Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, October 17, 2014

PENGIRIMAN TENAGA KERJA WANITA KE LUAR NEGERI


Kajian Fiqih Kontemporer
Dosen Pembina
Dr. Tutik Hamidah M.Ag
Oleh;
Bisri Musthofa  (13770034)




PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Oktober, 2014




KATA PENGANTAR
بسم اللّه الرّحمن الرّحيم
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah Swt, Tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya yang tak terhingga kepada penyusun dalam mengarungi proses pembelajaran di jurusan pendidikan agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw yang telah membawa umatnya dari zaman gelap gulita sampai ke zaman yang terang benderang dengan ilmu pengetahuan.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya penyusun tidak akan dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya bantuan support tenaga dan pikiran dari berbagai pihak yang telah mendukung. Untuk itu sudah sewajarnya penyusun menyampaikan terima kasih kepada:
1.      Ibu Dr. Hj. Tutik Hamidah M.Ag. Selaku dosen pengampu mata kuliah Fiqih Kontemporer yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan kepada penyusun
2.      Teman-teman mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam khususnya semester III kelas D, yang telah banyak membantu dan mendukung menyelesaikan makalah ini.
3.      Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Akhirnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt, tentunya makalah ini sangat jauh sekali dari ukuran sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat berarti bagi penyusun guna perbaikan dikemudian hari.
Malang, 13 Oktober 2014
Penyusun






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A.    Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.     Tujuan Masalah..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
A.    Deskripsi Masalah............................................................................... 3
1.      Kedudukan perempuan dalam hukum Islam.................................. 5
2.      Perempuan dan Kemerdekaan Bekerja dalam Islam...................... 6
B.     Dalil Dan Metode Memahami Dalil.................................................... 7
1.      Dasar Al-Qur’an............................................................................. 7
2.      Dasar Hadits................................................................................... 9
C.     Pendapat dan Hujjah ‘Ulama.............................................................. 10
1.      Yusuf Qardhawi............................................................................. 10
2.      Quraish Shihab................................................................................ 14
3.      Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia).......................................... 15
D.    Analisis Pendapat Ulama.................................................................... 15
E.     Pendapat yang Dipilih dan Hujjah yang Digunakan........................... 17
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 19
A.    Kesimpulan.......................................................................................... 19
                                 DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri telah memberikan dampak yang besar bagi negara Indonesia. Negara telah manerima pemasukan devisa yang signitifkan sepanjang tahun 2010 dari penghasilan TKI. Berdasarkan data Pusat Penelitian dan Informasi (PUSLITFO) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), pemasukan devisa dari TKI sepanjang tahun 2010 telah mencapai 8,24 milyar dolar AS (Rp. 80,24 triliyun). Jumlah ini merupakan kenaikan sampai 37,3% (dari Rp. 60 triliyun) dari tahun 2011, dan bila di bandingkan dengan tahun 2010 terdapat kenaikan 48,26% (dari Rp.. 50,56 triliyun).[1]
Menurut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), untuk tahun 2010 saja terdapat 900,129 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berhasil ditempatkan di luar negeri secara resmi. Berdasarkan data jumlah TKI yang berhasil ditempatkan di luar negeri pada tahun 2010 dapat diketahui bahwa kurang lebih 77% TKI adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sebagian besar dari mereka bekerja di sektor informal sebagai pembantu rumah tangga.[2]
Dalam kenyataannya, para TKW yang dikirim keluar negeri sering membawa kabar yang kurang baik. Banyak kasus penganiayaan, pembunuhan dan kekerasan lainnya terhadap para tenaga kerja Indonesia akibat pemerintah yang kurang bisa memberi pemahaman, perlindungan dan meng-advokasi para TKI yang berakibat banyak nya kasus kekerasan yang berdampak pada hukuman mati yang akhirnya meninggalkan kabar duka bagi keluarga bukan malah kesejahteraan dari hasil kerja. Dari fenomena tersebut makalah ini akan membahas bagaimana pandangan Islam menanggapi masalah pengiriman tenaga kerja wanita keluar negeri.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana Islam memandang tentang tenaga kerja wanita?
2.      Apa hukum pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) keluar negeri?

C.    Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah tersebut, maka latar belakang dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Mengetahui hujjah tentang tenaga kerja wanita.
2.      Mengetahui hukum pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) keluar negeri.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Masalah
Menurut hukum Islam, kewajiban dalam mencari nafkah adalah tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga. Ini berdasarkan firman Allah dalam QS. An-Nissa’: 34.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ...
Artinya:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”[3]  
Sedangkan untuk mengatur, menata, mengurus dan memeliharanya adalah tanggung jawab istri sebagai ibu rumah tangga.[4]            Bekerja keluar negeri adalah pilihan, meninggalkan rumah, anak dan keluarga demi memenuhi kesejahteraan ekonomi keluarga.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, subur tanahnya dan luas wilayahnya. Sesungguhnya banyak sekali potensi yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia, namun kebanyakan dari rakyat Indonesia kurang bisa kreatif sehingga sangat sedikit sekali orang yang menjadi sejahtera di negeri sendiri.[5] Harusnya pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan lapangan pekerjaan guna menampung rakyatnya tanpa harus keluar negeri demi menafkahi keluarga.
Mobilitas angkatan kerja wanita keluar negeri di kenal dengan sebutan TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Pada waktu itu yang disebut TKI adalah laki-laki. Ketika muncul angkatan kerja wanita ke luar negeri, mereka disebut TKW, untuk mempertegas bahwa ada tenaga kerja wanita diantara TKI. Istilah ini menunjukkan bahwa ada pembedaan diantara keduanya. TKW identik dengan komoditi (misalnya, komoditi non-migas). Ironisnya, meski TKW dipandang kurang memiliki akses dalam penungkatan produksi, akan tetapi kenyataannya presentase remitan yang dikirim lebih besar dari TKI.[6]
Data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI): Tahun 2011 total TKI yang dilayani 586.802 dengan prosentase perempuan 64% (376.686) dan laki-laki 36% (210.116). Tahun 2012 total TKI yang dilayani 494.609 dengan prosentase perempuan 57% (279.784) dan laki-laki 43% 214.825. Tahun 2013 dari total 512.168 orang, perempuan 54% (276.998) dan laki 46% (235.170) dan pada tahun 2014 (sampai dengantanggal 31 Juli 2014) ada sebanyak 229.296 TKI dengan 59% (135.280) perempuan dan 41% (94.016) laki-laki.[7] Dari sini terlihat bahwa Indonesia termasuk eksportir tenaga kerja dengan jumlah yang besar, ironinya dari jumlah besar itu wanita (TKW) yang mendominasi.
Selain itu separuh tahun 2014 ini (sampai tanggal 31 Juli 2014) bahwa para pekerja (TKI) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia itu 59% (134.796) dengan status perkawinan menikah, dengan tujuan Negara penempatan tertinggi Malaysia, Taiwan dan Saudi Arabia.[8] Dengan alasan utama dari mereka adalah untuk mencukupi kebutuhan dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Para bapak dan ibu rela untuk merantau yang kebanyakan dari mereka adalah para tenaga kerja wanita (TKW).
 Memang banyak alasan para wanita rela meninggalkan keluarga untuk merantau keluar negeri. Dibalik itu alasan ekonomi yang menjadi dasar kuat mereka untuk bekerja meninggalkan tanah air. Harapan besar dari keluarga yang ditinggal untuk segera tercukupi dan berkumpul kembali untk menikmati hasil keringat kerja diluar negeri.
Sering adanya kasus yang berkaitan dengan TKW. Seperti pada tahun 2011 lalu terkait kasus pemancungan Ruyati binti Satubi, Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia. Kasus ini bermula dari dugaan pembunuhan Ruyati kepada majikannya karena alasan kekerasan dan lain-lain. Dimana pihak keluarga menyayangkan kurangnya advokasi terhadap TKI dengan kelalaian Negara yang tidak melaksanakan pembelaan hokum secara maksimal. Lain dari itu masih banyak kasus-kasus berkenaan dengan jaminan keamanan dan pembelaan hokum terhadap para TKI.
1.      Kedudukan Perempuan dalam Hukum Islam
Islam telah menganugerahkan kemuliaan pada seluruh umat manusia di muka bumi ini tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, ras, dan suku. Ini berarti bahwa, kemuliaan yang dianugerahkan Islam pada kaum perempuan merupakan bagian integral dari kemuliaan yang juga dianugerahkan pada seluruh umat manusia.[9] Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Isra’ : 70 :
“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak Adam -manusia- dan Kami muliakan juga mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami benar-benar unggulkan mereka atas kebanyakan ciptaan Kami”
Islam memandang perempuan sebagai makhluq yang berakal dan berpikiran, juga mempunyai pendapat yang bernilai dan berharga tinggi. Namun sampai saat ini, masih banyak orang yang mengatakan bahwa kemanusiaan perempuan kurang dari kemanusiaan laki-laki, oleh karenanya dalam  masalah harta pusaka, perempuan hanya memperoleh hak waris separuh dari laki-laki. Sebagaimana firman Allah swt: An-Nisa: 11
Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digaris bawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa” (QS Al-Hujurat: 13).
Islam telah menganugerahkan kemuliaan pada seluruh umat manusia di muka bumi ini tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, ras, dan suku. Ini berarti bahwa, kemuliaan yang dianugerahkan Islam pada kaum perempuan merupakan bagian integral dari kemuliaan yang juga dianugerahkan pada seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Isra’ : 70 :
2.      Perempuan dan Kemerdekaan Bekerja dalam Islam
Dengan terbukanya kesempatan bagi wanita untuk berkarir hal ini nyaris menggerser kedudukan laki-laki sebagai penanggung jawab dalam pemenuhan nafkah keluarga. Di sisi lain dengan terbukanya kesempatan bagi wanita untuk berkarir juga menimbulkan ekses negatif bagi kalangan perempuan tak lain juga suami dan anak-anak mereka. Bagi perempuan yang mementingkan karirnya dari pada rumah tangganya mengakibatkan tugas utama sebagai seorang ibu rumah tangga terlupakan.
Adapun motivasi yang mendorong perempuan terjun ke dunia karir antara lain adalah:[10]
a.       Pendidikan. Pendidikan dapat melahirkan perempuan karir dalam berbagi lapangan kerja
b.      Terpaksa oleh keadaan dan kebutuhan yang mendesak. Karena keadaan keuangan tidak menentu atau pendapatan suami tidak mencukupi atau karena suami meninggal dunia dan tidak  meninggalkan harta.
c.       Alasan ekonomi, agar tidak bergantung pada suami walaupun suami mampu memenuhi segala kebutuhan.
d.      Untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya
e.       Untuk mengisi waktu yang lowong
f.        Untuk mencari ketenanga dan hiburan
g.      Untuk mengembangkan bakat.
Islam tidak mengharamkan dan tidak mencegah para wanita untuk sibuk pada pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian dan kemampuannya. Islam telah memperbolehkan wanita untuk bekerja dibidang pengajaran, menjadi guru taman kanak-kanak atau guru anak wanita, karena ia memiliki kasih sayang dan cakap untuk mendidik anak-anak.[11]
Untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya ekses dalam berkarir bagi perempuan muslimah, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:[12]
a.       Dalam berkarir tidak meninggalkan kewajiban utama sebagai seorang ibu rumah tangga.
b.      Tidak melampui batas kodrat perempuan. Meskipun perempuan itu bisa menjadi kuli angkut barang, supir truk, kondektur dan sebagainya, namun hal ini tidak layak ditinjau dari segi kodrat karena memerlukan ketrampilan fisik dan tidak pantas secara moral untuk melakukannya.
c.       Tidak melampui batas-batas dan aturan agama, utamanya dengan lawan jenis dalam lingkungan pekerjaan. Sering menimbulkan fitnah atau pengaruh negatif terhadap dirinya; rumah tangganya dan rumah tangga lawan jenisnya.

B.     Dalil Dan Metode Memahami Dalil
1.      Dasar Al-Qur’an
Kewajiban suami sebagai pemimpin keluarga. Para lelaki, adalah qawwamun, pemimpin dan penanggung jawab atas para wanita, oleh karena Allah ta’ala telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka, yakni laki-laki secara umum atau suami, telah menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar mahar dan biaya hidup untuk istri dan anak-anaknya.[13]  QS. An-nisa’:34
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa’:34).
Kewajiban suami sebagai pencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga yang merawat anak. QS. Al-Baqarah : 233:
“Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah adalah memberikan nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya, dan seorang bapak karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian ...” (QS. Al-Baqarah : 233).
Laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam beramal. Prinsip itu adalah; barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, apapun jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia mukmin, yakni amal yang dilakukan atas dorongan keimanan yang sahih, maka akan mendapatkan pahala dari apa yang mereka kerjakan.[14]
QS. An-Nahl: 97:
“Barang siapa mengerjakan amalan saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan  Kami  berikan  kepadanya  kehidupan  yang   baik   dan sesungguhnya  akan  Kami  beri  balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Kewajiban wanita untuk menjaga pandangannya dari selain mahram. QS An-Nur: 31:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera- putera saudara lelaki mereka, atau putera- putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sem- bunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

2.      Dasar Hadist
Suami berkewajiban memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Perlu diketahui meski nafkah rumah tangga dibebankan kepada suami, tetapi Islam tidak melarang istri membantu suaminyta dalam mencari nafkah dengan izin suaminya, sepanjang tidak mengganggu tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga.[15]
Hadis Nabi menjelaskan:
Sesungguhnya ibnu umar berkata, “saya telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda, setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya, imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dan laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dan perempuan pemimpin di dalam rumah tangganya (suaminya) dan bertnggung jawab atas kepemimpinannya, dan pembantu adalah pemimpin di dalam harta majikannya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dan setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Perempuan tidak boleh bepergian tanpa mahram.
“Seorang laki-laki tidak boleh berdua- duaan dengan seorang perempuan kecuali disertai mahramnya dan perempuan tidak boleh bepergian kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal melakukan perjalanan selama tiga hari atau lebih kecuali disertai ayah, suami, anak, ibu, atau mahramnya” (HR. Muslim)

C.    Pendapat dan Hujjah ‘Ulama
1.      Yusuf Qardhawi
Wanita  adalah  manusia  juga  sebagaimana laki-laki. Wanita merupakan bagian  dari  laki-laki  dan  laki-laki  merupakan bagian dari wanita, sebagaimana dikatakan Al-Qur'an:   
"...  sebagian  kamu  adalah turunan dari sebagian yang lain..." (Ali Imran: 195).
            Manusia merupakan  makhluk  hidup  yang  diantara  tabiatnya ialah berpikir dan bekerja (melakukan aktivitas). Jika tidak demikian, maka bukanlah dia manusia. Sesungguhnya Allah Ta'ala  menjadikan  manusia  agar  mereka beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk menguji siapa diantara mereka yang  paling  baik  amalannya. Oleh   karena   itu,   wanita  diberi  tugas  untuk  beramal sebagaimana laki-laki - dan  dengan  amal  yang  lebih  baik secara  khusus  untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana laki-laki.[16] Allah SWT berfirman:
"Maka  Tuhan  mereka  memperkenankan  permohonannya  (dengan berfirman),  'Sesungguhnya  Aku  tidak  menyia-nyiakan  amal orang-orang  yang  beramal  diantara  kamu,  baik  laki-laki maupun perempuan...” (Ali Imran: 195)
            Siapa  pun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan yang baik di dunia: 
"Barangsiapa yang mengerjakan  amal  saleh,  baik  laki-laki maupun  perempuan  dalam  keadaan beriman, maka sesungguhnya akan  Kami  berikan  kepadanya  kehidupan  yang   baik   dan sesungguhnya  akan  Kami  beri  balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl: 97}
            Selain  itu,  wanita  sebagaimana  biasa dikatakan juga merupakan separo dari masyarakat manusia,  dan  Islam  tidak pernah tergambarkan   akan   mengabaikan   separo  anggota masyarakatnya serta menetapkannya beku  dan  lumpuh,  lantas dirampas kehidupannya, dirusak kebaikannya, dan tidak diberi sesuatu pun. Hanya saja tugas wanita yang pertama dan  utama  yang  tidak diperselisihkan  lagi ialah mendidik generasi-generasi baru. Mereka memang disiapkan oleh Allah  untuk  tugas  itu,  baik secara  fisik  maupun mental, dan tugas yang agung ini tidak boleh dilupakan atau  diabaikan  oleh  faktor  material  dan kultural  apa  pun.  Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran kaum wanita  dalam  tugas  besarnya  ini, yang padanyalah bergantungnya masa depan umat, dan dengannya pula terwujud kekayaan yang  paling  besar,  yaitu  kekayaan yang berupa manusia (sumber daya manusia). 
            Diantara aktivitas wanita ialah memelihara  rumah  tangganya membahagiakan  suaminya, dan membentuk keluarga bahagia yang tenteram  damai,  penuh  cinta  dan  kasih  sayang.   Hingga terkenal   dalam  peribahasa,  "Bagusnya  pelayanan  seorang wanita  terhadap   suaminya   dinilai   sebagai   jihad   fisabilillah."
            Namun  demikian,  tidak berarti bahwa wanita bekerja di luar rumah itu diharamkan syara'. Karena tidak  ada  seorang  pun yang  dapat  mengharamkan  sesuatu  tanpa adanya nash syara' yang sahih periwayatannya dan  sharih  (jelas)  petunjuknya. Selain  itu, pada dasarnya segala sesuatu dan semua tindakan itu boleh sebagaimana yang sudah dimaklumi.
            Berdasarkan prinsip ini,  menururt Yusuf Qardhawi  bahwa  wanita bekerja  atau  melakukan aktivitas dibolehkan (jaiz). Bahkan kadang-kadang ia dituntut dengan tuntutan sunnah atau  wajib apabila ia membutuhkannya. Misalnya, karena ia seorang janda atau diceraikan suaminya, sedangkan  tidak  ada  orang  atau keluarga  yang  menanggung  kebutuhan  ekonominya,  dan  dia sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi  dirinya dari minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.[17]
            Masyarakat  sendiri   kadang-kadang   memerlukan   pekerjaan wanita,  seperti  dalam  mengobati  dan  merawat orang-orang wanita, mengajar anak-anak putri,  dan  kegiatan  lain  yang memerlukan  tenaga  khusus  wanita.  Maka  yang utama adalah wanita  bermuamalah  dengan  sesama  wanita,  bukan   dengan laki-laki.
            Sedangkan  diterimanya  (diperkenankannya) laki-laki bekerja pada sektor wanita dalam beberapa hal  adalah  karena  dalam kondisi  darurat  yang  seyogianya  dibatasi  sesuai  dengan kebutuhan, jangan dijadikan kaidah umum. Apabila  kita  memperbolehkan  wanita  bekerja,  maka  wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:[18]
a)      Hendaklah pekerjaannya itu sendiri disyariatkan. Artinya,   pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu  yang haram, seperti wanita yang bekerja untuk melayani lelaki bujang, atau wanita menjadi sekretaris khusus bagi   seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering  berkhalwat (berduaan), atau menjadi penari yang merangsang nafsu hanya demi mengeruk keuntungan duniawi, atau bekerja di bar-bar untuk menghidangkan minum-minuman keras - padahal  Rasulullah saw. telah melaknat orang yang menuangkannya,  membawanya, dan menjualnya. Atau menjadi pramugari di kapal  terbang dengan menghidangkan minum-minuman yang memabukkan,  bepergian jauh tanpa disertai mahram, bermalam di negeri asing sendirian, atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang diharamkan oleh Islam, baik yang khusus untuk wanita maupun khusus untuk laki-laki, ataupun untuk keduanya.
b)      Memenuhi adab wanita muslimah ketika keluar rumah, dalam berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik.
"Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan  janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya ..." (an-Nur: 31 )
"... dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ..." (an-Nur: 31 )
"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan  ucapkanlah perkataan yang baik" (al-Ahzab 32)
c)      Janganlah pekerjaan atau tugasnya itu mengabaikan  kewajiban-kewajiban lain yang tidak boleh diabaikan, seperti kewajiban terhadap suaminya atau anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugas utamanya.

2.      Quraish Shihab
            Kalau kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Para wanita boleh bekerja dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.[19]
            Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa "perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut".[20]
            Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun, sebagaimana telah diuraikan di atas, ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.[21]





3.      Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Berkenaan dengan pengiriman tenaga kerja perempuan ke luar negeri, majelis Ulama’ Indonesia melalui musyawarah Nasional pada 25 – 29 Juli 2000 telah mengeluarkan fatwa sebagai berikut:[22]
1.      Perempuan yang meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar kota atau ke luar negeri, pada prinsipnya, boleh sepanjang disertai mahram, keluarga atau lembaga/ kelompok perempuan terpercaya (niswah tsiqah).
2.      Jika tidak disertai mahram (keluarga) atau niswah tsiqah, hukumnya haram, kecuali dalam keadaan darurat yang benar- benar bisa dipertanggungjawabkan secara syar’iy, qanuniy, dan ‘adiy, serta dapat menjamin keamanan dan kehormatan tenaga kerja wanita.
3.      Hukum haram berlaku pula kepada pihak-pihak, lembaga atau perorangan yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW seperti dimaksud angka 2; demikian juga pihak yang menerimanya.
4.      Mewajibkan kepada pemerintah, lembaga dan pihak terkait lainnya dalam pengiriman TKW untuk menjamin dan melindungi keamanan dan kehormatan TKW, serta membentuk kelompok/ lembaga perlindungan hukum atau kelompok niswah tsiqah di setiap negara tertentu, serta kota-kota tertentu untuk menjamin dan melindungi keamanan serta kehormatan TKW.

D.    Analisis Pendapat Ulama
Dari pemaparan sebelumnya melalui pendapat dari beberapa ulama’ yang dijelaskan pada makalah ini, memang tidak ada diskriminasi dalam jender. Hak atas tiap-tiap manusia khususnya dalam urusan karir tidak ada batasan selama masih dalam tataran moral Islam. Siapapun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan balasan pahala di akhirat. Seperti pendapat dari Yusuf Qardhawi yang menjelaskan bahwa tabiat manusia adalah berpikir dan bekerja, dan Allah tidak menciptakan manusia (baik laki-laki ataupun perempuan) melainkan untuk menguji siapa diantara mereka yang paling banyak amalnya. Namun tabiat dari perempuan adalah seorang pendidik sebagai pendidik generasi- generasi baru dalam artian seorang wanita memiliki tugas besar menyiapkan generasi selanjutnya dan mengurus rumah tangga, yang mana tugas ini tidak dapat digantikan oleh seorang laki-laki. Begitu juga laki-laki sebagai pemimpin keluarga ia bertanggung jawab untuk mencari nafkah demi kesejahteraan keluarganya.
Dengan tabiat wanita sebagai seorang pengasuh bukan berarti mereka tidak boleh melakukan aktifitas/ bekerja. Bahkan ada tuntutan sunnah atau wajib apabila ia membutuhkan, semisal ia seorang janda atau diceraikan suaminya, sedangkan  tidak  ada  orang  atau keluarga  yang  menanggung  kebutuhan  ekonominya,  dan  dia sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi  dirinya dari minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain. Atau karena suatu hal yang mengakibatkan pekerjaan itu membutuhkan wanita seperti  dalam  mengobati  dan  merawat orang-orang wanita, mengajar anak-anak putri,  dan  kegiatan  lain  yang memerlukan  tenaga  khusus  wanita.  Maka  yang utama adalah wanita  bermuamalah  dengan  sesama  wanita,  bukan   dengan laki-laki.
Sementara menurut Quraish Shihab dengan melihat sejarah permulaan Islam kita dapat mengetahui bahwa Islam membernarkan para wanita aktif dalam berbagai aktifitas. Kesimpulannya wanita boleh bekerja didalam ataupun diluar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta dengan catatan pekerjaan yang dilakukan itu sopan dan terhormat dan selama mereka bisa memelihara agamanya dari akibat pekerjaan yang dilakoninya. Singkatnya, para wanita mempunya hak untuk bekerja apapun selama ia membutuhkan pada pekerjaan dengan batas masih dalam tataran norma-norma agama dan susila tetap terjaga.
Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang tenaga kerja wanita yang bekerja keluar rumah ia harus dibarengi mahram (keluarga). Tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja namun ketika para wanita itu bekerja keluar rumah (keluar negeri) harus bisa dijamin keamanan dan kehormatan para tenaga kerja wanita. Yaitu bagi lembaga penyelenggara jasa tenaga kerja atau pihak-pihak perorangan.
E.     Pendapat yang Dipilih dan Hujjah yang Digunakan
Islam menganjurkan hambanya untuk bekerja demi kesejahteraan diri dan keluarganya. Ini lebih mulia dan disenangi dari pada meminta-minta. Berkenaan dengan dengan tanggung jawab sebagai penyokong perekonomian keluarga, Islam telah memandang ini sebagai kewajiban seorang suami sebagai kepala keluarga yang memberi nafkah istri dan anaknya. Sedangkan ibu hendaknya merawat anak dengan baik serta sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga, bukan sebagai pencari nafkah. Sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 233:
“Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah adalah memberikan nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya, dan seorang bapak karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian ...”
        Disisi lain bahwa kebutuhan untuk mencari nafkah keluar rumah khususnya keluar negeri bagi TKW adalah sebuah tindakan terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup karena sulitnya lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa para TKI yang kebanyakan TKW diluar negeri belum ada jaminan keamanan dan kehormatan serta advokasi/ pembelaan hukum yang maksimal dari pemerintah/ lembaga penyalur tenaga kerja. Seperti beberapa kasus TKW yang mendapat kekerasan, pelecehan seksual dan hukum pancung di Saudi Arabia dan beberapa Negara lainnya.
Sesuai dengan Q.S An-Nur ayat 31 bahwa seorang perempuan harus menjaga pandangannya dari selain mahramnya dan Hadist Nabi:
Seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal melakukan perjalanan selama tiga hari atau lebih kecuali disertai ayah, suami, anak, ibu, atau mahramnya” (HR. Muslim)
Melihat kaidah fiqih “Menolak/menghindarkan kerusakan lebih diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan.” Dan kaidah “Hajat (kebutuhan sekunder) yang masyhur menempati darurat, dan kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (diharamkan). Maka berkenaan dengan pengiriman TKW keluar negeri sebagai berikut:
1.      Perempuan (TKW) yang meninggalkan keluarga untuk bekerja keluar negeri, pada prinsipnya, boleh sepanjang disertai mahram, keluarga atau lembaga/ kelompok perempuan terpercaya (niwsah tsiqah).
2.      Jika tidak disertai mahram (keluarga), hukumnya haram, kecuali dalam keadaan darurat yang benar- benar bisa dipertanggungjawabkan secara syariy, qanuniy, dan ‘adiy, serta dapat menjamin keamanan dan kehormatan tenaga kerja wanita.
3.      Hukum haram kepada pihak-pihak, lembaga atau perorangan yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW akibat tidak ada jaminan keamanan dan kehormatan tenaga kerja wanita.
4.      Wajib kepada pemerintah, lembaga dan pihak penyalur TKW untuk menjamin dan melindungi keamanan dan kehormatan TKW, serta membentuk kelompok/lembaga perlindungan hukum atau kelompok nisah tsiah di setiap negara tertentu, serta kota-kota tertentu untuk menjamin dan melindungi keamanan serta kehormatan TKW.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada dasarnya kewajiban suami adalah memenuhi nafkah keluarganya, dan seorang istri merawat anak dan mengurus rumah tangganya. Namun karena problematika kehidupan yang komplek, kebutuhan dan keperluan bekerja di luar kota dan luar negeri merupakan sesuatu tindakan terpaksa untuk memenuhi minimal kebutuhan hidp sehari-hari maka memaksa diri seorang TKW untuk merantau. Namun perempuan ketika bepergian harus disertai dengan mahramnya, hal ini berlaku bagi para pekerja wanita. Tetapi karena kebutuhan mendesak maka hal itu menjadi boleh selama bisa dipertanggung jawabkan secara syar’iy.
Boleh tentang pengiriman TKW keluar negeri jika dibarengi dengan mahram atau jika dalam keadaan darurat hal tersebut bias dipertanggungjawabkan secara syar’iy serta ada jaminan keamanan dan kehormatan bagi dirinya. Kalau tidak ada jaminan seperti kasus pelecehan seksual, penganiayaan dan sebagainya maka hal ini menjadi haram. Haram bagi penyelenggara/ lembaga atau perorangan yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW serta pihak yang menerima. Oleh karena itu hendaknya membentuk lembaga bagi para penyalur untuk menjamin keamanan dan kehormatan para tenaga kerja wanita.


DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Amiroh. Tenaga Kerja Wanita dalam Perspektif Islam. Jurnal MUWAZAH Vol. 1, No. 2, Juli - Desember 2009
Hasan, Abdur-Rasul Abdul Al-Ghaffar. Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern. Pustaka Hidayah
Insani, Bayu dan Ida Raihan. 2008. TKW Menulis. Yogyakarta : PT Leutika.
Pusat penelitian pengembangan dan informasi (PUSLITFO BNP2TKI) dikases melalui www.bnp2tki.go.id
Qardhawi , Yusuf. http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/WanitaKerja.html
Shihab, Quraish. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al-Qur’an. Volume 2 Surah Ali Imran dan Surah An-Nisa’.Jakarta: Lentera Hati.
________. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al-Qur’an. Volume 6 Surah Yusuf, Surah ar-Ra’d, Surah Ibrahim, Surah al-Hijr dan Surah An-Nahl dan Surah An-Nisa’.Jakarta: Lentera Hati
________. http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Perempuan.html#Memilih
Yanggo, Huzaemah Tahido. 2009. Fikih perempuan kontemporer. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Fatwa Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia Nomor: 7/MUNAS VI/MUI/2000 Tentang Pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) Ke Luar Negeri.
http://eyranucwaemtea.blogdetik.com/2011/02/05/kekerasan-terhadap-tenaga-kerja-wanita/



[1] http://eyranucwaemtea.blogdetik.com/2011/02/05/kekerasan-terhadap-tenaga-kerja-wanita/ (diakses pada 13 Oktober 2014)
[2] Ibid
[3] Al-Qur’an Terjemah
[4] Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo. Fikih perempuan kontemporer. Ghalia Indonesia; Jakarta. Hal 38.
[5] Data BNP2TKI menyebutkan sebagian besar pendidikan para TKI 32% SD, 37% SMP dan 24% SMA, Selebihnya diatasnya. Ini menunjukan bahwa kebanyakan para TKI adalah berpendidikan rendah.
[6] Bayu Insani dan Ida Raihan, TKW Menulis, PT Leutika, 2008, Yogyakarta
[7] Pusat penelitian pengembangan dan informasi (PUSLITFO BNP2TKI) diakases melalui www.bnp2tki.go.id pada 13 Oktober 2014.
[8] Ibid. BNP2TKI
[9] Amiroh Ambarwati. Tenaga Kerja Wanita dalam Perspektif Islam. Jurnal MUWAZAH Vol. 1, No. 2, Juli - Desember 2009. Hal. 102
[10] Ibid, Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo. Hal. 62 - 63
[11] Abdur-Rasul Abdul Hasan Al-Ghaffar. Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern. Pustaka Hidayah. Hal: 195 – 196.
[12] Ibid, Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo. Hal. 66 - 67
[13] M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al-Qur’an. Volume 2 Surah Ali Imran dan Surah An-Nisa’.Jakarta: Lentera Hati. Hal. 509.
[14] M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al-Qur’an. Volume 6 Surah Yusuf, Surah ar-Ra’d, Surah Ibrahim, Surah al-Hijr dan Surah An-Nahl dan Surah An-Nisa’.Jakarta: Lentera Hati. Hal. 717.
[15] Ibid, Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo
[16] Yusuf Qardhawi. http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/WanitaKerja.html
[17] Ibid. Yusuf Qardhawi
[18] Ibid. Yusuf Qardhawi
[19] Quraish Shihab. http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Perempuan.html#Memilih
[20] Ibid. Quraish Shihab
[21] Ibid. Quraish Shihab
[22] Fatwa Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia Nomor: 7/MUNAS VI/MUI/2000 Tentang Pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) Ke Luar Negeri.