Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Wednesday, September 17, 2014

DNA fingerprinting

BAB II PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Masalah
DNA pertama kali berhasil dimurnikan pada tahun 1868 oleh ilmuwan Swiss Friedrich Miescher di Tubingen, Jerman, yang menamainya nuclein berdasarkan lokasinya di dalam inti sel. Namun, penelitian terhadap peranan DNA di dalam sel baru dimulai pada awal abad 20, bersamaan dengan ditemukannya postulat genetika Mendel. DNA dan protein dianggap dua molekul yang paling memungkinkan sebagai pembawa sifat genetis berdasarkan teori tersebut.[1]Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme. Di antara perkecualian yang menonjol adalah beberapa jenis virus (dan virus tidak termasuk organisme) seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).[2]
Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus fosfat dan gula yang berselang-seling. Gula pada DNA adalah gula pentosa (berkarbon lima), yaitu 2-deoksiribosa. Dua gugus gula terhubung dengan fosfat melalui ikatan fosfodiester antara atom karbon ketiga pada cincin satu gula dan atom karbon kelima pada gula lainnya. Salah satu perbedaan utama DNA dan RNA adalah gula penyusunnya; gula RNA adalah ribosa. DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur heliks ganda. Pada struktur heliks ganda, orientasi rantai nukleotida pada satu untai berlawanan dengan orientasi nukleotida untai lainnya. Hal ini disebut sebagai antiparalel. Masing-masing untai terdiri dari rangka utama, sebagai struktur utama, dan basa nitrogen, yang berinteraksi dengan untai DNA satunya pada heliks. Kedua untai pada heliks ganda DNA disatukan oleh ikatan hidrogen antara basa-basa yang terdapat pada kedua untai tersebut. Empat basa yang ditemukan pada DNA adalah adenina (dilambangkan A), sitosina (C, dari cytosine), guanina (G), dan timina (T). Adenina berikatan hidrogen dengan timina, sedangkan guanina berikatan dengan sitosina. Segmen polipeptida dari DNA disebut gen, biasanya merupakan molekul RNA.[3]
Description: C:\Users\GARUDA\Documents\400px-DNA_As_Structure_Formula_(Indonesian).PNG      Description: C:\Users\GARUDA\Documents\DNA123.png
                       Gambar DNA[4]
Replikasi merupakan proses pelipatgandaan DNA. Proses replikasi ini diperlukan ketika sel akan membelah diri. Pada setiap sel, kecuali sel gamet, pembelahan diri harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel turunan memiliki informasi genetik yang sama. Pada dasarnya, proses replikasi memanfaatkan fakta bahwa DNA terdiri dari dua rantai dan rantai yang satu merupakan "konjugat" dari rantai pasangannya. Dengan kata lain, dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangan dapat dengan mudah dibentuk. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan bagaimana proses replikasi DNA ini terjadi. Salah satu teori yang paling populer menyatakan bahwa pada masing-masing DNA baru yang diperoleh pada akhir proses replikasi; satu rantai tunggal merupakan rantai DNA dari rantai DNA sebelumnya, sedangkan rantai pasangannya merupakan rantai yang baru disintesis. Rantai tunggal yang diperoleh dari DNA sebelumnya tersebut bertindak sebagai "cetakan" untuk membuat rantai pasangannya.[5]
Proses replikasi memerlukan protein atau enzim pembantu; salah satu yang terpenting dikenal dengan nama DNA polimerase, yang merupakan enzim pembantu pembentukan rantai DNA baru yang merupakan suatu polimer. Proses replikasi diawali dengan pembukaan untaian ganda DNA pada titik-titik tertentu di sepanjang rantai DNA. Proses pembukaan rantai DNA ini dibantu oleh enzim helikase yang dapat mengenali titik-titik tersebut, dan enzim girase yang mampu membuka pilinan rantai DNA. Setelah cukup ruang terbentuk akibat pembukaan untaian ganda ini, DNA polimerase masuk dan mengikat diri pada kedua rantai DNA yang sudah terbuka secara lokal tersebut. Proses pembukaan rantai ganda tersebut berlangsung disertai dengan pergeseran DNA polimerase mengikuti arah membukanya rantai ganda. Monomer DNA ditambahkan di kedua sisi rantai yang membuka setiap kali DNA polimerase bergeser. Hal ini berlanjut sampai seluruh rantai telah benar-benar terpisah.[6] Proses replikasi DNA ini merupakan proses yang rumit namun teliti. Proses sintesis rantai DNA baru memiliki suatu mekanisme yang mencegah terjadinya kesalahan pemasukan monomer yang dapat berakibat fatal. Karena mekanisme inilah kemungkinan terjadinya kesalahan sintesis amatlah kecil.
Proses tes DNA untuk membuktikan apakah seorang anak benar-benar adalah anak kandung dari sepasang suami dan istri. Cara memeriksa tes DNA dilakukan dengan cara mengambil STR dari anak. Selanjutnya, di laboratorium akan dianalisa urutan untaian STR ini apakah urutannya sama dengan seseorang yang dijadikan pola dari seorang anak. Urutan tidak hanya satu-satunya karena pemeriksaan dilanjutkan dengan melihat nomor kromosom.[7]
Misalnya, hasil pemeriksaan seorang anak ditemukan bahwa pada kromosom nomor 3 memiliki urutan AGACT dengan pengulangan 2 kali. Bila ayah atau ibu yang mengaku orang tua kandungnya juga memiliki pengulangan sama pada nomor kromosom yang sama, maka dapat disimpulkan antara 2 orang itu memiliki hubungan keluarga.
Seseorang dapat dikatakan memiliki hubungan darah jika memiliki 16 STR yang sama dengan kelurga kandungnya. Bila urutan dan pengulangan sama, maka kedua orang yang dicek memiliki ikatan saudara kandung atau hubungan darah yang dekat. Jumlah ini cukup kecil dibandingkan dengan keseluruhan ikatan spiral dalam tubuh kita yang berjumlah miliaran.
Tes DNA dilakukan dengan mengambil sedikit bagian dari tubuh Anda untuk dibandingkan dengan orang lain. Bagian yang dapat diambil untuk dicek adalah rambut, air liur, urine, cairan vagina, sperma, darah, dan jaringan tubuh lainnya. Sampel ini tidak akan berubah sepanjang hidup seseorang. Penggunaan alkohol, rokok atau obat-obatan tidak akan mengubah susunan DNA. Hasil tes DNA akan dijalankan dari pasien baru dapat dilihat 2-4 minggu.

Description: Description: C:\Users\GARUDA\Documents\images.jpg
Gambar DNA fingerprinting[8]
Gambar diatas menunjukkan hasil analisis terhadap penentuan stastus anak yang merupakan anak kandung dan yang bukan. Gambar diatas menjelaskan bahwa ada 4 (empat orang anak), 2(dua) laki-laki dan 2 (dua) perempuan. Seorang pasangan suami isteri ingin mengetahui mana yang merupakan anak kandungnya. Berdasarkan hasil tes DNA dari keempat anak itu bahwa D1 adalah anak perempuan kandungnya dan S1 adalah anak laki-laki kandungnya karena memiliki kesamaan dengan pihak suami isteri, sedangkan D2 adalah anak tiri hasil hubungannya dengan laki-laki lain, sedangkan S2 adalah anak orang lain karena kandungan DNA nya sama sekali berbeda dari pasangan suami isteri itu.[9]


B.    Dalil dan Metode Memahami Dalil
1.     Al-Sunnah
عن عائشةَ رضيَ الله عنهاَ أ نها قالت اختصم سعدبن أبي وقاص وعبد بن زمعة في غلام فقال سعد هذا يا رسول الله ابن أخي عتبة بن أبي وقاص عهد إ ليّ أنه ابنه انظر إلى شبهه وقال عبد بن زمعة هذا أخي يا رسول الله ولد على فراش أبي من وليد ته فنظر رسول الله ص م إلى شبهه فرأى شبها بينا بعتبة فقال هو لك يا عبد بن زمعة الولد للفراش وللعاهر الحجر واحتجبي منه يا سودة بنت زمعة فلم تره سودة قطّ (رواه البخا ري)                                                
Dari Aisyah Ra. Ia berkata” Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abd bin Zam’ah berselisih tentang seorang anak lelaki. Kata Sa’ad: Yarasulullah, ini anak saudara laki-laki saya ‘Utbah bin Abi Waqqash. Ia telah berpesan kepadaku bahwa bocah tersebut adalah anaknya. Lihatlah kemiripan bocah ini. Akan tetapi Abd bin Zam’ah berkata: bocah ini saudara laki-laki saya wahai Rasulullah, ia dilahirkan dari hubungan badan ayahku dengan budak wanitanya. “ lalu Rasulullah Saw. Meneliti kemiripannya, maka beliai melihat anak itu sangat mirip dengan ‘Utbah, lalu beliau bersabda: “Anak ini saudaramu wahai Abd bin Zam’ah, seseorang anak adalah milik orang yang berhubungan badan di tempat tidur, sedangkan bagi orang yang berzina mendapat kerugian, dan pakaialah tirai darinya wahai Saudah binti Zam’ah. Sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak itu lagi.” (HR> Bukhari)[10]
عن عا ئشة أنَّ النبيّ ص م دخل عليها مسرورا تبروق أسارير وجه فقال ألم ترى أن مجززا نظر آنفا إلى زيد فقال ألم ترى أنَّ مخززا نظر آئفا إلى زيد فقال هده ألأقدام بعضها من بعض قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح وقد روى ابن عيينة هذا الحديث عن الزهري عن عروة عن عائشة وزاد فيه ألم ترى أنّ مجززا مرَّ على زيد بن حارثة وأسامة بن زيد قد غطَّيا رءوسهما وبدت أقدامها فقال إنّ هذه الأقدام بعضها من بعض وهكذا حدثنا سعيدبن عبدالرحمن وغير واحد عن سفيان بن عيينة هذا احديث عن الزهريّ عن عروة عن عائشة وهذا حديث حسن صحيح وقد احتج بعد اهل العلم بهاذا الحديث في إقامة أمر القافة (روه الترمذي)                   
Dari A’isyah Ra., ia berkata: Sungguh Nabi Saw. Mengunjungi nya dengan keadaan suka cita, guratana kegembiraan nampak diwajah beliau. Lalu beliau bersabda: Tidakkah kamu tadi melihat Mujazzir (seseorang ahli nasab) memandang Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid, lalu berkata: “ kaki-kai ini memiliki kesamaan antara satu dengan yang lain.”[11]
Abu Isa (Tirmidzi) berkata: ini merupakan hadits hasan shahih.” Dan sungguh Ibn ‘Uyainah meriwayatkan hadits ini dari al-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, dengan tambahan: Tidakkah kamu melihat Mujazzir melintas di depan Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid saat kepala mereka tertutup dan terlihat kakinya. Lalu ia berkata: “sesungguhnya kaki-kaki ini memiliki kesamaan antara satu dengan yang lain.”[12]
Demikian Sa’ad bin Abdirrahman dan lebih dari seorang perawi menceritakan hadits ini kepada kami, dari sufyan bin Uyaynah, dari al-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah. Dan ini merupakan hadis shahih, sebagian ulama telah menjadikan hadis ini sebagai hujjah dalam masalah qiyafah (HR. Tirmidzi)[13]
Metode memahami dalil yaitu dengan metode qiyas. Qiyas adalah mengembalikan far’(kasus cabang) pada ashl (kasus induk) sebab adanya ‘illat (titik temu) yang menyatukan keduanya dalam hukum.[14] Kias dalam istilah ashul, yaitu menyusul peristiwa yang tidak terdapat nash hukumnya dengan peristiwa yang dapat nash bagi hukumnya. Dalam hal hukum yang terdapat nash untuk menyamakan dua peristiwa pada sebab hukum ini. Dengan rincian qiyas, dimana muqayas alaih adalah: Qiyafah (penentuan nasab dengan cara perkiraan). Muqayas yaitu: identifikasi nasab dengan cara tes DNA. kesamaan illat yaitu penentuan identifikasi nasab.

C.    Pendapat Ulama dan Hujjah mereka
1.     Tharaiq al-Hukm fi al-Syar’iyah al-Islamiyah
وقد تكون نتائج التحليللات مفيدة إلاّ أنّ القطع بدقتها وصحّتها موضوع نظر لأنّ تشابه فصا~ل الدمّ بين شخص وآخر أمر وارد مع إمكانية خطأالتحاليل وتزويرها, ولذلك فإنّ لإستعانة بهذه القرينة فى النفي وليثت الإثبات.[15]                                                                       
Terkadang hasil penelitiaan laborat bisa memberi manfaat, hanya saja detail dan kebenaran secara pasti masih menjadi bahan diskusi, dikarenakan kemiripan golongan darah antara seseorang dengan orang lain merupakan hal yang bisa saja terjadi, di samping masih terbukanya kemungkinan kesalahan hasil analisa laborat dan terjadinya pemalsuan. Oleh karena itu penggunaan sarana ini hanya untuk meniadakan hubungan garis keturunan saja, dan tidak untuk digunakan dalam menetapkan hubungan garis keturunan(nasab).[16]
2.     Al-Burhan fi Ushul al-Fiqh
فأقضى الإمكان فى ذلك أنّ الرسول عليه الصلاة والسلام لو لم يكن معتقداً قبولَ قولِ القا ئف لعدّهُ من الزجر والفأل والحدس والتخمين, ولما أبعد أنّ يخطئَ فى مواضع وإنْ أصاب في مواضع, فإذا تركه ولم يردّه كان الكلام على الأنساب بطريق القيا فة, فهذا من هذا الوجهِ قد يدلّ على أنه مستند الأنساب, فهاذا هوالممكن في ذلك[17]                                                          
Kemungkinan paling maksimal dalam hal tersebut adalah bahwa andaikan Rasulullah Saw. Tidak meyakini informasi ahli nasab, tentu beliau menganggapnya sebagai larangan, asumsi, perkiraan dan taksiran, dan tentu akan sering dalam tidak tepat dalam beberapa kesempatan, meski bisa tepat dalam kesempatan lain. Maka ketika beliau SAW. Membiarkan dan tidak menolaknya, maka pembahasan tentang nasab itu berdasarkan teori qiyafah. Maka penerimaan ahli nasab dari kajian tersebut bisa menunjukkan, bahwa qiyafah adalah dasar penentuan nasab, dan demikian yang mungkin dalam masalah tersebut.[18]
3.     Al-Thuruq al- Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syari’ah
والمقصود أن أهل القيافة كأهل اخيرة وأهل الخرص والقاسمين وغيرهم ممن اعتمادهم على الأمور المشاهدة المرئية لهم ولهم فيها علامات يختصون بمعرفتها من التماثل والاختلاف والقدر والمساحة وأبلغ من ذلك الناس يجتمعون لرؤية الهلال فيراه من بينهم الواحد والإثنان فيحكم بقوله أو قولهما دون بقيةِ الجمع[19]
Yang dimaksud adalah sungguh ahli qiyafah itu seperti pakar bidang tertentu, juru taksir, juru pembagi, dan semisalnya dari orang-orang yang berpedoman pada perkara yang bersifat kasat mata dan bisa dilihat mereka. Dalam hal tersebut mereka memiliki tanda-tanda yang secara khusus diketahui mereka, yaitu kemiripan, perbedaan, taksiran dan ukuran luas. Yang lebih mendalam dari hal itu adalah orang-orang diantara mereka  melihatnya, maka diputuskan dengan informasi satu atau dua orang tadi, tanpa informasi dari selainnya.[20]
4.     Takmilah al-Majmu
على أنّ أسباب المعرفة فىزمنن هذا قد اتسعت أفاقها واستقرت قواعدها على أسباب أدقَّ ومبادئَ أضبط وإن كانت غير قطعية فى أكثر أحوالها, وقديأخذالعلم الحديث با القيافة حيث يعجز التحليل الطبي,والقيافة أحد فروع الطّبي, والقيافة أحد فروع الطّب الشرعيّ أوهي الأساس الفعلي للطّب السرعيّ ومن قرأ كتب الطّب السرعي العربية أوالأجنبية يتضح له صحة هذا الحكم.....ويلاحظ أنّ قيافة الدم هنا وإن كانت قائمة على أساس علميّ إلاّ أنها سلبية وليست إيجابيّة, فهي تقول بأنّ هذا ليس أبا ولا نستطيع أن تقول هذا أب لأنه قد يكون الأب شخصا له فصيلة المدّعى ولكن يمكن أن ينفي فيقول إذا كانت فصيلة دم الابن "أوْ" وكانت فصيلة الأب المدّعى "أب" والأم" ب" حكمو بالقطع بأنّ هذا ليس أباه ولكن لو كانت فصيلة الطفل قالوا يحتمل أن يكون أباه ويحتمل أن يكون أبوه عير ه علئ أنّ أحسن القيافة التعرّف عن طريق الأطراف كالأيدي والأرجل وملامح الوجه[21]
Berdasarkan pada sebab-sebab mengetahui (nasab seseorang) pada zaman kita ini telah begitu luas dan kaidah-kaidahnya berpijak pada sebab-sebab yang lebih detail dan dasar-dasar yang lebih kokoh, sekalipun pada sebagian kasus tidak bisa memberikan hasil pasti. Terkadang ilmu modern menggunakan teori qiyafah merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran syar’i, atau merupakan landasan nyata kedokteran syar’i. Bagi orang yang membaca buku-buku kedokteran syar’i yang berbahasa Arab atau selain Arab, maka ia mendapat kejelasan tetntang keabsahan hukum penentuan nasab berdasarkan pendapat pakar qiyafah ini...[22]
Dan perlu perhatikan, bahwa penelitian sampel darah disini, meski berpijak pada dasar-dasar ilmiah, akan tetapi sifatnya hanya untuk menafikan hubungan darah, bukan untuk menetapkannya. Ia menyatakan: “Ini bapaknya. “sebab, terkadang seseorang bapak punya golongan darah (yang bersambung dengan golongan darah) anak yang diklaim sebagai anak orang lain, namun hal ini bisa dimentahkan. Maka si pendakwa berkata: “jika golongan darah si anak adalah O, sedangkan golongan darah ayah yang didakwa (bukan sebagai bapaknya) adalah AB dan si ibu adalah B, maka para ahli medis menghukumi secara pasti bahwa orang ini bukan ayah bagi anak tersebut. Namun jika golongan darahnya sama dengan golongan darah si anak, maka para ahli medis menyatakan:”kemungkinan dia adalah bapaknya, dan kemungkinan bapaknya adalah orang lain. “berdasarkan pada qiyafah yang paling bagus, yaitu mengenali bagian-bagian anggota tubuh semisal kedua tangan, kaki, dan ciri-ciri wajah.[23]
5.     Takmilah al-Majmu
ولنا أنه يمكن الاستعانة بالطب الشرعيّ في تحليل فصا ئل دم كل من الرجلين والأمّ فإن تشا بهت فصا ئل الدم عند تشا بهت فصا ئل الدم عند هما أخذ بالقافة[24]
Bagi kita madzhab Syafi’iyah(dalam kasus dua orang lelaki menikahi dua perempuan bersaudara, lalu tertukar dalam hubungan badan pada masa sucinya dari haid, dan si perempuan melahirkan anak yang mungkin berasal dari dua lelaki itu, dalam penentuan nasab anak itu), sungguh bisa memakai kedokteran syar’i untuk menganalisa golongan darah dua lelaki (si suami dan si lelaki lain) tersebut dan si ibu. Jika terjadi kekaburan golongan darah bagi kedua lelaki itu, maka digunakan teori qiyafah.[25]
6.     Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai
فإنّ السرعَ وردَ بقبول قول القائف في النّسب فإنه روي أنّه روي أنّ قائفا مرَّبأُسامة وزيد وهما تحت قطيفة واحد ةٍ قد غطَّ وجو ههما وأرجلهما با دية فقال إنّ هذه الأقدامَ يسبه بعضها بعضا فسمع رسول الله ص م ففرح بذلك حتّكادت تبرق أسا رير وجهه عليه الصلاة والسلام , فقد اعتبر عليه الصلاة و السلام  قول قائف  حيث لم يردّ عليه بل قرّره بإظهار الفرح. ولنا إجماع الصحابة رضي الله عنهم فإنه روي أنه وقعت هذه الحادثة في زمن سيّدنا  عمر ر ع فكتب إلى شريخ لبّساً فلُبّسَ عليهما ولو بينّا للبُيِّن لهما هو إبنهما ويريثا نه وكان ذلك بمحضر من الصحشبة ولم ينقل أنه أنّه أنكر عليه منكر فيكون إجماعاً لأنّ سببب استحقاق النسب بأصل الملك وقد وجد لكلّ واحد منهما فيثبت بقدر الملك حصّة للنّسب ثم يتعدّى لصرورة عدم التجزي فيثبت بقدر الملك حصّة للنسب ثم يتعدّ لضرورة عدم التجزّي فيثبت نسبه من كلّ واحد منهما على الكمل وامّا فرح النبيّ عليه الصلاة و السلام وترك الردّ والنّكر فاحتمل أنّه لم يكن لإعتباره قول القائف حجة بل لوجه آخر وهو أنّ الكفّار كانوا يطعنون فى نسب اسامه وكانوا يعتقدون القيافة فلمّا قال القائف ذلك فرح رسول الله ص. م. لطهور بطلان قولهم بما هو حجّة عندهم فكان فرحه في الحقيقة بزوال الطعن بما هودليل الزّوال عند هم والمحتمل لا يصلح حجةً[26]
(dalam kasus budak perempuan yang dimiliki dua orang lelaki, lalu kelahirkan anak dan kedua pemilik mengklaimnya sbagai anak darinya, maka menurut madzhab Hanafi anak itu adalah anak kedua mereka berdua dan si ibu menjadi umm al-mustauladahnya. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, anak itu adalah hanya anak salah satu dari mereka). Karena sungguh syariat menerima pendapat seorang pakar qiyafah dalam menentukan nasab. Sebab diriwayatkann, seorang ahli qiyafah lewat di depan Usamah dan Zaid ketika keduanya berada dibawah selendang bersabut yang menutupi wajah mereka, sementara kaki mereka terlihat. Lalu ahli qiyafah itu berkata: kaki-kaki ini memiliki kemiripan antara satu dengan yang lain.” Ketika mendengar hal itu rasulullah Saw. Bergembira sehingga terlihat keceriaan tersimpul di wajahnya. Maka rasulullah Saw, mengakui pendapat ahli qiyafah, karena beliau tidak membantahnya, bahkan beliau tetapkan dengan memperlihatkan kegembiraannya.[27]
Dan kita(madzhab hanafiyah) memiliki dalil ijma’ sahabat. Sebab diriwayatkan, bahwa peristiwa tersebut pernah terjadi dimasa Khalifah Umar bin Khattab Ra. Lalu beliau menulis surat pada Syuraikh yang berisi:”mereka berdua telah membuat samar (kasus ini), maka samarkan (kasus ini) bagi mereka. Anak itu adalah anak mereka, dia mewarisi (harta) mereka dan mereka mewarisinya.”peristiwa itu dihadiri para sahabat dan tidak dikutip ada seseorang yang mengingkarinya, maka menjadi ijma’. Mengingatsebab hak nasab anak tersebuit adalah berdasarkan hukum asal kepemilikan (atas ibunya), dan kepemilikan itu ada pada mereka berdua, maka dengan kadar kepemilikan tersebut, bagian nasabnya menjadi tetap, lalu menjalar (keseluruhan anak tersebut) karena darirat nasab tidak bisa dibagi-bagi. Maka tetaplah nasab itu dari masing-masing mereka berdua secara sempurna.[28]
Adapun kegembiraan nabi Saw. Dan tidak adanya bantahan dan pengingkaran dari beliau, maka kemungkinan bukan karena beliau menerima informasi ahli qiyafah sebagai hujjah, namun karena hal lain, yaitu orang-orang kafir mencela nasab Usamah Ra. Dan mereka meyakini metode qiyafah. Ketika seorang ahli kiyafah menyatakan hal tersebut, maka gembiralah rasulullah Saw. Karena nampak sudah kesalahan pendapat mereka berdasar metode yang menjadi hujjah menurut mereka. Maka kegembiraan beliau pada Usamah karena metode yang menjadi dalil hilangnya celaan menurut mereka sendiri. Dan riwayat yang bersifat kemungkinan tidak layak dijadikan hujjah.[29]

7.     Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah
الحنا بلة قالوا يشترط في انقضاء العدة بوضع الحمل ثلاثة شروط...والمراد بالقافة من لهم خبرة بشبه الولد بأبيه, هذا ما قاله الفقهاء ولعلّه يقوم مقامه في زما ننا تحليل الدم فإذا أمكان معرفة كون دم الطفل من دون دم ولده يكون حسنا وإذا لم يكن معرفة شبهه بواحد منهما أواختلف القافة في أمره فإنّ عليها أن تعتدّ بثلاث حيض بعد وضعه على أيّ حالّ[30]
Ulama madzhab hanabilah berpendapat, dalam habisnya masa ‘iddah dengan melahirkan bayi disyaratkan tiga hal...Dan maksud ahli qiyafah yaitu orang yang mempunyai keahlian mengidentifikasi kemiripan anak dengan bapaknya. Ini adalah yang dikatakan para fuqaha. Barangkali dimasa kita sekarang ini tes darah bisa menggantikannya. Maka jika dimungkinkan mengetahui golongan darah anak dari golongan darah sang bapak, maka bagus. Dan jika tidak bisa diketahui kemiripannya dengan salah satu dari kedua lelaki yang bersetubuh dengan ibunya (dalam kasus seorang wanita yang menikah di masa’iddah dan melahirkan seorang anak yang mungkin dinisbatkan pada kedua lelaki itu), atau pendapat para ahli qiyafah berbeda dalam kasus ini, maka bagaimanapun si ibu harus menjalani masa ‘iddah selama masa tiga kali haid, terhitung setelah melahirkan.[31]

D.    Analisis Pendapat Ulama
Dari pendapat Shalih Ali Nashir terkait penggunaan golongan darah untuk penentuan nasab, belum tentu bisa digunakan karena ke-akuratan masih diragukan. Selain itu juga mempertimbangkan kemungkinan pemalsuan dan kesalahan hasil analisa. Sementara Abdul malik al-Juwaini/Imam Haramain, berpendapat bahwa penggunaan metode qiyafah dapat digunakan dalam penentuan nasab, karena ketetapan Nabi dalam mebiarkan dan tidak menolaknya. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, penggunaan ahli qiafah bisa diibaratkan seperti penggunaan ahli hilal dalam melihat bulan hal ini berarti beliau berpendapat penentuan nasab bisa dengan qiyafah.
Bahkit al-Muti’i berpendapa penggunaan qiyafah bisa digunakan dalam penentuan nasab, sedangkan golongan darah hanya bisa digunakan untuk mentiadakan hubungan nasab, tetapi tidak bisa untuk menetapkan nasab karena hanya bisa menentukan kemungkinan saja dan masih mengandung ketidak pastian akurasi dan validitasnya. Sementara Mahmud bin Ahmad al-Kasani mengemukakan pendapat dari golonga madzhab Hambali yang tidak setuju bila qiyafah dijadikan sebagai hujjah dalam menentukan nasab karena riwayat hadis tersebut masih bersifat kemungkinan. Sementara Abdurrahman al-Juzairi berpendapat bahwa penggunaan ahli qiyafah bisa digunakan untuk menentukan nasab seorang anak.
Perbedaan pendapat para ulama mengenai qiyafah ini memang cukup tajam, hal ini terbukti bahwa Imam Malik dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa metode Qiyafah hanya diberlakukan terhadap anak hamba sahaya, bukan anak orang yang merdeka. Pernyataan ini langsung dibantah oleh Ibnu hazm bahwa hal ini jelas tidak benar, sebab kasus Usamah dan Zaid yang diselidiki oleh Mujazziz Al-Mudallaji sebagaimana dikemukakan dalam hadis diatas berkaitan dengan anak statusnya merdeka bukan hamba sahaya.[32]
Sementara Imam Abu Hanifah dan kawan-kawan tidak menganggap qiyafah sebagai sandaran dalam menetapkan nasab. Alasan mereka karena penetapan nasab melalui qiyafah didasarkan atas prasangka belaka, bukan atas dasar pengetahuan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini Rasulullah tidak pernah menentukan suatu keputusan hukum atas dasar prasangka belaka. Bahkan Ibnu Al-Qayyim secara tegas mengatakan bahwa sikap ceria nabi terhadap tindakan Mujazziz itu hanya terbatas pada sifat basyariyyah beliau sebagai seorang manusia yang heran dengan perbedaaan warna kulit antara bapak dan anak, bukan sebagai penguat atas ucapan Mujazziz Al-Mudallaji sebagai penelusuran nasab.[33]
Dalam hal ini Al-Khiththabi sebagaimana dikutip Asy-Syaukani mengatakan, bahwa hadis riwayat Al-Bukhari dan muslim diatas, merupakan alasan kuat dalam menetapkan nasab atas dasar qiyafah, sebab Rasulullah tidak akan bersikap ceria, kecuali terhadap suatu persoalan yang dianggapnya benar, yaitu kebenaran nasab Usamah kepada Zaid bin Haritsah yang oleh masyarakat ketika itu diragukan kebenarannya.[34]
Dizaman yang sudah cukup modern ini, barangkali perbedaan soal bayi siapa dan bernasab kepada siapa, sepertinya akan bisa terselesaikan dengan tes laboratorium tentang kesesuaian darah anak dengan darah ayah, sehingga bisa ditentukan secara pasti bahwa bayi itu memang benar anak si A dan sebagainya. Bahkan saat ini bisa dilakukan dengan tes DNA. Dengan demikian tes darah dan tes DNA bisa dianggap sebagai alat bukti penentuan nasab seseorang khususnya dalam kasus penyangkalan seorang ayah terhadap anak kandungnya sendiri secara sah. Walaupun tes darah dan tes DNA telah dilakukan dan ternyata ada kesesuaian antara darah anak dan darah ayah, tetapi proses pembuahannya bukan atas dasar perkawinan secara sah, maka nasab anak tersebut tidak bisa ditetapkan dan tidak bisa dianggap sah.[35]
Argumentasi utama yang dijadikan sandaran oleh jumhur ulama pada saat mereka bersepakat menganggap metode qiyafah sebagai salah satu cara menetapkan nasab adalah sikap ceria dan gembira Rasulullah ketika mendengar cerita mujazziz al-mudallaji, salah seorang ahli dalam bidang menelusuri nasab anak, tentang Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah yang mana antara keduanya, bapak dan anak sangat berlainan warna kulitnya. Keceriaan sikap Nabi sebagai dalil hukum ini tampaknya tidak bisa dipungkiri oleh jumhur ulama, sebab diantara tiga kategori hadis Nabi adalah taqrir, atau sikap beliau yang juga bisa dijadikan sebagai dalil dalam penetapan status hukum sesuatu.[36] Bagi jumhur Ulama’, qiyafah tetap dianggap sebagai salah satu cara menetapkan nasab anak kepada orangtuanya, ketika terjadi persengketaan nasab anak. Hal ini berlaku kalau pihak yang bersangkutan terdiri dari dua orang.[37]

E.     Pendapat yang Dipilih dan Hujjah yang Digunakan
Dari beberapa pendapat para ulama, penulis memilih pendapat yang menyatakan penggunaan qiyafah bisa dijadikan untuk menentukan nasab. karena dalam hadis tersebut terdapat ketetapan nabi terhadap peristiwa tersebut. Dimana nasab seseorang dapat ditentukan dengan kedokteran syar’i. Begitu juga dengan identifikasi DNA dalam penentuan nasab, bisa digunakan dasar pertimbangan penentuan nasab. Karena akurasi dan validitas tes DNA bisa dipertanggung jawabkan  secara ilmiah. Sementara penggunanan tes DNA diqiyias kan kepada qiyafah. Sehingga penggunaan tes DNA bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan nasab.
Kedudukan DNA dalam penentuan nasab adalah sebagai petunjuk bagi ahli qiyafah dalam memperkirakan kesesuaian antara DNA anak dengan DNA orang tua. Sehingga dari adanya kesesuaian tersebut ahli qiyafah dapat menentukan bagaimana status anak tersebut.  Kesesuaian DNA anak dengan orang tua tersebut bisa diqiyas sebagai kesamaan ciri-ciri dan sifat-sifat anak denga orang tuanya.



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_deoksiribonukleat Diunduh {15-09-2014} pukul 23.40.
[2] Ibid..
[3] Ibid..
[4] Ibid..
[5] Ibid..
[6] Ibid..
[7] http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/240-tes-dna-akurat-dapat-dipercaya.html Diunduh {15-09-2014} pukul 23.20
[10]Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm. 625.
[11] Ibid..
[12] Ibid..
[13] Ibid..
[14] Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahali, Syarh ‘Ala al-Waraqat, dalam M. Kholid Afandi dan Nailul Huda, Dari Ushul Menuju Fiqh ala Tshil Ath-Thuruqat, (Kediri: Santri Salaf Press, 2013), hlm. 235.
[15] Shalih Ali, dkk, Tharaiq al-Hukm fi al- Syar’iyah al-Islamiyah, Dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm.626
[16] Ibid., hlm. 626
[17] Abdul Malik al-Juwaini/Imam Haramain, al-Burhan fi Ushul al-Fiqh, dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm.626.
[18] Ibid..
[19] Ibn Qayyim al-jauziyah, al-Thuruq al-Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syari’ah, dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm.627.
[20] Ibid., hlm 627.
[21] Bahkit al-Muti’i, Takmilah al-Majmu’, dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm.627-628.
[22] Ibid., hlm. 628.
[23] Ibid..
[24] Ibid..
[25] Ibid.,  hlm. 629.
[26] Mahmud bin Ahmad al-Kasani, Bada’i al-Shana’i fi Tartib al-Syarai’, dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm. 629.
[27] Ibid., hlm. 630.
[28] Ibid..
[29] Ibid..
[30] Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, dalam Tim Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M.), (Surabaya: Khalista, 2011), hlm. 631.
[31] Ibid..
[32] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bi Al-Atsar, dalam M. Nurul Irfan, Nasab & Status Anak dalam Hukum Islam, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 137.
[33] Ibnu Al-Qayyim, Zad Al-Ma’ad fi Huda Khair Al-‘Ibad dalam M. Nurul Irfan, Nasab & Status Anak dalam Hukum Islam, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 137.
[34] Asy-Syaukani, Nail Al-Authar Syarah muntaqa Al-Akhbar, dalam M. Nurul Irfan, Nasab & Status Anak dalam Hukum Islam, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 138.
[35] Ibid., hlm. 132.
[36] Ibid., hlm. 136.
[37] Ibnu Qudamah, Al-Umdah fi Al-Fiqh Al-Hanbali, hlm. 237. Dalam M. Nurul Irfan, Nasab & Status Anak dalam Hukum Islam, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 138.