Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, September 9, 2011

Makalah Ilmu Hadist PENGERTIAN SUNNAH, HADIST, ATSAR DAN KHOBAR SERTA PERBEDAAN AL QUR’AN, HADIST NABI DAN HADIS QUDSI

PENDAHULUAN
Hadits yang dipahami sebagai pernyataan, perbuatan, persetujuan dan hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad saw. Dalam tradisi Islam, hadits diyakini sebagai sumber ajaran agama kedua setelah al-Quran. Disamping itu hadits juga memiliki fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayt al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS: an-Nahl ayat 44. Hadits tersebut merupakan teks kedua, sabda-sabda nabi dalam perannya sebagai pembimbing bagi masyarakat yang beriman. Akan tetapi, pengambilan hadits sebagai dasar bukanlah hal yang mudah. Mengingat banyaknya persoalan yang terdapat dalam hadits itu sendiri. Sehingga dalam berhujjah dengan hadits tidaklah serta merta asal comot suatu hadits sebagai sumber ajaran.
Adanya rentang waktu yang panjang antara Nabi dengan masa pembukuan hadits adalah salah satu problem. Perjalanan yang panjang dapat memberikan peluang adanya penambahan atau pengurangan terhadap materi hadits. Selain itu, rantai perawi yang banyak juga turut memberikan kontribusi permasalahan dalam meneliti hadits sebelum akhirnya digunakan sebagai sumber ajaran agama. Mengingat banyaknya permasalahan, maka kajian-kajian hadits semakin meningkat, sehingga upaya terhadap penjagaan hadits itu sendiri secara historis telah dimulai sejak masa sahabat yang dilakukan secara selektif.
Para muhaddisin, dalam menentukan dapat diterimanya suatu hadits tidak mencukupkan diri hanya pada terpenuhinya syarat-syarat diterimanya rawi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena mata rantai rawi yang teruntai dalam sanad-sanadnya sangatlah panjang. Oleh karena itu, haruslah terpenuhinya syarat-syarat lain yang memastikan kebenaran perpindahan hadits di sela-sela mata rantai sanad tersebut.
2
PEMBAHASAN
I. Pengertian
a. Sunah
Menurut bahasa (terminologi) kata “sunah” artinya jalan1 sedangkan menurut etimologi (istilah) adalah perkataan atau perbuatan atau pengakuan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.
Contoh perkataan Rasulullah SAW.
(.....................................................)
Artinya : Dari Abu Hurairah, r.a berkata: bersabda rasulullah SAW : “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu”
Contoh perbuatan Rasulullah SAW
(...............................................................)
Artinya: Dari al Zuhri berkata : Salim Bin Abdillah mengkabarkan kepada kami bahwasannya Abdullah Bin Umar r.a berkata : aku melihat Nabi SAW membuka sholat dengan takbir, maka mengangkat kedua tangannya dan menjadikannya sejajar dengan kedua bahunya.
Contoh taqrir Nabi SAW
(...........................................................)
Artinya : Dari Kholid Bin Walid r.a berkata : Nabi SAW dihidangkan dengan daging biawak panggang, kemudian beliau dipersilahkan untuk memakannya, kemudian dikatakan kepada beliau sesungguhnya itu adalah biawak, maka beliau menahan tangannya (dari mengambil daging), maka berkata Kholid apakah daging itu haram, beliau bersabda: “tidak, akan tetapi

daging itu tidak di kampungku”, kemudian ia meminta ma’af dan memakannya sedangkan Rasulullah SAW melihatnya.
b. Hadist
Pengertian hadist menurut bahasa berarti baru5 (antonim dari yang terdahulu6). Adapun makna hadist menurut istilah, para ahli hadist menyatakan bahwa hadist adalah ungkapan lain (synomim) dari al Sunnah akan tetapi pada awal mulanya hadist dan sunnah memiliki perbedaan dalam penggunaannya7. Abu al Baqo’ mengatakan bahwa lafal Hadist adalah kata benda dari al tahdist yang berarti mengkabarkan, memberitakan. Kemudian lafal itu dinisbahkan kepada Nabi SAW. Dari perkataan, perbuatan dan pengakuannya. Awal mula penggunaan sunah berbeda dengan hadist. sunah mengikuti maknanya secara bahasa yang berarti jalan agama yang ditempuh oleh Nabi SAW. Pada sejarahnya yang suci. Maka apabila hadist hadist itu bersifat umum yang mencakup perkataan dan perbuatannya sedangkan sunah khusus pada perbuatan-perbuatan Nabi. Hal ini dipahami dari pernyataan para ahli hadist :
إمام فى الحديث، وإمام فى السنة، وإمام فيها معا
“Adalah seorang imam dalam Hadist, imam pula dalam sunah dan imam pula dalam keduanya” Sebagian ulama mengatakan hadist dikhususkan pada perkataan dan perbuatan dan sunnah lebih umum dari hadist8. pengistilahan hadist dan sunah menjadi satu makna muncul atas pemahaman para kritikus Hadist. muncul dibenak mereka bahwa sunah adalah jalan kenabian yang dipertegas melalui sabdanya yang bijaksana dan pokok pembahasan dalam hadist dan sunah adalah sama. Keduanya memiliki ruang lingkup yang sama yang berujung pada Nabi SAW dalam sabdanya yang dipertegas dengan perbuatannya dan perbuatannya yang dipertegas dengan perkataannya.
c. Khobar
Menurut bahasa Khobar adalah al naba’ yang berarti kabar, sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat yaitu sebagai berikut :

1). Synonim dari hadist
2). Apa yang bersumber dari selain nabi ( Kabar dari raja-raja, penguasa, cerita lampau)9
3). lebih umum dari hadist
d. Atsar
Menurut bahasa atsar adalah baqiyah al Syai’ yang artinya bekas dari sesuatu sedangkan menurut istilah terdapat dua pendapat :
1) Synonym dari hadist sebagaimana diungkapkan oleh Imam Nawawi bahwasannya para ahli hadist menamankan hadist Marfu’ dan Mauquf sebagai Atsar.
2) Apa yang bersumber dari sahabat
Setelah kita mengetahui makna dari hadist, sunnah, Khobar, Atsar baik dari segi bahasa dan istilah maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keempat kata tersebut adalah satu arti yaitu perkataan, perbuatan dan pengakuan baik yang disandarkan kepada Rosulullah SAW, Sahabat dan Tabiin.
II. Perbedaan al Qur’an, hadist nabi dan Hadist qudsi
*Al Qur’an : -------, Menyentuh harus dalam keadaan suci, Tidak diperbolehkan meriwayatkan dengan makna, Dibaca pada waktu sholat, Dilarang untuk jual beli, Membaca dihitung sebagai ibadah, Lafadznya mutawatir.
= Hadist nabi : Disandarkan kepada nabi, Tidak, Boleh, Tidak, Boleh, Tidak, Boleh, Tidak, Ada dan tidak.
= Hadist Qudsi : Disandarkan kepada allah SWT, Tidak harus, Boleh, Tidak, Boleh,  Tidak, Ada dan tidak.

III. SIMPULAN
Sunah adalah perkataan atau perbuatan atau pengakuan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. hadist menurut istilah, para ahli hadist menyatakan bahwa hadist adalah ungkapan lain (synomim) dari al Sunnah. Dan adapula yang berpendapat hadist dikhususkan pada perkataan dan perbuatan dan sunnah lebih umum dari hadist, begitu pula dan Atsar dan Khobar.
IV. DAFTAR PUSTAKA
al Maliki, Sayyid Muhammad alwi. Manhal al Lathif Fi Ushūl al Hadist. Penerbit : Wuzarāh al a’lām. 1990.
al Bukhor,i Abu Abdillah Muhammad. Shahih al Bukhori, Cd Room.
al Khotib ,Muh. Ujaj. Ushul al Hadist ulumuhu Wa mustholahuhu. Beirut : Dar al Fikr. 1989.
al Thohhan, Mahmud. Taisir al Mustholah al Hadist. Tp . th 2000.
al Suyuthi, Al Imam Jalal al Din. Tadrib al Rowi Fi Syarh taqrib al Nawawi. Beirut : DKI. 2002.
as Sholih, Subh. Ulum al Hadist Wa Mustholahuhu. Beirut : Dar al ilmu li al Malayin

2 comments: