Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Wednesday, October 22, 2014

Nasab Anak Hasil Zina

Nasab Anak Hasil Zina
Makalah ini Disusun Untuk dipresentasikan pada Mata Kuliah Fiqih Kontemporer
Dosen Pengampu:
Dr. Tutik Hamidah .M.Ag

Oleh:
             Abdun Nafi Kurniawan, S.Pd.I    (13770029)

 MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH  PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014






=======================================================

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Keberadaan anak dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat berarti. Anak memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Anak merupakan penyambung keturunan, sebagai investasi masa depan, dan anak merupakan harapan untuk menjadi sandaran di kala usia lanjut. Ia dianggap sebagai modal untuk meninggkatkan peringkat hidup sehingga dapat mengontrol status sosial orang tua. Anak merupakan  pemegang keistimewaan orang tua, waktu orang tua masih hidup, anak sebagai penenang dan sewaktu orang tua telah meninggal, anak adalah lambang penerus dan lambang keabadian. Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan dengan orang tuanya, termasuk ciri khas, baik  maupun buruk, tinggi, maupun rendah. Anak adalah belahan jiwa dan potongan daging orang tuanya.[1]
     Begitu  pentingnya eksistensi anak dalam kehidupan manusia, maka Allah SWT mensyari’atkan adanya perkawinan. Pensyari’atan perkawinan memiliki tujuan antara lain untuk berketurunan (memiliki anak) yang baik, memelihara nasab, menghindarkan diri dari penyakit dan menciptakan kaluarga yang sakinah.
 Sebagaimana firman Allah SWT.,dalam surat al-Rum ayat 21:
 ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  
     Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendri supaya kamu cendrung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikin itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Q.S. Ar-rum : 21).[2]
     Oleh karena itu agama  Islam melarang perzinaan. Hukum  Islam memberi sanksi yang berat terhadap perbuatan zina. Karena zina  dapat mengakibatkan  ketidakjelasan  keturunan. Sehingga ketika lahir anak sebagai akibat dari perbuatan zina, maka akan ada keraguan tentang siapa bapaknya. Dengan adanya perkawinan setiap anak yang lahir dari tempat tidur suami, mutlak menjadi anak dari suami itu, tanpa memerlukan pengakuannya darinya.[3]
Hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an surat al-Isra’ : 32: 
 Ÿwur (#qç/tø)s? #oTÌh9$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. Zpt±Ås»sù uä!$yur WxÎ6y ÇÌËÈ  
Artinya : “Dan  janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S.Al-Isra:32). [4]
     Pergaulan bebas antara muda-mudi yang banyak terjadi sekarang ini, seringkali membawa kepada hal-hal yang negatif yang tidak dikehendaki, seperti hubungan sex luar nikah dan hamil luar nikah.  Hal ini disebabkan oleh adanya pergesekan budaya, sehingga pada saat ini menggejala dimasyarakat adanya hidup bersama antara seorang pria dan wanita tanpa adanya ikatan perkawinan.  Anak yang lahir di luar nikah mendapatkan  julukan dalam masyarakat sebagai anak haram, hal ini menimbulkan gangguan psikologis bagi anak, walaupun secara hukum anak tersebut tidak mempunyai akibat hukum dari perbuatan orang tuanya, namun banyak persoalan yang muncul akibat hamil luar nikah tersebut, seperti hubungan nasab antara anak dengan bapak biologisnya, dan lain sebagainya dari berbagai perspektif hukum.


B.    Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan antara lain:
1.   Bagaimana sebab- sebab ketetapan nasab dalam hukum Islam ?
2.   Bagaimana nasab anak hasil zina dalam hukum Islam?
C.    Tujuan Pembahasan
     Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan pada makalah ini antara lain :
1.     Untuk memahami sebab-sebab ketetapan nasab dalam hukum Islam
2.     Untuk memahami nasab anak hasil zina dalam hukum Islam





















BAB II
PEMBAHASAN
1)     PENGERTIAN NASAB
     Kata nasab secara etimologi berasal dari bahasa arab, yaitu nasaba- yansibu- nasaban, apabila  terdapat kalimat nasaba rojul berarti washofahu wadzakaro nasaba  memberikan ciri-ciri dan menyebutkan keturunannya .[5] kata nasab disebutkan juga dalam surah al-furqan ayat 54  sebagai berikut :
uqèdur Ï%©!$# t,n=y{ z`ÏB Ïä!$yJø9$# #ZŽ|³o0 ¼ã&s#yèyfsù $Y7|¡nS #\ôgϹur 3 tb%x.ur y7/u #\ƒÏs% ÇÎÍÈ  
     Artinya : Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[6] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.(Q.S. Al-Furqan : 54).[7]
     Al – qurthubi . menafsirkan ayat diatas, mengatakan bahwa kata nasaba dan sihron keduanya bersifat umum yang mencakup hubungan kerabat di antara manusia. [8]  dalam hal ini secara lebih jelas ibnu al-arabi sebagaimana dikutip oleh al-qurthubi menjelaskan bahwa nasab adalah istilah yang menggambarkan proses bercampurnya sperma laki – laki dan ovum seorang wanita atas dasar ketentuan syariat, jika melakukannya dengan cara maksiat, hal itu tidak lebih dari sekedar reproduksi biasa, bukan merupakan nasab yang benar, sehingga tidak bisa masuk dalam kandungan ayat tahrim.
     Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata nasab secara bahasa berarti keturunan atau kerabat.
     Nasab dalam kamus besar bahasa indonesia di artikan sebagai keturunan (terutama dari pihak bapak) atau pertalian keluarga. [9] hampir sama dengan definisi terakhir ini, dalam ensiklopedi islam, nasab di artikan sebagai keturunan atau kerabat, yaitu pertalian keluarga melalui akad nikah perkawinan yang sah. [10] 
     Adapun pengertian nasab secara terminologi tampaknya tidak dapat dipisahkan dengan pengertian secara etimologi diatas, yaitu keturunan atau kerabat. Dalam Ensiklopedi Indonesia, nasab didefinisikan sebagai keturunan ikatan keluarga sebagai hubungan darah, baik karena hubungan darah ke atas (bapak, kakek, ibu, nenek, dan seterusnya), ke bawah (anak, cucu, dan seterusnya) maupun ke samping (saudara, paman, bibi dan lain-lain). [11]
     Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nasab secara terminologi adalah pertalian kekeuargaan berdasarkan hubungan darah, baik ke atas, ke bawah maupun ke samping yang semuanya itu merupakan salah satu akibat dari perkawinan yang sah, perkawinan yang fasid dan hubungan badan secara subhat
2)     . PENGERTIAN ANAK HASIL ZINA
     Anak zina adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah. Sedangkan menurut Hassanain Makluf, bahwa anak zina adalah anak yang di lahirkan ibunya dari hubungan yang tidak sah.[12]
     Sedangkan menurut masjfuk zuhdi, anak zina adalah anak yang lahir di luar perkawinan yang sah. Sedang kan perkawinan yang di akui di indonesia, ialah perkawinan yang dilakukan menurut hukum masing- masing agamanya dan kepercayaannya, dan di catat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku ( pasal 2 (1) dan (2) UU No. 1/ 1974). Pencatatan perkawinan dilakukan oleh pegawai pencatat  dari KUA untuk mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut hukum islam.[13]
     Menurut hukum perdata islam, anak zina itu suci dari segala dosa orang yang menyebabkan eksistensinya di dunia ini, sesuai dengan hadist nabi Muhammad SAW.
Artinya : semua anak dilahirkan atas kesucian/ kebersihan (dari segala dosa/ noda), sehingga jelas bicaranya. Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anaknya menjadi yahudi atau nasrani atau majusi (Hadis riwayat abu ya’la, al- thabrani, dan Al- Baihaqi dari al- aswad bin sari).[14]
     Karena itu, anak zina harus diperlakukan secara manusiawi, diberi pendidikan, pengajaran, dan ketrampilan yang berguna untuk bekal hidupnya di masyarakat nanti. Yang bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan hidupnya– materiil dan spiritual- adalah terutama ibunya yang melahirkannya dan keluarga ibunya. Sebab anak zina hanya mempunyai hubungan nasab atau perdata dengan ibunya. 
3)     SEBAB – SEBAB KETETAPAN NASAB
     Para ulama sepakat bahwa nasab seseorang kepada ibunya terjadi disebabkan karena kehamilan disebabkan karena adanya hubungan seksual yang dilakukan dengan seorang laki-laki, baik hubungan itu dilakukan berdasarkan akad nikah maupun melalui perzinaan.[15]Amir Syarifuddin menyebutkannya dengan “kalau nasab kepada ibunya bersifat alamiah, maka (nasab) anak kepada ayah adalah hubungan hukum; yaitu terjadinya peristiwa hukum sebelumnya, dalam hal ini adalah perkawinan”.[16]
     Sedangkan nasab anak terhadap ayah kandungnya hanya bisa terjadi dan memungkinkan di bentuk melalui tiga cara, yaitu pertama melalui perkawinan yang sah, kedua, melalui perkawinan yang fasid atau batil, ketiga, melalui hubungan badan secara syubhat. [17]
     Adapun dasar-dasar tetapnya nasab dari seorang anak kepada bapaknya, bisa terjadi dikarenakan oleh beberapa hal yaitu :
1)  Melalui Pernikahan Yang Sah
                        Para ulama fiqh sepakat bahwa anak yang lahir dari seorang wanita dalam suatu perkawinan yang sah, dapat di nasabkan kepada suami wanita tersebut.  Mereka berdasarkan pendapat tersebut antara lain pada hadist :
الولد للفراش وللعاهر الحجر
Artinya :“anak itu bagi yang memiliki tempat tidur (bagi yang meniduri istri )dan bagi pezina hanya berhak mendapatkan batu hukuman”(HR. Muslim)
                        Maksud hadist di atas adalah penegasan bahwa nasab anak yang lahir dalam perkawinan yang sah atau fasid, dapat ditetapkan dan dihubungkan kepada ayah kandungnya. Akan tetapi, ketetapan ini tidak berlaku bagi pezina sebab nasab merupakan nikmat dan karunia besar dari allah SWT. Seorang lelaki pezina tidak akan mempunyai nasab dengan anak yang lahir akibat perbuatannya itu. [18]
                        Anak yang dilahirkan itu dinasabkan kepada suami ibu yang melahirkan dengan syarat antara lain :
·     Menurut kalangan hanafiyah anak itu dilahirkan enam bulan setelah perkawinan. Dan jumhur ulama menambahkan dengan syarat suami isteri itu telah melakukan senggama. Jika kelahiran itu kurang dari enam bulan, maka anak itu dapat dinasabkan kepada suami si wanita. Batasan enam bulan ini didasarkan pada kesepakatan para ulama, bahwa masa minimal kehamilan adalah enam bulan.Kesimpulan ini mereka ambil dari pemahaman beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya fiirman Allah SWT dalam surat al-Ahqaf ayat 15 yang berbunyi:
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ $·Z»|¡ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $\döä. çm÷Gyè|Êurur $\döä. ( ¼çmè=÷Hxqur ¼çmè=»|ÁÏùur tbqèW»n=rO #·öky­ 4 #Ó¨Lym #sŒÎ) x÷n=t/ ¼çn£ä©r& x÷n=t/ur z`ŠÏèt/ör& ZpuZy tA$s% Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& y7tFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur £t$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm9|Êös? ôxÎ=ô¹r&ur Í< Îû ûÓÉL­ƒÍhèŒ ( ÎoTÎ) àMö6è? y7øs9Î) ÎoTÎ)ur z`ÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÊÎÈ  
Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkan dengan susah payah pula, mengandung sampai menyapihnya adalah selama tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa : ya Tuhanku , tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya akau dapat berbuat amal sholeh yang engkau ridhai; berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada engkau dan sesungguhnya ajau termasuk orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Al-Ahqaf: 15 )[19] Dan firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 4 yang berbunyi:
tûïÏ%©!$# tbqßJÉ)ムno4qn=¢Á9$# tbqè?÷sãƒur no4qx.¨9$# Nèdur ÍotÅzFy$$Î/ öNèd tbqãZÏ%qムÇÍÈ  
 Artinya : Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya selama dua tahun”  (Q.S. Luqman: 4).[20]
  Dalam surat al-Ahqaf ayat dijelaskan bahwa masa kehamilan dan menyusui adalah 30 bulan, tanpa ada perincian berapa masa menyusui dan berapa masa kehamilan. Surat luqman ayat 14 menjelaskan masa menyusuai adalah 2 tahun atau 24 (dua puluh empat) bulan. Dari ini dapat dipahami masa minimal kehamilan adalah enam bulan. Pada masa Khalifah Usman Bin Affan pernah terjadi suatu peristiwa seorang wanita setelah enam bulan menikah, dia melahirkan. Suaminya merasa curiga dan melapor kepada Usman bin Affan. Dan Usaman bin Affan berencana merajamnya, karena diduga si wanita telah melakukan perzinahan dengan laki-laki lain. Masalahnya ini diketahui oleh Ibnu Abbas, kemudian dia berkata : “sesungguhnya jika wanita ini membela dirinya dengan memakai kitab allah (Al-Qur’an), niscaya kalian akan terkalahkan”. Kemudian Ibnu Abbas menyampaikan ayat di atas dengan menyimpulkannya bahwa masa minimal kehamilan bagi seorang wanita adalah enam bulan.
·     Laki-laki yang menjadi suami wanita tersebut haruslah seseorang yang memungkinkan memberikan berketurunan, yang menurut kesepakatan ulama adalah laki-laki yang sudah baligh.
·     Suami isteri pernah bertemu minimal satu kali setelah akad nikah. Hal ini disepakati oleh ulama.[21] Contoh: seorang wanita dari kawasan timur menikah dengan seorang laki-laki dari kawasan barat, dan mereka tidak bertemu selama satu tahun, tetapi anak lahir anak setelah enam bulan sejak akad dilangsungkan, maka anak yang dilahirkan tersebut dapat dinasabkan kepada suami wanita tersebut.
2)  Nasab yang ditetapkan melalui pernikahan fasid
                        Pernikah fasid adalah pernikahan yang dilangsungkan dalam keadaan cacat syarat sahnya. Misalnya menikahi wanita yang masih dalam masa iddah. Nikah yang dilakukan tanpa wali,  Menurut kesepakatan ulama fiqh penetapan nasab anak yang lahir dalam pernikahan fasid sama dengan penetapan nasab anak dalam pernikahan yang sah.
                        Ulama fiqih mengemukakan tiga syarat dalam penetapan nasab anak dalam pernikahan fasid ini, yaitu sebagai berikut :
a.    Suami mempunyai kemampuan menjadikan istrinya hamil, yaitu seorang yang baligh dan tidak mempunyai penyakit yang dapat menyebabkan istrinya tidak bisa hamil.
b.   Hubungan badan benar-benar terjadi dan dilakukan oleh pasangan yang bersangkutan.
c.    Anak dilahirkan dalam waktu enam bulan atau lebih setelah terjadinya akad nikah fasid tersebut (menurut jumhur ulama) dan sejak hubungan badan (menurut ulama mazdab hanafi). Jika anak itu lahir dalam waktu sebelum enam bulan setelah akad nikah atau melakukan hubungan badan, maka anak itu tidak bisa di nasabkan kepada suami wanita tersebut, karena bisa dipastikan anak yang lahir itu akibat hubungan dengan lelaki yang lain sebelumnya. 
3)  Nasab yang disebabkan hubungan badan secara syubhat.
                        Hubungan badan secara syubhat terdiri dari dua kata, yaitu hubungan badan dan syubhat yang antara keduanya dipisahkan oleh kata tambahan “secara”. Hubungan badan juga di sebut seks, bersenggama, bergaul suami istri, atau bersetubuh.[22]
                        Sedangkan kata syubhat berarti kemiripan, keserupaan, kesamaran, persamaan, dan ketidakjelasan. [23] dari beberapa kata syubhat ini yang paling tepat dan relevansinya dengan tema pembahasan adalah ketidakjelasan, sebab dalam arti syubhat dalam hukum adalah  sesuatu yang ketentuannya tidak diketahui secara pasti, apakah diharamkan atau dihalalkan.
   Senggama subhat maksudnya terjadinya hubungan seksual antara seorang laki-laki dengan seorang wanita yang dalam keyakinannya adalah isterinya. Nasab disini menjadi diakui bukan karena terjadinya pernikahan yang sah dan bukan pula karena adanya senggama dalam akad nikah yang fasid dan bukan pula dari perbutana zina, tetapi karena telah terjadi kesalahdugaan.
                        Contohnya : seorang suami menyetubuhi wanita yang ia duga wanita tersebut adalah istrinya, padahal setelah proses persetubuhan itu berlangsung, diketahuinya bahwa ternyata  wanita tersebut bukan istrinya (misalnya istri mempunyai saudara kembar yang tidak dikenal oleh suami sebelumnya)
4)     MACAM – MACAM ANAK HASIL ZINA/ DILUAR PERNIKAHAN
a.   Anak zina muhsan dan ghoiru muhsan
            Anak yang dilahirkan sebagai akibat zina muhsan dan ghairu muhsan disebut juga anak diluar nikah/zina. Zina muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang telah menikah, sedangkan zina ghairu muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang belum menikah, hukum islam tidak menganggap bahwa zina ghairu muhsan sebagai perbuatan biasa, tapi tetap dianggap sebagai perbuatan zina yang harus dikenakan hukuman. Hanya saja hukuman itu kuantitasnya berbeda, bagi pezina muhsan di rajam sampai mati, sedangkan pezina ghairu muhsan dicambuk 100 kali.
            Sedangkan anak yang terlahir karena akibat perbuatan zina tersebut, baik muhsan maupun ghairu muhsan tidak dibedakan, yaitu sama-sama hanya dinasabkan hanya kepada ibu yang melahirkan.
b.   Anak mula’anah
                        Anak yang dilahirkan dari seorang wanita yang dili’an suaminya. Kedudukan anak mula’anah ini hukumnya sama saja dengan anak zina. Ia tidak mengikuti nasab suami ibunya yang meli’an,[24] tetapi hanya mengikuti nasab ibunya yang melahirkan. Ketentuan ini berlaku juga terhadap hukum warisan, perkawinan dan lain-lain.[25]
c.   Anak syubhat
                        Anak yang kedudukannya tidak ada nasab dengan laki-laki yang menggauli ibunya, kecuali laki-laki itu mengakuinya.
                        Dalam kitab Al-Ahwal Al-syakhsyiah karangan Muhyidin sebagaimana dikutip Muhammad Jawad Mughniyah ditemukan “ bahwa nasab tidak dapat ditetapkan dengan syubhat macam apapun, kecuali orang yang syubhat itu mengakuinya, karena sebenarnya ia lebih mengakui tentang dirinya”.[26]
                        Hukum islam membedakan syubhat kepada dua bentuk, yaitu:
Pertama, anak yubhat yang dilahirkan dari syubhat perbuatan
Adalah hubungan seksual yang dilakukan karena suatu kesalahan, misalnya salah kamar
Kedua. Anak syubhat hukum
Anak yang dilahirkan dari suatu akad, misalnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita, kemudian diketahui bahwa wanita yang dinikahi tersebut adalah adik kandung sendiri atau saudara sepersusuan yang haram dinikahi.
                        Dalam syubhat hukum, setelah diketahui adanya kekeliruan itu, maka perkawinan mereka tersebut fasakh atau batal secara otomatis, mereka haram melakukan pernikahan dalam islam.
                        Adapun anak yang dilahirkan sebelum diketahui bahwa mereka tersebut ternyata punya hubungan mahram, dikategorikan anak sah, sedangkan anak yang dilahirkan sebagai akibat hubungan biologis setelah perkawinan mereka fasakh dikategorikan anak yang tidak sah.
5)     NASAB ANAK HASIL ZINA MENURUT HUKUM ISLAM
     Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa anak yang dilahirkan secara sah sesuai dengan ketentuan ajaran islam mempunyai kedudukan yang baik dan terhormat, anak itu mempunyai hubungan dengan ayah dan ibunya.[27]
     Para ulama sepakat menyatakan bahwa perzinaan bukan penyebab timbulnya hubungan nasab anak dengan ayahnya, sehingga anak zina tidak boleh dihubungkan dengan nasab ayahnya, meskipun secara biologis berasal dari benih laki-laki yang menzinai ibunya. Alasan mereka bahwa nasab itu merupakan karunia dan nikmat, sedangkan perzinaan itu merupakan tindak pidana yang sama sekali tidak layak mendapatkan balasan nikmat, melainkan balasan berupa hukuman, baik rajam, maupun  dera seratus kali dan pembuangan, selain itu alasan kuatnya adalah sabda nabi dalam sebuah hadist.[28]
     Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :”Anak itu bagi yang meniduri istri (secara sah) yaitu suami, sedangkan bagi pezina ia hanya berhak mendapat batu”. (HR. muslim)
     Hadis diatas telah disepakati oleh para ulama dari berbagai kalangan madzab sebagai alasan, bahwa perzinaan itu sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap sebab-sebab ketetapan nasab antara anak dengan ayah biologis yang menzinai ibunya. Implikasi dari tidak ada adanya  hubungan nasab antara anak dengan ayah akan sangat kelihatan dalam beberapa aspek yuridis, dimana lelaki yang secara biologis adalah ayah kandungnya itu berkedudukan sebagai orang lain, sehingga tidak wajib memberi nafkah, tidak ada hubungan waris-mewarisi, serta laki-laki pezina itu tidak menjadi wali dalam pernikahan anak perempuan zinanya, sebab antara keduanya tidak ada hubungan sama sekali dalam syariat islam.
     Untuk mengetahui secara hukum apakah anak dalam kandungan itu berasal dari suami ibu atau bukan, ditentukan masa kehamilannya, masa yang terpendek adalah enam bulan dan masa terpanjang galibnya adalah satu tahun. Dengan demikian, apabila seseorang perempuan melahirkan dalam keadaan perkawinan yang sah dengan seorang laki-laki, tetapi  jarak waktu antara terjadinya perkawinan dengan saat melahirkan kurang dari enam bulan, anak yang dilahirkannya bukan sah bagi suami ibunya.[29]
     Apabila seorang perempuan hamil sebagai akibat hubungan zina, kemudian dikawinkan dengan laki-laki yang menyebabkan kehamilan dan akhirnya melahirkan kandungannya lebih dari enam bulan dari waktu perkawinan dilakukan, dapatkah anak tersebut dinyatakan sebagai anak sah bagi kedua orang tuanya? Jawabnya, karena anak tersebut telah ada dalam kandungan sebelum terjadi perkawinan. Maka, meskipun ia lahir dalam perkawinan yang sah antara laki-laki yang mmenyebabkan kehamilan, katakanlah bapaknya dan ibunya yang melahirkannya, kedudukannya hanya menjadi sah dari ibunya saja, bukan anak sah dari bapaknya.[30]
Dalam hal anak diluar nikah ini, penulis membagi ke dalam dua kategori :
a.   Anak yang dibuahi tidak dalam pernikahan yang sah, namun dilahirkan dalam pernikahan yang sah.
                        Menurut Imam Malik dan imam Syafi’i, anak yang lahir setelah enam bulan dari perkawinan ibu dan bapaknya, anak itu dinasabkan kepada bapaknya. Jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan, maka anak itu dinasabkan kepada ibunya..[31]
b.   Anak yang dibuahi dan dilahirkan diluar pernikahan yang sah
                        Status anak diluar nikah dalam kategori yang kedua, disamakan statusnya dengan anak zina dan anak lian, oleh karena itu maka mempunyai akibat hukum sebagai berikut: (a). tidak ada hubungan nasab dengan bapaknya. Anak itu hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya. (b). tidak ada saling mewaris dengan bapaknya, karena hubungan nasab merupakan salah satu penyebab kerwarisan. (c). bapak tidak dapat menjadi wali bagi anak diluar nikah. Apabila anak diluar nikah itu kebetulan seorang perempuan dan sudah dewasa lalu akan menikah, maka ia tidak berhak dinikahkan oleh bapak biologisnya.[32]
     Dari uraian diatas dapat difahami bahwa anak baru dihubungkan nasabnya kepada ayahnya apabila ia dilahirkan dari pernikahan yang sah. Sedangkan anak hasil zina (di luar nikah) tidak dapat dihubungkan kepada ayahnya, melainkan dihubungkan kepada ibunya saja. [33]


6)     FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG STATUS ANAK HASIL ZINA
     Fatwa MUI  no: 11 tahun 2012 tentang “Kedudukan anak hasil zina dan perlakuan terhadapnya” Menetapkan: fatwa tentang anak hasil zina dan perlakuan terhadapnya
Pertama:   ketentuan umum
Di dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :
a)     Anak hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar pernikahan yang sah menurut ketentuan agama, dan merupakan jarimah (tindak pidana kejahatan).
b)     Hadd adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya telah ditetapkan oleh nash
c)     Ta’zir adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang menetapkan hukuman).
d)     Wasiat wajibah adalah kebijakan ulil amri (penguasa) yang mengharuskan laki-laki yang mengakibatkan lahirnya anak zina untuk berwasiat memberikan harta kepada anak hasil zina sepeninggalnya.
Kedua:   Ketentuan Hukum
a)     Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah,  waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.
b)     Anak hasil zina  hanya mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya.
c)     Anak hasil zina tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan oleh orang yang mengakibatkan kelahirannya
d)     Pezina dikenakan hukuman hadd oleh pihak yang berwenang, untuk kepentingan menjaga keturunan yang sah (hifzh al-nasl).
e)     Pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir lelaki pezina yang mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya untuk:
·     mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut;
·     memberikan harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah.
f)      Hukuman sebagaimana dimaksud nomor 5 bertujuan melindungi anak, bukan untuk mensahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya.[34]
     Dalil dasar yang di gunakan MUI dalam menentukan kedudukan anak hasil zina dan perlakuan terhadapnya :
Firman Allah SWT:
a.   Firman Allah yang mengatur nasab, antara lain :
uqèdur Ï%©!$# t,n=y{ z`ÏB Ïä!$yJø9$# #ZŽ|³o0 ¼ã&s#yèyfsù $Y7|¡nS #\ôgϹur 3 tb%x.ur y7/u #\ƒÏs% ÇÎÍÈ
Artinya“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS. Al-Furqan : 54)
b.   Firman Allah yang melarang perbuatan zina dan seluruh hal yang mendekatkan ke zina, antara lain:
Ÿwur (#qç/tø)s? #oTÌh9$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. Zpt±Ås»sù uä!$yur WxÎ6y ÇÌËÈ  
Artinya:“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk “ (QS. Al-Isra : 32)
c.   Firman Allah yang menjelaskan tentang pentingnya kejelasan nasab dan asal usul kekerabatan, antara lain:
$¨B Ÿ@yèy_ ª!$# 9@ã_tÏ9 `ÏiB Éú÷üt7ù=s% Îû ¾ÏmÏùöqy_ 4 $tBur Ÿ@yèy_ ãNä3y_ºurør& Ï«¯»©9$# tbrãÎg»sàè? £`åk÷]ÏB ö/ä3ÏG»yg¨Bé& 4 $tBur Ÿ@yèy_ öNä.uä!$uŠÏã÷Šr& öNä.uä!$oYö/r& 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä3ä9öqs% öNä3Ïdºuqøùr'Î/ ( ª!$#ur ãAqà)tƒ ¨,ysø9$# uqèdur Ïôgtƒ Ÿ@Î6¡¡9$# ÇÍÈ   öNèdqãã÷Š$# öNÎgͬ!$t/Ky uqèd äÝ|¡ø%r& yZÏã «!$# 4 bÎ*sù öN©9 (#þqßJn=÷ès? öNèduä!$t/#uä öNà6çRºuq÷zÎ*sù Îû ÈûïÏe$!$# öNä3Ï9ºuqtBur 4 }§øŠs9ur öNà6øn=tæ Óy$uZã_ !$yJÏù Oè?ù'sÜ÷zr& ¾ÏmÎ/ `Å3»s9ur $¨B ôNy£Jyès? öNä3ç/qè=è% 4 tb%Ÿ2ur ª!$# #Yqàÿxî $¸JŠÏm§ ÇÎÈ  
Artinya: “Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
                        Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. (QS. Al-Ahzab: 4 – 5).
ôã@Í´¯»n=ymur ãNà6ͬ!$oYö/r& tûïÉ©9$# ô`ÏB öNà6Î7»n=ô¹r& ÇËÌÈ  
Artinya : “.... (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu) “ (QS. Al-Nisa: 23).
d.   Firman Allah yang menegaskan bahwa seseorang itu tidak memikul dosa orang lain, demikian juga anak hasil zina tidak memikul dosa pezina, sebagaimana firman-Nya:
ö@è% uŽöxîr& «!$# ÓÈöö/r& $|/u uqèdur >u Èe@ä. &äóÓx« 4 Ÿwur Ü=Å¡õ3s? @à2 C§øÿtR žwÎ) $pköŽn=tæ 4 Ÿwur âÌs? ×ouÎ#ur uøÍr 3t÷zé& 4 §NèO 4n<Î) /ä3În/u ö/ä3ãèÅ_ó£D /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ öNçFZä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tGøƒrB ÇÊÏÍÈ  
Artinya :Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain526. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan. (QS. Al-An’am : 164)
bÎ) (#rãàÿõ3s?  cÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî öNä3Ztã ( Ÿwur 4ÓyÌötƒ ÍnÏŠ$t7ÏèÏ9 tøÿä3ø9$# ( bÎ)ur (#rãä3ô±n@ çm|Êötƒ öNä3s9 3 Ÿwur âÌs? ×ouÎ#ur uøÍr 3t÷zé& 3 §NèO 4n<Î) /ä3În/u öNà6ãèÅ_ö¨B Nä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? 4 ¼çm¯RÎ) 7OŠÎ=tæ ÏN#xÎ/ ÍrߐÁ9$# ÇÐÈ  
 Artinya :“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Al-Zumar: 7)
 Hadis Rasulullah SAW, antara lain:
a.      hadis yang menerangkan bahwa anak itu dinasabkan kepada pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy), sementara pezina harus diberi hukuman, antara lain:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ قَالَتْ فَلَمْ يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ.  
 رواه البخارى ومسلم
Dari ‘Aisyah ra bahwasanya ia berkata: Sa’d ibn Abi Waqqash dan Abd ibn Zam’ah berebut terhadap seorang anak lantas Sa’d berkata: Wahai Rasulallah, anak ini adalah anak saudara saya ‘Utbah ibn Abi Waqqash dia sampaikan ke saya bahwasanya ia adalah anaknya, lihatlah kemiripannya. ‘Abd ibn Zum’ah juga berkata: “Anak ini saudaraku wahai Rasulullah, ia terlahir dari pemilik kasur (firasy) ayahku dari ibunya. Lantas Rasulullah saw melihat rupa anak tersebut dan beliau melihat keserupaan yang jelas dengan ‘Utbah, lalu Rasul bersabda: “Anak ini saudaramu wahai ‘Abd ibn Zum’ah.  Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah (dihukum) batu, dan berhijablah darinya wahai Saudah Binti Zam’ah. Aisyah berkata: ia tidak pernah melihat Saudah sama sekali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
 لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر.
 رواه أبو داود
“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: seseorang berkata: Ya rasulallah, sesungguhnya si fulan itu anak saya, saya menzinai ibunya ketika masih masa jahiliyyah, rasulullah saw pun bersabda: “tidak ada pengakuan anak dalam Islam, telah lewat urusan di masa jahiliyyah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah  batu (dihukum)” (HR. Abu Dawud)
b.     hadis yang menerangkan bahwa anak hazil zina dinasabkan kepada ibunya, antara lain:
رواه أبو داود " لأهل أمه من كانوا" . قال النبي صلى الله عليه وسلم في ولد الزنا
Nabi saw bersabda tentang anak hasil zina: “Bagi keluarga ibunya ...” (HR. Abu Dawud)
c.      hadis yang menerangkan tidak adanya hubungan kewarisan antara anak hasil zina dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya, antara lain:
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال  أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد زنا ، لا يرث ولا يورث  رواه الترمذ
 “Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah saw bersabda: Setiap orang yang menzinai perempuan baik merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi dan tidak mewariskan“. (HR. Al-Turmudzi)
d.     hadis yang menerangkan bahwa anak terlahir di dunia itu dalam keadaan fitrah, tanpa dosa, antara lain:
عن ‏أبي هريرة ‏رضي الله عنه قال ‏‏قال النبي ‏صلى الله عليه وسلم ‏كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه  رواه البخارى ومسلم 
Dari Abi Hurairah ra ia berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi. (HR al-Bukhari dan Muslim)
7)     ANALISIS  
     Diantara tujuan disyariatkannya ajaran hukum islam adalah untuk memelihara dan menjaga keturunan atau nasab. Dalam rangka memelihara nasab ini disyariatkanlah nikah sebagai cara yang di pandang sah untuk menjaga dan memelihara kemurnian nasab.
     Pergaulan bebas antara muda-mudi yang banyak terjadi sekarang ini, seringkali membawa kepada hal-hal yang negatif yang tidak dikehendaki, seperti hubungan sex luar nikah dan hamil luar nikah.  Hal ini disebabkan oleh adanya pergesekan budaya, sehingga pada saat ini menggejala dimasyarakat adanya hidup bersama antara seorang pria dan wanita tanpa adanya ikatan perkawinan.  Anak yang lahir di luar nikah mendapatkan  julukan dalam masyarakat sebagai anak haram, hal ini menimbulkan gangguan psikologis bagi anak, walaupun secara hukum anak tersebut tidak mempunyai akibat hukum dari perbuatan orang tuanya, namun banyak persoalan yang muncul akibat hamil luar nikah tersebut,
     Menurut analisis yang saya lakukan terhadap kasus keperdataaan anak yang lahir di luar nikah tersebut memang masuk dalam kasus hukum perdata karena menyangkut hubungan antar pribadi (anak dan orang tua) di dalam memenuhi kepentingan-kepentingan anak, dan kasus ini juga berhubungan dengan hak seorang anak dalam memperoleh nafkah dan warisan dari ke-2 orang tuanya. Sebenarnya saya sangat setuju dengan keputusan MUI yang intinya melindungi hak anak yang lahir di luar nikah. Anak yang lahir diluar nikah tersebut pada hakikatnya sama dengan anak-anak lain yang lahir dalam orang tua yang memiliki ikatan perkawinan karena sama-sama terlahir sebagai makluk yang fitrah artinya bersih dari dosa / kesalahan apa pun, dan jika ada yang harus dipersalahkan dari adanya kasus anak yang dilahirkan diluar nikah yaitu orang tuanya sebab orang tua tersebut yang menyebabkan lahirnya anak yang lahir di luar nikah tersebut. Sebagai anak yang terlahir tanpa dosa, mereka layak mendapatkan perlakuan hukum yang sama dengan anak-anak yang lainnya, karena mereka juga tidak meminta dilahirkan dari hasil zina orang tuanya. Untuk itu, pemerintah  harus membuat undang-undang baru yang menghukum dengan tegas dan memberi efek jera terhadap para pelaku zina dan orang orang yang hendak melakukan zina. Dengan kata lain hak anak yang lahir diluar nikah memang harus dilindungi secara hukum dan mendapat perlakuan yang sama di mata hukum dengan anak-anak lainnya yang terlahir dalam ikatan perkawinan orang tuanya, yaitu dengan memberikan mereka hak-hak yang sama mengenai tanggung jawab kepengurusan yang harus diberikan dari ke-2 orang tuanya kepada mereka baik itu hak nasab, perwalian, warisan dan pemberian nafkah. Akan untuk menghindari meluasnya kasus semacam ini tetapi perlu dibuat hukum secara tegas yang menghukum seberat mungkin para pelaku zina agar kasus zina yang mengakibatkan lahirnya anak diluar nikah dapat berkurang atau bahkan dihilangkan dari negara Indonesia tercinta ini.










BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Para ulama sepakat bahwa nasab seseorang kepada ibunya terjadi disebabkan karena kehamilan disebabkan karena adanya hubungan seksual yang dilakukan dengan seorang laki-laki, baik hubungan itu dilakukan berdasarkan akad nikah maupun melalui perzinaan.
            Sedangkan nasab anak terhadap ayah kandungnya hanya bisa terjadi dan memungkinkan di bentuk melalui tiga cara, yaitu pertama melalui perkawinan yang sah, kedua, melalui perkawinan yang fasid atau batil, ketiga, melalui hubungan badan secara syubhat.
            Para ulama sepakat menyatakan bahwa perzinaan bukan penyebab timbulnya hubungan nasab anak dengan ayahnya, sehingga anak zina tidak boleh dihubungkan dengan nasab ayahnya, meskipun secara biologis berasal dari benih laki-laki yang menzinai ibunya. Alasan mereka bahwa nasab itu merupakan karunia dan nikmat, sedangkan perzinaan itu merupakan tindak pidana yang sama sekali tidak layak mendapatkan balasan nikmat, melainkan balasan berupa hukuman, baik rajam, maupun  dera seratus kali dan pembuangan,
            Sedangkan anak hasil zina (di luar nikah) tidak dapat dihubungkan kepada ayahnya, melainkan dihubungkan kepada ibunya saja.









DAFTAR PUSTAKA
 Al-Qadhawi, Yusuf. Halal  dan Haram dalam Islam, (Surabaya: PT Bina Ilmu,    1976),
Azhar Basyir, Ahmad, Hukum Perkawinan Islam,(Yogyakarta; UII Pres, 1999)
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Bandung : CV. J-Art,     2005)
Hasan, M. Ali, Azas-azas Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukun Islam di Indonesia,(Jakarta: Raja wali Press, 1997),
Irfan, Nurul, Nasab Dan Status Anak Dalam Hukum Islam, (Jakarta ; Amzah,        2012),
Jawad Mughniyah, Muhammad,Al-Fighu Madzahibil Al-Khomsah             Terj.muhammad basrie,(Jakarta : Pres, 1994),
Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta:       Kencana, 2006)
Sudrajat, Ajat , Fikih aktual, (Ponorogo: STAIN Po Press, 2008),
Syarifuddin, Amir, Meretas Kebekuan Ijtihad; Isu-isu penting hukum Islam             kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Ciputat Press, 2002),
Tim penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai pustaka, 1988),
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, (Jakarta ; Ichtiar baru van hoeve,1993)
Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia (Jakarta ; Ichtiar baru van hoeve,1990),
Tim penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta; Ichtiar baru hoeve, 1997),     
Tim Penyusun, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: PT pustaka     firdaus, 1996)
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah; Kapita Selekta Hukum Islam,(Jakarta : CV.      Haji Masagung: 1989)




               [1] Yusuf al-Qadhawi, Halal  dan Haram dalam Islam, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1976), Hal. 256-258
               [2] Departemen agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Bandung : CV. J-Art, 2005) Hal. 406
               [3] Yusuf al- qardhawi. Op.cit. Hal. 304-306
               [4] Departemen agama RI. Op.cit. Hal. 285
               [5] Nurul Irfan, Nasab Dan Status Anak Dalam Hukum Islam, (Jakarta ; Amzah, 2012), Hal, 27
               [6] Mushaharah artinya hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya
               [7] Departemen agama RI. Op.cit. Hal. 364
               [8] Nurul Irfan.Op.Cit. Hal. 27 Lihat al-qurthubi, Al- Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an (Beirut : dar Al-fikr, tt) jilid 13, Hal 59
               [9] Tim penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai pustaka, 1988), cet, pertama, Hal. 609
               [10] Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, (Jakarta ; Ichtiar baru van hoeve,1993) cet. Pertama, Hal. 13
               [11] Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia (Jakarta ; Ichtiar baru van hoeve,1990), Hal. 2337
               [12] Ajat Sudrajat, Fikih aktual, (Ponorogo: STAIN Po Press, 2008), Hal. 95
               [13] Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah; Kapita Selekta Hukum Islam,(Jakarta : CV. Haji Masagung: 1989), Hal . 34
               [14] Ibid. Hal. 35. Lihat.  Al-suyuti, Al-Jami’ Al-Shaghir, vol. II, (Cairo: Musthafa Al-babi Al- halabi,1954), Hal. 17 
               [15] Lihat Wahbah al- Zuhailiy, Al-Fiqh al- Islamiy wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), cet. Ke-2 . Hal. 7247
               [16]Amir Syarifuddin, Meretas Kebekuan Ijtihad; Isu-isu penting hukum Islam kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Hal. 198
               [17] Tim penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta; Ichtiar baru hoeve, 1997), cet pertama, jilid 4, Hal, 104
               [18] M. Nurul Irfan, Nasab Dan Status Anak Dalam Hukum Islam (Jakarta; Amzah. 2012 ) Hal. 79-80
               [19] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.op.cit.  Hal 504
               [20]  Ibid. Hal 411
               [21] Ibid, Hal. 80-81
               [22] Ibid. Hal. 95
               [23] Tim Penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: ichtiar baru van Hoeve,1997),cet. Pertama, jilid 6, Hal.1715
               [24] Menurut istilah li’an yaitu sumpah dengan redaksi tertentu yang diucapkan suami bahwa isterinya telah berzina atau ia menolak bayi yang lahir dari isterinya sebagai anak kandungnya, dan kemudian sang isteri pun bersumpah bahwa tuduhan suaminya yang dialamatkan kepada dirinya itu bohong.
               [25] Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), Hal. 83
               [26] Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fighu Madzahibil Al-Khomsah Terj.muhammad basrie,(Jakarta : Pres, 1994), Hal. 106
               [27] Tim Penyusun, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 1996) Hal. 106
               [28] Nurul irfan. Op.cit. Hal. 114-115
               [29] Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam,(Yogyakarta; UII Pres, 1999) Hal.106
               [30] Ibid. Hal. 106
               [31] M. Ali Hasan, Azas-azas Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukun Islam di Indonesia,(Jakarta: Raja wali Press, 1997), Hal. 81
               [32] Amir Syarifuddin, Meretas Kebekuan Ijtihad; Isu-isu penting hukum Islam kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Ciputat Press, 2002).Hal 195
               [33] Tim Penyusun, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 1996) Hal.109
               [34] Nurul irfan,op.cit. Hal. 256-257