Monday, December 8, 2014

Penjaminan Mutu Pengembangan Budaya Agama di Madrasah atau Sekolah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang
Des, 2014

Om Hajir
========================

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar berguna bagi individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Proses pendidikan ini akan memungkinkan peserta didik menghayati pengalaman belajar untuk mewujudkan empat pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk mampu melakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar untuk hidup bersama. Dalam proses tersebut diperlukan keberadaan pendidik dan tenaga kependidikan yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
Selanjutnya, agama dianggap memiliki peran penting dalam mengembangkan moral spiritual peserta didik. Sehingga dibutuhkan pelaksanaan pendidikan agama yang tercakup dalam null curriculum dan hidden curriculum secara komprehensif. Pendidikan agama merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional (UU sisdiknas pasal 12) memiliki kontribusi yang besar dalam penanaman nilai-nilai moral spiritual dan perilaku keberagamaan peserta didik. Penanaman nilai-nilai keagamaan ini sangat diprioritaskan dalam pembelajaran pendidikan agama karena pendidikan agama berperan penting dalam pembentukan sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan ini maka keberhasilan penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah harus mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan seperti pemerintah, masyarakat maupun lembaga sosial keagamaan yang ada.
Salah satu faktor untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah dan kinerja sekolah perlu dibangun budaya organisasi di sekolah. Masalah yang muncul dalam penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah adalah hasil pelaksanaan pendidikan agama kurang optimal karena pendidikan agama lebih dirasakan sebagai pengajaran yang kurang menyentuh aspek sikap dan perilaku pembiasaan. Kurang optimalnya pendidikan agama sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: kualitas SDM, terbatasnya waktu dan cultur/budaya sekolah yang dikembangkan. Di samping itu, masih banyak keluhan masyarakat terhadap pendidikan agama yang belum mampu mengokohkan akidah dan moral bangsa. Dalam makalah akan dibahas mutu pengembangan budaya agama di sekolah atau madrasah.


B. Rumusan Masalah
Apa pengertian budaya sekolah atau madrasah?
Apa nilai - nilai keberagamaan agama di sekolah atau madrasah?
Bagaimana budaya agama di sekolah atau madrasah?
Bagaimana menciptakan budaya agama di sekolah atau madrasah?
Tujuan Pembahasan
Mengetahui pengertian budaya sekolah atau madrasah.
Mengetahui nilai - nilai keberagamaan agama di sekolah atau madrasah.
Mengetahui budaya agama di sekolah atau madrasah.
Mengetahui menciptakan budaya agama di sekolah atau madrasah.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Budaya Sekolah atau Madrasah
Istilah "budaya" mula-mula datang dari disiplin Ilmu Antropologi Sosial. Apa yang tercakup dalam definisi budaya sangatlah luas. Istilah budaya dapat diartikan sebagai totalitas, pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang transmisikan bersama.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, budaya (cultural) di artikan sebagai: pikiran, adat istiadat, sesuatu yang suda berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi (tradision). Dalam hal ini, tradisi diartikan sevagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.
Budaya merupakan suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologi manusia yang immeterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, keyakinan, seni dan sebagainya.
Agar budaya menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada prosesinternalisasi budaya. Dalam bahasa Inggris, Internalized berarti to incorporate in oneself. Jadi, internalisasi berarti proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. Seperti pendidikan, pengarahan, indoktrinasi, brain washing dan lain sebagainya.

Nilai-nilai (Religiusitas) Agama di Sekolah atau Madrasah
Istilah nilai keberagamaan agama merupakan istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Secara etimologi nilai keberagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan keberagamaan. Sedangkan keberagamaan merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.
Menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap agama yang tampak dalam diri seseorang dalam menjalankan tugasnya, di antaranya:
Kejujuran
Rahasia untuk meraih sukses menurut mereka adalah dengan selalu berkata jujur. Mereka menyadari, justru ketidakjujuran kepada pelanggan, orangtua, pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang berlarut-larut. Total dalam kejujuran menjadi solusi, meskipun kenyataan begitu pahit.
Keadilan
Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun. Meraka berkata, "pada saat saya berlaku tidak adil, berarti saya telah mengganggu keseimbangan dunia.
Bermanfaat bagi Orang Lain
Hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religus yang tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi saw: "sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain".

 
Rendah Hati
Sikap rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan atau kehendaknya. Dia tidak merasa bahwa dirinyalah yang selalu benar mengingat kebenaran juga selalu ada pada diri orang lain.
Bekerja Efisien
Mereka mampu memusatkan semua perhatian mereka pada pekerjaan saat itu, dan begitu juga saat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan santai, namun mampu memusatkan perhatian mereka saat belajar dan bekerja.
Visi ke Depan
Mereka mampu mengajak orang ke dalam angan-angannya. kemudian menjabarkan bagitu terinci, cara-cara untuk menuju kesana. Tetapi pada saat yang sama ia dengan mantap menatap realitas masa kini.
Disiplin Tinggi
Mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari semangat penuh gairah dan kesadaran, bukan berangkat dari keharusan dan keterpaksaan. Mereka beranggapan bahwa tindakan yang berpegang teguh pada komitmen untuk diri sendiri dan orang lain adalah hal yang dapat menumbuhkan energi tingkat tinggi
Keseimbangan
Seseorang yang memiliki sifat beragama sangat menjaga keseimbangan hidupnya, khusunya empat aspek inti dalam kehidupannya, yaitu: keintiman, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.
Dalam tataran nilai, budaya agama berupa: semangat berkorban, semangat persaudaraan, semangat saling menolong, dan tradisi mulia lainnya. Sedangkan dalam tataran perilaku, budaya religius berupa: tradisi sholat berjamaah, gemar bersodaqoh, rajin belajar, dan perilaku mulia lainnya.

 
 
Budaya Agama Sekolah atau Madrasah
Dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam sumber pengajaran Islam, nilai yang fundamental adalah nilai tauhid. Ismail Raji al-Faruqi, memformulasikan bahwa kerangka Islam berarti memuat teori-teori, metode, prinsip dan tujuan tunduk pada esensi Islam yaitu Tauhid. Dengan demikian Pendidikan Agama Islam dalam penyelenggaraannya harus mengacu pada nilai fundamental tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut budaya agama sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai keberagaman. Agama menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh.
Menurut Glock & Stark dalam Muhaimin, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:
Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui keberadaan doktrin tersebut.
Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu.
Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi.
Dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.
Budaya keagamaan merupakan kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan spontan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan pelaksanaan nilai- nilai agama dan  moral. Kemampuan guru PAI untuk mampu meyakinkan seluruh civitas akademika di lembaga pendidikan, terutama kepala sekolah, akan pentingnya budaya keagamaan adalah kuncinya. Ketika seorang kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekaligus penanggung jawab di sekolah sudah memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan budaya keagamaan, maka dalam pelaksanannya akan lebih mudah.
Dengan semikian, budaya agama di sekolah pada hakikatnya adalah terwujudnya nilai - nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah.Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.
Saat ini, usaha penanaman nilai-nilai agama dalam rangka mewujudkan budaya agama sekolah dihadapkan pada berbagai tantangan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, pendidikan dihadapkan pada keberagaman siswa, baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama. Lebih dari itu, setiap siswa memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Adapaun secara eksternal, pendidikan agama dihadapkan pada satu realitas masyarakat yang sedang mengalami krisis moral.
Secara umum budaya dapat terbentuk secara prescriptive (ascriptive) dan dapat juga secara terprogram sebagai learning process atau solusi terhadap suatu masalah.
Yang pertama adalah pembentukan atau terbentuknya budaya agama di sekolah melalui penurutan, peniruan, penganutan dan penataan suatu skenario (tradisi, perintah) dari atas atau dari luar pelaku budaya yang bersangkutan. Pola ini disebut pola pelakonan, modelnya sebagai berikut:

 
 
 

Penurutan

Peniruan

Penganutan

Penataan

Tradisi Perintah



Skenario dari luar, dari atas



 

 

 

Gambar: 1 Pola Pelakonan


Yang kedua adalah pembentukan budaya secara terprogram melalui learning process. Pola ini bermula dari dalam diri pelaku budaya, dan suara kebenaran, keyakinan, anggapan dasar atau kepercayaan dasar yang dipegang teguh sebagai pendirian, dan diaktualisasikan menjadi kenyataan melalui sikap dan perilaku. Kebenaran itu diperoleh melalui pengalaman atau pengkajian trial and error dan pembuktiannya adalah peragaan pendiriannya tersebut. itulah sebabnya pola aktualisasinya ini disebut pola peragaan. Berikut ini modelnya:

Sikap

Raga (Kenyataan)

Perilaku

PENDIRIAN di dalam diri perilaku budaya



 

 

 

 

 

Tradisi, Perintah

Gambar: 2 Pola Peragaan


Budaya agama yang telah terbentuk di sekolah, beraktualisasi ke dalam dan ke luar pelaku budaya menurut dua cara. Aktualisasi budaya ada yang berlangsung secara covert (samar/tersembunyi) dan ada yang overt (jelas/terang). Yang pertama adalah aktualisasi budaya yang berbeda antara aktualisasi ke dalam dengan ke luar, ini disebut covert yaitu seseorang yang tidak berterus terang, berpura-pura, lain di mulut lain dihati, penuh kiasan dalam bahasa lambing, ia diselimuti rahasia. Yang kedua adalah aktualisasi budaya yang tidak menunjukkan perbedaan antara aktualisasi ke dalam dengan aktualisasi ke luar, ini disebut dengan overt. Pelaku overt ini selalu berterus terang dan langsung pada pokok pembicaraan.
Dimensi keyakinan, praktek agama, pengalaman, pengetahuan agama, dan dimensi pengamalan keagamaan, atau menurut Nucholis Madjid, nilai rabbaniyah dan insaniyah (ketuhanan dan kemanusiaan), dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan sebagai wahana dalam upaya mengembangkan budaya agama, baik di lingkungan masyarakat, keluarga maupun sekolah. Adapun salah satu diantara bentuk budaya agama di sekolah diharapkan dapat dijadikan sebagai pijakan siswa dalam bertingkah laku dan bertindak di sekolah.

Menciptakan Budaya Religius Di Sekolah atau Madrasah
Penciptaan religiousculture dapat dilakukan dengan mengadakan  berbagai aktivitas keagamaan, seperti sholat berjamaah, mengucapkan salam dan tadarus al-Qur’an.
Budaya keagamaan merupakan kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan spontan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan pelaksanaan nila-inilai agama dan  moral. Kemampuan guru PAI untuk mampu meyakinkan seluruh civitas akademika di lembaga pendidikan, terutama kepala sekolah, akan pentingnya budaya keagamaan adalah kuncinya. Ketika seorang kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekaligus penanggung jawab di sekolah sudah memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan budaya keagamaan, maka dalam pelaksanannya akan lebih mudah.
Kegiatan berupa membaca al-Qur’an ketika memulai pelajaran dan menutup kegiatan belajar dengan membaca asma’ulhusna, membiasakan salam dan sapa antara siswa dan guru ataupun siswa dengan siswa, sholat dzuhur dan jum’atan berjamaah di sekolah, peringatan hari besar keagamaan dan penggunaan baju muslimah bagi siswi yang muslim dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan kegiatan sederhana  yang sesungguhnya memiliki dampak yang positip dalam menciptakann senseofreligious siswa.
Kesadaran semua pihak, bukan hanya guru agama, bahwa pembiasaan perilaku keagamaan di sekolah merupakan  alternatif jawaban dari berbagai persoalan bangsa ini sangatlah dibutuhkan.
Istilah pengembangan dapat bermakna kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif bagaimana menjadikan pendidikan agama Islam yang hanya dua atau tiga jam pelajaran itu dapat lebih meluas dan merata pengaruhnya baik di dalam maupun di luar sekolah. Secara kualitatif bagaimana menjadikan pendidikan agama Islam lebih baik, bermutu dan labih maju sejalan dengan ide-ide dasar atau nilai - nilai Islam itu sendiri yang seharusnya selalu berada di depan dalam merespon dan mengantisipasi berbagai tantangan hidup dan kehidupan.
Berfikir pegembangan mengajak seseorang untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam melakukan perubahan sebagai akibat dari keprihatinan terhadap kondisi dan eksistensi pendidikan agama Islam yang ada yang diikuti dengan perubahan dan pembaruan atau perbaikan serta ditingkatkan secara terus menerus untuk di bawa ke yang lebih ideal. Namun demikian perubahan dan pembaruan pendidikan agama Islam itu disamping memerlukan sensitivitas terhadap meinstream dari perkembangan yang ada, jua perlu mempertimbangkan dimensi-dimensi fondasionalnya, sehingga tidak terlepas dari akar-akar atau tidak kehilangan ruh atau spirit Islam.
Pengembangan pendidikan agama Islam dengan demikian perlu membidik berbagai wilayah kajian secara simultan yang pada dasarnya bermuara pada tiga problem pokok yaitu :
foundational problem dan empiric foundational problems yang menyangkut dimensi-dimensi historis, sosiologis, psikologis, antropologis, ekonomi dan politik.
structural problems, baik ditinjau dari struktur demografis dan geografis, struktur perkembangan, struktur perkembangan jiwa manusia, struktur ekonomi, maupun struktur atau jejang pendidikan.
operational problems, yang secara mikro menyangkut keterkaitan berbagai faktor/unsur/komponen dalam pendidikan agama Islam. Sedangkan secara makro, menyangkut keterkaitan pendidikan agama Islam dengan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama dan agama baik yang bersifat nasional maupun transnasional.
Berbicara tentang budaya sekolah mengajak seseorang untuk mendudukkan sekolah sebagai suatu organisasi yang didalamnya terdapat individu-individu yang memiliki hubungan dan tujuan bersama (suara organisasi itu). Tujuan ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu-individu atau memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Budaya sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai keyakinan, asumsi, pemahaman, dan harapan-harapan yang diyakini oleh warga sekolah serta dijadikan pedoman bagi perilaku pemecahan masalah (internal dan eksternal) yang mereka hadapi. Dengan perkataan lain budaya sekolah merupakan semangat, sikap dan perilaku pihak-pihak yang terkait dengan sekolah, atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh warga sekolah secara konsisten dalam menyelesain masalah.
Menurut Deal dan Peterson budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan, kesehetan dan simbol-simbol yang dipraktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, peserta didik dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah ini merupakan seluruh pengalaman psikologis para peserta didik baik yang bersifat sosial, emosional, maupun intelektual yang diserap oleh mereka selama berada dilingkungan sekolah.
Sedangkan strategi dalam mengembangkan budaya religius di sekolah, meminjam teori Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan, meniscayakan upaya pengembangan dalam tiga tataran yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian, dan tataran simbol-simbol budaya.
Pada tataran nilai yang dianut, dirumuskan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan dalam lingkungan sekolah, untuk salanjutnya dibangun komitmen bersama diantara semua warga sekolah khususnya para siswa terhadap pengembangan nilai-nilai yang telah disepakati. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hicman dan Silva : bahwa terdapat tiga langkah untuk mewujudkan budaya yaitu: Commitment, Competence, dan Consistency. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Nilai-nilai yang bersifat vertikal berwujud hubungan manusia atau warga sekolah dengan Allah (habl min Allah), dan yang horizontal berwujud hubungan manusia atau warga sekolah dengan sesamanya (hablu min an-nas), dan hubungan mereka dengan lingkungan alam sekitar.
Dalam tataran praktik keseharian, nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. Proses pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: Pertama, sosialisasi nilai-nilai agama yang disepakati sebagai sikap dan perilaku ideal yang ingin dicapai pada masa mendatang di sekolah. Kedua, penetapanaction plan mengguan atau bulanan sebagai tahapan dan langkah sistematis yang akan dilakukan oleh semua pihak sekolah dalam mewujudkan nilai-nilai agama yang telah disepakati, Ketiga, pemberian penghargaan terhadap prestasi warga sekolah.
Dalam tataran simbol-simbol budaya, pengembangan yang perlu dilakukan adalah mengganti simbol-simbol budaya yang kurang sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai agama dengan simbol budaya yang agamis.
Budaya sekolah akan menumbuhkan motivasi belajar siswa menjadi manusia yang penuh optimis, berani tampil, disiplin, berperilaku kooperatif, bertanggung jawab dan memiliki rasa kebersamaan yang baik. Motivasi belajar siswa akan memberikan pengalaman bagi tumbuhkembangnya kecerdasan, ketrampilan, dan aktivitas siswa yang pada akhirnya berpengaruh terhadap mutu pendidikan pada umumnya.
Pengembangan pendidikan agama Islam sebagai budaya sekolah berarti bagaiamana mengembangkan PAI disekolah, baik secara kuantitatif maupunkualitatif, sebagai pijakan nilai, semangat, sikap, dan perilaku bagai para aktor sekolah seperti kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya, orang tua murid dan pesrta didik itu sendiri.
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya:
Menjamin kualitas kerja yang lebih baik.
Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal
Lebih terbuka dan transparan
Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi
Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan
Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki
Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mengembangkan budaya agama adalah suatu upaya untuk menumbuhkembangkan beberapa pokok masalah dalam kehidupan beragama yang datangnya dari Allah SWT. terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan Ilahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Agama menjadi sumber paling luhur bagi manusia, sebab yang digarap oleh agama adalah masalah mendasar untuk kehidupan manusia yaitu perilaku (akhlak). Kemudian segi ini dihidupkannya dengan kekuatan ruh tauhid atau aqidah dan ibadah kepada Tuhan.
Sedangkan sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas sebagaimana tujuan pendidikan nasional. Sehingga dalam pengembangan budaya agama ini di kembangkan dari kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler, muatan lokal, serta iklim religius yang diciptakan di sekolah.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama Badan dan Diklat Balai Penelitian dan Pengembangan Agama. 2008. Pendidikan Agama di Era Reformasi. Jakarta, Penamas; Jurnal Penelitian Agama dan Kemasyarakatan.
J.L.Heskket & J.P. Kotter. Dampak Budaya Perusahaan Terhadap Kinerja. 1992. Terjemahan oleh Benyamin Molan. Jakarta: Prenhallindo.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991. Jakarta: PT. Balai Pustaka.
Indrafcrudi, Soekarto. Bagaimana Mengakrabkan Sekolah dengan Orang Tua Murid dan Masyarakat. 1994 .Malang: IKIP Malang.
Budiningsih, Asri. Pembelajaran Moral Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya. 2004. Jakarta: Rineka Cipta.

Dhara, Talizhidu. Budaya Organisasi. 1997. Jakarta: Rineke Cipta.
Agustin, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, Sebuah Inner Journey Melauli Ihsan. 2003. Jakarta: ARGA.
Al-Faruqi, Ismail Raji. Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan, Washington DC. 1982. International institute of Islamic Thoungt.

Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam. 1999. Bandung: Rosdakarya.
Sahlan, Asmaun. Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah. 2009. Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi. Malang: UIN-Maliki Press.

Ndara, Talizuhu. Teori Budaya Organisa. 2005. Jakarta: Rineke Cipta.

Madjid, Nurcholis. Masyarakat Religius. 1997. Jakarta: Paramadina.


Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam. 2006 . Jakarta: PT Raja Grafindo.
Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, dalam Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam. 2006 . Jakarta: Raja Grafindo.

No comments:

Post a Comment