Tuesday, April 1, 2014

Validitas



MatKul
Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI

Dosen Pengampu : 

Dr. H. Agus Maimun, M.Pd & Dr. H. Mulyono, MA.






Oleh:
Moch. Hafidz Abror
Wahyudi
Indhra Musthofa





Mahasiswa PAI PascaSarjana UIN Maliki Malang
April 2014








PENDAHULUAN

      Latar Belakang
Evaluasi memiliki arti penting dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang guru. Diantara tujuan dari evaluasi adalah untuk menilai ketercapaian tujuan pendidikan oleh anak didik, sarana untuk mengetahui apa yang telah anak didik ketahui dalam kegiatan belajar mengajar, dan memotivasi anak didik. Untuk mengevaluasi hasil belajar dan proses belajar siswa, seorang guru menggunakan berbagai macam alat atau instrumen evaluasi seperti tes tertulis, tes lisan, ceklis-observasi, angket-wawancara, dan dokumentasi.
Keberhasilan mengungkap hasil dan proses belajar ini sebagaimana adanya (objektivitas hasil penilaian) sangat bergantung pada kualitas alat penilainya, di samping itu juga yang tidak kalah pentingnya tergantung pada cara pelaksanaannya. Suatu alat penilaian dikatakan mempunyai kualitas yang baik apabila alat tersebut memiliki atau memenuhi dua hal, yaitu validitas (ketepatan) dan reliabilitas (ketetapan atau keajegan) alat tes terjamin kualitasnya. Alat tes yang bagaimana dan seperti apa yang dikatakan memiliki validitas dan reliabilias ini, selanjutnya pada makalah ini akan di bahas “Validitas test”.









PEMBAHASAN

1.      Validitas
a.      Pengertian Validitas
Dalam istilah bahasa Indonesia valid dikenal dengan istilah sahih atau tepat benar. Valid menurut Gronlund dapat diartikan sebagai ketepatan interpretasi yang dihasilkan dari skor tes atau instrumen evaluasi. Suatu instrumen tes dikatakan valid, seperti dikatakan oleh Gay dan Johnson apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur.
Contoh yang dapat menggambarkan validitas misalnya guru olahraga yang akan menilai kemampuan dan pemahaman siswa mengenai lari estafet maka seharusnya guru tersebut menggunakan jenis tes praktek agar diperoleh hasil tes sesuai tujuan. Perlu ditekankan disini bahwa suatu tes yang valid untuk menilai suatu kelompok belum tentu tes tersebutjuga valid bila digunakan pada kelompok lain karena perbedaan pada setiap anggota kelompok tersebut.[1]
Ruang lingkup bahasan dari validitas tes meliputi: macam validitas, cara menentukan validitas tes, validitas butir, aplikasi penerapan rumus-rumus para ahli dalam menentukan validitas suatu tes. Fungsi validitas instrumen adalah untuk menentukan kesahihan instrumen sehingga jika instrumen tersebut digunakan untuk mengumpulkan data atau digunakan untuk mengukur kemampuan seseorangtidak diragukan lagi hasil yang diperoleh oleh instrumen tersebut.[2]
Dalam operasionalannya terdapat empat langkah validitas yaitu, triangulasi yang mencakup keragaman sumber, data, metode, dan teori konstruk validitas dalam pemahaman pengakuan terhadap konstruk yang ada dan bukan memaksakan implementasi konstruk atau teori terhadap informan atau konteks; validitas permukaan yang segera mengenal apayang terjadi secara spontan berseru “ya, tentu saja” terhadap situasi yang sedang terjadi; dan validitas penyebab yang mendorong partisipan untuk mengetahui kenyataan yang menyebabkan transformasi. Menurut Richadson bahwa ada validitas tradisonal yang sangat kaku dan hanya berdimensi dua. Ia menginginkan citra kristal sentral yang secara simetris mengkombinasikan substansi dan pendekatan-pendekatan.[3]

b.      Makna Validitas
Validitas suatu instrumen evaluasi mempunyai beberapa makna penting diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Validitas berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrumen evaluasi untuk grup individual dan bukan instrumen itu sendiri.
2)      Validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori yang bisa mencakup kategori rendah, menengah, dan tinggi.
3)      Prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa ia hanya valid untuk suatu tujuan saja.[4]

c.       Unsur Validitas
Ada dua unsur penting dalam validitas tes. Unsur tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Validitas suatu tes harus menunjukkan suatu derajat tertentu, ada yang sempurna, ada yang sedang, dan ada pula yang rendah.
2)      Validitas selalu dihubungkan dengan suatu putusan atau tujuan spesifik. Sebagaimana pendapat R. L Thorndike dan H. P Hagen bahwa “validiti is always in relation to a specific decision or use”.[5]

d.      Faktor yang Mempengaruhi Validitas
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1)      Faktor yang berasal dari dalam tes
Beberapa sumber yang pada umumnya berasal dari faktor internal tes evaluasi diantaranya sebagai berikut:
a)      Arahan tes yang disusun dengan makna yang jelas sehingga dapat menambah validitas tes.
b)      Kata-kata yang dugunakan dalam struktur instrumen evaluasi harus mudah.
c)      Item-item dikonstruksikan dengan baik.
d)     Tingkat kesulitan soal harus disesuaiakan dengan materi pembelajaran yang diterima oleh siswa.
e)      Jumlah item dan waktu evaluasi harus disesuaikan dengan pelajaran yang diterima siswa.
2)      Faktor yang berasal dari administrasi dan skor
Faktor yang berasal dari administrasi dan skor yang dibuat oleh guru. Berikut beberapa faktor yang bersumber dari administrasi dan skor antara lain:
1)      Waktu mengerjakan harus sesuai dengan jumlah soal yang diberikan pada siswa, agar siswa tidak tergesa-gesa menjawab soal tersebut.
2)      Pemberian petunjuk dari pengawas yang harus bisa dilakukan oleh semua siswa.
3)      Teknik pemberian skor harus konsisten.


3)      Faktor-faktor yang berasal dari jawaban siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi valid karena dipengaruhi oleh jawaban siswa bukan instrumen evaluasi lagi. Misalnya saja siswa senang mengikuti suatu ujian karena guru mata pelajaran mereka baik, ramah dan mudah dimengerti ketika menerangkan, atau ketika siswa harus tampil dalam evaluasi keterampilan suasana ketika tampil nyaman dan tenang, hal inilah yang dapat meningkatkan kualitas validitas suatu tes.[6]

e.       Teknik Uji Validitas
validitas suatu tes evaluasi bukanlah merupakan ciri yang absolut atau mutlak. Suatu tes evaluasi dapat mempunyai validitas yang bertingkat-tingkat seperti tinggi, sedang, dan rendah tergantung pada tujuan yang diinginkan. Sehubungan dengan itu ada beberapa jenis validitas yaitu:
1)      Validitas isi (content validity)
Suatu tes dikatakan memiliki validitas isi jika scope dan isi tes itu sesuai dengan scope dan isi kurikulum yang sudah diajarkan. Isi tes sesuai atau mewakili sampel-sampel belajar yang seharusnya dicapai menurut tujuan kurikulum. Validitas isi juga mempunyai peran yang sangat penting untuk tes pencapaian hasil belajar.
Validitas isi biasanya ditentukan oleh para ahli. Walaupun tidak ada formula matematika khusus untuk menghitung dan tidak ada cara secara pasti akan tetapi untuk memberikan gambaran bagaimana suatu tes divalidasi dengan validitas tes para ahli memberikan beberapa opsi yaitu dengan mengamatinya secara langsung pada tes dan item tes secara seksama sehingga diperoleh cara perbaikan jika ada kesalahan.
Upaya lain yang dapat ditempuh dalam rangka mengetahui validitas isi dari hasil tes belajar adalah dengan jalan menyelenggarakan iskusi panel. Dalam forum diskusi tersebut, para pakar ayng yag dipandang memiliki keahlian yang ada hubungannya dengan mata pelajaran yang diujikan, dimintapendapat dan rekomendasinya terhadap isi atau materi yang terkandung dalam tes hasil belajar yang bersangkutan. Hasil-hasil diskusi itu selanjutnya dijadikan pedoman atau bahan acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan isi atau materi tes hasil belajar tersebut.[7]
Salah satu tipe dalam penentuan kesimpulan harus dikaitkan dengan intisari dari validitas tes. Dalam hal ini, dalam menulis suatu tes, kita ingin mengambil kesimpulan bahwa siswa yang mendapat skor tinggi dalam tes akan hati-hati dan lebih bertanggung jawab daripada siswa yang mendapatkan skor rendah. Untuk mengerjakan semua itu, isi tes harus berdasarkan pada definisi lain dari ”safe driving ability” yang dapat menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan pengertian dari kehati-hatian harus diberikan komando.
Berikut ini, para pembuat tes kemampuan kognitif biasanya menghasilkan bukti validitas dalam prosesnya jika:
 Mendefinisikan secara eksplisit kemampuan yang akan diukur
 Menjelaskan secara detail tugas-tugas yang termasuk dalam tes
 Menjelaskan alasan untuk menggunakan beberapa tugas untuk mengukur kemampuan dalam suatu pertanyaan.
Menulis dokumen yang berisikan komponen-komponen tersebut menghasilkan suatu rasional eksplisit yang mengindikasikan apa sebenarnya yang diukur oleh tes dan ini merupakan bukti untuk Validitas Rasional Intrinsik. Namun permasalahanya, para pembuat tes termasuk guru, bertujuan untuk menghsilkan tes yang mengandung validitas intrinsik, tetapi mereka jarang menyatakan secara eksplisit tujuan tersebut. Mereka jarang memperhatikan proses pengkonstruksian tes sebagai proses validasi tes: Jarang dokumen mereka menuliskan alasan untuk membuat keputusan dalam pengembangan tes. Dan pada dasarnya, siapapun yang mempersiapkan diri untuk membuat tes yang memuat validitas instrinsik harus menunjukkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:Tentang apa sekumpulan keputusan yang akan dibuat? Apa domain yang akan diukur, apakah pengetahuan, keterampilan, atau tugas yang menunjukkan dasar dari pengambilan keputusan? Apa kepentingan relatif dari subdomain yang teridiri dari definisi domain? Jenis kekayaan atau isi apa yang dimiliki oleh item tes yang akan memberikan jaminan bahwa prestasi yang diukur merupakan elemen dari domain? Apakah item tes cukup menggambarkan domain pengetahuan, keterampilan, dan tugas? Apakah bagian dari item-item tes cukup mewakili bentuk dari kepentingan relatif sub domainnya? Domain atau subdomain apa yang berada di luar domain yang menarik ditunujukkan dalam tes?
Ketujuh garis besar tersebut menekankan bahwa apa yang diukur oleh tes atau bermaksud untuk diukur. Cronbach (dalam Ebel) menganjurkan bahwa apa yang diukur oleh tes kurang penting dibandingkan dengan apa yang seharusnya diukur.

2) Validitas Berdasarkan Kriteria
Korelasi antara skor tes dan kriteria pengukuran menghargai beberapa jenis bukti-bukti yang baik dalam mendukung kevalidan suatu tes yang digunakan. Ini kelihatannya memberikan suatu kebebasan, tujuan validasi berdasarkan keputusan dan kesimpulan yang dibuat selama pengembangan tes. Tetapi, ada sebagian kecil tes yang digunakan untuk kemampuan kognitif telah didukung dengan kriteria yang cukup menarik sebagai bukti validitasnya.
Dalam beberapa kasus dilapangan, kriteria pengukuran tidak tersediaApa yang seharusnya dijadikan kriteria pengukuran untuk kemampuan aritmatik siswa kelas lima (5) atau kemampuan untuk memahami sebuah perkara? Tes tersebut biasanya secara langsung mengukur kemampuan dengan maksimal apabila sudah direncanakan dengan baik. Jika diperoleh hasil pengukuran yang lebih baik, tes bersangkutan akan tidak diperlukan lagi.
Validitas berdasarkan Kriteria secara umum dibedakan menjadi dua macam, diantaranya: Validitas Prediksi (predictive) dan validitas Konkuren (concurrent). Ketika skor tes digunakan untuk memprediksi kriteria skor di masa yang akan datang, bukti yang dihasilkan dapat dianggap sebagai suatu prediksi. Sementara itu, validitas konkuren menunjukkan bahwa sekumpulan tes yang diberikan ”secara konkuren” mengukur kemampuan yang sama yang dispesifikasikan sebagai sekumpulan kriteria skor.
Validitas Prediksi
Lebih jauh Sukardi (2008:35) menyatakan bahwa validitas prediksi sebagai derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana seorang akan melakukan suatu prospek tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Sebagai contoh, tes kemampuan Aljabar dapat dikatakan mempunyai validitas prediksi jika hasil tes tersebut dapat menduga anak yang mempunyai kemampuan dan anak yang tidak mempunyai kemampuan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan beberapa ukuran keberhasilan dalam siituasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai Prediktor. Sedangkan tingkah laku hendak diprediksi pada umumnya disebut sebagai kriterion.
Ketika kriteria telah ditentukan, prosedur selanjutnya adalah menentukan validitas prediksi suatu tes dengan cara (Sukardi, 2008:37):
v Buat item tes sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
v Tentukan kelompok yang dijadikan subjek dalam pilot study
v Identifikasi kriterion prediksi yang hendak dicapai
v Tunggu sampai tingkah laku yang diprediksi atau variabel kriterion muncul dan terpenuhi dalam kelompok yang telah ditetentukan
v Capai ukuran-ukuran kriterion tersebut
v Korelasikan dua set skor yang dihasilkan

Validitas Konkuren
Validitas konkuren adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validasi konkuren biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan kriteria valid yang sudah ada. Sering terjadi bahwa tes dibuat atau dikembangkan untuk pekerjaan sama seperti beberapa tes lainnya, tetapi dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat. Validitas konkuren ditentukan dengan membangun analisis korelasi atau pembedaan. Cara-cara membuat tes dengan validitas konkuren dapat dilakukan dengan beberapa langkah, diantaranya:
v Berikan tes yang baru dibuat pada suatu kelompok tertentu
v Catat/sediakan tes baku yang ada disertai dengan koefisin validitasnya
v Korelasikan dua skor tes tersebut.
Hasil yang diperoleh sebagai koefisien korelasi menunjukkan derajat korelasi antar kedua tes. Jika koefisien tinggi, berarti tes yang baru tersebut mempunyai validitas konkuren baik (valid) karena tes baku dianggap sudah valid.
3)      Validitas kostruk (construct validity)
validitas konstruk adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh item-item tes mampu mengukur apa-apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan.
Validitas konstruk biasa digunakan untuk instrumen-instrumen yang dimaksudkan mengukur variabel-variabel konsep, baik yang sifatnya performansi tipikal seperti instrumen untuk mengukur sikap, minat, konsep diri, lokus control, gaya kepemimpinan, motivasi berprestasi, dan lain-lain, maupun yang sifatnya performansi maksimum seperti instrumen untuk mengukur bakat (tes bakat), intelegensi (kecerdasan intelekual), kecerdasan emosional dan lain-lain.
Untuk menentukan validitas konstruk suatu instrumen harus dilakukan proses penelaahan teoritis dari suatu konsep dari variabel yang hendak diukur, mulai dari perumusan konstruk, penentuan dimensi dan indikator, sampai kepada penjabaran dan penulisan butir-butir item instrumen. Perumusan konstruk harus dilakukan berdasarkan sintesis dari teori-teori mengenai konsep variabel yang hendak diukur melalui proses analisis dan komparasi yang logik dan cermat.
Menyimak proses telaah teoritis seperti telah dikemukakan, maka proses validasi konstruk sebuah instrumen harus dilakukan melalui penelaahan atau justifikasi pakar atau melalui penilaian sekelompok panel yang terdiri dari orang-orang yang menguasai substansi atau konten dari variabel yang hendak diukur.
Untuk menentukan adanya validitas konstruk, suatu tes dikorelasikan dengan suatu konsepsi atau teori. Item dalam tes tersebut harus sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam konsepsi tadi. Dengan kata lain, hasil-hasil tes tersebut disesuaiakan dengan tujuan atau ciri-ciri tingkah laku yang hendak diukur.
Seperti halnya pada penganalisisan validitas isi, maka penganalisisan validitas konstruksi dapat dilakukan dengan jalan menyelenggarakan diskusi panel. Pengujian validitas konstruksi tes ini pun dapat dilakukan baik sesudah maupun sebelum tes hasil belajar tersebut dilaksanakan.[8]
















Thorndike, Robert M, Christ, Tracy Thorndike, Measurement and Evaluation in Psychology and Education
Sukardi, Evaluasi pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009).
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Rochiati Wiriaatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008)
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011).
Anas Sudijono, Pengantar  Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.





[1] Sukardi, Evaluasi pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 30.
[2] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 103-104.
[3] Rochiati Wiriaatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), 162-163.
[4] Sukardi, Evaluasi pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, 31.
[5] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), 245.
[6] Sukardi, Evaluasi pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, 38-39.
[7] Anas Sudijono, Pengantar  Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 165.
[8] Ibid., 167.

No comments:

Post a Comment