Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Thursday, November 13, 2014

HUKUM FOTO PREWEDDING



MATA KULIAH: KAJIAN FIQIH KONTEMPORER

 Oleh:
Moch. Hafidz Abror 
(13770048)

Dosen Pengampu :
Dr. Tutik Hamidah M.Ag



PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014


=========================================== 


Kata Pengantar
            Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Alloh SWT atas berkat kasih dan rahmatNya. tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Dr. Tutik Hamidah M.Ag sebagai doseen pembimbing sehingga tugas pembelajaran ini terselesaikan demi peningkatan kualitas Pendidikan.
            Makalah ini disusun sebagai sarana untuk lebih mendalami dan lebih mengetahui Hukum Prewedding dalam kaca mata Islam. Di dalam penulisan tugas ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangatlah penting demi perbaikan penulisan selanjutnya. 
Untuk semua pihak yang turut membantu dalam memberikan bimbingan serta bantuan dari penyusunan sampai terselesaikannya makalah ini.
 
            Akhirnya penulis berharap semoga penyusunan laporan bermanfaat bagi kita semua, khususya bagi pihak yang memerlukan.

Malang, Nopember 2014





Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang..................................................................................... 3
b.     Rumusan Masalah................................................................................ 4

BAB II
PEMBAHASAN
a.      Deskripsi Pre Wedding........................................................................ 5
b.     Dalil dan metode memahami dalil ..................................................... 7
c.      Pendapat ‘ulama dan hujjah mereka.................................................... 11
d.     Analisis pendapat ulama...................................................................... 12
e.      Pendapat yang dipilih dan hujjah yang digunakan.............................. 12

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 14





BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [Q.S Ar-Rum 30 : 21]
            Demikian ayat Allah dalam Al-Quran yang merupakan suatu tanda-tanda kekuasaannya dan sifat Rahman dan Rahimnya. Sebagai makhluk hidup yang diberikan hasrat dan pikiran, tentunya Allah Mengetahui qodrat dari hambaNya. Semua Allah jadikan berpasangan. Bukan hanya dengan manusia, dari benda bahkan sifat Allah buat berpasangan. Yang tinggi berpasangan dengan yang rendah. Yang besar berpasangan dengan yang kecil. Maha Suci Allah..., karena perbedaan itu bisa saling melengkapi di antara sesamanya.
            Allah menjadikan kita manusia dengan perbedaan jenis kelamin. Ada laki-laki dan perempuan yang memang diciptakan untuk berpasangan. Untuk saling melengkapi, saling kasih sayang dan beribadah untuk menggapai ridho Ilahi. Akan tetapi semua itu bukanlah hal yang hanya didasarkan oleh kehendak nafsu saja, melainkan ada aturan atau ketentuan yang menjadi tata tertibnya sehingga hubungan itu suci, halal dan tidak menyalahi agama. Artinya di antara laki-laki dan perempuan yang akan hidup bersama harus ada suatu ikatan yyang menyatukan mereka sebagai pasangan yang syah sebagai suami isteri. Tapi bagaimana jika seandainya itu terjadi sebelum atau dengan tiada ikatan yang sah?
            Dalam hal ini penulis akan mengangkat hal yang sangat banyak di antara kita yang tidak mengangap ini sebagai etika dan aturan. Foto sebelum nikah atau sering disebut dengan istilah kerennya Foto Pra-wedding, sudah bukan hal yang asing kita lihat. Sewaktu kita menghadiri undangan-undangan pernikahan, jarang foto-foto itu gak kita lihat. Karna entah dasar apa atau motivasi apa, untuk masa sekarang ini foto-foto itu bahkan dah menjadi salah satu syarat syah nya acara. Dengan bangganya memajangkan foto-foto mesra yang belum pada Haknya...,
Ya, namanya berfoto sebelum nikah, artinya berfoto dan bermesraan dengan orang yang bukan Mahram-nya.
            Bagaimana sebenarnya Islam memandang hal ini, apakah memang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan ataukah boleh dilakukan dengan beberapa syarat tertentu? Bagaimana Para Ulama' berpendapat mengenai hukum serta pandangan islam mengenai foto Pre Wedding ini.


b. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik pertanyaan sebagai berikut :
  1. Apakah pengertian foto pre wedding ?
  2. Bagaimanakah Islam memandang foto prewedding ?




Bab II
Pembahasan
 a. Deskripsi masalah
            Istilah itu mungkin anda sudah kenal dengan baik, tapi tidak sedikit yang belum tahu apa makna, apa maksudnya, dan apa pula sedapnya 'pre wedding' itu. 
Pre dari kata dalam bahasa Indonesia pra yang berarti sebelum atau di depan.[1] Wedding berasal dari katadalam bahasa Inggris "wed" yang artinya kawin, dan ada imbuhan / gerund (+ing) yang berarti perkawinan.[2]
            Sedikit penjelasan sederhana 'pre wedding' itu, sebenarnya sebuah kegiatan pra pernikahan yang dilakukan calon pasangan pengantin berupa pengambilan gambar (pemotretan) oleh photografer, agar pasangan ini terlihat serasi, romantis, elegan, anggun atau supaya sedap dipandang mata.
            Soal tujuannya dan apa diperlukan, bisa ditinjau dari beberapa aspek. Dari calon Penganten bisa perlu bisa tidak, juga tergantung uang / dana yang anda miliki. Tapi jika anda seorang yang beragama yang taat, tentu kegiatan 'pre wedding' ini tak perlu. Apalagi adegan dalam sesi pemotretan itu terkadang cukup mesra, dekat dan sangat 'mengundang'. Tapi bagi pengusaha / photografer dibidang ini tentu saja akan mengatakan sangat perlu dengan segudang alasan yang masuk akal, gaya pemasaranlah yang dipakai.[3]
            Asal muasalnya Foto Prewedding mungkin paling tepat diawali saat industri fotografi berkembang pesat di wilayah Cina Daratan pasca terbukanya sistem Ekonomi Cina di tahun 90an, dari yang sangat Komunis menjadi nyerempet2 Kapitalis.
            Saat itu wilayah Cina kebanjiran produk Elektronik dari Jepang, Korea & Taiwan. Investor pun rebutan bikin pabrik Elektronik di Cina, karena Production Costnya cukup murah (terutama birokrasi & ijin usaha)

Dan tentunya saat itu wilayah Asia Timur sedang getol2nya Sinetron Asia (kaya Meteor Garden gitu deh...).
            Nah, sebagai perangkat iklan dari Sinetron tersebut...tentunya digunakan media poster seperti layaknya film2 besar. Namun dengan pengolahan sederhana, property seadanya dengan olahan warna terang2 benderang khas Asia. Pastinya dengan pose mendukung nan mesra seperti biasa.
            Nah, Entah siapa yang pencetusnya, timbulah ide untuk membuat sebuah acara pernikahan seperti sebuah acara Premiere Film. Umumnya dekorasi ruang acara bertebaran Poster & Foto dari film tersebut, dimana tetap seperti itu hingga sekarang.
            Jadi, berawal dari niat seperti itu....banyak yang membuat acara pernikahan menjadi seperti acara launching film. Foyer bertaburan foto, Mezzanine yang meriah, dll.
            Seperti biasa, otak bisnis bangsa Cina berkerja sangat cepat mengikuti perkembangan pasar. Tidak hanya kalangan atas saja yang pengen kaya gitu, tapi juga kelas menengah ke bawah.
            Hingga mulailah prospek bisnis baru yang bernama Fotografi Prewedding, dan berkembang di Taiwan, Hongkong, Jepang, hingga akhirnya menyentuh kepulauan Indonesia yang tercinta ini...
            Salah seorang teman pernah menceritakan, bahwa di sana industri Fotografi ini malah sudah seperti Produksi "Ban Berjalan".
Dalam 1 studio misalnya ada 5 set. Nah, para calon pengantin ngantri deh untuk difoto. Pasangan A foto di set 1, sedangkan pasangan B nunggu. Pasangan A selesai dan pindah ke set 2, Pasangan B foto di set 1, Pasangan C nunggu. Pasangan A selesai dan pindah ke set 3, Pasangan B selesai dan pindah ke set 3, Pasangan C foto di set 1, Pasangan D nunggu.
Begitu seterusnya.....[4]



b. Dalil dan metode memahami dalil
            Dalil yang secara khusus digunakan untuk memahami makna prewedding ini memang tidak ada, karena istilah prewedding ini munculnya memang masih baru, sehingga yang bisa penulis lakukan adalah menghukumi dengan menggunakan illat - illat yang ada.
            Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman,
  وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢
 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32).
Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya. Begitu pula tidak boleh menerjang hal-hal yang mendekati dan mendorong untuk berbuat zina. Demikian kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Nabi Muhammad Saw bersabda :
”Hati-hatilah kamu untuk menyepi dengan wanita, demi zat yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, tidak ada seorang lelakipun yang menyendiri dengan wanita, melainkan setan masuk di antara keduanya. Demi Allah, seandainya seorang laki-laki berdesakan dengan batu yang berlumuran (lumpur/ lempeng hitam ) yang busuk adalah lebih baik baginya dari pada harus berdesakan dengan pundak wanita yang tidak halal.”(Diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam kitab Al-Mu’jam al-Kabir Juz VIII h.205 dan 7830). [5]
Jadi, dalil di atas secara umum menunjukkan terlarangnya zina dan hal-hal yang mendekati zina, termasuk di sini adalah berdua-duaan saat foto pre-wedding.

Beberapa Kesalahan dalam Foto Pre Wedding
1- Ikhtilat dan Kholwat
            Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan.
            Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ
“Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171)
ومنه الصلاة ليلة الرغائب أول جمعة من رجب، وليلة النصف من شعبان. ومنه الوقوف ليلة عرفة أو المشعر الحرام، والاجتماع ليالي الختوم آخر رمضان، ونصب المنابر والخطب عليها، فيكره ما لم يكن فيه اختلاط الرجال بالنساء بأن تتضام أجسامهم. فإنه حرام وفسق[6].

2- Membuka aurat
            Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar.
            Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
            Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan,
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ
Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
            Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban).
            Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu.

3- Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram
            Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras,
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

4- Tabarruj yang tidak dibolehkan
            Wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).
            Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi).
            Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat,
وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31).

5- Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman)
            Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi.
Ada hadits yang menyebutkan,
أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ »
            Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat.

c. Pendapat ‘ulama dan hujjah mereka
            Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan fatwa bahwa foto pre wedding adalah haram. Prof. Dr. Abdullah Syah, MA. mengatakan bahwa foto pre wedding yang dimaksud adalah foto mesra calon suami dan calon istri yang dilakukan sebelum akad nikah. Foto pre-wedding diharamkan karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam.[7]
            Forum Bahtsul Masail Putri ke-12 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri kemarin juga menetapkan haram bagi kegiatan fotografi pra nikah (pre wedding). Forum santri tersebut menganjurkan pemotretan itu dilakukan setelah akad nikah untuk menghindari perbuatan maksiat.[8]
            Ringkasnya, foto pre wedding diharamkan karena dengan 2 pertimbangan, yang pertama yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan karena dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan.

d. Analisis pendapat ulama
            Pendapat - pendapat tentang hukum foto prewedding di atas adalah sama- sama haram berdasarkan keharaman  illat- illat yang ada.  diantaranya :
·        Ikhtilat dan Kholwat
·        Membuka aurat
·        Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram
·        Tabarruj yang tidak dibolehkan
·        Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman)

e. Pendapat yang dipilih dan hujjah yang digunakan.

Penulis Sangat setuju dengan pendapat diatas bahwasanya foto prewedding adalah haram. jika kita menghendaki foto prewedding yang halal dengan tujuan supaya mengenalkan calon mempelai kepada tamu undangan maka tetap bisa kita lakukan dengan menghilangkan lima macam illat diatas.  
            Misalnya, bukan foto mereka berdua, tapi hanya pas foto mereka masing-masing yang dipotret secara terpisah, lalu dipasangnya berdampingan tanpa menggambarkan posisi tubuh mereka yang berangkulan.
            Pas foto masing-masing yang difoto terpisah akan memberikan gambaran jelas bahwa mereka inilah memang calon suami dan isteri yang punya hajatan, tapi mereka tidak dalam posisi bersama atau berduaan. dengan menutup aurat, tanpa berhias yang berlebihan, Menurut hemat kami, ini lebih aman dan bisa dijadikan salah satu solusi, bila terpaksa harus menggunakan foto di kartu undangan.
            Tapi yang paling aman adalah akad nikah dulu sebelum pengambilan gambar, lalu pada sampul kartu undangan dituliskan bahwa photo ini diambil setelah akad nikah dilangsungkan. Ditanggung aman dan nyaman 100%



Bab III
PENUTUP

 Kesimpulan
            Sebenarnya sebuah kegiatan pra pernikahan yang dilakukan calon pasangan pengantin berupa pengambilan gambar (pemotretan) oleh photografer, agar pasangan ini terlihat serasi, romantis, elegan, anggun atau supaya sedap dipandang mata.
            Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan calon mempelai kepada orang- orang yang akan di undang.
            Hukum asal dari foto prewedding ini adalah haram berdasarkan alasan adanya kholwat, bersentuh-bersentuhan lawan jenis, terkadang membuka aurat, dan bermesra-mesraan padahal diantara keduanya belum ada ikatan pernikahan yang sah.




DAFTAR PUSTAKA

Darul Azka dan M. Zainuri, Potret Ideal hubungan suami Istri,’Uqud al-Lujjayn  dalam disharmoni Modernitas dan Teks-teks Religious(Kediri : Lajnah Bahtsul Masa’il, 2006)

I’anah Al-Tholibin vol. I hlm. 272

Kamus modern bahasa Indonesia, Drs. Rizky Maulana, CV. Lima Bintang

Kamus lengkap 500 milyar inggris indonesia,Puthot tunggal handayani, Giri utama Surabaya .

http://grandqueen.blogspot.com/2012/06/pre-wedding.html

http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194354086

http://news.okezone.com/read/2011/02/06/340/421890/mui-sumut-haramkan-tato-dan-foto-pre-wedding

http://www.tempo.co/read/news/2010/01/15/058219308/Dinilai-Maksiat-Foto-Pre-Wedding-Dinyatakan-Haram





[1] Kamus modern bahasa Indonesia, Drs. Rizky Maulana, CV. Lima Bintang. hal. hal. 332
[2] Kamus lengkap 500 milyar inggris indonesia,Puthot tunggal handayani, Giri utama Surabaya hal. 264
[3] http://grandqueen.blogspot.com/2012/06/pre-wedding.html
[4] http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194354086
[5] Darul Azka dan M. Zainuri, Potret Ideal hubungan suami Istri,’Uqud al-Lujjayn  dalam disharmoni Modernitas dan Teks-teks Religious(Kediri : Lajnah Bahtsul Masa’il, 2006),234.
[6] I’anah Al-Tholibin vol. I hlm. 272

[7] http://news.okezone.com/read/2011/02/06/340/421890/mui-sumut-haramkan-tato-dan-foto-pre-wedding
[8] http://www.tempo.co/read/news/2010/01/15/058219308/Dinilai-Maksiat-Foto-Pre-Wedding-Dinyatakan-Haram