Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Monday, December 8, 2014

STUDI KEBIJAKAN TENTANG PENGEMBAANGAN KURIKULUM

Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Batu
Desember, 2014

Oleh:

ABDULROHMAN CHE-AWAE
NIM 13770072

Dosen Pengampu:


PROF. DR. H. BAHARUDDIN, M. PD


==================================


Pendahuluan

Latar Belakang
Sekolah adalah wahana untuk proses pendidikan secara formal dan sekolah juga adalah suatu bagian masyarakat, karena itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhususan lingkungan sekitar sekolah ataupun daerah di mana sekolah itu berada. Perealisasian usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada peserta didik tentang apa yang menjadi karakteristik lingkungan di daerahnya, baik yang berkaitan dengan kondisi alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya maupun yang menjadi kebutuhan daerah.
Berdasarkan kenyataan ini, diperlukan pengembangan program pendidikan yang disesuaikan dengan potensi daerah, minat, dan kebutuhan peserta didik serta kebutuhan daerah. Hal ini berarti sekolah harus mengembangkan suatu program pendidikan yang berorientasi pada lingkungan sekitar dan potensi daerah atau muatan lokal. Dengan demikian, anak didik diharapkan memiliki perasaan cinta terhadap lingkungan, suatu pemahaman dan pemilihan modal akan keterampilan dasar yang selanjutnya dapat dikembangkan lebih jauh lagi.
Pembahasan tentang pengembangan kurikulum muatan lokal dalam makalah ini, penulis menfokuskan kepada kurikulum pendidikan tahun 2013 supaya merelevan dengan kondisi masa sekarang.

 
Rumusan Masalah
Bagaimana konsep kurikulum muatan lokal dalam kurikulum pendidikan tahun 2013?
Bagaimana pengembangan kurikulum muatan lokal dalam kurikulum pendidikan tahun 2013?

Tujuan Makalah
Mendeskripsikan konsep kurikulum muatan lokal dalam kurikulum pendidikan tahun 2013.
Mendeskripsikan pengembangan kurikulum muatan lokal dalam kurikulum pendidikan tahun 2013.

Pembahasan
Konsep Kurikulum Muatan Lokal

Pengertian Kurikulum Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat pada standar isi di dalam kurikulum pendidikan tahun 2013. Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar menyelenggarakan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkatkan relevansinya terhadap keadaan dan kebudayaan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum muatan lokal mendukung dan melengkapi kurikulum nasional.
Menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987, yang dimaksud dengan kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid didaerah tersebut.
Maksud lingkungan alam adalah lingkungan alamiah yang ada di sekitar kehidupan kita, berupa benda-benda mati yang terbagi dalam empat kelompok lingkungan, yaitu: 1) pantai, 2) dataran rendah termasuk di dalamnya daerah aliran sungai, 3) dataran tinggi, dan 4) pegunungan atau gunung. Dengan kata lain, lingkungan alam adalah lingkungan hidup dan tidak hidup tempat makhluk hidup tinggal dan membentuk ekosistem.
Sedangkan lingkungan sosial adalah lingkungan di mana terjadi interaksi orang per orang dengan kelompok sosial atau sebaliknya, dan antara kelompok sosial dengan kelompok lain. Pendidikan sebagai lembaga sosial dalam sistem sosial di laksanakan di sekolah, keluarga dan masyarakat, dan itu perlu di kembangkan di daerah masing-masing. PP No.28/1990 menunjukkan perlunya perencanaan kurikulum muatan lokal yang bermuara pada hal yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan bangsa.
Selanjutnya, lingkungan budaya adalah daerah dalam pola kehidupan masyarakat yang berbentuk bahasa daerah, seni daerah, adat-istiadat daerah, serta tatacara dan tatakrama khas daerah. Linkungan social dalam pola kehidupan daerah berbentuk lembaga-lembaga masyarakat dengan peraturan-peraturan yang ada dan berlaku di daerah itu di mana sekolah dan peserta didik berada.
Menurut Depdikbud dalam Mulyasa, kurikulum muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran yang ditetapkan oleh rencana dan pengaturan mengenai isi dan badan pelajaran yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Penentuan isi dan bahan pelajaran muatan lokal didasarkan pada keadaan dan kebutuhan daerah atau lingkungan, yang dituangkan dalam mata pelajaran dengan alokasi waktu yang berdiri sendiri. Adapun materi dan isinya ditentukan oleh satuan pendidikan, yang dalam pelaksanaannya merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah.
Perlu dijelaskan di sini keadaan daerah adalah segala sesuat yang terdapat di daerah tertentu, pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan ekonomi, serta lingkungan budaya. Sedangkan kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat sesuai dengan arah perkembangan serta potensi daerah yang bersangkutan.
Mengingat kurikulum muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum nasional, maka masuknya muatan lokal tidak berarti mengubah kurikulum yang sudah ada. Artinya, ditinjau dari bidang studi yang telah ada dalam kurikulum nasional, tetap digunakan dan disajikan rujukan dalam memasukkan bahan pengajaran muatan lokal. Dengan demikian sifat dari muatan lokal adalah memperkaya dan mempertajam pokok bahasan, yang telah ada dalam berbagai bidang studi dengan kepentingan dan bahan yang ada di sekitarnya berdasarkan lingkungan alam, lingkungan sosial dan ekonomi, serta lingkungan budaya masyarakat setempat. Oleh sebab itu, isi program pendidikan muatan lokal berupa bahan-bahan pengajaran pengajaran dari masyarakat setempat, biasa pula media dan strategi pengajaran yang diangkat dan dikaitkan dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Dari penjelasan di atas menjelaskan bahwa pelaksanaan kurikulum muatan lokal harus benar-benar memperhatikan karakteristik lingkungan dan juga kebutuhan daerah di mana lembaga satuan pendidikan itu berada.

Tujuan Kurikulum Muatan lokal
Muatan lokal sebagai bahan kalian yang membentuk pemahaman terhadap potensi di daerah tinggalnya bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik, secara umum agar:
Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya;
Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya; dan
Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Tujuan penerapan muatan lokal pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok tujuan, yaitu tujuan langsung dan tujuan tidak langsung. Tujuan langsung adalah tujuan dapat segera dicapai. Sedangkan tujuan tidak langsung merupakan tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan dampak dan tujuan langsung.
Tujuan langsung
Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh murid.
Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
Murid dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
Murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.

Tujuan tidak langsung
Murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
Murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Dasar Pelaksanaan Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan gagasan-gagasan tentang kurikulum yang antara lain memuat pandangannya terhadap suatu pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Suatu gagasan pada dasarnya harus memiliki landasan-landasan tertentu agar dapat dibina dan dikembangkan sesuai dengan harapan dari pencetusnya. Adapun landasan-landasan tersebut adalah:

 
 
Landasan Ideal
Mengingat muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum, maka muatan lokal juga harus dikembangkan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan ketetapan MPR Nomor II/MPR1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada khususnya. Di samping itu muatan lokal juga perlu dikembangkan berdasarkan UU. RI. nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan Indonesia sebagai akibatnya.

Landasan Hukum
Landasan hukumnya adalah Keputusan Mendikbud nomor 0412 tahun 1987, yaitu untuk pendidikan dasar, KEPUTUSAN direktur Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 173/C/Kep/M/1987, tanggal 7 Oktober 1987 tentang Penunjuk Pelaksanaan Penerapan Muatan Lokal, UUSPN nomor 2 tahun 1989 pasal 13 ayat 1; pasal 37, 38 ayat 1; dan pasal 39 ayat 1, serta PP. Nomor 28/1990 pasa14 ayat 3 dan 4; pasal 27.

Landasan Teoritik
Landasan teori pelaksanaan muatan lokal adalah:
Tingkatan kemampuan berpikir siswa adalah dari yang konkret ke abstrak. Oleh karena itu, dalah penyampaian bahan kepada siswa harus diawali dengan pengenalan hal yang ada di sekitarnya. Teori Ausaubel dan konsep asi asimilasi dari Jean Peaget yang pada intinya menyatakan bahwa sesuatu yang baru haruslah dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki siswa. Penerimaan gagasan baru dengan bantuan pengetahuan yang telah ada ini sebenarnya telah dikemukakan oleh Fiedrich Herbart yang dikenal dengan istilah apersepsi.
Pada dasarnya anak-anak usia sekolah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Karena itu mereka selalu akan gembira dilibatkan secara mental, fisik dan sosialnya dalam mempelajari sesuatu. Mereka akan senang bila diberi kesempatan untuk menjelajahi lingkungan sekitarnya yang penuh dengan belajar. Jadi, dengan menciptakan situasi belajar, bahan kajian dan cara belajar mengajar yang menantang dan menyenangkan, aspek kejiwaan mereka yang berada dalam proses pertumbuhan akan dapat ditumbuhkembangkan dengan baik.

Landasan Demografik
Keindahan bangsa dan Negara Indonesia terletak pada keanekaragaman pada pola kehidupan dari beratus-ratusan suku bangsa yang tersebar di beribu pulau dari Sabang sampai Meraoke. Kekaguman terhadap bangsa dan Negara Indonesia telah dinyatakan oleh hampir seluruh bangsa di dunia, karena keanekaragaman tersebut dapat dipersatukan oleh falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila. Keanekaragaman tersebut bukan saja ada pada bidang budayanya saja, bahkan juga pada keadaan alam, serta kehidupan sosialnya. Semuanya itu merupakan dasar yang sangat penting dalam mengembangkan muatan lokal.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup muatan lokal adalah sebagai berikut:
Lingkungan daerah dan kebutuhan daerah
Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Adapun kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebut adalah seperti kebutuhan untuk:
Melestarikan dan mengembangkan kebutuhan daerah;
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu sesuai dengan keadaan perekonomian daerah;
Meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris untuk keperluan peserta didik dan untuk mendukung pengembangan potensi daerah, seperti potensi pariwisata; dan
Meningkatkan kemampuan berwirausaha.
Lingkungan isi/jenis muatan lokal
Lingkungan isi/jenis muatan lokal dapat berupa: bahasa daerah, bahasa Inggris, kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai perlu untuk pengembangan potensi daerah yang bersangkutan.

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

Prinsip Pengembangan
Pengembangan muatan lokal untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK perlu memperhatikan beberapa prinsip pengembangan sebagai berikut:
Utuh, pengembangan pendidikan muatan lokal dilakukan berdasarkan pendidikan berbasis kompetensi, kinerja, dan kecakapan hidup.
Kontekstual, pengembangan pendidikan muatan lokal dilakukan berdasarkan budaya, potensi, dan masalah daerah.
Terpadu, pendidikan muatan lokal dipadukan dengan lingkungan satuan pendidikan, termasuk terpadu dengan dunia usaha dan industri.
Apresiatif, hasil-hasil pendidikan muatan lokal dirayakan (dalam bentuk pertunjukan, lomba-lomba, pemberian penghargaan) di tingkat satuan pendidikan dan daerah.
Fleksibel, jenis muatan lokal yang dipilih oleh satuan pendidikan dan pengaturan waktunya bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi dan karakteristik satuan pendidikan.
Pendidikan Sepanjang Hayat, pendidikan muatan lokal tidak hanya berorientasi pada hasil belajar, tetapi juga mengupayakan peserta didik untuk belajar secara terus-menerus.
Manfaat, pendidikan muatan lokal berorientasi pada upaya melestarikan dan mengembangkan budaya lokal dalam menghadapi tantangan global.
Strategi Pengembangan Muatan Lokal
Terdapat dua strategi dalam pengembangan muatan lokal, yaitu:

Dari bawah ke atas
Penyelenggaraan pendidikan muatan lokal dapat dibangun secara bertahap tumbuh di dan dari satuan-satuan pendidikan. Hal ini berati bahwa satuan pendidikan diberi kewenangan untuk menentukan jenis muatan lokal sesuai dengan hasil analisis konteks. Penentuan jenis muatan lokal kemudian diikuti dengan penyusunan kurikulum yang sesuai dengan identifikasi kebutuhan dan/atau ketersediaan sumber daya pendukung. Jenis muatan lokal yang sudah diselenggarakan satuan pendidikan kemudian dianalisis untuk mencari dan menentukan bahan kajian umum/besarannya.

Dari atas ke bawah
Pada tahap ini pemerintah daerah sudah memiliki bahan kajian muatan lokal yang diidentifikasi dari jenis muatan lokal yang diselenggarakan satuan pendidikan di daerahnya. Tim pengembangan muatan lokal dapat menganalisis core and content dari jenis muatan lokal secara keseluruhan. Setelah core and content umum ditemukan, maka tim pengembangan kurikulum daerah dapat merumuskan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk membuat kebijakan tentang jenis muatan lokal yang akan diselenggarakan di daerahnya.
Tahapan Pengembangan Muatan Lokal
Muatan Lokal dikembangkan melalui tahapan sebagai berikut:
Melakukan identifikasi dan analisis konteks kurikulum, identifikasi konteks kurikulum meliputi analisis ciri khas, potensi, keunggulan, kearifan lokal, dan kebutuhan/tuntutan daerah. model identifikasi dan analisis disesuaikan dengan kemampuan tim.
Menentukan jenis muatan lokal yang akan dikembangkan, Jenis muatan lokal meliputi empat rumpun muatan lokal yang merupakan persinggungan antara budaya lokal (dimensi sosio-budaya-politik), kewirausahaan, pra-vokasional (dimensi ekonomi), pendidikan lingkungan, dan kekhususan lokal lainnya (dimensi fisik).
Budaya lokal mencakup pandangan-pandangan yang mendasar, nilai-nilai sosial, dan artifak-artifak (material dan perilaku) yang luhur yang bersifat lokal.
Kewirausahaan dan pra-vokasional adalah muatan lokal yang mencakup pendidikan yang tertuju pada pengembangan potensi jiwa usaha dan kecakapannya.
Pendidikan lingkungan dan kekhususan lokal lainnya adalah mata pelajaran muatan lokal yang bertujuan untuk mengenal lingkungan lebih baik, mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan, dan mengembangkan potensi lingkungan.
Perpaduan antara budaya lokal, kewirausahaan, pra-vokasional, lingkungan hidup, dan kekhususan lokal lainnya yang dapat menumbuhkan suatu kecakapan hidup muatan lokal.
Menentukan bahan kajian muatan lokal, kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai kemungkinan muatan lokal yang dapat diangkat sebagai bahan kajian sesuai dengan keadaan dan kebutuhan satuan pendidikan. Penentuan bahan kajian muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut:
Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
Tersedianya sarana dan prasarana;
Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa;
Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan;
kelayakan yang berkaitan dengan pelaksanaan di satuan pendidikan;
Karakteristik yang sesuai dengan kondisi dan situasi daerah;
Komponen analisis kebutuhan muatan lokal (ciri khas, potensi, keunggulan, dan kebutuhan/tuntutan);
Mengembangkan kompetensi dasar yang mengacu pada kompetensi inti; dan
Menyusun silabus muatan lokal.

Rambu-rambu
Berikut ini rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam pengembangan muatan lokal:
Satuan pendidikan yang mampu mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar beserta silabusnya dapat melaksanakan mata pelajaran muatan lokal. Apabila satuan pendidikan belum mampu mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar beserta silabusnya, maka satuan pendidikan dapat melaksanakan muatan lokal berdasarkan kegiatan-kegiatan yang direncanakan oleh satuan pendidikan, atau dapat meminta bantuan kepada satuan pendidikan terdekat yang masih dalam satu daerahnya. Beberapa satuan pendidikan dalam satu daerah yang belum mampu mengembangkannya dapat meminta bantuan tim pengembang kurikulum daerah atau meminta bantuan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di propinsinya.
Bahan kajian disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik yang mencakup perkembangan pengetahuan dan cara berpikir, emosional, dan sosial peserta didik. Pembelajaran diatur agar tidak memberatkan peserta didik dan tidak mengganggu penguasaan kurikulum nasional. Oleh karena itu, pelaksanaan muatan lokal dihindarkan dari penugasan pekerjaan rumah (PR).
Program pengajaran dikembangkan dengan melihat kedekatannya dengan peserta didik yang meliputi kedekatan secara fisik dan secara psikis. Dekat secara fisik berarti bahwa terdapat dalam lingkungan tempat tinggal dan sekolah peserta didik, sedangkan dekat secara psikis berarti bahwa bahan kajian tersebut mudah dipahami oleh kemampuan berpikir dan mencerna informasi sesuai dengan usia peserta didik. Untuk itu, bahan pengajaran perlu disusun berdasarkan prinsip belajar yaitu: a) bertitik tolak dari hal-hal konkret ke abstrak; b) dikembangkan dari yang diketahui ke yang belum diketahui; c) dari pengalaman lama ke pengalaman baru; dan d) dari yang mudah/sederhana ke yang lebih sukar/rumit. Selain itu, bahan kajian/pelajaran diharapkan bermakna bagi peserta didik yaitu bermanfaat karena dapat membantu peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Bahan kajian/pelajaran diharapkan dapat memberikan keluwesan bagi guru dalam memilih metode mengajar dan sumber belajar seperti buku dan nara sumber. Perkaitan dengan sumber belajar, guru diharapkan dapat mengembangkan sumber belajar yang sesuai dengan memanfaatkan potensi di lingkungan satuan pendidikan, misalnya dengan memanfaatkan tanah/kebun satuan pendidikan, meminta bantuan dari instansi terkait atau dunia usaha/industri (lapangan kerja) atau tokoh-tokoh masyarakat. Selain itu, guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan peserta didik aktif dalam proses belajar mengajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial.
Bahan kajian muatan lokal yang diajarkan harus bersifat utuh dalam arti mengacu kepada suatu tujuan pengajaran yang jelas dan memberi makna kepada peserta didik. Namun demikian bahan kajian muatan lokal tertentu tidak harus secara terus-menerus diajarkan mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI, atau dari kelas VII sampai dengan kelas IX, atau dari kelas X sampai dengan kelas XII. Bahan kajian muatan lokal juga dapat disusun dan diajarkan hanya dalam jangka waktu satu semester, dua semester, atau satu tahun ajaran.
Alokasi waktu untuk bahan kajian/pelajaran muatan lokal perlu memperhatikan jumlah hari/minggu dan minggu efektif untuk mata pelajaran muatan lokal pada setiap semester.

Pihak yang Terlibat dalam Pengembangan
Pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan dan pengelolaan muatan lokal, antara lain:

Satuan Pendidikan
Kepala sekolah, guru, dan komite sekolah/madrasah secara bersama-sama mengembangkan materi/substansi/program muatan lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi di sekitarnya.

Pemerintah Provinsi
Gubernur dan dinas pendidikan provinsi melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan menengah (SMA dan SMK).

Kantor Wilayah Kementrian Agama
Kantor Wilayah Kementrian Agama melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan menengah (MA dan MAK).

 
 
Pemerintah Kabupaten/Kota
Bupati/walikota dan dinas pendidikan kabupaten/kota melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan dasar (SD dan SMP).

Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota
Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan dasar (MI dan MTs).

Pemerhatian dalam Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal
Substansi yang akan dikembangkan, materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain, atau terlalu luas substansinya sehingga harus dikembangkan menjadi mata pelajaran tersendiri;
Merupakan mata pelajaran wajib yang diselenggarakan melalui pembelajaran intra-kutikuler (masuk dalam struktur kurikulum);
Bentuk penilaiannya kuantitatif (angka);
Sekolah/madrasah harus menyusun standar kompetensi, kompetensi dasar dan silabus untuk mata pelajaran muatan lokal yang diselenggarakan oleh sekolah/madrash;
Substansinya dapat berupa program keterampilan produk dan jasa;
Setiap sekolah/madrasah dapat melaksanakan mulok (kurikulum muatan lokal) lebih dari satu jenis dalam setiap semester, mengacu pada karakteristik program studi yang diselenggarakan di sekolah/madrasah;
Peserta didik boleh mengikuti lebih dari satu jenis mulok pada setiap tahun pelajaran, sesuai dengan minat dan kemampuan sekolah/madrasah;
Pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran atau tenaga ahli dari luar sekolah/madrasah yang relevan dengan substansi mulok.
Penutup
Kesimpulan
Kurikulum Muatan Lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh peserta didik didaerah tersebut, supaya mereka mengetahui dan mencintai budaya daerahnya sendiri, berbudi pekerti luhur, mandiri, kreatif dan profesional yang pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta kepada budaya tanah air, dan adalah suatu kurikulum yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal di setiap satuan pendidik atau sekolah harus tetap sinergi dengan pengembangan kurikulum setiap satuan pendidik dan perlu keterlibatan berbagai unsur, terutama di tingkat satuan pendidikan seperti: guru, kepala sekolah, serta komite sekolah/madrasah. Di sisi lain, pemerintah daerah beserta perangkat daerah yang melaksanakan pemerintahan daerah di bidang pendidikan perlu mendukung dalam bentuk supervisi serta koordinasi sesuai dengan kewenangan masing-masing. Pada kekhususan jenis muatan lokal, seperti untuk SMK/MAK, berbagai unsur masyarakat baik dari dunia industri maupun asosiasi profesi dapat dilibatkan.
 
Daftar Pustaka
Dakir. 2004 .Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Rineka Cipta
Idi, Abdullah. 2010. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Lampiran II Peraturan Menteri Pendidikandan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum: Pedoman Pengembangan Muatan Lokal.
Muhaimin, Satiah, dan Sugeng Listyo Prabowo. 2008. Pengembangan Model Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurdin, Syafruddin. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakart: Ciputat Pers.
Nurdin, Syaifuddin dan M.Basyiruddin Usman. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Pers.
Sudjana, Nana. 1996. Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum Di sekolah. Badung: Sinar Baru Alqensido.
Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan) SD, SMP, dan SMA. Jakarta: Pustaka Yustisia.