Thursday, November 27, 2014

Pluralisme Dalam Perspektif Islam?

Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Batu
Nov, 2014
Shidiq (PAI Semester 3)


I.        Pendahuluan
A.      Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagaman etnis, budaya dan agama. Dengan kekayaan perbedaan ini menjadikan Indonesia negara yang unik, karena perbedaan itu ada disetiap wilayah, karakteristik inilah yang menjadikan semboyan negara sebagai negara yang Bhineka Tunggal Ika meskipun berbeda namun Indonesia tetap bersatu.
Namun dalam catatan hitam, kebhinekaan yang dijadikan ciri khas negara ini sekaan-akan liuntur akibat konflik entah konflik etnis, ras, budaya, agama. Untuk konflik yang terakhir (agama) secara akal sehat seharusnya mampu untuk mencegah konflik-konflik tersebut. Agama apapun tentunya tidak ada yang memerintahkan penganutnya berperilaku negatif. Namun fakta di lapangan seringkali agama dijadikan legitimasi atas sikap arogansi penganut agama yang pada akhirnya memunculkan konflik antar agama. Peran serta agamawan, pemuka agama, tentunya juga memiliki posisi yang sangat penting dalam memimpin para penganut agama masing-masing. Namun juga seringkali para pemimpin ini menjadi aktor intelektual dibalik perilaku anarki disetiap konflik yang terjadi. wacana pluralisme yang belakangan ini dimunculkan oleh tokoh-tokoh agama, pada hakikatnya bertujuan untuk dapat mengarahkan manusia baik dari agama satu dengan agama yang lain dapat hidup berdampingan, saling menghargai, menghormati bahkan saling membantu. Namun usaha untuk menanamkan sikap pluralisme masih banyak ditentang oleh tokoh-tokoh, bahkan dari tokoh agama. Anggapan bahwa pluralisme sesat pun juga sering kita temui di media, berita. Dalam makalah ini akan membahas tentang pluralisme dalam perspektif Islam, bagaimana Islam menyikapi pluralitas yang terjadi dalam kehidupan baik masa lalu hingga sekarang.
B.      Rumusan Masalah
1.       Apakah pengertian pluralisme?
2.       Bagaimana pluralisme dalam perspektif Islam?
3.       Bagaimanakah cara untuk menumbuhkan pluralisme?

II.        Pembahasan
A.      PengertianPluralisme Agama
Secara sederhana pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.[1]
Adapun kata pluralismeberasaldaribahasaInggris “plural” yang berartijamakataubanyak, adapunpluralismeitusendiriberartisuatupahamatauteori yang menganggapbahwarealitasituterdiridaribanyaksubstansi.[2]
Pluralismejugaseringdigunakanuntukmelihatmaknarealitaskeragamansosial-masyarakatsekaligussebagaiprinsipatausikapterhadapkeragamanitu. Baikkemajemukandalamunsur  budayamaupun  keragamanmanusiadengansegalaaspeknya.
Sedangkan pluralisme agama menurut John Hick, penggagas pluralisme agama bagikaum Nasrani, yaitu, “Menurut pandangan fenomenologis, terminologi pluralisme agama artisederhananya ialah realitas bahwa sejarah agama-agama menunjukkan berbagai tradisi sertakemajemukan yang timbul dari cabang masing-masing agama.” Ia juga mengatakan bahwaPluralisme Agama mesti didefinisikan dengan cara menghindari klaim kebenaran satu agamaatas agama lain secara normatif.
Berbeda dengan Rahner, Hick tidak setuju dengan pernyataan bahwa agama Kristenmemiliki kebenaran yang “lebih” dibandingkan kebenaran agama lain. Oleh karena itu, menurutHick dalam pengembangan pluralisme agama harus dihindari penggunaan istilah terhadappenganut agama lain sebagai Kristen anonim, Islam anonim, Hindu anonim, Buddha anonim, dansejenisnya. Oleh karenanya, dalam pandangan Hick, cara yang lebih arif untuk memahamikebenaran agama-agama lain adalah dengan menerima bahwa semua agama merepresentasikanbanyak jalan menuju ke Satu Realitas Tunggal, yaitu Tuhan yang membawa kebenaran dankeselamatan.[3]
Pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kitamajemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanyamenggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahamisekedar sebagai “kebaikan negatif” (negative good), hanya dilihat dari kegunaannya untukmenyingkirkan fanatisisme. Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebinekaandalam ikatan-ikatan keadaban”.[4]
Bahkan pluralisme merupakan suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia denganmenggunakan berbagai mekanisme diantaranya seperti pengawasan dan pengimbangan.Sebagaimana Allah menjelaskannya dalam al-Qur’an
وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ
Artinya: Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (Q.S. Al-Baqarah 251).[5]
Pluralismejugaseringdigunakanuntukmelihatmaknarealitaskeragamansosial-masyarakatsekaligussebagaiprinsipatausikapterhadapkeragamanitu. Baikkemajemukandalamunsur  budayamaupun  keragamanmanusiadengansegalaaspeknya.
Pahaminimunculakibatreaksidaritumbuhnyaklaimkebenaranolehmasing-masingkelompokterhadappemikirannyasendiri. Persoalanklaimkebenaraninilah yang dianggapsebagaipemiculahirnyaradikalisasi agama, perangdanpenindasanatasnama agama. Konflikhorisantalantarpemeluk agama hanyaakanselesaijikamasing-masing agama tidakmenganggapbahwaajaran agama meraka yang paling benar. Itulahtujuanakhirdarigerakanpluralisme; untukmenghilangkankeyakinanakanklaimkebenaran agama danpaham yang dianut, sedangkan yang lain salah.
Paham pluralismemunculketika di masyarakatterjadikonflik horizontal keagamaan, yang manaterjadikonflikklaimkebenaran yang menyerukanuntukberperangatasnama agama, namunjugadengancaramenindas agama lainnya. Klaimkebenaranolehmasing-masingkelompok agama terhadapkepercayaanpribadihinggakini pun masihterjadidimana-manakhususnya di Negara Indonesia. Gagasan pluralism agama olehbeberapatokohdianggapperlukarenadenganberpedoman pluralism makaklaimkebenaranmasing-masing agama dapatdiminimalisirdantidak aka nada lagi yang menganggapbahwa agama merekaadalah yang paling benar. Dengan kata lain munculnyagerakanpluralismeiniadalahuntukmenghilangkankeyakinanakanklaimkebenaran agama danpaham yang dianutolehmaysrakatdenganmenyalahkanpahamatau agama lain.
Allah telahmenciptakanmanusiadenganberbagaimacamkeunikanmulaidari: warnakulit, jeniskelamin, bahasa, suku, danposturtubuhsertakeragaman agama danbudaya yang berbedadarimanusiasatudenganlainnya. Hal inimerupakankehendak-Nya yang bersifatkodratidanhukum Allah: sunnatullahinimencerminkankekuasaandankeagunganTuhan yang layakdisembah.
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفُ أَلۡسِنَتِكُمۡ وَأَلۡوَٰنِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡعَٰلِمِينَ
Artinya: “Dan di antaratanda-tandakekuasaan-Nya ialahmenciptakanlangitdanbumidanberlain-lainanbahasamudanwarnakulitmu. Sesungguhnyapada yang demikanitubenar-benarterdapattanda-tandabagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum 22).[6]
Keragaman adalah suatu yang empiris, sedangkan pluralisme adalah ideologi dan sistem yang menerima keragaman sebagai nilai positif dan terus berusaha memfaslitasi proses negosiasi dan penyesuaian diri diantara mereka, tanpa memusnahkan salah satu atau sebagian dari keragaman itu.
Keragaman (diversity) adalah persoalan dalam permasalahan agama, etnik, dan data demografis lainnya. Sedangkan Plurarisme (pluralism) adalah sistem nilai, sikap, institusi dan proses yang bisa menerjemahkan realitas keragaman menjadi kohesi sosial yang berkelanjutan. Dengan demikian, fenomena keragaman adalah ciri permanen masyarakat yang berbeda bentuk dan dinamika.[7]
Pluralisme mendorong kebebasan, termasuk kebebasan beragama, yang merupakan salah satu pilar demokrasi. Tidak ada demokrasi sejati tanpa pluralisme . pluralisme dalam konteks ini berarti adanya perlindungan negara terhadap hak-hak warganegaranya untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya. Pluralisme berarti membangun toleransi, yang mengharuskan adanya pengakuan bahwa setiap agama dengan para pemeluknya masing-masing memiliki hak yang sama untuk eksis. Karena itu, yang harus dibangun adalah perasaan dan sikap saling menghormati, yaitu toleransi aktif. Pluralisme bukan sinkretisme, juga bukan relativisme, dan tidak pula berarti mencampuradukkan agama. Justru karena pluralisme itu mengakui adanya keberagaman dan perbedaan, maka perbedaan itu perlu dikembangkan.[8]
Bahkan menurut Moh. Shofan dalam Pluralisme Menyelamatkan Agama-agama mengatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjelaskan makna sejati dari pluralisme; Pertama, pluralisme bukan hanya beragam atau majemuk, pluralisme lebih dari sekedar majemuk atau beragam dengan ikatan aktif kepada kemajemukan. Meski pluralisme dan keragaman terkadang diartikan sama, ada perbedaan yang harus ditekankan. Keragaman adalah fakta yang dapat dilihat tentang dunia dengan budaya yang beraneka ragam. Pluralisme membutuhkan keikutsertaan Kedua, pluralisme bukan sekedar toleransi. Pluralisme lebih dari sekedar toleransi dengan usaha yang aktif untuk memahami orang lain. Ketiga, bahwa pluralisme bukan sekedar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata den komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Ppluralisme adalah sebuah ikatan bukan pelepasan-pelepasan dan kekhususan. Oleh karena itu, semua umat beragama harus saling menghormati dan hidup bersama secara damai. Ikatan komitmen yang paling dalam dan perbedaan yang paling mendasar dalam menciptakan masyarakat secara bersama-sama menjadi unsur utama dalam pluralisme.[9]
Perbedaan pemahaman dan kurangnya wawasan tentang pluralisme telah banyak mempengaruhi keterlibatan konflik agama dewasa ini. Pluralisme yang diartikan sebagai persamaan, keseragaman (aqidah) oleh beberapa kalangan bukanlah makna dari pluralisme itu sendiri, seperti yang telah diungkapkan oleh Budhy Munawar Rachman diatas, bahwa pluralisme bukanlah sinkretisme atau mencampuradukkan ajaran agama satu dengan agama lainya, pluralisme bukanlah relitivisme. Melainkan pluralisme adalah bagaimana setiap individu penganut agama dapat menghargai agama lain, menghargai kemajemukan, menghormati keyakinan orang lain, bukan memusuhi dan memeranginya. Oleh karena itu dalam negara yang demokratis tentunya mutlak diperlukan ideologi pluralisme untuk dapat menjalankan nilai-nilai demokrasi yang juga menghormati hak-hak setiap individu.
B.      Pluralisme Dalam Perspektif Islam
            Fakta yang harus kita akui dalam kehidupan sosial adalah keragaman dalam memeluk agama yang diyakini oleh setiap individu. Keyakinan akan agama adalah hak yang sangat privacy yang bersifat ekskulif, karena hanya menghubungkan antara manusia/individu dengan Tuhan yang diyakini. Kita tidak dapat memaksakan keyakinan orang lain dengan mengharuskan orang lain mengikuti apa yang kita yakini. Keragaman agama disatu sisi merupakan bukti bahwa terdapat dinamika spiritual dalam tatanan masyarakat, namun disisi lain keragaman ini juga dapat menimbulkan konflik yang serius, seperti konflik antar umat beragama. Bahkan beberapa kasus juga telah terjadi, yang mana dampak dari konflik tersebut manusia menjadi tega untuk berbuat anarkis, memperkosa, bahkan hingga membunuh. Salah satu contohnya yang menjadi perhatian pemerintahan Indonesia bahkan dunia yaitu kasus konflik agama di Ambon. Munculnya kasus di Ambon menimbulkan statemen baru dikalangan agamawan bahwa agama tidak hanya membawa manusia ke arah yang lebih beradab namun juga dapat membuat manusia bersikap biadab. Agama dapat dengan mudah dimanipulasi oleh golongan yang dengan sengaja ingin menghancurkan tatanan sosial agama, dengan dalih kebenaran agama/seruan atas nama Tuhan sehingga penganut agama tersebut dengan mudahnya menerima seruan dari penghasut untuk melakukan tindakan anarki kepada penganut agama lain. Hal ini memang nampaknya menjadi sebuah paradoks dari kehadiran agama didunia ini, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan dan menganjurkan dehumanisasi tetapi mengapa banyak kekerasan justru disebabkan karena agama atau lebih tepatnya agama ketika berhadapan dengan pruralitas keberagamaan masyarakat.
            Dalam Islam, tidak ada satupun ayat dalam Al-Qur’an dan tidak ada satu hadits pun yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan, pertentangan atau segala bentuk perilaku negatif, represif yang mengancam stabilitas dan kualitas kedamaian hidup. Ironisnya, hingga kini masih saja muncul kekerasan yang mengatasnamakan agama. Karena itu, diperlukan suatu rumusan yang tepat untuk membangun sistem kehidupan yang damai. Rumusan itu ada dalam pluralisme, yang menjadi dasar bagi hubungan antar dan intra agama.[10]
            Begitu banyak Tuhan menuturkan ide pluralisme ini. Tuhanlah yang menghendaki makhluk-Nya bukan hanya berbeda dalam realitas fisikal melainkan juga berbeda-beda dalam ide, gagasan, berkeyakinan dan beragama sebagaimana yang disebut dalam beberapa firman-Nya antara lain:
  وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ
Artinya:“Andaikan Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan umat yang satu, Dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda.” (Q.S Hud 118)
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ
Artinya:“Andaikan Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja” (Q.S Al-Ma’idah 48)
            Dengan demikian, sangat jelas bahwa ketunggalan dalam beragama dan berkeyakinan tidaklah dikehendaki Tuhan. Pada ayat lain yang sangat populer disebutkan:
لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ
Artinya: ”Tidak ada paksaan dalam memasuki agama” (Q.S Al-Baqarah 256).
            Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa di samping tidak boleh ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama atau pindah agama, orang juga dibebaskan apabila memilih tidak beragama. Karena jalan yang benar dan yang salah sudah dibentangkan Tuhan. Terserah kepada setiap orang untuk memilih antara dua jalan tersebut, dengan segala konsekuensinya. Allah dengan sangat indah menjelaskan kebenaran dan kebatilan atau keimanan dan kekafiran ini dalam al-Qur’an 13:17.
أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّاٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُٱلۡأَمۡثَالَ
Artinya: Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Q.S. Ar-Ra’d 17).[11]
            Dalamayat yang lain, Al-Quranjugamenegaskantentangpluralitassuku dan bangsasebagaimanadalamfirmanNya:
يَٰٓأَيُّهَاٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal(QS. Al-Hujurat 13).
            Hal ini memberi isyarat bahwa Allah sangat menghargai pluralitas (kemajemukan) yang merupakan sunnatullah karena kemanunggalan hanya milik Allah SWT.
            Pengakuan terhadap pluralisme, dalam Al-Quran, ditemukan dalam banyak  terminologi yang merujuk kepada komunitas agama yang berbeda. Al-Quran di samping membenarkan, mengakui keberadaan eksistensi agama-agama lain, juga memberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Konsep ini secara sosiologis dan kultural menghargai keragaman, sementara secara teologis turut mempersatukan keragaman tersebut dalam satu umat yang memiliki kitab suci ilahi. Pengakuan Al-Quran terhadap pluralisme dipertegas lagi dalam kotbah perpisahan Nabi  Muhammad. Sebagaimana dikutip oleh Fazlur Rahman, ketika Nabi menyatakan bahwa,
Kamu semua adalah keturunan Adam, tidak ada kelebihan orang Arab terhadap orang lain, tidak pula orang selain Arab terhadap orang Arab, tidak pula manusia yang berkulit putih terhadap orang yang berkulit hitam, dan tidak pula orang yang hitam terhadap yang putih kecuali karena kebajikannya.[12]
            Perkataan ini menggambarkan persamaan derajat umat manusia di hadapan Tuhan.Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang alamiah. Allah tidak menghendaki manusia untuk menjadi satu umat saja.
            Islam lahir dalam konteks agama Yahudi dan agama Kristen di wilayah Arab dan Muhammad memahami wahyunya sebagai kelanjutan dan pemenuhan tradisi alkitabiah Yahudi dan Kristen. Al-Qur’an mengakui agama-agama yang mewartakan pewahyuan Allah, yang bersikap adil dan yang menyembah Dia, agama-agama seperti itu di dalam Al-Qur’an disebut Asal Alkitab (QS. Az Zukhruf 43:4; QS. Ar Ra’ad 13:39, Kitab Yang terlindungi (QS. Al-Waqiah 56:78) dalam kaitan inilah muncul pengakuan Muhammad bahwa dia tidak saja beriman kepada Taurat dan Injil tetapi juga ” aku beriman kepada kitab apa saja yang diturunkan Allah” bimbingan Allah menurut Al-Qur’an tidak terbatas tetapi universal bagi semua orang. Hal ini mengungkapkan sikap Islam yang sangat toleran dan rukun ketika masa nabi Muhammad oleh karena itu pengajaran Islam sangat positif untuk mendorong umat Muslim supaya rukun terhadap non Islam.
            Kebebasan beragama dan penghormatan terhadap kepercayaan agama lain bukan hanya hal penting bagi masyarakat majemuk tetapi bagi Islam sendiri hal tersebut merupakan ajaran Al-Qur’an. Membela kebebasan beragama dan menghormati kepercayaan orang lain justru merupakan bagian dari ajaran keIslaman. Dalam Al-Qur’an diharuskan bagi seorang Muslim bersikap ikut bertanggungjawab menjaga pertahanan keamanan rumah-rumah ibadah agama lain seperti biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge dan masjid-masjid (bnd. QS al Hajj 22:40). Pada hakekatnya ayat inilah yang menginspirasikan Muhammad untuk menyusun strategi hubungan sosial politik masyarakat yang plural di Madinah yang dituangkan dalam satu konstitusi politis yaitu Piagam Madinah yang menjamin kebebasan hidup bagi yang berbeda agama dalam satu komunitas yang sama. Islam mengakui eksistensi agama-agama yang ada dan menerima beberapa prinsip ajarannya. Namun demikian bukan berarti bahwa semua agama adalah sama, sebab setiap agama memiliki kekhasan, keunikan dan karakteristik yang membedakannya dengan agama lain yang disebabkan karena kelahiran setiap agama memiliki konteks historis dan tantangannya sendiri.[13]
            Nurcholis Madjid, menyatakan bahwa konsep kemajemukan umat manusia ini sangat mendasar dalam Islam. Itu, secara konsisten, dapat diubah ke dalam bentuk-bentuk pluralisme modern, yang merupakan toleransi. Pluralisme di sini dipahami sebagai ikatan murni dari berbagai peradaban yang berbeda. Pluralisme sejati memang jarang terjadi dalam sejarah tetapi Islam telah menunjukkan kemungkinan itu. Lebih jauh, Madjid menyatakan bahwa kebebasan agama dalam konteks Indonesia adalah suatu peningkatan kesadaran agama Islam tradisional dan perspektif modern. Demi integritas agama, negara tidak memaksa atau mendidik kepercayaan seseorang, yang sesungguhnya disaksikan oleh Kitab Suci al-Qur’an. tampaknya menurut al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat, bahwa pluralitas adalah tatanan komunitas manusia, semacam hukum Tuhan (Sunnatullah). Oleh karena itu, adalah hak istimewa Tuhan untuk menjelaskan kehidupan selanjutnya mengapa orang berbeda cara antara satu dengan yang lain.[14]
            Toleransi dan kerukunan sejati adalah berangkat dari kesadaran nurani dan inisiatif semua pihak yang terlibat di dalamnya. Namun demikian tumbuh dan berkembangnya kesadaran insani dilingkungan masyarakat untuk menciptakan kebersamaan menuju kerukunan dan toleransi yang sebenarnya harus tetap diupayakan, dibangun dan dibina secara bertahap. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan berbagai cara yang lebih menekankan pada pendekatan etika, kultural, akhlak, dan humanis daripada pendekatan struktural dan politis.
            Pendekatan ini perlu didukung dan dilengkapi dengan pencanangan dan perumusan etika kehidupan beragama atau ideologi toleransi kehidupan beragama yang disusun secara bersama-sama oleh semua komponen, yang melibatkan tokoh dan pimpinan agama serta pemerintah. Dalam membangun etika kehidupan beragama setidaknya ada lima aspek penting yang dijadikan konsep pembangunan agama, yaitu; pertama, membangun kerukunan hidup antar umat beragama; kedua, peran serta umat beragama dalam kehidupan sosial ekonomi, ketiga; terpenuhinya sarana prasarana keagamaan; keempat,  pendidikan agama yang ramah; kelima, penerangan dan dakwah agama yang penuh kesantunan. Kelima aspek tersebut mempunyai relevansi yang cukup kuat untuk dijadikan sebagai potret membangun etika kehidupan beragama di Indonesia dalam rangka membangun kehidupan beragama yang nirkonflik, penuh kedamaian dan keharmonisan.[15]
C.      Fatwa Haram MUI tentang Pluralisme
Persoalan pluralisme memang layak diperdebatkan, baik pluralisme dalam tataran konseptual-teoretis maupun dalam tataran praktis. Sebelum keluarnya fatwa MUI tahun 2005, wacana pluralisme sebenarnya sudah tumbuh seiring dengan merebaknya pemikiran liberalisasi di Indonesia tahun 70-an dengan Nurcholis Madjid sebagai ikon intelektualnya. Perdebatan soal paham pluralisme masih terus menghangat, setidaknya, selama beberapa waktu belakangan. Banyak media massa yang menyajikan tema pluralisme di rubrik opini-nya. Perdebatab yang dipicu oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan paham pluralisme, sekularisme, dan liberalisme tersebut berpotensi terus menghangat sebagai diskursus publik. Silang pendapat para pemikir keagamaan dalam tataran teoretis-konseptual di satu sisi dan dalam tataran praksis dengan nada yang beragam, tiada henti membicarakannya.[16]
Ide pluralisme dalam rekam perjalanannya sudah dimulai sejak dahulu yang kemudian dikembangkan dan dipertegas kembali oleh Nurcholis Madjid, dan juga Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun ide pluralisme dari kedua tokoh tersebut banyak ditentang oleh tokoh-tokoh negara bahkan terutama dengan para Kyai dan juga MUI.
M.Hamid, dalam bukunya Gus Gerr, Bapak Pluralisme & Guru Bangsa,menuliskan bahwa pemikiran besar Gus Dur seperti Pluralisme, multikulturisme dan sekularisme menjadi perdebatan hangat di kalangan umat Islam. MUI dalam Fatwanya mengecam ide sekularisme, pluralisme dan liberalisme dengan menyatakan bahwa pemikiran tersebut bertentangan dengan Islam. Di kalangan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur sering berseberangan dalam beberapa hal, seperti dengan almarhum K.H. As’as Syamsul Arifin dan pamannya, K.H. Yusuf Hasyim. Ada juga yang menganggap pemikiran Gus Dur berbahaya meskipun mereka tetap menghormatinya. Demikian juga K.H. Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, dalam segi politik dan pemikiran keagamaan juga berseberangan dengan Gus Dur. Ia menilai Pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam.[17]Pandangan pluralisme dianggap sebagai satu paham yang sesat oleh MUI karena menyatakan semua agama itu benar.
Dalam fatwa MUI Juli 2005 ditegaskan bahwa paham pluralisme adalah haram. Pengharaman tersebut disebabkan karena pluralisme adalah paham yang “menyamakan semuaagama.”[18]KH. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa sebenarnya pluralisme agama dapat dimaknaibermacam-macam. Kalau pluralisme dimaknai sebagai perbedaan agama, bagi MUI tidak adamasalah. Itu sesuatu yang niscaya. Pluralisme yang dinyatakan menyimpang yakni apabilapluralisme dimaknai:
Pertama, menyatakan semua agama adalah benar. Pengertian semacam ini bagi MUI tidak benar menurut semua ajaran agama. Menurut Islam sendiri, seperti dikatakan Ma’ruf Amin,yang benar adalah agama Islam. Kalau Islam benar, maka yang lain salah. Karena itu, agama yang benar adalah agama Islam. Pemahaman yang mengatakan semua ajaran benar adalahmenyimpang karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Kedua, teologi pluralisme, yaitu teologi yang mencampuradukkan berbagai ajaran agamamenjadi satu, dan menjadi sebuah agama baru. Teologi semacam ini sama dengan sinkretisme.Itu sama sekali tidak dibenarkan oleh MUI.
D.      Upaya Menumbuhkan Pluralisme Agama
Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa pluralisme merupakan hal yang tidak mungkin dapat dihindari, dinegara manapun tentu akan terjadi sebuah perbedaan. Karena keyakinan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diyakini oleh penganut agama tertentu. Islam sebagai agama yang selalu ingin menciptakan kedamaian juga telah banyak mengkisahkan bagaimana cara berinteraksi sosial dengan penganut agama yang lain, bahkan kepada orang-orang kafir. Disinilah Islam menunjukkan eksistensi dan karakteristiknya. Begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits nabi yang mengkisahkan dan menganjurkan untuk hidup rukun kepada orang lain. Oleh karena itu perlu adanya sebuah langkah solutif terkait bagaimana upaya untuk mengembangkan plurlisme didalam kehidupan masyarakat.
Sikap keberagaman ditengah masyarakat yang pluralis perlu dikembangkan: pertama, menerima orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai. Perwujudannya adalah sikap tidak saling mengganggu, hormat menghormati dan toleransi. Kedua, mengembangkan kerjasama sosial kegamaan melalui beberapa kegiatan yang secara simbolis memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun. Ketiga, mencari, mengembangkan, dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problem, tantangan, dan keprihatinan hidup manusia secara keseluruhan. Sikap pertama adalah tahap awal  dan kondisi optimal untuk membangun kebersamaan masyarakat. Sikap kedua merupakan perwujudan nyata dari kebersamaan itu. Sikap ketiga merupakan landasan teologis bagi masing-masing umat untuk membangun suatu masyarakat dimana semua orang bisa hidup bersama dalam semangat persatuan dan kesatuan umat manusia. Sikap yang ditawarkan itu tidak lain adalah paham pluralisme agama.[19]
Implikasi terjadinya konflik, disatu sisi dapat menjadikan kerukunan umat beragama semakin erat, namun di sisi lain dapat merenggangkan hubungan antarumat beragama. Menurut HS, kelompok yang semakin erat dengan adanya konflik, karena memiliki wawasan kebangsaan dan memahami hukum secara memadai, sedangkan kelompok yang semakin renggang karena konflik, ibarat merasakan “luka lama yang kembali menganga”. Untuk meminimalisir terjadinya konflik, perlu adanya pertemuan secara intensif antar para pemuka agama dengan pendekatanpendekatan baik secara personal maupun organisasional. Munculnya isu-isu yang kurang tepat baiknya disikapi secara cermat, dan tidak mudah terpancing emosi, tenang. Seringkali pemeluk agama dengan mudahnya terpancing dengan berita-berita yang kadang hanya isu, namun menanggapi dengan kurang tenang kemudian menjadikan masalah yang semakin besar hingga terjadi konflik agama.[20]
Sikap eksklusif para pemuka agama tentunya harus segera dirubah, karena peran pemuka agama adalah yang dapat menenangkan jamaahnya. Para pemuka agama yang memiliki peran yang sangat penting selayaknya mengedepankan sikap inklusif, dengan memandang bahwa orang yang menganut agama lain juga memiliki hak yang sama, tidak memaksakan keyakinan sesorang untuk mengikuti, meyakini agama yang dianutnya. Karena hal ini tidak dibenarkan oleh negara, negara Indonesia sudah memberikan kebebasan beragama bagi siapapun dan bebas melakukan kegiatan kegamaan. Hal ini telah dijamin dalam undang-undang negara Indonesia yang memberikan kebebasan dalam memluk agama yang diyakini kebenarannya.

















  III.          Penutup
Kesimpulan
Secara sederhana pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya. Pluralismejugaseringdigunakanuntukmelihatmaknarealitaskeragamansosial-masyarakatsekaligussebagaiprinsipatausikapterhadapkeragamanitu. Baikkemajemukandalamunsur  budayamaupun  keragamanmanusiadengansegalaaspeknya.
Dalam Islam, tidak ada satupun ayat dalam Al-Qur’an dan tidak ada satu hadits pun yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan, pertentangan atau segala bentuk perilaku negatif, represif yang mengancam stabilitas dan kualitas kedamaian hidup. Ironisnya, hingga kini masih saja muncul kekerasan yang mengatasnamakan agama. Karena itu, diperlukan suatu rumusan yang tepat untuk membangun sistem kehidupan yang damai. Rumusan itu ada dalam pluralisme, yang menjadi dasar bagi hubungan antar dan intra agama.
Sikap keberagaman ditengah masyarakat yang pluralis perlu dikembangkan: pertama, menerima orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai. Perwujudannya adalah sikap tidak saling mengganggu, hormat menghormati dan toleransi. Kedua, mengembangkan kerjasama sosial kegamaan melalui beberapa kegiatan yang secara simbolis memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun. Ketiga, mencari, mengembangkan, dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problem, tantangan, dan keprihatinan hidup manusia secara keseluruhan.



DAFTAR RUJUKAN
Abahzacky. (2010, Januari 28). Pluralisme Agama dalamPandangan Islam. 11 Desember  2013, dari muslimdailiy.net: http://muslimdaily.net/artikel/home/pluralisme-agama-dalam-pandangan-islam.html
Pius A. Partantodan M. Dahlan Al Barry, KamusIlmiahPopuler (Surabaya: ArKolah, 1994)
BudhyMunawar-Rachman, Argumen Islam untukPluralisme: Islam ProgresifdanPerkembanganDiskursusnya, (Jakarta: Grasindo, 2010)
BudhyMunawarRachman, Islam Pluralis: WacanaKesetaraanKaumBeriman, (Jakarta Selatan: PT. Paramadina, 2001)
Depag RI, Al Qur’an danTerjemahannya (Semarang: CV. Al-Waah, 1989)
Al-Na’īm. A. Islam dan Negara Sekuler :MenegosiasikanMasaDepanSyariah. (Bandung: PT MizanPustaka. 2007)
BudhyMunawarRachman, Argumen Islam untukPluralisme(Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia, 2010)
Moh. Shofan, PluralismeMenyelamatkan Agama-agama, (Yogyakarta: SamudraBiru, cet. I, 2011)
UmiSumbulah, Pluralisme Agama, MaknadanLokalitasPolaKerukunanAntarumatBeragama, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2013)
 Rahman, dkk, Agama UntukManusia, Ali NoerZaman (Penterj.), (PenerbitPustakaPelajar: Yogyakarta 2000)
Abd. MoqithGhazali, ArgumentasiPluralisme Agama MembangunToleransiBerbasis Al-Qur’an, (Penerbit Kata Kita, Jakarta 2009)
NurcholisMadjid, KebebasanBeragamadanPluralismedalam Islam, (Jakarta: GramediaPustakaUtama, 1998)
FajarKurnianto, SebuahKearifanuntukPahamPluralisme, htm
M. Hamid, Gus Gerr, BapakPluralisme& Guru Bangsa, (PenerbitPustakaMarwa: Yogyakarta 2010)
Keputusan Fatwa MajelisUlama Indonesia Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentangPluralisme, Liberalisme, danSekularisme, tertanggal 29 Juli 2005.




[1]abahzacky. (2010, Januari 28). Pluralisme Agama dalam Pandangan Islam. 11 Desember  2014, dari muslimdailiy.net: http://muslimdaily.net/artikel/home/pluralisme-agama-dalam-pandangan-islam.html
[2] Pius A. Partantodan M. Dahlan Al Barry, KamusIlmiahPopuler (Surabaya: ArKolah, 1994), hlm. 604
[3]Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam untuk Pluralisme: Islam Progresif dan PerkembanganDiskursusnya, (Jakarta: Grasindo, 2010), hlm. 10.
[4]Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta Selatan: PT
Paramadina, 2001), hlm. 31
[5]Depag RI, Al Qur’an danTerjemahannya (Semarang: CV. Al-Waah, 1989)
[6]Depag RI, Al Qur’an danTerjemahannya (Semarang: CV. Al-Waah, 1989)
[7]al-Na’īm. A. Islam dan Negara Sekuler : Menegosiasikan Masa Depan Syariah.(Bandung: PT Mizan Pustaka. 2007) hlm. 391
[8]Budhy Munawar Rachman, Argumen Islam untuk Pluralisme (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010), hlm. 6
[9]Moh. Shofan, Pluralisme Menyelamatkan Agama-agama, (Yogyakarta: Samudra Biru, cet. I, 2011), hlm. 69
[10]Umi Sumbulah, Pluralisme Agama, Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2013). Hlm. 49
[11]Depag RI, Al Qur’an danTerjemahannya (Semarang: CV. Al-Waah, 1989)
[12]Fazlur Rahman, dkk, Agama UntukManusia, Ali NoerZaman (Penterj.), PenerbitPustakaPelajar, Yogyakarta 2000: hlm. 75.
[13]Abd. MoqithGhazali, ArgumentasiPluralisme Agama MembangunToleransiBerbasis Al-Qur’an, Penerbit Kata Kita, Jakarta 2009: hlm. 227-228
[14]Nurcholis Madjid, Kebebasan Beragama dan Pluralisme dalam Islam, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998) hlm. 175
[15]Umi Sumbulah, Pluralisme Agama, Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2013). Hlm. 57-58
[16]Fajar Kurnianto, Sebuah Kearifan untuk Paham Pluralisme, htm, diakses pada 12 November 2014
[17]M. Hamid, Gus Gerr, BapakPluralisme& Guru Bangsa, PenerbitPustakaMarwa (Anggota IKAPI), Yogyakarta 2010: hlm. 80-81
[18]Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme,
Liberalisme, dan Sekularisme, tertanggal 29 Juli 2005.
[19]Umi Sumbulah, Pluralisme Agama, Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2013). Hlm. 20
[20]Umi Sumbulah, Pluralisme Agama, Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2013). Hlm. 57-58

No comments:

Post a Comment