Thursday, December 4, 2014

Feminisme sebagai Gerakan dan Teori (telaah Islam)


FEMINISME

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengembangan Studi Fiqih Kontemporer
Yang dibimbing oleh Dr. Hj.Tutik Hamidah, M.Ag

Disusun Oleh:
Farid Afri Nurmansyah
NIM. 13770059


PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Desember, 2014

======================================




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Munculnya gerakan feminisme di dunia barat telah mengakibatkan beberapa reaksi di dunia muslim. Gerakan feminisme di dunia barat muncul akibat kekecewaan kaum perempuan terkait dengan isi kitab bible yang memandang rendah kedudukan perempuan. Menurut pakar sejarah dari dunia barat Philip J. Adler dalam bukunya "Worl Civilization" menggambarkan bagaimana kekejaman masyarakat barat dalam memandang dan memperlakukan perempuan. Sampai abad ke-17, masyarakat eropa masih memandang perempuan sebagai jelmaan syaitan atau alat bagi syaitan untuk menggoda laki-laki.[1]
Menurut Muhammad Arifin, banyak terdapat ayat-ayat di kitab suci Bible yang isinya memberikan pandangan rendah terhadap kedudukan seorang perempuan, seperti: Kejaharan laki-laki lebih baik dari pada kebajikan perempuan dan perempuanlah yang mendatangkan malu dan nista (Sirakh 42: 14); Wujud kutukan Tuhan terhadap perempuan adalah kesengsaraan saat mengandung, kesakitan saat melahirkan, dan akan selalu ditindas laki-laki karena mewariskan dosa Hawa (Kejadian 3: 16).[2]
Dapat diketahui bahwa, di dalam sejarah awal munculnya gerakan feminisme, diakibatkan adanya reaksi para perempuan terhadap sikap gereja yang merendahkan kedudukan perempuan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Paderi St. Jhon Chrysostom "Wanita adalah syaitan yang tidak dapat dihindari, suatu kejahatan dan bencana yang abadi dan menaik, sebuah resiko rumah tangga".[3]
Di lihat dari hal tersebut, pihak gereja sangat merendahkan kedudukan perempuan dengan menyamakan mereka dengan syaitan, padahal kita tahu bahwa syaitan itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terkutuk.
Salah satu contoh masyarakat barat merendahkan kedudukan perempuan adalah Francis Bacon yang mengatakan di dalam bukunya yang berjudul "Marriage and Single Life", ia mengatakan bahwa perempuan menyimpan benih keburukan sehingga harus selalu diawasi oleh ahli keluarga laki-laki atau suaminya apabila ia sudah berkawin. Oleh sebab itu, hidup tanpa nikah merupakan kehidupan yang ideal bagi seorang laki-laki, karena jauh dari pengaruh perempuan.[4]
Dapat kita lihat bahwa, pada zaman itu bagaimana perempuan dilihat sangat keji oleh beberapa orang, memandang mereka sangat hina, dan menurunkan harkat, martabat seorang wanita dengan menyamakan mereka sebagai makhluk yang terkutuk serta diperlakukan semena-mena.
Perlawanan terhadap kekuasaan gereja telah dimulai dengan terjadinya Revolusi Perancis (1789). Perjuangan kebebasan atas dominasi gereja dan Raja tersebut juga memberikan pengaruh besar pada gerakan perempuan dalam masyarakat barat. Kaum perempuan saat itu bergerak memanfaatkan gerakan politik di tengah pemberontakan rakyat yang berdasarkan kebebasan (liberty), persamaan (equality) dan persaudaraan (fraterny).[5]
Jadi gerakan Feminisme muncul pertamakalinya ketika adanya revolusi perancis yang memanfaatkan situasi politik saat itu. Mereka menyuarakan persamaan hak dan demokrasi. Sehingga pada waktu itu, muncullah beberapa tokoh feminisme barat seperti Mary Wollstonecraf pada tahun 1792.
Mary menjelaskan bahwa perempuan mempunyai peluang yang sama dengan laki-laki dalam hal ekonomi, pendidikan, sosial dan politik. Ia menentang anggapan bahwa perempuan hanya untuk memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki.[6]
Latar belakang kedudukan perempuan di barat tersbut akhirnya memunculkan gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki.
Pada tahun 1895, Elizabeth Candy Stanton menerbitkan buku "The Woman Bible" di mana dia mengkaji seluruh teks Bible yang berkaitan dengan perempuan, dan mengambil kesimpulan bahwa kitab suci Bible mengandung ajaran yang menghina perempuan, dan dari ajaran inilah terbentuk dasar-dasar pandangan Kristen terhadap perempuan. Berikutnya, Stanton berusaha meyakinkan bahwa Bible bukanlah kata-kata Tuhan, tetapi sekedar himpunan tentang sejarah dan cerita yang ditulis oleh kaum laki-laki dan oleh sebab itu perempuan tidak memiliki kewajiban moral untuk mengikuti ajaran Bible.[7]
Dapat diambil kesimpulan bahwa tuntutan kebebasan perempuan dan persamaan gender tersebut hanya sesuai pada masyarakat barat yang mempunyai sejarah penindasan terhadap perempuan, dan tidak sesuai dengan bagi masyarakat yang telah menghargai perempuan seperti masyarakat Muslim yang mempunyai ajaran dan tradisi memuliakan perempuan.
Akan tetapi akhir-akhir ini mulai gencarnya perjuangan untuk menuntut hak-hak perempuan di dunia Islam, padahal Islam sendiri sudah menjelaskan mana hak perempuan dan mana hak laki-laki, sehingga muncul beberapa perbedaan pendapat mengenai feminisme. Isu-isu feminisme tersebut melahirkan beberapa respon dari berbagai pihak di dunia Islam, diantaranya ialah semakin banyaknya propaganda feminisme baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintah maupun swasta (LSM).
Oleh karena itu, pembahasan dan penelitian mengenai feminisme di dunia Islam sangatlah penting, maka peneliti ingin menggali informasi mengenai feminisme di dunia Islam dilihar dari segi Fiqih dan pendapat para ulama yang menentangnya maupun yang mendukungnya.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa Pengertian Feminisme sebagai Gerakan dan Teori?
b.      Bagaimanakah Pandangan Para Ulama Muslim mengenai Feminisme?
C.    Tujuan Penulisan
a.       Untuk mengetahui pengertian feminisme sebagai gerakan dan teori.
b.      Untuk mengetahui pandangan para ulama muslim mengenai feminisme.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Feminisme sebagai Gerakan dan Teori
Istilah "feminisme" berasal dari bahasa latin (Femina=women), yang berarti "memiliki sifat-sifat wanita". Kata ini dipergunakan untuk menunjukkan kepada suatu teori persamaan kelamin laki-laki dan perempuan dan pergerakan bagi hak-hak perempuan sebagai ganti istilah Womanisme, yang lahir pada tahun 1890-an. Istilah feminisme tersebut pertama kali dipergunakan pada tahun 1895. Sejak itu istilah feminisme dikenal secara luas.[8]
Menurut The New Encyclopedia of Britanica disebutkan bahwa Feminisme is the belief, largely originating in the west, in the social, economic, and political equality of the sexes, represented worldwide by various institutions commited to activity on behalf of women's rights and interests. Yang artinya Feminisme adalah keyakinan yang berasal dari barat berkaitan dengan kesetaraan sosial, ekonomi, dan politik antara lelaki dan perempuan yang tersebar ke seluruh dunia melalui organisasi yang bergerak atas nama hak-hak dan kepentingan perempuan.[9]
Jadi menurutnya feminisme merupakan gerakan yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan politik, yang menginginkan untuk disetarakan dengan laki-laki, dan gerakan ini lahir dari dunia barat dan berkembang keseluruh dunia.
Feminisme sering didefinisikan dengan pembelaan terhadap hak-hak perempuan yang didasarkan kepada keyakinan akan kesamaan jenis kelamin. Dalam arti yang luas kata feminisme juga menunjukkan kepada setiap orang yang memiliki kesadaran terhadap subordinasi perempuan dan berusaha untuk mengakhiri dengan berbagai cara dan alasan.
Menurut Kamla Bashin dan Nighat Said Khan tidaklah mudah mendefinisikan feminisme, menurut mereka arti feminisme tergantung kepada kondisi sosio-kultural yang melatarbelakangi munculnya faham itu, disamping perbedaan tingkat kesadaran, persepsi dan tindakan yang diambil oleh para feminisme.[10]
Jadi menurut Kamla dan Nighat, feminisme memiliki konsep dan teori sesuai dengan keadaan sosio-kultural yang melatarbelakangi mereka, jadi menurut hemat penulis, feminisme tidak memiliki konsep dan teori yang tetap dalam melaksanakan gerakannya keseluruh dunia, ini dibuktikan dengan konsep gerakan feminisme diberbagai negara yang berbeda-beda. Sebagai contoh perempuan di negara barat yang menginkan hak mereka di ruang publik sedangkan di perempuan negara-negara muslim menginginkan hak mereka terkait dengan harta warisan dan poligami. Hal yang sama hanya pada titik untuk menuntut hak perempuan saja, sedangkan untuk konsep dan teori berbeda-beda.
Berbagai definisi tentang feminisme banyak yang dikemukakan oleh para feminis. Akan tetapi tidak ada kesepakatan di antara mereka karena masing-masing membuat definisi berdasarkan teori feminisme yang mereka anut. Kamla dan Nighat misalanya mendefinisikan feminisme sebagai suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.[11]
Menurut definisi tersebut feminisme bukanlah sekedar suatu teori akan subordinasi perempuan tetapi juga merupakan gerakan yang menghapus subordinasi perempuan yang terjadi di masyarakat. Feminisme adalah ajakan untuk bertindak bukan sekedar sebuah sistem kepercayaan atau teori yang dianut.
Gerakan feminisme ini pada mulanya muncul dari adanya suatu anggapan bahwa terdapat suatu kesalahan masyarakat di dalam memperlakukan perempuan sebagai wujud ketidakadilan gender.[12]
Oleh karena itu, para feminis berusaha untuk menganalisis sebab-sebab penindasan perempuan dan berusaha untuk memperoleh kebebasan bagi perempuan, memperoleh kesetaraan sosial dengan laki-laki dalam segala bidang kehidupan.
Sebagai suatu gerakan, feminisme berusaha untuk mengatur kembali dunia. Suatu dunia yang tidak mengenal kelas di dalamnya. Ia bukanlah gerakan yang sekedar ingin memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga memperoleh perlakuan yang sama dengan laki-laki di dalam masyarakat, tetapi lebih jauh ia adalah gerakan transformasi sosial yang bertujuan untuk meningkatkan derajat wanita yang selama ini dianggap berada di bawah dominasi laki-laki.
Ratna Megawati mengatakan bahwa gerakan feminisme diwarnai penolakannya terhadap sistem patriarki, yaitu sistem masyarakat kelas yang didominasi oleh laki-laki. Menurutnya terdapat dua pola umum gerakan feminisme. Pertama, gerakan transformasi sosial melalui perubahan eksternal yang revolusioner. Kedua, gerakan feminisme yang bersifar evolusioner.[13]
Para feminis yang berada dalam kelompok yang menghendaki perubahan secara revolusioner berpendapat bahwa apabila kaum perempuan ingin mendapatkan kedudukan dan status yang setara dengan laki-laki maka mereka harus masuk ke dalam dunia laki-laki. Untuk mencapai tujuan itu, maka perempuan perlu mengadopsi kualitas maskulin agar mampu bersaing dengan laki-laki. Dengan suatu keyakinan eksistensi manusia, mereka membenarkan premis bahwa tidak ada perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan. Sementara perbedaan laki-laki dan perempuan yang terdapat dalam masyarakat selami ini adalah konstruksi sosial budaya,karena pada hakikatnya antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Oleh karena itu,menurut mereka, kaum perempuan harus disosialisalikan agar mempunyai karakter seperti laki-laki. Gerakan ini mengembangkan berbagai teori feminismenya untuk mencapai tujuannya, seperti feminisme liberal, sosial/marxis, radikal dan teologi pembebasan.
Feminis Liberal adalah feminisme yang mendasarkan terorinya kepada liberalisme yang mengakui pentingnya individu dan kebebasan individu, yang mengakui bahwa setiap individu memiliki hak-hak bawaan semenjak lahir yang harus dilindungi dan yang mengakui bahwa setiap kemerdekaan adalah hal yang amat penting. Feminisme Sosial/ Marxis adalah aliran feminisme sebagai reaksi terhadap pemikiran feminisme liberal tentang bagaimana meningkatkan status dan peranan perempuan, feminis marxis berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami oleh perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja tetapi akibat dari struktur sosial, politik, ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem kapitalis. Feminisme Radikal dapat didefinisikan sebagai gerakan perempuan yang berjuang di dalam realitas seksual, dan kurang pada realitas lainnya. Karena itu gerakan ini terutama mempersoalkan bagaimana caranya menghancurkan patriarki sebagai sistem yang melembaga di dalam masyarakat. Kelompok yang paling extrim dari gerakan kaum feminis radikal bahkan berusaha memutus hubungannya dengan laki-laki. Kelompok extrem ini menamakan dirinya kaum lesbian. Sedangkan feminisme teologi adalah aliran yang beranggapan bahwa di dalam ajaran-ajaran agama sering menafsirkan ayat-ayat kitab suci dengan memakai ideologi patriarki dan menyudutkan perempuan. Maka mereka membahas isu-isu yang beredar di dalam agama-agama tersebut. Sebagai contoh dalam hal penciptaa Adam dan Hawa.[14]
Sementara para feminisme yang menghendaki perubahan yang sifatnya evolusioner,mereka menempuh cara perlahan-lahan dan bertahap dan alami. Mereka percaya pada pemahaman deterministik biologi,yaitu paham yang mengakui adanya perbedaan yang sifatnya alami antara laki-laki dan perempuan, sehingga timbul pengertian kualitas feminim dan maskulin. Kelompok ini berpendapat bahwa untuk meruntuhkan sistem patriarki tidak harus dengan cara mengubah sifat feminisme dengan sifat maskulin. Akan tetapi perubahan itu dapat dilakukan dengan menonjolkan kualitas feminim. Apabila perempuan dapat masuk ke dalam kualitas maskulin, maka keberadaan kualitas feminim dapat merubah sistem partriarki yang hirarkis dan dominatif menjadi sistem matriarkis yang egaliter. Feminisme kultural memberikan landasan teoritis bahwa kualitas feminim dapat menjadi ideologi matriarki yang dapat menggantikan sistem patriarki dalam segala relasi sosial.[15]
Jadi, dengan merujuk pada statemen Ratna Megawati tersebut, sebetulnya, feminisme itu memiliki suatu kesamaan paradigma di dalam gerakan maupun teori.  Hal itu terbukti dengan adanya dua arus besar gerakan feminisme yang revolusioner yang menghendaki perubahan secara drastis dan cepat dan evolusioner yang menghendaki perubahan secara perlahan-lahan dan alami. Dari dua gerakan feminisme tersebut, maka muncullah teori pemikian yang dijadikan landasan bagi gerakan feminisme masing-masing.
Sejalan dengan gerakan feminisme, muncul berbagai teori feminisme dan corak gerakannya sebagai akibat adanya berbagai macam pendapat yang bersumber dari beberapa dispilin ilmu. Diantaranya di ajaran agama Islam, sehingga penulis di sini akan menggunakan disiplin ilmu dengan pendekatan ilmu fiqih.

B.     Deskripsi Masalah
Tidak dapat dipungkiri dengan munculnya gerakan feminisme di barat berpengaruh juga terhadap dunia timur termasuk negara-negara yang berpenduduk muslim yang secara garis besar menganut sistem patriarki. Sehingga tidaklah mengherankan jika dari Islam sendiri kemudian lahir para feminisme muslim yang mempunyai perhatian terhadap kondisi masyarakat Islam terutama yang menyangkut nasib kaum perempuan.
Kesadaran atas ketidaksamaan laki-laki dan perempuan dan didominasi laki-laki atas perempuan telah terlihat pada paruh abad ke-19 M.[16] Para wanita kelas menengah dan atas mengadakan berbagai kajian feminis dan gerakannya di dalam berbagai komunitas.
Terdapat tiga model utama yan ditempuh pada feminis muslim untuk menyuarakan aspirasinya, yaitu:[17]
a.       Melalui karya-karya tulis yang tertuang dalam bentuk puisi, cerpen, novel, essay, artikel dan sebagainya yang mengungkapkan bentuk-bentuk kesadaran gender.
b.      Gerakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan ini berupa inovasi individu menciptakan perkumpulan-perkumpulan yang sifatnya sosial, perubahan sistem pendidikan dan mempelopori profesi-profesi modern.
Sebagai contoh di Indonesia saat ini, gerakan perempuan tidak hanya sekedar suatu gerakan teologis, akan tetapi telah menjadi suatu mainstream negara dalam melaksanakan kebijakan pembangunan di bidang sosial, politik, budaya dan hukum.[18]
c.       Gerakan-gerakan yang sifatnya lebih terorganisir, yang jelas nampak lebih konfrontal terhadap kondisi sosial yang ada menurut ide feminisme tertentu. Gerakan ini bergerak dalam bidang politik dan publik yang berindentitas feminis.
Ungkapan tentang kesadaran akan posisi perempuan, pada mulanya terjadi pada akhir abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 yang dilakukan oleh para wanita pingitin dan berjilbab kelas menengah ke atas yang menghendaki pendidikan dan pengajaran bagi wanita dan pembebasan Islam bagi wanita dan tekanan-tekanan yang ada. Di antara mereka adalah[19]:
1.      A'syah Taimuriyah dari Mesir
2.      Zainab Fawwas dari Lebanon
3.      Rokeya Sakhawat Hossain dan Nazar Sajjad Haydar dari India
4.      Raden Ajeng Kartini dari Jawa
5.      Amina Wadud Muhsin dari Malaysia
6.      Wardah Hafizh, Nurul Agustina, dan Siti Ruhaini dari Indonesia
7.      Asghar Enginer dari India
8.      Emilie Ruete dari Zanzibar
9.      Taj al-Saltanah dari Iran
10.  Huda Sha'rawi dan Nabawiyah Musa dari Mesir
11.  Fatme Aliye dari Turki, dll.
Sebagaimana feminisme barat yang tidak sekedar sebagai suatu teori namun bergerak dalam kehidupan nyata, feminisme Muslim pun membentuk semacam organisasi feminis serupa. Hal ini nampak pada abad ke-20 yang meliputi usaha-usaha untuk membentuk masyarakat wanita modern, reformasi hukum keluarga, penghormatan terhadap fisik perempuan, pakaian dan mobilitasnya. Di antara organisasi tersebut adalah organisasi feminis seperti The Egyptian Feminist Union (EFU) yang dibentuk di bawah pimpinan Huda Sya'rawi, yang bergerak untuk memperjuangkan hak-hak pendidikan, profesi dan politik bagi perempuan, reformasi hukum keluarga dan regulasi prostitusi.[20]
Di Turki muncul The Turkish Women's Federation yang didirikan Latiffe Bekir pada tahun 1924. Di Iran muncul The Assosiation of Revolusionary Women pada tahun 1924 yang didirikan oleh Zandukh Shirazi, dan lain sebagainya.
Gerakan-gerakan tersebut kebanyakan menuntuk hak yang sama dalam kebebasan perempuan, dalam segi pendidikan, kesehatan, agama, politik dan sosial budaya. Bahkan ada yang lebih ektrim yaitu dalam hal kebebasan berjilbab. Sehingga pada tahun 1936, pemerintah Turki menghapus hukum jilbab, dan mengumumkan hukum keluarga liberal sebagai bagian pendorong modernisasi dengan muatan agama.[21]
Sementara itu Malaysia, gerakan feminisme mulai nampak pada tahun 1991 yang bergerak untuk menyelidiki landasan hukum Islam bagi pendidikan kaum perempuan, dan menerbitkan selebaran atau brosur yang menentang kekerasan suami melalui argumentasi Al-Quran.
Di antara isu yang juga mendapat perhatian pada feminis muslim adalah jilbab yang dianggap bukan berasal dari Islam. Para feminis muslim dari beberapa negara menolak keberadaan jilbab, seperti contoh di Turki. Menurut mereka, jilbab dianggap sebagai sarana menempatkan perempuan ada urusan-urusan rumah tangga. Namun pada kenyataannya tetap ada negara yang tetap melanggengkan pemakaian jilbab, seperti Saudi Arabia.
Di lihat dari pernyataan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa, pada zaman sekarang perempuan berjilbab atau tidak, tetap bisa meniti karirnya di ranah ruang publik, jadi pernyataan kaum feminis muslim di atas perlu di kaji ulang, karena jilbab pada perempuan tidak identik dengan pekerjaan rumah, akan tetapi sebagai identitas sebagai muslimah yang diwajibkan oleh agama untuk memakai jilbab sebagai pelindung dirinya dari gangguan dari dalam maupun dari luar dirinya.
Cara lain yang ditempuh para feminis Muslim adalah melalui reinterprestasi berbagai ajaran Islam yang merugikan perempuan. Mereka menganggap bahwa kondisi yang menimpa kaum muslimah adalah akibat dari intepretasi ajaran Islam yang didominasi oleh sistem Patriarki. Maka dengan menggunakan argumentasi modern dan melalui penelitian yang sistematis, mereka berusaha mengadakan perubahan tersebut. Mereka menamakan gerakan ini dengan ideologi pembebasan bagi Muslim. Di antara feminis ini adalah Riffat Hassan, seorang sarjana dari Pakistan yang mencoba mengintepretasikan ulang ayat-ayat Al-Quran. Dan hasil penelitiannya ia mendapatkan bahwa terdapat kesamaan yang absolut dalam al-Quran antar laki-laki dan perempuan. Hal itu sekaligus menyingkap pembacaan yang sifatnya androsentris yang diciptakan oleh budaya Islam yang Patriarkhal.[22]
Dari pernyataan di atas, memang tidak ada salahnya kaum feminis muslim membicarakan mengenai intrepretasi kembali ajaran-ajaran Islam. Dapat kita ketahui bahwa di negara-negara timur tengah khususnya, perempuan masih dianggap sebagai orang yang hanya boleh bekerja di rumah saja, tidak boleh bekerja di ranah ruang publik. Oleh karena hal tersebutlah mereka kaum feminis muslim menuntut haknya untuk ikut mengisi dan memperjuangkan apa yang bisa mereka lakukan.
Dari paparan yang panjang di atas nampak sekali bahwa para feminis Muslim, baik yang sekuler maupun religius yang menghendaki adanya sistem masyarakat yang nonsekt dan postpatriarkhal, yaitu masyarakat yang memberikan jaminan bagi perempuan untuk menikmati hak-haknya di dalam keluarga, masyarakat, dan bebas untuk merealisasikan potensinya secara penuh. Mereka mengajak untuk melaksanakan domokrasi, menghormati hak asasi manusia. Bukannya negara dan masyarakat patriakhal. Para feminis muslim tersebut menghendaki peran yang lebih berarti dalam masyarakat, kemajuan pendidikan bagi kaumnya dan kesempatan-kesempatan profesional lainnya.

C.  Pandangan Para Tokoh Islam Mengenai Feminisme
Kerangka kerja feminisme Islam didasarkan pada pembacaan kembali atas reintrepretasi pada teks-teks al-Quran dan al-Hadits, terutama hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pemahaman tentang status perempuan dalam masyarakat terbatas pada sesuatu yang dipahami dari nilai-nilai Islam yang didasarkan pada dua sumber asasi tersebut yang telah dipraktekkan oleh perempuan di masa awal Islam. Kerangka berfikir tersebut menjadi bagian yang penting dalam gagasan feminisme Islam untuk keluar dari produk-produk intepretasi yang bersifat patriarki.
Adapun beberapa contoh pandangan beberapa tokok Islam mengenai feminisme Islam:
a.    Az-Zamakhsyari (467-538 H)
Menurutnya di dalam tafsir Q.S An-Nisa: 34 bahwa laki-laki sebagai Qawwamun atas perempuan, berdasar ayat tersebut ia berpendapat laki-laki lebih unggul dari pada perempuan. Keunggulan tersebut adalah laki-laki memiliki kelebihan kecerdasan dari pada perempuan, ketegasan, semangat, keperkasaan, dan keberanian atau ketangkasan. Oleh karena itu, atas dasar kelebihan yang dimiliki yang dimiliki tersebut, posisi kenabian, keulamaan, kepemimpinan bersifat publik hanya diberikan kepada laki-laki.[23]
Menurut penulis, pendapat Az-zamakhsyari ini pengaruh paham patriarki sangatlah kental sekali di pemikirannya, bisa dilihat dari pemikirannya bahwa memandang laki-laki menempati superior atas perempuan.
b.    Ar-Razi
Pendapat Ar-razi ini sama halnya dengan az-Zamakhsyari. Ar-Razi berpendapat bahwa di dalam tafsir Q.S An-Nisa: 34 tersebut adalah bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan meliputi dua hal: Ilmu Pengetahuan/ akal pikiran dan Kemampuan. Artinya akal dan pengetahuan laki-laki melebihi akal dan pengetahuan perempuan, dan bahwa untuk pekerjaan-pekerjaan keras laki-laki lebih sempurna.[24]
Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh para mufassir yang lain seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Muhammad Abduh, dan Muhammad Thahir.
c.    Yusuf Al-Qaradhawi
Pendapat Syeh Yusuf Al-Qaradhawi ini agaknya lebih moderat, ia pernah bercerita saat berkunjung di India, ketika itu saat ia mengisi ceramah di sana yang tampak hadir di sana hanya laki-laki saja, sedangkan perempuannya tidak ada, lalu beliat bertanya, "yang datang hanya laki-laki, sedangkan para perempuannya ke mana", spontan ada yang menjawab, "agama melarang hal itu", kemudian Syeh Yusuf Qaradhawi berkata," perempuan boleh pergi ke sekolah, kampus, pasar, bahkan bepergian keluar negeri, apakah hanya masjid yang satu-satunya kawasan yang terlarang untuk mereka?". Mengapa perempuan muslimah dilarang pergi ke rumah Tuhannya, sementara perempuan nasrani bebas pergi ke gereja, perempuan Yahudi bebas pergi ke sinagog, dan perempuan penyembah berhala bebas pergi ke Kuil".[25]
Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, dalam pengantar kepada buku "Kebebasan Wanita", memberikan contoh-contoh kehidupan perempuan dalam masyarakat Islam seperti:[26]
1.      Kaum perempuan masyarakat Islam mempunyai kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan, pelajaran, dan menghiasi majlis ilmu.
2.      Kaum perempuan dibolehkan menghadiri pertemuan umum di masjid untuk turut memutuskan perkara yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan negara.
3.      Kaum perempuan mempunyai hal dalam ekonomi, sebagaimana Zainab binti Jahsyi mempunyai pekerjaan dan kegiatan ekonomi yang dilakukan dengan tangannya sendiri sehingga dapat bersedekah dari hasil pendapatannya sendiri. Zainab binti Mas'ud bekerja dengan tangannya sendiri memberikan belanja untuk suaminya dan anak yatim yang dipeliharanya.
4.      Ummu Athiyah ikut berperang bersama suaminya sebanyak enam kali, sdanagkan Ummu Haram menginginkan kematian syahid bersama tentara pasukan laut.
5.      Dalam politik, Ummu Hani ikut dalam melindungi pelarian perang dan menyelesaikan perkara saudara lakinya.
6.      Ummu Kalsum binti Uqbah, seorang remaja ikut berhijrah ke Madinah, dan berpisah dengan keluarganya
7.      Perempuan berhak mempertahankan pilihannya dalam memilih suami, berpisah dengan suami dan terlepas dari pengaruh keluarganya.
8.      Zainab binti Muhajir bedialog dengan khalifah Abu Bakar As-Shidiq, Ummu Darba pernah menyangkal pendapat khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan Ummu Ya'kub berdialog dengan Abdullah bin Mas'ud yang dianggap sebagai penghulu fuqaha sahabat.
9.      Atikah binti Zaid, isteri Khalifah Umar bin Khattab mempertahankan haknya dalam kesaksian jamaah.
10.  Seorang remaja perempuan Bani Khatsamiyah bersusah payah untuk menghajikan bapaknya sendiri.
Dari keterangan Yusuf Qaradhawi di atas dapat simpulkan bahwa Islam telah memberikan kebebasan kepada perempuan dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, sebelum masyarakat barat memberikan kebebasan kepada mereka. Ajaran Islam telah membawa kedudukan perempuan menjadi lebih tinggi dan memberikan kedudukan yang terhormat kepada kaum perempuan sesuai dengan kudrat dan fitrahnya.

d.   Asghar Ali Engineer
Asghar adalah seorang pemikir dan Teolog Islam dari India dengan reputasi internasional.
Untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana padangan Asghar tentang hak-hak perempuan dalam Islam mari kita kutip secara lengkap pengantar dari bukunya yang dia tulis sendiri:
"Islam adalah satu agama yang telah membicarakan hak-hak perempuan secara rinci, baik al-Quran maupun rumusan Syariah (hukum Islam). Hak-hak ini perlu dibicarakan secara rinci. Buku ini adalah sebuah usaha untuk menempatkan kembali hak-hak perempuan dalam Islam menurut semangat al-Quran yang sejati karena sudah begitu banyak terjadi penyimpangan".[27]
Jadi menurut Asghar, ulama-ulama terdahulu telah salah menafsirkan al-Quran mengenai ayat-ayat yang membicarakan mengenai hak perempuan dalam masalah perkawinan, perceraian, pemberian kesaksian dan lain sebagainya.
e.    Riffat Hassan
Menurut Riffat Hassa, diskriminasi dan segala macam bentuk ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan dalam lingkungan umat Islam berakar dari pemahaman yang keliru dan bias laki-laki terhadap sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Quran. Oleh sebab itu, dia menyerukan untuk melakukan dekonstruksi pemikiran teologis tentang perempuan.
f.     Amina Wadud Muhsin
Amina Wadud berasal dari Malaysia, bukunya yang terkenal adalah "Quran and Women". Di dalam bukunya tersebut ia mencoba menafsirkan kembali beberapa ayat-ayat tentang perempuan dengan metodologi hermeneutik. Sebagai contoh ia menafsirkan kembali Q.S An-Nisa: 1 mengenai penciptaan manusia, khususnya penciptaan Hawa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan mereka, al-Quran tidak melihat inferioritas perempuan dibandingkan laki-laki. Laki-laki dan perempuan, menurut mereka setara dalam pandangan Allah SWT. Hanya para mufassirlah yang hampir semuanya menafsirkan ayat-ayat al-Quran secara tidak tepat.
Jadi, permasalahan di sini dapat diketahui bahwa perbedaan selama ini dari kalangan tokoh muslim, baik yang menerima maupun yang menolak feminisme terletak pada aspek metode penafsiran ayat-ayat al-Quran yang berbeda-beda mengenai hak-hak perempuan.
Penafsiran dengan menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda, juga berdampak pada hasil penafsiran yang berbeda pula. Sehingga wajar kalau di antara mereka antara yang menolak dan menerima feminisme terdapat perbedaan pendapat.
D.  Analisis Kritis terhadap Pemikiran Para Mufassir dan Feminisme Muslim
Sebagaimana sudah di uraikan di atas terlihat bahwa telah terjadi perbedaan pendapat yang cukup tajam antara para Mufassir (az-Zamakhsyari, ar-Razi, Muhammad Abduh) dengan para feminisme muslim (Asghar, Riffat, dan Amina Wadud) tentang hak-hak perempuan dalam penafsiran dibeberapa ayat di dalam Al-Quran, khususnya pada penciptaan Adam dan Hawa di dalam surat An-Nisa.
Sebagai contohnya adalah dengan menggunakan pendekatan yang berbeda dalam membahas dan memahami Q.S An-Nisa: 1, para mufassir di atas sepakat bahwa Hawa sebagai perempuan pertama di ciptakan dari tulang rusuk Adam. Sedangkan para feminisme muslim di atas menolak anggapan tersebut, menurut mereka Hawa diciptakan sama seperti Adam yaitu dari tanah. Menurut mereka dasar yang dibawakan oleh para mufassir tersebut tidak jelas, argumen kebahasan dan maupun hadits riwayat Bukhari Muslim yang mereka (mufassir) jadikan alasan dhaif.[28]
Inti dari perbedaan pendapat tentang konsep penciptaan Adam dan hawa tersebut pada pemahaman maksud teks ayat al-Quran dan perbedaan dalam menilai kualitaas hadits tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk. Akar perbedaan yang lainnya adalah mengenai latar belakang pemikiran mereka masing-masing dan metodologi yang mereka gunakan. Jadi sudah jelas bahwa perdebatan antara tokoh-tokoh Islam di atas adalah pada aspek penafsiran ayat-ayat al-Quran dan ajaran Islam. Di sini penulis tidak membahas hal itu karena ilmu tafsir mengenai al-Quran di bahas pada disiplin ilmu yang lain.
Untuk itu solusi yang bijak perlu dibicarakan di sini, karena mau tidak mau isu feminisme ini telah masuk ke dalam ranah agama Islam, yang membuat dikalangan masyarakat terjadi beberapa perbedaan,maka persoalan ini yang harus disikapi secara bijak dan arif.
E.  Keniscayaan Menghadapi Gerakan Feminisme
Melihat kenyataan bahwa sejarah dan warisan dari masyarakat Islam secara mendasar berbeda dengan sejarah dan warisan mayarakat Barat,maka feminisme yang menarik para feminis dan masyarakat Muslim secara umum tentulah berbeda. Hak-hak hukum yang diperjuangkan wanita-wanita barat untuk merubah hukum adat yang berlaku di daerah mereka tersebut telah diberikan oleh Islam pada abad ke-7. Oleh karena itu, perjuangan seperti itu hanya memiliki sedikit daya tarik bagi gagasan-gagasan atau pembaharuan-pembaharuan di dalam kebudayaan dan keagamaan Islam.
Jadi dalam hal ini penulis setuju apa yang sudah disampaikan oleh  Al-Faruqi yang mengatakan bahwa jika feminisme maupun feminis muslim ingin berhasil di dalam suatu lingkungan Islam, ia harus menjadi suatu bentuk feminisme tersendiri, dan bukannya feminisme yang dipahami dan dikembangkan dalam atau diadopsi dari suatu lingkungan asing masalah-masalah yang berbeda dan solusi-solusi serta tujuan-tujuan yang berbeda.

Untuk itu al-Faruqi mengusulkan suatu bentuk feminisme yang sesuai dengan lingkungan Islam. Yang mempuyai ciri-ciri sebagai berikut:[29]
1.    Feminisme Islam Mendasarkan Diri pada Agama
Para feminis harus  menyadari bahwa ajaran-ajaran Islam dalah pendukung terbaik dalam perjuangan dan menjamin hak-haknya. Ketetapan-ketetapan yang ditemukan dalam AL-Quran dan teladan Rasulullah SAW harus dipandang sebagai ideal, karena pada ideal inilah feminis Muslim harus kembali padanya. Sumber kesulitan yang menyangkut wanita muslim dewasa ini bukanlah Islam dan tradisi-tradisinya, tetapi perembesan ideologi-ideologi dari luar Islam ke dalam masyarakat Islam, eksploitasi individu-individu di dalam masyarakat.
2.    Feminisme Islam tidak Bekerja secara Chauvinistik
Agar berhasil dalam perjuangan dalam membela kepentingan kaum perempuan, para feminis tidak bisa hanya menekankan kekuatan bagi kepentingan perempuan semata dengan mengesampingkan kekuatan laki-laki atau malah meruntuhkannya. Tradisi-tradisi Islam menetapkan bahwa kemajuan wanita dicapai secara bersama-sama dengan perjuangan yang lebih luas bagi keuntungan semua anggota masyarakat. Kebaikan kelompok atau keseluruhan selalu lebih penting dari dapa kebaikan salah satu sektor masyarakat. Masyarakat adalah sebagai satu keseluruhan organik yang saling mendukung dan bekerja sama demi mencapai tujuan yang dikehendaki. Kebaikan bagi masing-masing anggota merupakan keharusan bagi kesehatan dan kebaikan setiap anggota atau bagian lainnya.
3.    Feminisme Islam harus Memandang Ajaran Islam secara Menyeluruh
Para feminis harus menyadari bahwa Islam merupakan suatu ideologi yang tidak semata mempengaruhi kehidupan ritual suatu masyarakat, akan tetapi secara seimbang Islam juga mempengaruhi kehidupan dunia yang meliputi sosial, politik, ekonomi, kejiwaan dan keindahan dan sebagainya. Islam sebagai din merupakan suatu konsep yang mencangkup suatu spektrum praktek-praktek dan gagasan-gagasan luas yang mempengaruhi hampir semua aspek dalam kehidupan sehari-hari, juga gagasan-gagasan dan praktek-praktek yang secara adat terkait dengan agama. Oleh sebab itu, Islam dan tradisi-tradisi Islam harus dipandang sebagai sumber utama kepaduan bagi pengambangan suatu identitas dan stabilitas untuk melawan pengaruh budaya-budaya asing dan kerjasama yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer yang komplek dan beragam.
Itulah fakta-fakta yang harus dipahami oleh para feminis muslim dalam perjuangannya. Kegagalan memahami fakta-fakta itu, atau kegagalan untuk secara sepenuhnya memahami kepentingan umat Islam berarti hanya akan menyebabkan setiap gerakan yang membela posisi kaum perempuan di negari-negeri Islam mengalami kagagalan. Jadi hanya dengan penetapan bahwa identitas dan stabilitas itulah penghargaan diri tersebut bisa dicapai dan suatu iklim yang lebih sehat bagi laki-laki Muslim maupun wanita Muslim akan muncul, sehingga tujuan feminisme yang sesungguhnya akan dapat tercapai.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.    Feminisme merupakan gerakan yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan politik, yang menginginkan untuk disetarakan dengan laki-laki, dan gerakan ini lahir dari dunia barat dan berkembang keseluruh dunia. Gerakan feminisme diwarnai penolakannya terhadap sistem patriarki, yaitu sistem masyarakat kelas yang didominasi oleh laki-laki. Menurutnya terdapat dua pola umum gerakan feminisme. Pertama, gerakan transformasi sosial melalui perubahan eksternal yang revolusioner. Kedua, gerakan feminisme yang bersifar evolusioner.
2.    Mengenai pandangan ulama mengenai feminisme kita dapat mengetahuinya dari keterangan Yusuf Qaradhawi bahwa Islam telah memberikan kebebasan kepada perempuan dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, sebelum masyarakat barat memberikan kebebasan kepada mereka. Ajaran Islam telah membawa kedudukan perempuan menjadi lebih tinggi dan memberikan kedudukan yang terhormat kepada kaum perempuan sesuai dengan kudrat dan fitrahnya.
Perbedaan pendapat mengenai feminisme di antara para tokoh Islam hanya terletak pada penafsiran mengenai ayat-ayat tentang perempuan di dalam Al-Quran dan juga pula metodologi yang digunakan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Halim Abu Syuqqah. 2001. Kebebasan Wanita. Jakarta: Gema Insani Press.
Arifin, Muhammad. Gerakan Feminisme, Persamaan Gender dan Pemahaman Agama (Bagian I). Panel Jawatan Kuasa Pemikir Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan.
A'la, Abul. 1995. Al-Hijab. (Bandung: Gema Risalah Press)
Asghar Ali Engineer. 1994. Hak-hak Perempuan dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Husein, Muhammad. 2007. Fiqih Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender. Yogyakarta: Lkis.
Ilyas, Yunahar. 1997. Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Quran Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kamla Bashin dan Nighat Said Khan. 1995. Persoalan Pokok Mengenai Feminisme dan Relevansinya, Terjemahan S. Herlina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mansour, Fakih. 1996.  Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka.
Mansour, Faqih. 1996. Membincang Feminisme, Diskursus Gender Perspektif Islam. Surabaya: Risalah Gusti.
Megawati, Ratna. 1996. Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta Kaitannya denga Pemikiran Keislaman" dalam mansour fakih, Membincangkan Diskursus Gender Perspektif Islam. Surabaya: Risalah Gusti.
Mundir. 2010. Perempuan Dalam AL-Qur'an (Studi Tafsir Al-Manar). Semarang: Wali Songo Press.
Sahran, Raden. 2009. Feminisme dan Gerakan Perempuan Tinjauan Fiqih Mazhab Negara Di Indonesia. Palu: Jurnal Musawa, Vol. I, No. 1.
Sulkhan, Chakim. 2010. Jurnal Gender dan Anak (YINYANG), Vol. 5 No. 2. Purwokerto: STAIN Purwokerto.
Qaradhawi, Yusuf. 2001. Umat Islam Menyongsong Abad Ke-21, Terj. Yoga Izza Pranata. Solo: Inter Media.




[1] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, Persamaan Gender dan Pemahaman Agama (Bagian I), Panel Jawatan Kuasa Pemikir Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, hlm. 1
[2] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, hlm. 2
[3] Abul A'la, Al-Hijab, (Bandung: Gema Risalah Press, 1995), hlm. 23
[4] Abul A'la, Al-Hijab, hlm. 52
[5] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, hlm. 3
[6] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, hlm. 3
[7] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, hlm. 4
[8] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an (Studi Tafsir Al-Manar), (Semarang: Wali Songo Press, 2010), hlm. 68
[9] Muhammad Arifin, Gerakan Feminisme, hlm. 1
[10] Kamla Bashin dan Nighat Said Khan, Persoalan Pokok Mengenai Feminisme dan Relevansinya, Terjemahan S. Herlina, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 4
[11] Kamla Bashin dan Nighat Said Khan, Persoalan Pokok, hlm. 5
[12] Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka, 1996), hlm. 13
[13] Ratna Megawati, Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta Kaitannya denga Pemikiran Keislaman" dalam mansour fakih, Membincangkan Diskursus Gender Perspektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. 209-210
[14] Mansour Faqih, Membincang Feminisme, Diskursus Gender Perspektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm.225-227
[15] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 46-47
[16] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Quran Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 53
[17] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 58
[18] Sahran Raden, Feminisme dan Gerakan Perempuan Tinjauan Fiqih Mazhab Negara Di Indonesia, (Palu: Jurnal Musawa, Vol. I, No. 1, 2009), hlm. 85
[19] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 58
[20] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 60
[21] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 61
[22] Mundir, Perempuan Dalam AL-Qur'an. hlm. 62
[23] Sulkhan Chakim, Jurnal Gender dan Anak (YINYANG), Vol. 5 No. 2, (Purwokerto: STAIN Purwokerto, 2010), hlm. 25-26
[24] Husein Muhammad, Fiqih Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, (Yogyakarta: Lkis, 2007), hlm. 24-25
[25] Yusuf Qaradhawi, Umat Islam Menyongsong Abad Ke-21, Terj. Yoga Izza Pranata, (Solo: Inter Media, 2001), hlm. 209
[26] Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 7
[27] Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994), hlm. 271
[28] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian, hlm. 105
[29] Mundir, Perempuan dalam Al-Quran (Studi Tafsir Al-Manar), (Semarang: Walisongo Press, 2010), hlm.64-66

No comments:

Post a Comment