Thursday, December 4, 2014

Toko Online perspektif Islam

Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Batu
2014

Zainul Al-Bantary

=================================



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Merupakan kehendak Allah, bahwa manusia diciptakan dalam bingkisan sosial, dimana manusia dituntut untuk berinteraksi (bermasyarakat, tolong menolong, dll). Oleh karenanya, manusia harus menyadari akan keterlibatan orang lain dalam suatu kehidupan ini, yaitu saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama-sama, dan mencapai tujuan hidup yang lebih maju.[1]
Ajaran Islam yang dibawa Muhammad ini memiliki sisi keunikan tersendiri, dimana didalam ajaran tersebut tidak hanya bersifat komprehensif, tapi juga bersifat universal. Komprehensif berarti mencakup seluruh aspek kehidupan, baik ritual, ataupun sosial (hubungan antara sesama makhluk). Sedangkan Universal bisa diterapkan kapan saja, hingga hari akhir.
Landasan ajaran islam Al-Qur’an dan Al-Hadits memiliki daya jangkau dan daya atur, yang secara universal dapat dilihat dari sisi teksnya yang selalu pas untuk diimplementasikan dalam wacana kehidupan aktual, misalnya daya jangkau dan daya atur dalam masalah perekonomian. Dalam hal ini ekonomi maupun bidang-bidang ilmu lainnya tidak luput dalam kajian Islam, yang bertujuan untuk menuntun manusia agar selalu tetap berada dijalan Allah, jalan kebenaran dan keselamatan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Islam adalah aspek ekonomi. Allah telah memberikan perintah kepada umat manusia agar dalam memperoleh harta dilakukan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang batil. Bahkan Islam mencegah setiap bentuk perekonomian yang mengandung unsur paksaan, mafsadah dan gharar.
Berdasarkan paparan di atas, penulis ingin mengangkat tema yang saat ini semakin nyata di lingkungan kita dalam bidang perekonomian. Salah satunya adalah “toko online/ jual beli online” yang menjadi salah satu ketertarikan tersendiri bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Maka, dalam makalah ini akan dibahas beberapa pandangan dalam Islam mengenai hukum toko online/ jual beli online.
B.     Rumusan Masalah
1.        Apa arti dari Toko Online/ e-commerce?
2.        Bagaimana mekanisme dan proses transaksi bisnis di Toko Online?
3.        Bagaimana hukum transaksi di toko Online dalam tinjauan Islam?
C.    Tujuan masalah
1.        Untuk mengetahui arti dari Toko Online/ e-commerce.
2.        Untuk mengetahui mekanisme dan proses transaksi bisnis di Toko Online.
3.        Untuk menganalisis hukum transaksi di toko Online dalam tinjauan Islam.























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Masalah
Saat ini banyak sekali “toko online” yang bermunculan di internet sebagai jawaban atas kebutuhan umat manusia yang semakin mendesak.  Lebih-lebih bagi mereka yang sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk berkunjung berlama-lama mencari sesuatu di toko, hanya dengan mencari di toko online mereka sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan berupa sesuatu yang diinginkan bahkan dengan harga yang lebih murah dan pelayanan yang bersahabat.
Aspek perekonomian merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana posisi ini menentukan akan kesejahteraan manusia semuanya. Seiring dengan perjalanan sang waktu dan pertumbuhan masyarakat, serta kemajuan IPTEK (ilmu penegetahuan dan tekhnologi), maka dalam hal ini mengarah pada suatu titik, yaitu membentuk dan mewujudkan perubahan terhadap pola kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali dalam bidang ekonomi, yaitu tentang suatu perdagangan, di mana dalam ajaran Islam diperbolehkannya jual beli yang saling menguntungkan, dan dilarang merampas harta orang lain dengan cara menipu atau berbuat kecurangan.
Pemanfaatan teknologi ini, memang membuat transaksi perdagangan atau jual beli menjadi mudah dan efisien. Namun, dampak terbesar dalam transaksi online seperti ini diantaranya adalah penipuan, pengambilan kesempatan dalam kesempitan, yang mana hal itu akan merugikan salah satu pihak. Fenomena ini akan kian nyata bila mencermati berbagai sarana untuk mendapatkan sumber ekonomi yang tak lagi memperhatikan norma-norma syariat, halal ataupun haram dan sudah menyalahi prinsip-prinsip muamalat.
Aktivitas perdagangan melalui media internet ini populer disebut dengan electronic commerce (e-commerce). E-commerce tersebut terbagi atas dua segmen yaitu business to business e-commerce (perdagangan antar pelaku usaha) dan business to consumer e-commerce (perdagangan antar pelaku usaha dengan konsumen).
Di Indonesia, fenomena e-commerce ini sudah dikenal sejak tahun 1996 dengan munculmya situs http:// www.sanur.com sebagai toko buku on-line pertama. Meski belum terlalu populer, pada tahun 1996 tersebut mulai bermunculan berbagai situs yang melakukan e-commerce. Sepanjang tahun 1997-1998 eksistensi e-commerce di Indonesia sedikit terabaikan karena krisis ekonomi namun di tahun 1999 hingga saat ini kembali menjadi fenomena yang menarik perhatian meski tetap terbatas pada minoritas masyarakat Indonesia yang mengenal teknologi.

1.        Definisi Toko Online
Definisi toko online jika dilihat dari suku katanya yaitu terdiri dari dua kata “toko” dan kata “online”. Menurut wikipedia bahwa toko adalah Sebuah tempat tertutup yang di dalamnya terjadi kegiatan perdagangan dengan jenis benda atau barang yang khusus, misalnya toko buku, toko buah, dan sebagainya.
Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah toko berarti sebuah tempat permanen untuk menjual barang-barang (baju, makanan dan sebagainya). Sedangkan dalam dunia IT mendefinisikan online sebagai terhubung, terkoneksi, aktif dan siap untuk operasi, dapat berkomunikasi dengan atau dikontrol oleh komputer. Selain itu bisa juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online artinya dalam jaringan atau disingkat daring.
Kata online berasal dari kata on dan line, on artinya hidup, line artinya saluran. Menurut wikipedia Pengertian online adalah keadaan komputer yang terkoneksi/ terhubung ke jaringan internet. Sehingga apabila komputer kita online maka dapat mengakses internet/ browsing, mencari informasi-informasi di internet.
Jadi jika di gabungkan, toko online diartikan sebagai sebuah tempat yang menjual barang dan jasa melalui media Internet. Melalui penjualan lewat internet seorang pembeli bisa melihat terlebih dahulu barang dan jasa yang hendak ia beli melalui web yang dipromosikan oleh penjual.
Toko online ini merupakan bentuk komunikasi baru yang tidak memerlukan komunikasi tatap muka secara langsung, melainkan dapat dilakukan secara terpisah dari dan ke seluruh dunia melalui media notebook, komputer, ataupun handphone yang tersambung dengan layanan akses Internet.
Toko online adalah salah satu tempat/ bentuk perdagangan barang atau jasa lewat internet yang digunakan untuk kegiatan transaksi penjual ke penjual ataupun penjual ke konsumen.

2.        Kelebihan Toko Online
a)      Keuntungan
1)        Bagi perusahaan, memperpendek jarak, perluasan pasar, perluasan jeringan mitra bisnis dan efisiensi, dengan kata lain mempercepat pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif, serta mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan kertas, seperti biaya pos surat, pencetakan, laporan dan sebagainya sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
2)        Bagi konsumen, efektif, aman secara fisik dan flesibel.
3)        Bagi masyarakat umum, mengurangi polusi dan pencemaran lingkungan, membuka peluang kerja baru, menguntungkan dunia akademis, meningkatkan kualitas SDM dan lain sebagainya.
b)      Kerugian
1)      Meningkatkan individualisme bagi pelaku e-commerce karena seseorang dapat bertransaksi dan mendapatkan barang/jasa tanpa bertemu dengan siapapun.
2)      Terkadang dapat menimbulkan kekecewaan terhadap obyek perdagangan.
3)      Masih lemahnya hukum yang mengatur bisnis e-commerce.
4)      Belum ada standar kualitas, keamana dan reliability yang diterima secara universal.[2]

3.        Proses Transaksi Online Orders
Dalam transaski e-Commerce, biasanya telah didahului oleh penawaran jual beli. Sebelum itu mungkin terjadi penawaran secara online melalui website, situs di internet atau posting di mailing list atau news group dengan model busines to busines.
Menurut Cavanilas dan Nadal, transaksi online memilik banyak cara dan tipe, yaitu:[3]
a)    Transaksi melalui chatting atau video conference.
b)    Transaksi melalui email
c)    Transaksi melalui web atau situs
Transaksi melalui chatting atau video Conference adalah seseorang dalam menawarkan sesuatu dengan model dialog interaktif melalui internet seperti melalui telepon, chatting dilakukan melalui tulisan sedangkan video conference dilakukan melalui media elektronik, di mana orang dapat melihat gambar dan mendengar suara pihak lain yang melakukan penawaran.
Seseorang yang melakukan transaksi dengan e-mail, sebelumnya sudah harus memiliki e-mail address . Selanjutnya sebelum melakukan transaksi, customer sudah mengetahui e-mail yang akan dituju dan jenis barang serta jumlah yang akan dibeli. Kemudian customer menulis spesifikasi produk alamat pengiriman dan cara pembayaran. Selanjutnya customer akan menerima konfirmasi dari merchant tentang order tersebut.[4]
Model transaksi melalui web atau situs yaitu dengan cara ini merchant menyediakan daftar atau katalog barang yang dijual dengan disertai deskripsi produk yang dijual. Pada model transaksi ini dikenal isitilah order form dan shopping cart. Order form adalah format pemesanan yang berisi tentang spesifikasi barang yang dipesan, cara pembayaran dan informasi lain yang berkaitan proses jual beli yang dilakukan. Sedangkan Shopping cart adalah sebuah software di dalam web yang memberikan keleluasaan bagi customer untuk melihat toko yang dibuka dan memilih item-item untuk diletakkan dalam kereta belanja yang kemudian membelinya setelah check out. Secara ringkas dalan online orders ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu find it, explore it, select it, buy it dan ship it.[5]  

B.     Dalil dan Metode Memahami Dalil
Dalam Islam dituntut untuk lebih jelas dalam memberikan suatu landasan hukum, maka dari itu Islam melampirkan sebuah dasar hukum yang terlampir dalam al-Qur’an, al-Hadits, ataupun Ijma’. Perlu diketahui sebelumnya mengenai jual beli online ini secara khusus dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang menjelaskan, yang selama ini dijadikan landasan hukum adalah transaksi jual beli secara global. Adapun yang menjadi dasar hukum jual beli didasarkan pada:
1.        Ketentuan Al-Qur’an
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. An-Nisa’:29)

Ÿwur (#þqè=ä.ù's? Nä3s9ºuqøBr& Nä3oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qä9ôè?ur !$ygÎ/ n<Î) ÏQ$¤6çtø:$# (#qè=à2ù'tGÏ9 $Z)ƒÌsù ô`ÏiB ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# ÉOøOM}$$Î/ óOçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÑÈ  
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 188)

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ  
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 275)

}§øŠs9 öNà6øn=tã îy$oYã_ br& (#qäótGö;s? WxôÒsù `ÏiB öNà6În/§ 4 !t.......... ÇÊÒÑÈ  
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu......” (Q.S. Al-Baqarah: 198)
2.        Ketentuan Al-Hadits
Jual beli yang mendapat berkah dari Allah adalah jual beli yang jujur, yang tidak curang, tidak mengandung unsur penipuan dan pengkhianatan.[6]
Hadis Nabi Muhammad saw dari Ibnu Umar:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah saw melarang jual beli gharar (mengandung ketidakjelasan).[7]
Sabda Rasulullah SAW:

حَدَثَنَا الْعَبَّاسُ اِبْنُ اْلوَلِيْدِ الْدَمَشْقِيُّ, حَدَثَنَا مَرْوَانَ اِبْنُ مُحَمَّدٍ. حَدَثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ اِبْنُ مُحَمَّدٍ, عَنْ دَاوُدَ اِبْنُ صَا لِحٍ الْمَدَنِيْ, عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَاسَعِيْدٍ الْخُذْرِيَّ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ص.م ((إِنَّمَاالبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ)) (رواه ابن ماجه(
“Menawarkan kepada kami al-‘Abas ibn al-Walîd al-Dmasqiy; mewartakan kepada kami Marwân ibn Muhammad; mewartakan kepada kami ‘Abd al-Aziz dari ayahnya, dia berkata: Rasûllâh Saw bersabda: sesungguhnya jual beli itu atas dasar suka sama suka.”  (HR. Ibn Mâjjah)
Sabda Rasulullah saw:

عَنْ رَفِاعَةَ بِنْ رَافِعِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ سُئِلَ اَيُّ الْكَسْبِ اَطْيَبُ ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُ بَيْعٍ مَبْرُوْرٌ (رواه البزر وصحه الحاكم(
“ Dari Rifa’ah putera Rafi’, ra. Ia berkata : Bawasannya Rasullulah SAW pernah ditanya : Usaha apakah yang paling halal itu (ya Rasullulah)? Jawab beliau: Yaitu kerjanya seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Bazzar dan dinilai shahih oleh Hakim)
Yang dimaksud mabrur dalam hadits di atas adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu menipu dan merugikan orang lain.

3.        Ijma’
Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkan itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.
Dari pemaparan di atas dapat penulis pahami bahwa, prinsip utama dalam jual beli adalah suka sama suka yang tidak mengandung unsur riba dan bathil, sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan baik penjual maupun pembeli. Selain itu, dalam melakukan jual beli juga harus diperhatikan mencari yang halal dengan jalan yang halal pula. Maksudnya halal yang diperbolehkan oleh agama untuk diperjualbelikan atau diperdagangkan dengan cara yang sejujur-jujurnya dengan tetap mengindahkan peraturan-peraturan jual beli.[8]
Dalam bidang ekonomi, Islam menetapkan aturan-aturan yang komprehensif tentang keterkaitan antara dua orang yang melakukan transaksi melalui adanya hukum-hukum agama tentang itu. Aturan itu merupakan rambu-rambu bagaimana mencari dan mengembangkan harta sekaligus pengalokasiannya.  Manusia hanya sebagai penjaga harta yang harus mengoptimalkan usaha dan kekuatannya melalui strategi dan aturan yang yang ada.
Atas dasar ini juga, para fuqaha membuat suatu kaidah atau aturan-aturan ekonomi yang dapat menjadi mediasi bagi manusia untuk saling melakukan transaksi dengan model yang diperbolehkan seperti jual beli termasuk dalam masalah perniagaan elektronik.
Pada dasarnya segala sesuatu dalam bermu’amalah diperbolehkan sampai ada larangan yang mengaturnya. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh mu’amalah:
الْأَصْلُ فِي الْمُعَامَلَاتِ الإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى تَحْرِيْمِهَا
“Hukum asal dalam urusan  mu’amalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya[9]


C.    Pendapat Ulama dan Hujjahnya
Dalam melakukan jual beli, hal yang terpenting adalah mencari barang yang halal dan dengan jalan yang halal pula. Artinya yaitu mencari barang yang halal untuk diperjualbelikan atau diperdagangkan dengan cara yang sejujur-jujurnya. Bersih dari sifat yang merusak jual beli, seperti penipuan, perampasan, riba, dan laian-lain.
Jika barang yang diperjualbelikan tidak sesuai dengan yang tersebut di atas, artinya tidak mengindahkan peraturan-peraturan jual beli, perbuatan dan barang hasil jual beli yang dilakukannya haram hukumnya. Haram dipakai dan haram dimakan sebab tergolong perbuatan bathil (tidak sah).
Yang termasuk perbuatan bathil menurut madzhab Syafi’iyyah adalah:
1.        Penipuan (khid’ah)
2.        Perampasan (ghasab)
3.        Makan riba (aklur riba)
4.        Pengkhianatan (khianat penggelapan)
5.        Perjudian (maisir)
6.        Suapan (risywah)
7.        Berdusta (kidzib)
8.        Pencurian (syirqah)[10]
Semua hasil yang diperoleh dengan jalan tersebut hukumnya haram dipakai, haram dimakan dan dipergunakan.

D.    Analisis Pendapat Ulama
Dalam Islam, transaksi apapun dan bagaimanapun kreasinya, selama tidak mengandung hal-hal yang menyebabkan terjadinya kerugian pada salah satu pihak yang bertransaksi dan barang yang diperjualbelikan bukanlah barang yang terlarang dan dilarang baik oleh hukum agama (syariat Islam) seperti halnya barang atau benda yang najis dan haram semisal narkoba dan ataupun oleh hukum negara seperti halnya barang hasil curian, korupsi, pencucian uang (money laundry) maka diperbolehkan.
Bahkan dalam sebuah kaidah hukum Islam disebutkan menghindari kesulitan yang menyebabkan pada suatu kerusakan dan kemudlaratan lebih diprioritaskan daripada meraih dan mengusahakan sebuah kemanfaatan dan kemaslahatan, dor'u al-mafasid muqaddam 'alajalb al-mashalih. Artinya, selama transaksi itu bermanfaat dan tidak berpotensi merugikan apalagi merusak, maka transaksi itu boleh dilakukan.
Sehubungan dengan pola transaksi e-commerce ini, ada sebuah pola transaksi dalam khazanah Islam klasik yang secara substantif tidak berbeda dengan e-commerce ini, yaitu ba'i salam. Pada pola transaksi as-salam ada tiga unsur utama yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu adanya sighat transaksi, pelaku transaksi (rabb as-salam, seller dan al-muslam ilaih, customer) dan objek transaksi (ra 's almdl).
Sighat dimaksud sebagai bentuk telah terjadinya kesepakatan transaksi (ijabqabut) antar kedua belah pihak. Dalam e-commerce adanya sighat ijab-qabul diwujudkan melalui media chatting, video conference, e-mail atau langsung melalui website merchant. Keempat media itu bisa dijadikan sebagai fasilitas dalam melakukan transaksi mulai dari proses information sharing, product preview dan shopping cart guna melakukan items selecting sarnpai pada mengisi order form yang sudah disiapkan oleh merchant yang bensi product table untuk kemudian submit sebagai bentuk persetujuannya.
Dalam hal pelaku transaksi, pada e-commerce tidak hanya melibatkan dua belah pihak (al-muslim dan al-muslam ilaih), tapi juga melibatkan pihak ketiga guna lebih menjamin keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi, yaitu selain cardholder (al-muslim) dan merchant (al-muslam ilaih) ada juga payment ghateway (saksi), acquire (institusi finansial yang dipercaya merchant untuk menerima dan memproses pembayaran secara online dari customer) dan issuer (lembaga finansial yang dipercaya oleh customer untuk melakukan pembayaran.
Masing-masing acquire dan issuer menjadi wakil dari mercant dan consumer dalam melakukan transaksi online. Perwakilan ini meski bukan menjadi syarat dan rukun dari sah tidaknya transaksi as-salam, tapi menjadi anjuran yang penting untuk dilakukan demi terjaganya rasa aman dan nyamandalam bertiansaksi. Halini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Kahfi ayat 19 juga surat Yusuf ayat 55.
Selanjutnya, objek transaksi (ra's al-maf) dalam moda ba'i as-salam
mensyaratkan barang atau sesuatu yang mempunyai nilai dan manfaat bagi kedua
belah pihak yang bertransaksi. Selain jenis pembayaran dalam ba’i as-salam harus
kontan ditempat terjadinya transaksi.Demikian pula yang terjadi dalam transaksi ecommerce dimana setelah terjadi kesepakatan barang, harga dan mata uang sebagai alat pembayarannya serta teknik pembayarannya disepakati, kemudian customer memerintahkan pada issuer untuk melakukan pembayaran untuk dan atas nama customer atas sejumlah pesanan barang yang dibeli kepada acquire untuk kemudian diterima oleh merchant sebagai penyedia barang. Jadi secara keseluruhan e-commerce bisa disebut sebagai bentuk penyempurnaan dari transaksi ba’i as-salam yang selama ini dikenal di dunia muslim.
Imam al-Syafi’i menjelaskan bahwa prinsip-prinsip mu’amalah berbeda dengan prinsip-prinsip aqidah ataupun ibadah. Dr. Muhammad ‘Utsman Syabir dalam al-Mu’amalah al-Maliyah al-Muashirah fî al-Fiqh al-Islmiy menyebutkan prinsip-prinsip tersebut, yaitu:
1.        Fiqh mu’malah dibangun di atas dasar-dasar umum yang dikandung oleh beberapa nash dalam al-Qur’an. QS. an-Nisa`, [4]: 29, QS. al-Baqarah [2]: 188, QS. al-Baqarah [2]: 275.
2.        Pada dasarnya, hukum segala jenis mu’amalah adalah boleh. Tidak ada satu model atau jenis mu’amalah pun yang tidak diperbolehkan, kecuali jika didapati adanya nash sahih yang melarangnya, atau model atau jenis mu’amalah itu bertentangan dengan prinsip mu’amalah Islam. Sesuai dengan firman Allah swt dalam QS. Yunus, [10]: 59.
3.        Fiqh mu’amalah mengompromikan karakter tsubut dan murunah. Tsubut artinya tetap, konsisten, dan tidak berubah-ubah. Artinya, prinsip-prinsip Islam baik dalam hal akidah, ibadah, maupun mu’amalah, bersifat tetap, konsisten, dan tidak berubah-ubah sampai kapan pun. Namun demikian, dalam tataran praktis, Islam; khususnya dalam mu’amalah; bersifat murunah, fleksibel, menerima perubahan dan adaptasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.
4.        Fiqh mu’amalah dibangun di atas prinsip menjaga kemaslahatan dan‘illah (alasan disyariatkannya suatu hukum). Tujuan dari disyariatkannya mu’amalah adalah menjaga dharuriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat. Prinsip-prinsip mu’amalah kembali kepada dharurat al khamsah, salah satunya adalah hifzh al-mal, Sedangkan berbagai akad seperti jual beli, sewa menyewa, dan lain-lain; disyariatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menyingkirkan kesulitan dari mereka. Bertolak dari sini, banyak hukum mu’amalah yang berjalan seiring dengan maslahat yang dikehendaki oleh syari’ (Allah) ada padanya. Artinya, jika maslahatnya berubah, atau maslahatnya hilang, maka hukum mu’amalah itu pun berubah.
Al-’Izz bin ‘Abdus Salam menyatakan, “Setiap aktivitas yang tujuan disyariatkannya tidak terwujud, maka aktivitas itu hukumnya batal.” Dengan bahasa yang berbeda, al Syathibiy sependapat dengan al-’Izz. Asy-Syathibiy berkata, “Memerhatikan hasil akhir dari berbagai perbuatan adalah sesuatu yang mu’tabar (diakui) menurut syariat.” (Asy-Syafi’i).[11]

E.     Pendapat yang dipilih dan Hujjah yang digunakan
Berangkat dari manhaj dan kaidah fiqhiyah, maka hasil istinbath dalam Jual beli Online dihukumi boleh karena terdapat dalil al-qur’an bahwa dalam Islam jual beli itu diperbolehkan.
Rasulullah mengisyaratkan bahwa jual beli itu halal selagi suka sama suka. Karena jual beli atau berbisnis seperti melalui online memiliki dampak positif karena dianggap praktis, cepat, dan mudah.
Dan dihukumi haram apabila:
1.      barang atau jasa yang menjadi obyek transaksi adalah barang yang diharamkan seperti narkoba, video porno, online sex, dan situs-situs yang bisa membawa pengunjung ke dalam perzinaan,
2.      melanggar perjanjian  atau mengandung unsur penipuan, sebagaimana firman Allah:
šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ  
Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah: 275)
Karena dalam agama Islam kemaslahatan dan perlindungan terhadap umat dalam berbisnis dan usaha harus dalam perlindungan Negara atau lembaga yang berkompeten. Agar tidak terjadi hal-hal yang membawa kemudharatan, penipuan dan kehancuran bagi masyarakat dan negaranya.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.        Toko online adalah salah satu tempat/ bentuk perdagangan barang atau jasa lewat internet yang digunakan untuk kegiatan transaksi penjual ke penjual ataupun penjual ke konsumen.
2.        Transaksi online memiliki banyak cara dan tipe, yaitu:
a.         Transaksi melalui chatting atau video conference.
b.         Transaksi melalui email
c.         Transaksi melalui web atau situs
3.        Hasil istinbat hukum tentang jual beli secara online yang di fasilitasi oleh toko online adalah boleh, karena perbelanjaan yang lebih mudah dan praktis. Hukumnya bisa menjadi haram apabila barang atau jasa yang menjadi obyek transaksi adalah barang yang diharamkan serta mengandung unsur ghoror (penipuan) yang dapat merugikan salah satu pihak. Islam tidak membenarkan hal yang bersifat seperti itu.














DAFTAR RUJUKAN

Arsyad, Sanusi. 2000. Transaksi Bisnis Electronik Commerce (e-commerce):Studi tentang Permasalahan-permasalahan Hukum dan Solusinya”, tesis Magister. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia

Asnawi, Haris Faulidi. 2004. Transaksi Bisnis E-Commerce Persfektif Islam. Yogyakarta: Magistra Insania Press

Al-Juzburi, Abdurrahman Ibnu Iwadh. 1360. Fiqh Ala Mazahibul Arba’ah. Qahirah: Dar Ibnu Haitsam

Hasan, M. Ali. 2004. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada

HR. Muslim, 10/157 dan al-Baihaqiy. Lihat al-Sunan al-Kubra, 5/338

M, Nur Avesina, dkk. 2010.  Makalah: E-Commerce dan Jual Beli dalam Islam. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Ya’kub, Hamzah. 1984. Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi). Bandung:Diponegoro

Zuhdi, Masjfuk. 1994.  Masa’il Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam. Jakarta: CV. Haji Masagung

Belajar Yuk...Jual beli Online menurut Pandangan Islam.htm, diakses pada hari rabu, tanggal 3 Desember 2014 pukul 10.00 WIB

http://an-nuur.org, diakses pada tanggal 2 Desember 2014, hari Selasa pukul 10.00 wib








[1] Hamzah Ya‟kub, Kode Etik dagang menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi),cet. I (Bandung:Diponegoro,1984, hal. 13-14.
[2] Nur Avesina M, dkk, Makalah: E-Commerce dan Jual Beli dalam Islam, (Yogyakarta: Univers itas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2010), hal. 7-8
[3] Sanusi Arsyad, transaksi bisnis electronik Commerce (e-commerce):Studi tentang permasalahan-permasalahan Hukum dan solusinya”, tesis Magister, Yogyakarta:Universitas Islam Indonesia, 2000, hal 53 dst.
[4] Haris Faulidi Asnawi, Transaksi bisnis E-Commerce Persfektif Islam (Yogyakarta::Magistra Insania Press,2004),Hal. 29
[5] Haris Faulidi Asnawi, Transaksi bisnis E-Commerce Persfektif Islam (Yogyakarta::Magistra Insania Press,2004),Hal. 32-33
[6] M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004), hlm. 116
[7] HR. Muslim, 10/157 dan al-Baihaqiy. Lihat al-Sunan al-Kubra, 5/338
[8] Belajar Yuk...Jual beli Online menurut Pandangan Islam.htm, diakses pada hari rabu, tanggal 3 Desember 2014 pukul 10.00 WIB
[9] Masjfuk  Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1994), hal. 99
[10] Abdurrahman Ibnu Iwadh al-Juzburi, Fiqh Ala Mazahibul Arba’ah, (Qahirah: Dar Ibnu Haitsam, 1360), hlm. 35
[11] http://an-nuur.org, diakses pada tanggal 2 Desember 2014, hari Selasa pukul 10.00 wib

No comments:

Post a Comment