Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Wednesday, August 27, 2014

Proposal Skripsi (Kualitatif) PAI



Proposal Skripsi PAI (Kualitatif)

Telaah Pendidikan Karakter Dalam Novel Penakluk Badai 
(Analisis novel biografi KH Hasyim Asy’Ari karya Aguk Irawan)

Oleh: Rahmat, S.Pd.I
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'had 'Aly Al-Hikam Malang
Maret, 2013







BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah
            Novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan ini merupakan sebuah wujud (produk) karya sastra yang memancarkan keluhuran akhlak Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Novel tersebut oleh Aguk Irawan ditulis dengan tutur bahasa yang indah, alur cerita yang mengalir, bentukan konflik yang tajam namun tetap realistis dan faktual berpegang kepada fakta sejarah, sehingga tulisan ini dia harapkan enak dibaca, mudah dicerna, dan tidak menjemukan.
   Tetapi siapakah Hasyim Asy’ari? Adakah hati hanya mengenali bahwa dia hanyalah pendiri organisasi terbesar Islam di negeri ini? Demi zat yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, atas prakarsa beliau, NU memang berdiri. Namun, pendirian NU hanyalah satu tetesan dari kucuran keringat hidup dan perjuangan beliau. Hasyim Asy’ari lebih besar dari NU yang didirikannya. Hidupnya didermakan demi Islam dan perjuangan, demi ilmu dan keluhuran, demi cahaya cinta dan kemerdekaan.
   Maka bagaimana bisa diri ini hanya mengenali sebatas namanya saja? Bagaimana bisa diri ini  tak berusaha belajar dari kemuliaan, kebesaran, dan keluhurannya? Namun, bagaimana diri ini akan mampu menganalinya, tak sebatas namanya, dan tak sebatas prakarsanya mendirikan organisasi terbesar Islam di Indonesia.
   Ya, tak ada jalan lain, kecuali memulainya dengan cara mengetahuinya. Mengetahui dengan cara mengerti kehidupannya. Mengerti kehidupannya dengan cara membentangkan kisah hidupnya. Membentangkan kisah hidupnya dengan cara menuliskan dan menceritakannya. Apa yang terlisankan, akan cepat berlalu. Tetapi, apa yang dituliskan akan mengabadi. Apa yang berlalu cepat terlupakan, sedangkan apa yang mengabadi akan selalu terekam dan tak lekang dimakan waktu. KH Hasyim Asy’ari. Hidupnya memesona, dan pesonanya perlu diketahui agar jiwa-jiwa yang mendamba kebenaran, keluhuran, ilmu, dan kebijaksanaan, bisa meneladaninya.

            Dari prolog di atas dan dari hasil wawancara singkat peneliti dengan penulis novel Penakluk Badai, Aguk Irawan, peneliti mendapatkan sebuah ilham bahwa pentingnya sosok figur guru untuk dijadikan contoh supaya ditiru keluhuran akhlaknya. Memang nabi Muhammad SAW adalah the best sosok figur sebagai uswah hasanah, akan tetapi menjadi baik juga dengan mengangkat sejarah kisah Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai ulama’ alias pewaris para nabi dan berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, beliau diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional untuk dijadikan tauladan dalam menggapai cita-cita menjadi bangsa yang berkarakter.
            Disebabkan karya sastra seperti novel yang karakter penulisannya bebas, bahasanya yang renyah, mudah dipahami mengkategorikannya buku bacaan yang diharapkan mampu dikosumsi pembaca baik dari kalangan muda (remaja), orang dewasa maupun kalangan tua yang hal ini terbukti novel Penakluk Badai terbitan Global Media Utama mulai 2012-2013 termasuk novel bestseller serta sebagian kisah dalam novel telah naik ke layar lebar dengan judul film Sang Kyai. Sehingga tidak menutup kemungkinan dengan terobosan mengisahkan biografi panutan ummat melalui novel itu mampu memperbaiki karakter bangsa yang semakin hari semakin merosot. Pada akhirnya harapan penulis novel Penakluk Badai Aguk Irawan dapat terwujudkan. Ia mengatakan:
   Setidaknya akhir2 ini kita merasakan atau membuktikan, bahwa novel memang punya dampak, meski itu cerita fiksi atau rekaan blaka, nah saya membayangkan, kalau tokoh itu benar-benar ada dan terjadi di masa lalu, masak tidak punya dampak? Selain itu, saya teringat dengan perkataan Thaha Husain, budayawan mesir, katanya, mengajarkan karya sastra kepada anak, sama halnya dengan mengajarkan kitab suci, sebab lebih dari sepertiga al-Qur’an atau kitab suci lain, isinya adalah sastra. Nah, semoga saja ini menjadi sarana untuk merubah karakter bangsa, meski hanya setetes, juga bisa sebagai tabungan pahala bagi saya, di hari akhir, allahumma amin.

            Maka sudah jelas, di atas peneliti telah menuliskan dengan terobosan mengisahkan biografi panutan ummat melalui bacaan karya sastra berupa novel diharapkan dapat ikut mendidik karakter anak bangsa. Dari sini peneliti tertarik untuk meneliti bagaimanakah pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang terlahirkan pada tahun 1871 dan wafat pada tahun 1947 sebagaimana yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan?
            Pendidikan karakter secara bermakna sangat penting dalam menunjang mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan karakter (akhlak) secara bermakna. Mengapa pendidikan karakter sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan.
            Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menegaskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dari rumusan ini terlihat bahwa pendidikan nasional mengemban misi yang tidak ringan, yakni membangun manusia yang utuh dan paripurna yang memiliki nilai-nilai karakter yang agung di samping juga harus memiliki keimanan dan ketakwaan. Karena itulah pendidikan menjadi agent of change yang harus mampu melakukan perbaikan karakter bangsa.
            Jikalau pendidikan senyatanya bertujuan seluhur itu, lalu bagaimana dengan implementasi dan realitas yang terjadi? Sejalankah usaha-usaha pendidikan yang terjadi selama in dengan tujuan mulianya? Hal yang paling menggelisahkan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah kenyataan bahwa kompetensi yang ditampilkan para siswa sebagai output pendiidkan sangat kontradiktif dengan tujuan pendidikan.
            Dalam konteks keindonesiaan, pemandangan berikut ini menegaskan adanya kegagalan pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Berbagai macam psikotropika dan narkotika juga begitu banya beredar di kalangan anak sekolah. Lebih mengerikan, penjualan dan pembeli juga adalah orang-orang yang masih berstatus siswa. Mereka menjadi pengedar dan sekaligus juga pengguna. Kehidupan yang rusak seperti ini kerap kali disertai dengan berbagai pesta yang berujung pada tindakan amoral di kalangan remaja. Anak-anak remaja ini tidak lagi mempertimbangkan rasa takut untuk hidup rusak, merusak nama baik keluarga dan masyarakatnya.
            Berbagai tawuran anak sekolah juga telah membuat resah masyarakat di berbagai tempat di beberapa kota besar di Indonesia. Bahkan, kejadian-kejadian  sejenis sering kali sulit diatasi oleh pihak sekolah sendiri, sampai-sampai melibatkan aparat kepolisian dan berujung dengan pemenjaraan, karena merupakan tindakan kriminal yang bisa merenggut nyawa. Sepertinya nyawa manusia tidak ada harganya, hingga itu begitu murah dan rendah nilainya.
            Di samping itu etos kerja yang buruk, rendahnya disiplin diri dan kurangnya semangat untuk bekerja keras, keinginan untuk memperoleh hidup yang mudah tanpa kerja keras, nilai materialisme (materialism, hidonism) Menjadi gejala yang umum dalam masyarakat. Daftar ini masih bisa terus diperpanjang dengan berbagai kasus lainnya, seperti pemerasan siswa terhadap siswa lain, kecurangan dalam ujian, dan berbagai tindakan yang tidak mencerminkan moral siswa yang baik.
            Dari latar belakang di atas, maka peneliti mengangkat skripsi yang berjudul ”Telaah Pendidikan Karakter Dalam Novel Penakluk Badai (Analisis novel biografi KH Hasyim Asy’Ari karya Aguk Irawan)”, dengan harapan novel ini mampu menjawab keterpurukan pendidikan karakter saat sekarang.

B. Rumusan Masalah

            Berdasarkan uraian di atas peneliti formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1898) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan?
  2. Bagaimanakah pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1899-1920) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan? 
  3. Bagaimanakah pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1921-1930) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan?
  4. Bagaimanakah pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1931-1947) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan?.
C. Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian merupakan target yang hendak dicapai dalam penelitian ini, Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Mendeskripsikan pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1898) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan,
  2. Mendeskripsikan pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1899-1920) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan,
  3. Mendeskripsikan pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1921-1930) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, dan
  4. Mendeskripsikan pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1931-1947) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan.

D. Manfaat Penelitian
            Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan yang dilakukan secara sistematis, agar penelitian ini diharapkan bermanfaat:
  1. Secara teoritis, hasil penelitian pendidikan karakter dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan mendukung 18 nilai karakter yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasioanl, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokrasi, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komonikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggungjawab.
  2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi:
  1. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan karakter menjadi bahan rujukan dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan pendidikan Islam.
  2. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat merealisasikan penanaman pendidikan karakter semisal guru bertugas bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan karakter bukan hanya dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Insonesia, namun juga karena Indonesia sebagai Negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan karakter (akhlak) luhur yang menjadi cirri kepribadian bangsa kita, seperti keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain.
  3. Peserta didik, pendidikan karakter untuk membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan menjadi seseorang yang bertanggungjawab.
  4. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan karakter dan sebagai bekal penelitian apabila sudah terjun di lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat kaitannya dengan praktik pendidikan karakter.
E. Ruang Lingkup Penelitian
            Untuk memperoleh data yang relevan dan memerikan arah pembahasan pada tujuan yang telah dirumuskan, maka ruang lingkup penelitian ini diarahkan pada sekitar pendidikan karakter, khususnya dalam novel Penakluk Badai yang meliputi:
1)      Nilai-nilai pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan
2)      Metode pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan
3)      Media pendidik karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan.
            Adapun dalam pembahasan apabila ada permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju.
F. Definisi Oprasional
            Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan istilah dari skripsi berjudul: Telaah Pendidikan Karakter dalam Novel Penakluk Badai (Analisis novel biografi Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari karya Aguk Irawan), yakni:
·         Telaah adalah kajian dan penelitian.
·         Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan direncanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
·         Novel adalah karang prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan mennonjolkan sifat dan watak setiap pelaku.
G. Sistematika Pembahasan
            Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, peneliti memerinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:
  • BAB I : Pendahuluan, peneliti membahas pokok-pokok pikiran utuk memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, definisi oprasional dan sistematika pembahasan. Kajian Pustaka. Memaparkan tentang landasan teoretis yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan novel. Metode penelitian. Bab ini mengkaji tentang metode penelitian, yang meliputi tentang rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, instrument penelitian, analisis data dan teknik pemeriksaan keabsahan data;
  • BAB II : Temuan dan pembahasan penelitian novel Penakluk Badai yang meliputi; deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel Penakluk Badai (1871-1898), deskripsi metode pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai, dan deskripsi media pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai;
  • BAB III : Temuan dan pembahasan penelitian novel Penakluk Badai yang meliputi; deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel Penakluk Badai (1899-1920), deskripsi metode pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai, dan deskripsi media pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai;
  • BAB IV : Temuan dan pembahasan penelitian novel Penakluk Badai yang meliputi; deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel Penakluk Badai (1921-1930), deskripsi metode pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai, dan deskripsi media pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai;
  • BAB V : Temuan dan pembahasan penelitian novel Penakluk Badai yang meliputi; deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel Penakluk Badai (1931-1947), deskripsi metode pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai, dan deskripsi media pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Penakluk Badai;
  • BAB VI : Penutup. Bab ini berisikan tentang kesimpulan pembahasan dan saran.
H. Landasan Teori
1. Pembentukan Karakter
    a. Pengertian Karakter
            Supaya kita lebih mudah memahami pendidikan karakter, kita mesti mengerti makna dari karakter itu sendiri terlebih dahulu. Pengertian karakter menurut pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, prilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamin, dan watak, sementara itu yang disebut dengan karakter ialah kepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak.
            Pendidikan Karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanaakn nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yanga Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.
            Aa Gym mengemukakan bahwa karakter itu terdiri dari empat hal, Pertama, ada karakter lemah: misal penakut, tidak berani mengambil resiko, pemalas, cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah, dan sebagainya. Kedua, karakter kuat: misal, tangguh, ulet, mempunyai daya juang tinggi, pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek: misal, licik, egois, serakah, sombong, pamer dan lain-lain dan Keempat, karakter kuat yaitu nilai-nilai utama yang menjadi pilar pendidik yaitu amanh dan keteladanan.
            Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skill). Makna karakter itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan berprilaku jelek dikatakan sebagai orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang prilakunya sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia.
            Pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlaq. Dalam penerapan pendidikan karakter, faktor yang harus dijadikan sebagai tujuan adalah terbentuknya kepribadian peserta didik supaya menjadi manusia yang baik, dan hal itu sama sekali tidak terikat dengan angka dan nilai. Dengan demikian dalam konteks pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter ialah pendidikan nilai, yakni penanaman nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa Indonesia.
            Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (Knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu sering kali dirangkum dalam sederetan sifat-sifat baik. Dengan demikian, maka pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar baku.
            Dalam kamus Inggris-Indonesia menyebutkan bahwa karakter berasal dari bahasa Inggris yaitu Charakter yang artinya watak atau sifat.
            Sedangkan menurut istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri, karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang, karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
            Kemudian diringkas lagi dalam tujuan pendidikan agama Islam yang secara umum mengutip pendapat Al-Abrasy lebih sederhananya yaitu: mengadakan pembentukan akhlak mulia, menyiapkan generasi yang siap menjalani hidup di dunia hingga akhirat dengan profesional.
            Dengan demikian seseorang dianggap memiliki karakter mulia apabila ia mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang potensi dirinya serta mampu mewujudkan potensi itu dalam sikap dan tingkah lakunya. Adapun ciri yang dapat dicermati pada seseorang yang mampu menmanfaatkan potensi dirinya adalah terpupuknya sikap-sikap terpuji.
            Peserta didik yang disebut berkarakter atau unggul adalah mereka yang selalu berusaha melakukan hal-hal bai, terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, negara dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasi (perasaanya).
            Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami niali-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama mnunia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
b. Faktor-faktor Yang Mepengaruhi Pembentukan Karakter
Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh stakeholder sekolah melalui berbagai media : buku panduan untuk orang tua (dan siswa), news untuk orang tua, pelatihan. Staf pengajar dan administrasi termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang dianut, Nilai-nilai ini merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang diyakini sekolah.
Siswa dan guru mengembangkan nilai-nilai yang dianut di kelas masing-masing. Memberikan dilema-dilema dalam mengajarkan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran. Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan. Mendiskusikan  masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran. Mendiskusikan masalah dengan orang tua apabila masalah dengan anak adalah masalah besar atau masalahnya tidak selesai Menurut Ratna Megawangi, Founder Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter:
Moral Knowing : Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik. Moral Feeling : Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya. Moral Action :Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcome dari dua tahap  sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior.
Dengan tiga tahapan ini, proses pembentukan karakter akan jauh dari kesan dan praktik doktrinasi yang menekan, justru sebaliknya, siswa akan mencintai berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri.
            Ada beberapa pendapat dari para ahli tentang nilai-nilai karakter seperti Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut yaitu: (1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, (3) jujur, (4) hormat dan santun, (5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama, (6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi, cinta damai dan persatuan.
            Sementara Character Counts di Amerika mengindentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar yaitu: (1) dapat dipercaya (trustworthiness), (2) rasa hormat dan perhatian (respect), (3) tanggung jawab (responsibility), (4) jujur (fairness), (5) peduli (caring), (6) kewarganegaraan (citizenship), (7) ketulusan (honesty), (8) berani (courage), (9) tekun (diligence), (10) integritas.
            Kemudian Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter ositif sesungguhnya akan merujuk kepada sifat-sifat mulia Allah, yaitu al-Asma al-Husna. Sifat-sifat dan nama-nama mulia Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang dirumuskan oleh siapapun. Dari sekian banyak karakter yang bisa diteladani dari nama-nama Allah itu, Ari merangkumnya dalam 7 karakter dasar, yaitu: (1) jujur, (2) tanggung jawab, (3) disiplin, (4) visioner, (5) adil, (6) peduli, (7) kerja sama.
            Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasioanl, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokrasi, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komonikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggungjawab. Dan 18 nilai inilah yang peneliti pilih sebagai nilai-nilai dasar telaah pendidikan karakter dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, karena nilai-nilai karakter tersebut dirumuskan oleh kementrian pendidikan nasional badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional.
c. Metode Pendidikan Karakter
            Doni A. Kusuma mengajukan lima metode pendidikan karakter (dalam penerapan di lembaga sekolah), yaitu:
a)      Mengajarkan
b)      Keteladanan
c)      Menentukan Prioritas
d)     Praktis Prioritas
e)      Refleksi
            Sedangkan metode yang peneliti gunakan dalam deskripsi metode pengajaran karakter dari novel Penakluk Badai hanya dua metode yakni:
a)      Mengajarkan
            Pemahaman konseptual tetap dibutuhkan sebagai bekal konsep-konsep nilai yang kemudian menjadi rujukan bagi pewujudan karakter tertentu, mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman pada peserta didik tentang struktur nilai tertentu, keutamaan (bila dilaksanakan), dan maslahatnya (bila tak dilaksanakan), mengajarkan nilai memiliki dua faedah, Pertama memberikan pengetahuan konseptual baru, Kedua menjadikan pembanding atas pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik, karena itu maka proses “mengajarkan” tidaklah monolog, melainkan melibatkan peran serta peserta didik.
b)      Keteladanan
            Manusia lebih banyak belajar dari apa yang mereka liat, keteladanan menempati posisi yang sangat penting. Guru harus terlebih dahulu memiliki karakter yang hendak diajarkan, guru adalah yang digugu dan ditiru, peserta didik akan meniru apa yang dilakukan gurunya daripada yang dikatakan guru, bahkan pepatah kuno memberikan peringatan pada para guru bahwa peserta didik akan meniru karakter negative secara lebih ekstrim daripada gurunya, “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari.”
            Keteladanan tidak hanya bersumber dari guru, melainkan juga dari seluruh manusia yang ada di lembaga pendidikan tersebut, juga bersumber dari orang tua, karib kerabat, dan siapapun yang sering berhubungan dengan peserta didik. Pada titik ini pendidikan karakter membutuhkan lingkungan pendidikan yang utuh, saling mengajarkan karakter.
d. Media Pendidikan
       Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau penganter. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
       Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Kumunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkanpesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang sisa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.
       Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan di antar batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
2. Pendidikan Moral, Akhlak, Karakter, Budi Pekerti
a.      Pendidikan Moral
            Perkataan “moral” berasal dari bahasa latin “mores” kata jama dari “mos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia moral diterjemahkan dengan arti susila. Lebih lanjut, Ya’kub menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan moral ialah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar. Jadi sesuai dengan ukutan tindakan-tindakan yang oleh umum diterima, yang meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu.
            Terminologi Pendidikan moral (moral education) dalam dua dekade terakhir secara umum digunakan untuk menjelaskan penyelidikan isu-isu etika di ruang kelas dan sekolah. Setelah itu, nilai-nilai pendidikan menjadi lebih umum. Pengajaran etika dalam pendidikan moral lebih cenderung pada penyampaian nilai-nilai yang benar dan nilai-nilai yang salah. Sedangkan penerapan nilai-nilai itu dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat tidak mendapatkan porsi yang memadai. Dengan kata lain, sangat normatif dan kurang bersinggungan dengan ranah afektif dan psikomotorik siswa. Namun demikian, terminologi ini bisa dikatakan sebagai terminologi tertua dalam menyebut pendidikan yang bertjuan mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan manusia.
            Abu A’la Maududi mengemukakan adanya moral Islam dalam buku: Ethical viewpoint of Islam dan memberikan garis tegas antara moral sekuler dan moral Islam. Moral sekuler bersumber dari pikiran dan prasangka manusia yang beraneka ragam. Sedangkan moral Islam bersandar pada bimbingan dan petunjuk dari Allah dalam Al-Qur’an.
b.      Pendidikan Akhlak
            Perkataan “Akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari “khuluqun” yang menurut logat diartian budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Rumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dan makhluk serta antara makhluk dan makhluk.
            Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Quran surah al-Qalam: 68 ayat 4.
وإنّك لعلى خلق عظيم (4)
            “sesungguhnya Engkau (ya Muhammad) mempunyai budi pekerti yang luhur”
            Demikian juga Hadits Nabi Saw:
إنّما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق
            “Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti.”
            (H.R. Ahmad)
            Atas dasar itu, akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan unutk melakukan apa yang harus diperbuat (Ahmad Amin dalam bukunya Akhlak).
            Sedangkan pendidikan akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Miskawih dan dikutib oleh Abudin Nata, merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk pada Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber tertinggi ajaran Islam.
            Mubarok mengemukakan bahwa akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan di mana perbuatan itu lahir dengan mudah tandpa memikirkan untung dan rugi. Orang yang berakhlak baik akan melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih apa pun. Demikian juga orang yang berakhlak buruk, melakukan keburukan secara spontan tanpa memikirkan akibat bagi dirinya maupun yang dijahati.
            Sedangkan Sa’adudin mengemukakan bahwa akhlak mengandung beberapa arti, di antaranya:
1.      Tabiat, yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan.
2.      Adat, yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan, yakni berdasarkan keinginan.
3.      Watak, cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat.
            Dengan demikian maka pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, Al-Qabisi, Ibn sina, Al-Ghazali dan Al-Zarnuji, menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku anak didik. Karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia.
c.       Pendidikan Karakter
            Sejak tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter mulai ramai dibicarakan. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya yang sangat memukau, The Return of Character Education sebagai buku yang menyadarkan Dunia Barat secara khusus di mana tempat Lickona hidup, dan seluruh dunia pendidikan secara umum, bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan. Inilah awal kebangkitan pendidikan karakter.
            Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan keaikan  (doing the good). Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu sering kali dirangkum dalam sederet sifat-sifat baik. Dengan demikian, maka pendidikan karaker adalah sebuah upaya untuk membimbing prilaku manusia menuju standar-standar baku.
            Upaya ini juga memberikan jalan untuk menghargai persepsi dan nilai-niali pribadi yang ditampilkan di sekolah. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan  etika, tetapi praktiknya meliputi perkembangan sosial siswa.
            Bila ditelusuri asal karakter berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia “karakter”, Yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, wtak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan  yang lain. Nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti prilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.
            Hornby & Parnwell karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Hermawan Kertajaya mendefinisikan karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ‘mesin’ pendorong bagaimana seorang tertindak, bersikap, berujar, dan merspons sesuatu.
            Istilah karakter dan kepribadian atau watak sering digunakan secara bertukar-tukar, tetapi Allport menunjukkan kata watak berarti normatif, serta mengatakan bahwa watak adakalah pengertian etis dan menyatakan bahwa Character is personality evaluated and personality is character devaluated (watak adalah kepribadian dinilai, dan kepribadian adalah watak yang tak dinilai).
            Karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar yang ada pada diri seseorang. Hal-hal yang sangat abstrak yang ada pada diri seseorang. Sering orang menyebutnya dengan tabiat atau perangai.
            Apa pun sebutannya karakter ini adalah sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya. Banyak yang memandang atau mengartiakannya identik dengan kepribadian. Karakter ini lebih sempit dari kepribadian dan hanya merupakan salah satu aspek kepribadian sebagaimana juga temperamen. Watak dan karakter berkenaan dengan kecenderungan penilaian tingkah laku individu berdasarkan standar-standar moral dan etika.
            Sikap dan tingkahlakuu seoran gindividu dinilai oleh masyarakat sekitarnya sebagai sikap dan tingkah laku yang diingikan atau ditolah, dipuji atau dicela, baik ataupun jahat.
            Dengan mengetahui adanya karakter (watak, sifat, tabiat ataupun perangai) seseorang dapat memperkirakan reaksi-reaksi dirinya terhadap berbagai fenomena yang muncul dalam diri ataupun hubungannya dengan orang lain, dalam berbagai keadaan serta bagaimana mengendalikannya.
            Karakter dapat ditemukan dalam sikap-sikap seseorang, terhadap dirinya, terhadap orang lain, terhadap tugas-tugas yang dipercayakan padanya dan dalam situasi-situasi yang lainnya.
            Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.
            Adapun tujuan pendidikan karater yang Islami adalah menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa.  Pekerjaan atau aktivitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari persoalan keyakinan hidup, ibadah yang menghubungkan manusia yang lemah dengan Tuhannya Yang Maha kuat, moralitas, aktivitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.
d.      Pendidikan Budi Pekerti
            Esensi dan makna budi pekerti sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Dalam konteks pendidikan di Indonesia pendidikan budi pekerti adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai yang luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
            Dalam hal ini, pengertian budi pekerti dapat dilihat dari berbaai aspek, yaitu: secara epistemologi budi pekerti berarti penampilan diri yang berbudi. Secara leksikal, budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak, dan watak. Dalam kosakata Arab adalah akhlak, dalam kosakata Latin/Yunani adalah ethos dan dalam kosakata Inggris adalah ethic. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata budi artinya akal (alat bantu untuk menimbang baik buruk, benar salah dan lain-lain), tabiat, akhlak, perangai, kesopanan. Jadi budi pekerti artinya perangai, akhlak, watak. Dan baik budi pekerti dapat diartikan baik hati.
            Secara operasional, budi pekerti adalah perilaku yang tercemin dalam kata, perbuatan, pikiran, sikap, perasaan, keinginan dan hasil karya.
            Dalam hal ini, budi pekerti diartikan sebagai sikap atau prilaku sehari-hari baik individu, keluarga, maupun masyarakat bangsa yang mengandung nilai-nilai persatuan dan kesatuan, integritas, dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem nilai moral, dan yang menjadi pedoman prilaku manusia Indonesia untuk bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan bersumbr pada falsafah Pancasila dan diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia.
            Budi pekerti memiliki hubungan dengan etika, akhlak dan moral. Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap kewajiban, dan sebagainya. Moral juga berarti akhlak, budi pekerti, dan susila. Istilah moral diartikan ajara tentang baik buruk tentang perbuatan dan kelakuan. Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti kebiasaan salah satu cabang filsafat yang dibatasi dengan nilai moral yang menyangkut apa yang diperbolehkan atau tidak, yang baik atau tidak baik, yang pantas atau tidak pantas pada prilaku manusia. Pendeknya, etika adalah batasan baik buruk.
            Sedangkan budi pekerti adalah hasil tingkah laku. Pendidikan budi pekerti pun dimaksudkan sebagai bimbingan/latihan untuk membentuk tingkah laku yang baik yang merupakan ungkapan/ekspresi dari nilai-nilai mulia. Pendidikan budi pekerti itu ialah pendidikan membentuk prilaku berdasarkan nilai-niali universal.
            Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ecara konseptual pendidikan budi pekerti merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap penerapannya di masa yang akan datang atau pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perbaikan perilaku peserta didik agar mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, seimbang lahir batin, jasmani rohani, material spiritual, individu sosial, dan dunia akhirat.
            Secara operasional pendidikan budi pekerti adalah upaya untuk membentuk perilaku peserta didik yang tecermin dalam kata, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja, dan hasil karya berdasarkan nilai, norma, dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.
3. Novel
a.      Pengertian Novel
            Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut. Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks, keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu perubahan nasib.
     b. Karakteristik Novel
            Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX. Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman, novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme, dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya. Berbeda dengan cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan.
     c. Ciri-ciri Novel
            Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias.
            Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita, dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2) Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan pendukung, sehingga novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novel terdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hingga terjalin sebuah cerita yang menarik.
     d. Unsur-unsur Novel
            Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c) alur atau plot, dan (d) tema.
a) Tokoh dan Penokohan
1) Tokoh
            Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.
2) Penokohan
            Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh adalah pemberian nama. Setiap nama memiliki daya yang menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh. Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan
pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4) pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan (8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.
            Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat
dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah karya sastra (novel).
b) Latar
            Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar, karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel) bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu. Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol minuman keras.
c) Alur atau Plot
            Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan cerita. Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebabakibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya (sebab akibat) alur dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarki (berurut-urut);
2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan sebab akibat, waktu kini ke waktu lampau;
3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu kini.
     Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu:
1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya;
2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak;
3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu;
4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimaks.
d) Tema
            Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan. Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.
     e. Bentuk-bentuk Tulisan Novel
            Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi, narasi, persuasi dan argumentasi.
            a) Deskripsi
            Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya sendiri.
            b) Eksposisi
            Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation (eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu.
            Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau
proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu. Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha memberitahukan pembacanya agar pembaca semakin luas pengetahuannya tentang suatu hal.
            c) Narasi
            Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu tertentu.
            Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat sekali.
            Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu, masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari masalah itu.
            d) Argumentasi
            Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan faktafakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut. Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif:
1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan;
2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan prasangka tertentu;
3. Penulis argumentatif berusaha untuk menghilangkan ketidaksepakatan;
4. Menetapkan secara tepat titik ketidaksamaan yang di argumentasikan.
            e) Persuasi
            Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa.
            Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara keduanya.
            Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan faktafakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi atau perasaan orang lain.
     f. Peran Novel
            Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya. Jadi, pada zaman dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya kebudayaan barat ke Indonesia.
            Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah perasaan si pembaca.

I.  Metode Penelitian
     1. Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian
            Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks dan juga unsur pengembangan karya sastra seperti alur, tokoh, setting dan tema. Dari pemahaman makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang terkandung dalam novel Penakluk Badai. Dan selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan pengkategoriannya.
            Karakteristik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri, yaitu: latar ilmiah, manusia sebagai alat instrumen, metode kualitatif, analisis data secara induktif dan deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua ciri, yaitu: manusia sebagai alat atau instrumen, maksudnya peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dan ciri kedua, deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Berdasarkan kedua ciri tersebut analisis pendidikan karakter dalam novel Penakluk Badai perlu dilakukan pembacaan dan telaah secara mendalam tentang makna kata-kata yang terdapat dalam dialog dan narasi cerita. Peneliti terlibat secara penuh dan aktif dalam mengapresiasi isi novel dan menemukan data-data utama yang menunjukkan pada permasalahan sesuai dengan rumusan masalah.
            Jenis penelitian ini berupa penelitian kepustakaan (Library Research). Penelitian kepustakaan ialah penelitian yang berusaha menghimpun data penelitian dari khazanah literatur dan menjadikan dunia teks sebagai obyek utama analisisnya. Sumber data penelitian diambil dari bahan-bahan kepustakaan seperti buku dan literatur lain yang relevan dengan penelitian.
     2. Data dan Sumber data
            Hubberman menegaskan data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandasan kokoh serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian, data verbal dapat difahami baik melalui alur peristiwa secara kronologis, narasi, maupun dialog yang dituangkan Aguk Irawan dalam novelnya Penakluk Badai harus disikapi sebagai kesatuan tutur yang lebih lengkap berupa kata, kalimat, serta paragraf sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.
            Sumber data utama dalam penelitian ini adalah naskah novel karya Aguk Irawan yang berjudul Penakluk Badai Karya ini memiliki latar belakang nilai pendidikan yang kuat pun juga penanaman pendidikan karakter yang direpresentasikan dalam novel ini memberikan suatu motivasi dan kontribusi yang luas biasa. Perolehan data tersebut dilakukan peneliti dengan cara mengidentifikasi data sesuai dengan arah permasalahan yang terurai dalam bab VI yakni hasil penelitian.
            Sedangkan sumber data sekundernya adalah berbagai literatur yang relevan dengan objek penelitian ini.
     3. Teknik Pengumpulan Data
            Peneliti menggunakan teknik telaah dokumen atau biasa disebut dengan studi dokumentasi dan wawancara. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Keuntungan telaah dokumen ini ialah bahwa bahan itu telah ada, telah tersedia dan siap pakai. Menggunakan bahan ini tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan. Dalam melaksanakan studi dokumentasi ini peneliti memilih novel Penakluk Badai sebagai bahan dalam pengumpulan data tersebut.   
            Langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian adalah sebagai berikut:
1. peneliti membaca secara komprehensif dan kritis yang dilanjutkan dengan mengamati, pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1898), pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1899-1920), pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1921-1930), pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1931-1947) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan,
2. peneliti mencatat paparan bahasa yang terdapat dalam dialog-dialog tokoh, prilaku tokoh, tuturan ekspresif maupun deskriptif dari peristiwa yang tersaji dalam novel, dan
3. peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis novel sesuai dengan rumusan masalah.
            Dari langkah-langkah di atas diperoleh data verbal sebagai berikut: (1) data berupa pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1898) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, (2) data berupa pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1899-1920) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, (3) data berupa  pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1921-1930) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, (4) data berupa pendidikan karakter Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1931-1947) yang terkandung dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan.
            Sementara wawancara dalam penelitian dikenal teknik wawancara-mendalam. Teknik ini biasanya melekat erat dengan penelitian kualitatif. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan yaitu penulis novel Penakluk Badai Aguk Irawan dan Mbah Muchid Muzadi sebagai salah satu murid Hadratu as-Syaik KH Hasyim Asy’ari, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Keunggulannya ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang banyak, sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi, maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat diperlukan.
            Wawancara atau istilah dari interview banyak dipakai peneliti sebagai teknik pengumpulan data pada penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Adapun langkah-langkah wawancara dalam praktik penelitian kualitatif adalah:
1.      Menentukan subjek wawancara atau narasumber yang akan memberi informasi atau data penelitian;
2.      Mempersiapkan pokok permasalahan yang menjadi topik pembicaraan sesuai dengan tujuan wawancara;
3.      Mengawali sesi pertemuan dengan pembukaan yang terkadang diselingi sedikit basa basi;
4.      Mulai melaksanakan wawancara menurut pedoman yang sudah disusun sambil membuat catatan kecil atau petikan wawancara;
5.      Menanyakan kebenaran dari kesimpulan wawancara kepada narasumber kemudian sesi wawancara ditutup;
6.      Menelisik dan menindaklanjuti hasil wawancara.

      4. Teknik Analisis Data
            Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangusung, dan setelah pengumpulan data dalam priode tertentu. Miles dan Hubernam dalam sugiyono mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu:
            a. Data Recuction (Reduksi Data)
            Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
            b. Data Display (Penyajian Data)
            Dalam penelitian kualitatif penyajiaian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, Flowchart dan sejenisnya. Yang paling seiring digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian data kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
            c. Conculusion Drawing/Verificaion
            Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penelitian kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
            Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan  adalah Content Analysis. Analisis Isi (Content Analysis) secara sederhana diartikan sebagai metode untuk mengumpulkan dan menganalisis muatan dari sebuah “teks”. Teks dapat berupa kata-kata, makna gambar, simbol, gagasan, tema dan bermacam bentuk pesan yang dapat dikomunikasikan. Analisis isi berusaha memahami data bukan sebagai kumpulan peristiwa fisik, tetapi sebagai gejala simbolik untuk mengungkap makna yang terkadang dalam sebuah teks, dan memperoleh pemahaman terhadap pesan yang direpsentasikan.
            Analisis isi adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-infrensi yang dapat ditiru (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Menurut Weber, Content Anlysis adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik suatu kesimpulan yang sahih dari pernyataan atau dokumen. Demikian juga dengan Holsi, yang mengartikan Content Analisys sebagai teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karkateristik pesan dan dilakukan secara obyektif dan sistematis.
            Sedangkan Berelsen mendefinisikan analisis isi sebagai teknis penelitian yang objektif, sistematis, dan deskriptif, analisis isi detekankan pada bagaimana peneliti memaknai isi komunikasi, membaca simbul-simbul, memaknakan isi interasi sibolik yang terjadi dalam komunikasi.
            Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode peneltian.
            a. Tidak dipakainya manusia sebagai objek penelitian sehingga analisis isi biasanya bersifat non-reaktif karena tidak ada orang yang diwawancarai, dimintai mengisis kuesioner ataupun yang dimintai datang ke laboratorium.
            b. Biaya yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan metode penelitian yang lain dan sumber data mudah diperoleh (misal di perpustakaan umum).
            c. Analisis isi dapat digunakan ketika penelitian survey tidak dapat dilakukan.
            d. Kesulitan menentukan sumber data yang memuat pesan-pesan yang relevan dengan permasalahan penelitian.
            e. Analisis isi tidak dapat dipakai untuk menguji hubungan antar variabel, tidak patat melihat sebagai akibat hanya dapat menerima kecenderungan (harus dikombinasikan dengan metde penelitian lain jika ingin menunjukkan hubungan sebab akibat).
            Menurut Patton dalam metodologi penelitian kualitatif, istilah analisis menyangkut kegiatan (1) pengurutan data sesuai dengan tahap permasalahan yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalitas tertentu sesuai dengan urutan pilihan dan pengkategorian yang akan dihasilkan, (3) penafsiran makna sesuai dengan masalah yang harus dijawab.
            Sesuai dengan masalah yang digarap dalam penelitian ini, maka kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) Pendidikan karakter Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1898) dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, (2) Pendidikan karakter Kiai Hasyim Asy’ari (1899-1920) dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, (3) Pendidikan karakter Kiai Hasyim Asy’ari (1921-1930) dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan, dan (4) Pendidikan karakter Kiai Hasyim Asy’ari (1931-1947) dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan. Pemahaman dan analisis tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi.
      5. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
            Sebagai upaya untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan beberapa teknik antara lain:
     a. Peneliti mengamati secara mendalam pada novel agar data yang ditemukan dapat dikelompokkan sesuai dengan kategori yang telah dibuat dengan tepat;
     b. Teknik berdiskusi dengan teman sejawat yang mengambil jurusan bahasa dan sastra yang hal ini peneliti berdiskusi dengan Muhammad War’i mahasiswa UIN Maliki Malang, fakultas Humaniora da Budaya semester 6;
c. Berdiskusi dengan pakar biografi (pendidikan karakter) Hadratu as-Syaikh KH Hasyim Asy’ari dalam kesempatan ini peneliti berdiskusi dengan Mbah Muchid Muzadi.
d. Berdiskusi dengan penulis novel Penakluk Badai, Aguk Irawan MN.
            Selain itu dalam pengumpulan data peneliti dipandu rambu-rambu yang berisi ketentuan studi dokumentasi tentang pendidikan karakter. Perolehan tersebut dilakukan peneliti dengan identifikasi data sesuai dengan arah permasalahan dalam penelitian. Adapun rambu-rambu tersebut antara lain:
1. Dengan bekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan yang dimiliki, peneliti membaca sumber data secara kritis cermat dan teliti. Peneliti membaca berulang-ulang untuk menghayati dan memahami secara kritis dan utuh terhadap sumber data;
2. Dengan berbekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan peneliti melakukan pembacaan sumber data secara berulang-ulang dan terus menerus secara berkesinambungan. Langkah ini diikuti kegiatan penandaan, pencatatan, dan pemberian kode (coding);
3. Peneliti membaca dan menandai bagian dokumen, catatan, dan transkripsi data yang akan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini dipandu dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: PT Syamil Cipta Media. 2004)

Analisis Isi Dalam Penelitian, (http://menulisproposal.blogspot.com diakses pada   14 Juni 2013).

Aqib, Zainal dan Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter (Bandung:      Yrama Widya, 2011)
Aunillah, Nurla Isna, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah,         (Jogjakarta: Laksana, 2011)

Ahuja, Pramila dan G.C. Ahuja, Membaca Secara Efektif dan Efisien (Jakarta: PT Kiblat Buku Utama. 2004).
AR, Muhammad, Pendidikan di Alaf Baru (Jogjakarta: Prismasophie. 2003)
Bungin, Burhan, Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003)

Baca juga mengenai persentase bobroknya moral anak bangsa dalam buku,             Pendidikan Karakter kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Drs. Dharma Kesuma, M.P, Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd, Dr. H. Johar Permana, MA.
Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X (Jakarta:
            Erlangga, 2004)

Daud, Abu, Babu Mataa yukmaru al-Ghulamu bi Al-Sholatu. Juz 2.

DEPDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka. 1989),

Eko Madyo, Agus S. Prospek Penerapan Mtode Analisis Isi (Content Analsysis)    dalam Penelitian Media Arsitektur (http://www.ar.itb.ac.id. Diakses pada           sabtu 14 Juni 2013)

Echolas, John M.  dan Hassan Shadly, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: PT.         Gramedia, 2006)

Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)
Fananie, Zainuddin, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press,   2000)
Gunawan, Drs. Ary H., Sosiologi Pendidikan (Suatu Analisis Sosiologi Tentang      Pelbagai Problem Pendidikan) (Jakarta: Rineka Cipta. 2010)
Hariwijaya, M, Metodologi dan Teknik Penulisan Skripsi,Tesis, dan Disertasi,         (Yogyakarta: elMatera Publishing , 2007)
Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Muhammadiyah            Malang,2004)
Hubberman, Michael, A. Miles, Mattew B, Analisis Data Kualitatif ( Jakarta:          UniversitasIndonesia, 1992)
Hidayatullah, M.Furqon, Guru Sejati: Membangun Isnsan Berkarktr Kuat dan        Cerdas (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010)

Haziq, KH. Ishomuddin, Irsyadu Al-Saarii Fii Jami’i Mushonnfaat Al-Syaikh         Hasyim Asy’ari (Jombang, Tebuireng: Maktabah Al-Turats Al-Islami.     1415 H)

Irawan, Aguk, Penakluk Badai (Depok: Global Media Utama. 2012).

Jawa Pos radar cirebon 12, september 2012, saat munas alim ulama nu        (OUTLINE WAWANCARA).

James P, Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.  
            2002)

Misrawi, Zuhairi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan dan          Kebangsaan (Jakarta : KOMPAS. 2010)

Majid, Abdul, S.Ag., M.Pd., Dian Andayani, S.Pd., M.Pd, Pendidikan Karakter    Perspektif Islam  (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011)

Muhaimin, Tema-Tema Pokok Dakwah Islam di Tengah Transpormasi Sosial,        (Surabaya:Karya Aditama. 1998)

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru (Bandung : PT     Remaja Rosdakarya. 2010)

Kopertais Wilayah IV, Pendidikan Karakter Menjadi Berkarakter Muslim-  Muslimah Indonesia (Surabaya: Kopertais IV Press. 2012)

Koesoema, Doni A, Pendidikan Karakter (Jakarta: Grasindo, 2007)

Khuluq, Latiful, Fajar Kebangkitan Ulama : Biografi KH. Hasyim Asy’ari             (Yogyakarta : LkiS. 2008)

Kopertais Wilayah IV, Pendidikan Karakter Menjadi Berkarakter Muslim-  Muslimah Indonesia (Surabaya: Kopertais IV Press. 2012)

Kementrian Pendidikan  Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat       Kurikulum, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Jakarta:   Balitbang Diknas, 2010)

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kuaitatif (Bandung: Remaja Rosda          Karya, 2002)
Muslim Babi Names, Nama –nama Islam (http: yahoo.com, diakses rabu 17 Juli     2013).
Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan   Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004)

Mandasari, Jihanta, “Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Ibu Hamil dengan       Usia Kehamilan” Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri   Malang 2005

Noer, Aly, Hery dan Munzier, Watak Pendidikan Islam, Jakarta Utara: Friska         Agung Insani. 2008, cet. III.

Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007)

Rifa’i, Muhammad, K.H. Hasyim Asy’ari (Biografi Singkat 1871-1947)       (Jogjakarta : GARASI. 2009)

Rakhmat, M.Sc, Drs. Jalaluddin, Psikologi Komunikasi Edisi Revisi (Bandung: PT             Remaja Rosdakarya. 2005)

Sadiman, M.Sc. Dr. Arief S.  dkk, Media Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers. 2011)
Sumardjo, Jakob, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif  Kualitatif dan RnD (Bandung: Alfabeta. 2008)

Tobroni, Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam          (http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/2011/pendidikan -karakter-dalam-           perspektif-islam-pendahuuan, diakses pada tanggal 14 Juni 2013)

Taljad, dkk. Dasar-dasar Kependidikan Islam Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan    Islam (Surabaya: Karya Aditama. 1996)

Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006)


Wiediastutik S, Rini, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup BerseriKarya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005)

Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S,         2004)
Yunanto, Sri Joko, Sumber belajar Anak Cerdas (Jakarta : PT Grasindo. 2005)