Thursday, September 5, 2013

KEMBALI KE FITRI Sebuah Tolok Ukur Perspektif Maqashid al-Syari’ah



KEMBALI KE FITRI
Sebuah Tolok Ukur Perspektif Maqashid al-Syari’ah
Oleh: Dr. Rosidin, M.Pd.I

          Dalam Hadits Ibn Majah dinyatakan:
فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Hadits di atas dapat kita pahami bahwa siapa saja yang berpuasa dan meramaikan bulan Ramadhan – terutama malam-malam Ramadhan– dengan amal-amal shalih; yang didasari oleh keimanan dan mengharap ridho Allah SWT, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT; sehingga pada saat Idul Fitri ini, kita bersih dan suci layaknya bayi yang baru dilahirkan.
          Sebagaimana kita maklumi bersama, bahwa Idul Fitri bermakna “Kembali Suci”. Pertanyaannya, apakah benar kita sudah suci atau Kembali ke Fitri? Apa tolok ukur “kesucian” atau “kefitrian” kita?. Pada tulisan ini, salah satu alternatif jawaban yang dapat penulis ajukan terkait pertanyaan-pertanyaan tadi adalah: Mari kita evaluasi kualitas kesucian masing-masing dari sudut pandang Maqashid al-Syari’ah [Tujuan-tujuan Pokok Syari’at Islam] yang digagas oleh Imam al-Juwainy dalam al-Burhan fi Ushul al-Fiqh; kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Imam al-Ghazali dalam Al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul, yaitu penjagaan agama (حِفْظُ الدِّيْنِ), penjagaan jiwa-raga (حِفْظُ النَّفْسِ), penjagaan akal (حِفْظُ الْعَقْلِ), penjagaan harta (حِفْظُ الْمَالِ) dan penjagaan anak-keturunan atau keluarga (حِفْظُ النَّسْلِ).
          Pertama, dari segi penjagaan agama (حِفْظُ الدِّيْنِ). Keberagamaan kita seringkali dilekati oleh noda-noda. Di antara bentuk noda yang mengotori kualitas spiritual kita adalah:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7) (الماعون)
Orang-orang yang berbuat riya; dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
          Yaitu dari segi ibadah ritual, seringkali ibadah kita disusupi oleh niatan-niatan yang tidak ikhlash, semata-mata karena Allah SWT, melainkan karena faktor di luar Allah SWT, entah dalam wujud, beribadah demi kepentingan diri sendiri –“agar saya naik jabatan”; “agar saya lulus kuliah”; “agar saya menjadi kaya”; dan niatan-niatan egoistis lainnya–; maupun dalam wujud beribadah demi orang lain, inilah yang disebut riya’ yang kadar keburukannya lebih parah. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menyucikan niat ibadah; memurnikan ibadah kita dengan niatan ikhlash semata-mata karena Allah SWT, bukan beribadah demi kepentingan-kepentingan egois kita, apalagi riya’. Inilah yang diamanatkan oleh QS. al-Bayyinah: 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
          Dari segi ibadah sosial, noda yang menempel antara lain hilangnya kepekaan sosial. Contoh orang yang ibadah sosialnya terkena noda menurut Surat al-Ma’un di atas adalah tidak mau menyarankan untuk memberi bantuan kepada sesama; menyarankan saja tidak mau, apalagi bertindak untuk membantu!. Ada lagi noda yang lebih parah dari itu, yakni berbuat sesuatu yang justru mendatangkan dampak negatif bagi orang lain.
          Untuk itu, sudah seharusnya kita semai perasaan kasih sayang dan kepekaan sosial di dalam hati, seperti yang diperintahkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
Orang-orang yang berkasih-sayang itu disayangi oleh Allah, Dzat Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk di bumi, nicaya kalian akan disayangi oleh makhluk yang di langit.
Perasaan kasih sayang dan kepekaan sosial tersebut perlu dipupuk dengan sikap-sikap aktual yang berwujud kepedulian sosial sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Ramadhan sebagai Syahrul Muwasa’ah, bulan kepedulian sosial telah mendidik kita untuk memiliki sikap kepekaan dan kepedulian sosial tingkat tinggi melalui aktivitas berbagi buka puasa, sahur, shadaqah, zakat, bahkan membaca al-Qur’an pun diformat dalam bentuk tadarrus yang berdimensi sosial, alih-alih membaca al-Qur’an sendirian yang berdimensi individual. Satu hadits yang relevan dengan bahasan ini:
أَحَبُّ النَّاسِ إَِلى اللهِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
Atau setidak-tidaknya, apabila kita belum mampu memberikan manfaat bagi orang lain; minimal perkataan dan perbuatan kita tidak sampai mengganggu, apalagi menyakiti orang lain. Inilah salah satu kriteria seorang muslim sejati:
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Orang muslim [yang sejati] adalah orang yang membuat muslim lainnya merasa selamat dari [gangguan] perkataan dan perbuatannya.
          Kedua, dari sisi penjagaan jiwa-raga (حِفْظُ النَّفْسِ). Noda yang mendera dimensi fisik kita antara lain mengabaikan hak-hak fisik, misalnya mengabaikan kesehatan fisik; mengonsumsi sesuatu yang dapat membahayakan fisik, seperti minuman keras hingga berbagai jenis narkoba. Lebih dari itu, setiap muslim harus menghindari konsumsi makanan dan minuman apapun yang tergolong syubhat apalagi haram; bahkan seandainya mubah pun, umat Islam diperintahkan Allah SWT agar tidak bersikap israf, yakni berlebih-lebihan atau bermewah-mewahan.
          Pembersihan noda pada dimensi fisik dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan fisik. Untuk itu, penting bagi kita untuk menginsafi bahwa kematian manusia –menurut Rasulullah SAW– dikarenakan sebab dan dikarenakan ajal. Ibarat baterai, masing-masing ada daya hidupnya, berapa lama ia bertahan hidup; jika daya hidupnya sudah habis, berarti baterai ini mati dikarenakan ajal. Ini ibarat orang yang menjaga kesehatan fisiknya dengan baik, sehingga kematiannya dikarenakan oleh ajal. Di sisi lain, jika baterai tersebut sering dijatuhkan, maka lama-kelamaan daya hidup baterai akan nge-drop, sehingga daya hidupnya berkurang drastis, dan akhirnya cepat mati. Ini ibarat orang yang mengabaikan kesehatan fisiknya, sehingga kematiannya dikarenakan oleh sebab. Satu ayat penting bagi kesehatan fisik kita adalah:
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا (المائدة: 88)
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu
          Sedangkan noda yang mengotori dimensi psikis (jiwa) kita adalah ketidak-stabilan emosi dalam menghadapi problematika kehidupan yang bertubi-tubi kita alami. Ketidak-stabilan psikis bisa jadi mewujud dalam bentuk sikap mudah marah; besikap tergesa-gesa (عَجُوْلاً), suka berkeluh-kesah ketika mendapat cobaan, namun lupa daratan ketika mendapatkan nikmat:
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) (المعارج)
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.
          Noda-noda psikis tersebut juga penting untuk disucikan melalui tazkiyyatun-nafs:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15) (الأعلى)
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.
Dari ayat di atas, setidaknya ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam upaya penyucian jiwa, yaitu selalu berdzikir menyebut Asma Allah SWT dan rajin menunaikan shalat.
          Setelah menelaah pengertian tazkiyyatun-nafs dalam kitab tafsir Ibn ‘Ashur, Abu Zahrah, al-Mawardi dan al-Thabataba’i, penulis menyimpulkan bahwa tazkiyyah adalah upaya untuk membersihkan jiwa dari noda-noda maknawiyah berupa i‘tiqad, akhlaq maupun perbuatan dengan cara melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Adapun tujuan utama dalam penyucian noda-noda psikis ini adalah mencapai suatu ketenangan psikis yang memiliki keselarasan makna dengan ayat:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (الفجر).
Hai jiwa yang tenang.
          Ketiga, dari sisi penjagaan akal (حفظ العقل). Ada dua sisi ekstrim yang menjadi noda bagi akal kita. Dari sisi ekstrim negatif, wujudnya adalah pengabaian fungsi akal yang menyebabkan kebodohan. Baik kebodohan sederhana dalam arti ‘tidak memahami sesuatu’, misalnya tidak dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid; maupun kebodohan kuadrat dalam arti ‘salah paham’, misalnya menyalah-gunakan ajaran-ajaran al-Qur’an untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Semoga kita terhindar dari dua jenis kebodohan ini. Bukankah kita sering mendengar ayat al-Qur’an:
فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ (الأنعام: 35)
Janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: 199)
Dan berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.
          Dari sisi ekstrim positif, wujudnya adalah terlalu berlebih-lebihan memfungsikan akal, bahkan ada yang mendewakan akal. Bentuk kongkretnya adalah sikap liberal dan rasionalis yang mengabaikan segala sesuatu di luar akal. Bahkan agama pun, dipaksa agar tunduk kepada akal. 
          Upaya penyucian noda-noda akal dapat kita lakukan dengan cara memberdayakan akal sesuai dengan amanat al-Qur’an. Misalnya, al-Qur’an menyeru kepada kita dengan redaksi ‘أَفَلَا تَعْقِلُون’ (apakah kalian tidak berakal?). Setelah meneliti 13 ayat yang memuat redaksi  أَفَلَا تَعْقِلُون’ ini, penulis memperoleh kesimpulan bahwa ayat-ayat yang memuat term أَفَلَا تَعْقِلُونَ mengarahkan manusia agar memberdayakan akal untuk menelaah aneka objek. Jika objek telaahnya adalah kehidupan secara umum, maka tujuannya adalah memperoleh keyakinan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dibandingkan kehidupan dunia. Jika objek telaahnya adalah perilaku manusia, maka tujuannya adalah membenahi perilaku-perilaku yang kontradiktif [ada gap antara perkataan dengan perbuatan]. Jika objek telaahnya adalah al-Qur’an, maka tujuannya adalah memfungsikan al-Qur’an sebagai pengingat bagi jalan hidupnya. Jika objek telaahnya adalah fenomena manusia dan alam, maka tujuannya adalah meraih keimanan kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran. Jika objek telaahnya adalah sejarah umat terdahulu, maka tujuannya adalah mengambil teladan agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan generasi masa silam yang durhaka kepada Allah SWT. Inilah kiranya contoh penyucian dimensi akal yang dapat kita lakukan setiap hari sekaligus sebagai bagian dari partisipasi kita dalam pendidikan seumur hidup (lifelong education) yang digaungkan Islam bahkan dunia internasional.
          Keempat, dari sisi penjagaan harta (حِفْظُ الْمَالِ). Ada kalanya noda yang menempel pada harta itu terletak pada proses pemerolehannya dan ada kalanya terletak pada proses distribusinya. Pada proses pemerolehan harta, kita semua sudah menyaksikan berbagai bentuk kecanggihan otak manusia yang digunakan untuk memperoleh harta dengan cara-cara yang tidak halal. Lagu klasik bernama korupsi yang kerap menjangkiti kalangan atas; maupun manipulasi yang sering terjadi di kalangan masyarakat umum; adalah contoh-contoh cara pemerolehan yang menodai dimensi harta.
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) (المطففين)
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang;  (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
          Sedangkan dari dimensi pendistribusian, noda yang menempel pada harta adakalanya berupa sikap bakhil yang membuat seseorang enggan untuk mengeluarkan zakat, infaq maupun shadaqah. Pada sisi lain, ada kalanya berwujud sikap mubadzir, yaitu menggunakan harta bukan pada tempatnya. Jadi, mubadzir itu bukan terkait kuantitas atau jumlah yang dikeluarkan, melainkan berkaitan dengan tepat-tidaknya sasaran yang dituju. Oleh sebab itu, tidak ada istilah mubadzir dalam zakat, infaq maupun shadaqah, berapapun banyaknya, karena memang tepat sasaran. Namun Rp. 1000 untuk digunakan hal-hal yang dilarang agama, tergolong mubadzir, sehingga al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang mubadzir sebagai teman-teman syaitan.
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ (الإسراء: 27)
Sesungguhnya orang-orang yang mubadzir itu adalah saudara-saudara syaitan.
          Di antara ayat yang relevan untuk menyucikan noda-noda harta dari segi pemerolehan maupun pendistribusian adalah Surat al-Baqarah: 267-268
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (267) الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (268) (البقرة)
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
          Kelima, dari segi penjagaan anak-keturunan atau keluarga (حفظ النَّسْلِ). Setidaknya ada dua noda yang melekat pada dimensi keluarga. Pertama, keluarga hanya menjadi hiasan dan kebanggaan hidup (اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا / الكهف: 46); menjadi alat uji keimanan (وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ / الأنفال:28); bahkan bisa menjadi musuh (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ / التغابن: 14). Tentu saja kita semua mengidam-idamkan keluarga yang menjadi penentram jiwa sebagaimana do’a yang setiap hari kita panjatkan kepada Allah SWT:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (الفرقان: 74)
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Untuk mencapai keluarga idaman seperti itu, tentu saja membutuhkan pendidikan yang dapat komprehensif. Mari kita perhatikan tiga hadits atau atsar berikut: Sayyidah ‘Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى وَالِدِهِ اَنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ، وَيُحْسِنَ مُرْضِعَهُ، وَيُحْسِنُ اَدَبَهُ
Hak anak terhadap orang tuanya adalah diberi nama yang bagus, diberi ASI, dan diberi pendidikan moral yang bagus
Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Perintahkanlah anak-anak kalian agar (mengerjakan) shalat, ketika mereka berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya (shalat) ketika mereka berusia 10 tahun; dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.
Ali bin Abi Thalib RA juga memberi nasehat:
عَلِّمُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمُ الْخَيْرَ وَأَدِّبُوْهُمْ
Ajarkanlah kebaikan pada diri dan keluarga kalian; serta didiklah akhlak mereka
          Dari tiga riwayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tugas kita sebagai pendidik maupun orang tua adalah mengajarkan akhlak-akhlak terpuji –misalnya akhlak tidak mudah mengeluh; akhlak gemar bersyukur–; mendidik mereka secara serius agar berlatih menjalani syari’at Islam, terutama shalat dan puasa; serta mendidikkan kebaikan-kebaikan secara umum –misalnya gemar bershadaqah, gemar belajar, dan sebagainya–.
          Noda kedua yang melekat pada dimensi keluarga adalah terputusnya hubungan silaturrahim. Di sinilah pentingnya bagi kita untuk mengoptimalkan momen Halal bi Halal dengan sebaik-baiknya. Adapun prioritas sasaran silaturrahim ketika Halal bi Halal jika mengacu pada Surat al-Nisa’: 36 adalah:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36) النساء
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
            Secara kontekstual, ayat di atas memberikan petunjuk kepada kita agar mendahulukan silaturrahim dengan kedua orang tua, termasuk guru-guru kita yang rumahnya dekat. Kemudian dilanjutnya dengan keluarga dekat kita. Tidak lupa kita tetap harus peduli pada anak-anak yatim maupun fakir miskin yang bisa jadi terabaikan ketika kita sedang sibuk bersilaturrahim dengan sanak famili. Selanjutnya kita bersilaturrahim dengan tetangga yang masih memiliki ikatan keluarga – walaupun jauh – dan diikuti silaturrahim dengan keluarga yang tidak memiliki ikatan kekeluargaan. Setelah itu kita bersilaturrahim dengan rekan-rekan, relasi, kenalan, dan sejenisnya. Bahkan kita pun diminta untuk bersilaturrahim dengan pegawai-pegawai atau bawahan-bawahan kita. Di penghujung ayat kita diingatkan agar melepaskan jubah-jubah keangkuhan dan kesombongan. Dalam bahasa al-Qur’an, kita harus menghilangkan sikap sombong yang berbentuk (مُخْتَالاً), kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku dan juga sombong dalam bentuk (فَخُورًا), kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan.
            Kesimpulan dari tulisan ini adalah: Pertama, mari kita sucikan dimensi keagamaan kita dengan memurnikan niat ibadah, yakni ikhlash semata-mata karena Allah SWT, di samping peduli kepada para hamba-Nya. Kedua, mari kita sucikan dimensi jiwa-raga kita dengan menjaga fisik dan psikis kita dari hal-hal yang membahayakan maupun yang merusaknya. Ketiga, mari kita sucikan dimensi akal kita dengan memberdayakan akal semaksimal mungkin melalui kegiatan pendidikan seumur hidup. Keempat, mari kita sucikan harta kita dengan bekerja secara halal dan menggunakan harta tepat sasaran. Kelima, mari kita sucikan anak-keturunan atau keluarga kita dengan memberi pendidikan yang terbaik serta menjalin silaturrahim secara rutin, khususnya pada momen Halal bi Halal Idul Fitri tahun ini. Semoga, kita diberi Taufiq, Hidayah dan Inayah oleh Allah SWT agar dapat menyucikan kelima dimensi pokok di atas. Akhirnya, penulis tutup tulisan ini dengan do’a:
جَعَلَنَا الله مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali bersih dan suci dari dosa-dosa; sekaligus orang yang meraih kemenangan, berupa kebaikan di dunia dan di akhirat kelak; serta amal-amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT dan dapat kita peroleh manfaatnya kelak di akhirat. Amin ya Rabbal 'Alamin.
*) Penulis adalah tenaga didik di Pondok Pesantren Nurul Huda [PPHN] untuk program pendidikan Bahasa Arab; serta Dosen UIN Maliki dan STAI Ma’had Aly Al-Hikam.


No comments:

Post a Comment