Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Wednesday, November 26, 2014

ANALISIS KRITIS TENTANG KEBIJAKAN STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA PENDIDIK

MAKALAH

Tugas Mata Kuliah
Yang dibimbing oleh
Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd.I

Disusun oleh
Sidiq Resianto (13770055)


PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)  MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014

=================================================

DAFTAR ISI

COVER.......................................................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................................
A.      PENDAHULUAN
1.       Latar Belakang Masalah...............................................................
2.       Rumusan Masalah.........................................................................
B.      PEMBAHASAN..................................................................................
1.       Pengertian Pendidik dan Tenaga Pendidik...................................
2.       Jenis dan Tugas Pendidik dan Tenaga Pendidik...........................
3.       Standar Kompetensi Tenaga Kependidikan..................................
4.       Analisis Kritis Tentang Kebijakan Standar Kompetensi
Pendidik dan Tenaga Pendidik......................................................
C.      PENUTUP............................................................................................
1.       Kesimpulan...................................................................................
DAFTAR RUJUKAN.................................................................................







A.      PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi dewasa ini telah memberikan dampak bagi remaja-remaja, penyimpangan social yang ditengarai muncul disebabkan oleh informasi negative yang diterima oleh mereka saat ini turut mempengaruhi mental bangsa ini.Baik dimedia social, media Koran, televisi tidak henti-hentinya memberitakan penyimpangan-penyimpangan yang seakan-akan tiada hentinya.Secara menyeluruh masyarakat mempertanyakan eksistensi lembaga pendidikan sebagai penanggungjawab moral.Hal itu ditengarai kompetensi pendidik dan tenaga pendidik yang tidak mumpuni, rendahnya mutu guru Indonesia turut mempengaruhi kualitas peserta didik.Ketika pemerintah mencanangkan kompetensi wajib bagi pendidik.Maka harapan untuk hasil pendidikan yang lebih baik sangat dinantikan oleh masyarakat. Dengan kompetensi wajib bagi pendidik tersebut nantinya akan berpengaruh pula terhadap hasil belajar, sehingga penyimpangan-penyimpangan diatas berbalik menjadi pemberitaan posiif yang membicarakan prestasi anak bangsa ini.
Namun kompetensi guru yang diharapkan tidaklah 100% memenuhi harapan, masih banyak sasaran yang masih kurang tepat, diantaranya mencakup 4 kompetensi guru, pedagogic, professional, kepribadian dan social. Dalam makalah ini akan membahas 4 kompetensi guru dari sudut permasalahan kekinian, dan juga pendapat para tokoh pendidikan dalam standarisasi kompetensi bagi pendidik dan tenaga pendidik.
2.     Rumusan Masalah
a.      Apakah pengertian standarisasi pendidik dan tenaga pendidik?
b.     Bagaimana kebijakan standarisasi pendidik dan tenaga pendidik saat ini?
3.     Tujuan
a.      mendeskripsikan pengertian standarisasi pendidik dan tenaga pendidik
b.     mendeskripsikan kebijakan standarisasi pendidik dan tenaga pendidik


B.      PEMBAHASAN
1.     Pengertian Pendidik dan Tenaga Pendidikan
            Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal.Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.
            Pendidik dan tenaga pendidik disebut juga personel atau pegawai atau karyawan. Menurut kami, kesemuanya itu memiliki arti yang sama, sehingga dalam makalah kami ini mungkin kami gunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian.
a.      Pendidik
            menurut Ahmad Tafsir yang dikemukan oleh Sulistiyorini di dalam bukunya, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak  didik  dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi pikomotorik.[1]
            Menurut UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.[2]
b.     Tenaga Kependidikan
            Tenaga kependidikan adalah tenaga-tenaga (personil) yang berkecimpung di dalam lembaga atau organisasi pendidikan yang memiliki wawasan pendidikan (memahami falsafah dan ilmu pendidikan), dan melakukan kegiatan pelaksanaan pendidikan (mikro atau makro) atau penyelenggaraan pendidikan.[3]
Menurut Hasbulloh, yang dimaksud personel adalah orang-orang yang melaksanakan sesuatu tugas untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks lembaga pendidikan atau sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai.[4]
            Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan, dimana di dalamnya termasuk pendidik. Secara lebih luas tenaga kependidikan termaktub UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yaitu sebagai berikut:[5]
1)     Tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, dan pengembang, di bidang pendidikan, pustakawan laboran, teknisi sumber belajar, dan penguji.
2)     Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar, dan pelatih.
3)     Pengelola satuan pendidikan terdiri atas kepala sekolah, direktur, ketua, rektor, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah.
2.       Jenis dan Tugas Pendidik dan Tenaga Pendidik
            Personel merupakan seluruh komponen yang terdapat instansi atau lembaga kependidikan yang tidak hanya mencakup guru saja, melainkan keseluruhan yang berpartisipasi  di dalamnya. Dilihat dari jabatannya, tenaga kependidikan dibedakan menjadi tiga[6]
a.      Tenaga Struktural
Merupakan tenaga kependidikan yang menempati jabatan-jabatan eksekutif umum (pimpinan) yang bertanggung jawab baik langsung maupun tidak langsung atas satuan pendidikan. Yang termasuk di dalamnya diantaranya:


1)     Kepala Sekolah
Bertanggung jawab atas keseluruhan kegiatan penyelenggaraan pendidikan di sekolahnya baik ke dalam maupun ke luar yakni dengan melaksanakan segala kebijaksanaan, peraturan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh lembaga yang lebih tinggi.Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen tenaga kependidikan bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak hanya mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan (guru dan pegawai) secara pribadi.
2)     Wakil Kepala Sekolah
a)     Wakil kepala sekolah urusan kurikulum bertanggung jawab membantu Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kurikulum dan proses belajar mengajar
b)     Wakil kepala sekolah urusan kesiswaan bertanggung jawab membantu Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan kegiatan kesiswaan dan ekstrakurikuler
c)     Wakil kepala sekolah urusan sarana prasarana bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan inventaris pendayagunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana serta keuangan sekolah
d)     Wakil kepala sekolah urusan pelayanan khusus bertanggung jawab membantu Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan pelayanan-pelayanan khusus, seperti hubungan masyarakat, bimbingan dan penyuluhan, usaha kesehatan sekolah dan perpustakaan sekolah.
b.     Tenaga Fungsional
Merupakan tenaga kependidikan yang menempati jabatan fungsional yaitu jabatan yang dalam pelaksanaan pekerjaannya mengandalkan keahlian akademis kependidikan. Yang termasuk di dalamnya adalah:
1)       Guru
Merupakan tombak dalam proses pendidikan. Proses pendidikan tidak akan berhasil dengan baik tanpa peran guru. Secara institusional, kemajuan suatu lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh pimpinan lembaga tersebut daripada pihak lain. Akan tetapi, dalam proses pembelajaran, guru berperan paling menentukan melebihi metode atau materi. Urgensi guru dalam proses pembelajaran ini terlukis dalam ungkapan berbahasa Arab yang pernah disampaikan A. Malik Fajar, “al-thoriqoh ahammu min al-maddah walakinna al muddaris ahammu mi al-thoriqoh  (metode lebih penting daripada materi, tetapi guru lebih penting daripada metode)”[7]
2)        Pengembang kurikulum dan teknologi pendidikan
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan program program-program pengembangan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan pengembangan alat bantu pengajaran.
3)       Pengembang tes
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan program-program pengembangan alat pengukuran dan evaluasi kegiatan-kegiatan belajar dan kepribadian peserta didik.
4)       Pustakawan
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan program kegiatan pengelolaan perpustakaan sekolah.
c.      Tenaga Teknis Kependidikan
Merupakan tenaga kependidikan yang dalam pelaksanaan pekerjaannya lebih dituntut kecakapan teknis operasional atau teknis administratif. Yang termasuk di dalamnya diantaranya:
1)     Laboran
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan program kegiatan pengelolaan laboratorium di sekolah.
2)     Teknisi sumber belajar
Bertanggung jawab atas pengelolaan dan pemberian bantuan teknis sumber-sember belajar bagi kepentingan belajar peserta didik dan pengajaran guru
3)     Pelatih (olahraga, kesenian, dan keterampilan)
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan program-program kegiatan latihan seperti olahraga, kesenian, keterampilan yang diselenggarakan
4)     Petugas tata usaha
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan dan pelayanan administratif atau teknis operasional pendidikan di sekolah.
3.       Standar Kompetensi tenaga Kependidikan
            Berdasar pada arti bahasa, standar kompetensi terbentuk atas kata standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai "ukuran" yang disepakati, sedangkan kompetensi telah didefinisikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan. Dengan demikian dapatlah disepakati bahwa standar kompetensi merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang kompetensi yang diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh seluruh "stakeholder" di bidangnya. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan Standar Kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.[8]
            Menurut Mulyasa, pada hakikatnya standar kompetensi adalah untuk mendapatkan guru yang baik dan profesional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah khususnya, serta tujuan pendidikan pada umumnya, sesuai kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman.[9]
            Sebagaimana standarisasi kompetensi yang disebutkan adalah ukuran kualitas atau kemampuan/kecakapan yang harus dimiliki seorang pendidik maka ini adalah hal yang penting harus dimiliki oleh seorang guru. Samana dalam Martinis dan Maisah menjelaskan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan yang ditampilkan oleh guru dalam melaksanakan kewajibannya memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.[10]
            Dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 8 menyebutkan : Guru wajib memiliki kualifikasi kademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional.[11]
            Beberapa kualifikasi guru yang harus dimiliki oleh setiap pendidik adalah kompetensi kepribadian, kompetensi paedagogik, kompetensi professional, kompetensi social.
1.     Kompetensi Kepribadian
Menurut Sarimaya dalam Martinis dan Maisah kompetensi kepribadian merupakan kemampuan pesonal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan wibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.[12]
2.     Kompetensi Paedagogik
Menurut Subini kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki guru dalam mengajarkan materi tertentu kepada siswanya.[13]
Dalam Standar Pendidikan Nasional, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksananaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.[14]
3.     Kompetensi Profesional
Menurut Subini kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran (content knowledge) secara luas dan mendalam yang memungkikannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Selain itu kompetensi profesional berhubungan dengan penguasaan konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan serta penyesuain tugas-tugas keguruan lainnya. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut:[15]
a)     Kemampuan untuk meguasai landasan kependidikan, misalnya memahami tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler, dan tujuan pembelajaran.
b)     Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya memahami tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar
c)     Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya
d)     Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran
e)     Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar
f)      Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran dan penelitian
g)     Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran
h)     Kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan, dan penyuluhan
i)      Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berfikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja
j)      Kemampuan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui evaluasi dan penelitian
k)     Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutandengan melakukan tindakan reflektif
l)      Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
4.     Kompetensi Sosial
Menurut Subini kompetensi sosial adalah kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial. Dalam hal ini juga termasuk kemampuan guru dalam komunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, dan masyarakat.[16]
Menurut Martinis dan Maisah kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[17] Made Pidata mengatakan bahwa sosiologi atau sosial ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Jadi, sosiologi mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain.[18]
4.       Analisis Kritis Tentang Kebijakan Standar Pendidik Dan Tenaga Pendidik
            Dalam peran pendidikan, pendidik maupun tenaga pendidik memiliki ruang yang sangat fundamental dalam keberhasilan tujuan pendidikan. Ketika pendidikan dianggap sebagai suatu bangunan kokoh antara tiang satu dengan tiang yang lain saling menguatkan, maka ada beberapa pendapat yang menganggap ada salah satu factor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan, baik dari kurikulum, sarana prasarana, kemampuan siswa dan juga kemampuan kompetensi guru. Hemat penulis, baik kurikulum, sarana, siswa maupun guru tidak dapat dipisahkan pengaruhnya. Namun anggapan bahwa guru sebagai partner belajar hingga “sutradara” dalam arah proses pembelajaran secara output masih kurang maksimal. Kurang maksimalnya keberhasilan pembelajaran juga ditentukan oleh kompetensi guru, dalam penjelasan diatas, secara garis besar kompetensi guru dibagi menjadi empat kompetensi yang wajib dimiliki guru.Yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi paedagogis, kompetensi social.
a.      Analisis Kompetensi Kepribadian Pendidik dan Tenaga Pendidik
            Jika kita amati maka kualitas guru Indonesia masih tergolong rendah, padahal dari semua jenis tenaga kependidikan, gurulah yang memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan keberhasilan pendidikan atau mutu pendidikan. Hasil penelitian dan pendapat pakar, berikut:  (1)  Heyneman Oxley, 1983 (dalam Dedi Supriadi 1998 : 178) yang dilakukan di 29 negara (16 negara sedang berkembang dan 13 negara industri), menemukan bahwa mutu pendidikan yang dinilai dari prestasi belajar siswa sangat ditentukan oleh guru, yaitu 34 % pada negara sedang berkembang dan 36 % pada negara industri. (2) Cheng dan Wong, 1996, melaporkan hasil penelitiannya di Zhejiang, Cina, bahwa ada empat karakteristik sekolah dasar yang unggul (berprestasi), yaitu :[19]
1)      adanya dukungan pendidikan yang konsisten dari masyarakat,
2)      tingginya derajat profesionalisme di kalangan guru,
3)      adanya tradisi jaminan kualitas (quality ensurance) dari sekolah, dan
4)      adanya harapan yang tinggi dari siswa untuk berprestasi.
5)      Jalal dan Mustafa, 2001, menyimpulkan bahwa komponen guru sangat mempengaruhi kualitas pengajaran melalui:
6)      penyediaan waktu lebih banyak pada siswa,
7)      interaksi yang lebih sering bagi siswa,
8)      tingginya tanggung jawab mengajar dari guru.
            Karena itu, sekolah menjadi baik atau tidak baik sangat tergantung pada peran dan fungsi guru.Di tengah gencarnya  tuntutan profesionalisme guru, ternyata yang terjadi justru sebaliknya guru terjerembab dalam kubangan perilaku yang nista (tidak semuanya tentu, tapi fenomena ini cukup mencemaskan kalaupun tidak boleh dibilang menyedihkan). Ketika pemerintah meluncurkan program sertifikasi sebagai langkah untuk mengakui profesi guru; ternyata yang dilakukan oleh para guru adalah berbagai tindak kriminal yang tidak pantas dilakukan oleh guru. Hal itu bisa kita simak dari hasil monitoring Tim Independen Program Sertifikasi yaitu:[20]
1)     Ada 87% kejanggalan yang terkait dengan dokumen porto folio yang diajukan para guru.
2)     Ada kecenderungan melakukan penyuapan dan pemalsuan dokumen
3)     Dalam hal pemalsuan dokumen tersebut ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a)       Pemalsuan tanda tangan 13 %
b)      Pemalsuan tanggal pelaksanaan kegiatan 22 %
c)       Pemalsuan nama sebesar 31 %
d)      Pemalsuan lain-lain 34 %
            Hasil monitoring diatas cukup membuat kita kecewa dan dapat memakluminya mengapa tujuan pendidikan nasional belum tercapai secara maksimal.Guru yang seharusnya menjadi desainerdalam pendidikan,dan figure yang dihormati, dihargai, dimulyakan justru berbalik arah dari sikap yang senantiasa didoktrinkan kepada peserta didiknya.Jika kenyataannya seperti itu, maka apakah pantas guru-guru yang “menyimpang” ditunjuk sebagai teladan dan bertugas untuk mencerdaskan siswa-siswinya jutsru melakukan tindakan kriminal?Dengan acuan data-data diatas maka layak untuk dipertanyakan kompetensi kepribadian guru-guru kita apakah hanya karena mengejar sertifikasi kemudian melakukan kecurangan-kecurangan dan sebagainya?
            Oleh karena itu perlu sebuah langkah strategis untuk kembali memperjelas eksistensi guru dalam hal kepribadiannya, betapa pentingnya kompetensi kepribadian ini, Menurut Djam’an kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai berikut:[21]
1)     Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untuk meningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
2)     Guru memiliki kelebihan dibandingkan yang lain.
3)     Guru perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat.
4)     Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam menumbuhkembangkan budaya berpikir kritis di masyarakat, saling menerima dalam perbedaan pendapat dan bersikap demokratis dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai permasalahan yang ada di sekitarnya sehingga guru menjadi terbuka dan tidak menutup diri dari hal-hal yang berada di luar dirinya.
5)     Guru diharapkan dapat sabar dalam arti tekun dan ulet melaksaakan proses pendidikan tidak langsung dapat dirasakan saat itu tetapi membutuhkan proses yang panjang.
6)     Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya.
7)     Guru mampu menghayati tujuan-tujuan pendidikan baik secara nasional, kelembagaan, kurikuler sampai tujuan mata pelajaran yang diberikannya.
8)     Hubungan manusiawi yaitu kemampuan guru untuk dapat berhubungan dengan orang lain atas dasar saling menghormati antara satu dengan yang lainnya.
9)     Pemahaman diri, yaitu kemampuan untuk memahami berbagai aspek dirinya baik yang positif maupun yang negatif.
10) Guru mampu melakukan perubahan-perubahan dalam mengembangkan profesinya sebagai inovator dan kreator.
Dalam UU guru dan dosen, kompetensi kepribadian sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2 sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:[22]
1)     Beriman dan bertakwa,
2)     Berakhlak mulia,
3)     Arif dan bijaksana,
4)     Demokratis,
5)     Mantap,
6)     Berwibawa,
7)     Stabil,
8)     Dewasa,
9)     Jujur,
10) Seportif,
11) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat,
12) Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri dan,
13) Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
b.     Analisis Kompetensi Profesionalisme Pendidik dan Tenaga Pendidik
            Salah satu permasalahan profesionalisme guru adalah rendahnya aktifitas guru dalam melakukan eksperimen, observasi, penelitian bahkan dikelasnya sendiri. Sebagaimana umumnya penelitian dimaksudkan untuk menemukan masalah dalam pendidikan, misalnya dalam keefektifan belajar, maka guru akan dapat mengetahui permasalahan yang mungkin dalam pelaksanaan dan hasil belajar tidak maksimal. Hasil dari penelitian tersebut diharapkan akan mampu menjadika proses beljar-mengajar akan lebih tepat sasaran. Banyak guru yang malas untuk meneliti di kelasnya sendiri dan terjebak dalam rutinitas kerja sehingga potensi ilmiahnya tak muncul kepermukaan.
            Banyak guru menganggap kalau meneliti itu sulit. Sehingga karya tulis mereka dalam bidang penelitian tidak terlihat sama sekali. Padahal setiap tahun, depdiknas selalu rutin melaksanakan lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran (LKGDP) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh direktorat Profesi Guru.[23]
            Biasanya para guru akan sibuk meneliti bila mereka mau naik pangkat saja. Karenanya guru harus diberikan bekal agar dapat melakukan sendiri Penelitian Tindakan Kelas (PTK).PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
c.      Analisis Kompetensi Paedagogik Pendidik dan Tenaga Pendidik
            Dalam PP No 19/2005 tentang standar nasional pendidikan disebutkan dalam pasal 19 sampai dengan 22 tentang standar proses pendidikan, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Adanya keteladanan pendidik, adanya perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran.
            Berdasarkan standar yang ditetapkan di atas, maka proses pembelajaran yang dilakukan antara peserta didik dengan pendidik seharusnya harus meninggalkan cara-cara dan model yang konvensional sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Sudah selayaknya profesi sebagai seorang pendidik membutuhkan kompetensi yang terintegrasi baik secara intelektual-akademik, sosial, pedagogis, dan profesionalitas yang kesemuanya berlandaskan pada sebuah kepribadian yang utuh pula, sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik senantiasa dapat mengembangkan model-model pembelajaran yang efektif, inovatif, dan relevan.
            Faktanya masih banyak guru yang menganggap enteng bahwa proses pembelajaran dimaknai sebagai proses transfer ilmu, sehingga cukup dengan membekali peserta didik dengan materi maka selesailah proses pembelajaran tersebut. Tetunya dengan kompetensi pedagogic ini guru justru akan berusaha semaksimal mungkin mengerahkan segala kemampuannya supaya tercapai tujuan pendidikan nasional. Bagaimana mungkin tujuan pendidikan akan tercapai jika guru menggunakan cara yang semaunya sendiri dan tidak memiliki integritas dalam memaksimalkan proses pembelajaran.
d.     Analisis Kompetensi Sosial Pendidik dan Tenaga Pendidik
Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru. Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan.Mengajar dan mendidik adalah tugas kemanusiaan manusia. Guru harus mempunyai kompetensi sosial karena guru adalah penceramah jaman.
Menurut Djam’an Satori, kompetensi sosial adalah sebagai berikut.[24]
1)     Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik.
2)     Bersikap simpatik.
3)     Dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah.
4)     Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.
5)     Memahami dunia sekitarnya (lingkungan).
            Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja di lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Peran yang dibawa guru dalam masyarakat berbeda dengan profesi lain. Oleh karena itu, perhatian yang diberikan masyarakat terhadap guru pun berbeda dan ada kekhususan terutama adanya tuntutan untuk menjadi pelopor pembangunan di daerah tempat guru tinggal. Beberapa kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru antara lain; terampil berkomunikasi, bersikap simpatik, dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah, pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan, dan memahami dunia sekitarnya (lingkungan).


















C.      PENUTUP
1.     Kesimpulan
            Berdasar pada arti bahasa, standar kompetensi terbentuk atas kata standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai "ukuran" yang disepakati, sedangkan kompetensi telah didefinisikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan. Dengan demikian dapatlah disepakati bahwa standar kompetensi merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang kompetensi yang diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh seluruh "stakeholder" di bidangnya.
            Sesuai dengan standarisasi kompetensi pendidik yang mencakup 4 kompetensi yakni kompetensi pedagogic, kompetensi profesionalisme, kompetensi kepribadian, dan kompetensi social guru atau pendidik dan tenaga pendidik sudah harus memiliki 4 kompetensi yang dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini dimaksutkan untuk peningkatan mutu pendidikan, karena peran tenaga pendidik dalam dunia pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting, dan di Indonesia sendiri masih dapat dikatakan belum maksima secara kualitas para pendidik.Diadakannya pelatihan-pelatihan dimaksutkan untuk dapat menunjang kemampuan tenaga pendidik supaya dapat mengelola kelas, sekolah atau lembaga yang dipimpinnya.








DAFTAR RUJUKAN
Sulistiyorini, 2006, Manajemen Pendidikan Islam,Elkaf(Tulungagung: Elkaf, 2006)
Hasbulloh, Otonomi Pendidikan, (Bandung: PT Raja Grafindo Persada, 2006)
Mujamil Qomar,Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: PT Gelora Aksara Pratama, 2007)
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2010)
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 8.
Pasal 28 ayat (3)tentang Standar Nasional Pendidikan
Nini Subini, Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan ! ; Kesalahan-kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran, 2012
Made Pidarta, Landasan Kependidikan ; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indoensia,(Jakarta : Rineka Cipta, 2009)
http://budisusetyo.typepad.com/blog/2012/01/kompetensi-kepribadian-guru-pengantar-rendahnya-daya-saing-sumberdaya-manusia-indonesia-mengilhami-pemerintah-untuk-mela.html
Djam’an Satori, dkk, Profesi Keguruan, (Jakarta: Universitas Terbuka,  2007)
Undang-undang guru dan dosen, (Bandung: FOKUSMEDIA, 2011),
Purwanto, Profesi Guru dan problematika yang dihadapinya, http://purwanto.web.id/



[1]Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam(Tulungagung: Elkaf, 2006)hal  51.
[3]Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam,Elkaf: (Tulungagung: Elkaf, 2006) hal  51.
[4]Hasbulloh, Otonomi Pendidikan, (Bandung: PT Raja Grafindo Persada, 2006)hal  111.
[7]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: PT Gelora Aksara Pratama, 2007) hal 129.
[9]Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta : Gaung Persada Press), 2010, hal. 2.
[10]Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2010)
hal. 7.
[11]Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 8.
[12]Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2010),
hal. 8.
[13]Nini Subini, Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan ! ; Kesalahan-kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran, 2012, hal. 66.
[14]Pasal 28 ayat (3)tentang Standar Nasional Pendidikan
[15]Nini Subini, Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan ! ; Kesalahan-kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Javalitera, 2012) hal. 66-67.
[16]Nini Subini, Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan ! ; Kesalahan-kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Javalitera, 2012) hal. 68.
[17]Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2010) hal 12.
[18]Made Pidarta, Landasan Kependidikan ; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indoensia, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009) hal. 151.
[19]http://budisusetyo.typepad.com/blog/2012/01/kompetensi-kepribadian-guru-pengantar-rendahnya-daya-saing-sumberdaya-manusia-indonesia-mengilhami-pemerintah-untuk-mela.html
[20]http://budisusetyo.typepad.com/blog/2012/01/kompetensi-kepribadian-guru-pengantar-rendahnya-daya-saing-sumberdaya-manusia-indonesia-mengilhami-pemerintah-untuk-mela.html
[21]Djam’an Satori, dkk, Profesi Keguruan, (Jakarta: Universitas Terbuka,  2007), hal. 38
[22]Undang-undang guru dan dosen, (Bandung: FOKUSMEDIA, 2011), hal. 66
[23]Purwanto, Profesi Guru dan problematika yang dihadapinya, http://purwanto.web.id/diakses 24-11-2014
[24]Djam’an Satori, dkk, Profesi Keguruan, (Jakarta: Universitas Terbuka,  2007)hal. 43