Monday, October 10, 2011

Filsafat Islam : Pengertian : Filsafat dan Objeknya, Masuk Filsafat (Cikal Bakal) Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya.

    I. Pendahuluan
    Banyak asumsi yang terdengar oleh kita dari sebagian mahasiswa yang mengatakan bahwa berbincang mengenai filsafat Islam bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits. Padahal, yang dibicarakan di dalamnya adalah masalah-masalah yang tidak ditemukan penegasannya dalam Al Qur’an dan hatdits. Dengan kata lain, filsafat dari filosof Muslim (filsafat Islam) ini dapat disebut hasil ijtihad, sama posisinya dengan hasil ijtihad ahli fiqih dalam bidang hukum Islam dan termasuk kebudayaan.
    Pernyataan di atas merupakan gambaran bahwa berfilsafat bagaikan perkara yang tidak bisa dilakukan selai mereka yang “hebat”, padahal apabila setiap orang yang memiliki kemauan, maka tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan dan bahkan orang tersebut dapat melakukan hal yang semustahil apapun “bentuknya”.
    Menjadi penting membaca isi makalah ini dikarenakan pada makalah ini penulis akan mejelaskan pengertian akan filsafat dan filsafat Islam beserta sejarah pertumbuhan filsafat Islam dan perkembangannya.
    Tidak mudah untuk menjadi orang yang berkemampuan membuat makalah yang sempurna maka dari itu, penulis selalu memintak keritikan dan saran yang membangun kepada teman sekalian guna penyempurnaan makalah ini (filsafat Islam).
    Adapun topik bahasan yang akan penulis jabarkan sebagai berikut :
I. Pendahuluan
II. Pembahasan
A.    Pengertian Filsafat dan Objeknya
B.    Pengeritn Filsafat Islam
C.    Masuknya Filsafat (cikal-bakal Filsafat Islam)
D.    Kemuculan dan Perkembangan Filsafat Islam
III. Kesimpulan








II. Pembahasan
    Mengawali tulisan ini penulis menganggap bahwa selayaknya sebelum kita membahas lebih luas akan filsafat Islam, kita terlebih dahulu membahas apa itu yang dimaksud dengan filsafat.
A. Pengertian Filsafat dan Objeknya
    Para sejarawan filsafat berpendapat bahwa pengguna pertama kata filsafat ia adalah Pythagoras (w.497 SM). Filsafat adalah kata majemuk yang berasal dari bahasa Yunani yakni philosophia dan philosophos. Philo, berarti cinta (loving), sedangkan sophia atau sophos, berartikan pengetahuan atu kebijaksanaan (wisdom).   فلسف-بفلسف-فلسفة senada artinya dengan تفلسف dengan artian berfilsafat. Namun kiranya kata falsafah dengan model Arabic written dari bentuk masdarnya فلسفة  atau dalam kamus besar bahasa Indonesia lebih akrab disebut dengan filsafat. 
    Mengenai definisi filsafat ini sendiri sudah menjadi maklum begitu beragam tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tetap tujuan kesemua definisi itu ingin mengenalkan filsafat dengan mudah. Sehingga definisi simple menjelaskan bahwa filsafat adalah hasil proses berpikir rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan secara mendasar  (radikal). Sekaligus definisi ini merupakan ciri dari berpikir filsafat.
    Adapun objek bahasan filsafat terbagi menjadi tiga bahasan pokok :
    Ontologi atau dalam filsafat Islam lebih dikenal dengan sebutan al-wujud;
    Epistemology (al-Ma’rifat);
    Aksiologi (al-Qayyim).
B. Pengertian Filsafat Islam
    Budhy Munawar-Rachman membeberkan definisi filsafat Islam sebagi suatu cara (untuk) memberikan penjelasan tentang Islam secara rasional dan liberal. 
    Leon Gauthier, E. brehier, dan Dugat dua orientalis ini, mengemukakan pandangan yang berbeda dengan para ilmuan pendahulu mereka (Orientalis abad ke-19 seperti Tennemann dan E. Renan walaupun pada akhirnya Renan tobat (menyadari keunikan filsafat yang diciptakan orang muslim)) bahwa filsafat Islam itu memiliki karakteristik tersendiri. Begitupun Renan yang mulanya sebagai gembong propaganda nasiolisme terang-terangan salah dengan kesimpulan sementaranya yang menyatakan Islam memerangi ilmu dan filsafat, namun pada kesempatan berikutnya justru mengatakan bahwa orang-orang Islam telah menciptakan suatu filsafat tersendiri yang memiliki ciri-ciri yang khas.
    Jelas bahwa filsafat Islam benar-benar ada dan bukan pengalihan bahasa atau jiplakan dari filsafat Yunani. Walaupun sebenarnya seluruh bangunan filsafat Islam, baik materi maupun bentuknya, diambil terutama dari bahan-bahan Yunani atau yang disimpulkan dari ide-ide Yunani memang telah banyak dilakukan oleh para filsuf muslim, namun (tetap) warna”Yunani”-nya lebih menonjol daripada “Islam”-nya.  Setidaknya hal ini tampak karena pemegang kendali ilmu pengetahuan di dunia ini bergiliran, silih berganti dari satu bangsa ke bangsa lain (Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam 2004. Hlm. 11). Sehingga pengaruh keilmuan itu akan mewarnai keilmuan-keilmuan berikutnya. Secara sederhana karakteristik filsafat Islam dapat dirangkum menjadi tiga.
    Filsafat Islam membahas apa yang telah menjadi bahasan oleh filsafat Yunani dan lainnya seperti ketuhannan, ruh, dan roh. Bahkan lebih dari itu, filsafat Islam senantiasa melakukan inovasi di dalamnya.
    Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas filsafat sebelumnya seperti filsafat kenabian (al-nazhariyyat al-nubuwwat) yang pembahasan lebih lanjutnya akan lebih gamblang dijelaskan oleh tulisan makalah berikutnya.
    Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan filsafat (sebagaimana yang dilakukan oleh Al Kindi), antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal. Poin ke-tiga ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ahmad Zainul Hamdi (37-40) dalam lima karakteristik para fulusuf Islam yang ia cantumkan yaitu salah satunya adalah mereka “filosuf Muslim” mempunyai kesamaan dalam melihat kebenaaran Al Qur’an, dan ajaran Islam sehari-hari. Tidak seorang pun dari para filsuf  ini yang berani meragukan kebenaran Al Qur’an, atau menyimpang dari ajaran pokok Islam—barangkali hanya ar-Razi (yang tidak mengakui kenabian dan kemukjizatan Al-Qur’an. Ahmad Zainul Hamdi, hlm. 2), tetapi ini pun masih diperdebatkan.( Ahmad Zainul Hamdi, hlm. 37).
C. Masuknya Filsafat (cikal-bakal Filsafat Islam)
    Pemikiran filsafat masuk ke dalam dunia Islam akibat pengaruh filsafat Yunani yang menyertai kaum Muslimin pada abad ke-8 M atau abad ke-2 H di Suriah, Mesopotamia, Persia, dan Mesir. Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab.
    Usaha penerjemahan yang berlangsung kurang lebih satu setengah abad (abad ke-1 hingga abad ke-7 H-137-159 H/754-775 M pada pemerintahan Al Mansur hingga mencapai puncaknya pada kepemimpinan Al Makmun) ini tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga naskah-naskah dari berbagai bahasa, seperti bahasa Persia, Siria, India.
    Tidak dapat dipungkiri lagi, dengan membeludaknya penerjemahan ini telah menciptakan banyak karya filsafat beserta cabangnya yang melimpah.
    Kegiatan penerjemahan ini adalah awal dari munculnya tiga kelompok ahli ilmu pengetahuan :
    Pertama, mereka yang memusatkan perhatian pada cabang-cabang ilmu pengetahuan saja. Kelompok pertama ini disebut para ilmuwan. Kedua, mereka yang selain mengkaji dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan juga memusatkan perhatian pada bidang filsafat. Kelompok kedua dinamakan para filsuf. Ketiga, yakni mereka yang berupaya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat untuk keperluan berteologi. Kelompok yang terakhir ini disebut para teolog.
D. Kemunculan dan Perkembangan Filsafat Islam
    Ilmu filsafat dalam Islam pertama kali muncul dan berkembang di wilayah-wilayah Islam belahan timur, terutama di Baghdad. Baru tiga abad kemudian, ilmu filsafat ini berkembang luas di dunia Islam belahan barat yang berpusat di Cordoba (Spanyol).
    Keterlambatan tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa buku-buku yang dihasilkan di dunia Islam belahan timur baru masuk secara besar-besaran ke dunia Islam belahan barat sejak paruh kedua abad ke-4 H dengan dorongan dan bantuan dari pihak penguasa, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Hakam II (350-366 H/937-953 M) di Andalusia.
    Berkembangnya ilmu filsafat di dunia Islam ini pada akhirnya telah melahirkan sejumlah filsuf terkenal dari kalangan Muslim. Mereka antara lain al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.
    Dengan memanfaatkan materi filsafat dari para filsuf Yunani, seperti Plato, Aristoteles, Pythagoras, Demokritos dan Plotinus, serta berpegang teguh pada ajaran Alquran dan hadis Nabi SAW, para filsuf Muslim membangun satu corak filsafat baru yang kini dikenal sebagai filsafat Islam.
III. Kesimpulan
    Berfilsafat adalah langkah yang tepat untuk menjadi yang terdepan “from zero to hero”. Karena ternyata dengannya, mampu membuka cakrawala berfikir kita. Dr. A. Hasyim Muzadi suatu waktu berkata yang intinya, semua karya itu baik, namun terlepas siapa yang memandang. Menjadi maklum dalam kalangan ilmuan muslim bahwa banyak dalil Naqli dan Aqli yang mendukung statemen ini (mohon dilacak).




Daftar Pustaka
Ahmad Hanafi, MA, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta : PT Bulan Bintang. 1990.

Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi, Pengantar Filsafat, Bandung : PT Retika Aditama. 2009.
Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. 2004.
Ahmad Zainul Hamdi, Tuju Filsuf Muslim pembuka pintu gerbang filsafat barat modern, Yogyakarta : Pustaka Pesantren. 2004.

2 comments: