Wednesday, November 5, 2014

Perkawinan Sejenis (Analisis)

Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Batu
November, 2014

Mata kuliah Fiqh Kontemporer

Anis Trianawati, S.Pd.I


============================


BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang Masalah
        Sistem berfikir dalam bidang hukum Islam berpangkal pada al-Qur’an dan Hadis, karena di dalam keduanya terdapat hukum-hukum untuk mengatur kehidupan. Di antaranya hukum Islam masih bersifat rinci, tetapi kebanyakan masih bersifat umum dan baru disebut pokok-pokoknya saja yang harus dipandang sebagai petunjuk pengarahan sehingga masih memerlukan pemikiran mendalam.[1] Salah satunya dalam hukum Islam juga mengatur umat Islam dalam masalah hubungan laki-laki dan perempuan secara sah, atau umumnya disebut pernikahan. Oleh karena itu, agama mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita, dan kemudian mengarahkan pada pertemuan itu sehingga terlaksananya ”perkawinan” dan beralihlah kerisauan pria dan wanita menjadi ketentraman atau sakinah dalam istilah al-Qur’an surat ar-Ru>m (30): 21.[2]
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur   Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  
Artinya:  dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
        Al-Qur’an menegaskan berpasangan atau kawin merupakan ketetapan Illahi bagi mahkluk-Nya, dan Rasul juga menegaskan bahwa nikah adalah Sunnahnya, tetapi dalam saat yang sama al-Qur’an dan sunnah menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus dinikahkan. Lebih-lebih masyarakat yang ditemuinya melakukan praktik-praktik yang amat berbahaya serta melanggar nilai-nilai kemanusian.[3] Termasuk di dalamnya larangan-larangan pernikahan yang melanggar syari’at Islam, seperti pernikahan beda agama, pernikahan dengan saudara sedarah, pernikahan sesama jenis (homoseks atau lesbi).
         Menindaklanjuti larangan pernikahan sesama jenis yang biasanya juga sering disebut homoseksual atau lesbian. Dalam pengertiannya, homoseksualitas adalah kecenderungan untuk tertarik kepada orang lain yang berkelamin sejenis. Pengertian lain homoseksual adalah keadaan tertarik terhadap orang dari jenis kelamin yang sama, baik itu kepada sesama laki-laki maupun kepada sesama perempuan.[4] Lawan kata homoseksual adalah heteroseksual yang berarti keadaan tertarik pada hubungan seks dengan lawan jenis. Dalam perkembangannya, istilah ini lebih sering digunakan untuk seks sesama pria, sedangkan untuk seks sesama perempuan disebut lesbian.
         Berdasarkan undang-undang yang berlaku di negara Indonesia perkawinan sesama jenis tidak diperbolehkan. Mengacu pada Pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menerangkan bahwa ”perkawinan adalah sebagai ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[5] Berbeda dengan formulasi ulama klasik mengenai terminologi nikah, dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pernikahan justru dirumuskan dalam frame yang agak berbeda. Dalam Bab I pasal 2 dan 3 disebutkan “perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya adalah merupakan ibadah. [6] Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. 
         Kompilasi Hukum Islam (KHI) secara ekplisit memang tidak mengatur masalah yang berkaitan dengan pernikahan sesama jenis. Besar kemungkinan, karena formulasi nikah versi KHI ini sudah tidak lagi memperhatikan subjek yang melakukan akad. Artinya membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, seperti yang tertulis dalam regulasi tersebut, sedikitpun tidak menyiratkan adanya peluang bagi legalisasi pernikahan gay dan lesbian. Karena dalam pasal lain disebutkan bahwa asas perkawinan adalah monogami.
        Masalah perkawinan memang sering menjadi sasaran liberalisasi agama. Hukum-hukum yang sudah pasti, seperti haramnya muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim, diusulkan oleh sejumlah dosen IAIN/UIN, seperti Siti Musdah Mulia untuk direvisi. Berdasarkan logika yang sama, beberapa pendapat juga ingin mengusulkan kajian dan perubahan hukum-hukum lain di bidang perkawinan. Salah satunya dengan alasan perlindungan Hak Asasi Manusia kaum homoseks, beberapa pendapat menyuarakan dibolehkannya pernikahan sesama jenis. Di antaranya pendapat Siti Musdah Mulia, bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam. Musdah juga menambahkan bahwa sarjana-sarjana Islam moderat mengatakan tidak ada pertimbangan untuk menolak homoseksual dalam Islam, dan bahwa pelarangan homoseks dan homoseksualitas merupakan tendensi para ulama.[7]
        Pernikahan yang di anggap wajar dalam masyarakat adalah pernikahan heteroseksual atau nikah dengan lawan jenis. Maka tidaklah salah ketika pernikahan homoseksual atau nikah dengan sesame jenis banyak mendapat kontroversi di masyarakat karena di anggap aneh, menyimpang dari hukum syara’, dan yang lebih ironis lagi di bilang sakit jiwa. Karena hal itulah pemakalah mencoba untuk membahas bagaimana pernikahan homoseksual yang hidup di Negara kita (Indonesia).

B.          Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.       Bagaimana pandangan pernikahan sejenis atau homoseksual dalam Islam?
2.       Bagaimana peraturan pemerintah di Indonesia terhadap homoseksual ?





BAB II
PEMBAHASAN
A.          Deskripsi Perkawinan Sejenis
        Perilaku Homoseksual adalah perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis, yang bila terjadi pada kaum wanita sering disebut lesbianisme. Homoseksualitas sudah sering terjadi sepanjang sejarah umat manusia, reaksi berbagai bangsa di berbagai kurun waktu sejarah terhadap homoseksualitas ternyata berlainan. Dalam praktik sulit membagi orang kedalam dua kelompok: homoseksual dan heteroseksual,keduanya merupakan dua kutub yang ekstrem. Banyak masyarakat yang memandang heteroseksualitas sebagai perilaku seksual yang “wajar”, sedangkan homoseksualitas secara tradisional dipandang sebagai gangguan mental. Sisi lain yang perlu dicatat ialah bahwa homoseksualitas dapat meliputi sejumlah hal, seperti kecenderungan, aktivitas, status, peran, atau konsep-diri, serta bahwa seseorang tidak harus sama-sama homoseksual disegala sisi atau bidang tersebut.
        Dalam masyarakat yang sudah lebih toleran teradap homoseksual, sering ditemukan komunitas gay. Yang mana, komunitas gay adalah wilayah geografis yang terdapat subkultur homoseksual beserta aneka pranatanya. Komunitas homoseksual, sistem nilai, teknik komunikasi, dan pranata-pranata suportif maupun protektif, seperti tempat tinggal, toko pakaian, toko buku, gedung bioskop, dan sebagainya yang bersifat unik dan eksklusif, khusus untuk kaum homoseksual. Tetapi di Indonesia kita belum pernah mendengar adanya komunitas semacam ini.[8]
        Adapun faktor penyebab tejadinya homoseksualitas bisa bermacam-macam,seperti karena kekurangan hormon lelaki selama masa pertumbuhan, karena mendapat pengalaman homoseksual yang menyenangkan pada masa remaja atau sesudahnya, karena memandang perilaku heteroseksual sebagai sesuatu yang menakutkan atau tidak menyenangkan, ataupun karena besar ditengah keluarga dimana ibu lebih dominan daripada sang ayah atau bahkan tidak ada.
                Lalu apakah perilaku Homoseksual atau Lesbian itu sebuah penyakit ataukah suatu perilaku yang tidak sesuai di dalam masyarakat? Bisa dikatakan bahwa Homoseksual atau Lesbian itu adalah sebuah penyakit dimana mereka melampiaskan kebutuhan seksualnya tetapi tidak pada hal yang sewajarnya, mereka melakukanya tidak pada lawan jenis tetapi sesama jenis. Biasanya perilaku itu muncul karena lingkunganya lah yang sudah membentuk main sheet/pikiran mereka untuk melakukan tindakan penyimpangan itu,mungkin pada suatu daerah hal itu dianggap biasa saja tetapi pada masyarakat umumnya hal itu adalah suatu yang tabu untuk dilakukan, apalagi menurut agama perbuatan itu sangat dilarang dan melanggar ajaran-ajaran agama.
1.   Pandangan pernikahan sejenis atau homoseksual dalam Islam
         Dalam Islam, homoseksual disebut liwath atau “amal qaumi luthin”. Istilah tersebut timbul karena perbuatan seperti itu pertama kali dilakukan oleh umat Nabi Luth yang hidup sezaman dengan Nabi Luth.[9] Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dengan firman-Nya, yang artinya:
          Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”
          Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melepas nafsum (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”. Kemudian kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (QS. Al A‟raaf: 80-84).
          Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya, Kecuali isterinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya). Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”.
          Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar.
          Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”.
         Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan  Kami)  bagi  orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 59-77).
          Dan kepada Luth, Kami telah memberikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.(QS. Al Anbiyaa‟: 74-75).
          Allah SWT menceritakan masalah homoseksual dalam Al Qur‟an, sebagaimana yang terdapat pada sebagian Surah di atas, masih banyak surah yang membahas masalah homoseksual yakni: Al A‟raaf (7): 80-84, Al Hijr (15): 59-77, Al Anbiyaa‟ (21): 74-75, Asy Syu‟araa‟ (26): 160-175, An Naml (27): 54-58, Al Ankabuut (29): 28-35, Ash Shaaffaat (37): 133-138, dan Al Qamar (54): 33-40.[10]
          Hukum Islam juga menentang adanya perkawinan sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki/ perempuan dengan perempuan) yang didasarkan pada kaidah- kaidah agama Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadis Nabi. Terdapat berbagai ayat dalam al-Qur’an:[11]
           Al-Qur’an melarang segala hubungan seks selain hubungan seks di dalam ikatan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita. Sebagian besar penikmat homoseksualitas mengklaim bahwa mereka terlahir dengan kecenderungan seks sesama jenis itu. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai pilihan, “sudah dari sananya”. Meskipun asumsi ini masih bisadiperdebatkan di dunia medis, bahkan kalaupun asumsi ini memang benar, al- Qur’an dengan tegas menolak menjadikannya sebagai pembenaran bagi pecinta sesama jenis.[12]
          Dari arti surah di atas dapat penulis tarik bahwasanya dari sisi agama Islam, perkawinan antara sesama jenis secara tegas dilarang. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-A’raaf (7): 80-84, jadi perkawinan sejenis adalah haram hukumnya. Di samping itu Perkawinan sesama jenis di Indonesia, dari kacamatra agama dan adat, belum mendapat perespektif layak untuk dilakukan, bahkan dapat disebut dari kacamata agama sebagai suatu perbuatan dosa dan dari kacmata adat merupakan perbuatan dosa dan aib. Diluar Indonesia, di negara-negara yang telah lama menjungjung tinggi HAM, persamaan jender, ada yang sudah berani mengakui perkawinan sesama jenis.
         Sedangkan dalam Islam sendiri tujuan dari pernikahan salah satunya adalah mendapatkan Rumah tangga yang ideal, menurut ajaran Islam rumah tangga yang ideal meliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih sayang), Allah berfirman: “Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan diantaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.
          Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami dan istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla’an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan. Selain hal tersebut, Islam sendiri menganjurkan pernikahan dikarenakan untuk bisa meneruskan garis keturunan atau bahkan berlomba-lomba memperbanyak umat dibanding umat-umat lain.
2.   Peraturan pemerintah di Indonesia terhadap kaum homoseksual
          Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”), perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri.
   Pasal 1
“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa.”
          Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masing-masing.
          Mengenai perkawinan yang diakui oleh negara hanyalah perkawinan antara pria dan wanita juga dapat kita lihat dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (“UU Adminduk”) beserta penjelasannya dan Pasal 45 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2011 tentang Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil (“Perda DKI Jakarta No. 2/2011”) beserta penjelasannya:[13]
          Pasal 34 ayat (1) UU Adminduk:
   Perkawinan yang sah berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya perkawinan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak tanggal perkawinan.
Penjelasan Pasal 34 ayat (1) UU Adminduk:
Yang dimaksud dengan "perkawinan" adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
         Selain itu, Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) juga secara tidak langsung hanya mengakui perkawinan antara pria dan wanita, yang dapat kita lihat dari beberapa pasal-pasalnya di bawah ini:[14]
  Penulis hanya memaparkan beberapa pasal saja:
Pasal 1 huruf a KHI:
Peminangan ialah kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita.
Pasal 1 huruf d KHI:
Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang, atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.
         Selain itu, mengenai perkawinan sejenis ini, beberapa tokoh juga memberikan pendapatnya. Di dalam artikel hukumonline yang berjudul Menilik Kontroversi Perkawinan Sejenis, sebagaimana kami sarikan, Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma'ruf Amin dengan tegas menyatakan bahwa pernikahan sejenis adalah haram. Lebih lanjut Ma'ruf Amin mengatakan, “Masak laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan. Itu kan kaumnya Nabi Luth. Perbuatan ini jelas lebih buruk daripada zina.” Penolakan serupa juga dikatakan oleh pengajar hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Farida Prihatini. Dia mengatakan bahwa perkawinan sejenis itu tidak boleh karena dalam Al Quran jelas perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan.[15]
         Jadi, dapat kiranya disimpulkan bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia perkawinan sesama jenis tidak dapat dilakukan karena menurut hukum, perkawinan adalah antara seorang pria dan seorang wanita. Pada sisi lain, hukum agama Islam secara tegas melarang perkawinan sesama jenis.
B.          Dalil dan Metode Memahami Dalil perkawinan sejenis
         Akhir-akhir ini Indonesia booming dengan kedatangan Irsyad Manji. Pasalnya kedatangannya membawa faham yang menyimpang, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi akidah umat Islam. Keyakinannya tentang membolehkan perkawinan sejenis tentunya banyak menuai pertentangan dari berbagai ormas Islam, karena sudah jelas dari ayat al-Qur’an maupun hadis Nabi saw bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tercela yang pernah terjadi pada kaum Nabi Luth kemudian Nabi saw wewanti-wanti agar umat Islam  tidak melakukan perbuatan tersebut dengan bersabda bahwa Allah swt akan melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah dengan dalil apa kaum Liberal khususnya Irsyad Manji mendekonstruksi hukum perkawinan sejenis menjadi perbuatan yang wajar dan dibolehkan.
         Nash-nash yang menjadi dalil tercelanya perbuatan perkawinan sejenis yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:
$»Ûqä9ur øŒÎ) tA$s% ÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9 öNà6¯RÎ) tbqè?ù'tGs9 spt±Ås»xÿø9$# $tB Nà6s)t6y $pkÍ5 ô`ÏB 7ymr& šÆÏiB šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÑÈ   öNä3§Yάr& šcqè?ù'tFs9 tA%y`Ìh9$# tbqãèsÜø)s?ur Ÿ@Î6¡¡9$# šcqè?ù's?ur Îû ãNä3ƒÏŠ$tR tx6ZßJø9$# ( $yJsù šc%x. šU#uqy_ ÿ¾ÏmÏBöqs% HwÎ) br& (#qä9$s% $oYÏKø$# É>#xyèÎ/ «!$# bÎ) |MZà2 z`ÏB tûüÏ%Ï»¢Á9$# ÇËÒÈ   tA$s% Å_Uu ÎT÷ŽÝÇR$# n?tã ÏQöqs)ø9$# šúïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÌÉÈ   $£Js9ur ôNuä!%y` !$uZè=ßâ zOŠÏdºtö/Î) 3tô±ç6ø9$$Î/ (#þqä9$s% $¯RÎ) (#þqä3Î=ôgãB È@÷dr& ÍnÉ»yd Ïptƒös)ø9$# ( ¨bÎ) $ygn=÷dr& (#qçR$Ÿ2 šúüÏJÎ=»sß ÇÌÊÈ   tA$s% žcÎ) $ygÏù $WÛqä9 4 (#qä9$s% ÚÆøtwU ÞOn=÷ær& `yJÎ/ $pkŽÏù ( ¼çm¨YuŠÉdfoYãYs9 ÿ¼ã&s#÷dr&ur žwÎ) ¼çms?r&tøB$# ôMtR$Ÿ2 z`ÏB šúïÎŽÉ9»tóø9$# ÇÌËÈ   !$£Js9ur br& ôNuä!$y_ $uZè=ßâ $WÛqä9 uäû_Å öNÍkÍ5 šX$|Êur öNÎgÎ/ %YæösŒ (#qä9$s%ur Ÿw ô#ys? Ÿwur ÷btøtrB ( $¯RÎ) x8qfuZãB y7n=÷dr&ur žwÎ) y7s?r&tøB$# ôMtR$Ÿ2 šÆÏB šúïÎŽÉ9»tóø9$# ÇÌÌÈ   $¯RÎ) šcqä9Í\ãB #n?tã È@÷dr& ÍnÉ»yd Ïptƒös)ø9$# #Yô_Í šÆÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# $yJÎ/ (#qçR%x. šcqà)Ý¡øÿtƒ ÇÌÍÈ   s)s9ur $uZò2t¨? !$yg÷YÏB Optƒ#uä ZpoYÉit/ 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ ÇÌÎÈ  
Artinya : 28. dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang Amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu". 29. Apakah Sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamundan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada Kami azab Allah, jika kamu Termasuk orang-orang yang benar". 30. Luth berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu". 31. dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim". 32. berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth". Para Malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan Dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). 33. dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, Dia adalah Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)". 34. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. 35. dan Sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.(Q.s. Al-Ankabut (29) 28-35)
Kemudian Nabi saw bersabda:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم لَعَنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : مَلْعُونٌ مَلْعُونٌ مَلْعُونٌ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ
dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasannya Rasulullah SAW telah melaknat tiga kali: Sungguh orang yang dilaknat, sungguh orang yang dilaknat, sungguh orang yang dilaknat (yaitu)orang yang mengerjakan amalannya kaum Luth. (HR. Baihaqi.)
      Itulah diantaranya nash-nash dari al-Qur’an dan hadis yang menerangkan kisah kaum Nabi Luth yang mengindikasikan betapa tercelanya perbuatan tersebut dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis lain yang menceritakan hal tersebut.
      Seperti yang telah disebutkan di muka bahwa bagaimana kaum Liberal membolehkan perbuatan tersebut, padahal nash-nash dari al-Qur’an maupun hadis telah secara jelas menegaskan tentang ketercelaanya bahkan disertai ancaman-ancaman. Berikut beberapa pernyataan dari tokoh-tokoh kaum Liberal mengenai hal tersebut:
      Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab menjadi heteroseksual, homoseksual, dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fiqih disebut sunatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia. Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi, maka hubungan demikian dapat diterima.[16]
…Yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual  untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya. (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah. (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual. (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan no. 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.[17]
      Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tidak ada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab Tuhan pun sudah maklum, proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.[18]
      Demikian diantaranya pernyataan dari Musdah Mulia dan tokoh Liberal lainnya yang dikutip oleh Fahmi Zarkasyi dalam bukunya Liberalisasi Pemikiran Islam. Pernyataan di atas tidak didasarkan kepada dalil syar’I apapun. Dalil yang digunakan adalah kontekstualisasi ijtihad dengan memaknai hadis dan larangan-larangan Allah hanya berlaku pada zaman dahulu, alasannya karena zaman sekarang jumlah manusia sudah sangat banyak sehingga Tuhan pun dapat memaklumi itu. Selain itu dalil yang mereka gunakan juga adalah dalil maslahah yang sebenarnya termasuk maslahah yang tidak dapat dijadikan hujjah karena bertentangan dengan nash-nash yang telah diuraikan di atas; para ulama menyebutnya sebagai maslahah mulghah.
      Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa alasan yang dijadikan dalil oleh kaum Liberal untuk melegalkan perkawinan sejenis tidak kuat dan bertentangan dengan nash-nash yang sharih, sehingga hukum perkawinan sejenis tetaplah haram dan tidak bisa didekonstruksi dengan dalih apapun.

C.          Pendapat Ulama dan Hujjah Mereka
        Menurut Dr Muhammad Rashfi di dalam kitabnya Al-Islam al-Thib sebagaimana dikutip oleh Sayid Sabiq, bahwa Islam melarang keras homosex, karena mempunya dampak yang negatif terhadap pribadi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut:[19]
1.       Tidak tertarik kepada wanita, justru tertarik kepada pria sama lainnya.
2.       Kelainan jiwa yang akibatnya mencintai sesama kelamin, tidak stabil jiwanya, dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh pada pria pasangan si homo.
3.       Gangguan saraf otak, yang akibatnya bisa melemahkan daya pikiran dan semangat atau kemauannya.
4.       Penyakit AIDS, yang menyebabkan penderitanya kekurangan/ kehilangan daya ketahanan tubuh.
       Para ahli hukum fiqh sekalipun telah sepakat mengharamkan homosex, tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukumannya.[20]
      Pendapat pertama antara lain Imam Syafi’i, pasangan homosex dihukum mati, berdasarkan Hadits nabi, riwayat Khamsah (lima ahli hadits kecuali Al-Nasa’i) dariIbnu Abbas:
                                    ﻝﻮﻌﻔﺍﻭ ﻞﻋﺎﻔﻟﺍ ﺍﻮﻠﺘﻗﺎﻓ ﻁﻮﻟ ﻡﻮﻗ ﻞﻤﻋ ﻞﻤﻌﻳ ﻩﻮ ﺪﺟﻭ ﻦﻣ

      Barang siapa menjumpai orang yang berbuat homosex seperti praktek kaum luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan (pasangangannya).
      Menurut Al-Mundziri, khalifah Abu Bakar dan Ali pernah menghukum mati terhadap pasangan homosex.
     Pendapat kedua antara lain Al-Auza’i, Abu Yusuf dan lain-lain, hukumannya disamakan dengan hukuman zina, yakni hukuman dera dan pengasingan untuk yang belum kawin, dan di rajam (stoning to death) untuk pelaku yang sudah kawin, berdasarkan hadist Nabi yang artinya:
Apabila seorang pria melakukan hubungan seks dengan pria lain, maka kedua-duanya adalah berbuat zina.
Pendapat kedua ini sebenarnya memakai qiasdi dalam menetapkan hukumannya.
      Pendapat ketiga antara lain Abu Hanifah, pelaku homosex dihukum ta’zir, sejenis hukumanyang bertujuan edukatif, dan besar ringannya hukuman ta’zir dijatuhkan terhadap kejahatan atau pelanggaran yang tidak ditentukan macam dan kadar hukumannya oleh nas Al-Qur’an dan hadits.[21]
      Menurut Al-Syaukani, pendapat pertama adalah kuat, karena berdasarkan nas shahih (hadits) yang jelas maknannya; sedangkan pendapat kedua dianggap lemah, karena memakai dalil qiyas, padahal ada nasnya, dan hadits yang dipakainya lemah, karena bertentangan dengan nas yang telah menetapkan hukuman mati (hukuman had) bukanlah hukuman ta’zir.
      Mengenai perbuatan lesbian (female homosexual) atau sahaq (bhs.arab), para ahli fiqih juga sepakat mengharamkannya, berdasarkan hadits Nabi riwayat Ahmad, abu daud, Muslim dan Al-Tirmidzi, yang artinya:
Janganlah pria melihat aurat pria lain dan janganlah pria dengan pria lain di bawah sehelai selimut/kain, dan janganlah pula wanita bersentuhan dengan wanita lain di bawah sehelai selimut/ kain.
      Menurut Sayid sabiq, lesbian ini dihukum ta’zir, suatu hukuman yang macam dan berat ringannya diserahkan kepada pengadilan. Jadi, hukumanya lebih ringan dibandingkan dengan bahaya homoseksual, karena lesbian itu bersentuhan langsung tanpa memasukkan alat kelaminnya; seperti halnya seorang pria bersentuhan langsung (pacaran) dengan wanita bukan istrinya tanpa memasukkan penisnya ke dalam vagina.[22] Perbuatan smacam ini tetap haram, sekalipun bukan zina, tetapi dapat dikenakan hukuman ta’zir seperti lesbian di atas.
Perlu ditegaskan di sini, bahwa perbuatan lesbian itu bertentangan dengan norma agama, norma susila, dan bertentangan pula dengan sunnatullah dan fitrah manusia. Karena itu, Islam melarangnya, dan dihukum dengan hukuman ta’zir, agar pelakunya mau menghentikan perbuatan yang tercela itu.
      Tidak ada ulama atau dosen agama yang berani menghalalkan tindakan homoseksual, seperti yang dilakukan oleh Prof. Siti Musdah Mulia dari UIN Jakarta tersebut. Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.[23]
D.          Analisis Pendapat Ulama
      Pada dasarnya tidak ada ulama yang berani menghalalkan pernikahan sejenis, karena hal tersebut sudah diatur dalam Al-Qur’an yang jelas-jelas haram hukumnya. Banyak nash-nash yang menjadi dalil tercelanya perbuatan perkawinan sejenis. Dari pendapat Imam Syafii dapat ditarik kesimpulan bahwasanya homoseksual adalah perbuatan dosa besar dan sangat keji, sehingga pelakunyapun harus dirajam tanpa membedakan apakah masih bujangan atau sudah menikah.  
      Para ulama menyatakan atau berpendapat bahwasanya dalam Islam, soal homoseksual ini sudah jelas hukumnya. Ayat-ayat al- Qur'an yang telah disebutkan di atas, sudah cukup sebagai dasar pengharaman perkawinan sesama jenis. Hal ini jika dilihat dari sudutpandang ushul fiqh, maka penetapan hukumnya adalah termasuk syar'u<man qablana< (syari'at umat sebelum Islam).
      Dengan ketentuan bahwa apabila al-Qur'an dan al-Hadis telah menerangkan status hukum yang disyari'atkan oleh Allah kepada umat sebelum umat Islam, kemudian al-Qur'an dan al-Hadis menetapkan bahwa hukuman tersebut diwajibkan atau diharamkan pula kepada umat Islam, sebagaimana diwajibkan atau diharamkan kepada mereka, maka tidak diperselisihkan lagi bahwa hukum tersebut adalah sebagai syari'at bagi umat Islam dan sebagai hukum yang harus diikuti. Misalnya, keharaman perkawinan sesama jenis (homoseksual). Meskipun sudah sejak dulu ada orang-orang yang orientasi seksualnya homoseks, ajaran Islam tetap tidak berubah, dan tidak mengikuti hawa nafsu kaum homo dan pendukungnya. Apalagi yang diragukan manusia, untuk memandang kekejian perilaku homoseksual di masa Nabi Lut as tersebut.
E.          Pendapat yang dipilih dan Hujjah yang digunakan
      Pendapat yang saya pilih adalah pendapat dari Imam Syafii, yang menyatakan bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah. Hal ini perlu diterapkan karena apabila hukum ditegaskan atau diterapkan, tidak ada seorangpun yang berani untuk melakukan sesuatu yang dilarang. Dari hal tersebut apabila seseorang memiliki rasa senang dengan sesama jenis(homo atu lesbi) dapat diminimalisir sehingga sedikit demi sedikit akan bisa berubah.
      Selain hal itu Fenomena homoseksual, bak virus, semakin hari semakin menjangkiti hati manusia. Persoalan homoseksual jangan dipandang sebelah mata, harus ada perbaikan-perbaikan aqidah, baik dari diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun lingkungan kampus, sebagai produksi mencetak ulama-ulama atau pemikir-pemikir Islam.
      Kita harus berhati-hati karena kampanye-kampanye yang dilakukan oleh kaum homoseksual semakin gencar dan berani, untuk menuntut hak dan regulasi keberadaan mereka di bumi ini. Untuk bagi kalangan ulama, pemerintah, pemuka agama, aktivis, agar lebih mensiasati dalam penyelesaian problem ini. Jangan sampai ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya terusik oleh keberadaan mereka, atau bahkan terulang kembali azab di masa Nabi Luth as., hanya karena hak minoritas, dengan alasan pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain sebagainya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.     Islam meyakini bahwa segala perintah dan larangan Allah SWT baik berupa larangan atau perintah tak lain bertujuan untuk menciptalan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat, termasuk tujuan pelarangan praktik homoseksual dan lesbian yang dimaksudkan untuk memanusiakan manusia dan menghormati hak-hak mereka. Untuk hukumnya sendiripun sudah jelas bahwasanya haram untuk dilakukan dan tidak patut untuk dilakukan karena hal ini adalah perbuatan yang keji. 
2.           Di Indonesia :  Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”), perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri.
      Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masing-masing.
Mengenai perkawinan yang diakui oleh negara hanyalah perkawinan antara pria dan wanita juga dapat kita lihat dalam Pasal 34 ayat (1).
      Perlunya penjelasan yang lebih jelas dan tegas mengenai pemberian sanksi bagi pelaku homoseksual di dalam hukum pidana. Perlunya tindakan nyata upaya aparat penegak hukum dalam menanggulangi kasus homoseksual dalam masyarakat. Perlu pula dibentuk suatu lembaga untuk menampung para homoseksual yang terjaring razia agar mereka bisa bertobat dan kembali menjadi jati diri yang sebenarnya.



DAFTAR PUSTAKA





[1] Syamsul Bahri dkk.,Metodologi Hukum Islam, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 45.
[2] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maud{u’i> < atas berbagai Persoalan Umat, cet ke-3 (Bandung: Mizan, 2004), hlm, 192.
[3] Ibid., hlm. 192-193.
[4] Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2001), hlm. 312.
[5] Khoiruddin Nasution, Islam Tentang Relasi Suami dan Isteri (Hukum Perkawinan I), (Yogyakarta: ACAdeMIA & TAZZAFA, 2004), hlm. 16.
[6] UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, (Bandung: CitrUmbara, 2007), hlm. 2.
[7] Akbar Muzakki, “Homoseksual Dan Lesbian Dalam Perspektif Fikih,” Dalam beberapa
 situs banyak sekali tanggapan terhadap statemen yang disampaikan oleh Siti Musdah Mulia tersebut, akan tetapi dalam situs ini adalah situs yang kontra terhadap pendapat Siti Musdah Mulia,
http://dunia.pelajar-islam.or.id. diakses tanggal 20 Oktober 2014.

[8] Ann Landers..  Problema dan Romantika Remaja (Terjemahan). Bina Pustaka: Jakarta. Hal. 5-6.
[9] Yatimin, Etika Seksual dan Penyimpangannya dalam Islam, (Penerbit Amzah,2003) hlm.33
[10] Muhammad bin Ibrahim Az-Zulfi, Homoseks, (Bandung:Hikma, 2005), hlm. 11
[11] Terdapat tujuh surat dalam al-Qur’an yang membahas tentang homoseksual, secara berurutan adalah QS. al-A’raf (7): 80-102, QS. Hud (11): 77-82, QS. al-Anbiya’ (21): 74, QS. al-Syu'ara’ (26): 160-173, QS. an-Naml (27): 54-58, dan QS. al-'Ankabut (29): 26:35. Lihat Hamka,Tafsir Al-Azhar, (Surabaya: Bina Ilmu Offset, 1975), hlm. 165.
[12] Abu Ameenah Bilal Philips, Islam dan Homoseksual, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003),hlm. 44
[13] Moelyanto. KUHP (kitab undang- undang hukum pidana), (Jakarta: Bina Aksara), hlm. 127.
[14] M. Hasan Ali. Masail Fiqhiyah al- haditsah pada Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam.( Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada), hlm. l45
[15] Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi. Masail Fiqhiyah, Kapita Selekta Hukum Islam, (Jakarta: CV. Haji Masagung) Hlm. 78.
[16] Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, cet. Ke- 1( Ponorogo: CIOS, 2008), hlm. 110.
[17] Ibid, hlm.111
[18] Ibid
[19] Masjfuk  Zuhdi,  Masail Fiqhiyah, Kapita Selekta Hukum Islam. (Jakarta:Toko Gunung Agung, 1997) hlm. 43-44
[20] Ibid, hlm 44
[21] Ibid, hlm 45.
[22] Ibid, hlm. 46
[23] Ali Akbar. H. Dr.. Seksualitas ditinjau dari Hukum Islam. Ghalia Indonesia: Jakarta. Hal. 55.

No comments:

Post a Comment