Friday, December 5, 2014

Aborsi dalam Indonesia serta Islam


Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Batu
Des, 2014

Om Hajir
=================================

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Latar belakang terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan sangat beragam. Mulai dari ketidaktahuan perempuan perihal sistem reproduksinya sampai dengan kegagalan melindungi diri dari kehammilan  yang tidak dikehendaki ( sudah memakai alat kontrasepsi, tetapi tidak semua alat kontrasepsi sama efektifnya, maka terjadi kegagalan ). Dilema aborsi dialami perempuan ketika perlu memilih dan memutuskan bagaimana menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki karena ia harus memutuskan sesuatu yang secara langsung merupakan bagian dari dirinya.
Dilema aborsi yang dihadapi perempuan bervariasi. Variasi pilihannya dipengaruhi oleh faktor kondisi pribadi dan keluarganya, nilai-nilai agama dan budaya. Fatwa tentang aborsi adalah haram berkontribusi besar pada dilema yang dihadapi perempuan ( Islam ) Indonesia yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan karena tidak  seorang pun ingin menanggung rasa dosa karena tindakan yang dipilih. Sehingga ditengah-tengah pandangan tentang aborsi  yang sangat beragam dan perdebatan antara pro dan kontra yang masih bergulir, adalah perempuan yang secara kongkret harus menghadapinya. Sering kali harus menghadapinya sendiri.
Kehidupan manusia dimulai saat setelah pembuahan terjadi. Jika dengan sadar dan dengan segala cara kita mengakhiri hidup manusia tak berdosa, berarti kita melakukan suatu perbuatan tak bermoral dan asosial. Tidak semestinya kita membiarkan penghentian nyawa hidup siapapun atau hidup kita sebagai manusia menjadi tidak berharga lagi.
Sekarang ini praktek aborsi semakin meraja lela, bukan hanya para kalangan mahasiswa saja yang melakukan praktek ini tetapi banyak juga pelajar yang melakukan praktek ini. Sebab dipilihnya tema ini adalah dua hal :
1.      Banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai hukumnya.
2.      Kemajuan ilmu kedokteran, sehingga dengan kemajuan tersebut praktek aborsi dapat dengan mudah dilakukan.Seorang suami cukup dengan sekedar membawa istrinya atau bahkan seorang istri dapat pergi sendiri ke dokter laki-laki ataupun perempuan dan dalam waktu sekejap apa yang ada dalam kandungannya dengan mudah digugurkan. Dalam makalah akan dibahas tentang hukum aborsi menurut syari’at islam.

B. Rumusan Masalah
1.      .Apa pengertian aborsi?
2.       Apa maca-macam dari aborsi?
3.      Bagaimana hukum aborsi menurut syari’at islam?
4.      Bagaimana hukum aborsi menurut hukum-hukum di Indonesia?
C.  Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui pengertian dari aborsi.
2.      Mengetahui macam-macam dari aborsi.
3.      Mengetahui hukum aborsi menurut syari’at islam.
4.      Mengetahui hukum aborsi menurut hukum di Indonesia.




BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Aborsi
Adapun secara etimologi , Aborsi adalah menggugurkan anak, sehingga ia tidak hidup. Adapun secara terminologi, Aborsi adalah praktek seorang wanita yang menggugurkan janinnya baik dilakukan sendiri ataupun orang lain. Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Adapun aborsi diserap dari bahasa Inggris yaitu Abortion yang berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan atau keguguran. Definisi lengkap mengenai hal tersebut tercakup dalam glorier Family encylopedia yang menyebutkan pengertian aborsi adalah penghentian kehamilan dengan cara menghilangkan atau merusak janin sebelum masa kelahiran yang bisa jadi dilakukan dengan cara spontan atau dikeluarkannya janin dengan cara paksa.[1]
Ijhadh/Aborsi menurut bahasa berarti menggugurkan kandungan yang kurang masanya atau kurang kejadiannya, tidak ada perbedaan antara kehamilan anak laki-laki dan anak perempuan, bik aborsi ini dilakukan dengan cara sengaja atau tidak sengaja. Lafazh ijhadh memiliki beberapa sinonim seperti isqath ( menjatuhkan ), ilqa’ (membuang), tharah ( melempar ), dan imlash ( menyingkirkan ). Perkataan abortus dalam bahasa inggris disebut abortion berasal dari bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran.[2]
Dalam istilah ahli fiqih, penggunaan kata ijhadh tidak keluar dari makna bahasa, yaitu mengugurkan kandungan yang kurang kejadiannya atau kurang masanya. Hanya saja, ahli fiqih membedakan antara jatuhnya kandungan secara tidak sengaja dan karena perbuatan seseorang. Menurut mereka, yang kedua adalah tindak kejahatan yang mengakibatkan hukuman, berbeda dengan yang pertama.
Sebab-sebab terjadinya aborsi sangatlah beragam. Terkadang janin digugurkan karena permintaan dari ibu atau selainnya karena berbagai sebab. Sebab-sebab yang paling terpentingnya adalah :[3]
1.      Tujuan mengugurkan janin karena takut akan kemiskinan atau penghasilan yang tidak memadai.
2.      Tujuan mengugurkan kehamilan karena ibu khawatir anak yang tengah disusuinya
terhenti mendapatkan ASI.
3.      Takut janin tertular penyakit yang diderita ibu atau ayahnya.
4.      Kekhawatiran akan kelangsungan hidup ibu apabila kehamilan membahayakan kesehatannya.
5.      Niat menggugurkan janin pada kandungan kehamilan yang tidak disyariatkan akibat berzina. Juga sebab-sebab lain yang menjadikan aborsi janin sebagi tujuan.

B.  Macam-Macam Aborsi
Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam aborsi, yaitu:[4]
1.      Aborsi Spontan atau Alamiah adalah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
2.      Aborsi buatan atau sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). Menurut istilah kedokteran yaitu :
a.      Abortus provokatus criminalis atau Aborsi Terapeutik atau medis aborsi terapeutik atau medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medis. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
b.      Abortus provokatus criminalis atau aborsi non medis. Seperti meminum jamu-jamu atau bahan makanan tertentu sebagai jamu peluntur serta secara mekanis fisik, misalnya dipijat dukun pijat dan sebagainya. Dalam keadaan tertentu dan pertimbangan medis, kadang kala dilakukan pula induksi haid atau menstrual regulation dengan beberapa syarat:

1.      Haid terlambat tidak lebih lama dari 14 hari
2.      Tes kehamilan negatif
3.      Hanya boleh dilakukan pada klinik-klinik rumah sakit tertentu.
Metode aborsi sangat beragam seiring banyaknya sebab-sebab aborsi. Metode aborsi dapat dikelompokan kepada 2 jenis :

·         Metode Aktif
Maksudnya adalah aborsi yang terjadi selepas dari satu aksi, baik itu berasal dari ibu atau dari orang lain. Contoh aborsi ini adalah tindakan kejahatan terhadap ibu seperti pukulan dan sejenisnya, yang berdampak pada ibu dan janinya secara bersamaan, atau pada janin saja tanpa pada ibu.
Termasuk aborsi pada cara ini adalah teror terhadap ibu, misalanya seorang hakim memintanya untuk mengatakan sesuatu yang buruk, sehingga kandungannya gugur karena takut. Selain itu adalah rasa lapar, marah dan sedih yang luar biasa akibat berita menyedihkan rlebatau melukai perasaannya secara berlebihan. Bgitu juga mencium bau tajam yang berdampak pada kehamilan dan lain-lain.

·         Metode Pasif
Yang dimaksud dengan cara-cara pasif adalah ibu tidak melakukan sesuatu yang penting bagi keberlangsungan kehamilan, sehingga mengakibatkan bahaya pada kehamilan. Contohnya, ibu tidak mau mengkonsumsikan obat-obatan yang telah diresepkan untuk menjaga kehamilan, atau ibu tidak mau mengkonsumsi apa yang sangat diinginkannya, padahal ia tahu hal itu bisa berpengaruh pada keberlangsungan kehamilan, dan lain-lain.[5]
Adapun metode yang dipakai untuk abortus biasanya adalah :[6]
a.       ( C & B Curratage & Dilatoge ). Dengan alat khusus rahim dilebarkan, kemudian janin dicoret dengan alat seperti sendok kecil.
b.      Aspirasi, yakni penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.
c.        Hysterotomi, yakni melalui operasi.

C.  Hukum Aborsi
Hukum Aborsi Menurut Syari’at Islam
Pandangan Syariat Islam secara umum mengharamkan praktek aborsi. Hal itu tidak diperbolehkan karena beberapa sebab :
a.       Syariat Islam datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyaat al-khams,lima hal yang urgen,seperti telah dikemukakan.
b.      Aborsi sangat bertentangan sekali dengan tujuan utama pernikahan.Dimana tujuan penting pernikahan adalah memperbanyak keturunan. Oleh sebab itu Allah memberikan karunia kepada Bani Israil dengan memperbanyak jumlah mereka.
c.       Tindakan aborsi merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah. Seseorang akan menjumpai banyak diantara manusia yang melakukan aborsi karena didorong rasa takut akan ketidak mampuan untuk mengemban beban kehidupan, biaya pendidikan dan segala hal yang berkaitan dengan konseling dan pengurusan anak. Ini semua merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.
Dalam kalangan Ulama terdapat perbedaan pendapat tentang praktek aborsi tersebut, dan mereka memiliki dalil-dalil yang sama kuat pula, yaitu sebagi berikut:
1.      Dalil-dalil yang melarang dilakukannya Aborsi
·         Sebelum Islam datang, pada masa jahiliyah, kaum Arab mempunyai tradisi mengubur hidup-hidup bayi yang baru dilahirkan. Allah SWT berfirman:

#sŒÎ)uräoyŠ¼âäöqyJø9$#ôMn=Í´ßÇÑÈÄdr'Î/5=/RsŒôMn=ÏGè%ÇÒÈ
dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa Apakah Dia dibunuh”( At Takwiir 8-9).
·         Islam membawa ajaran yang menentang dan mengutuk tradisi jahiliyyah ini. Allah SWT berfirman:
Ÿwur(#þqè=çGø)s?öNä.y»s9÷rr&spuô±yz9,»n=øBÎ)(ß`øtªUöNßgè%ãötRö/ä.$­ƒÎ)ur4¨bÎ)öNßgn=÷Fs%tb%Ÿ2$\«ôÜÅz
#ZŽÎ6x.ÇÌÊÈ
“dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar” (Al-Isra’31).
Pada perkembangan selanjutnya, pembunuhan tidak hanya dilakukan pada bayi-bayi yang baru dilahirkan. Tetapi juga dilakukan dengan cara membunuh calon-calon bayi yang akan dilahirkan. Dalam istilah fiqh disebut:
إجهاض , إملاص, إسقاط الطرح
Sementara ulama lain berpendapat, hukum menggugurkan kandungan tidak dapat disamakan persis dengan membunuh bayi yang sudah dilahirkan. Karena ketika sperma sudah memasuki rahim perempuan, masih ada proses panjang sebelum akhirnya keluar menjadi bayi yang dilahirkan. Allah SWT berfirman:
ôs)s9ur$oYø)n=yzz`»|¡SM}$#`ÏB7's#»n=ß`ÏiB&ûüÏÛÇÊËȧNèOçm»oYù=yèy_ZpxÿôÜçRÎû9#ts%&ûüÅ3¨BÇÊÌÈ
¢OèO$uZø)n=yzspxÿôÜZ9$#Zps)n=tæ$uZø)n=ysùsps)n=yèø9$#ZptóôÒãB$uZø)n=ysùsptóôÒßJø9$#$VJ»sàÏã$tRöq|¡s3sùzO»sàÏèø9$#$VJøtm:¢OèOçm»tRù't±Sr&$¸)ù=yztyz#uä4x8u$t7tFsùª!$#ß`|¡ômr&tûüÉ)Î=»sƒø:$#ÇÊÍÈ
“dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik” (Al-mu’minun:12-14).
Secara sederhana, pendapat para ulama mengenai hukum aborsi dapat disimpulkan sebagai berikut:
Apabila kandungan masih dalam bentuk gumpalan darah (40-80 hari) atau masih dalam bentuk gumpalan daging (80-120 hari), maka hukumnya adalah sebagai berikut:
Menurut Ibnu Immad dan Imam Al-Ghozali, haram hukumnya, karena gumpalan itu akan menjadi makhluq yang bernyawa. Pendapat ini di dukung oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haytami.
2.      Dalil-dalil yang membolehkan dilakukannya Aborsi
Hukum asal aborsi, sebagaimana yang telah dikemukakan adalah haram. Akan tetapi dikarenakan kaidah:


الضرورات تبيح المحظورات
“Hal-hal yang darurat dapat menyebabkan dibolehkannya hal-hal yang dilarang”
Para Ulama kontemporer membolehkan aborsi dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1.      Terbukti adanya penyakit yang membahayakan jiwa sang ibu.
2.      Tidak ditemukannya cara penyembuhan kecuali dengan cara aborsi.
3.      Adanya keputusan dari seorang dokter yang dapat dipercaya bahwa aborsi adalah satu satunya cara untuk menyelamatkan sang ibu.
Imam Abu Ishaq Al-Marwazi berpendapat bahwa hukum mengaborsi adalah boleh. Karena kenyataannya gumpalan itu masih belum dapat dikatakan makhluk yang bernyawa.
Pendapat ini didukung oleh Imam Romli.
Sedangkan hukum aborsi pada kandungan yang sudah berusia 120 hari hukumnya adalah haram dan tergolong dosa besar, karena pada usia itu kandungan sudah berbentuk makhluk hidup dan bernyawa sehingga hukumnya sama dengan membunuh manusia. Dalam hadits dinyatakan:

إنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً , ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ , ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ , ثُمَّ يُرْسِلُ الْمَلَكَ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ . رواه الشيخان
“Sesungguhnya kalian dikumpulkan didalam rahim ibu selama 40 hari dalam bentuk air mani, dan 40 hari dalam bentuk gumpalan darah, dan 40 hari dalam bentuk gumpalan daging, lalu Allah SWT mengutus malaikat meniupkan ruh” (HR.Bukhori,Muslim)
Pelaku aborsi pada kandungan yang sudah berusia 120 hari juga tergolong pembunuhan yang mewajibkan kaffaroh, yakni puasa dua bulan secara berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin bagi yang tidak mampu puasa. Disamping itu juga wajib membayar denda jinayah 5% diyat atau setara dengan harga emas seribu dinar. Satu dinar setara dengan emas 4.250 gr. Akan tetapi menurut pendapat yang di nuqil oleh Imam ibnu Hajar Al-Haytami dalam kitab Tuhfatu al-Muhtaj dari sebagian ulama madzhab Hanafi, hukum mengugurkan kandungan secara mutlak diperbolehkan meskipun kandungan sudah memasuki usia 120 hari.
Namun pendapat ini diragukan kebenarannya oleh Ibnu Abdil Haq As-sanbathi. Beliau berkata: “Aku menanyakan masalah ini kepada sebagian ulama madzhab Hanafi, dan mereka mengingkarinya. Mereka bahkan mengaku berpendapat boleh dengan syarat sebagaimana diatas (sebelum kandungan berusia 120 hari).
Meskipun pendapat ini diragukan kebenarannya oleh sebagian ulama, akan tetapi Syekh Sulaiman Al-Kurdi tetap memperbolehkan untuk diikuti dengan terlebih dahulu bertaqlid kepada madzhab Hanafi. Dengan demikian, pendapat ini layak dijadikan sebagai solusi ketika menghadapi kondisi yang mengharuskan untuk dilakukan aborsi untuk menyelamatkan nyawa ibu.
Pendapat fuqaha tentang hukum aborsi sebelum nafkhi Ar-ruh sebagai berikut:[7]
1)      Boleh (mubah) secara mutlak (tanpa harus ada alasan medis) menurut ulama zaidiyah, sekelompok ulama hanafi, sebagian ulama syafi’i serta sejumlah ulama Maliki dan Hambali.
2)      Mubah karena ada alasan medis ( uzur) dan makruh dan jika tanpa uzur. Menurut ulama hanafi dan kelompok ulama Syafi’i.
3)      Makruh secara mutlak menurut sebagian ulama maliki.
4)      Haram menurut pendapat Mu’tamad ulama Maliki
5)      Menurut fatwa MUI mengukuhkan bahwa melakukan aborsi sesudah nafkh ar-ruh hukumnya adalah haram, kecuali jika ada alasan medis, seperti untuk menyelamatkan jiwa si ibu.
Untuk lebih jelasnya perbandingan pendapat Ulama Fiqih tentang masalah Aborsi yaitu sebagai berikut:
No
Madzhab Ulama
Pendapat
Batasan
Alasan
Sanksi Hukum
1
Hanafiah
A
Al-Haskafi
Boleh
120 hari
Belum terjadi penyawaan
-
B
Ibnu Abidin
Boleh
120 hari
-
C
At-Thathawi
Boleh
Mudghah(segumpal daging)
-
D
Al-Qami
Tidak boleh
Konsepsi
Dalam proses penciptaan
Berdosa, diberi hukuman setimpal
2
Hambali
A
Mayoritas Ulama
Boleh
Mudghah
Berbentuk manusia
B
Ibnu Qudama
Boleh
Mudghah
C
Al-Zaraksy
Boleh
‘Alaqah(segumpal darah)
D
Abi ishaq
Boleh
Mudghah
E
Qotada
Makruh
‘alaqah
mudghah
120 hari
Dalam proses penciptaan
-1/3 ghurrah
-2/3 ghurrah
-ghurrah kamilah
3
Syafi’iyah
A
Abi sad
Boleh
‘alaqah
Belum ada nyawa
B
Al-Ramli
Boleh
42 hari
C
Nawawi
Boleh
‘Alaqah
D
Al-Ghazali
Tidak boleh
‘Alaqah
mudghah
120 hari
1/3 ghurrah
2/3 ghurrah
ghurrah kamilah
E
Al-imad
Haram
Konsepsi
Dalam proses penciptaan
Ghurrah kamilah
4
Malikiyah
A
Mayoritas Ulama
Haram
Konsepsi
Dalam proses pnciptaan
uang tebusan sesuai usia janin, semakin tua usia janin maka semakin besar
B
Al-lakhim
Boleh
Sebelum 40 hari
Belum ada nyawa

D.  Hukum Aborsi Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia
Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”
Yang menerima hukuman adalah:
1.      Ibu yang melakukan aborsi
2.      Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3.      Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Beberapa pasal yang terkait adalah:
·         Pasal 229
1.      Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2.      Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3.      Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
·         Pasal 341
Seorang ibu karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
·         Pasal 342
Seorang ibu untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
·         Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Aturan tentang pengguguran kandungan diatur di Indonesia dalam kitab undang-undang hukum pidana pasal 346, 347, 348, 349, dan 350 berbunyi sebagai berikut :
·         Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
·         Pasal 347
1.      Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2.      Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
·         Pasal 348
1.      Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2.      Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
·         Pasal 349
Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
·         Pasal 350
Dalam hal pemidanaan karena pembunuhan, karena pembunuhan berencana, atau karena salah satu kejahatan berasarkan pasal 344-347 dan 348, dapat dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal  35 no.1-5.[8]




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Aborsi adalah pengguguran seorang janin baik dilakukan sendiri ataupun orang lain oleh seorang perempuan/ seorang ibu.
2.      Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam aborsi, yaitu aborsi spontan(alamiah), aborsi buatan (sengaja) terdiri dari Abortus provokatus criminalis atau aborsi terapeutik atau medis dan Abortus provokatus criminalis atau aborsi non medis.
3.      Pandangan Syariat Islam secara umum mengharamkan praktek aborsi. Hal itu tidak diperbolehkan karena beberapa sebab, yaitu syariat islam datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyaat al-khams, aborsi sangat bertentangan sekali dengan tujuan utama pernikahan dan tindakan aborsi merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.
Pendapat fuqaha tentang hukum aborsi sebelum nafkhi Ar-ruh sebagai berikut:
a.      Boleh (mubah) secara mutlak (tanpa harus ada alasan medis) menurut ulama zaidiyah, sekelompok ulama hanafi, sebagian ulama syafi’i serta sejumlah ulama Maliki dan Hambali.
b.      Mubah karena ada alasan medis ( uzur) dan makruh dan jika tanpa uzur. Menurut ulama hanafi dan kelompok ulama Syafi’i.
c.       Makruh secara mutlak menurut sebagian ulama maliki.
d.      Haram menurut pendapat Mu’tamad ulama Maliki
e.       Menurut fatwa MUI mengukuhkan bahwa melakukan aborsi sesudah nafkh ar-ruh hukumnya adalah haram, kecuali jika ada alasan medis, seperti untuk menyelamatkan jiwa si ibu.
4.      Salah satu dalil yang melarang dilakukannya aborsi yang terserat dalam al-Qur’an adalah surat At -Takwiir 8-9, surat Al-Isra’ 31 dan Al-mu’minun:12-14.
Dalil-dalil yang membolehkan dilakukannya Aborsi kaidah usul fiqih yang berbunyi “Hal-hal yang darurat dapat menyebabkan dibolehkannya hal-hal yang dilarang”, Hadis bukhori dan muslim yang berbunyi “Sesungguhnya kalian dikumpulkan didalam rahim ibu selama 40 hari dalam bentuk air mani, dan 40 hari dalam bentuk gumpalan darah, dan 40 hari dalam bentuk gumpalan daging, lalu Allah SWT mengutus malaikat meniupkan ruh” (HR.Bukhori,Muslim)
5.      Para Ulama kontemporer membolehkan aborsi dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Terbukti adanya penyakit yang membahayakan jiwa sang ibu.
2. Tidak ditemukannya cara penyembuhan kecuali dengan cara aborsi.
3. Adanya keputusan dari seorang dokter yang dapat dipercaya bahwa aborsi adalah satu - satunya cara untuk menyelamatkan sang ibu.
6.   Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis” karena bertentangan dengan undang-undang Pasal 229, Pasal 341, Pasal 342, Pasal 343, Pasal 346, Pasal 347, Pasal 349 dan Pasal 348.
7.   Pasal 350
Dalam hal pemidanaan karena pembunuhan, karena pembunuhan berencana, atau karena salah satu kejahatan berasarkan pasal 344-347 dan 348, dapat dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal  35 no.1-5.




DAFTAR PUSTAKA

Anshor, Maria Ulfah. 2006. Fiqih Aborsi. Jakarta: Kompas.
Hasan, M. Ali. 1995. Masail Fiqhiyah Al Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Syauman, Abbas. 2004. Hukum Aborsi dalam Islam. Jakarta: Cendekia Sentra Muslim.
Amin, K.H.Ma’ruf dkk. 2011. Himpunan Fatwa MUI. Jakarta: Erlangga.
Uddin, Prof.Dr.H.Jurnalis. 2006. Reinterprestasi Hukum Islam Tentang Aborsi. Jakarta: Universitas   Yarsi.
Setiawan, Budi Utomo. 2003. Fikih Aktual. Jakarta. Gema Insani.






[1]Maria Ulfah Anshor, Fiqih Aborsi, (Jakarta: Kompas, 2006), hal.32.
[2]M.Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah, ( Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,1996 ) Hal.44.

[3]Abbas Syauman, Hukum Aborsi dalam Islam ( Jakarta: Cendekia Sentra Muslim,2004 ) Hal.60

[4]Maria Ulfah Anshor, dkk, Aborsi dalam Perspektif Fiqih Kontemporer, (Jakarta: Fakultas Kedokteran     
  Universitas Indonesia, 2002), hal. 107.
[5]Abbas Syauman, Hukum Aborsi dalam Islam ( Jakarta: Cendekia Sentra Muslim,2004 ), Hal.61-62
[6]Maria Ulfah Anshor, Fiqih Aborsi, (Jakarta: Kompas, 2006) , Hal.134

[7]K.H.Ma’ruf Amin, dkk, Himpunan Fatwa MUI, (Jakarta, Erlangga, 2011), hal. 397
[8]Prof.Dr.H.Jurnalis Uddin, Reinterprestasi Hukum Islam Tentang Aborsi, ( Jakarta: Universitas   
  Yarsi,2006),Hal.267

No comments:

Post a Comment