Thursday, September 5, 2013

Makalah CTL



Contents
Asal Mula CTL……………………………..…………...……………………………………………3
Pengertian CTL……..……………………………….……………………………………………….4
Komponen CTL…………………………………..…………………………….…………...……….5
Kata Kunci Pembelajaran CTL………………….………………...…………………………………7
Karakteristik Pembelajaran CTL………………..……………………………..………………….….8
Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional………………..……….…...…9
KESIMPULAN……………………………………………………………………….…………….10

 

 











Inovasi dalam dunia pendidikan merupakan hal yang sangat urgen,karena hal tersebut terkait dengan arah tujuan inovasi pendidikan indonesia yaitu;mengejar ketingalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan kemajuan tersebut.[1] kini inovasi pendidikan telah mencapai dalam segala aspek bidang,tidak hanya system saja yang di inovasi tapi inovasi mampu masuk hingga dalam segala aspek yaitu di dalam model pembelajaran,dengan cara mengubah peggunaan model lama dan memperbaharuinya dalam rangka meningkatkat efisiensi. jika dahulu guru terbatas dalam metode ceramahnya yang begitu-begitu saja tidak ada different,perbaikan,dan peningkatan maka metode tersebut akan tidak efektif,sehingga tidak kompleks dalam menghadapi situasi kelas dengan beragam anak didik yang dengan berbagai macam kompetent dan karakternya.dengan penyampaian yang baru,diharapkan peserta didik mampu menjadi manusia aktif,kreatif,dan terampil.Untuk itu diperlukan suatu pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa Adalah pendekatan kontekstual (CTL). maka dari itu CTL hadir sebagai penentu keberhasilan dalam proses pembelajar,sebagai suatu stategi yang efektif dalam penyajian informasi dan aktifitas-aktifitas yang mempermudah mencapai kompetensi dasar yang direncanakan. Menurut Gagne, Briggs & Wager, 1988; 1992 Pembelajaran ialah “Usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu mempermudah belajar orang lain secara khusus membantu atau memfasilitasi si belajar agar ia belajar dengan mudah[2]
Karena itu CTL (Contectual Teaching And Learning)adalah salah satu inovasi yang di harapkan mampu menjadi win-win solution dalam model pembelajaran yang efektif,efisien dan tentunya menyenangkan because “LEARNING IS MOST EFFECTIVE WHEN IT’S FUNBelajar akan sangat efektif jika dilaksanakan dengan menyenangkan[3].

    A.            ASAL MULA CTL
Metode kontekstual sudah lama dikembangkan oleh John Dewey pada tahun 1916,yaitu sebagai filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. Namun baru desakan yang kuat untuk reformasi pada dunia pendidikan baru muncul pada tahun 1983 untuk memperbaiki beberapa kekurangan yang paling serius dalam pendidikan tradisional di Amerika. yang selanjutnya di ikuti oleh pertemuan tingkat tinggi mengenai pendidikan di charlotesville,Virginia,yang dihadiri oleh para gubernur Negara dan presiden Amerika Serikat.
Pendekatan kontekstual lahir di Indonesia karena kesadaran bahwa kelas-kelas di Indonesia tidak produktif. Sehari-hari kelas-kelas di sekolah diisi dengan “pemaksaan” terhadap siswa untuk belajar dengan cara menerima dan menghapal. Harus segera ada pilihan strategi pembelajaran yang lebih berpihak dan memberdayakan siswa.  CTL dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga  yang bergerak dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas
     B.            PENGERTIAN CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan dihubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.[4]  merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1)      Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .
2)     Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3)      Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4)      Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5)      Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.[5]
Jadi CTL (contectual teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan 7 kompenen utama.
    C.             KOMPONEN-KOMPONEN CTL
  1.  Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan. tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
  1.  Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion). 
  1. Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
  1. Masyarakat belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan masyarakat.
  1.  Pemodelan (modelling)
Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang karena guru bukan satu-satunya model,dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
  1.  Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
  1.  Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.Jadi siswa dinyatakan berhasil dalam pembelajaran tidak hanya diukur dari tingkat kelulusan siswa mengerjakan ujian nasional saja tapi lebih dari itu.Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL)memiliki tujuah komponen utama,yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakatbelajar (LearningCommunity), pemodelan(modeling),Refleks(reflection),danpenilaianyangsebenarnya(Authentic). .
Jadi intinya dalam pendekatan ini guru harus dapat menerapkan ke tujuh komponen tersebut.
    D.            KATA-KATA KUNCI PEMBELAJARAN CTL:
  1. Real world learning
  2. Mengutamakan pengalaman nyata
  3. Berfikir tingkat tinggi
  4. Berpusat pada siswa
  5. Siswa aktif, kritis dan kreatif
  6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
  7. Dekat dengan kehidupan nyata
  8. Perubahan perilaku
  9. Siswa praktek, bukan menghafal
  10. Learning bukan teaching
  11. Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction)
  12. Pembentukan manusia
  13. Memecahkan masalah
  14. Siswa acting, guru mengarahkan
  15. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
     E.            KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS CTL:
  1. Kerjasama
  2. Saling menunjang
  3. Menyenangkan, tidak membosankan
  4. Belajar dengan bergairah
  5. Pembelajaran terintegrasi
  6. Menggunakan berbagai sumber
  7. Siswa aktif
  8. Sharing dengan teman
  9. Siswa kritis guru kreatif
  10. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
  11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain.
     F.            PERBEDAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN PENDEKATAN TRADISIONAL (KONVENSIONAL)[6]
NO
CTL
TRADISIONAL
1
Siswa Aktif Terlibat
Siswa Penerima Informasi
2
Belajar Dengan Kerjasama
Belajar Individula
3
Berkaitan dengan kehidupan nyata
Abstrak dan teoritis
4
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku di bangun atas kebiasaan
5
Keterampilan dibangun atas dasar pemahaman
Keterampilan dibangun atas dasar latihan
6
Memperoleh kepuasaan diri
Memperoleh pujian dan nilai saja
7
Kesadaran untuk tidak melakukan yang jelek tumbuh dari dalam
Tidak melkukan yang jelek karena takut hukuman
8
Bahasa diajarkan dengan komikatif,diguanakan dalam konteks nyata
Bahasa diajarkan dengan pendekatan Struktural, kemudian dilatihkan
9
Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa
Rumus ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan
10
Pemahaman rumus relatif berbeda
Rumus adalah kebenaran absolut
11
Rumus adalah kebenaran absolut
Siswa pasif hanya menerima tanpa kontribusi ide
12
Pengetahuan dibangun dari kebermaknaan

Pengetahuan ditangkap dari fakta, konsep, atau hukum

13
Pengetahuan selalu berkembang sejalan dengan fenomena baru

Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final

14
Siswa bertanggungjawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran

Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran

15
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan

Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa

16
. Hasil belajar diukur dengan prinsip Alternative Assessment

Hasil belajar diukur dengan tes

17
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting

Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas

18
Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek
Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek

19
Perilaku baik berdasar motivasi instrinsik

Perilaku baik berdasar motivasi akstrinsik
20
Berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat
. Berperilaku baik karena terbiasa melakukan begitu, dan karena mendapat hadiah


            Beberapa Perbedaan Pokok diatas, Menggambarakan Bahwa CTL Memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun dari Proses pelaksanaan dan Peneglolaannya.




KESIMPULAN
            CTL / contekstual teaching and learning adalah konsep belajar yang embantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.
            Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic).





Daftar Pustaka
1.      Elanie B.Jhonson,PH.D.”Contectual Teaching and Learning”.Bandung;Mizan Learning Center(MLC)2007.
2.      Drs H. Fuad ikhsan. “Dasar dasar kependidikan”;.2005
3.      Seminar Pembekalan PPL.”strategi pembelajaran”;STAI RR 02/02/2011
4.      Peter Kline,www.Thelearningweb.net
5.      Doantara yasa “Pendekatan kontekstual”.Blog pada wordpress.com
6.      Drs. Bandono, MM”Menyusun Model Pembelajaran CTL”blog pada Wordpress.com
7.      Dr.Wina Sanjaya.Mpd.”Strategi PembelajaranJakarta; Kencana,2008.

























[1] Dasar dasar kependidikan,Drs H. Fuad ikhsan.2005
[2] Modul seminar pembekalan ppl.strategi pembelajaran.STAI RR 02/02/2011
[3] Peter Kline,www.Thelearningweb.net
[4] Dra.Wina Sanjaya.”Strategi Pembelajaran”hal:255 Jakarta;Kencana,2008.
[5] Doantara yasa “Pendekatan kontekstual”.Blog pada wordpress.com
[6] Ibid hal:260.

No comments:

Post a Comment