Saturday, April 27, 2013

METODOLOGI PENELITIAN BISNIS


TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN BISNIS





Disusun oleh:
Maulana Muhammad riza (115020207111022)
\

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Era globalisasi menjadikan suatu peluang dan tantangan bisnis perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Disatu sisi era globalisasi memperluas pasar produk dari perusahaan di Indonesia dan sisi lain keadaan tersebut memunculkan persaingan yang sangat ketat baik antara perusahaan domestik maupun dengan perusahaan asing. Persaingan yang ada dalam era globalisasi akan semakin mengarahkan sistem perekonomian Indonesia kearah pasar yang memposisikan pemasar untuk selalu mengembangkan dan merebut pangsa pasar. Dalam hal ini perusahaan harus memikirkan misi bisnis dan strategi pemasaran secara kritis untuk memasarkan produk yang telah dihasilkan. Tujuan utama perusahaan adalah untuk mencari laba dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini perusahaan harus menggunakan strategi pemasaran yang tepat. Untuk merumuskan strategi pemasaran yang akan dipergunakan banyak faktor yang harus dipertimbangkan perusahaan.
Diantara faktor yang dipertimbangkan adalah konsumen manakah yang akan dituju, kepuasan seperti apa yang diinginkan oleh konsumen tersebut, serta bauran pemasaran (marketing mix) apa yang dipakai untuk memberikan kepuasan kepada konsumen tersebut. Keputusan-keputusan dalam pemasaran dapat dikelompokkan kedalam empat strategi yaitu : strategi produk, strategi harga, strategi distribusi, dan strategi promosi. Kombinasi dari keempat strategi tersebut akan membentuk bauran pemasaran (marketing mix), karena bauran pemasaran (marketing mix) merupakan suatu perangkat yang akan menentukan tingkat keberhasilan pemasaran bagi perusahaan dan semua ini ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada segmen pasar atau konsumen yang dipilih. Dari tujuan perusahaan untuk memberikan kepuasan terhadap pelanggan serta adanya penilaian yang positif dari pelanggan terhadap perusahaan akan menjadikan pelanggan tersebut tetap bertahan menjadi pelanggan yang setia. Mempertahankan seorang pelanggan adalah jauh lebih sulit dibandingkan mencari pelanggan baru. Citra perusahaan sedikit banyaknya berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan untuk memakai jasa atau produk dari suatu perusahaan. Faktor lain yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah kualitas pelayanan, memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan, daya tanggap memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat. Maka perusahaan harus mampu memberikan informasi yang baik serta mudah diterima oleh konsumen dan melayani para pelanggan dengan baik. McD Restaurant Dinoyo Malang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang makanan cepat saji (fast food), dimana perusahaan harus menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan. Tentunya pelayanannya juga sangat diperlukan untuk memberikan dan menciptakan kepuasan pelanggan pada McD Restaurant baik di seluruh Indonesia khususnya di Malang-Jawa Timur.
Persaingan yang dialami oleh perusahaan makanan cepat saji McD Restaurant di Indonesia cukup ketat, mengingat banyak perusahaan makanan cepat saji lainnya seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), California Fried Chicken (CFC), Texas Fried Chicken dan A&W Restaurant adalah perusahaan fast food yang cukup cepat merespon perubahan keinginan yang diinginkan oleh para pelanggan. Perusahaan makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC), California Fried Chicken (CFC), Texas Fried Chicken dan A&W Restaurant  juga memberikan yang terbaik dalam menjalankan strategi bauran pemasaran yang dipakai untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dan memberikan pelayanan yang baik agar konsumen kembali membeli di perusahaan fast food tersebut seperti yang dilakukan oleh McD Restaurant dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada McD Restaurant. Hal inilah yang membuat penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul: “Analisis bauran pemasaran (marketing mix) dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di McD Restaurant Dinoyo Malang”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah bauran pemasaran dan kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan di McD Restaurant “.

1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini adalah untuk :
1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh bauran pemasaran yang terdiri dari produk (product ), harga (price), promosi (promotion), lokasi (place) terhadap kepuasan pelanggan McD Restaurant.
2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy) terhadap kepuasan pelanggan McD Restaurant.

1.4 . Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
a. Memberikan informasi tambahan bagi perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan tentang kepuasan pelangan yang ada hubungannya dengan bauran pemasaran dalam meningkatkan kualitas pelayanan khususnya restaurant fast food.
b. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam bidang manajemen marketing.
c. Memberikan masukan berupa referensi bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan penelitian mengenai Kepuasan Pelanggan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bauran Pemasaran
2.1.1 Pengertian Pemasaran
Dalam memasarkan barang atau jasa banyak kegiatan-kegiatan pemasaran yang digunakan untuk mempengaruhi konsumen, kegiatan pemasaran bukanlah sekedar menjual barang atau jasa saja, melainkan segala aktivitas yang berhubungan dengan arus barang dan jasa. Pemasaran sebagai kegiatan manusia diarahkan untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran. Definisi yang paling sesuai dengan tujuan tersebut adalah : Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain (Kotler, 2005).
Definisi pemasaran ini bersandar pada konsep inti yang meliputi kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Perusahaan dituntut untuk dapat memahami keinginan dan kebutuhan konsumen, sehingga konsumen mau membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Salah satu usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan volume penjualan adalah dengan menerapkan strategi marketing mix. Dalam marketing mix terdapat kombinasi empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dalam sistem pemasaran perusahaan yaitu : produk (product), promosi (promotion), harga (price), dan tempat (place). Keempat unsur yang terdapat dalam kombinasi tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi terhadap peningkatan volume penjualan. Pemasaran merupakan salah satu dan kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Dimana dalam empat unsur tersebut juga berdampingan dengan pelayanan yang ditawarkan oleh pihak perusahaan kepada konsumen. Pemasaran juga merupakan sebuah faktor yang penting dalam suatu siklus yang bermula dan berakhir dengan kebutuhan konsumen. Jadi pada hakekatnya berhasil tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung pada bagaimana tanggapan para konsumen. Perlu diingat bahwa pada dasarnya sebuah pasar bukan dimiliki tetapi dilayani, guna melayani suatu pasar dengan baik diperlukan studi secara konsisten beserta perencanaannya, hal ini berguna untuk mencapai loyalitas dan kesediaan pembeli pada tingkat tertentu. Para pemasar atau produsen harus mampu membujuk konsumen yang beragam untuk membeli produk yang dipasarkan dan menyampaikan pesan yang tepat kepada konsumen sasaran. Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan konsumsi, sehingga perusahaan dapat menyusun strategi pemasaran yang sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi di masyarakat. Didalam memasarkan suatu barang atau jasa pelayanan juga menjadi tolak ukur bagi masyarakat dalam menilai suatu perusahaan. Dimana sebelumnya memaksimalkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kepuasan pelanggan maka perlu diketahui apa yang sebenarnya pelayanan itu.


Pelayanan (service) adalah semua tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan satu pihak kepada pihak lain yang pada intinya tidak menghasilkan kepemilikan apapun” (Kotler,dkk; 2009:36). Peningkatan pelayanan perlu dilakukan sebagai upaya untuk mencapai kepuasan pelanggan dan perlu diupayakan secara berkesinambungan serta berorientasi pada perbaikan. Pelayanan yang sempurna harus diberikan sejak awal karena dampak dari suatu pelayanan yang buruk akan sangat besar pengaruhnya terhadap suatu perusahaan.
2.1.2 Pengertian Bauran Pemasaran
Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan demi tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan. Salah satu unsur dalam strategi pemasaran terpadu adalah strategi acuan atau bauran pemasaran yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menyajikan penawaran produk pada segmen pasar tertentu yang merupakan pasar sasaran. Kotler, (2009:198) “Bauran Pemasaran (marketing mix) merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan perusahaan, yang terdiri dari produk (product), promosi (promotion), harga (price) dan tempat (place)”.
Dalam hal ini dibutuhkan dua bagian yang sangat penting dan saling berkaitan yaitu sasaran pasar yang dituju (target market), dan acuan pemasaran yang dijalankan (marketing mix). Dari defenisi strategi pemasaran diatas bahwa salah satu pendekatan pokok yang digunakan adalah bauran pemasaran atau marketing mix atau sering disebut 4-P. Alma (2005:36) menyatakan bahwa bauran pemasaran (marketing mix) adalah koordinasi dan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan produk, promosinya, penetapan harganya, dan distribusinya. Dari defenisi tersebut, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan bauran pemasaran adalah kombinasi dari variabel-variabel seperti produk, harga, tempat atau saluran distribusi dan promosi yang dapat dikendalikan untuk mencapai target pasar yang diharapkan perusahaan. Sebagai penunjang dari unsur yang mempengaruhi peningkatan volume penjualan pelayanan yang ditawarkan juga merupakan unsur penting dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan. Dimana diketahui bahwa kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Aplikasi kualitas sebagai sifat dari penampilan produk atau kinerja merupakan bagian utama strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun sebagai strategi untuk terus bertumbuh. Keunggulan suatu produk jasa tergantung dari keunikan serta kualitas yang diperlihatkan oleh jasa tersebut, apakah sudah sesuai dengan harapan dan keinginan pelanggan.

2.1.3 Kebijakan Harga
Defenisi harga menurut Suwarman (2004:303) “Harga adalah atribut produk atau jasa yang paling sering digunakan oleh sebagian besar konsumen untuk mengevaluasi produk”. Chandra (2005:149) “Harga dapat diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter) dan atau aspek lain (non moneter) yang mengandung utilitas atau kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk”. Kebijakan penetapan harga jual sebagian besar tergantung pada bentuk-bentuk persaingan yang berlaku dalam masyarakat. Kebijakan penetapan harga yang dilakukan dalam persaingan monopoli tentu berbeda dengan bentuk persaingan bebas. Dalam persaingan monopoli, suatu perusahaan akan mempunyai kedudukan monopoli terhadap barang atau jasa tertentu, dalam hal ini kebijakan harga adalah bebas karena tidak menghadapi saingan dari perusahaan lain, tetapi meskipun demikian perusahaan juga mempertimbangkan tingkat daya beli konsumen dan menunjukkan adanya barang pengganti. Diluar persaingan monopoli perusahaan sangat perlu membandingkannya dengan harga suatu produk serupa yang diproduksi atau dijual perusahaan lain, artinya perusahaan perlu selalu memonitor harga jual yang ditetapkan oleh para pesaing, agar harga yang ditentukan perusahaan tidak terlalu tinggi atau sebaliknya. Dalam hal ini manajemen pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencari dan mengumpulkan informasi yang berguna untuk penetapan harga, karena merekalah yang berhubungan langsung dengan konsumen. Tujuan umum penetapan harga jual produk dapat diarahkan pada 2 (dua) hal, yaitu :
1. Penetapan harga jual yang berbasis biaya
2. Penetapan harga berbasis permintaan.
Penggunaan salah satu bentuk strategi tersebut akan sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi oleh manajemen.

2.1.4 Penetapan Harga Berdasarkan pada Biaya dan Persaingan
Orientasi penetapan harga yang berbasis pada biaya bertumpu pada kriteria internal yang ditetapkan perusahaan. Harga jual ditetapkan untuk dapat menutup biaya dan sekaligus mencapai tingkat keuntungan investasi yang ditargetkan. Selain itu, penetapan harga berorientasi pada biaya juga dimaksudkan untuk memperoleh margin tertentu yang dapat dipergunakan untuk menutup biaya advertensi dan biaya-biaya pemasaran lainnya.

2.1.5 Pengaruh konsumen Dalam Penetapan Harga
Seperti telah disebut pada bagian awal, dua hal yang harus diperhatikan oleh pemasar dalam penetapan harga adalah persepsi dan respon konsumen terhadap berbagai alternatif harga. Persepsi konsumen akan berkaitan dengan cara konsumen memandang dan menginterpretasikan harga; sedang respons konsumen akan berkaitan dengan perilaku nyata yang dilakukan konsumen terhadap produk. Adapun persepsi konsumen tehadap harga jual yang ditetapkan akan terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :
1. Kesadaran Konsumen terhadap Harga (price awareness)
Pada umumnya kesadaran konsumen terhadap harga sangat rendah. Hal ini disebabkan konsumen pertama kali yang dilihat adalah wujud fisik atau gambaran tentang produk. Namun, biasanya kesadaran harga itu akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya sensitivitas harga yang dilakukan. Bagi kelompok pembeli organisasional memang sedikit berbeda. Mereka pada umumnya mempunyai kesadaran harga yang tinggi karena adanya kebutuhan untuk bernegosiasi baik tentang harga maupun cara pembayarannya.
2. Ekspektasi terhadap Harga ( price expectation )
Sebelum menentukan pilihan atas produk, konsumen biasanya mengembangkan ekpektasi tentang tingkat harga normal dan tentang harga untuk suatu merek tertentu. Mereka menentukan standar harga untuk beberapa item produk yang dianggapnya cukup fair. Konsumen juga biasanya menetapka berapa kira-kira rentang harga untuk segmen pasar tertentu kemudian akan diarahkan untuk menjadi dasar penetapan tingkat harga.

2.1.6 Kaitan Harga dan Kualitas Produk
Hal lain yang cukup penting diperhatikan dalam penetapan strategi harga adalah menentukan apakah konsumen memandang tingkat harga memberikan inidikasi tentang kualitas produk. Apabila hal itu benar, maka penurunan harga mungkin akan meningkatkan penjualan dalam wakttu singkat; tetapi mungkin juga berakibat konsumen memiliki pandangan bahwa perusahaan telah mempertaruhkan kualitas dengan harga produk. Banyak bukti menunjukkan bahwa konsumen mempunyai tendensi menggunakan harga sebagai indikator kualitas terutama ketika mereka tidak memiliki pengalaman pembelian produk tertentu, sedikit informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, dan apabila mereka melihat bahwa pembelian itu mempunyai risiko yang besar. Sebaliknya, konsumen yang mempunyai informasi yang cukup tentang produk pada umumnya tidak secara langsung mengaitkan harga dengan kualitas produk. Hal ini dapat diamati pada perilaku pembeli organisasional. Pada umumnya mereka mencari informasi sebanyak mungkin sebelum keputusan pembelian dilakukan.

2.2 Kualitas Pelayanan
2.2.1 Defenisi Pelayanan
Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan (Ratminto dan Atik, 2009:2). Sedangkan, menurut Simamora (2008:172) menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

2.2.2 Defenisi Kualitas Pelayanan
Menurut Goetsh dan Davis (dalam Tjiptono,2005: 51) Kualitas adalah “suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau memiliki harapan”. Menurut American Society for Quality Control (dalam Lupiyoadi, 2001: 144). Kualitas adalah “Keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”. Konsep kualitas pelayanan pada dasarnya bersifat relatif, yaitu tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas pelayanan yang seharusnya konsisten satu sama lainnya, yaitu: persepsi pelanggan, produk dan pelayanan, dan proses. Ketiga orientasi ini dapat dibedakan dengan jelas bahkan produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2006 :144). Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2006 :148) ada 5 (lima) dimensi dalam menentukan kualitas pelayanan yaitu :
1. Bukti langsung (tangibles)
Definisi bukti langsung dalam Lupiyoadi (2006:148) yaitu "kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensi kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa, yang meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya". Bukti langsung dalam Tjiptono (2005:70) adalah "bukti fisik dari jasa, bisa berupa fisik, peralatan yang dipergunakan, representasi fisik dari jasa (misalnya, kartu kredit plastik)". Sedangkan Philip Kotler (2009:53) mengungkapkan bahwa bukti langsung adalah "fasilitas dan peralatan fisik serta penampilan karyawan yang professional".
2. Kehandalan (reliability)
Kehandalan dalam Lupiyoadi (2006:148) adalah "kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama, untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi".
Tjiptono ( 2005 : 69 ) mendefinisikan kehandalan adalah "mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja (performance) dan kemampuan untuk dipercaya (dependability). Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga berarti bahwa perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya, misalnya menyampaikan jasanya sesuai dengan jadwal yang disepakati". Secara singkat definisi kehandalan dalam Tjiptono (2005:14) adalah "kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan".
3. Daya tanggap (responsiveness)
Menurut Lupiyoadi (2006:148) daya tanggap adalah "suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan". Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2005:70) daya tanggap adalah "keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap".
4. Jaminan (assurance)
Definisi jaminan dalam Lupiyoadi (2006:148) yaitu "pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy)". Senada dengan pengertian di atas Tjiptono ( 2005 : 70 ) mendefinisikan kehandalan adalah "mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staff, bebas dari bahaya, risiko, atau keragu-raguan". Sedangkan menurut Kotler (2009:53) jaminan adalah "pengetahuan dan kesopanan dari karyawan, dan kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan dan keyakinan".
5. Empati (empathy)
Lupiyoadi (2006:148) menerangkan empati adalah "memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan". Menurut Tjiptono (2005:70) empati adalah "kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan". Lebih singkat lagi Kotler (2009:53) mendefinisikan empati adalah “tingkat perhatian pribadi terhadap para pelanggan". Suatu perusahaan pelayanan dapat memenangkan persaingan dengan cara terus menerus memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi dibandingkan dengan pesaing, dan melebihi harapan para konsumen. Pengharapan ini dibentuk oleh pengalaman mereka terdahulu, pembicaraan dari mulut ke mulut dan iklan. Setelah mendapat pelayanan konsumen lantas membandingkan kualitas pelayanan yang mereka peroleh dengan kualitas pelayanan yang mereka harapkan.
Parasuruman, et.al (1985:65), merumuskan suatu model kualitas pelayanan yang meninggikan hal-hal penting dalam memberikan kualitas pelayanan bermutu tinggi, ilustrasi dibawah ini ditujukan untuk menggambarkan 5 kesenjangan (Gap) yang dapat menghasilkan pelayanan yang tidak berhasil (Gambar 2.1).
Gambar 2.1. Model Kesenjangan (GAP) Dalam Kualitas
Keterangan :
1. Kesenjangan diantara harapan konsumen dengan persepsi manajemen. Manajemen tidak selalu teliti menanggapi apa yang sesungguhnya diinginkan oleh konsumen.
2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dengan spesifikasi kualitas pelayanan. Manajemen boleh jadi mengerti persis apa yang sesungguhnya diinginkan oleh konsumen tetapi tidak membuat suatu pelayanan standar yang khas untuk memuaskannya.
3. Kesenjangan diantara spesifikasi kualitas pelayanan dengan pemberian pelayanan. Kesenjangan timbul karena ketidak mampuan personel untuk melakukan pelayanan akibat kurang pelatihan yang memadai.
4. Kesenjangan diantara pemberi pelayanan dengan komunikasi eksternal. Pengharapan konsumen dipengaruhi sangat oleh janji-janji pemasar ataupun iklan yang berlebihan dibandingkan dari apa yang sebenarnya dapat diberikan oleh pelayanan di perusahaan.
5. Kesenjangan diantara pelayanan yang dirasakan dengan pelayanan yang diharapkan. Konsumen boleh jadi salah mengerti menilai kualitas pelayanan yang benar.

2.3 Konsep Kepuasan Pelanggan
2.3.1 Definisi Kepuasan Pelanggan
Definisi kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan menurut Day dalam Tse dan Wilton (1988) adalah “respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian (disconfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja actual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya”. Engel (1990) dalam Tjiptono (2005:146) mengungkapkan bahwa Kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan. Sedangkan Wilkie (1990) dalam Tjiptono (2005:24) mendefinisikannya sebagai “suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa”. Kotler (2009:36) memberikan arti dari kepuasan konsumen yaitu tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan performansi (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapannya. Apabila kinerja dibawah harapan, maka konsumen akan kecewa. Bila kinerja sesuai dengan harapan, konsumen akan puas. Sedangkan bila kinerja melebihi harapan, konsumen akan sangat puas. Harapan konsumen dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi pemasar dan saingannya. Konsumen yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan.

2.3.2 Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Perusahaan perlu melakukan pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan karena hal ini telah menjadi hal yang esensial bagi setiap perusahaan. Langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan kepuasan pelanggan. Menurut Kotler ( 2009 : 38 ) metode - metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan untuk memantau dan mengukur kepuasan pelanggan adalah sebagai berikut:
1. Sistem keluhan dan saran (complain and suggestion system)
Organisasi yang berwawasan pelanggan akan membuat pelanggannya memberikan saran atau keluhan, misalnya dengan memberikan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan atau keluhan, penempatan kotak saran. Alur informasi ini memberikan banyak gagasan balik dan perusahaan dapat bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan masalah.
2. Survey pelanggan (customer surveys)
Kepuasan pelanggan dapat diukur melalui pelanggan atas persepsinya terhadap kepuasannya.
3. Pembeli bayangan (ghost shopping)
Cara lain untuk mengukur mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan menyuruh orang berpura-pura menjadi pembeli dan melaporkan titik-titik kuat maupun lemah yang mereka alami sewaktu membeli produk perusahaan.
4. Analisa Kehilangan Pelanggan (lost customer analysis)
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami mengapa hal ini terjadi dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya. Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting, menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan kualitas pelanggannya.

Crosby and Stephens (1987) mengemukakan konseptual dari kepuasan pelanggan terhadap jasa (service) terdiri atas tiga hal penting, termasuk kepuasan terhadap: 1. Contact person; 2. The core service, dan ; 3. The organization. Hal ini dicontohkan dalam kepuasan terhadap perusahaan jasa asuransi jiwa, yang terdiri atas kompenen kepuasan terhadap agen (service pro-vider), jasa utama (core service), dan organisasi. Oliver (1993), Rust, Zahorik dan Keiningham (1995), Spreng, MacKenzie and Olshavsky (1996), dan Mittal, Ross dan Baldarase (1998) mengembangkan suatu model tentang bagaimana kepuasan / ketidakpuasan terhadap atribut produk atau service dan proses dihubungkan dengan evaluasi terhadap kepuasan. Namun hal yang terpenting adalah bahwa kepuasan pelanggan tidak dapat diukur secara langsung dengan pengukuran yang obyektif, kepuasan pelanggan harus dilihat sebagai sesuatu hal yang abstrak dan merupakan fenomena teoritis yang dapat diukur dengan banyak indikator (Andreassen, 1994). Pengukuran kepuasan dengan menggunakan cara tersebut merupakan hal yang paling sering dilakukan pada berbagai perusahaan penyedia jasa. Lebih lanjut Andreassen (1994) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan dapat dibentuk melalui 3 item yaitu:
1. Tingkat kepuasan terhadap pelayanan secara keseluruhan.
2. Tingkat kepuasan terhadap pelayanan apabila dibandingkan dengan jasa sejenis.
3. Merekomendasikan kepada orang lain.

2.4 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Daftar Peneliti Terdahulu

Peneliti
Judul
Variabel
Hasil
Indrayana (2009)
Analsis Pengaruh
Variabel Marketing
Mix Terhadap Volume
Penjualan Pada PT.
Daniris di Sukoharjo
- Personal Selling (X1)
- Periklanan (X2)
- Volume Penjualan (Y)
- Variabel Personal Selling berpengaruh signifikan ebesar 0,04 dengan a (0,05) terhadap volume penjualan
- Variabel Periklanan berpengaruh signifikan sebesar 0,010 dengan a (0,05) terhadap volume penjualan.

Darwin Eduardus (2009)
Pengaruh saluran distribusi dan biaya promosi terhadap perubahan volume penjualan nutrisari dalam kemasan sachet pada PT. Nutrexindo Prima cabang Surabaya

- Saluran Distribusi (X1)
 - Biaya Promosi (X2)
 - Volume Penjualan (Y)
- Terdapat pengaruh yang signifikan dari saluran distribusi dan biaya promosi terhadap perubahan volume penjualan Nutrisari, serta diketahui juga bahwa biaya promosi memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap perubahan volume penjualan dibandingkan saluran distribusi.
Kristiana Tri Wulandari, (2007)
Pengaruh Penentuan Harga Jual dan Biaya Promosi Terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Kapas Putih di Klaten.
- Harga Jual (X1)
 - Biaya Promosi (X2)
- Volume Penjualan (Y)


- Dari hasil analisis regresi berganda diperoleh persamaan regresi Y = 51314,142 - 5,481 X1 + 0,004 X2.
- Terdapat pengaruh negatif antara harga jual terhadap volume penjualan, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien regresi harga jual sebesar -5,481 sedangkan biaya promosi penjualan memberikan pengaruh positif terhadap volume penjualan, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien regresi biaya promosi sebesar 0,004;
- Terdapat pengaruh signifikan antara harga jual terhadap volume penjualan, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai thitung (- 2,174) < -ttabel (-2,052) dengan tingkat signifikansi 0,039 dan terdapat pengaruh signifikan antara biaya promosi terhadap volume penjualan, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai thitung (5,886) > ttabel (2,052) dengan tingkat signifikansi 0,000;

2.5 Kerangka Konseptual
Tujuan berdirinya perusahaan itu sendiri adalah untuk mendapatkan keuntungan atau laba dan besar kecilnya laba sering menjadi ukuran kesuksesan suatu manajemen. Hal tersebut didukung oleh kemampuan manajemen di dalam melihat kemungkinan dan kesempatan dalam menentukan kebijakan harga pada produk yang Mc Donald Restaurant pasarkan dan kualitas pelayanan yang Mc Donald Restaurant berikan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu perlu adanya suatu perencanaan untuk mencapai hal tersebut.
Ukuran yang sering dipakai untuk menilai sukses atau tidaknya manajemen suatu perusahaan adalah dari laba yang diperoleh perusahaan. Sedangkan laba terutama dipengaruhi oleh volume produksi dan disertai dengan kualitas pelayanan yang baik sehingga kedua hal tersebut dapat mempengaruhi volume produksi dan pada akhirnya mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan.
Sedangkan menurut Kotler (2005 : 52), “Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya”. Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka penulis membuat model penelitian sebagai berikut:
Dari beberapa teori yang dikemukakan, maka dapat diungkapkan suatu kerangka berpikir yang befungsi sebagai penuntun alur pikir dan dasar penelitian ini yang secara diagramik adalah sebagaimana ditunjukan Gambar 2.2 sebagai berikut:





 





























Sumber : Tjiptono (2005. 51), Kottler (2005:36) (diolah)
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual
Dalam kerangka pikir yang mendasari penelitian ini adalah kepuasan pelanggan yang rendah yang diakibatkan dari bauran pemasaran dan kualitas pelayanan. Dari kedua faktor tersebut apakah ada pengaruhnya terhadap kepuasaan konsumen dilingkungan Mc Donald Restaurant.

2.6. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran serta teori pendukung, maka peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Bauran pemasaran yang meliputi; produk (product), harga (price), promosi (promotion) dan lokasi (place) berpengaruh secara positif terhadap Kepuasan Pelanggan Mc Donald Restaurant.
 2. Kualitas Pelayanan yang meliputi ; kehandalan (reliability), jaminan (assurance), langsung (tangibles), empati (empathy), daya tanggap (responsiveness) secara positif terhadap kepuasan pelanggan Mc Donald Restaurant.
3. Bauran pemasaran dan kualitas pelayanan berpengaruh secara positif terhadap kepuasan pelanggan Mc Donald Restaurant.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
            Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah jenis penelitian asosiatif yaitu penelitian yang menghubungkan 2 (dua) variabel bebas atau lebih untuk melihat pengaruhnya terhadap variabel terikatnya (Ginting dan Situmorang, 2008 : 57).

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada McD Restaurant yang berada di kawasan Klojen Malang. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2013 – April 2013.

3.3. Batasan Operasional
Penelitian yang baik adalah penelitian yang dilakukan secara terfokus dan mendalam, untuk itu diperlukan pembatasan terhadap variabel yang akan diteliti dalam suatu penelitian. Batasan operasional variabel dilakukan untuk menghindari kesimpangsiuran dalam membahas dan menganalisa permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini.
            Oleh karena itu, penelitian ini hanya terbatas pada analisa bauran pemasaran (marketing mix) dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di McD Restaurant. Bauran pemasaran (marketing mix), terdiri dari: produk (product), harga (pricing), promosi (promotion), dan lokasi (place). Dimana variabel yang dianalisis sebagai berikut :
X1.1 = produk
X1.2 = harga
X1.3 = promosi
X1.4 = lokasi

Sedangkan untuk kualitas pelayanan terdiri dari; Kehandalan (reliability), Jaminan (assurance), bukti langsung (tangibles), Empati (empathy) dan Daya tanggap (responsiveness), dimana variabel yang dianalisis sebagai berikut:
X2.1 = reliability
X2.2 = assurance
X2.3 = tangibles
X2.4 = empathy
X2.5 = responsiveness

Sementara untuk variabel terikatnya sebagai berikut: Y = kepuasan pelanggan

3.4 Defenisi Operasional
Defenisi operasional variabel diperlukan untuk menjelaskan variabel-variabel yang sudah di identifikasikan sebagai upaya pemahaman dalam penelitian. Defenisi variabel yang diteliti sebagai berikut:
a. Variabel bebas yaitu variabel yang nilainya tidak tergantung pada variabel lain, terdiri dari :
1) Produk (product), (X1.1)
Produk merupakan makanan dan minuman yang dapat dinikmati konsumen/ pelanggan di McD Restaurant.
2) Harga (pricing) (X1.2)
Harga adalah nilai yang ditukarkan konsumen atau pelanggan restauran untuk suatu manfaat yang didapatkan atas pengkonsumsian dan penggunaan produk yang ada di McD Restaurant.
3) Promosi (promotion), (X1.3)
Promosi adalah kegiatan pemasaran yang dilakukan pihak restauran dalam menginformasikan dan membujuk konsumen mengenai produk yang di tawarkan pihak McD Restaurant.
4) Lokasi (place) (X1.4)
Lokasi adalah berhubungan dengan dimana sebuah restauran harus berdiri dan melakukan operasi penjualan produk yang dihasilkan oleh pihak Restauran yang bersangkutan.
5) Kehandalan (reliability), (X2.1)
Realibility adalah kemampuan untuk memberikan service yang telah dijanjikan secara akurat agar dapat memuaskan konsumen.
6) Jaminan (assurance), (X2.2)
Assurance adalah kemampuan McD Restaurant untuk membangkitkan rasa percaya dan keyakinan pada diri konsumen, bahwa pihak McD Restaurant terutama pegawainya mampu memenuhi kebutuhan konsumennya.
7) Bukti Langsung (tangibles), (X2,3)
Tangible yaitu seluruh bentuk penampilan fisik dari penyedia jasa beserta personilnya.
8) Empati (empathy), (X2.4)
Empathy adalah sejauh mana McD Restaurant dapat memberikan perhatian secara individual terhadap konsumen melalui komunikasi yang baik dan keinginan yang tulus untuk mengerti konsumen.
9) Daya tanggap (responsiveness), (X2.5)
Responsiveness adalah kesediaan McD Restaurant untuk membantu konsumen serta memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen.

b. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya terhadap produk yang digunakan atau dikonsumsi telah terpenuhi.

Tabel 3.1
Defenisi Operasional Variabel

No
Variabel
Defenisi Operasional
Indikator
Skala Pengukuran
1
Produk (Product) (X1.1)
Produk (Product) merupakan segala sesuatu yang dapat dinikmati konsumen.

1. Makanan dan minuman (food & beverage) restoran yang bervariasi.
2. Kualitas produk yang terbaik.
3. Kemasan produk yang menarik para pembeli.
Skala Likert
2.
Harga (pricing) (X1.2)
Harga (pricing) adalah nilai yang ditukarkan
konsumen untuk suatu manfaat yang didapatkan atas pengkonsumsian produk restauran.  

1. Harga sesuai dengan fasilitas
2. Harga yang terjangkau.
3. Perbandingan harga dengan Restauran cepat saji lain yang sejenis.

Skala Likert
3.
Promosi (promotion) (X1.3)
Promosi (promotion) adalah kegiatan pemasaran yang dilakukan pihak restauran dalam menginformasi kan dan membujuk konsumen mengenai produk yang dihasilkan oleh pihak A&W Restaurants.

1. Kemudahan mendapatkan informasi.
2. Pesan yang disampaikan menarik.
3. Pesan yang disampaikan mudah dipahami.

Skala Likert
4
Lokasi (place) (X1.4)
Lokasi (Place) adalah berhubungan dengan dimana sebuah restauran harus berdiri dan melakukan operasi penjualan produk-produknya.

1. Lokasi Restauran yang strategis.
2. Ketersediaan sarana transportasi dari dan ke restauran.
3. Lingkungan yang aman.

Skala Likert
5
Kehandalan (Reliability) (X2.1)
Reliability adalah kemampuan untuk memberikan service yang telah dijanjikan secara akurat agar dapat memuaskan konsumen.

1. Prosedur pelayanan cepat dan tepat.
2. perhatian serius terhadap masalah pelayanan.
3. kehandalan penyampaian jasa.

Skala Likert
6
Asuransi Assurance (X2.2)
Assurance adalah kemampuan penyedia jasa untuk membangkitkan rasa percaya dan keyakinan pada diri konsumen, bahwa pihak penyedia jasa terutama pegawainya mampu memenuhi kebutuhan konsumennya

1. Pengetahuan dan kemampuan petugas
2. data yang diberikan akurat, pelayanan yang sopan dan ramah
3. jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan

Skala Likert
7
Bukti Langsung Tangible (X2.3)
Tangible adalah seluruh bentuk penampilan fisik dari penyedia jasa beserta personilnya.

1. Kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan,
2. Penampilan fisik sepadan dengan jenis jasa yang diberikan,
3. kemoderenan peralatan yang dimiliki, kerapian dan profesionalisme petugas.

Skala Likert
8
Empati Empathy (X2.4)
Empathy adalah sejauh mana pemberi jasa dapat memberikan perhatian secara individual terhadap konsumen melalui komunikasi yang baik dan keinginan yang tulus untuk mengerti konsumen.

1. Memberikan perhatian kepada nasabah
2. memiliki kemampuan dan pemahaman akan kebutuhan pelanggan
3. pelayanan tanpa memandang status sosial.

Skala Likert
9
Daya Tanggap Responsiveness (X2,5)
Responsiveness adalah kesediaan penyedia jasa untuk membantu konsumen serta memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen.

1. Cepat tanggap menyelesaikan keluhan,
2. informasi yang diberikan jelas dan mudah dimengerti,
3. komunikatif, membantu kesulitan dalam penggunaan layanan

Skala Likert
10
Kepuasan Pelanggan (Y)
Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya terhadap produk yang digunakan atau dikonsumsi telah terpenuhi.

1. Keselarasan fasilitas fisik dengan produk yang ditawarkan.
2. Keperdulian terhadap permasalahan yang terjadi.
3. Kesediaan karyawan untuk menanggapi permintaan pelanggan dengan cepat.
4. Pemahaman akan kebutuhan pelanggan.

Skala Likert
Sumber : data diolah (2013)

3.5 Skala Pengukuran Variabel
Pengukuran masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah menggunakan Skala Likert. Tujuannya adalah untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Melalui skala Likert variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan (Sugiyono, 2008:133).

Tabel 3.2
Instrumen Skala Likert

No
Pertanyaan
Skor
1.
Sangat Setuju
5
2.
Setuju
4
3.
Kurang Setuju
3
4.
Tidak Setuju
2
5.
Sangat Tidak Setuju
1
Sumber: Sugiyono (2008:133)

3.6 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan yang datang ke Mc Donald Restaurants Malang yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.3
Jumlah pelanggan yang datang ke Mc Donald Restaurants Klojen Malang

No.
Tahun
Bulan
Jumlah Pelanggan
1
2011
Januari
3876
2
2011
Februari
3389
3
2011
Maret
3412
4
2011
April
3456
5
2011
Mei
3467
6
2011
Juni
4780
Jumlah
22380
rata rata
3730
Sumber: Mc Donald Restaurants Klojen Malang (2013)


Berdasarkan tabel tersebut, peneliti mengambil populasi yiatu rata rata pelanggan dari bulan januari sampai dengan juni 2011 sebesar 3730 pelanggan.

b. Sampel
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan rumus Slovin (Umar 2005) sebagai berikut:
                        n =       N
                                    1+ Ne2

Dimana :          n = Jumlah Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Standart error = 10%

Sehingga :       n =       3730                = 97, 389
                                    1+ 3730(0,1)2

= 97 pelanggan ( digenapkan)

Berdasarkan rumus Slovin tersebut, peneliti menentukan atau membatasi sampel sebanyak 97 orang dengan taraf kesalahan 10%. Sedangkan mengenai penarikan sampel, penulis menggunakan metode purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono,2008). Sampel yang diambil adalah pelanggan yang datang ke Mc Donald Restaurants Klojen Malang.

3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Daftar pertanyaan (questionnaire) yang diberikan kepada pelanggan yang datang ke A&W Restaurants.
2. Studi Dokumentasi
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menambil buku buku, jurnal majalah dan situs internet yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

3.8. Jenis dan Sumber Data
Penelitian menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer tersebut diperoleh dari hasil wawancara langsung dan diskusi dengan pimpinan dan karyawan perusahaan serta dari hasil pengisian kuesioner penelitian oleh pelanggan. Data sekunder digunakan untuk melengkapi data primer yang meliputi:
a. Data mengenai sejarah dan perkembangan perusahaan
b. Data struktur organisasi dan uraian tugas
c. Buku-buku ilmiah dan literatur lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian.

3. 9 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu dilakukan sebelum instrumen digunakan. Pengujian instrument dicobakan pada sampel diluar responden yang diambil dengan jumlah anggota sampel yang digunakan sekitar 30 orang (Sugiyono, 2008: 114). Valid artinya data yang diperoleh melalui kuesioner dapat menjawab tujuan penelitian. Pengujian validitas instrumen dilakukan pada pelanggan A&W Restaurants, dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika rhitung>rtabel, maka penyataan tersebut dinyatakan valid.
b. Jika rhitung<rtabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan tidak valid.

Reliabel artinya data yang diperoleh melalui kuesioner hasilnya konsisten bila digunakan peneliti lain. Pengujian dilakukan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 16.0 for windows. Butir pertanyaan yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika r alpha positif  atau > rtabel  maka pernyataan reliabel.
b. Jika r alpha negatif  atau < rtabel  maka pernyataan tidak reliabel.

3.10 Metode Analisa Data
Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh variable independen yang terdiri dari: produk (product), harga (pricing), promosi (promotion), dan lokasi (place), dan kualitas pelayanan yang terdiri dari : kehandalan (reliability), jaminan (assurance), bukti langsung (tangibles), empati (empathy) dan daya tanggap (responsiveness) berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasaan pelanggan yang datang ke A&W Restaurants. Persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat ditulis sebagai berikut:
1. Hipotesis Pertama
Y= a + b1.1X1.1 + b1.2X1.2 + b1.3X1.3 + b1.4X1.4 + e
dimana:
X1.1 = produk
X1.2 = harga
X1.3 = promosi
X1.4 = lokasi
a = konstanta
b1.1, b1.2, b1.3, b1.4 = koefisien regresi variabel X1.1, X1.2, X1.3, X1.4
e = variabel yang tidak diteliti

2. Hipotesis Kedua
Y= a + b2,1, X2,1 + b2,2 X2,.2 + b2.3X2.,3 + b2,4X2,4 + b2,5 X2,5 + e

Dimana:
X2.1    = reliability
X2.2    = assurance
X2.3    = tangibe
X2.4    = empathy
X2.5    = responsiveness
a          = konstanta
b2,1, b2,2, b2,3, b2,4,b2,5 = koefisien regresi variabel X2.1, X2.2, X2.3, X2.4, X2.5
 e         = variabe yang tidak diteliti

Dalam penelitian data primer diperoleh dari kuesioner, yang disediakan oleh peneliti dalam bentuk belangko pertanyaan, isian, pendapat dari para responden mengenai data yang berkaitan dengan variabel bebas dan variabel tidak bebas. Dalam penelitian ini digunakan skala likert dalam pembuatan kuisionernya.
Untuk analisis dan pengujian hipotesis, data diolah secara statistik dengan menggunakan alat bantu program statistik SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 16.0. Data - data yang telah diperoleh kemudian diuji dengan:

a. Uji Keseluruhan (F-Test)
Uji F-statistik digunakan untuk mengetahui seberapa besar nilai-nilai variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.
Untuk uji f digunakan hipotesis:
            Ho: b1 = b2 = b3…. = bk = 0
Ha: b1 ≠ b2 ≠ b3…. = bk = 0
Jika Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak, yang berarti nilai variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.
Nilai F hitung diperoleh dengan rumus:
F =           R2 / k-1
          (1 - R2) / ( nk )



Dimana:
R2 = Koefisien
K = Jumlah variabel independen ditambah intecept dari suatu model persamaan
n = Jumlah sampel

b. Uji Parsial (t-Test)
Uji t merupakan suatu pengujian yang bertujuan mengetahui apakah masing-masing koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap dependen variabel. Dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Dalam uji ini digunakan hipotesis sebagai berikut:
Ho: b1 = b
Ha: bi ≠ b
Dimana bi adalah variabel independen ke-i nilai parameter hipotesis, biasanya b dianggap = 0. Artinya tidak ada pengaruh variabel Xi terhadap Y. bila nilai t-hitung > t-tabel, maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel independen yang diuji berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap variabel dependen.
Nilai t-hitung diperoleh dengan rumus:
                       
            ti =       (bi – b)
                        Se (bi)
Dimana:
bi         = Koefisien variabel independen ke-i
b          = Nilai hipotesis 0
Se (bi) = Simpangan baku dari variabel ke-i

No comments:

Post a Comment