun malaikat sebagai hamba Allah SWT.yang taat menjalankan perintah-Nya. Dalam melaksanakan  kekhalifahannya itu, Allah SWT. menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Perbedaan tersebut diberikan pada manusia antara lain seperti akal, nafsu, naluri, ilmu dan agama. Dengan kelebihan tersebut segala aktivitas yang dilakukan oleh  manusia memiliki aturan pokok yang telah diatur di dalam syari’at Islam.
Beberapa firman-Nya dalam Al Qur'an, Allah SWT. memerintahkan kepada manusia untuk bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dari pekerjaan yang ringan sampai pada pekerjaan yang berat. Semuanya dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti dalam Q.S. Al Jumuah: 11

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
         
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.[2] 

Berbagai inovasi pelaku dunia usaha terutama perdagangan dalam upaya untuk menciptakan srrategi yang tepat untuk membidik konsumen. Strategi pemasaran yang menjadi kunci pokok keberhasilan dalam perkembangan produk untuk sampai pada konsumen terus berusaha mengembangkan pemasaran yang awalnya hanya dapat menawarkan  barang atau jasa.
Dunia semakin maju, teknologi semakin canggih dan sistem perdagangan pun semakin banyak, semarak dan beraneka ragam. Kaum kafir memang masih menguasai ekonomi, bisnis dan perdagangan dunia. Umat Islam masih jauh ketinggalan, bahkan nampak semakin tercekik, tidak bisa banyak berbuat, apalagi mengamalkan dan mempraktikkan hukum-hukum Islam.
            Sejak beberapa tahun ini, muamalah MLM (Multi Level Marketing) semakin marak dan banyak diminati orang, lantaran perdagangan dan muamalah dengan sistem MLM ini menjanjikan kekayaan yang melimpah tanpa banyak modal dan tidak begitu ruwet. Betulkah yang mereka harapkan itu terjadi? Jaringannya tersebar di seluruh dunia, tidak terkecuali negara tercinta kita Indonesia. Mungkin jika kita bertanya kepada orang, apa sih MLM itu?  Mereka sudah banyak yang tahu dan bisa memberikan jawabannya dengan mendetail. Tetapi jika kita bertanya, apa sih sebenarnya hukum muamalah MLM itu? Mungkin tidak banyak yang bisa atau bersedia menjawabnya, apalagi menjawabnya dengan jujur dan sesuai dengan hukum Islam.  
Multi level marketing adalah jalur alternatif bagi suatu perusahaan, dengan model MLM merupakan salah satu cara pemasaran untuk menjual barang secara langsung (direct selling). Direct selling sendiri, pengertiannya adalah penjualan barang dan atau jasa tertentu kepada konsumen dengan cara tatap muka dalam jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh Mitra Usaha dan bekerja berdasarkan komisi penjualan, bonus penjualan dan iuran keanggotaan yang wajar.
Di Indonesia, istilah MLM dikenal pada awal tahun 1980an. Dan pada tahun 1984 terdapat Asosisasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) yang menjadi suatu organisasi yang merupakan wadah persatuan dan kesatuan tempat berhimpun para perusahaan penjualan langsung, termasuk perusahaan yang menjalankan penjualan dengan system berjenjang (Multi Level Marketing) di Indonesia.
MLM sendiri masuk kategori dalam bab Muamalat, yang mana pada dasarnya berhukum mubah atau boleh. Hal tersebut merujuk kepada kaidah yaitu
الأصل فى الأشياء الإباحة  
bahwa hukum segala sesuatu itu pada asalnya adalah boleh. Hal tersebut maksudnya adalah dalam masalah muamalat. Sampai nanti ada hal-hal yang ternyata dilarang atau diharamkan dalam syariah Islam.
Dan dalam perkembangan MLM di Indonesia, terdapat pro kontra di antara para ulama ahli fiqih, hingga Majelis Ulama Indonesia juga aktif memberikan kepastian status hukum terhadap perdagangan berbasis MLM yang menjamur di Indonesia. Namun pembahasan dan pengawasan perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistem Multi level marketing tetap harus diamati sehingga tidak ada keresahan di tengah umat Islam terhadap bisnis MLM yang terus berkembang.
Bisnis MLM dalam Islam sering terjadi kontroversi dan juga tidak ada hukum yang pasti menjelaskan tentang bisnis MLM, apakah diperbolehkan atau tidak. Untuk itu, makalah ini akan membahas tentang bisnis MLM dalam perspektif hukum Islam.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, muncul beberapa masalah baru dalam kajian hukum Islam. Maka penulis memberikan rumusan, Seperti apa sistem kerja dalam bisnis MLM? Bagaimana Bisnis MLM dalam perspektif hukum Islam ?















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Masalah
Secara Etimologi Multi Level Marketing (MLM) berasal dari bahasa Inggris Multi berarti banyak sedangkan level berarti jenjang atau tingkat. Adapun marketing berarti pemasaran. Jadi dari kata tersebut dapat dipahami bahwa MLM adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Disebut sebagai “Multi Level” karena merupakan suatu organisasi distributor yang melaksanakan penjualan yang berjenjang banyak atau bertingkat-tingkat.[3] Dalam pengertian “Marketing” sebenarnya tercakup arti menjual dan selain arti menjual, dalam marketing banyak aspek yang berkaitan dengannya antara lain ialah produk, harga, promosi, distribusi dan sebagainya. Jadi “Marketing” lebih luas maknanya dari menjual. Menjual merupakan bagian dari “Marketing” karena menjual hanyalah kegiatan transaksi penukaran barang dengan uang.[4] Andrias Harefa, dalam bukunya menyatakan bahwa inti dari bisnis Multi Level Marketing adalah Meet, Lear, and Multiply. Dalam bahasa Indonesia berarti bertemu, belajar, dan berlipatganda.
Bisnis MLM atau juga dikenal dengan sebutan Network Marketing adalah suatu bentuk pendistribusian produk, baik berupa barang atau jasa.[5]
Hafidz Abdurrahman dalam tulisannya menyatakan bahwa Multi level marketing secara harfiah adalah pemasaran yang dilakukan secara banyak tingkatan, terdapat istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat bawah).[6] Up line dan down line merupakan suatu hubungan pada dua level yang berbeda, yakni ke atas dan ke bawah, dan jika seseorang disebut up line, maka ia mempunyai down line, baik satu maupun lebih.
Untuk masuk dalam jaringan bisnis pemasaran Multi level Marketing, biasanya setiap orang harus menjadi member (anggota jaringan) terlebih dahulu, ada juga yang diistilahkan dengan sebutan distributor, kadangkala membership tersebut dilakukan dengan mengisi formulir pendaftaran keanggotaan dengan membayar sejumlah uang pendaftaran, disertai dengan pembelian produk tertentu agar anggota tersebut mempunyai point, dan kadang tanpa pembelian produk. Dalam hal ini, memperoleh point adalah sangat penting, karena suatu perusahaan MLM menjadikan point sebagai ukuran besar kecilnya bonus yang diberikan. Point tersebut bisa dihitung berdasarkan pembelian langsung, atau tidak langsung. Kegiatan pembelian langsung biasanya dilakukan oleh masing-masing anggota, sedangkan pembelian tidak langsung biasanya dilakukan oleh jaringan keanggotaannya. Dari sinilah, nantinya muncul istilah bonus jaringan. Karena dua kelebihan tersebut, bisnis MLM diminati banyak kalangan.
Sistem pemasaran Multi Level Markting ditemukan oleh dua orang profesor pemasaran dari Universitas Chicago pada tahun 1940-an. Produk pertama yang dipasarkan adalah vitamin dan makanan tambahan Nutrilite. Dan pada saat itu, perusahan Nutrilite Products Inc. merupakan salah satu perusahaan di Amerika yang dikenal telah menggunakan metode penjualan secara bertingkat. Dengan modal awal yang tidak begitu besar, seseorang dapat menjual dan bisa mendapatkan penghasilan melalui dua cara. Pertama, Keuntungan diperoleh dari setiap program makanan tambahan yang berhasil dijual ke konsumen. Kedua, dalam bentuk potongan harga dari jumlah produk yang berhasil dijual oleh distributor yang direkrut dan dilatih oleh seorang tenaga penjual dari perusahaan.[7]
Di Indonesia, terdapat lebih dari 600 perusahaan yang mengatasnamakan dirinya menggunakan MLM, antara lain : Ahadnet, K-Link, CNI Herbalife, HPA, Tupperware, dan lain-lain. Dan untuk mengetahui atau mengenal satu persatu  perusahaan yang menggunakan sistem ini, tentulah membutuhkan waktu yang panjang namun suatu perusahaan dapat memberikan penjelasan secara utuh tentang program-program perusahaan tersebut melalui buku atau presentasi.
Jika berbicara mengenai sistem Multi Level Marketing (MLM), banyak orang yang mengaku bahwa mereka mengetahui sistem MLM karena terlibat aktif dalam salah satu kegiatan perusahaan Multi Level Marketing. Tetapi bila ditanya mengenai sistem pemasaran MLM, maka segera dapat diketahui bahwa sebagian besar orang yang terlibat dalam bisnis MLM, belum mengetahui karakteristik bisnis yang ada pada MLM. Bagi mereka yang terpenting adalah bahwa sistem MLM itu terbukti mampu mendatangkan penghasilan yang besar tanpa memerlukan modal yang besar. Dan hal ini sudah cukup menjadi alasan bagi mereka untuk terjun menekuni bisnis MLM.
Sejak pertengahan tahun 1997, krisis ekonomi melanda sebagian negara-negara di kawasan Asia, akibat krisis yang berkepanjangan, banyak perusahaan yang tidak lagi mampu melanjutkan usahanya. Dalam keadaan tidak menentu seperti itu, muncul bisnis MLM yang omzet penjualannya tidak banyak terpengaruh oleh krisis ekonomi, semakin hari omzetnya semakin meningkat. Sampai-sampai ada perusahaan MLM yang merevisi target penjualan tahunannya. Target yang seahrusnya dicapai pada bulan Desember, malah sudah tercapai pada bulan September. Mitra kerjanya mendapatkan hasil yang lebih dan apa yang diterimanya selama ini. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang meninggalkan profesi terdahulunya untuk menekuni bisnis MLM secara total, tidak peduli jabatan terhormat yang dipegangnya selama ini mereka tanggalkan dengan sukarela.
Kalau orang berpendidikan yang berhasil di bisnis MLM ini, maka orang lain tidak heran karena pengetahuan yang ia miliki sangat menunjang. Namun jika seorang tukang sol sepatu, penjual mie bakso yang tidak memiliki pendidikan tinggi kemudian berhasil di bisnis ini, berarti ada hal yang istimewa di bisnis MLM itu sendiri. Ada seorang guru dalam tempo setengah tahun saja, telah berpenghasilan tiga jutaan perbulan dari bisnis ini, bahkan seorang mahasiswa pun mampu berpenghasilan puluhan juta. Keberhasilan bisnis dalam bidang MLM ini perlu mendapatkan perhatian oleh semua kalangan.
Inilah salah satu sebab utama mengapa bisnis MLM menjadi kontroversial, tidak saja di Indonesia tetapi juga di negara lainnya. Pro dan kontra mengenai bisnis MLM masih terus berlangsung. Hanya orang yang telah berhasil dalam bisnis ini yang menjadi pendukung setia MLM sementara sebagian lainnya cenderung menerima kehadiran bisnis MLM dengan sikap acuh dan bahkan negatif terhadapnya.
Masalah kemudian menjadi rumit karena pihak yang berwenang (pemerintah) tidak memiliki ahli yang memahami seluk beluk bisnis ini dengan komprehensif, sehingga aparat berwenang yang mengatur izin usaha (termasuk Notaris dan pejabat di instansi terkait) tidak mampu bertindak tegas untuk menolak memberikan izin usaha kepada perusahaan yang berkedok MLM yang sesungguhnya bukan sama sekali perusahaan MLM.
B.  Dalil dan Metode Memahami Dalil Hukum Bisnis MLM
Semua bisnis termasuk yang menggunakan sistem MLM dalam literatur syari’ah Islam pada dasarnya termasuk kategori mu’amalat yang dibahas dalam bab Al-Buyu’ (Jual-beli) yang hukum asalnya dari aspek hukum jual-belinya secara prinsip boleh berdasarkan kaidah Fiqih sebagaimana dikemukakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Bisnis dalam syari’at Islam pada dasarnya termasuk dalam kategori muamalah yang hukum asalnya adalah boleh.
أنّ الأصلَ في العبادات البُطْلاَنُ إلاَّ ما شَرَعَهُ اللّه ورسولُه، وعَكْسُ هذا، العُقُوْدُ والْمَطَاعِمُ، الأَصْلُ فيها الصحّةُ والحِلُّ إلاّ ما أَبْطَلَهُ اللّه ورسولُه
“Pada dasarnya semua ibadah hukumnya batil (haram), kecuali apa yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan sebaliknya, dalam semua transaksi (‘aqad, muamalah) dan makanan pada dasarnya sah dan halal, kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya”.  
Berdasarkan kaedah fiqih di atas, terlihat jelas bahwa dalam wilayah muamalah, Islam memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem, teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan atau bisnis lainnya. Selama muamalah itu tidak melanggar prinsip-prinsip syari’ah, maka hukumnya diperbolehkan.
Namun syari’at mempunyai prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pengembangan sistem sebuah bisnis, agar dalam usaha menghasilkan keuntungan tidak dilakukan secara batil. Dalam firman-Nya ditegaskan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 ﴿ النساء : ٢٩
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (QS. An-Nisa’: 29)
Ada beberapa hal prinsip yang harus dihindari dalam sebuah bisnis, Ibn Rusyd dalam kitab Bidāyah al-Mujtahid mengatakan :
أسبابُ الفَسَادِ العامَّةِ وَجَدْتَ أربعة: أحدُها: تَحْرِيْمُ عَيْنِ المَبِيْع، والثاني: الربا، والثالث: الغَرَرُ، والرابع: الشروط التي تَؤُولُ إلى أحد هذين أو لمجموعهما.
“Sebab-sebab umum rusaknya (bisnis) ada empat: Pertama, benda yang diperjual-belikan haram. Kedua, riba. Ketiga, gharar (penipuan). Dan keempat, terdapat unsur-unsur yang dapat mengarah kepada salah satu dari keduanya (riba dan gharar) atau keduanya sekaligus”.
Keempat hal di atas merupakan hal-hal pokok yang dapat menjadikan sebuah bisnis menjadi haram dari dalam ‘aqad bisnis itu sendiri. Adapun hal di luar ‘aqad yang menyebabkan terlarangnya bisnis antara lain: al-ghasy (penipuan, pemalsuan), al-dlarar (membahayakan), waktu terlarang untuk bertransaksi, dan kriteria pelaku yang tidak diperbolehkan melakukan transaksi. Sebuah bisnis atau usaha apapun juga menjadi haram jika dilakukan atas dasar spekulasi yang tinggi atau adu nasib, karena hal ini tergolong perjudian (maysir) yang jelas-jelas dilarang dalam firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 95:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ
﴿ المائدة : ٩٥
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu” (QS. Al-Māidah: 90)
Ibn Sîrîn memberikan batasan maysir sebagai berikut :
كُلُّ شيء فـيه خَطَرٌ فهو مِن الْمَيْسِرِ
“Segala hal yang di dalamnya terdapat khathar (taruhan, spekulasi tinggi yang menyebabkan kecemasan) adalah termasuk maysir
Semua bisnis yang menggunakan system MLM dalam literature fiqih termasuk dalam kategori muamalah yang dibahas dalam bab Al-buyu’ (Jual Beli). Dalam kajian Fiqih kontemporer bisnis MLM ini dapat ditinjau dari dua aspek yaitu produk barang atau jasa yang dijual dan cara atau system penjualannya (selling marketing). Mengenai produk atau barang yang dijual apakah halal atau haram tergantung kandungannya, apakah terdapat sesuatu yang diharamkan Allah seperti: unsure babi, khamr, bangkai atau darah. Begitu pula dengan jasa yang dijual apakah mengandung unsure kemaksiatan seperti praktik perzinaan, perjudian atau perdagangan anak dsb, dan ini semua bisa kita rujuk pada sertifikasi Halal dari LP-POM MUI.[8]
Perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan system MLM tidak hanya sekedar menjalankan penjualan produk barang, melainkan juga produk jasa, yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus sebagainya tergantung level, prestasi penjualan dan status keanggotaan distributor. Jasa penjualan ini (makelar) dalam terminology Fiqih disebut sebagai “Samsarah/Simsar”. Maksudnya perantara perdagangan (orang yang menjualkan barang atau mencarikan pembeli) untuk memudahkan jual beli.[9]
Pekerjaan Samsarah/Simsar yang berupa makelar, distributor atau agen dalam Fiqih termasuk akad Ijaroh yaitu transaksi memanfaatkan jasa orang dengan imbalan. Pada dasarnya para ulama seperti Ibnu Abbas, Imam Bukhori, Ibnu Sirin, Atha dan Ibrahim memandang boleh jasa ini. Namun untuk sahnya pekerjaan ini harus memenuhi beberapa syarat diantaranya:
1.    Adanya perjanjian yang jelas antara kedua belah pihak.
2.    Objek akad bisa diketahui manfaatnya secara nyata dan dapat diserahkan
3.    Objek akad bukan hal-hal yang diharamkan dan maksiat.
Distributor dan perusahaan harus jujur, ikhlas, transparan, tidak menipu dan tidak menjalankan bisnis yang haram dan syubhat (tidak jelas halal/haramnya). Distributor dalam hal ini berhak menerima imbalan setelah berhasil memenuhi akadnya. Sedangkan pihak perusahaan yang menggunakan jasa marketing harus segera memberikan imbalan para distributor dan tidak boleh menghanguskan atau menghilangkannya. Pola ini sejalan dengan surat Al-Baqarah : 233
3 ÷bÎ)ur öN?Šur& br& (#þqãèÅÊ÷ŽtIó¡n@ ö/ä.y»s9÷rr& Ÿxsù yy$uZã_ ö/ä3øn=tæ #sŒÎ) NçFôJ¯=y !$¨B Läêøs?#uä Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 3. ÇËÌÌÈ . .  
Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut....(Q.S Al-Baqarah : 233)
Jadi pada dasarnya hukum dari MLM ini adalah mubah berdasarkan kaidah Ushuliyah “Al-Ashlu fil mu’amalah al-ibahah hatta dallad dalilu ala tahrimiha (asal dari semua transaksi/perikatan adalah boleh sehingga ada indikator yang menunjukkan keharamannya). Selain itu bisnis ini bebas dari unsur-unsur Riba (sistem bunga), gharar (penipuan), dharar (bahaya), jahalah (tidak transparan) dan zhulm (merugikan orang lain) dan yang lebih urgen adalah produk yang dibisniskan adalah halal. Karena bisnis MLM merupakan bagian dari perdagangan oleh sebab itu bisnis ini juga harus memenuhi syarat dan rukun sahnya sebuah perikatan.
Secara realita, kini perusahaan MLM sudah banyak tumbuh dan berkembang baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan di Indonesia sudah ada yang secara terang-terangan menyatakan bahwa MLM tersebut sesuai syariat dan mendapatkan sertifikasi halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Untuk MLM yang berdasarkan prinsip syariah ini, masih diperlukan akuntabilitas dari MUI.
Ada dua aspek untuk menilai apakah bisnis MLM itu sesuai dengan syariah atau tidak yaitu:[10]
1.    Aspek produk atau jasa yang dijual
2.    Sistem dari MLM itu sendiri
Dari aspek produk yang dijual, dalam hal ini objek dari MLM harus merupakan produk-produk yang halal dan jelas bukan produk yang dilarang oleh agama. Selain halal objek yang dijual juga harus bermanfaat dan dapat diserahterimakan serta mempunyai harga yang jelas. Oleh karena itu walaupun MLM dikelola atau memiliki jaringan distribusi yang dijalankan oleh orang muslim namun apabila objeknya tidak jelas bentuk, harga dan manfaatnya maka hal itu bisa dikatakan tidak sah.
Adapun dari sudut sistem MLM itu sendiri, sistem distribusi pendapatan haruslah dilakukan secara professional dan seimbang. Dengan kata lain tidak terjadi eksploitasi antar sesama. Sedangkan dalam menetapkan harga kalaupun keuntungan (komisi dan bonus) yang akan diberikan kepada para anggota berasal dari keuntungan penjualan barang bukan berarti harga barang yang dipasarkan harus tinggi. Hendaknya semakin besar jumlah anggota distributor maka tingkat harga makin menurun yang pada akhirnya kaum muslimin dapat merasakan system pemasaran tersebut.
Seperti yang sudah disingguh di atas, bahwa bisnis Multi Level Marketing merupakan masalah muamalah dalam perspektif fiqih. Dan setelah diamati ternyata pada bisnis multi level marketing yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan terdapat dua masalah fiqih yang menganjal bisnis MLM, yakni; (1) Makelar di atas makelar dengan mengambil prosentase yang bukan haknya, dan (2) dua aqad dalam satu aqad 1. Makelar di atas Makelar
Pada  dasarnya, aqad samsarah (makelaran) adalah aqad yang melibatkan seorang makelar dengan pemilik barang (shahib al-mâl); atau pembeli barang. Jika pemilik barang meminta seseorang untuk menjualkan barangnya dengan komisi tertentu, maka ini adalah makelaran yang sah. Demikian pula jika seorang pembeli barang meminta seseorang untuk mencarikan barang tertentu dengan komisi tertentu, maka makelaran seperti ini juga absah menurut syara’
Muhammad bin Abi al-Fath, Ulama’ penganut Hambali, dalam kitabnya, al-Mutalli’,[11] telah meyatakan definisi tentang pemakelaran, sebagai berikut:
Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: saya telah menunjukkan anda pada sesuatu —dengan difathah dal-nya, dalalat(an), dan dilalat(an), serta didahmmah dalnya, dalul(an), atau dululat(an)— jika anda menunjukkan kepadanya, yaitu jika seorang pembeli menunjukkan kepadanya, maka orang itu adalah simsar (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual), dan juga disebut dalal.
Pada kasus MLM, seorang upline yang menempati posisi sebagai makelar, akan mendapatkan komisi atas pembelian yang dilakukan oleh bawahannya atau downline-nya, yang juga makelar. Ini menunjukkan bahwa upline tersebut mendapatkan komisi (prosentase) dari pembeli tidak lain downline yang sekaligus merupakan makelar juga. Praktek semacam ini tentunya adalah praktek yang bertentangan dengan syariat Islam.
Hal tersebut disebabkan perbuatan makelar dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah. Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawwith al-mutawwith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelaran.
2. Dua Aqad dalam Satu Aqad
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya ia berkata:
 نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ وَاحِدَةٍ
Rasulullah Saw melarang dua aqad dalam sebuah aqad jual beli.” (HR. Imam Ahmad).
Di dalam riwayat lain dituturkan, bahwasanya Abu Hurairah berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ
Rasulullah Saw telah melarang dua aqad jual beli dalam satu aqad jual beli.” (HR. at-Turmidzi).[12]
Konteks dari hadits di atas, yakni maksud dari bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut termasuk dalam satu aqad.
Jadi bila terjadi dua aqad dalam satu aqad (‘aqdaain fi ‘aqd), atau “shafqatain bi shafqah” merupakan dua aqad yang terjadi dalam waktu bersamaan dan terkumpul menjadi satu dalam sebuah muamalah, maka Rasulullah SAW telah melarang kaum muslim melakukan dua aqad dalam sebuah transaksi.
Mengenai makelar di atas makelar atau dua aqad dalam satu aqad, banyak orang muslim yang mengklaim bahwa bisnis MLM itu halal dikarenakan adanya tali silaturrahmi di antara anggota atau member di perusahaan tersebut, atau adanya pembelajaran dalam berdagang, dan lain sebagainya. Namun untuk itu semua, tetaplah harus meninjau hal-hal yang lain. Maka dapat digunakan di sini kaidah :
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Artinya: “Menolak kerusakan itu didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”[13]
Beberapa Fatwa Ulama dan Pandangan terkait dengan Multi Level Marketing
Di sini juga perlu ditampilkan beberapan fatwa sehubungan dengan bisnis MLM, antara lain:[14]
1)   Karena berbagai pelanggaran syariah pada sistem MLM konvensional, Saudi Arabia mengharamkan MLM yang tertuang dalam Fatwa Lajnah Daimah Saudi nomor 22935
2)   Majma’ Fiqh (Lembaga Fikih) Sudan dalam keputusan rapat nomor 3/23 tertanggal 17 Rabiul Akhir 1424/17 Juni 2003, sepakat mengharamkan jenis jual beli dengan sistem MLM.
3)   Fatwa Dewan Syariah Partai Keadilan No.02/K/DS-PK/VI/1419 menyatakan bahwa bisnis MLM khususnya Amway dan Cni adalah syubhat.

4)   Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencatat dari sekian kurang lebih 650 MLM yang pernah ada di Indonesia hanya 5 perusahaan MLM yang sudah mengantongi status MLM syariah dari DSN MUI. Dan kelima MLM itu antara lain PT Ahad Net Internasional, PT UFO BKB Syariah, PT Exer Indonesia, PT Mitra Permata Mandiri dan PT K-Link Nusantara.
Dari ratusan perusahaan Multi Level Marketing (MLM) yang ada di Indonesia hampir mayoritas tak terjamin kehalalannya dari sisi produk maupun sistemnya.
Asy-Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali memaparkan: Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti program piramida dalam sistem pemasaran, dengan setiap anggota harus mencari anggota-anggota baru dan demikian terus selanjutnya. Setiap anggota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan iming-iming dapat bonus, semakin banyak anggota dan semakin banyak memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan.
Sebenarnya kebanyakan anggota Multi Level Marketing (MLM) ikut bergabung dengan perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya. Bisnis model ini adalah perjudian murni.
Menurutnya, secara umum bisnis model MLM hukumnya haram. Tujuan perusahaan MLM adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesi-nambungan. Jaringan ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (upline) saja, sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka.
Namun jika ada salah satu perusahaan MLM yang selamat dari pelanggaran syar’i, maka hukumnya kembali pada kehalalannya, karena memang pada dasarnya semua muamalah hukumnya halal kecuali kalau ada sisi yang menjadikannya haram.
C. Pendapat Ulama dan Hujjah Mereka
Ulama berbeda pandangan dalam menentukan hukum Bisnis MLM. Disini ada dua pandangan mengenai hal ini :

Pendapat yang Pertama menyatakan bahwa bisnis MLM hukumnya boleh. pada dasarnya hukum dari MLM ini adalah mubah berdasarkan kaidah Ushuliyah “Al-Ashlu fil mu’amalah al-ibahah hatta dallad dalilu ala tahrimiha (asal dari semua transaksi/perikatan adalah boleh sehingga ada indikator yang menunjukkan keharamannya). Selain itu bisnis ini bebas dari unsur-unsur Riba (sistem bunga), gharar (penipuan), dharar (bahaya), jahalah (tidak transparan) dan zhulm (merugikan orang lain) dan yang lebih urgen adalah produk yang dibisniskan adalah halal. Karena bisnis MLM merupakan bagian dari perdagangan oleh sebab itu bisnis ini juga harus memenuhi syarat dan rukun sahnya sebuah perikatan.
Pendapat yang Kedua menyatakan haram bahwa Syeikh Salim Al-Hilali pernah mengeluarkan fatwa pengharaman terhadab MLM dengan skema piramid dalam sistem pemasarannya, dengan cara setiap anggota harus mencari angota-anggota baru dan demikian selanjutnya. Setiap anggota membayar iuran pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan angan-angan mendapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM yang mengikuti cara ini adalah termotivasi bonus yang dijanjikan tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin, padahal ia sebenarnya tidak menginginkan produknya.
Sedangkan karena berbagai pelanggaran syariah pada sistem MLM. Saudi Arabia mengharamkan MLM yang tertuang dalam Fatwa Lajnah Daimah Saudi nomor 22935. Begitu juga dengan Majma’ Fiqh (Lembaga Fikih) Sudan dalam keputusan rapat nomor 3/23 tertanggal 17 Rabiul Akhir 1424/17 Juni 2003, sepakat mengharamkan jenis jual beli dengan sistem MLM. Fatwa Dewan Syariah Partai Keadilan No.02/K/DS-PK/VI/1419 menyatakan bahwa bisnis MLM khususnya Amway dan Cni adalah syubhat.
Serta Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencatat dari sekian kurang lebih 650 MLM yang pernah ada di Indonesia hanya 5 perusahaan MLM
D. Analisis Pendapat Ulama
Perbedaan pandangan ulama terhadap beberapa masalah mengakibatkan mereka berbeda pendapat di dalam menyikapi bisnis MLM, sebagaimana berikut :
Pendapat yang Pertama menyatakan bahwa mendirikan bisnis MLM hukumnya boleh. Bisnis dalam syari’at Islam pada dasarnya termasuk dalam kategori muamalah yang hukum asalnya adalah boleh.
أنّ الأصلَ في العبادات البُطْلاَنُ إلاَّ ما شَرَعَهُ اللّه ورسولُه، وعَكْسُ هذا، العُقُوْدُ والْمَطَاعِمُ، الأَصْلُ فيها الصحّةُ والحِلُّ إلاّ ما أَبْطَلَهُ اللّه ورسولُه
“Pada dasarnya semua ibadah hukumnya batil (haram), kecuali apa yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan sebaliknya, dalam semua transaksi (‘aqad, muamalah) dan makanan pada dasarnya sah dan halal, kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya”.  
Berdasarkan kaedah fiqih di atas, terlihat jelas bahwa dalam wilayah muamalah, Islam memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem, teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan atau bisnis lainnya. Selama muamalah itu tidak melanggar prinsip-prinsip syari’ah, maka hukumnya diperbolehkan.
Namun syari’at mempunyai prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pengembangan sistem sebuah bisnis, agar dalam usaha menghasilkan keuntungan tidak dilakukan secara batil.
Pendapat yang Kedua menyatakan hukumnya haram. Adapun dari aspek produknya, memang ada yang halal dan haram. Meski demikian, jika produk yang halal tersebut diperoleh dengan cara yang tidak syar’i, maka akadnya batil dan kepemilikannya juga tidak sah. Sebab, kepemilikan itu merupakan izin yang diberikan oleh pembuat syariat (idzn asy-syari’) untuk memanfaatkan zat atau jasa tertentu. Izin syara’ dalam kasus ini diperoleh, jika akad tersebut dilakukan secara syar’i, baik dari aspek muamalahnya, maupun barangnya.
Dengan melihat analisis di atas maka sekalipun produk yang diperjual-belikan adalah halal, akan tetapi akad yang terjadi dalam bisnis MLM adalah akad yang melanggar ketentuan syara’ baik dari sisi shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran); pada kondisi lain tidak memenuhi ketentuan akad karena yang ada adalah akad terhadap jaminan mendapat diskon dan bonus (point) dari pembelian langsung; maka MLM yang demikian hukumnya adalah haram.
Bahwa seorang pedagang muslim hendaknya mengetahui hukum-hukum syariat tentang aturan berdagang atau transaksi dan mengetahui bentuk-bentuk jual-beli yang terlarang dalam agama. Dangkalnya pengetahuan tentang hal ini akan menyebabkan seseorang jatuh dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah kita saksikan tersebarnya praktek riba, memakan harta manusia dengan cara yang batil, merusak harga pasaran dan sebagainya dari bentuk-bentuk kerusakan yang merugikan masyarakat.
E. Pendapat yang dipilih dan Hujjah yang digunakan
Berdasarkan pemahaman penulis maka hukum bisnis MLM itu Mubah atau boleh. Karena MLM adalah bentuk transaksi (akad) muamalah. Pada dasarnya semua muamalah hukumnya halal kecuali kalau ada sisi yang menjadikannya haram. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar MLM menjadi sah menurut syari’ah, yaitu:
a.    Produk yang dipasarkan harus halal, thayyib (berkualitas) dan menjauhi syubhat.
b.    Sistem akadnya harus memenuhi kaedah dan rukun jual beli secara syar’i.
c.    Operasional, kebijakan, corporate culture, maupun sistem akuntansinya harus sesuai syari’ah.
d.   Tidak ada harga dinaikkan sampai dua kali lipat), sehingga anggota terzalimi dengan harga yang sangat mahal, tidak sepadan dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh.
e.    Struktur manajemennya memiliki Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) yang terdiri dari para ulama yang memahami masalah ekonomi.
f.     Formula intensif harus adil, tidak menzalimi downline dan tidak menempatkan upline hanya menerima pasif income tanpa bekerja. Upline tidak boleh menerima income dari hasil jerih payah downline-nya.
g.     Pembagian bonus harus mencerminkan usaha masing-masing anggota.
h.    Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang awal menjadi anggota dengan yang akhir.
i.       Bonus yang diberikan harus jelas.
j.      Tidak menitikberatkan barang-barang tertier ketika ummat masih bergelut dengan pemenuhan kebutuhan primer.
k.    Cara penghargaan kepada mereka yang berprestasi tidak boleh mencerminkan sikap hura-hura dan pesta pora, karena sikap itu tidak sesuai dengan syari’ah.
l.      Perusahaan MLM harus berorientasi pada kemaslahatan ekonomi ummat.
Jika semua persyaratan di atas terpenuhi oleh perusahaan MLM, maka jelas halalnya, bahkan mempunyai nilai positif, karena di samping mengangkat derajat ekonomi ummat melalui sebuah usaha juga menjalin ukhuwwah antar anggotanya.
Sedangkan yang tidak boleh Kalau ada unsur skema piramida yaitu distibutor yang lebih dulu masuk selalu diuntungkan dan distibutor yang belakangan selalu dirugikan serta produknya mengandung zat-zat haram maka hukumnya haram. Dan terdapat unsur Riba’, Ghoror (penipuan), Dhoror (merugikan atau mendholimi pihak lain), Jalalah (tidak transparan).






















Bab III
PENUTUP

Kesimpulan
Perbedaan pandangan ulama terhadap beberapa masalah mengakibatkan mereka berbeda pendapat di dalam menyikapi munculnya bisnis MLM, sebagaimana berikut :
Pendapat yang Pertama menyatakan bahwa bisnis MLM hukumnya boleh. mendirikan bisnis MLM hukumnya boleh. Bisnis dalam syari’at Islam pada dasarnya termasuk dalam kategori muamalah yang hukum asalnya adalah boleh. berdasarkan kaidah Ushuliyah “Al-Ashlu fil mu’amalah al-ibahah hatta dallad dalilu ala tahrimiha
Pendapat yang Kedua menyatakan hukumnya haram. Dikarenakan adanya makelar atas makelar dan Dua akad dalam satu akad.
Multi Level Marketing (MLM) tidak bertentangan dengan hukum perikatan Islam sepanjang memenuhi rukun dan syarat-syarat perikatan menurut Hukum Islam serta tidak mengandung unsur Riba, Gharar, dan Jahalah.
MLM adalah sarana untuk menjual produk atau jasa, bukan sarana untuk mendapatkan uang tanpa adanya produk. Sehingga yang terjadi adalah money game atau arisan berantai yang sama dengan judi. Produk yangditawarkan jelas kehalalannya, karena anggota bukan hanya konsumen barang tersebut tetapi juga memasarkan kepada yang lainnya. Sehingga dia harus tahu status barang tersebut dan bertanggung jawab terhadap konsumen lainnya. 









DAFTAR PUSTAKA

Syarifuddin,  Amir. 2010, “Garis-Garis Besar Fiqih”. Cet ke-3 Jakarta: Pranada Media Group
Departemen Agama RI. 1971, Al-Qur’an dan Terjemahannya,  Semarang: Toha Putra
Harefa, Andreas. 1999, Multi Level Marketing, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
Yusuf, Tarmidzi. Strategi MLM Secara Cerdas dan Halal, Cet I, Jakarta: PT: gramedia, 2002
http: www.hayatulislam.net/MLM/Marketing. Diakses pada tanggal 27 September 2014.
http://www.besthomebiznetwork.com/MLM/. Diakses pada tanggal 27 September 2014.
Fatwa DSN MUI Praktek Perbankan Syariah dalam http://pengusahamuslim.com/fatwa-dsn-mui-145 Diakses pada tanggal 27 September 2014
Sayyid Sabiq. Fiqih As-Sunnah, vol. III
Dewan Syariah dalam MLM diambil dari http://www e-syariah.com Diakses pada tanggal 27 September 2014
Muhammad bin Abi al-Fath, al-Muthalli’, ed. Muhammad Basyir al-Adlabi, al-Maktab al-Islami, Beirut, 1981
As-Syawkani, Nayl al-Awthar, Dar al-Jil, Beirut, 1973, Jilid V
Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, tahun 1999
Jurnal Dirosah Islamiyah, Menyoal Kehalalan Bisnis MLM, Jakarta, Vol.1 No.1 tahun 2003




[1]Amir Syarifuddin, “Garis-Garis Besar Fiqih”. Cet ke-3 ( Jakarta: Pranada Media Group, 2010 ), hlm. 175.
[2] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya,  (Semarang: Toha Putra, 1971), hlm. 552.
[3] Andreas Harefa, Multi Level Marketing, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 1999), hlm. 4
[4] Tarmidzi Yusuf, Strategi MLM Secara Cerdas dan Halal, (Cet I, Jakarta: PT: gramedia, 2002), hlm.  3
[5] Ibid., Hlm. 3
[6]  http: www.hayatulislam.net/MLM/Marketing. Diakses pada tanggal 27 September 2014.
[7] http://www.besthomebiznetwork.com/MLM/. Diakses pada tanggal 27 September 2014.
[8] Fatwa DSN MUI Praktek Perbankan Syariah dalam http://pengusahamuslim.com/fatwa-dsn-mui-145 Diakses pada tanggal 27 September 2014
[9] Sayyid Sabiq. Fiqih As-Sunnah, vol. III hlm. 159.
[10] Dewan Syariah dalam MLM diambil dari http://www e-syariah.com Diakses pada tanggal 27 September 2014
[11] Muhammad bin Abi al-Fath, al-Muthalli’, ed. Muhammad Basyir al-Adlabi, al-Maktab al-Islami, Beirut, 1981, hlm. 279
[12] As-Syawkani, Nayl al-Awthar, Dar al-Jil, Beirut, 1973, Jilid V, hlm. 248.
[13] Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, tahun 1999, hlm. 290.
[14] Jurnal Dirosah Islamiyah, Menyoal Kehalalan Bisnis MLM, Jakarta, Vol.1 No.1 tahun 2003, hlm.177

No comments:

Post a Comment