Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup

Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, Kesiapan Hidup
Al Hikam Malang Jl. Cengger Ayam 25 : Pesantren Mahasiswa yang Santri & Santri yang Mahasiswa

Friday, October 7, 2011

TAKHRIJ AL-HADIS, Definisi, Cara Menelusuri Hadits, Menggunakan Fasilitas Komputer


TAKHRIJ AL-HADIS
Pembimbing : Drs. Damanhuri, MA
Disusun oleh : Sahroni

 I.      Definisi Takhrij al-Hadis
Takhrij secara kebahasaan memiliki akar kata kharaja (keluar), kharraja, yukharriju, takhrij. Istilah ini juga berarti : istinbath (menggali, megeluarkan), tadrib (pembiasaan, latihan) taujih (penjelasan), ibraz (mengeluarkan), dan idzhar (melahirkan).[1]  
Pada dasarnya takhrij berarti berkumpulnya dua perkara yang berbeda dalam satu kesatuan.[2] Dalam Eksiklopedi Islam disebutkan bahwa takhrij adalah menyatukan dua perkara yang berbeda dalam satu kesatuan.[3]
Menurut ulama hadis tahkrij memiliki beberapa arti : [4]
  1. Takhrij adalah mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad, yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh
b.      Takhrij adalah pengungkapan ulama hadis terhadap berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis, atau berbagai kitab, atau lainnya. Kemudian susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, guru, temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayat dari para penyusun kitab yang karyanya dijadikan sumber rujukan.
c.       Takhrij berarti menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrijnya langsung (yakni para periwayat yang juga menghimpun hadis yang mereka riwayatkan).

Sedangkan menurut istilah takhrij berarti upaya untuk mengetahui sumber kitab utama suatu hadis, menelusuri dan menilai rangkaian silsilah (sanad) para periwayat (rijal) hadis tersebut, menjelaskan tingkatannya, serta mempertimbangakan apakah hadis tersebut dapat dijadikan dalili suatau hukum (hujjah) atau tidak.[5]
Mahmud Thahhan dalam bukunya Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid mendefinisikan bahwa takhrij adalah menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli, yakni berbagai kitab yang didalamnya dikemukakan hadis itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing. Kemudian untuk kepentingan penelitian dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.[6] Dalam versi lain takhrij adalah penyebutan penulis (muallif) terhadap hadis lengkap dengan sanad dalam kitabnya. Seperti ungkapan“ Hadits ini dikeluarkan oleh fulan” yaitu dia menyebutkan hadis tersebut dalam kitabnya lengkap dengan sanadnya.[7]
Menurut Hatim ibn Arif as-Syarif dalam at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, takhrij adalah menisbatkan letak asal hadis pada sumbernya yang asal, atau kemudian pada sumber sekunder (pendukung) atau dan kitab yang memuat hadis tersebut dengan sanad-sanadnya, serta menjelaskan kualitas hadis tersebut.[8]
Yang dimaksud sumber kitab utama hadis adalah sebagai berikut :[9]
1.      Kitab-kitab hadis yang disusun oleh para ulama, yang mereka terima langsung dari guru-gurunya dengan sanad sampai Rasulullah. Seperti Kutub as-Sittah, Muwattha Malik, Musnad Ahmad, Mustadrak Al-Hakim, dan lain-lain.[10]
2.      Kitab-kitab yang disusun dengan mengikuti kitab-kitab yang tersebut di atas. Seperti Al-Jam’u Baina as-Shahiahin karya al-Humaidi.
3.      Kitab-kitab yang disusun dalam fan-fan tertentu - seperti tafsir, fiqh dan tarikh -  yang disertai hadis-hadis. Termasuk dalam golongan kitab adalah Tafsir at-Thabari, Al-Umm karya Imam as-Syafii.  
II.      Cara Menelusuri Hadis
Untuk mencari suatu teks matan hadis tidaklah semudah kita mencari ayat al-Quran hal ini disebabkan karena teks matan hadis bertebaran dalam beberapa kitab yang memiliki versi yang berbeda-beda, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasai, Sunan Abu Sunan Dawud, Sunan Ibnu Majah dan lain-lain. Berbeda dengan al-Quran yang hanya memiliki satu versi yang ditulis dalam satu mushaf yaitu Mushaf Utsmani. Maka apa bila kita hendak mencari dalil ayat al-Quran tentang suatu penjelasan keagamaan dalam surat dan ayat tertentu, maka cukup membuka al-Quran manapun asalkan kita hafal al-Quran dan tahu dimana tempat surat dan ayatnya. Namun apabila kita tidak hafal, untuk mengatasi kesulitan itu, kita bisa mencari dengan kitab Fathurrahman li Thalab al-Ayat al-Quran karya Ilmi Zadah Faidlullah atau Mu’jam Al-Mufahras  li Alfadz al-Quran al-Karim.
Takhrij (menelusuri keberadaan suatu teks matan hadis) dapat ditempuh melalui 5 (lima) cara, yaitu :[11]
1.      Berdasarkan Periwayat Sahabat
Cara ini digunakan apabila ada nama sahabat yang disebutkan dalam hadis yang hendak ditelusuri. Cara ini tidak dapat digunakan, apabila didalamnya tidak menyebutkan nama sahabat.
Penelusuran hadis dengan cara ini menggunakan tiga (ada yang mengatakan dua) macam kitab hadis, yaitu :
1)      Kitab Musnad (kitab yang disusun secara hijaiyah berdasarkan nama dari kalangan sahabat), seperti Musnad Ahmad ibnu Hanbal, Musnad Abu Bakar ibnu Zubair al-Humaidi dll.[12]
2)      Kitab Mu’jam (kitab yang disusun secara hijaiyah berdasarkan nama sahabat, guru-guru, atau negeri para perawinya) seperti Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al-Ausath, Mu’jam as-Shaghir karya at-Thabrani, Mu’jam as-Shahabat karya Ahmad ibn Ali al-Hamdani dan Abu Ya’la Ahmad Al-Mushili.[13]
3)      Kitab Athraf (kitab yang memuat bagian-bagian awal (athraf) matan hadis dari kitab-kitab tertentu secara hijaiyah berdasarkan nama perawi paling atas), seperti Athraf As-Shahihaini karya Abu Mas’ud ibn Ibrahim ibn Muhammad ad-Dimasyqi.[14]

2.      Berdasarkan Kata Awal Dari Matan Hadis[15]
Cara ini dapat digunakan bila awal dari matan hadis. Kitab yang dapat digunakan dengan cara ini yaitu :
1)      Kitab-kitab hadis yang memuat hadis-hadis yang masyhur fi al-lisan. Seperti At-Tadzkirah fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Badruddin az-Zarkasyi, ad-Durr al-Muntatsirah fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Jalaluddin as-Suyuthi dll.
2)      Kitab-kitab yang hadisnya disusun mengikuti urutan abjad hijaiyah (alfabetis). Seperti kitab Al-Jami’ al-Azhar min Hadis an-Nabi Al-Anwar, karya Abd. Rauf Al-Manawi.[16]
3)      Kitab-kitab Mafatih dan Faharis yang disusun untuk kitab-kitab tertentu. Seperti kitab Miftah li Ahadis Muwattha’, Miftah as-Shahihain karya at-Tawqadi, Fihris li Tartib Ahadis Shahih Muslim dan Fihris li Tartib Ahadis Sunan Ibnu Majah karya Muhammad Fuad Abdul Baqi.
3.      Berdasarkan Kata Yang Ada Dalam Matan Hadis[17]
Metode ini dilakukan dengan cara menelusuri hadis berdasarkan huruf awal kata dasar pada kata-kata yang ada pada matan hadit, isim (kata benda) maupun fi’il (kata kerja).
Kitab yang menggunakan metode ini adalah Mu’jam Al-Mufahras  li Alfaz al-Hadis an-Nabawi (Indeks Hadis Nabi) karya A.J. Wensick seorang Professor Bahasa Arab di Universitas Leiden dari kalangan orientalis (w. 1939 M) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi (ahli hadis).
Kitab ini memuat hadis-hadis yang terdapat matan hadis al-Kutub at-Tis’ah (kitab yang sembilan) yaitu : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmizi, Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan Ibn Majah, , Muwattha’ Malik, Musnad Ahmad Ibn Hanbal dan Musnad Ad-Darimi.
Untuk dapat menggunakan kitab ini, peneliti harus mengetahui kode-kode yang dipakai dalam kitab tersebut. Kode-kode tersebut berfungsi untuk memudahkan peneliti mengecek kitab di mana hadis tersebut terdapat. Kode-kode tersebut adalah Shahih Bukhari (خ), Shahih Muslim( م ), Sunan Tirmizi(ت), Sunan Abi Dawud( د), Sunan An-Nasai( ن) , Sunan Ibn Majah(جه), Muwattha’ Malik(ط), Musnad Ahmad Ibn Hanbal (حم), Musnad Ad-Darimi(دى).[18]
4.      Berdasarkan Tema Hadis[19]
Cara ini dilakukan dengan menelusuri hadis berdasarkan temanya, apakah bersifat umum atau tertentu (fiqih, tafsir atau yang lain). Namun untuk menggunakan cara ini, peneliti dituntut mampu memahami isi kandungan hadis yang akan ditelusuri, sehingga dapat memperkirakan tema hadis tersebut.
Kitab-kitab yang diperlukan untuk menelusuri hadis berdasarkan tema adalah kitab-kitab hadis yang disusun secara tematik. Kitab-kitab tersebut dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
A.    Kitab-kitab hadis tematik yang tema dan bab-babnya mencakup seluruh topik-topik agama. Intinya kitab model ini adalah kitab yang umum (mencakup semua topik agama).
Kitab-kitab yang dapat digunakan antara lain :
1)      Al-Jawami’ (kitab hadis yang berisikan hadis yang mencakup seluruh topik yang dibutuhkan, Mulai topik akidah, hukum, adab sampai tafsir dll. Seperti Kitab al-Jami as-Shahih karya Imam Bukhari
2)      Al-Mustakharajat ala al-Jawami’ (kitab hadis yang diriwayatkan dari satu kitab, dengan sanad dia sendiri tanpa mengambil sanad dari penyusun pertama, tapi sanadnya bertemu dengan syaikh pengarang kitab itu atau orang yang berada di atas syaikh tersebut), seperti kitab Mustakhraj al-Isma’ily yang ditakhrij dari kitab Shahih Bukhari. 
3)      Al-Mustadrakat ala al-Jawami’ (kitab hadis yang disusun untuk melengkapi kitab hadis lain yang tidak memuat hadis versi penyusunnya), seperti Al-Mustadrak Ala as-Shahihain karya Abu Abdillah al-Hakim.
4)      Al-Majami’ (kitab yang disusun dengan mengumpulkan/menggabungkan dari beberapa kitab hadis), seperti al-Jam’u Baina as-Shahihain karya as-Shaghani al-Hasan ibn Muhammad
5)      az-Zawaid (kitab yang mengumpulkan hadis-hadis tambahan yang dikutip dari kitab hadis lain), seperti kitab Zawaid Ibnu Majah Ala al-Ushul al-Khamsah.
6)      Miftah Kunuz as-Sunnah karya A.J. Wensinck.
B.     Kitab-kitab hadis tematik yang tema dan bab-babnya mencakup sebagian besar topik-topik agama. Kitab yang disusun seperti model ini, sebagian besar mengikuti tema-tema fiqh.
Kitab-kitab yang tergolong model ini adalah :
1)      Kitab Sunan (kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih yang hanya berisi hadis-hadis marfu’ saja. Seperti Sunan Abi Dawud, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan as-Syafii, Sunan ad-Daruquthni.
2)      Kitab Mushannafat (kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fiqh yang mencakup hadis-hadis marfu’, mawquf dan maqthu’. Seperti kitab al-Mushannaf karya Baqi ibn Makhlad al-Qurthubi
3)      Kitab Muwattha’at, seperti kitab Muwattha’ Malik. Definisi muwattha’ tidak jauh berbeda dengan definisi kitab mushannafat hanya berbeda dalam segi penamaan saja. Dinamakan kitab muwathha’ (yang disediakan atau dipersiapkan) karena kitab tersebut disusun oleh penulisnya untuk memenuhi permintaan masyarakat.
4)      Al-Mustakhrajat, seperti kitab al-Mustkharajat ala Sunan Abi Dawud karya Qasim Ibn Ashbagh
C.     Kitab-kitab hadis tematik yang hanya memuat bab-bab khusus dari beberapa bab agama. Berikut kitab-kitabnya yang terkenal antara lain :
1)      Kitab yang membahas Ajza’ seperti Juz’u Rafi’ Al-Yadain fi Shalatih karya Al-Bukhari
2)      Kitab yang membahas at-Targhib wa at-Tarhib seperti kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya Zakiyuddin Al-Mundziri
3)      Kitab yang membahas Az-Zuhd wa al-Fadhail wa al-Adab wa al-Akhlaq seperti Kitab Dzamm ad-Dunya karya Ibnu Abi ad-Dunya al-Baghdadi
4)      Kitab yang membahas Al-Ahkam seperti Umdah al-Ahkam karya Abdul Ghani al-Maqdisi  
5)      Kitab yang membahas Maudlu’ah Khashah seperti Kitab al-Ikhlas karya Ibn Abi ad-Dunya
6)      Kitab yang membahas Funun al-Ukhra seperti Tafsir at-Thabari karya Ibn Jarir at-Thabari
7)      Kitab yang membahas Takhrij al-Hadis seperti Manahil as-Shafa fi Takhrij Ahadis as-Syifa’ karya as-Suyuthi
8)      Kitab syuruh al-Hadtisah wa at-Ta’liqat ‘Alaiha seperti kitab Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani
5.      Berdasarkan Sifat Hadis[20]
Yang dimaksud menelusuri hadis berdasarkan sifatnya adalah meneliti keadaan dan sifat-sifat yang terdapat dalam matan ataupun sanad hadis dengan merujuk pada kitab-kitab yang disusun khusus menjelaskan tentang sifat-sifat hadis.

Berikut kitab-kitab yang bisa digunakan dengan cara ini, yaitu :
1)      Kitab yang mengoleksi hadis Maudu’, seperti Al-Mashnu’ fi Ma’rifat al-Hadis al-Maudu’ karya Aly al-Qari (w.1014 H).
2)      Kitab yang mengoleksi hadis Qudsi, seperti Misykat al-Anwar karya Muhyiddin Muhammad ibn Aly al-Andalusi (w.638 H)
3)      Kitab yang mengoleksi hadis yang diriwayatkan seorang bapak dari anaknya, seperti kitab Riwayat al-Aba’ an al-Abna’ karya Abu Bakar Ahmad Aly al-Khatib al-Baghdadi
4)      Kitab yang mengoleksi hadis Musalsal, seperti kitab Al-Musalsalah Al-Kubra karya Jalaluddin as-Suyuthi.
5)      Kitab yang mengoleksi hadis mursal, seperti kitab Al-Marasil karya Ibnu Abi Hatim Abdurrahman Al-Handzali al-Razi.
6)      Kitab yang mengoleksi hadis yang terdapat rawi yang lemah, seperti Mizan al-I’tidal karya ad-Dzahabi
7)      Kitab yang mengoleksi hadis yang mengandung illah, seperti kitab ‘Ilal al-Hadis karya Ibnu Abi Hatim al-Razi.
8)      Kitab yang mengoleksi hadis yang mengandung nama-nama mubham, seperti kitab Al-Asma’ al-Mubhamah karya Khatib al-Baghdadi.
            Lima cara tersebut diatas adalah cara manual yang dapat kita tempuh dalam menelusuri hadis. Namun seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju, sekarang kita dapat mengefesiensi waktu dengan menggunakan fasilitas teknologi tersebut.
Oleh karenanya, Dr. Hatim ibn Arif as-Syarif dalam bukunya At-Takhrij wa Dirasah al-Asanid meringkasnya menjadi empat:
1.      Berdasarkan sesuatu yang terdapat dalam sanad, yang meliputi tiga unsur yaitu;[21]
a)      Nama sahabat. Penjelasan kitab yang digunakan sama seperti di atas.
b)      Perawi tengah sanad. Kitab yang menggunakan cara ini adalah sebagai berikut:[22]
1.      Kitab-kitab yang ditulis oleh perawi itu sendiri seperti Fadla’il as-Sahabat karya Imam Ahmad ibn Hambal, as-Syamail Muhammadiyah Karya Imam Tirmidzi.
2.      Kitab yang disusun berdasarkan rawi tertentu saja, seperti Al-Ja’diyat karya Al-Bahgahi
3.      Kutub al-Fawaid wa al-Amaly, seperti Al-Fawaid Al-Ghilaniyat Abu Bakar as-Syafii
4.      Kitab Faharis al-A’lam wa Rijal al-Asanid
5.      Kitab Biografi al-Musnad seperti at-Tarikh al-Kabir Imam Bukhari, Al-Kamil Ibnu Adiy, Ma’rifah al-Majruhin Ibnu Hibban
6.      Kitab-Kitab Athraf ad-Daqiqah seperti Tuhfah al-Asyraf Imam al-Mazi
7.      Kitab yang khusus menerangkan sifat-sifat yang berkenaan dengan seorang perawi seperti Tahdzib al-Kaml Imam al-Mazi, al-Mu’talaf wa al-Mukhtalaf karya Daruqutni
8.      Kitab yang menjelaskan hadis-hadis dari seorang perawi tertentu, seperti Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsar (hadis-hadis dari Imam Syafii) karya Imam Baihaqi 
9.      Kitab yang penulisnya diketahui meriwayatkan hanya dari seorang guru tertentu. Seperti Musnad al-Humaidi yang hanya meriwayatkan dari Sufyan ibn Uyainah 

c)      Sifat yang berkaitan dengan isnad. Mengenai kitab yang digunakan cara telah dijelaskan diatas.

2.      Berdasarkan sesuatu yang terdapat dalam matan[23]
Metode ini memiliki empat unsur yang meliputi; Pertama, kata pertama yang terdapat dalam matan hadis. Kedua, Kata yang ada dalam matan hadis. Ketiga. Tema hadis. Kelima, sifat yang hadis. Kitab yang dapat membantu metode ini tidak ada perbedaan dengan penjelasan diatas.
3.      Menggunakan fasilitas komputer (al-Hasib al-Aly)[24]
Cara ini sangat efektif untuk menelusuri hadis, karena dengan menggunakan komputer kita tidak perlu repot-repot membuka kitab akan tetapi kita tinggal mengetik apa saja yang terdapat dalam hadis yang hendak ditelusuri; nama sahabat, kata yang terdapat alam hadis tersebut, perawi dan lain sebagainya. Maka secara otomatis komputer akan menampilkan obyek yang kita cari secara detail dari seluruh kitab (kitab hadis maupun yang lain) yang memuat kata yang kita masukkan, halaman dan juz dll. Seperti Shoftware Maktabah as-Syamilah yang memuat ribuan kitab-kitab dari berbagai cabang ilmu.
4.      Menelaah kitab-kitab sunnah.[25]
Adapun caranya adalah dengan membaca dan menelaah kitab-kitab hadis dengan sempurna sehingga hadis yang ditelusuri dapat ditemukan. Cara ini hanya mudah dan biasa digunakan oleh para huffadz hadis, ulama dan mukharrij masa awal sebelum ditemukannya percetakan.[26]
III.    Manfaat dan Urgensi Takhrij Hadis
Tidak diragukan lagi bahwa takhrij hadis sangatlah penting untuk dikaji secara mendalam terutama bagi orang yang bergelut dengan ilmu-ilmu syariah, dalam upaya untuk membaca teks hadis yang layak dikonsumsi oleh umat Islam atau yang tidak layak. Hal ini sebabkan karena teks hadis yang bertebaran dalam kitab-kitab hadis tidak semuanya dapat dijadikan hujjah dalam istinbath hukum, apalagi  jika teks hadis  tersebut berkaitan dengan masalah ibadah atau praktek ajaran Islam.
            Beberapa manfaat yang diperoleh melalui takhrij al-hadis adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui sumber hadis berdasarkan kitab utama (primer) hadis tersebut.
2.      Mengetahui jalur riwayat suatu hadis.
3.      Mengetahui rangkaian silsilah suatu hadis.
4.      Mengetahui kualitas jalur lain yang lebih baik di antara banyaknya jalur hadis.
5.      Mengetahui penilaian para ulama terdahulu tentang hadis tersebut.[27]
Selain manfaat tersebut diatas Hatim ibn Arif as-Syarif Dalam karyanya at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid memaparkan beberapa faidah takhrij hadis antara lain :[28]
1.      Membedakan hadis shahih dan bukan shahih
2.      Mengetahui hadis yang patut diamalkan maupun tidak
3.      Mengetahui hadis yang dapat dijadikan sandaran istimbath hukum dan yang tidak.
4.      Mengetahui hadis-hadis yang wajib diyakini maupun yang tidak boleh diyakini, jika berkaitan dengan hal-hal yang bersifat i’tiqadiah dikarenakan hadis daif atau hadis maudlu’.
5.      Untuk menjaga kemurnian dan melestarikan as-Sunnah hingga hari kiamat.


DAFTAR RUJUKAN :
·         Abu Muhammad Al-Mahdi. Tt. Tahriq Takhrij Hadits Rasulillah saw. Kairo :Dar al-I’tisham.
·         Ensiklopedi Islam. 1999. Jakarta : Ichtiar Baru van Hoeve.
·         Hatim ibn Arif as-Syarif. tt. at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. Shoftware CD Maktabah as-Syamilah Ishdar Tsani
·         Mahmud Thahhan. 1991. Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. Riyad : Maktabah al-Maarif.
·         Muhammad ibn Abdillah ibn Khadir. Tt. Kaifa Tukharrij Haditsan. . CD Shoftware Maktabah as-Syamilah. Ishdar at-Tsani
·         Totok Jumantoro. 2002. Kamus Ilmu Hadis. Jakarta : Bumi Aksara.


[1] Mahmud Thahhan. 1991. Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. Riyad : Maktabah al-Maarif. hlm. 8.
[2] Ibid. hlm. 7 lihat juga
[3] Ensiklopedi Islam. 1999. Jakarta : Ichtiar Baru van Hoeve. hlm. 213.
[4] Mahmud Thahhan. Op.cit. hlm. 9. Totok Jumantoro. 2002. Kamus Ilmu Hadis. Jakarta : Bumi Aksara. hlm.244-245
[5] Ensiklopedi Islam. Op.cit. hlm. 213
[6] Mahmud Thahhan. Op.cit. hlm. 09-10. Muhammad ibn Abdillah ibn Khadir. Tt. Kaifa Tukharrij Haditsan. CD Shoftware Maktabah as-Syamilah. Hlm. 1
[7] Abu Muhammad Al-Mahdi. Tt. Thariq Takhrij Hadits Rasulillah saw. Kairo :Dar al-I’tisham. Hlm. 9
[8] Hatim ibn Arif as-Syarif. tt. at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. CD Shoftware Maktabah as-Syamilah. Hlm. 2
[9] Mahmud Thahhan. Op. Cit. hlm. 10-11. Abu Muhammad Al-Mahdi. op.cit. hlm. 24
[10] Baca Juga  Muhammad ibn Abdillah ibn Khadir. Op.Cit. hlm. 1
[11] Mahmud Thahhan. Op. Cit. hlm. 35 lihat ibid. hlm. 2
[12] Ibid. hlm.39. Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 106
[13] Mahmud Thahhan. Ibid. hlm. 45
[14] Ibid. hlm.47. Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 107
[15] Ibid. hlm. 59-70 baca juga Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 25-79
[16] Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 27
[17] Mahmud Thahhan. Op. Cit.. hlm. 81-82. baca Ibid. hlm. 83
[18] Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 89
[19] Ibid. hlm. 95-128 baca juga baca juga Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 149-239
[20] Ibid. hlm. 129-132 lihat juga Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 243
[21] Hatim ibn Arif as-Syarif.Op.cit.hlm. 20
[22] Ibid. hlm. 21-24
[23] Ibid, hlm.29-47
[24] Ibid. hlm. 49-50
[25] ibid. hlm. 17
[26] Ibid. hlm. 50
[27] Ensiklopedi Islam. Op.cit. hlm. 216
[28] Hatim ibn Arif as-Syarif. op.cit. hlm. 14

No comments:

Post a Comment